Anda di halaman 1dari 24

A.

Faktor bahaya di lingkungan kerja

1. Faktor Fisik

Menurut Permenaker No 13 tahun 2011 tentang NAB faktor fisika dan faktor

kimia ditempat kerja. Faktorfisikaadalah faktor di dalam tempat kerja yang

bersifat fisika yang dalam keputusan ini terdiri dari iklim kerja,kebisingan,

getaran, gelombang mikro, sinar ultraungu, dan medan magnet.

a. Suara Bising

Bising adalah bunyi yang tidak disukai, mengganggu dan menjengkelkan

maupun merusak pendengaran dan terkadang hal ini sangat individual.

Untuk kebisingan dengan intensitas 85dB, maka pekerja terpajan

selama 8 jam sehari, kebisingan dengan intensitas 88 dB maka pekerja

dapat terpajan selama 4 jam sehari dengan demikian setiap kenaikan 3

dB maka waktu pemajanannya berkurang setengahnya. Telingan

manusia hanya mampu mendengar frekuensi antara 16-20.000 Hz.

1) Jenis-jenis kebisingan :

a. Kebisingan kontinyu dengan frekuensi yang luas (steady state,

wide band noise). Misalnya suara kipas angin, dapur pijar dll.

b. Kebisingan kontinyu dengan spektrum kebisingan sempit

(steadt state, narrow band noise). Misalnya gergaji sekuler,

katup gas, dll.

c. Kebisingan terputus-putus (intermitten). Misalnya: lalu lintas

pesawat terbang.

d. Kebisingan impulsif/impact (impulsive noise), misalnya:

pukulan, tembakan bedil atau meriam dan ledakan.


e. Kebisingan impulsif berulang, misalnya mesin tempa di

perusahaan.

2) Akibat paparan kebisingan.

Terpapar kebisingan terdiri dari 85dB selama 8 jam dan 40 jam

seminggu maka menimbulkan penurunan atau kehilangan fungsi

pendengaran yang dapat terjadi secara sementara atau permanen.

3) Pengukuran kebisingan

Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan alat

sound level meter. Alat ini mengukur kebisingan antara 30-130dB dan

frekuensi dari 20-20.000Hz.


EFEK BISING PADA TENAGA KERJA

Anatomi Telinga Manusia Telingah manusia terbagi atas 3 bagian yaitu :

(i) Telingah bagian luar. Terdiri dari; daun telingah dan liang telingah,

(ii) Telingah bagian tengah. Terdiri dari, gendang telingah, dan susunan tulang-

tulang (disebut, ossicles),

(iii) Telingah bagian dalam Suara yang keras mempunyai potensi mengganggu

seluruh sitim pendengaran , karena pengaruh langsung kepada telingah bagian

tengah, yaitu : ossicular, tympanic membrane, oval window, dan cochlear (bila rusak

tidak dapat disembuhkan lagi, karena terjadinya perubahan syaraf dengar).

Efek Kebisingan Terhadap Pendengaran Efek bising :

(i) Suara yang keras mempunyai potensi merusak bagian - bagian tepi dan pusat

sistem pendengaran, kebisingan dapat berpengaruh langsung terhadap telinga

tengah dan telinga dalam seperti ossicular, tymphanic membrane, oval window dan

cochlear.
(ii)Cochlear apabila rusak tidak dapat sembuh kembali. Kerusakan cochlear ini dapat

juga disebabkan oleh kebisingan level lemah yang kontinyu yang memberikan

tekanan terus – menerus

(iii) Akibatnya kemampuan sel - sel sensor penerima suara jadi berkurang dan

akhirnya terjadi perubahan pada pada syaraf dengar. Adanya perubahan pada

syaraf dengar ini akan menimbulkan perubahan atau kehilangan ambang

pendengaran (the loss hearing thershold), (iv) Hilang ambang pendengaran yang

disebabkan oleh pemaparan kebisingan ini dinamakan noice induced sensorineural

hearing loss atau disederhanakan menjadi noice induced hearing loss disingkat

NIHL, (v) Kebisingan yang relatif hebat dihubungkan dengan acoustic trauma. Hal ini

dapat terjadi apabila puncak kebisingan lebih dari 160 dB, (vi) Orang yang terpapar

kebisingan ini akan menderita rasa sakit pada gendang telinga (tymphanic

membrane), segera terjadi kehilangan pendengaran dan kemampuan bicara

berkurang, (viii) Kebisingan lebih dari 120 dB sudah dapat menyebabkan rasa gatal -

gatal di dalam telinga, pendengaran mulai berkurang dan juga akan terjadi

kerusakan permanent apabila pemaparan berlangsung lama, (ix) Bagi pendengaran

yang masih baik / normal suara – suara dapat di dengar pada level yang paling

lemah yaitu antara 0 s/d 10 dB pada berbagai frequensi, terutama pada 4.000 Hz

karena pendengaran manusia paling peka pada frequensi tersebut Efek Kebisingan

Terhadap Daya Kerja Dan Pekerjaan Efek pemaaran bising terdaya kerja tenaga

kerja, meliputi ; (i) Kebisingan dapat mengganggu konsentrasi dimana pada suatu

lokasi kerja konsentrasi ini diutamakan terutama untuk pekerjaan - pekerjaan yang

