Anda di halaman 1dari 34

Konsep Gangguan jiwa

A. Pengertian Gangguan jiwa


Menurut Depkes RI (2000) Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi
jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan
penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Penyebab
gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari berhubungan dengan orang
lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak adil, diperlakukan semena-mena,
cinta tidak terbalas, kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-
lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa yang disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan
gangguan pada otak (Djamaludin, 2001). Jiwa atau mental yang sehat tidak hanya berarti
bebas dari gangguan. Seseorang bisa dikatakan jiwanya sehat jika ia bisa dan mampu
untuk menikmati hidup, punya keseimbangan antara aktivitas kehidupannya, mampu
menangani masalah secara sehat, serta berperilaku normal dan wajar, sesuai dengan tempat
atau budaya dimana dia berada. Orang yang jiwanya sehat juga mampu mengekpresikan
emosinya secara baik dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, sesuai dengan
kebutuhan.

B. Penyebab Gangguan Jiwa


1. Faktor Organobiologi seperti faktor keturunan (genetik), adanya ketidakseimbangan
zatzat neurokimia di dalam otak. Kedua, Faktor Organobiologi terdiri dari :
 Nerokimia (misal : gangguan pada kromosom no 21 yang menyebabkan
munculnya gangguan perkembangan Sindrom Down).
 Nerofisiologi
 Neroanatomi
 Tingkat kematangan dan perkembangan organik.
 Faktor-faktor prenatal dan perinatal.

2. Faktor Psikologis seperti adanya mood yang labil, rasa cemas berlebihan, gangguan
persepsi yang ditangkap oleh panca indera kita (halusinasi).

1
3. Faktor Lingkungan (Sosial) baik itu di lingkungan terdekat kita (keluarga) maupun
yang ada di luar lingkungan keluarga seperti lingkungan kerja, sekolah, dll. Biasanya
gangguan tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus
dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan,
lalu timbulah gangguan badan atau pun jiwa. Faktor Lingkungan (Sosial) yang terdiri
dari :
 Tingkat ekonomi
 Lingkungan tempat tinggal : Perkotaan dan Pedesaan.
 Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka, fasilitas kesehatan,
pendidikan, dan kesejahteraan yang tidak memadai.

C. Jenis/Macam Gangguan Jiwa


1. Skizofrenia
Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi
personalitas yang terbesar. Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk psikosa yang sering
dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian pengetahuan kita tentang
sebab-musabab dan patogenisanya sangat kurang (Maramis, 1994).Dalam kasus berat,
klien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya
abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi
sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan
dan jika tidak diobati biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak ” cacat ” (Ingram
et al.,1995).
2. Depresi
Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam
perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu
makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan
bunuh diri (Kaplan, 1998). Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk
gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan,
ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya (Hawari,
1997). Depresi adalah suatu perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan.

2
3. Kecemasan
Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap
orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaik-
baiknya, Maslim (1991). Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan takut sebagai
bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik (Rawlins 1993). Penyebab maupun
sumbernya biasa tidak diketahui atau tidak dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari
kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat. Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi
rentang respon kecemasan ke dalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasan ringan,
sedang, berat dan kecemasan panik.
4. Gangguan Kepribadian
Klinik menunjukkan bahwa gejala-gejala gangguan kepribadian (psikopatia) dan
gejala-gejala nerosa berbentuk hampir sama pada orang-orang dengan intelegensi tinggi
ataupun rendah. Jadi boleh dikatakan bahwa gangguan kepribadian, nerosa dan gangguan
intelegensi sebagaian besar tidak tergantung pada satu dan lain atau tidak berkorelasi.
Klasifikasi gangguan kepribadian : kepribadian paranoid, kepribadian afektif atau
siklotemik, kepribadian skizoid, kepribadian axplosif, kepribadian anankastik atau obsesif-
konpulsif, kepribadian histerik, kepribadian astenik, kepribadian anti sosial, Kepribadian
pasif agresif, kepribadian inadequate (Maslim,1998).
5. Gangguan Mental Organik
Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-psikotik yang disebabkan oleh
gangguan fungsi jaringan otak (Maramis, 1994). Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat
disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak atau yang terutama di
luar otak. Bila bagian otak yang terganggu itu luas, maka gangguan dasar mengenai fungsi
mental sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya bila hanya bagian
otak dengan fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan
gejala dan sindroma, bukan penyakit yang menyebabkannya. Pembagian menjadi psikotik
dan tidak psikotik lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak pada suatu penyakit
tertentu dari pada pembagian akut dan menahun.
6. Gangguan Psikosomatik
Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi badaniah
(Maramis, 1994). Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian

3
besar atau semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan
saraf vegetatif. Gangguan psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang dinamakan
dahulu neurosa organ. Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang terganggu, maka sering
disebut juga gangguan psikofisiologik.
7. Retardasi Mental
Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak
lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya rendahnya daya keterampilan selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh,
misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial (Maslim,1998).
8. Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja
Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan
permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat (Maramis, 1994). Anak dengan
gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan.
Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan
tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk
anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua kepada
anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat
mengakibatkan perubahan kepribadian. Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi
perilaku anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah, maka
dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.

D. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa


a) Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar. Gambaran alam perasaan ini dapat
terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
b) Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn). Tidak mau bergaul atau kontak
dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).
c) Delusi atau Waham yaitu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal)
meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional,
namun penderita tetap meyakini kebenarannya. Sering berpikir/melamun yang
tidak biasa (delusi).

4
d) Halusinasi yaitu pengalaman panca indra tanpa ada rangsangan misalnya penderita
mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber
dari suara/bisikan itu
e) Merasa depresi, sedih atau stress tingkat tinggi secara terus-menerus.
f) Kesulitan untuk melakukan pekerjaan atau tugas sehari-hari walaupun pekerjaan
tersebut telah dijalani selama bertahun-tahun.
g) Paranoid (cemas/takut) pada hal-hal biasa yang bagi orang normal tidak perlu
ditakuti atau dicemaskan.
h) Kekacauan alam pikir yaitu yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya, misalnya
bicaranya kacau sehingga tidak dapat diikuti jalan pikirannya.
i) Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat
dan gembira berlebihan.
E. Klasifikasi Gangguan Jiwa
Klasifikasi psikiatri melibatkan pembedaan dari perilaku normal dari abnormal.
Dalam hal ini normal dan abnormal dapat berarti sehat dan sakit, tetapi bisa juga
digunakan dalam arti lain. Sejumlah gejala psikiatri berbeda tajam dari normal dan hampir
selalu menunjukkan penyakit ( Ingram et al., 1993): Gangguan Jiwa dibagi menjadi dua
kelainan mental utama, yaitu penyakit mental dan cacat mental. Cacat mental suatu
keadaan yang mencakup difisit intelektual dan telah ada sejak lahir atau pada usia dini.
Penyakit mental secara tidak langsung menyatakan yang kesehatan sebelumnya, kelainan
yang berkembang atau kelainan yang bermanifestasi kemudian dalam kehidupan
1. Penyakit mental secara prinsip dibagi dalam psikoneurosis dan psikosis. Kategori
ini sesuai dengan awam tentang kecemasan dan kegilaan. Psikoneurosis merupakan
keadaan lazim yang gejalanya dapat dipahami dan dapat diempati. Psikosis
merupakan penyakit yang gejalanya kurang dapat dipahami dan tidak dapat
diempati serta klien sering kehilangan kontak realita.
2. Istilah fungsional dan organik menunjukkan etiologi penyakit dan digunakan untuk
membagi psikosis. Psikosis fungsional berarti ada gangguan fungsi, tanpa kelainan
patologi yang dapat dibuktikan

5
F. Penyebab Gangguan Jiwa
Gejala utama atau gejala yang menonjol pada gangguan jiwa terdapat pada unsur
kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik), di lingkungan
sosial (sosiogenik) ataupun psikis (psikogenik), (Maramis, 1994). Biasanya tidak terdapat
penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang
saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbulah gangguan badan
ataupun jiwa.

Konsep Stres
A. Pengertian Stres
Stres adalah sekumpulan perubahan fisiologis akibat tubuh terpapar terhadap
bahaya ancaman. Stres memiliki dua komponen: fisik yakni perubahan fisiologis dan
psikogis yakni bagaimana seseorang merasakan keadaan dalam hidupnya. Perubahan
keadaan fisik dan psikologis ini disebut sebagai stresor (pengalaman yang menginduksi
respon stres) (Pinel, 2009).
Stres adalah suatu reaksi tubuh yang dipaksa, di mana ia boleh menganggu
equilibrium (homeostasis) fisiologi normal (Julie K., 2005). Sedangkan menurut WHO
(2003) Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan
mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk
menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa
respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani
pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres semua sebagai suatu
sistem.

