Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Utilitas bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang
digunakan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan,
keselamatan, kemudian komunikasi dan mobilitas dalam bangunan.
Perancangan bangunan harus selalu memperhatikan dan menyertakan fasilitas
utilitas yang dikoordinasikan dengan perancangan yang lain, seperti
perancangan arsitektur, perancangan struktur, perancangan interior dan
perancangan lainnya. Dalam perancangan fasilitas utilitas, seorang arsitek juga
harus memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa faktor di antaranya,
kemudahan dalam penggunaan dan pemeliharaan, kesederhanaan jaringan
sistem, kecilnya faktor resiko crossing antar jaringan, keamanan terhadap
pelaku utilitas, dan keamanan terhadap lingkungan. Sistem utilitas itu sendiri
terbagi menjadi beberapa sistem yang menunjang kinerja bangunan yaitu sistem
plambing, sistem sampah, pencahayaan alami, penghawaan alami,
pengkondisian udara (Air Conditioner), dan sistem transportasi (non-mekanis).
Dalam era modern ini, terutama di perkotaan dan daerah yang memiliki
curah hujan yang rendah, sistem utilitas pengkondisian udara (Air Conditioner)
seperti sudah menjadi fasilitas wajib yang harus ada di dalam setiap bangunan,
terutama perkantoran dan bangunan-bangunan umum seperti rumah sakit,
pertokoan atau mall, bioskop, hotel, dan lain-lain. Udara panas dan cuaca yang
membuat gerah menjadi penyebab utama penggunaan pengkondisian udara (Air
Conditioner) tersebut. Udara panas menyebabkan rasa tidak nyaman untuk
beraktifitas. Kondisi ini akan semakin parah apabila orang bekerja atau
beraktifitas di dalam ruang yang tertutup dengan sirkulasi udara yang terbatas.
Udara dengan kelembaban tinggi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, hal ini
karena pada kondisi tersebut orang menjadi mudah berkeringat. Untuk
mengatasi kondisi tersebut, udara di dalam ruangan harus dikondisikan
sehingga mempunyai karakteristik yang cocok dengan kondisi tubuh orang
yang menempati ruangan. Di dalam suatu ruangan yang udaranya dikondisikan,

1
temperatur dan kelembaban udara dapat dikontrol sampai kondisi dimana
penghuni ruangan merasa nyaman. Selain pengkondisian udara (Air
Conditioner), sistem yang digunakan untuk mendinginkan udara lainnya antara
lain humidifier (pelembab), fan atau blower. Disamping untuk mengontrol
temperatur udara, AC dapat digunakan sekaligus untuk sirkulasi sehingga
kondisi udara tetap bersih. Oleh karena pengkondisian udara (Air Conditioner)
seperti sudah menjadi kebutuhan, seorang perancang juga harus tahu seluk-
beluk tentang pengkondisian udara (Air Conditioner) yang akan dipasang di
suatu ruangan. Tujuannya adalah agar kriteria pengkondisian udara (Air
Conditioner) yang dipilih bisa sesuai dengan kriteria ruangan yang telah
dirancang, sehingga ruangan yang digunakan menjadi sejuk dan penghuni pun
menjadi nyaman. Arsitek sebagai perancang rumah dalam penggunaan
pengkondisi udara (Air Conditioner) juga harus bijaksana mengingat
pengkondisi udara (Air Conditioner) memiliki beberapa dampak negatif yang
secara tak langsung merusak lingkungan seiring dengan semakin bertambahnya
perkantoran besar serta bangunan-bangunan umum seperti mall, hotel, rumah
sakit, dan sebagainya. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengambil
judul “Sistem AC (Air Conditioner) Sentral”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan judul di atas, penulis akan membahas beberapa masalah
antara lain, sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana sistem struktur pada AC (Air Conditioner) sentral?
1.2.2 Bagaimana komponen dan prinsip kerja AC (Air Conditioner) sentral?
1.2.3 Apa kekurangan dan kelebihan AC (Air Conditioner) sentral?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari tugas ini adalah setelah mengetahui dan memahami
mengenai sistem AC (Air Conditioner) sentral baik komponen dan struktur,
prinsip kerja, jenis-jenis AC, kelebihan, serta kekurangannya. Mahasiswa
diharapkan mampu untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut baik itu dalam
ruang lingkup lingkungan kampus maupun ketika telah kembali ke masyarakat

2
dan lingkungan kerja nantinya. Adapun membahas kekurangan dan kelebihan
AC (Air Conditioner) sentral sendiri adalah agar kita sebagai mahasiswa yang
nantinya akan terjun ke masyarakat dapat menerapkan penggunaan AC (Air
Conditioner) dengan bijaksana.

1.4 Manfaat
1.4.1 Untuk Mahasiswa
a. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai sitem kerja,
komponen, layout, dan kapasitas pengkondisian udara (Air
Conditioner)
b. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pembuatan makalah
dan presentasi
1.4.2 Untuk Dosen
a. Memberi wawasan tambahan kepada Bapak/Ibu dosen mengenai siste
kerja, komponen, layout, dan kapasitas pengkondisian udara (Air
Conditioner).
b. Membantu Bapak/Ibu dosen untuk mengetahui tingkat kemampuan
mahasiswa dalam pembuatan makalah dan presentasi.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian AC (Air Conditoner) Sentral


Awal dari AC (air Conditioner ) sudah dimulai sejak jaman Romawi
yaitu dengan membuat penampung air yang mengalir di dalam dinding rumah
sehingga menurunkan suhu ruangan , tetapi saat itu hanya orang tertentu saja
yang bisa karena biaya membangunnya sangatlah mahal karena membutuhkan
air dan juga bangunan yang tidak biasa. Hanya para raja dan orang kaya saja
yang dapat membangunnya.
Baru kemudian pada tahun 1820 ilmuwan Inggris bernama Michael
Faraday Image menemukan cara baru mendinginkan udara dengan
menggunakan Gas Amonia dan pada tahun 1842 seorang dokter menemukan
cara mendinginkan ruangan dirumah sakit Apalachicola yang berada di Florida
Ameika Serikat. Dr.Jhon Gorrie Image adalah yang menemukannya dan ini
adalah cikal bakal dari tehnologi AC (air conditioner) tetapi sayangnya
sebelum sempurna beliau sudah meninggal pada tahun 1855.