memerlukan banyak berpikir, berperan meningkatkan kelelahan (ii) Berbicara di

dalam suasana bising akan memerlukan energi yang lebih banyak karena harus

berteriak – teriak, (ii) Salah memahami perkataan, perintah, atau peringatan


keamanan yang penting menyangkut pekerjaan, sehingga akibatnya akan terjadi

kecelakaan Dampak Kesehatan Gambar, 4. efek pemaparan bising (gangguan

pendengaran, gangguan psikologis, cepat marah,mudah tersinggung, perut mual,

kepala pusing, dilatasi pupil mata, susah tidur,gangguan tubuh lainya : Kosentrasi

pembuluh darah, prifer, t.u tungkai bawah, penigkatan kadar adremail darah,

ketegangan otot daerah paha, peningkatan peristolik lambung dan usus,

peningkatan sekresi hormon thyrold) . IV. PELAKSANAAN NOISE CONTROL

MANAGEMENT Pelaksanaan Noise Control Management atau Manajemen

Pengendalian Bising merupakan bagian dari Hearing Loss Prevention Program

(HLPP), yang sangat berhubungan dengan kebijakan perusahan,yang akan

mempengaruhi produktivitas, pemeliharaan,dan prosedur operasi mesin. Noise

Control Management atau Manajemen Pengendalian Bising sangat berhubungan

dengan bergagai devisi atau unit didalam suatu industry proses, yaitu antara devisi

human resources/Occupational Health Safety & Enviromental=HSE (safety,medical,

industrial hygiene) devisi produksi, devisi maintenance, dan devisi engineering

Lembaga internasional seperti OSHA, NIOSH, dan CAOHC, mendefenisikan usaha

perlindungan ini sebagai Hearing Conservation Program/HCP yang kemudian

perkembangannya menjadi Hearing Loss Prevention Program/HLPP Untuk

melindungi pekerja dari kebisingan industry (lingkungan tempat kerja), NIOSH =

National Instiatute of Occupational Safety and Health (adalah bagian dari pusat

pencegahan dan penegendalian penyakit/Center for Disease Control and Prevention

di dalam departemen pelayanan kesehan Amerika Serikat) menyerankan waktu

maksimum untuk tiap paparan kebisingan tertenu, dan di Indonesia sendiri waktu

paparan kebisingan diatur dalam Permennakertrans No.13/MEN/X/2011 , tentang

NAB (Nilai Ambang Batas) Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja Kebutuhan
Hearing Loss Prevention Program (HLPP), akibat kerugian dari terpaparnya bising di

tempat kerja, antara lain , untuk perkerja dan pihak perusahaan Pekerja : Kehilangan

kemampuan : (i) Pendengaran secara parmanen, (ii) Tinnitus parmanen, (iii)

Masalah berkomunikasi di tempat kerja yang bising, (iv) Meningkatnya kemungkinan

terjadinya kecelakaan, dan, (iv) Kelelahan dan stress Perusahaaan : Dari klaim

kompensasi, kerugian dari perushaan akibat bising tidaklah seberapa karena biaya

konpensasi jauh lebih rendah dari pada biaya yang dikeluarkan untuk melakukan

Hearing Loss Prevention Program (HLPP), (1) Klaim kompensasi Ketika seorang

pekerja didiagnosa mengalami kehilangan kemampuan pendengaran akibat

kebisinngan, perusahaan menanggung kompensasi untuk pekerja, (2) Produktivitas.

Bising dapat secara langsung mempengauhi tingkat produktivitas dengan

memperlambat performansi kerja dan meningkatnya jumlah keselahan saat bekerja,

(3) Resiko kecelakaan. Bising dapatmenjadi kontribusi dalam kecelakaan industry,

yaitu saat keselamatan pelaksanan pekerjaan bergantung pada komunikasi suara,

dan bising akan menjadi ancaman untuk keselamatan Keuntungan dari Hearing

Loss Prevention Program (HLPP) Ketika sebuah perusahaan telah menjalankan

Hearing Loss Prevention Program (HLPP) dengan efektif, semua pihak baik pekerha

maupun perusahaan akan mendapatkan hasilnya. Bagi perusahaan akan

mendapatkan keuntungan finansial, dan bagi pekerja adalah mendapatkan hak-hak

perlindunagan keselamatan dan kerja, dan kemampuan berkomunikasi terjaga

dengan baik.
b. Pencahayaan

Pencahayaan didefinisikan sebagai jumlah cahaya yang jatuh pada permukaan.


Satuannya adalah lux (1 lm/m2), dimana lm adalah lumens atau lux cahaya. Salah
satu faktor penting dari lingkungan kerja yang dapat memberikan kepuasan dan
produktivitas adalah adanya penerangan yang baik. Penerangan yang baik adalah
penerangan yang memungkinkan pekerja dapat melihat obyek-obyek yang
dikerjakan secara jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya yang tidak perlu.

