Anda di halaman 1dari 16

1.

Jelaska mengapa bank meminta persyaratan laporan keuangan tiga bulan sebagai syarat
mendapatkan pinjaman . mengapa pihak bank meminta hak untuk menyetujui KAP mana
yang akan ditunjuk untuk melakukan audit

Kata manipulasi dalam Pasal 55, 56 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan
Publik dimaknai sebagai perbuatan yang didasari dengan niat jahat untuk mencari
keuntungan bagi dirinya sendiri atau pihak lain secara melawan hukum
berdasarkan alat bukti permulaan yang cukup.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata manipulasi mempunyai beberapa pengertian,
pertama upaya kelompok atau perseorangan untuk mempengaruhi
perilaku sikap dan pola pikir suatu kelompok atau orang lain dengan
tanpa disadari, kedua adalah penggelapan atau penyelewengan. Dan
pengertian yang ketiga sebagai tindakan mengerjakan sesuatu dengan
menggunakan alat mekanis atau tangan dengan cara yang terampil.
Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan tidak semua pengertian manipulasi selalu
berkaitan dengan perbuatan/niat yang jahat. Misalkan pengertian yang ketiga menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan manipulasi tindakan mengerjakan sesuatu
dengan menggunakan alat mekanis atau tangan dengan cara yang terampil, dalam hal
seorang akuntan publik yang hendak mengolah data-data laporan keuangan klien untuk
dapat diolah dan disajikan sesuai dengan maksud dan tujuannya barang tentu harus
melakukan suatu manipulasi. Tanpa memanipulasi maka akuntan tersebut tidak akan dapat
memenuhi dan mengolah laporan keuangan kliennya. Maka hal demikian tidak dapat
digolongkan sebagai perbuatan jahat atau memiliki niat yang jahat, seperti yang tercantum
didalam Pasal 55,56 UU No 5 Tahun 2011. Sepanjang kata “manipulasi” tersebut
dilakukan berdasarkan standar profesi akuntan adalah perbuatan yang legal.
Bank sebagai kreditur berhak untuk mengetahui laporan keuangan calon debitur atau
debiturnya. Dengan mengetahui laporan keuangan debiturnya maka pihak bank akan
mengetahui seluruh perputaran uang debitur dan dapat mencatatnya secara rinci, lebih
jelas bank menggunakan laporan keuangan nasabahnya untuk :
 Mengenal calon nasabah dan bisnisnya. Bank dapat melihat
kemampuan calon nasabahnya dalam menyiapkan laporan keuangan. Disini
bank akan mengetahui apakah calon nasabahnya sudah atau belum pernah
menggunakan jasa akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangannya, hal
ini bisa dimanfaatkan bank untuk mengetahui lebih jauh calon nasabahnya dan
bisnisnya juga.
 Memantau pinjaman yang diberikan selama belum dilunasi. Bank
tentunya akan aktif menggunakan laporan keuangan yang diberikan oleh
nasabahnya, dan berkemungkinan akan menggunakan prosedur lain dalam
memantau perkembangan bisnis nasabah seperti dengan melakukan inspeksi
langsung ke tempat usaha nasabah. Dengan inspeksi ini akan memungkinkan
untuk membandingkan laporan keuangan yang diberikan oleh nasabah dengan
kenyataan dilapangan misalnya dengan penjualan yang laku, kesibukan pabrik,
persediaan barang, jenis pelanggan yang memberi barang. Dengan inspeksi
langsung ini akan sangat mungkin untuk mengetahui apabila nasabah itu
melakukan manipulasi di laporan keuangannya.
Itulah beberapa tujuan model sederhana dari bank sebagai pengguna aktif laporan
keuangan mengenai kemungkinan terjadinya manipulasi dalam laporan keuangan yang
disampaikan oleh nasabah. Lebih lanjut akan dikemukakan langkah yang dapat diambil
oleh pihak bank untuk mengantisipasi terjadinya manipulasi dalam setiap laporan
keuangan.
Memahami Bisnis Debitur dan Industrinya
Pemahaman yang baik antara bank sebagai kreditur dengan bisnis industri yang sedang
dijalani oleh debitur akan membantu pihak bank untuk mengantisipasi terjadinya
penyimpangan-penyimpangan dikemudian hari, kita tidak bisa memastikan debitur tersebut
akan memberikan laporan keuangan yang sesuai dengan kenyataannya setiap tahunnya.
Dengan mengetahui seluk beluk dunia bisnis debitur maka bank dapat mengetahui ada
yang berbeda di laporan debitur itu, maka indikasi manipulasi itu dapat langsung pihak bank
minta pertanggung jawaban. Contoh :
 Perbedaan antara tren industri dengan tren bisnis debitur, misalkan terjadi
perubahan dan pertumbuhan dalam selera konsumen. Nah untuk hal-hal yang
secara logika dapat kita pastikan bahwa perbedaan ini tidak selalu telah terjadi
manipulasi, maka bank dapat meminta penjelasan ‘masuk akal’ dari debitur.