Gambar 2.1 Pengkondisi Udara Masa Lalu


Sumber: http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2011/01/asal-
usul-sejarah-ac-atau-air.html

Willis Haviland Carrier Image seorang Insinyur dari New York Amerika
menyempurnakan penemuan dari Dr.Jhon Gorrie tetapi AC ini digunakan

4
bukan untuk kepentingan atau kenyamanan manusia melainkan untuk
keperluan percetakan dan industri lainnya. Penggunaan AC untuk perumahan
baru dikembangkan pada tahun 1927 dan pertama dipakai disbuah rumah di
Mineapolis, Minnesota. Saat ini AC sudah digunakan disemua sektor, tidak
hanya industri saja tetapi juga sudah di perkantoran dan perumahan dengan
berbagai macam bentuk dari mulai yang besar hingga yang kecil. Semuanya
masih berfungsi sama yaitu untuk mendinginkan suhu ruangan agar orang
merasa nyaman.
Pengkondisian udara, atau yang lebih kita kenal dengan istilah air
conditioner (AC), adalah salah satu upaya akal budi manusia untuk membuat
ruangan menjadi lebih nyaman secara termal, dengan jalan menghilangakan
panas laten udara ke lingkungan luar dengan bantuan siklus refrigerasi (pada
umumnya) atau dengan evaporasi. Tujuan pengkondisian udara adalah untuk
mendapatkan kenyamanan bagi penghuni yang berada didalam ruangan.
Kondisi udara yang dirasakan nyaman oleh tubuh manusia adalah berkisar
antara suhu dan kelembaban : 200C hingga 260C, 45% hingga 55% dengan
kecepatan udara : 0.25 m/s
Terdapat beberapa jenis sistem pengkondisi udara, diantaranya sistem
ekspansi langsung dan sistem sentral. Namun, dalam hal ini yang akan di bahas
adalah sistem sentral di mana sistem tata udara (AC) sentral berarti bahwa
proses pendinginan udara terpusat pada satu lokasi yang kemudian
didistribusikan ke semua arah atau lokasi. Sistem ini memiliki beberapa
komponen utama yaitu unit pendingin atau Chiller, Unit penanganan udara atau
Air Handling Unit (AHU), Cooling Tower, system pemipaan, system saluran
udara atau ducting dan system control & kelistrikan. Pada unit pendingin atau
chiller yang menganut system kompresi uap, komponennya terdiri dari
kompresor, kondensor, alat ekspansi dan evaporator. Pada chiller biasanya tipe
kondensornya adalah water-cooled condenser. Air untuk mendinginkan
kondensor dialirkan melalui pipa yang kemudian outputnya didinginkan
kembali secara evaporative cooling pada cooling tower. Pada komponen
evaporator, jika sistemnya indirect cooling maka fluida yang didinginkan tidak
langsung udara melainkan air yang dialirkan melalui system pemipaan. Air

5
yang mengalami pendinginan pada evaporator dialirkan menuju system
penanganan udara (AHU) menuju koil pendingin.

Gambar 2.2 Skema Kerja AC Sentral


Sumber: http://
http://hamparanmandiri.blogspot.co.id/2013/12/cara-kerja-ac-
central.html

Sistem AC Sentral (Central) merupakan suatu sistem AC dimana proses


pendinginan udara terpusat pada satu lokasi yang kemudian
didistribusikan/dialirkan ke semua arah atau lokasi (satu outdoor dengan
beberapa indoor). Sistem ini memiliki beberapa komponen utama yaitu unit
pendingin atau Chiller, Unit pengatur udara atau Air Handling Unit (AHU),
Cooling Tower, system pemipaan, sistem saluran udara atau ducting dan sistem
control & kelistrikan.
Dari penjelasan diatas, jelas sistem AC Sentral sangat berbeda dengan
AC Split baik dari segi fungsi maupun dari segi instalasi. Istilah Sistem AC

6
Sentral (Central) diperuntukkan untuk instalasi AC di satu gedung yang tidak
memiliki pengatur suhu sendiri-sendiri (misalnya per ruang). Semua dikontrol
di satu titik dan kemudian hawa dinginnya didistribusikan dengan pipa ke
ruangan-ruangan. Dengan AC Central, yang bisa dilakukan hanya mengecilkan
dan membesarkan lubang tempat hawa dingin AC masuk ke ruang kita. Contoh
AC Central adalah di mall, gedung mimbar, gedung perkantoran yang luas atau
di dalam bis ber-AC. Di dalam sistem Chiller yang dijelaskan diatas dapat
dijadikan satu kesatuan sistem yang terdiri dari tiga buah siklus, yaitu:

1. Siklus refrigerasi (Chiller)


2. Siklus Chilled Water, dan
3. Siklus Cooling Water

Gambar 2.3 Diagram Skema Kerja AC Sentral


Sumber: http://www.energystar.gov/ia/business/Web_art/EPA-
BUM-HVAC_9-2.gifchiller-ac-sentral.htmlcentral.html

7
2.2 Komponen dan Prinsip Kerja AC (Air Conditioner) Sentral
Sebelum membahas prinsip kerja AC (Air Conditioner) sentral, agar bisa
berfungsi dengan baik, terdapat beberapa komponen pada AC (Air
Conditioner) sentral, diantaranya:

1. Ducting

Gambar 2.4 Sistem Ducting pada AC Sentral


Sumber:
http://mepcons.blogspot.co.id/2015_08_01_archive.html

Ducting merupakan bahasa inggris yang kalau di terjemahkan ke


dalam bahasa indonesia adalah penyaluran pipa udara. Jika di jabarkan
kira-kira adalah alat yang digunakan untuk mengarahkan atau menyalurkan
udara atau lainya ke arah tertentu dengan mempertimbangkan tiap-tiap
tujuan akhir tersebut manjadi bagian beban terhadap dimensi atau diameter
media penyalur.
Fungsi dari Ducting adalah untuk mendistribusikan udara di dalam
gedung terdapat berbagai macam ducting dalam penggunaannya, fungsi
sebagai supply udara dingin ke ruang yang dikondisikan (supply air),
ducting yang berfungsi sebagai supply dari udara luar (fresh air) dan ada