Penerangan yang cukup dan diatur dengan baik juga akan membantu menciptakan
lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan sehingga dapat memelihara
kegairahan kerja. Telah kita ketahui hampir semua pelaksanaan pekerjaan
melibatkan fungsi mata, dimana sering kita temui jenis pekerjaan yang
memerlukan tingkat penerangan tertentu agar tenaga kerja dapat dengan jelas
mengamati obyek yang sedang dikerjakan. Intensitas penerangan yang sesuai
dengan jenis pekerjaannnya jelas akan dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Armstrong (1992) menyatakan bahwa intensitas penerangan yang kurang dapat
menyebabkan gangguan visibilitas dan eyestrain. Sebaliknya intensitas
penerangan yang berlebihan juga dapat menyebabkan glare, reflections, excessive
shadows, visibility dan eyestrain. Semakin halus pekerjaan dan menyangkut
inspeksi serta pengendalian kualitas, atau halus detailnya dan kurang kontras,
makin tinggi illuminasi yang diperlukan, yaitu antara 500 lux sampai dengan
1000 lux (Suma’mur, 1996).

Tenaga kerja disamping harus dengan jelas dapat melihat obyek-obyek yang
sedang dikerjakan juga harus dapat melihat dengan jelas pula benda atau alat dan
tempat disekitarnya yang mungkin mengakibatkan kecelakaan. Maka penerangan
umum harus memadai. Pekerjaan yang berbahaya harus dapat diamati dengan
jelas dan cepat, karena banyak kecelakaan terjadi akibat penerangan kurang
memadai.

Secara umum jenis penerangan atau pencahayaan dibedakan menjadi dua yaitu
penerangan buatan (penerangan artifisial) dan penerangan alamiah (dan sinar
matahari). Untuk mengurangi pemborosan energi disarankan untuk mengunakan
penerangan alamiah, akan tetapi setiap tempat kerja harus pula disediakan
penerangan buatan yang memadai. Hal ini untuk menanggulangi jika dalam
keadaan mendung atau kerja di malam hari. Perlu diingat bahwa penggunaan
penerangan buatan harus selalu diadakan perawatan yang baik oleh karena lampu
yang kotor akan menurunkan intensitas penerangan sampai dengan 30%. Tingkat
penerangan pada-tiap tiap pekerjaan berbeda tergantung sifat dan jenis
pekerjaannya.

Pengaruh dan penerangan yang kurang memenuhi syarat akan mengakibatkan


dampak, yaitu:

1. Kelelahan mata sehingga berkurangnya daya dan efisiensi kerja.


2. Kelelahan mental.
3. Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata.
4. Kerusakan indra mata dan lain-lain.
Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut akan bermuara kepada
penurunan performansi kerja, sebagai berikut:

1. Kehilangan produktivitas
2. Kualitas kerja rendah
3. Banyak terjadi kesalahan
4. Kecelakan kerja meningkat

Intensitas penerangan yang dibutuhkan di masing-masing tempat kerja ditentukan


dan jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan. Semakin tinggi tingkat ketelitian
suatu pekerjaan, maka akan semakin besar kebutuhan intensitas penerangan yang
diperlukan, demikian pula sebaliknya. Standar penerangan di Indonesia telah
ditetapkan seperti tersebut dalam Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No. 7
Tahun 1964, tentang syarat-syarat kesehatan, kebersihan dan penerangan di
tempat kerja. Secara ringkas intensitas penerangan yang dimaksud dapat
dijelaskan, sebagai berikut:

1. Penerangan untuk halaman dan jalan-jalan di lingkungan perusahaan harus


mempunyai intensitas penerangan paling sedikit 20 lux.
2. Penerangan untuk pekerjaan-pekerjaan yang hanya membedakan barang
kasar dan besar paling sedikit mempunyai intensitas penerangan 50 lux.
3. Penerangan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan barang-barang
kecil secara sepintas paling sedikit mempunyai intensitas penerangan 100
lux.
4. Penerangan untuk pekerjaan yang membeda-bedakan barang kecil agak teliti
paling sedikit mempunyai intensitas penerangan 200 lux.
5. Penerangan untuk pekerjaan yang membedakan dengan teliti dan barang-
barang yang kecil dan halus, paling sedikit mempunyai intensitas penerangan
300 lux.
6. Penerangan yang cukup untuk pekerjaan membeda-bedakan barang halus
dengan kontras yang sedang dalam waktu yang lama, harus mempunyai
intensitas penerangan paling sedikit 500 - 1000 lux.
7. Penerangan yang cukup untuk pekerjaan membeda-bedakan barang yang
sangat halus dengan kontras yang kurang dan dalam waktu yang lama, harus
mempunyai intensitas penerangan paling sedikit 2000 lux.
Tabel 1 . Intensitas cahaya di ruang kerja

