Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Teori Abortus


1. Pengertian Abortus
Keguguran atau abortus adalah terhentinya proses kehamilan yang
sedang berlangsung sebelum mencapai umur 28 minggu atau berat janin
sekitar 500 gram (Manuaba 2012).
Abortus imminens yaitu terjadi perdarahan bercak yang menunjuk
ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan.dalam kondisi ini
kehamilan masih mungkin berlanjut berlanjut atau di pertahankan di tandai
dengan perdarahan bercak sedang, servik tertutup (karena pada saat
pemeriksaan dalam belum ada pembukaan), uterus sesuai usia gestasi ,kram
perut bawah, nyeri memilir karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali ,
tidak ditemukakan kelainan pada servik (Sarwono 2010).
Abortus imminesn adalah peristiwa terjadinya perdarahan vaginal
pada setengah awal kehamilan atau pada kehamilan sebelum 20 minggu,
dengan hasil konsepsi masih dalam uterus dan servik tertutup
(Prawirohardjo, 2012).

2. Etiologi
Penyebab keguguran sebagian besar tidak di ketahui secara pasti,
tetapi menurut Sucipto (2013) beberapa faktor yang mempengaruhi adalah,
a) Faktor pertumbuhan hasil konsepsi, kelainan pertumbuhan hasil
konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan
menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan, gangguan pertumbuhan hasil
konsepsi dapat terjadi karena faktor kromosom terjadi sejak semula
pertemuan kromosom, termasuk kromosom seks. Faktor lingkungan
endometrium terjadi karena endometrium belum siap menerima
implantasi hasil konsepsi. Selain itu juga karena gizi ibu yang kurang
karena anemia atau terlalu pendeknya jarak kehamilan. Hal yang ikut
2

mempengaruhi yaitu, pengaruh luar, infeksi endometrium, hasil


konsepsi, yang di pengaruhi oleh obat dan radiasi, faktor psikologis,
kebiasaan ibu (merokok,alcohol, kecanduan obat)
b) Kelainan plasenta
c) Hal yang mempengaruhi yaitu, infeksi pada plasenta, gangguan
pembuluh darah dan hipertensi
d) Faktor ibu
1) Kelainan endokrin ( hormonal ) misalnya kekurangan tiroid, kencing
manis.
2) Faktor kekebalan (imunologi) misalnya pada penyakit lupus, anti
phospolipid syndrome.
3) Infeksi, di duga dan beberapa virus seperti cacar air, campak jerman,
toksoplasma herpes, klamidia
4) Kelemahan otot leher rahim
5) Kelainan bentuk rahim. Kelainan kromosom dan infeksi sperma
diduga dapat menyebabkan abortus
6) Faktor genetic
7) Faktor anatomi congenital
8) Faktor psikologis
9) Faktor nutrisi
e) Pennyakit menahun seperti hipertensi, penyakit ginjal,penyakit hati, DM
f) Kelainan rahim

3. Patofisiologi
Pada abortus imminens peristiwa terjadinya perdarahan dan uterus
pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam
uterus dan tanpa adanya dilatasi servik. Diagnosa abortus imminens di
tentukan karena pada wanita hamil terjadi perdarahan melalui ostium uteri
eksternum, di sertai mules sedikit atau sama sekali, uterus membesar sesuai
dengan tuanya kehamilan, servik belum membuka, dan test kehamilan
positif. Pada beberapa wanita hamil dapat terjadi perdarahan sedikit pada
3

saat haid yang semestinya datang jika tidak terjadinya pembuahan. Hal ini
disebabkan oleh penembusan villi korialis kedalam desidua, pada saat
implantasi ovum. Perdarahan implantasi biasanya sedikit, warnanya merah
dan berhenti mules mules.

