Anda di halaman 1dari 2

KOMUNIKASI EFEKTIF PADA ANAK

(materi KULWAPP, 12 Februari 2018)

Sebelumnya saya ingin bertanya kepada semua yang sedang menyimak, silakan jawab
dalam hati ya!!

Sejak awal anak2 kita bangun tidur hingga siang ini adakah kata2 yang kit aucapkan kepada
mereka berupa kritikan? Jika ada, bisakah dihitung jumlahnya ayah bunda?

Contohnya:

1. Kok lama banget sih mandinya? Kamu kan dah besar?


2. Susah banget sih dibanguninnya!
3. Yang bener donk pakai bajunya!
4. Sarapannya lam aamat sih!

Semoga sudah dijawab dalam hati ya ayah bunda semuanya…

Saya lanjut dengan pertanyaan kedua saya:

Sejak anak-anak bangun tidur pagi tadi adakah kata-kata berupa penghargaan yang tulus yang
kita ucapkan kepada mereka?

Jika ada… berapa kali kita ucapkan hingga siang ini? ( tolong di jawab dalam hati yah ayah
bunda)

Contoh seperti apakah kata-kata berupa penghargaan yang tulus?:

1. Alhamdulillah adik sudah pintar.. pagi ini sarapannya habis ya


2. Makasih ya kakak sudah mau bnatu ibu jagain adik
3. Kakak sudah bisa rapih lipat semuanya
4. Alhamdulillah kakak subuhnya gak disuruh..langsung sholat

Bunda-bunda pembelajar….. sering kita tidak sadar bahwa kata-kata yang sering kit aucapkan
pada anak-anak kita LEBIH BANYAK KRITIKAN DIBANDINGKAN PENGHARGAAN.

Padahal KRITIKAN hanya akan menurunkan harga diri, bahkan menciptakan


kebencian…apalagi jika disampaikan di depan umum. Kita pun tidak suka dikritik
walaupun kita salah bukan?? Apalagi anak-anak kita.
KRITIKAN adalah salah satu bentuk komunikasi yang lambat laun akan meregangkan hubungan.
Sebaliknya penghargaan adlaah salah satu bentuk komunikasi yang dapat merekatkan
hubungan. Salah satu ucapan yang mungkin sering saya atau kita utarakan tanpa sadar kepada
anak-anak kita adalah : “masa gini aja kamu gak bisa sihhhhh?”

Kita fikir itu tidak berdampak…..TAPIIIII jik aberulang-ulang sering kita ucapkan,,,akan
berpengaruh pada rasa percaya diri anak-anak kita bahwa mereka memamng tak mampu
melakukannya dan bisa jadi mereka takut mencoba segala sesuatu karena takut gagal. Salah
satu hal yang dapat mencegah kita untuk mudah mengkritisi anak adalah EMPATI ..

EMPATI adalah menempatkan posisi kita pada kondisi orang lain. Ketika kit abisa berempati
pada kondisi mereka yang memang masih terbatas kemampuannya maka sebagai orangtua kita
akan lebih menerima segala kekurangan mereka dan berimbang menilai anak-anak bahwa
mereka juga punya kelebihan yang patut kita apresiasi.

Saya punya cerita tentang teman sya yang pernah ikut pelatihan parenting. Ada sesi saat dia
diminta menuliskan 10 sifat negative anaknya….dia dengan lancar menulisnya sampai genap 10
poin. Sebaliknyaaaaaa….. dia sangta kesulitan menuliskan sifat positif anaknya. Sangat lama
dia berfikir dan menulisnya hingga akhirnya dia hanya mengisi satu point kelebihan anaknya
yaitu anaknya mudah mengucapkan terimakasih.

Bunda bunda sholihat……

Sebegitu sulitkah kit asebagai orangtua melihat kebaikan anak-anak kita……sampai-sampai


tertutup oleh hal-hal yang menurut kita kekurangan mereka….Padahal mereka memang sedang
tahap belajar…..Yang membuat kita menilai anak-anak kit abanyak kekurangan
adalahberdasarkan standar tinggi yang kita tuntut ke mereka dan juga sering kita bandingkan
dengan anak-anak lain.

Bunda-bunda sholihat…….

Belajarlah….belajar menerima anak-anak kita apa adanya…dengan segala keunikan mereka…

Fokus pada kelebihan mereka sambil membimbing mereka bertumbuh terhadap hal yang dirasa
belum sempurna. Hindarilah kata-kata kritikan yang tidak member solusi dan hanya
menjauhkan kita dari mereka. Jangan pelit memberikan penghargaan/ apresiasi saat mereka
melakukan kebaikan….

Mengkomunikan penghargaan tidak hanya sebatas ucapan tapi juga sentuhan lembut usapan
ke punggung mereka, usapan di kepala dan pelukan hangat. (sekian terimakasih)