8
pula ducting yang berfungsi untuk membuang udara dari dalam ke luar
(exhaust air).
a. Supply Air Ducting

Gambar 2.5 Supply Air Ducting


Sumber: http://jasapembuatanducting.blogspot.co.id/

Supply Air Ducting ini berfungsi sebagai penyalur udara dingin


ke ruangan yang akan dikondisikan udaranya. Pada praktiknya,
ducting ini biasanya berujung pada diffuser sebagai tempat
keluarnya udara dingin tersebut.

b. Fresh Air Ducting

Gambar 2.6 Fresh Air Ducting


Sumber: http://jasapembuatanducting.blogspot.co.id/

9
Ducting ini adalah untuk menghisap udara dari luar ruangan
yang nantinya akan dimix dengan hawa dingin dari air pada
sistem AHU (Air Handling Unit) untuk kemudian disalurkan ke
masing-masing ruangan yang dikondisikan udaranya.

c. Exhaust Air Ducting

Gambar 2.7 Exhaust Air Ducting


Sumber: http://jasapembuatanducting.blogspot.co.id/

Ducting yang satu ini mirip dengan fresh air ducting, yang
membedakan adalah fungsinya yaitu sebagai jalur pembuangan
udara dari AHU (Air Handling Unit) hasil pertukaran kalor di
dalam ruangan.

Secara fisik bentuk ducting supply air berinsulasi karena untuk


mempertahankan udara dingin yang didistribusikan tidak terbuang,
sedangkan untuk ducting fresh air dan exhaust air ini tidak menggunakan
insulasi.
Lapisan dari insulasi ini antara lain : Glasswool, Alumunium Foil,
Spindle pin/pengikat/tali/flinkote.

10
Gambar 2.8 Lapisan Insulasi pada Ducting
Sumber: http://jasapembuatanducting.blogspot.co.id/

Lapisan insulasi ini juga berfungsi untuk mencegah ducting


mengalami kondesasi akibat suhu yang dingin yang melewatinya. Selain
itu material glasswool / glass clotch pada supply air ducting juga berfungsi
untuk meredam bunyi bising dari unit. Jenis material ducting itu sendiri
beraneka ragam disesuaikan dengan udara yang akan di salurkan.
Pengunaan material yang di gunakan akan mempengaruhi suhu udara di
sepanjang perjalanan menuju titik akhir keluarnya udara.

Berdasarkan bentuknya, ducting dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

I) Ducting Kotak atau Square Duct

11
Ducting kotak atau square duct adalah jenis ducting yang berbentuk
kotak (segi empat) dengan ketebalan bahan yang disesuaikan
dengan dimensi ducting tersebut.

II) Spiral atau Round Duct

Ducting spiral dibuat dengan menggunakan mesin rol yang


canggih, kelebihan ducting ini bisa panjang hingga 4-6 meter,
namun jenis ducting ini ketebalan bahan nya terbatas, umumnya
mesin rol pembuat ducting ini hanya mampu mengerol dengan
ketebalan maksimal 1,2mm. Selain jenis spiral ada juga yang
disebut rounduct. Jenis ducting ini umumnya dibuat dengan mesin
manual dan mesin semi otomatis.

Berdasarkan bahan yang digunakan, jenis ducting dibagi menjadi sebagi


berikut:

I) Polyurethane Duct

Gambar 2.9 Polyurethane


Sumber: http://img.tradeindia.com/fp/3/001/135/420.jpg

12
Gambar 2.10 Polyurethane Duct
Sumber: http://img.tradeindia.com/fp/3/001/135/420.jpg

Polyurethane Duct adalah ducting yang terbuat dari bahan


polyurethane, hampir seperti stearofoam akan tetapi berbeda.
Memiliki bobot yang sangat ringan namun memiliki density yang
sangat baik. Mampu bertahan pada suhu -60ºc s/d +80º c dengan
tekanan maksimal 2000Pa. Dan density 71,49 Kg/m3. Pada
umumnya Polyurthane Duct ini dari prabik sudah dilapisi dengan
lapisan insulasi baik luar maupun dalam.
Kelebihan Polyurethane Duct:
- Pada Polyurethane isolasi suhu sangat baik karena isolasi
ducting pada semua tempat sama dengan density : 45 – 47
Kg/m3.
- Pada Polyurethane Duct isolasi udara pada sambungan ducting
sangat baik karena dipergunakan sambungan khusus
Polyurethane Duct silicon sehingga menjamin udara tidak ada
bocor. System ini menjamin sampai 8 kali lebih baik
dibandingkan BJLS, sehingga meninggkatkan efisiensi kerja
pada unit AC dan mengurangi biaya yang terbuang.
- Pada Polyurethane Duct tidak ada hambatan udara yang berarti
sehingga udara dapat mengalir dengan baik didalam ducting.
- Pada Polyurethane Duct kebersihan dan kualitas udara sangat
baik karena adanya lapisan alumunium pada lapisan dalam

13
ducting dan tidak dipergunakan glasswool yang serbuknya
dapat mengotori udara.
- Masa pemakaian lebih lama ketimbang BJLS Duct
- Polyurethane tidak merambatkan Api
- Lebih ringan dan mudah dalam pemasangan
- Pada Polyurethane Duct menghasilkan isolasi suhu yang
sempurna serta isolasi udara yang optimal menyebabkan
kapasitas Air Handling Unit (AHU) dapat bekerja dengan
maksimal, meningkatkan efisiensi serta mengurangi biaya.

II) BJLS (Baja Lapis Seng) Rectangular Duct

Gambar 2.11 BJLS Rectangular Duct


Sumber: http://jakarta-network.blogspot.co.id/2011/04/jenis-
jenis-ducting.html

Gambar 2.12 Model BJLS Duct


Sumber: http://jakarta-network.blogspot.co.id/2011/04/jenis-
jenis-ducting.html

14
Ducting ini terbuat dari bahan BJLS atau juga disebut baja lapis
seng dengan ketebalan BJLS yang disesuaikan dengan kebutuhan
(lebar ducting). Bahan BJLS sendiri terbagi menjadi tiga jenis
yaitu:
a. Ducting BJLS (Seng) Tanpa Isolasi
Jenis ini dalah jenis ducting yang di gunakan untuk
menyalurkan udara dimana ducting ini tidak
mempertahankan kesetabilan suhu udara yang akan di
salurkan. Hanya berfungsi sebagai penyalur saja dari satu
tempat ke tempat yang lain atau dari beberapa tempat ke
dalam satu tempat.