Jenis Kegiatan Tingkat Keterangan


Pencahayaan
Minimal (lux)
Pekerjaan kasar 100 Ruang penyimpanan dan peralatan
dan tidak terus- atau instalasi yang memerlukan
menerus pekerjaan kontinyu
Pekerjaan kasar 200 Pekerjaan dengan mesin dan
dan terus- perakitan kasar
menerus
Pekerjaan rutin 300 Ruang administrasi, ruang kontrol,
pekerjaan mesin dan perakitan
Pekerjaan agak 500 Pembuatan gambar atau bekerja
halus dengan mesin kantor, pemeriksaan
atau pekerjaan dengan mesin
Pekerjaan halus 1000 Pemilihan warna, pemrosesan tekstil,
pekerjaan mesin halus dan perakitan
halus
Pekerjaan 1500 Mengukir dengan tangan,
sangat halus tidak pemeriksaan pekerjaan mesin, dan
menimbulkan perakitan yang sangat halus
bayangan
Pekerjaan 3000 Pemeriksaan pekerjaan, perakitan
terinci tidak sangat halus
menimbulkan
bayangan

c. Iklim dan suhu

Iklim kerja adalah kombinasi suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerak

udara dan suhu radiasi pada suatu lingkungan kerja. Iklim kerja yang tidak
nyaman dan tidak sesuai dengan sifat pekerjaan akan sangat menggangu

pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja. Hal tersebut dapat

mengakibatkan menurunnya daya kerja, timbulnya kelelahan dan

ketidaknyamanan dalam bekerja sehingga produktivitas juga akan mengalami

penurunan. Oleh karena itu perlu adanya pengaturan iklim kerja. Untuk

melakukan pengaturan di tempat kerja maka harus diukur terledih dahulu

iklim kerjanya, jika iklim kerja tidak sesuai sebaiknya dilakukan penyesuaian.

Temperatur yang dianjurkan di tempat kerja adalah 24 - 26º C.(suhu kering)

pada kelembaban 85% - 95% dan suhu basah antara 22 - 30º C, suhu tersebut

merupakan suhu nikmat di Indonesia (Suma’mur, 1996). Tubuh manusia dapat

menyesuaikan diri dengan temperatur luar jika perubahan temperatur luar

yang terjadi tidak lebih dari 20% untuk suhu panas dan 35% untuk suhu dingin,

semuanya dari keadaan normal tubuh. Sedangkan batas toleransi untuk suhu

tinggi adalah 35ºC-40ºC, kecepatan gerakan udara 0,2 m/detik, kelembaban

udara 40%-50% dan perbedaan suhu permukaan 40ºC. Sehingga suhu optimal

dari dalam tubuh untuk mempertahankan fungsinya adalah 36,5ºC-39,5ºC

(Grandjean dalam 15 Tarwaka dan kawan-kawan, 2004). Semakin aktif seorang

pekerja maka semakin rendah suhu yang diperlukan supaya ideal. Tenaga

kerja akan melakukan penyesuaian diri terhadap perubahan suhu di tempat

kerja dengan menjaga keseimbangan panas tubuh. Menurut Keputusan

Menteri Tenaga Kerja No. Kep-51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas

Faktor Fisika di Tempat Kerja ditetapkan bahwa nilai ISBB tempat kerja tersaji

dalam tabel 1: Tabel 1. Nilai Ambang Batas Iklim Kerja


2. Faktor yang Mempengaruhi Iklim Kerja Untuk menilai hubungan iklim kerja

dan efek terhadap seseorang perlu diperhatikan seluruh faktor yang meliputi

lingkungan, manusia dan pekerjaan. Faktor yang mempengaruhi iklim kerja

tersaji dalam tabel 3:

Iklim kerja dapat menimbulkan proses perpindahan panas. Perpindahan panas

dapat terjadi dengan cara seperti di bawah ini (Suma’mur, 1996): 17 a.

Konduksi ialah perpindahan panas antara tubuh dan benda-benda sekitar

melalui sentuhan atau kontak langsung. b. Konveksi adalah pertukaran panas

antara tubuh dan lingkungan melalui kontak udata dengan tubuh. c. Setiap

benda termasuk tubuh manusia selalu memancarkan gelombang panas

tergantung suhu benda-benda disekitarnya. Tubuh menerima atau kehilangan

panas melalui mekanisme radiasi. d. Kehilangan panas melalui penguapan

dapat terjadi melalui keringat yang dikeluarkan oleh tubuh pada saat

melakukan pekerjaan dengan penguapan di permukaan kulit. 3. Dampak Iklim

Kerja Panas Kelainan atau gangguan yang tampak secara klinis akibat

gangguan tekanan panas, dibagi atas 4 yaitu: a. Millaria Rubra (Heat Rash)

Sering dijumpai dikalangan militer atau pekerja fisik lainnya yang tinggal di

daerah iklim panas. Tampak adanya bintik papulovesikal kemerahan pada kulit

yang terasa nyeri bila kepanasan. Hal ini terjadi sebagai akibat sumbatan

kelenjar keringat dan terjadi retensi keringat disertai reaksi peradangan.