4. Manifestasi klinik
Menurut Manuaba (2012), manifestasi klinik abortus imminens adalah:
a. Terasa nyeri atau kram pada abdomen
b. Disertai perdarahan ringan dan encer
c. Pemeriksaan dalam / spekulumnya dengan hasil
1) Pembukaan tertutup, yaitu tidak ada pembukaan.
2) Tanda hegar positif, adalah pola penulukan uterus.
3) Tanda piscaseck, yaitu uterus membesar ke salah satu jurusan hingga
menonjol jelas ke jurusan pembesaran tersebut.
4) Tanda Chadwick positif, yaitu akibat dari uterus, servik dan stimulus
lunak secara progresif dan servik menjadi agak kebiruan.
d. Tes kehamilan positif.

5. Pemeriksaan penyakit
a. Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu
setelah abortus.
b. Pemeriksaan doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih
hidup.
c. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

6. Pembagian abortus
1. Abortus provakatus (induced Abortion) Abortus provaktus adalah abortus
yang disengaja, baik dengan memakai obat obatan maupun alat. Abortus
di bagi menjadi dua yaitu :
4

a) Abortus medisinalis
Abortus medisinalis yaitu abortus karena tindakan kita
sendiri,dengan alasan bila kehamilan dilanjut dapat membahayakan
jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat
persetujuan 2-3 tim dokter ahli.
b) Abortus kriminalis
Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan
yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.
2. Abortus spontan
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak diketahui
faktor mekanis ataupun medisinalis, semata mata disebabkan oleh
faktor alamiah. Abortus spontan dapat di bagi atas :
1) Abortus kompletus (keguguran lengkap)
Artinya seluruh hasil konsepsi yang di keluarkan (desidua dan fetus)
sehingga rongga rahim kosong
2) Abortus inkompletus (keguguran biasa)
Artinya hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang
tertinggal adalah desidua dan plasenta.
3) Abortus insipiensi (keguguran sedang berlangsung)
Artinya abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah
terbuka dan ketuban yang teraba, kehamilan tidak daoat
dipertahankan lagi.
4) Abortus imminens (keguguran membakat)
Artinya keguguran dan akan terjadi, dalam hal ini keluarnya fetus
masih dapat dicegah dengan memberikan obat obat hormonal dan
antispasmodika serta istirahat.
5) Missed abortion
Artinya keadan dimana janin sudah mati,tetapi tetap berada dalam
rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.
6) Abortus habitualis (keguguran berulang)
5

Artinya keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut


turut 3 kali atau lebih.
7) Abortus inspeksius dan abortus septik
Abortus inspeksius adalah keguguran yang disertai infeksi genital,
sedangkan abortus septic adalah keguguran disertai infeksi berat
dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah
atau peritoneum.

7. Penatalaksanaan abortus Iminens


a) Istirahat berbaring total
Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan,karena
cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan
berkurangnya rangsangan mekanik.
b) Dilarang berhubungan selama 2 minggu setelah perdarahan berhenti
terutama yang pernah abortus.
c) Memberikan terapi medikamentosanya berupa seditiva ringan, hormon
plasentogenik hormonal (duphaston, gestonon, premaston), relaksasi
duphadilan.
d) Melakukan pemeriksaan TTV setiap empat jam.
e) Kegagalan terapi akan berubah menjadi abortus inspien.
f) Abortus sudah tidak mungkin di hindari sehingga sebaiknya di ikuti
dengan terminasi
g) Mempercepat proses kontraksi obat uterus sehingga perdarahan dapat
dihentikan.

8. Pencegahan Abortus Iminens


1) Vitamin, diduga mengkonsumsi vitamin sebelum atau selama awal
kehamilan dapat mengurangi risiko keguguran,namun dari 28
percobaan yang dilakukan ternyata hal tersebut tidak terbukti.
2) Antenatal care (ANC) disebut juga prenatal care, merupakan intervensi
lengkap pada wanita hamil yang bertujuan untuk mencegah atau
6

mengidentifikasi dan mengobati kondisi yang mengancam kesehatan


fetus/bayi baru lahir dan/atau ibu, dan membantu wanita dalam
menghadapi kehamilan dan kelahiran sebagai pengalaman yang
menyenangkan.
7