Contohnya :
1. Ducting exhaust. Yaitu sirkulasi udara pada
suatu ruangan misalnya toilet, tempat parkir an lain-lain.
2. Ducting fresh air. Yaitu ducting yang di
gunakan untuk menyalurkan udara segar dari luar
ruangan menuju indoor unit ac seperti AHU ataupun
FCU.
3. Ducting Intake. Untuk menyalurkan udara
dari luar gedung menuju ruangangan yang membutuhkan
udara segar. Seperti lahan parkir yang tertutup atau
lainya.

15
b. Ducting BJLS (Seng) Isolasi Luar
Ducting ini merupakan ducting BJLS yang pada bagian
luarnya diselimuti oleh glaaswool.

Gambar 2.13 Glasswool


Sumber: http://www.iking-
glasswool.com/upload/image/201408/bf2ea6e68ec31a701c4716
577257d729.jpg

Jenis glasswool ada yang tebal dan tipis sesuai dengan


suhu udara yang akan disalurkan. Semakin dingin udara
yang disalurkan semakin tebal isolasi yang digunakan.
Jenis tebal glasswool yang biasa di gunakan adalah 24Kg
/ m3 dengan tebal isolasi 25mm.

Gambar 2.14 BJLS isolasi luar


Sumber: http://www.iking-
glasswool.com/upload/image/201408/bf2ea6e68ec31a701c4716
577257d729.jpg

16
c. Ducting BJLS (Seng) Isolasi Luar Dalam
Ducting ini pada umumnya digunakan untuk
mengalirkan udara dingin dari AHU (Air Handling Unit)
ke ruangan yang memerlukan udara dingin. Isolasi di
bagian dalam mencegah saluran ducting dari kondensasi
yang berlebihan. Selain itu, juga untuk mencegah bunyi
bising yang keluar dari unit karena bunyi bisa diredam
dengan isolasi bagian dalam.

Gambar 2.15 BJLS isolasi luar dalam


Sumber: http://www.iking-
glasswool.com/upload/image/201408/bf2ea6e68ec31a701c4716
577257d729.jpg

Kelebihan BJLS sendiri yaitu:


- Tidak mudah terbakar apabila menggunakan BJLS tanpa
isolasi
- Ketebalannya lebih bervariasi

Kekurangan BJLS, antara lain:

- Harga lebih mahal dibandingkan dengan PU (Polyurethena


Duct)
- Massanya lebih besar dan berat dibandingkan PU
(Polyurethena Duct)

17
- Lebih susah dalam pemasangannya

III) BJLS (Baja Lapis Seng) Round Duct / Spiral Duct

Gambar 2.16 BJLS Round Duct/Spiral Duct


Sumber: http://www.airmike.net/here/images/a-
c_services_smallimg_ducts.jpg

BJLS (baja lapis seng) round duct juga umum disebut dengan spiral
duct. Ducting ini memiliki bentuk melingkar layaknya tabung.
Ducting jenis ini memiliki daya rugi gesekan (angin) yang sangat
rendah, dikarenakan bentuknya seperti tabung (round). Bahan yang
digunakan sama dengan BJLS Rectangular Duct seperti BJLS
tanpa isolasi, BJLS isolasi luar, dan BJLS isolasi luar dalam
Hanya saja, bentuknya yang berbeda.

IV) Textile Duct

18
Gambar 2.17 Textile Duct
Sumber:
http://gocontractor.blogspot.co.id/2014/03/keunggulan-textile-
ducting.html

Textile duct biasa juga disebut Fabric Duct atau ducting kain,
banyak diaplikasikan pada ruangan yang tidak menggunakan
plafon atau langit-langit. Penggunaannya banyak dijumpai pada
stadion, supermarket, theater, hall/gedung olahraga, pabrik
makanan, industri textile, dan lain-lain.

Ada 3 sistim penyaluran udara pada textile duct :


1. Air - Porous / Pori pori : penyebaran udara dingin melalui pori-
pori pada bahan (textile) duct.
2. Linear Vent : penyebaran udara dingin melalui lubang sejajar
pada jalur ducting.
3. Nozzles : hampir sama dengan Linear Vent akan tetapi
dilengkapi dengan Nozzel pada buang nya. Jenis ini diaplikasikan
untuk tekanan udara tinggi/high static air flow.

Kelebihan textile duct, antara lain:


- Lebih mudah dalam instalasi dan perawatan
Kekurangan textile duct, antara lain:
- Lebih mahal dibandingkan dengan kedua bahan di atas
- Bahan masih sulit didapatkan karena harus mengimpor dari
luar Indonesia

19
Pada ujung supply air ducting umumnya dilengkapi dengan
diffuser (pada ducting supply) dan grill (pada ducting return). Serta
damper adalah suatu alat untuk mengatur volume udara yang
masuk atau keluar melalui ducting.

Gambar 2.18 Diffuser pada Ducting Supply


Sumber: http://www.airmike.net/here/images/a-
c_services_smallimg_ducts.jpg

Gambar 2.19 Grille pada Ducting Return


Sumber: http://www.airmike.net/here/images/a-
c_services_smallimg_ducts.jpg

Gambar 2.20 Damper


Sumber: http://www.airmike.net/here/images/a-
c_services_smallimg_ducts.jpg

20
2. AHU (Air Handling Unit)
Air Handling Unit merupakan bagian penting dalam sistem AC
central sebagai alat penghantar udara yang telah dikondisikan dari sumber
dingin ataupun panas ke ruang yang akan dikondisikan. AHU adalah
komponen penukar kalor dimana air dingin hasil pendinginan oleh chiller
disirkulasikan ke coil yang ada pada AHU, kemudian udara dinginnya di
sirkulasikan oleh blower dan di distribusikan ke ruangan melalui ducting.
Komponen AHU terdiri dari Casing,
Motor, Blower, Coil dan Filter. Penggunaan AHU biasanya untuk
ruangan berkapasitas besar yang menggunakan AC sentral seperti pada
hotel biasanya untuk supplay udara pada ruang pertemuan
seperti ballroom, ruang meeting dan Lobby. Adapun komponen-kemponen
pada AHU adalah sebagai berikut:

