Anda di halaman 1dari 7

A.

Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) merupakan salah satu model

pembelajaran kooperatif. Belajar kooperatif mengandung makna multi demensi. Dalam belajar

kooperatif terdapat makna learning community, sharing ideas, diskusi, service learning, belajar

kelompok, belajar kontekstual, sumber belajar, problem-based learning, learning to be, learning

to know, learning to do, learning how to live together, task-based learning, school-based

learning, school-based management, dan collaborative learning (Nurhadi, 2004:48). Belajar

kooperatif yang mengandung berbagai makna aliran pembelajaraan menuntun keaktifan siswa

dalam proses pembelajaran dan guru pun dituntut untuk mengarahkan siswa agar proses

pembelajaraan dapat berjalan dengan baik.

Pembelajaran kooperatif menurut Abdurrahman (dalam Nurhadi, 2004:61) adalah suatu

sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen

dalam pembelajaran kooperatif, sebagai berikut.

1. Saling ketergantungan positif

Tujuannya agar siswa merasa saling membutuhkan dengan ketergantungan yang positif.

Saling ketergantungan tersebut dapat tercapai melalui: (a) saling tergantungan pencapaian

tujuan, (b) saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, (c) saling ketergantungan

bahan atau sumber, (d) saling ketergantungan peran, dan (e) saling ketergantungan hadiah.

2. Interaksi tatap muka

Tujuannya menuntut siswa dalam berkelompok untuk dapat saling bertatap muka sehingga

meraka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi dengan sesama siswa.
Interaksi semacam ini memungkinkan para siswa untuk dapat menjadi sumber belajar dan

siswa ada yang akan merasa lebih muda belajar dari sesamanya.

3. Akuntabilitas individual

Hal itu merupakan suatu penilaian kelompok yang didasarkan atas rata-rata penguasaan

semua anggota kelompok secara individual. Sehingga dalam satu kelompok dapat saling

bekerja sama untuk saling membantu dalam mengajarkan materi yang ada, agar semua

anggota memiliki nilai yang baik secara individual.

4. Keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi

Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, megkritik ide dan

bukan mengritik teman, dan sebagainya yang bermanafaat dalam menjalin hubungan antar

pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan.

Pelaksanaan pembelajaran kooperatif memiliki berbagai metode, antara lain: metode

STAD (Student Teams Achievement Divisions), Jigsaw, GI (Group Investigation), dan struktural

(Think-Pair-Share dan Numbered Head Together) (Nurhadi, 2004:64-67). Pelaksanaan

pembelajaran kooperatif berpusat pada siswa dan posisi siswa dianggap sebagai subjek bukan

objek pembelajaran. Hal itu berarti siswa dituntut untuk menggunakan berbagai kemampuannya

dalam proses pembelajaran.

Keunggulan dan kelamahan pembelajaran kooperatif (Sanjaya, 2006: 249-251) sebagai

berikut.

1. Keunggulan
a. Siswa tidak selalu mengantungkan pada guru tetapi dapat menambah
kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai
sumber balajar dan belajar dari siswa lain.
b. Mengembangakan kemampuan mengungkapkan idea tau gagasan dengan kata-
kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide orang lain.
c. Membantu memerdaakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam
belajar.
d. Selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan rangsangan
memberikan rangsangan untuk berfikir.
2. Kelemahan
a. Untuk memahami dan mengerti filosogis pembelajaran kooperatif
membutuhkan waktu, sangat tidak rasioanal jika mengaharapkan secara
otomatis siswa mau bekerjasama dalam kelompok. Upaya mengembangkan
kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.
b. Penilaian yang diberikan didasarkan pada hasil kerja kelompok. Namun
demikian, sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapakan adalah prestasi
individual.

Menurut Ibrahim (2000: 8) pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik

pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-

tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, sehingga

kelompok bawah memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya. Siswa kelompok atas akan

meningkatkan kemampuan akademiknya karena memberikan layanan tutor dan membutuhkan

pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.

Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) merupakan bagian dari metode

Struktural yang dikembangkan oleh Spencer Kagan. Meskipun memiliki banyak kesamaan

dengan metode lainya, metode ini menekankan pada struktural-struktural khusus yang dirancang

untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Berbagai struktur tersebut dikembangkan oleh

Kagan dengan maksud agar menjadi alternatif dari berbagai struktur kelas denga metode resitasi,

yang ditandai dengan pengajuan pertanyaan oleh guru kepada seluruh siswa dalam kelas dan

para siswa memberikan jawaban setelah lebih dahulu mengangkat tangan dan ditunjuk oleh guru.

Struktur-struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-

kelompok kecil secara kooperatif (Nurhadi, 2007:66).

Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) melibatkan lebih banyak siswa

dalam mereview berbagai materi yang dibahas dalam sebuah pembelajaran dan untuk memeriksa

pemahaman mereka tentang isi materi pembelajaran, dengan mengarahkan pertanyaan kepada
seluruh kelas (Arends, 2008: 16). Berdasarkan pernyataan tersebut model pembelajaran

Numbered Head Together (NHT) merupakan model pembelajaran yang digunakan untuk

meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru

sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Model ini memberikan ksempatan kepada siswa untuk membagikan ide dan

mempertimbangkan jawaban yang paling tepat dan juga mendorong siswa untuk meningkatkan

semangat kerjasama mereka, serta bias digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua

tingkatan (Lie, 2002: 58). Pemberian ide ini dilakukan pada saat kegiatan berfikir bersama,

semua siswa memiliki kesempatan yang sama dalam mengeluarkan ide untuk dipertimbangkan

sebagai jawaban yang tepat.

Pembentukan kelompok belajar pada model ini dilakukan secara heterogen yang

didasarkan pada karakteristik siswa. Menurut Nurhadi (2004: 68) pembagian kelompok

hendaknya heterogen, keheterogenan kelompok mencakup jenis kelamin dan tingkat kemampuan

(tinggi, sedang, rendah). Pembagian kelompok secara heterogen ini akan membentuk suatu

kerjasama yang baik antara siswa yang kurang pandai dengan siswa yang pandai, sehingga siswa

yang pandai diharapkan membantu siswa yang kurang pandai pada proses pembelajaran

berlangsung.

Langkah-langkah model pembelajaran Numbered Head (Arends, 2008: 16) adalah

sebagai berikut.

1. Langkah Pertama – Penomoran (Numbering). Guru membagi para siswa menjadi


beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi
mereka nomor sehingga setiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor yang
berbeda.
2. Langkah kedua – Pengajuan Pertanyaan (Questioning). Guru mengajukan suatu
pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik
hingga yang bersifat umum.
3. Langkah Ketiga – Berfikir Bersama (Head Together). Para siswa menyatukan
pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota
dalam timnya mengetahui jawaban tim.
4. Langkah Keempat – Pemberian Jawaban (Answering). Guru menyebut satu
nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat
tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.
5. Langkah Kelima – Evaluasi Hasil. Pada langkah ini terdapat tes secara
individual untuk penilaianhasil belajar.

Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) pada dasarnya merupakan sebuah

varian dari diskusi kelompok. Ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang

mewakili kelompoknya, tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili

kelompoknya itu. Cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini juga merupakan

upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individu dalam diskusi kelompok

(Nur, 2005: 78).

Model ini merupakan pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak

siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman

mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Menurut Kagan (dalam Nurhadi, 2004:67) secara garis

besar menyebutkan bahwa pembelajaran Numbered Head Together (NHT) melibatkan siswa

dalam menelaah ulang bahan yang tercakup dalam suatu pembelajaran dan sekaligus

memberikan pemahaman siswa mengenai pelajaran yang telah diterimanya. Selain itu, model ini

juga dapat dikatakan memiliki peran ganda yaitu, (1) untuk memberikan penguatan kepada

konsep, (2) dapat mengulas penguasaan materi yang dimiliki siswa sebelum tes.

Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) menurut Alit (2008), dianggap

mampu meningkatkan konsentrasi siswa pada saat mengikuti proses pembelajaran karena dalam

langkah-langkah model pembelajaran ini merupakan gabungan antara berfikir bersama dan tanya

jawab. Selain itu, model pembelajaran ini mampu membantu siswa untuk bekerjasama dengan

teman untuk saling belajar bersama, dan meningkatkan tanggung jawab individu dalam
menyampaikan uraian pendapat kelompok di depan kelas, karena langkah dari model tersebut

dapat memberikan kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk menjawab pertanyaan di

depan kelas.

Pada kegiatan berfikir bersama yang dilakukan dalam langkah model ini, semua siswa

mampu mengeluarkan pendapat atau ide agar kemampuan berfikir siswa dapat berkembang,

sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Berfikir bersama ini juga dapat menumbuhkan interaksi

dan kerjasama antar siswa untuk saling bertukar pendapat atau pikiran dalam proses belajar

bersama sehingga pengetahuan siswa akan semakin terbangun dan hasil belajar siswa akan

semakin meningkat.

Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dan

kelemahan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) sebagai berikut (Jaya, 2009)

yaitu:

Kelebihan:
 Setiap siswa menjadi siap semua jika guru memberikan pertanyaan.
 Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh, karena setiap siswa
mendapat kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan.
 Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
 Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
 Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

Kelemahan dari model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dapat diatasi

dengan beberapa cara. Cara yang digunakan untuk mengatasi yaitu sebelum pelaksanaan

pembelajaran dilakukan, guru memberikan tugas untuk mempelajari materi yang akan

disampaikan dan membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen baik yang

ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Ditinjau dari sisi jenis kelamin, setiap
kelompok diusahakan ada siswa laki-lakinya. Sedangkan ditinjau dari segi kemampuan

akademisnya, diusahakan setiap kelompok memiliki anggota dengan akademis yang berbeda.

Pembentukan kelompok yang heterogen ini untuk memberikan kesempatan siswa untuk saling

mengajar dan mendukung sesama siswa agar dapat memudahkan pengolahan kelas karena

diharapakan antara anggota kelompok belajar siswa dapat berkerjasama dan saling membantu.