Kelainan ini dapat mengganggu tidur sehingga effisiensi fisiologik menurun

dan meningkatkan kelelahan kumulatif. Keadaan ini merupakan faktor

predisposisi untuk terjadinya faktor yang lebih serius. Adanya kelainan kulit

mengakibatkan proses berkeringat dan evaporasi terhambat, sehingga proses

pendinginan tubuh terganggu. b. Kejang Panas (Heat Cramps) 18 Heat Cramps

(Kram Karena Panas) adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan,

yang terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas. Heat

cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam (termasuk

natrium, kalium dan magnesium) akibat keringat yang berlebihan, yang sering

terjadi ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Heat cramps sering terjadi

pada pekerja manual, seperti pekerja di ruang mesin, pekerja pengolah baja

dan pekerja pertambangan. Heat cramps seringkali secara tiba-tiba mulai

timbul di tangan, betis atau kaki, terasa sangat nyeri. Otot menjadi keras,

tegang dan sulit untuk dikendurkan. Heat cramps bisa dicegah atau diobati

dengan meminum minuman atau memakan makanan yang mengandung

garam. c. Kelelahan Panas (Heat Exhaustion) Heat Exhaustion (Kelelahan

Karena Panas) adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena/terpapar

panas selama berjam-jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat

menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan. Suhu

yang sangat panas bisa menyebabkan hilangnya banyak cairan melalui

keringat, terutama selama melakukan kerja fisik atau olah raga berat.

Bersamaan dengan cairan, garam (elektrolit) juga hilang sehingga terjadi

gangguan sirkulasi darah dan fungsi otak. Gejala utama adalah kelelahan,

kelemahan dan kecemasan yang meningkat, serta badan basah kuyup karena

berkeringat. Jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah

terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas.


Denyut jantung menjadi lambat dan lemah, kulit menjadi dingin, pucat dan

lembab, penderita menjadi linglung. Hilangnya cairan 19 menyebabkan

berkurangnya volume darah, menurunnya tekanan darah dan bisa

menyebabkan penderita pingsan. Kelainan ini dapat dipercepat terjadinya

pada orang-orang yang kurang minum, berkeringat banyak, muntah-muntah,

diare atau penyebab lain yang mengakibatkan pengeluaran air berlebihan. d.

Sengatan Panas (Heat Stroke) Sengatan panas adalah suatu keadaan darurat

medik dengan angka kematian yang tinggi. Pada kelelahan panas, mekanisme

pengatur suhu bekerja berlebihan tetapi masih berfungsi, sedangkan pada

sengatan panas, mekanisme pengatur suhu tubuh sudah tidak berfungsi lagi

disertai dengan terhambatnya proses evaporasi secara total. Suhu tinggi

biasanya berkaitan dengan berbagai penyakit seperti di atas yaitu pukulan

panas, kejang panas, kegagalan dalam penyesuian terhadap panas, dehidrasi,

kelelahan tropis dan miliari. Dalam pengalaman, penyakit-penyakit tersebut

jarang ditemukan pada tenaga kerja Indonesia. Sampai saat ini tidak ada kasus

kejang panas melainkan diare kronis pada tenaga yang berada dalam cuaca

panas yang tinggi. Namun begitu, terdapat kesan bahwa suhu ditempat kerja

bertalian dengan kenaikan angka-angka sakit seperti masuk angin, influensa,

dan sebagainya (Suma’mur, 1996). Tekanan panas yang berlebihan merupakan

beban tambahan yang harus diperhatikan dan dipehitungkan. Beban

tambahan berupa panas lingkungan, dapat menyebabkan beban fisiologis,

misalnya kerja jantung menjadi bertambah Tekanan panas yang berlebih juga

dapat mengakibatkan perubahan fungsional pada organ yang bersesuaian

pada tubuh manusia serta dapat mengakibatkan rasa letih dan kantuk,

mengurangi kestabilan dan meningkatnya jumlah angka kesalahan kerja

sehingga dapat menurunkan efisiensi kerja.


Pencegahan dan Pengendalian Panas a. Pencegahan Panas Pencegahan

terhadap panas supaya tidak menimbulkan gangguan pada tubuh meliputi: air

minum, garam, makanan, istirahat, tidur dan pakaian (Depkes RI dalam

Muffichatum, 2006). Dengan uraian sebagai berikut: 1) Air minum Merupakan

unsur pendingin tubuh yang penting dalam lingkungan panas. Air diperlukan

untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat berkeringat dan pengeluaran

urine. 2) Garam (NaCl) Pada keluaran keringat yang banyak, perlu menambah

pemberian garam, akan tetapi tidak boleh berlebihan karena dapat

menimbulkan haus dan mual. 3) Makanan Sesudah makan, sebagian besar

darah mengalir kedaerah usus untuk menyerap hasil pencernaan. 4) Tidur atau

istirahat Untuk menghindari efek kelelahan setelah aktivitas fisik yang berat

yang dilakukan pada lingkungan kerja yang panas, tubuh memerlukan istirahat

yang cukup dan tidur sekitar 7 jam sehari. 5) Pakaian 21 Pakaian melindungi

permukaan tubuh terhadap radiasi sinar matahari, tetapi juga merupakan

penghambat terjadinya konveksi antara kulit dengan aliran udara. Untuk

mendapatkan efek yang menguntungkan, baju yang pakai harus cukup longgar

terutama bagian leher, ujung lengan, ujung celana, dan sebagainya. b.