Gambar 2.21 Komponen AHU


Sumber: http://alfitara.blogspot.co.id/2015/12/air-handling-
unit-ahu.html?view=timeslide

21
Prinsip kerja secara sederhana pada AHU (air handling unit) ini
adalah dengan menghisap udara dari ruangan (return air) yang kemudian di
campur dengan udara segar dari lingkungan (fresh air) dengan komposisi
yang bisa diubah ubah. Campuran tersebut masuk menuju AHU melewati
filter, coil pendingin, dan fan (blower), setelah itu udara yang telah
mengalami penurunan temperatur didistribusikan secara merata ke setiap
ruangan melewati saluran udara (ducting) yang telah dirancang terlebih
dahulu sehingga lokasi yang jauh bisa terjangkau dan merata.

Gambar 2.22 Cara Kerja AHU


Sumber: http://alfitara.blogspot.co.id/2015/12/air-handling-
unit-ahu.html?view=timeslide

22
3. FCU (Fan Coil Unit)
FCU atau fan coil unit adalah perangkat sederhana yang terdiri dari
kumparan (Coil) dan kipas. FCU digunakan untuk mengontrol suhu dalam
ruangan yang dikendalikan oleh on/off switch atau thermostat. Karena
kesederhanaannya FCU lebih ekonomis daripada AHU.
Karena kesederhanaan dan fleksibilitasnya FCU dapat lebih
ekonomis untuk diinstal sehingga dapat lebih efisien menyalurkan udara.
FCU juga tidak menimbulkan bunyi bising sehingga tidak mengganggu.

Gambar 2.23 Komponen FCU


Sumber: http://image.slidesharecdn.com/

Gambar 2.24 Bentuk FCU


Sumber:
https://en.wikipedia.org/wiki/Fan_coil_unit#/media/File:Fancoil_1.jpg

23
4. Cooling Tower
Cooling tower adalah suatu sistem refrigerasi dalam AC (Air
Conditioner) sentral yang melepaskan kalor ke udara. Cooling tower
bekerja dengan cara mengontakkan air dengan udara dan menguapkan
sebagian air tersebut. Cooling tower menggunakan penguapan dimana
sebagian air diuapkan ke aliran udara yang bergerak dan kemudian
dibuanag ke atmosfer. Sebagai akibatnya, air yang tersisa didinginkan
secara signifikan.
Ada dua tipe dari Cooling tower ini, yaitu:
1. Atmospheric Draft
2. Mechanical Draft

Namun, yang sering digunakan untuk AC (Air Conditioner) sentral adalah


jenis Mechanical Draft di mana dalam pengoperasiaannya menggunakan
tenaga listrik sebagai penggeraknya. Cooling tower Mechanical Draft
terbagi beberapa jenis, yaitu:

1. Cooling Tower Forced Draft

Prinsip kerjanya adalah udara dihembuskan ke menara oleh sebuah


fan yang terletak pada saluran udara masuk sehingga terjadi kontak
langsung dengan air yang jatuh.

24
2. Cooling tower induced draft dengan aliran berlawanan

Prinsip kerjanya:
a. Air masuk pada puncak dan melewati Filler.
b. Udara masuk dari salah satu sisi (menara aliran tunggal) atau pada
sisi yang berlawanan (menara aliran ganda).
c. Fan mengalirkan udara melintasi bahan pengisi menuju saluran
keluar pada puncak menara.

3. Cooling Tower induced draft dengan aliran melintang

Prinsip kerjanya:
a. Air panas masuk pada puncak menara, melalui bahan pengisi (Filler)

25
b. Udara masuk dari samping menara melewati Filler, sehingga terjadi
kontak langsung dengan air (pendinginan) dan keluar menuju
puncak.

Komponen-komponen dari cooling tower adalah :

a. Rangka dan casing


Hampir semua menara memiliki rangka berstruktur yang menunjang
tutup luar (wadah/casing), motor, fan, dan komponen lainnya.
b. Filler
Terdapat dua jenis Filler, yakni :
1) Splash Filler : air jatuh dari atas lapisan yang berturut
dari batang pemercik horizontal, secara terus menerus
pecah menjadi tetesan yang lebih kecil, sambil
membasahi permukaan Filler. Splash Filler dari kayu
memberikan perpindahan panas yang lebih baik daripada
Filler percikan dari plastik.

26
Gambar 2.25 Splash Filler Plastik
Sumber: google images

Gambar 2.26 Splash Filler Kayu


Sumber: google images

2) Filler berbentuk film : terdiri dari permukaan plastik


yang tipis dengan jarak yang berdekatan dimana di
atasnya terdapat semprotan air, membentuk lapisan film
yang tipis dan melakukan kontak dengan udara.
Permukaannya dapat berbentuk datar bergelombang,
berlekuk, atau pola lainnya. Jenis film Filler lebih efisien
dan memberikan perpindahan panas yang sama dalam
volume yang lebih kecil daripada Filler jenis splash.

27
Gambar 2.27 Film Filler
Sumber: google images

c. Pond
Pond terletak pada bagian bawah menara dan menerima air dingin
yang mengalir turun melalui menara dan Filler. Pond biasanya
memiliki sebuah lubang atau titik terendah untuk pengeluaran air
dingin.
d. Drift eliminator
Alat ini menangkap tetesan air yang terjebak dalam aliran udara agar
tidak hilang ke atmosfer.

Gambar 2.28 Drift Eliminator


Sumber: google images

28
Gambar 2.29 Letak Drift Eliminator pada Cooling Tower
Sumber: google images

e. Louvers
Kegunaan louvers adalah titik masuk bagi udara menuju menara.
Saluran masuk ini dapat berada pada seluruh sisi menara.

Gambar 2.30 Louvers


Sumber: google images

29
f. Nosel/Sprinkler
Alat ini menyemprotkan air untuk membasahi Filler.
g. Fan
Fan digunakan di dalam menara untuk mengeluarkan udara panas
yang ada di dalam tower dan untuk menghisap udara dari luar
melalui louvers.
h. Make-up Water
Air make-up memiliki pengaruh yang besar pada cooling tower
karena mencegah timbulnya mikroorganisme atau hal lainnya yang
membawa beberapa komponen yang dapat mengakibatkan
timbulnya deposit maupun korosi. Make-up water biasanya
dilengkapi dengan Filter Water Sistem.