B. Klasifikasi Stres
Stuart dan Sundeen (2005) mengklasifikasikan tingkat stres, yaitu:
1. Stres ringan
Pada tingkat stres ini sering terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi ini
dapat membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai
kemungkinan yang akan terjadi.

6
2. Stres sedang
Pada stres tingkat ini individu lebih memfokuskan hal penting saat ini dan
mengesampingkan yang lain sehingga mempersempit lahan persepsinya.
a. Stres berat
Pada tingkat ini lahan persepsi individu sangat menurun

7
3. Sumber Stres (Stresor)
Sumber stres adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan
reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologis nonspesifik yang menyebabkan
kerusakan dalam sistem biologis. Stres reaction acute (reaksi stres akut) adalah gangguan
sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang
jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat, biasanya mereda dalam
beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity) seseorang
memainkan peranan dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya (Sunaryo,
2002).

4. Penggolongan Stres
Menurut Selye (2005) dalam menggolongkan stres menjadi dua golongan yang
didasarkan atas persepsi individu terhadap stres yang dialaminya yaitu :
1) Distres (stres negatif)
Merupakan stres yang merusak atau bersifat tidak menyenangkan. Stres dirasakan
sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir atau
gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan psikologis yang negatif, menyakitkan
dan timbul keinginan untuk menghindarinya.
2) Eustres (stres positif)
Eustres bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman yang memuaskan,
frase joy of stres untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat positif yang timbul dari
adanya stres. Eustres dapat meningkatkan kesiagaan mental, kewaspadaan, kognisi dan
performansi kehidupan. Eustres juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk
menciptakan sesuatu, misalnya menciptakan karya seni.

5. Respon Psikologis Stres

8
Reaksi psikologis terhadap stres dapat meliputi, (Sarafino, 2007) :
1) Kognisi
Stres dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktivitas kognitif. Stresor
berupa kebisingan dapat menyebabkan defisit kognitif pada anak-anak. Kognisi juga
dapat berpengaruh dalam stres.
2) Emosi
Emosi cenderung terkait dengan stres. Individu sering menggunakan keadaan
emosionalnya untuk mengevaluasi stres. Proses penilaian kognitif dapat
mempengaruhi stres dan pengalaman emosional. Reaksi emosional terhadap stres
yaitu rasa takut, fobia, kecemasan, depresi, perasaan sedih dan rasa marah.
3) Perilaku Sosial
Stres dapat mengubah perilaku individu terhadap orang lain. Individu dapat
berperilaku menjadi positif maupun negatif. Bencana alam dapat membuat individu
berperilaku lebih kooperatif, dalam situasi lain, individu dapat mengembangkan
sikap bermusuhan. Stres yang diikuti dengan rasa marah menyebabkan perilaku
sosial negatif cenderung meningkat sehingga dapat menimbulkan perilaku agresif.
Stres juga dapat mempengaruhi perilaku membantu pada individu.

6. Reaksi Psikologis Terhadap Stres


1) Kecemasan
emosi yang tidak menyenangkan dengan istilah kuatir, tegang, prihatin, takut seperti
jantung berdebar-debar, keluar keringan dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan
susah tidur.
2) Kemarahan dan agresi
Perasaan jengkel sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai
ancaman.
3) Depresi Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangatdan juga
terkadang disertai rasa sedih.

7. Cara Mengedalikan Stres

9
Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam meyelesaikan masalah,
menyesuaikan diri dengan keinginan yang akan dicapai dan respons terhadap situasi
yang menjadi ancaman bagi individu. Cara yang dapat dilakukan adalah :
1) Individu
a) Kenali diri sendiri
b) Turunkan kecemasan
c) Tingkatkan harga diri
d) Persiapan diri

2) Dukungan sosial
a) Pemberian dukungan terhadap peningkatan kemampuan kognitif.
b) Ciptakan lingkungan keluarga yang sehat.
c) Berikan bimbingan mental dan spiritual untuk individu tersebut dari keluarga.
d) Berikan bimbingan khusus untuk individu.
e) Kiat mengedalikan stres

10
Konsep Harga diri
1. pengertian konsep diri
konsep diri didefenisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang
merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan
dengan orang lain (stuart&sundeen 2005).
konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, fisikal,
emosional, intelektual, sosial dan spiritual (keliat, 2005).
konsep diri adalah citra subjektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari
perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun sadar. konsep diri memberi kita
kerangka acuan yang mempengaruhi manejemen kita terhadap situasi dan hubungan
kita dengan orang lain (potter& perry, 2005).