Pengendalian Panas Pengendalian terhadap panas meliputi: isolasi terhadap

sumber panas, ventilasi setempat, pendinginan lokal dan pengaturan lama

kerja. Uraian sebagai berikut (Siswanto dalam Muffichatum, 2006). 1) Isolasi

Sumber Panas Isolasi terhadap benda-benda yang panas akan mencegah

keluarnya panas ke lingkungan. Ini dapat dilakukan misalnya dengan

memisahkan mesin yang mengeluarkan panas, membalut pipa-pipa yang

panas, dan lainnya sehingga dapat mengurangi aliran panas yang timbul. 2)

Ventilasi Setempat Ventilasi ini bertujuan untuk mengendalikan panas

konveksi yaitu dengan menghisap keluar udara yang panas. 3) Pendinginan


Lokal Dapat dilakukan dengan pemberian kipas angin maupun AC jika

memungkinkan. 4) Pengaturan Lama Kerja Untuk menghindari terjadinya

gangguan kesehatan akibat terpapar suhu udara yang tinggi. Lamanya kerja

dan istirahat harus disesuaikan dengan tingkat tekanan panas yang dihadapi

oleh pekerja. Sedangkan menurut Soeripto M 2008, pengendalian terhadap

tekanan heat stress dan heat strain dilaksanakan dalam rangka perlindungan

keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan.

Pengendalian ini dipusatkan disekitar penyebab dari heat stress dan

ketegangan physiologi yang dihasilkan. Hal ini memerlukan pengendalian

secara umum yang dapat digunakan untuk semua panas yang ada

hubungannya dengan pekerjaan (termasuk panas yang berasal dari sumber

yang ada di lingkungan tempat kerja dan panas metabolisme yang dihasilkan

oleh aktivitas tubuh. Selain itu terdapat pula pengendalian khusus yang harus

dievaluasi.

d. Getaran

Terdapat beberapa pandangan mengenai getaran dan akibatnya pada

kesehatan manusia . Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI dalam

keputusan nomor 51/Menaker/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor-

Faktor Fisik menjelaskan bahwa :

“Getaran adalah gerakan yang teratur dari suatu benda atau media

dengan arah bolak-balik dari kedudukan keseimbangannya“

Definisi mengenai getaran dikemukakan oleh Mansfeld (dalam

Rengkung, 2005) yang menyatakan bahwa getaran adalah pergerakan

emkanis yang berosilasi disekitar titik yang tetap .Getaran adalah bentuk

gelombang mekanik yang mentransfer energy dimana getaran


membutuhkan suatu struktur mekanik yang berfungsi sebagai media

atau jalan untuk bertransmisi. Struktur ini dapat berupa mesin

kendaraan alat, atau bahkan manusia.

Getaran mekanis dapat dirasakan dan terjadi pada seluruh tubuh pada

kisaran frekuensi yang sangat besar yaitu antara 0.1-10.000 Hz,namun

secara umum kepekaan manusia hanya berkisar 4-8 Hz dengan arah

naik turun atau kesamping . Didapatkan bukti epidemiologi yang kuat

bahwa terdapat kenaikan secara pasti terhadap rasa sakit pada

punggung dan bagian perut diantara banyak orang yang mengalami

Getaran seluruh badan (Whole Body Vibration ) dengan paparan dalam

waktu lama .

Sebagai contoh kasus, Wasserman dan Wasserman, 1999, menyatakan

pada karyawan yang bekerja sebagai operator kendaraan , paparan

getaran didapatkan dari dua sumber :

1. Getaran seluruh badan (Whole Body Vibration ) , yaitu getaran dari

ujung kaki sampai kepala .Getaran ini berasal dari tempat duduk

pengemudi. Definisi lainnya menyatakan bahwa frekuensi getaran ini

adalah 5-20 Hz.

2. Getaran tangan dan lengan (hand arm vibration), yaitu getaran

setempat yaitu getaran yang merambat melalui tangan sebagai

akibat pemakaian peralatan yang bergetar .Frekuensi ini biasanya

antara 20-500 Hz dimana frekuensi 128 Hz adalah frekuensi yang

paling berbahaya dikarenakan tubuh manusia sangat peka terhadap

besaran frekuensi ini.


Ada dua macam getaran yaitu: getaran seluruh badan (whole body

vibration) dan getaran lengan/tangan ( hand arm ). Getaran seluruh

tubuh adalah getaran yang bisa melalui kaki (tempat berdiri) atau melalui

tempat duduk. Getaran ini terjadi biasa pada alat pengangkut seperti

truk dan traktor. Sedangkan getaran lengan-tangan adalah getaran yang

terjadi melalui lengan dan tangan, misalnya pada gerinda, bor tangan,

dan gergaji listrik.

Tiga aspek penting pada getaran :

 Level(m/dr2)

 Frekuensi (Hz)

 Lama pemaparan (jam)

Efek getaran :

 Hand and arm vibration pada frekuensi 8-1000Hz dapat

menyebabkan white finger serta kelainan otot rangka.