Prinsip kerja Cooling Tower:

Cooling tower ini menggunakan Fan / kipas untuk menghisap udara.


Udara dihisap melalui louver/pengarah dari samping masuk ke dalam
Cooling Tower kemudian dihisap ke atas. Udara dingin ini mengalami
kontak langsung dengan air panas yang jatuh dari Nozel/Sprinkler atas
menuju kolam bawah, air panas ini sebelumnya disemprot dari
Nozel/Sprinkler ke bawah melewati filler. Udara panas akan dihembuskan
kembali ke atmosfir oleh fan lewat bagian atas cooling tower. Air dingin
yang telah melewati kontak dengan udara dan filler akan berkumpul di bak

30
penampung (pond) di bagian bawah cooling tower. Selanjutnya air
pendingin disirkulasikan lagi ke kondensor.

5. Mesin Chiller
Chiller atau mesin refrigerasi adalah peralatan yang biasanya
menghasilkan media pendingin utama untuk bangunan gedung, dengan
mengkonsumsi energi secara langsung berupa energi listrik, termal atau
mekanis, untuk menghasilkan air dingin (chilled water) dan membuang
kalor ke udara (atmosfir) melalui menara pendingin (cooling tower) atau
kondensor. Mesin utama dari sebuah chiller adalah kompresor. Fungsi
Chiller dalam sistem tata udara adalah mendinginkan media air, dimana air
disinggungkan pada bagian evaporator chiller. Air kemudian dialirkan ke
AHU (Air Handling Unit) untuk diambil dinginnya dan dihembuskan ke
ruangan. Pada Chiller terdapat beberapa parameter yang menunjukkan
unjuk kerjanya, antara lain; suhu air masuk (inlet) ke evaporator dan suhu
air keluar (outlet) dari evaporator, tekanan discharge, serta tekanan suction.
Dengan pembacaan suhu inlet dan outlet maka dapat ketahui kapasitas atau
kemampuan chiller untuk mendinginkan air.
Adapun komponen dari chiller ini tidak jauh berbeda dengan
komponen siklus refigerasi yang terjadi pada AC langsung. Komponen
komponen tersebut adalah, sebagai berikut:
a. Kompresor

Gambar 2.31 Kompresor


Sumber: google images

31
Merupakan alat yang paling Vital dalam sebuah rangkaian
Chilller dimana kompresor merupakan alat yang berfungsi sebagai
sarana untuk mensirkulasi gas freon ke kondensor dan sebaliknya
dimana sirkulasi tersebut terdapat proses gas freon dari liquid menjadi
gas dan sebaliknya sehingga mendapatkan pengembunan yang cukup
dan itulah disebut proses pendinginan.

b. Kondensor

Gambar 2.32 Kondensor


Sumber: google images

Di dalam kondenser terjadi proses pekepasan kalor dari gas


refrigerant ke medium pendingin kondenser (air), sehingga refrigerant
mengalami perubahan fase dari fase gas ke fase cair sedangkan
temperatur air pendingin setelah keluar kondenser naik.

c. Evaporator
Refrigerant cair dari kondenser mengalir masuk ke cooler
(evaporator) setelah mengalami ekspansi di katup ekspansi. Pada waktu
masuk cooler temperatur dan tekanan refrigerant turun dalam fasa
campuran.

32
Gambar 2.33 Evaporator
Sumber: google images

Kemudian refrigerant menguap pada temperatur rendah sambil


menyerap kalor dari air dingin, fasa refrigerant seluruhnya menjadi uap
dan dihisap kembali kedalam kompresor.

d. Katup Ekspansi

Gambar 2.34 Katup Ekspansi


Sumber: google images

Refrigerant yang kelur dari kondenser dalam keadaan fasa cair


dengan temperatur dan tekanan yang tinggi. Pada saat masuk kedalam
katup ekspansi terjadi proses penurunan tekanan refrigerant sehingga
refrigerant dapat menguap (sambil menyerap kalor) pada temperatur
rendah didalam cooler.

33
e. Control Box

Gambar 2.35 Control Box


Sumber: google images

Gambar 2.35 Control Box


Sumber: google images

Control box merupakan suatu komponen yang digunakan untuk


mengetahui dan memeriksa batasan-batasan dalam pengoperasian
chiller. Di dalam control box terdapat beberapa komponen lainnya,
yaitu:
a. Freeze Protection Thermostat
Sensor alat ini mendeteksi temperatur air dingin yan
keluar dari cooler. Bila temperatur air dingin terlalu rendah,
lebih rendah dari set point thermostat, kontroler akan

34
mematikan kompresor. Pada umumnya tempratur air dingin
keluar dari cooler adalah pada rentang 4-10 oC

b. Oil Pressure Cut Off


Kontroler ini akan mematikan motor kompresor jika
perbedaan antara Suction Kompresor dan Discharge Pompa Oli
berada dibawah harga minimum yang aman. Pada umumnya
switch kontroler akan membuka (open) jika harga
differensialnya sekitar 10 psi dan kaan menutup kembal jika
naik sekitar 15 psi.

c. High & Low Pressure Cut Off


High pressure switch akan mematikan motor kompresor
sebelum tekanan Discharge kompresor mencapai harga setting
relief valve. Low Pressure Switch akan mematikan motor
kompresor sebelum tekanan cooler (evaporator) mencapai
harga yang bersesuaian dengan temperatur refrigerant 32oF.
sebagai contoh untuk sistem yang menggunakan R-12 akan
menutup pada posisi 50 psi dan akan membuka pada 33 psi.

d. Capacity Control
Fungsi dari Kontrol kapasitas ssitem adalah untu
mengatur kapasitas pemompaan refrigerant dari kompresor
secara otomatis yang disesuaikan dengan beban peningin yang
ada. Sensor dari alat ini mendeteksi temperatur air dingin yang
masuk kecooler.
Sinyal darisensor masuk ke arangkaian Kontroler. Jika
tempratur air dingin berada di bawah/atas setpoint thermostat,
kontroler akan mengatur bukanan selenoid valve yang
selanjutnya secara sekuensial akan mengatur pembebanan dari
satu atau dua set slilinder kompresor