2. Komponen Konsep Diri


a. Citra Tubuh (BodyImage)
BodyImage (citra tubuh) adalah sikap individu terhadap dirinya baik disadari
maupun tidak disadari meliputi persepsi masa lalu atau sekarang mengenai
ukuran dan dinamis karena secara konstan berubah seiring dengan persepsi dan
pengalaman-pengalaman baru.
Bodyimage berkembang secara bertahap selama beberapa tahun dimulai sejak
anak belajar mengenal tubuh dan struktur, fungsi, kemampuan dan keterbatasan
mereka. Bodyimage (citra tubuh) dapat berubah dalam beberapa jam, hari,
minggu ataupun bulan tergantung pada stimulieksterna dalam tubuh dan
perubahan aktual dalam penampilan, stuktur dan fungsi (Potter& Perry, 2005).
b. Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia
seharusnya bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar
dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkan/disukainya
atau sejumlah aspirasi, tujuan, nilai yang diraih.

11
Pembentukan ideal diri dimulai pada masa anak-anak dipengaruhi oleh
orang yang dekat dengan dirinya yang memberikan harapan atau tuntunan
tertentu. Seiring dengan berjalannya waktu individu menginternalisasikan
harapan tersebut dan akan membentuk dari dasar ideal diri. Pada usia remaja,
ideal diri akan terbentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan
teman. Pada usia yang lebih tua dilakukan penyesuaian yang merefleksikan
berkurangnya kekuatan fisik dan perubahan peran serta tanggung jawab.

c. Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai
dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku
dengan ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan
orang lain yaitu : dicintai, dihormati dan dihargai. Harga diri
dibentuk sejak kecil dari adanya penerimaan dan perhatian. Harga
diri akan meningkat sesuai dengan meningkatnya usia. Harga diri
akan sangat mengancam pada saat pubertas, karena pada saat ini
harga diri mengalami perubahan, karena banyak keputusan yang
harus dibuat menyangkut dirinya sendiri.
d. Peran
Peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang
diharapkan oleh masyarakat dihubungkan dengan fungsi individu di dalam
kelompok sosial.
e. Identitas Diri
Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat
diperoleh individu dari observasi dan penilaian dirinya, menyadari
bahwa individu dirinya berbeda dengan orang lain. Seseorang yang
mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya
berbeda dengan orang lain, dan tidak ada duanya.Identitas berkembang
sejak masa kanak-kanak, bersamaan dengan berkembangnya konsep diri.

12
Mekanisme koping

1. Pengertian mekanisme koping


Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang
mengancam (Keliat, 2005). Sedangkan menurut Lazarus (2005), koping adalah
perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya mengatasi tuntutan
internal atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.
2. Penggolongan Mekanisme Koping
Berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (dua) (Stuart dan Sundeen,
2005) yaitu
a. Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar
dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain,
memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan
aktivitas konstruktif.
b. Mekanisme koping maladaptif
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah
pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan.
Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan,
menghindar.
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi mekanisme koping
Mekanisme koping seseorang dipengaruhi oleh faktor – faktor
diantaranya: peran dan hubungannya, gizi dan metabolisme, tidur dan istirahat,
rasa aman dan nyaman, pengalaman masa lalu, tingkat pengetahuan seseorang,
dan lingkungan tempat tinggal (Taylor 2003).

4. Jenis mekanisme koping

13
1. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari, dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi
stres.
2. Perilaku menolak digunakan untuk mengubah atau mengatasi hambatan
pemenuhan kebutuhan
3. Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologis
untuk memindahkan seseorang dari sumber stress
4. Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang
mengoperasikan, mengganti tujuan atau mengorbankan aspek kebutuhan
personal seseorang

5. Mekanisme pertahanan ego


Membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi jika berlangsung
pada tingkat tidak sadar dan melibatkan penipuan diri dandisorientasi realitas,
maka mekanisme ini dapat merupakan respon maladaptif terhadap stres
(Struart dan Sundeen, 2003)Mekanisme pertahanan ego, yang sering disebut
sebagai mekanisme pertahanan mental. Adapun mekanisme pertahanan ego
adalah sebagai berikut :
1) Kompensasi
Proses seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan tegas
menonjolkan keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki.
2) Penyangkalan (denial)
Menyatakan tidak setuju terhadap realitas dengan mengingkari realitas
tersebut. Bila individu menyangkal kenyataan, maka dia menganggap
tidak ada atau menolak pengalaman yang tidak menyenangkan
(sebenarnya mereka sadari sepenuhnya) dengan maksud melindungi diri
(Keliat, 2005)
3) Isolasi
Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat
bersifat sementara atau berjangka lama