BAB II
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Biodata pasien :
Nama ibu : Ibu M
Umur : 34 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Buket Hagung
b. Riwayat kesehatan
1. Riwayat penyakit yang pernah atau sedang di derita: tidak ada
2. Riwayat kesehatan keluarga : tidak ada
b. keluhan utama : ibu mengatakan nyeri di bagian simpisis dan terjadi
perdarahan di vaginanya.
c. Alasan dilakukan kuretase : Janin tidak berkembang
2. Pemeriksaan Fisik (head to toe),
a. Inspeksi : Pada abdomen tidak ada bekas operasi, pada genetalia
terdapat perdarahan
b. Palpasi : Uterus ibu lembek atau tidak berkontraksi
c. Perkusi :-
d. Auskultasi : Denyut jantung janin belum terdengar
e. Olfaksio :-
3. Persiapan kuretase
a. persiapan alat
1. Cairan infus
2. Kain alas untuk ibu (perlak)
3. Selimut
8

4. petidin
5. Oksitosin
6. Lidocain 2%5cc
7. Larutan antiseptic ( povidon iodine 10%)
8. Speculum sim’a:2
9. Cunam tampon / tampon tang : 1
10. Klem ovum ( foerter / fenster klem lengkung
11. Fenster klem lurus
12. Dilatators
13. Tenakulum 1
14. Sonde uteri 1
15. Sendok kuret 1 set
16. Abortus tang 1
17. Spuit 5 ml dan jarum suntik no.23 sekali pakai (spuit)
b. PI (Pencegahan infeksi)
 Penutup kepala
 Kacamata
 Masker
 Apron/barrascode
 Sarung tangan DTT / steril :4 pasang
c. instrument
 lampu sorot
 mangkok logam (kom kecil) : 2
 penampung darah dan jaringan nya
 (bengkok/nierbekken):1
d. Persiapan Pasien
1. Cukur rambut pubis /bila perlu
2. Vaginal toilet
3. Posisi pasien lithotomic
4. Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang akan
dilakukan dan mendatangi izin tindakan medic
9

5. Pasang infuse cairan RL


6. Anastesi local lidocain
7. Sebelum masuk ke ruang operasi , terlebih dahulu pasien harus
dipersiapkan dari ruangan
8. Pasien dipuasakan selama 4 jam
9. Cek adanya perdarahan
10. Mengganti baju pasien dengan baju operasi
11. Memakai baju operasi kepada pasien dan gelang sebagai identitas
12. Pasien dibawa ke ruang operasi yang telah di tentukan
13. Mengatur posisi pasien sesuai dengan jenis tindakan yang akan
dilakukan,kemudian pasien dibius dengan anastesi narkose
14. Segera pasang alat bantu napas/oksigen dan monitor EKG
15. Bebaskan area yang akan dikuret
e. Persiapan sebelum kuretase
Konseling pra tindakan
1) Member informed consent
2) Menjelaskan pada klien tentang penyakit yang diderita
3) Menerangkan kepada pasien tentang tindakan kuretase yang akan
dilakukan
4) Memeriksa keadaan umum pasien,bila memungkinkan pasien
dipuasakan
Pemeriksaan sebelum curettage
1) USG ( ultrasonografi )
2) Mengukur tensi dan HB darah
3) Memeriksa system pernapasan
4) Mengatasi perdarahan
5) Memastikan pasien dalam kondisi sehat dan fit
f. Persiapan Petugas
1) Mencuci tangan dengan sabun antiseptik, baik dokter maupun
perawat instrument melakukan cuci tangan steril
2) Memakai perlengkapan ,baju operasi, masker dan handscoon steril
10