35
Berdasarkan sistem pendinginannya Chiller dibagi menjadi:
a. Air Cooled Chiller

Gambar 2.36 Air Cooled Chiller


Sumber: google images

Mesin refrigerasi dengan pendinginan udara (air cooled chiller),


pada prinsipnya hampir sama dengan split duct AC, tetapi dalam ukuran
besar. Unit mesin ini pada umumnya berada diatas atap beton dari
sebuah bangunan. Komponen utama dari 1 unit ACC adalah 2
kompresor atau lebih, dengan katup ekspansi dan evaporator berada
dalam unit utama, termasuk kondensornya. Evaporator mendinginkan
air dan air dingin disirkulasi kesetiap tingkat melalui alat pengatur
udara (air handling unit) atau disingkat AHU. Dari AHU dengan blower
besar menyalurkan udara dingin, yang diperoleh dari hembusan melalui
pipa-pipa aliran air dingin unit utama diatas, keruangan yang akan
dikondisikan. Udara dingin yang masuk kedalam ruangan dari AHU ini
diatur dengan diffuser yang ada disetiap ruangan, Atau kadangkadang
dengan pipa-pipa langsung keruangan melalui alat kipas koil (Fan coil
unit) atau disingkat FCU. Dalam desain gedung, bila menggunakan air
cooled chiller perlu diperhatikan lokasi dan luas atap beton untuk
penempatan unit-unit chillernya. Yang sering kurang diperhatikan

36
dalam desain atap untuk air cooled chiller adalah akses untuk
pemeliharaan unit tersebut. Ada kalanya terjadi perubahan desain dari
water cooled chiller ke air cooled chiller, karena terutama masalah
waktu instalasi ataupun keadaan air setempat.

b. Air Cooled Chiller

Gambar 2.37 Water Cooled Chiller


Sumber: google images

Mesin refrigerasi dengan pendinginan air (water cooled chiller),


pada prinsipnya hampir sama dengan Mesin refrigerasi pendinginan
udara (air cooled chiller) dalam distribusi udara dingin melalui AHU
atau FCU. Perbedaan utamanya adalah pendinginan refrigerannya,
bukan dengan udara, tetapi dengan air, dimana airnya didinginkan
melalui menara air atau cooling tower. Prinsip kerja dari mesin Water
chiller ini adalah mendinginkan suatu media yang menghasilkan panas
dengan cara di aliri air yang dingin, sehingga melalui air ini panas bisa
di redam sesuai dengan kemampuan mesin & temperature yang
diharapkan. Air dingin dari mesin Water chiller ini di pompa menuju
media yang di dinginkan, seperti Matras Mesin moulding,
Transformator, SCR Tig Welding Dll. setelah melewati Media yang di
kehendaki, air kembali menuju ke bak pendinginan untuk di dinginkan

37
oleh evaporator. di dinginkan dalam bak oleh evaporataor, air kembali
di pompa menuju media yang dikehendaki. Water chiller mulai dengan
cairan dijalankan melalui kompresor, yang menyebabkan cairan untuk
bepergian bersama sistem perpipaan dan menyerap panas dari sumber
yang dikehendaki. Hal ini kemudian pergi ke evaporator, di mana ia
berubah menjadi gas dan menyebarkan panas ke atmosfer. Kemudian
berjalan melalui kondensor, yang mengubah kembali menjadi cair dan
mengirimkannya kembali ke kompresor.Perangkat metering digunakan
untuk mengatur aliran air dan suhu kontrol. Siklus kompresi uap dapat
menangani sampai dua ratus ton cairan pada satu waktu, dan dapat
mendinginkan mesin besar atau kondisioner rumah tangga tunggal
udara. Mesin refrigerasi dengan pendinginan air, pada umumnya
ditempatkan dalam lantai bawah (basement) suatu bangunan. Dalam
desain yang perlu diperhatikan adalah ventilasi keruangan chiller harus
dihitung dengan baik, agar ruangan tersebut jangan menjadi “neraka”
bagi pengerjanya.

Perbedaan antara Air Cooled Chiller dan Water Cooled Chiller.


1. Air Cooled Chiller :
 Efisiensi rendah
 Waktu pemasangan cepat.
 Biaya perawatan rendah.
2. Water Cooled Chiller :
 Effisiensi tinggi
 Waktu pemasangan lebih lama.
 Biaya perawatan tinggi.

Prinsip kerja Chiller:


Siklus refrigerasi dari water chiller system secara sederhana. Air
masuk kedalam cooler (evaporator) dan didinginkan oleh cairan
refrigerant yang menguap pada temperatur rendah. Uap refrigerant dihisap
masuk ke kompresor dan tekanannya dinaikkan sehingga dapat mencair
kembali pada temperatur tinggi di kondenser. Pada proses ini temperatur

38
medium pendingin kondenser (air atau udara) mengalami kenaikan.
Refrigerant cair tersebut kemudian mengalir ke evaporator melalui alat
kontrol refrigerant (katup ekspansi) dan siklus terus berulang seperti
semula.

39
Prinsip Kerja AC (Air Conditioner) Sentral
Untuk mengkondisikan udara gedung-gedung besar AC biasa
mungkin sudah tidak efisien lagi. Dapat dibayangkan jika menggunakan AC
biasa sangat banyak refrigerant yang harus digunakan. Begitu pula dengan
kerja kompresornya. Oleh karena itu sering kali sistem yang digunakan
adalah sistem Chiller.
Siklus Chilled Water dan Refrigerasi
Untuk mendinginkan udara dalam gedung, chiller tidak langsung
mendinginkan udara melainkan mendinginkan fluida lain (biasanya air)
terlebih dahulu. Setelah air tersebut dingin kemudian air dialirkan melaui
AHU (Air Handling Unit). Di sinilah terjadi pendinginan udara di mana
AHU (Air Handling Unit) meneruskan suhu air yang dingin ke sistem
ducting dengan menghembuskan hawa dingin dari air itu sendiri. Untuk
lebih jelasnya lihat gambar 2.4.