14
4) Regresi
Regresi merupakan respon yang umum bagi individu bila berada dalam
situasi frustrasi, setidak-tidaknya pada anak-anak. Dapat pula terjadi
bila individu yang menghadapi tekanan kembali lagi kepada metode
perilaku yang khas individu yang berusia lebih muda (Stuart dan
Sundeen, 2005)

Prilaku kekerasan

1.pengertian prilaku kekerasan


Perilaku kekerasan adalah menyentuh orang lain secara menakutkan, memberi
kata-kata ancaman melukai disertai melukai pada tingkat ringan. Dan yang paling
berat adalah melukai atau merusak secara sosial. (Keliat, Budi ana 2008)
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami
perilaku yang dapat membahayakan secara fisik baik kepada diri sendiri atau
orang lain (Townsend Mary, 2008).
Asertif : Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain.
Frustasi : Kegagalan mencapai tujuan karena tidak realitas atau terhambat.
Pasif : Respon lanjut klien tidak mampu ungkapkan perasaan.
Agresif : Perilaku dekstruksi masih terkontrol.
Amuk : Perilaku dekstruktif dan tidak terkontrol (stuart dan sundeen,
2008)

2. Etiologi
Menurut stuart dan sundeen (1998) masalah perilaku kekerasan dapat terjadi
disebabkan karena adanya faktor predisposisi ( faktor yang (melatarbelakangi )

15
munculnya masalah dan factor presipitasi (faktor yang memicu adanya masalah )
adalah
1) Faktor predisposisi
2) Faktor genetik.
Mempengaruhi gangguan efektif melalui riwayat keluarga atau keturunan.
3) Faktor presipitasi
 Bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi orang lain.
 Kondisi klien seperti kelemahan fisik ( penyakit fisik ) seperti
keputusasaan, tidak berdayaan dan kurang percaya diri.
 Situasi lingkungan yang ribut, padat, dan kritikan yang mengarah pada
penghinaan.
 Kehilangan orang yang dicintai, atau pekerjaan dan kekerasan
 Interaksi sosial yang provoaktif dan konflik.

3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala menurut stuart and sundeen (2008) adalah sebagai berikut:
Tanda-tanda yang menyertai marah adalah :
 Muka tampak merah dan pandangan mata liar.
 Bicara kasar menuntut nada suara tinggi.
 Perilaku kasar disertai kekerasan.
Gejala yang muncul
 Mengungkapkan daya stress.
 Mengungkapkan secara verbal ingin melukai diri, orang lain, dan
lingkungan.
 Menentang .
 Tingkah laku agresif.
Perilaku yang berhubungan dengan perilaku kekerasan
 Fisik : Muka merah, pandangan raut wajah tajam, liar, sakit fisik.
 Emosi : Merasa takut cemas tidak
 Intelektual : Bertindak meremehkan.

16
 Spesifik : Kebenaran dan keraguan tidak bermoral.
 Kebajikan : Kreatifitas terlambat.

4. STRATEGI PELAKSANA Prilaku kekerasan


SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab perasaan
marah, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan,
akibatnya serta cara mengontrol secara fisik I
SP 2 Pasien: Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik ke-2
a. Evaluasi latihan nafas dalam
b. Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan bantal
c. Susun jadwal kegiatan harian cara kedua
SP 3 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal:
a. Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik
b. Latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik,
meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik.
c. Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal
SP 4 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual
a. Diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
dan sosial/verbal
b. Latihan sholat/berdoa
c. Buat jadual latihan sholat/berdoa
SP 5 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat
a. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang
sudah dilatih.
b. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar
nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat,
dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum
obat.
c. Susun jadual minum obat secara teratur
SP 1 Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat
klien perilaku kekerasan di rumah

17
1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab,
tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku
tersebut)
3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera
dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang lain
SP 2 Keluarga: Melatih keluarga melakukan cara-cara mengontrol
Kemarahan
a) Evaluasi pengetahuan keluarga tentang marah
b) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang
telah diajarkan oleh perawat
c) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien
dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat
d) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien
menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan
SP 3 Keluarga: Menjelaskan perawatan lanjutan bersama keluarga
Buat perencanaan pulang bersama keluarga

Defisit Perawatan Diri

A.pengertian
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan
kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu

18
keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes 2000).
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas
perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).