 Whole body vibration menyebabkan getaran pada ala-alat dalam

sehingga dapat menyebabkan gejala sakit dada, LBP, dan

gangguan penglihatan

 Pada frekuensi rendah dapat menyebabkan sea sickness.

Pengukuran getaran :

Pengukuran getaran dilakukan dengan menggunakan vibration

acceleration meter.
e. Radiasi

Pengertian dan Defenisi Radiasi Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses

di mana energi bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap

oleh benda lain. Apa yang membuat radiasi adalah bahwa energi memancarkan

(yaitu, bergerak ke luar dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber.

geometri ini secara alami mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik yang

sama berlaku untuk semua jenis radiasi. Radiasi adalah fenomena / peristiwa

penyebaran energi gelombang elektromagnetik atau partikel subatom melalui

vakum atau media material. Gelombang Elektromagnetik adalah gelombang yang

dapat merambat walau tidak ada medium, yang dirumuskan oleh Maxwell ternyata

terbentang dalam rentang frekuensi yang luas.

Radiasi terdiri dari beberapa jenis, dan setiap jenis radiasi tersebut memiliki panjang

gelombang masing-masing,lihat gambar, skema radiasi menuru jenis.

Ditinjau dari massanya, radiasi dapat dibagi menjadi radiasi elektromagnetik dan

radiasi partikel. Radiasi elektromagnetik adalah radiasi yang tidak memiliki massa.
Radiasi ini terdiri dari gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya

tampak, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik Radiasi partikel adalah radiasi

berupa partikel yang memiliki massa, misalnya partikel beta (β), partikel alfa (α),

sinar gamma (γ), sinar-X, partikel neutron Jika ditinjau dari "muatan listrik"nya,

radiasi dapat dibagi menjadi radiasi pengion dan radiasi nonpengion. Radiasi

pengion adalah radiasi yang apabila menumbuk atau menabrak sesuatu, akan

muncul partikel bermuatan listrik yang disebut ion. Peristiwa terjadinya ion ini

disebut ionisasi. Ion ini kemudian akan menimbulkan efek atau pengaruh pada

bahan, termasuk benda hidup. Termasuk ke dalam radiasi pengion adalah sinar-X,

partikel alfa (α), partikel beta (β), sinar gamma (γ), partikel neutron, Partikel beta

(β), partikel alfa (α), dan neutron dapat menimbulkan ionisasi secara langsung.

Meskipun tidak memiliki massa dan muatan listrik, sinar-X, sinar gamma dan sinar

kosmik juga termasuk ke dalam radiasi pengion karena dapat menimbulkan ionisasi

secara tidak langsung. Radiasi non-pengion adalah radiasi yang tidak dapat

menimbulkan ionisasi. Termasuk ke dalam radiasi non-pengion adalah gelombang

radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak dan ultraviolet. Sedangkan

dilihat dari jenis radiasi terdiri dari ; radiasi elektromagnetik, radiasi pengion, radiasi

thermal, radiasi Cerenkov, radiasi sel hidup, radiasi matahari, radiasi nuklir, radiasi

benda hitam, radiasi non-ionisasi,radiasi cosmic Beberapa bahan kimia yang terdiri

dari unsur-unsur kimia inti yang tidak stabil. Sebagai akibat dari ketidakstabilan ini,

atom memancarkan partikel subatomik dan aleatoria. Tanpa kita sadari, sebenarnya

kita hidup dalam lingkungan yang penuh dengan radiasi. Radiasi telah menjadi

bagian dari lingkungan kita semenjak dunia ini diciptakan, bukan hanya sejak

ditemukan tenaga nuklir setengah abad yang lalu,yang mana terdapat lebih dari 60

radionuklida . Berdasarkan asalnya radiasi yang dapat dibedakan pada dua garis

besarn : (i) sumber radiasi alam, dan (ii) radiasi buatan


Efek Radiasi Terhadap Manusia Dilihat dari interaksi biologi tadi di atas, maka secara

biologis efek radiasi dapat dibedakan atas : a. Berdasarkan jenis sel yang terkena

paparan radiasi Sel dalam tubuh manusia terdiri dari sel genetic dan sel somatic. Sel

genetic adalah sel telur pada perempuan dan sel sperma pada laki-laki, sedangkan

sel somatic adalah sel-sel lainnya yang ada dalam tubuh. Berdasarkan jenis sel, maka

efek radiasi dapat dibedakan atas : – Efek Genetik (non-somatik) atau efek

pewarisan adalah efek yang dirasakan oleh keturunan dari individu yang terkena

paparan radiasi.

Efek Somatik adalah efek radiasi yang dirasakan oleh individu yang terpapar radiasi.