3) Perawat memastikan kembali kelengkapan alat alat yang akan


digunakan dalam tindakan kuret
4) Alat disusun di atas meja mayo sesuai dengan urutan
g. Persiapan Obat-obatan
1) Analgetik ( petidin 1-2 mg/kg BB
2) Ketamin HCL 0,5 ml/kg BB
3) Tramadol 1-2 mg/ BB
4) Sedative ( diazepam 10 mg )
5) Atropine sulfas 0,25-0,50 mg/ml
6) Oksigen dan regulator.
4. Pelaksanaan kuretase
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi dengan
memakai alat kuretase atau serangkaian proses pelepasan jaringan yang
melekat pada dinding kavum uteri dengan melakukan invasi dan
manipulasi instrument (sendok kuret) kedalam kavum uteri.
Tindakan pertama yang dilakukan oleh tenaga medis adalah
melakukan tindakan anastesi atau pembiusan, bius yang digunakan adalah
bius lokal dengan licokain sehingga pasien tidak akan merasakan kesakitan
saat kuret tersebut di lakukan. Ibu yang sudah di bius, kemudian
diposisikan seperti orang melahirkan, kedua kaki direnggangkan
kesamping. Tindakan selanjutnya dokter membuka vagina ibu dengan
menggunakan speculum, kemudian dokter melihat keadaan leher rahim
dan membersihkan stosel-stosel yang ada dalam vagina ibu
Kemudian leher rahim di tahan atau difiksasi menggunakan klem,
selanjut nya dokter mengukur kedalaman uterus dan sudut rahim dengan
menggunakan sunde agar ketika dilakukan tindakan dilatasi alat tidak bisa
menembus rahim. Setelah leher rahim ditahan, dokter memasukkan batang
silindir dilators. Silindir yang di masukkan mulai dari yang ukuran terkecil
sampai leher rahim membuka selebar ukuran jari. proses ini akan
berlangsung selama 10 menit atau lebih. Jika kondisi ibu sedang tidak
dalam gawat darurat, proses dilatasi tersebut bisa secara perlahan
11

menggunakan batang laminaria yang di maksukkan ke dalam leher rahim


8-20 jam sebelum tindakan kuret dilakukan kelebihan batang ini adalah,
batang tersebut bisa mengembangkan dan membuka leher rahim secara
perlahan.
Setelah proses pemasukan silinder tersebut berakhir barulah proses
kuret bisa dilakukan. Kuret itu menggunakan alat berupa sendok yang
berukuran kecil. Sendok itu akan digunakan untuk mengeruk secara
perlahan seluruh bagian dinding rahim bersih. Proses kuret membutuhkan
waktu sekitar 20 menit. Setelah tindakan kuret dilakukan kemudian pasien
di rapikan kembali. Perawat mengobservasi keadaan pasien dan
memastikan pasien sudah bernapas spontan atau belum. Setelah itu pasien
di pindahkan ke ruang recovery room, dan melakukan observasi keadaan
umum pasien hingga kesadaran pulih.
Kemudian pasien diberikan oksigen 2 liter/menit melalui nasal kanule dan
tetap observasi keadaan pasien sampai dipindahkan ke ruang perawatan.
Kemudian melakukan konseling pasca tindakan dan melakukan
dekontaminasi alat dan bahan bekas operasi.
12

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang penulis temukan dalam
melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens
yaitu:
1. Pemantuan secara teratur pada ibu hamil pertama terutama trimester
pertama sangatlah penting mengingat ibu hamil cenderung mengalami
gangguan dalam proses kehamilannya yang akan sangat berpengaruh
terhadap psikologis ibu yang tentunya sangat berharap keselamatan
bayinya dan dapat dipertahankan
2. Asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus hendaknya dilakukan
secara komprehensif meliputi seluruh askep bio-psiko-sosial-dan spiritual
karena kenyamanan psikologis ibu sangat berpengaruh terhadap kondisi
janin yang dikandungnya.

B. Saran
1) Bagi lahan pratik
Di sarankan agar rumah sakit dapat lebih meningkatkan mutu pelayanan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien abortus imminens
secara optimal melalui penanganan segera pada kasus ibu hamil
2) Bagi mahasiswa
Di harapkan bagi penulis dapat menambah wawasan dan pengetahuan
bagi penulis tentang kasus abortus imminesn dan diharapkan dapat
dilaksanakan asuhan kebidan sesuai dengan teori dan prosedur,karena
teori dan prosedur yang mendasari setiap praktik dapat menghindari
kesalahan Bagi
3) Bagi intitusi
Dengan mengetahui permasalahan yang timbul pada ibu hamil dengan
abortus imminesn dan cara pelaksanaannya di harapkan institusi
pendidikan dapat menerapkan ilmu ilmu yang ada dengan program tetap