B. Jenis-jenis Perawatan Diri


1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
aktivitas mandi/kebersihan diri.
2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan
memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
3. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk
menunjukkan aktivitas makan.

C. Etiologi
Menurut Depkes (2002:20), penyebab kurang perawatan diri adalah :
1. Faktor predisposisi:
a. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu.
b. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
c. Kemampuan realistis turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d. Sosial

19
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya
situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.

D. Tanda Dan Gejala


Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan
diri adalah :
1. Fisik
a. Badan bau, pakaian kotor.
b. Rambut dan kulit kotor.
c. Kuku panjang dan kotor.
d. Gigi kotor disertai mulut bau.
e. Penampilan tidak rapi.
2. Psikologis
a. Malas, tidak ada inisiatif.
b. Menarik diri, isolasi diri.
c. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
3. Sosial
a. Interaksi kurang.
b. Kegiatan kurang
c. Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
c. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat,
gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri

E. Strategi pelaksana defisit perawatan diri


SP1 Pasien: Mendiskusikan pentingnya kebersihan diri, cara-cara merawat diri
dan melatih pasien tentang cara-cara perawatan kebersihan diri
SP 2 Pasien : Percakapan saat melatih pasien laki - laki berdandan:

Berpakaian
Menyisir rambut

20
Bercukur
SP 3 Pasien: Percakapan melatih berdandan untuk pasien wanita

Berpakaian
Menyisir rambut
Berhias
SP 4 Pasien : Percakapan melatih pasien makan secara mandiri

Menjelaskan cara mempersiapkan makan


Menjelaskan cara makan yang tertib
Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan
Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik
SP 5 Pasien : Percakapan mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara
mandiri

Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai


Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK
Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK
SP1 Keluarga: Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang masalah
perawatan diri dan cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalah
kurang perawatan diri
SP 2 : Melatih keluarga merawat klien
SP 3 Keluarga : Menjelaskan perawatan lanjutan kepada keluarga

21
ISOLASI SOSIAL

A. Pengertian
Isolasi sosial merupakan keadaan di mana individu atau kelompok
mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan
keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak
(Carpenito ,L.J, 1998: 381).
Menurut Rawlins, R.P & Heacock, P.E (1988 : 423) isolasi sosial
menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan
dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak
mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau
selalu dalam kegagalan.

B. Tanda dan gejala


Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382)
isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala
sebagai berikut:
1. Datasubjektif
a. Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh
lingkungan
b. Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki
2. Dataobjektif
a. Tampak menyendiri dalam ruangan
b. Tidak berkomunikasi, menarik diri
c. Tidak melakukan kontak mata
d. Tampak sedih, afek datar
e. Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke
pintu

22
f. Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur
dengan perkembangan usianya
g. Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya
h. Kurang aktivitas fisik dan verbal
i. Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi
j. Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya

C. Tindakan keperawatan pada pasien


1. Tujuan: Setelah tindakan keperawatan, pasien mampu
a. Membina hubungan saling percaya
b. Menyadari penyebab isolasi social
c. Berinteraksi dengan orang lain
2. Tindakan
a. Membina Hubungan Saling Percaya
D. Strategi pelaksana Isolasi social
SP 1 Pasien: Membina hubungan saling percaya, membantu pasien
mengenal
penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan
berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, dan
mengajarkan pasien berkenalan
SP 2 Pasien : Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap
(berkenalan dengan orang pertama -seorang perawat-)
SP 3 Pasien : Melatih Pasien Berinteraksi Secara Bertahap (berkenalan
dengan orang kedua-seorang pasien)

Halusinasi

A. Definisi Halusinasi

23
Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana
terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan
tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari
dalam diri individu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang
tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan
(Nasution, 2003).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca
indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu
persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis,
2005).

B. Macam Macam Halusinasi


Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara
berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas
berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua
orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien
mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang
dapat membahayakan.
Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris,gambar
kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan
atau menakutkan seperti melihat monster.
Penghidungan
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya
bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat
stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.

24
Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa
tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.

C. ETIOLOGI
1. Faktor Prediposisi
Menurut Stuart (2007), faktor predisposisi terjadinya halusinasi adalah:
a. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon
neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Beberapa zat kimia di
otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah
pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.

b. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon
dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat
mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan
kekerasan dalam rentang hidup klien.

c. Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti:
kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan
kehidupan yang terisolasi disertai stress.

2. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi
adalah:
1. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang

25
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus
yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

D. Manifestasi Klinik
1. Fase Pertama / comforting / menyenangkan
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah,
kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal yang
menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini menolong
untuk sementara. Klien masih mampu mengotrol kesadarnnya dan mengenal
pikirannya, namun intensitas persepsi meningkat.
Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir
tanpa bersuara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika sedang
asyik dengan halusinasinya dan suka menyendiri.
2. Fase Kedua / comdemming
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan
eksternal, klien berada pada tingkat “listening” pada halusinasi. Pemikiran
internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa
bisikan yang tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan klien merasa
tak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi
dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain.
3. Fase Ketiga / controlling
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi
terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Termasuk dalam gangguan psikotik.
Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan
mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap
halusinasinya.

26
4. Fase Keempat / conquering/ panik
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol
halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi
mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan
orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada dalam dunia
yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini
menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.

E.Strategi Pelaksana Halusinasi


SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara
mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara
pertama: menghardik halusinasi
SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua:
bercakap-cakap dengan orang lain
SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga:
melaksanakan aktivitas terjadwal
SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur

HARGA DIRI RENDAH

A. Pengertian Harga Diri Rendah


Santrock (1998) Harga diri merupakan evaluasi individu tentang dirinya
sendiri secara positif atau negatif. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana
individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan
dan keberhasilan yang diperolehnya. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan
mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya sendiri apa adanya.

27
B. Tanda dan gejala
1. Mengejek dan mengkritik diri sendiri .
2. Merendah atau mengurangi martabat
Individu akan selalu menghindari, mengabaikan atau menolak kemampuan
yang dimilikinya dan penurunan produktivitas.
3. Rasa bersalah dan khawatir.

4. Manifestasi klinik
Individu mengalami kegelisahan dan kecemasan sehingga tekanandarah
meningkat, menimbulkan penyakit psikosomatis dan menyalahgunakan
zat.
5. Menunda keputusan
Individu kurang mendapatkan penghargaan terhadap kemempuan yang
dimiliki, menyebabkan perasaan ragu dalam mengambil keputusan. Hal ini
dapat menimbulkan rasa aman terancam.
6. Gangguan berhubungan
Individu merasa tidak berguna menimbulkan perilaku menarik diri dari
lingkungan, kejam dan mengeksploitasi orang lain.
7. Menarik diri dari realita
Individu yang mengalami kecemasan tingkat berat/panik
dapat menyebabkan gangguan asosiasi, halusinasi, cemburu
dan curiga.

C. KLASIFIKASI
Menurut Fitria (2009), harga diri rendah dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Harga diri rendah situasional adalah keadaan dimana individu yang
sebelumnya memiliki harga diri positif mengalami perasaan negatif
mengenai diri dalam berespon, terhadap suatu kejadian (kehilangan,
perubahan).

28
2. Harga diri rendah kronik adalah keadaan dimana individu mengalami
evaluasi diri yang negatif mengenai diri atau kemampuan dalam waktu
lama.

D. ETIOLOGI
Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi
secara :
1. Situasional
Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan,
dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena
sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).
Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah, karena :Privacy
yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang sembarangan,
pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter,
pemeriksaan perneal).
E. Strategi Pelaksana Harga Diri Rendah
SP 1 Pasien: Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
pasien, membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan,
membantu pasien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih,
melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan
kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian
SP 2 Pasien: Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan
kemampuan pasien.
SP 1 Keluarga : Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam
merawat pasien di rumah, menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala
harga diri rendah, menjelaskan cara merawat pasien dengan harga diri rendah,
mendemonstrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah, dan
memberi kesempatan kepada keluarga untuk mempraktekkan cara merawat
SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien
dengan masalah harga diri rendah langsung kepada pasien

29
SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

PERAN PERAWAT DALAM MENANGANI PASIEN JIWA

A. Peran dan Fungsi Perawat dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa.


Menurut Stuart dan Sundeen (1995) dalam memberikan asuhan dan
pelayanan keperawatan kesehatan jiwa,perawat dapat melakukan aktivitas
pada tiga area utama yaitu 1) Memberikan asuhan keperawatan secara
langsung, 2) Aktivitas komunikasi dan 3) Aktivitas dalam pengelolaan atau
manajemen keperawatan.
Dalam hubungan perawat dengan klien, ada beberapa peran
perawat dalam keperawatan kesehatan jiwa, meliputi :
1. Kompetensi klinik.
2. Advokasi klien dan keluarga
3. Tanggung jawab keuangan
4. Kerja sama antar disiplin ilmu di bidang keperawatan
5. Tanggung gugat sosial
6. Parameter etik-legal.