Gambar 2.4 Chiller Operation


Sumber:
http://fawwazservice.blogspot.co.id/2013/09/mekanisme-kerja-
chiller-ac-sentral.html

40
Chiller dapat dibuat dengan prinsip siklus refrigerasi kompresi uap
atau sistem absorbsi. Sistem refrigerasi yang digunakan dalam chiller tidak
jauh berbeda dengan AC biasa, namun perbedaannya adalah pertukaran
kalor pada sistem chiller tidak langsung mendinginkan udara melainkan
mendinginkan fluida lain yaitu air.
Pada evaporator terjadi penarikan kalor. Heat Exchanger disini
mungkin berupa pipa yang didalamnya terdapat pipa. Di pipa yang lebih
besar mengalir air sedangkan pipa yang lebih kecil mengalir refrigeran
(bagian evaporator siklus refrigerasi). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Pipa Refrigerasi


Sumber:
http://fawwazservice.blogspot.co.id/2013/09/mekanisme-kerja-
chiller-ac-sentral.html

41
Siklus Cooling Water
Seperti dijelaskan sebelumnya dalam chiller juga terdapat perangkat
refrigerasi yang sistemnya terdapat bagian yang menarik kalor dan
membuang kalor. Dalam hal pembuangan kalor sering kali chiller
menggunakan perantara air untuk media pembuangan kalornya. Untuk lebih
jelasnya lihat gambar 2.6.

Gambar 2.6 Cooling Tower


Sumber:
http://fawwazservice.blogspot.co.id/2013/09/mekanisme-kerja-
chiller-ac-sentral.html

Hampir sama dengan Chilled water, pertukaran kalor chiller pada


kondensernya juga melalui perantara air. Air dialirkan melalui kondenser.
Kondenser ini juga merupakan Heat exchanger berupa pipa yang
didalamnya terdapat pipa. Pipa yang lebih besar untuk aliran air dan pipa
yang lebih kecil untuk aliran refrigeran. Di Heat exchanger ini terjadi
pertukaran kalor dimana kalor yang dibuang kondenser diambil oleh air.
Akibatnya air yang telah melewati kondenser akan menjadi lebih hangat.
Kemudian air ini dialirkan ke cooling tower untuk didinginkan dengan

42
udara luar. Setelah air ini menjadi lebih dingin, kemudian alirkan kembali
ke kondenser untuk mengambil kalor yang dibuang kondenser. Jadi di
dalam sistem Chiller yang dijelaskan diatas dapat dijadikan satu kesatuan
sistem yang terdiri dari tiga buah siklus, yaitu: siklus refrigerasi (Chiller),
Siklus Chilled Water, dan siklus Cooling Water. Untuk menjelaskan hal
ini dapat dilihat gambar 2.7.

Gambar 2.7 Sistem Kerja AC Sentral


Sumber:
http://fawwazservice.blogspot.co.id/2013/09/mekanisme-kerja-
chiller-ac-sentral.html

43
2.1 Kelebihan dan kekurangan AC (Air Conditoner) Sentral
Dalam penggunaan benda apapun, tentunya terdapat dampak yang
ditimbulkan, tidak terlepas dari penggunaan AC (Air Conditioner) sentral yang
juga memiliki kelebihan dan kekurangan di dalam penggunaanya. Kelebihan
dan kekurangan itu antara lain, sebagai berikut:

a. Kelebihan:
1. Kebisingan dan getaran mesin pendingin hampir tidak mempengaruhi
ruangan
2. Perbaikan dan pemeliharaan lebih mudah
3. Seluruh beban pendingin semua ruangan dalam bangunan dapat
dilayani oleh satu system ( unit ) saja. Sehingga lebih hemat dan efisien.
b. Kekurangan:
1. Harga mula cukup tinggi
2. Biaya operasional yang cukup mahal
3. Unit sentral tidak dapat dipakai untuk rumah sakit, karena kuman-
kuman dari ruangan untuk penderita penyakit menular ( melalui saluran
udara balik ) dapat disebarkan ke ruangan – ruangan lain.
4. Jika satu komponen mengalami kerusakan dan sistem AC sentral tidak
hidup.
5. Jika temperatur udara terlalu rendah atau dingin maka pengaturannya
harus pada termostat di koil pendingin pada komponen AHU.

44
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dalam merancang sebuah bangunan, tentunya kita sebagai calon arsitek
masa depan harus memperhatikan sistem utilitas yang digunakan pada
bangunan, yang salah satunya sistem pengkodisian udara. Saat ini penggunaan
AC Sentral sebagai pengondisian udara dalam ruang sudah menjadi hal lumrah
di kehidupan masyarakat terutama untuk gedung-gedung besar yang kebutuhan
akan AC langsungnya tidak dapat dipenuhi. Penggunaan AC sentral memang
banyak keunggulannya, akan tetapi arsitek sebagai seorang perancang, selain
mementingkan kebutuhan klien akan pengkondisi udara juga harus bisa
menyesuaikan dan juga harus memperhitungkan penggunaan AC Sentral
tersebut dikarenakan tidak semua gedung bisa menggunakan AC Sentral
seperti rumah sakit. Maka dari itu, seorang arsitek diharapkan mampu dan bisa
mengembangkan kreativitasnya dalam merancang sebuah gedung.

45
DAFTAR PUSTAKA

Sukirman, Iwan. 2014. Sistem Tata Udara di Gedung Bertingkat. Bahan Ajar
Perkuliahan (ITS).
Turangan, John. 2012. Tata Udara. Bahan Ajar Perkuliahan (UMB).
____________. 2010. Bagian-bagian AC Sentral. Tersedia dalam
https://iptech.wordpress.com/2010/05/11/bagian-%E2%80%93-bagian-
ac-sentral/ diakses tanggal 25 Maret 2016.

Hendri, Muhammad. 2014 AC Sentral. Tersedia dalam http://hendri-


word.blogspot.co.id/2014/02/ac-central.html diakses tanggal 25 Maret
2016.

Haryanto, Budi. 2008. PRINSIP KERJA COOLING TOWER PADA SISTEM AC


SENTRAL. Tersedia dalam
https://bayu2191.wordpress.com/2010/04/19/prinsip-kerja-cooling-
tower-pada-sistem-ac-sentral/ diakses tanggal 25 Maret 2016.

46