Waktu yang dibutuhkan sampai terlihatnya gejala efek somatik sangat bervariasi

sehingga dapat dibedakan atas : o Efek segera adalah kerusakan yang secara klinik

sudah dapat teramati pada individu dalam waktu singkat setelah individu tersebut

terpapar radiasi, seperti epilasi (rontoknya rambut), eritema (memerahnya kulit),

luka bakar dan penurunan jumlah sel darah. Kerusakan tersebut terlihat dalam

waktu hari sampai mingguan pasca iradiasi. o Efek tertunda merupakan efek radiasi

yang baru timbul setelah waktu yang lama (bulanan/tahunan) setelah terpapar

radiasi, seperti katarak dan kanker. b. Berdasarkan dosis radiasi Bila ditinjau dari

dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek radiasi dibedakan atas efek

stokastik dan efek deterministic (non-stokastik). Efek Stokastik adalah efek yang

penyebab timbulnya merupakan fungsi dosis radiasi dan diperkirakan tidak

mengenal dosis ambang. Efek ini terjadi sebagai akibat paparan radiasi dengan dosis

yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sel. Radiasi serendah apapun selalu

terdapat kemungkinan untuk menimbulkan perubahan pada sistem biologik, baik

pada tingkat molekul maupun sel. Dengan demikian radiasi dapat pula tidak

membunuh sel tetapi mengubah sel, sel yang mengalami modifikasi atau sel yang

berubah ini mempunyai peluang untuk lolos dari sistem pertahanan tubuh yang
berusaha untuk menghilangkan sel seperti ini. Semua akibat proses modifikasi atau

transformasi sel ini disebut efek stokastik yang terjadi secara acak. Efek stokastik

terjadi tanpa ada dosis ambang dan baru akan muncul setelah masa laten yang lama.

Semakin besar dosis paparan, semakin besar peluang terjadinya efek stokastik,

sedangkan tingkat keparahannya tidak ditentukan oleh jumlah dosis yang diterima.

Bila sel yang mengalami perubahan adalah sel genetik, maka sifatsifat sel yang baru

tersebut akan diwariskan kepada turunannya sehingga timbul efek genetik atau

pewarisan. Apabila sel ini adalah sel somatik maka sel-sel tersebut dalam jangka

waktu yang relatif lama, ditambah dengan pengaruh dari bahan-bahan yang bersifat

toksik lainnya, akan tumbuh dan berkembang menjadi jaringan ganas atau kanker.

Maka dari itu dapat disimpulkan ciri-ciri efek stokastik a.l : – Tidak mengenal dosis

ambang – Timbul setelah melalui masa tenang yang lama – Keparahannya tidak

bergantung pada dosis radiasi – Tidak ada penyembuhan spontan – Efek ini meliputi

: kanker, leukemia (efek somatik), dan penyakit keturunan (efek genetik). Efek

Deterministik (non-stokastik) adalah efek yang kualitas keparahannya bervariasi

menurut dosis dan hanya timbul bila dosis ambang dilampaui. Efek ini terjadi karena

adanya proses kematian sel akibat paparan radiasi yang mengubah fungsi jaringan

yang terkena radiasi. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat dari paparan radiasi pada

seluruh tubuh maupun lokal. Efek deterministik timbul bila dosis yang diterima di

atas dosis ambang (threshold dose) dan umumnya timbul beberapa saat setelah

terpapar radiasi. Tingkat keparahan efek deterministik akan meningkat bila dosis

yang diterima lebih besar dari dosis ambang yang bervariasi bergantung pada jenis

efek. Pada dosis lebih rendah dan mendekati dosis ambang, kemungkinan terjadinya

efek deterministik dengan demikian adalah nol. Sedangkan di atas dosis ambang,

peluang terjadinya efek ini menjadi 100%. Adapun ciri-ciri efek non-stokastik, antara

lain ; – Mempunyai dosis ambang – Umumnya timbul beberapa saat setelah radiasi –
Adanya penyembuhan spontan (tergantung keparahan) – Tingkat keparahan

tergantung terhadap dosis radiasi – Efek ini meliputi : luka bakar, sterilitas /

kemandulan, katarak (efek somatik) Darai penjelasan di atas dapat disimpulkan :

Efek Genetik merupakan efek stokastik, sedangkan Efek Somatik dapat berupa

stokastik maupun deterministik (non-stokastik).

Pengendalian bahaya radiasi

- Pembatasan waktu kerja → (bekerja sesingkat mungkin: Dosis = laju dosis x waktu)

sedapat mungkin diupayakan utk tdk terlalu lama berada didekat sumber radiasi utk

mencegah terjadinya paparan radiasi yang besar, utk itu pekerja radiasi diberlakukan

pengaturan wkt berkerja didaerah radiasi.

- Pengendalian jarak kerja → (bekerja sejauh mungkin, laju dosis x jarak2 = konstan)

dari sumber radiasi,utk mencegah terjadi paparan tersebut maka harus menjaga

jarak yang jauh dari tingkat yang aman dari sumber radiasi. Penggunaan penahan

radiasi (sehelai kertas untuk radiasi alfa, aluminium atau plexiglass untuk radiasi

beta, dan timbale untuk radiasi gamma dan sinar X).

- Tempatkan sumber radiasi secara benar, mis: ruang isolasi

- Lindungi petugas operator dengan APD

DAFTAR PUSTAKA

1. Harrianto R. Buku ajar kesehatan kerja. Jakarta:Buku Kedokteran EGC;2008.

2. Slmaet,JS. 2006. Kesehatan lingkungan. Yogjakarta: Gajah Mada University;

2006.