B. Peran Perawat dalam pelayanan kesehatan jiwa


Pada setiap tingkatan pelayanan kesehatan jiwa, perawat mempunyai
peran tertentu:
1. Peran perawat dalam prevensi primer.
2. Memberikan penyuluhan tentang prinsip sehat jiwa.
3. Mengefektifkan perubahan dalam kondisi kehidupan,tingkat kemiskinan
dan pendidikan
4. Memberikan pendidikan dalam kondisi normal,pertumbuhan dan
perkembangan dan Pendidikan seks.
5. Melakukan rujukan yang sesuai sebelum terjadi gangguan jiwa.

30
6. Membantu klien di rumah sakit umum untuk menghindari masalah
psikiatri.
7. Bersama keluarga untuk memberikan dukungan pada anggotanya untuk
meningkatkan fungsi kelompok.
8. Aktif dalam kegiatan masyarakat atau politik yang berkaitan dengan
kesehatan jiwa.
Peran perawat dalam prevensi sekunder.
1. Melakukan skrining dan pelayanan evaluasi kesehatan jiwa.
2. Melaksanakan kunjungan rumah atau pelayanan penanganan di rumah.
3. Memberikan pelayanan kedaruratan psikiatri di rumah sakit umum.
4. Menciptakan lingkungan terapeutik.
5. Melakukan supervisi klien yang mendapatkan pengobatan.
6. Memberikan pelayanan pencegahan bunuh diri.
7. Memberi konsultasi.
8. Melaksanakan intervensi krisis.
9. Memberikan psikoterapi pada individu,keluarga dan kelompok pada
semua usia.
10. Memberikan intervensi pada komunitas dan organisasi yan teridentifikasi
masalah.
Peran perawat dalam prevensi tertier.
1. Melaksanakan latihan vokasional dan rehabilitasi.
2. Mengorganisasi pelayanan perawatan pasien yang sudah pulang dari
rumah sakit jiwa untuk memudahkan transisi dari rumah sakit ke
komunitas.
3. Memberikan pilihan perawatan rawat siang pada klien.

31
Daftar Pustaka

Carpetino L.J. Buku Ajar Keperawatan Jiwa, (Alih Bahasa) Renata


Komalasari, Alfrina Hany. Jakarta:EGC.2008:167

Departemen Kesehatan RI, 2003. Angka Kejadian Harga Diri Rendah


diIndonesia. www//http.surkesnas.unad.ac.id, diakses 30 September 2013

Hawari,Rawlin 1997. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba


Medika:214

Keliat, Budi Anna;Panjaitan;Helena. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.


Ed.2. Jakarta: EGC.
Keliat, B.A. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa: Edisi 2. Jakarta:EGC.2006:63

32
Keliat, B.A. (2005). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2, Jakarta : EGC.

Keliat, B.A. (2009). Model Praktek Keperawatan Profesional Jiwa.Jakarta :


EGC.89

Muslim,1991 Cara Meningkatkan Harga Diri.


http://www.belajarpsikologi.com , 2013

NANDA Internasional. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi2009-


2011. Jakarta:EGC.2010:127

Potter dan perry 2005 Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa


: Jakarta:EGC.2005:138

Purwaningsih, Wahyu; Karlina, Ina. (2010). Asuhan Keperawatan Jiwa.


Yogyakarta : Muha Medika:145

Rasmun, Skp., M.Kep, Stres, Koping dan Adaptasi, Sagung Seto, Jakarta,2004

Rekam Medik RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang,Presentase Gangguan


Jiwa Terbaru. 2013

Riyadi, Sujono, Purwanto, Teguh. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Edisi


Pertama. Yogyakarta : Graha Ilmu:167

Siswanto, S.Pi., Msi. Kesehatan Mental, konsep, cakupan dan perkembangannya,


CV. Andi Offeset,Yogyakarta,2007.

33
stuart, 2007 Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta:Salemba
Medika.2010:241

Stuart, Gail W.2007.Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.


Suliswati, 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC
Sunaryo,selye. (2010). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Muha Medika:145

Taylor 2003 Keperawatan Jiwa (Aplikasi Praktik Klinik). Edisi pertama.


Yogyakarta:Graha Ilmu.2011:96

Towsend M.C. Keperawatan Jiwa: Edisi Revisi. Bandung:PT. Revika


Aditama.2007 152-153
Yosep,Iyus.2007. Keperawatan Jiwa. Jakarta: PT. Refika Aditama

34