Karena hal-hal seperti ini tentunya akan berembes ke dampak cicilan
pengembalian pinjaman yang debitur berikan kepada bank.
 Terjadi perubahan disektor eksternal, seperti perubahan peraturan/
undang-undang yang pemerintah berlakukan, tuntutan pekerja, dan hal-hal
sektor eksternal yang memberikan efek positif negatif untuk debitur. Jika sektor
eksternal itu mempengaruhi industri, mengapa debitur tidak terkenal
dampaknya? Jika mempengaruhi industri apakah sama dengan yang tercermin
di laporan keuangan? Karena pasti akan terjadi ketidakcocokan kalau indikasi
manipulasi tersebut dilakukan.
Laporan Keuangan Untuk Bank
Meminta laporan keuangan dari debiturnya adalah sangat lazim bagi bank, untuk setiap
laporan keuangan dapat menyertakan audit atau tanpa audit. Umumnya untuk peminjaman
yang kecil cukup menyampaikan laporan keuangannya tanpa perlu diaudit, sedangkan
untuk peminjaman yang besar dan bernilai tinggi untuk laporan keuangan tahunannya perlu
disertai audit. Untuk konteks ini ada beberapa hal yang dapat memperkuat dan
memperlemah kemampuan bank untuk mendeteksi laporan keuangan.
 Jika debitur tidak menyerahkan laporan keuangannya sesuai dengan
waktu yang disepakati, dan pihak bank membiarkan hal ini terjadi. Maka untuk
di lain kesempatan debitur akan dapat menyembunyikan laporan penting yang
dapat terindikasi debitur akan melakukan manipulasi di laporan keuangan itu.
Jika ini terjadi, maka bank akan kesulitan dalam menelusuri sisa-sisa laporan
keuangan tahunan tersebut.
 Bank perlu untuk meminta laporan keuangan yang dilampirkan
pada SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) dalam keperluan perpajakan.
Karena untuk mengetahui apakah terjadi perbedaan antara laporan keuangan
yang disetorkan ke pihak pajak dengan laporan keuangan yang diberikan
kepada bank. Jika terjadi perbedaan, maka pihak bank perlu untuk meminta
klarifikasi.
 Umumnya, untuk menjaga itikad baik debitur setidaknya perlu
menginformasikan kepada bank perihal penggantian auditornya dan alasannya.
Dan mungkin dalam hal ini bank akan memberikan rekomendasi auditor yang
mempunyai kredibilitas tinggi. Karena perlu diduga penggantian auditor ini pasti
terjadi karena suatu masalah, dan masalah apakah ini harus diketahui oleh
pihak bank. Atau bahkan mungkin bagian dari ketentuan undang-undang yang
mewajibkan untuk merotasi auditor dan KAP.
Berikut ini beberapa cara yg lazim digunakan oleh Bank dalam
mendeteksi Manipulasi Laporan Keuangan
1. Komunikasi Bank Dengan Kantor Akuntan Publik (KAP)
Untuk menjaga agar audit laporan keuangan dimaksud secara wajar bebas dari manipulasi,
bank akan memberikan rekomendasi KAP yang akan debitur pakai. Banyak bank akan
merekomendasikan KAP yang terdaftar di bank tersebut. Hal ini akan sangat berguna bagi
bank, dengan debitur menggunakan KAP yang direkomendasikan oleh bank maka bank
tidak akan tertinggal informasi apapun mengenai laporan keuangan itu. Karena antara KAP
dan bank sudah saling mengenal maka interaksi selanjutnya akan membawa kemudahan
dalam proses penyampaian audit tersebut.
2. Bank Mereviu Laporan Keuangan
Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak dimungkinkan, sangat perlu dilakukan reviu
laporan keuangan tersebut. Dalam Merviu, Bank dapat memusatkan pada hal-hal tertentu
berikut :
 Jika debitur tidak memenuhi perjanjian untuk melakukan pelunasan
pinjamannya, dan laporan keuangan tidak mengindikasikan adanya kesulitan
keuangan maka inilah yang harus pihak bank periksa kembali dan
lakukan review.
 Ketentuan akad kredit yang membatasi ruang gerak debitur. Ketentuan ini
menjamin pengembalian pinjaman dan menghindari penyalahgunaan. Hal yang
perlu menjadi perhatian bank ialah likuiditas yang dihasilkan dari operasi
perusahaan digunakan untuk membelanjakan bisnis lain yang tidak diketahui
oleh bank.
3. Melakukan Inspeksi secara Berkala
Menjadi tren, saat Bank Mandiri menerima pinjaman dari bank dunia dan diwajibkan untuk
memantau pinjaman yang diberikan tersebut secara langsung (inspeksi). Inspeksi ini sangat
menekankan kewajiban pejabat kredit untuk mengunjungi debiturnya secara langsung dan
memantau perkembangan kinerja debitur. Dengan kata lain, inspeksi adalah hal yang wajib
dilakukan oleh bank dan auditor dengan inspeksi tersebut, bank dan auditor dapat melihat
cerita dibelakang layar angka-angka yang disebutkan dalam laporan keuangan tersebut.
Sumber:
Mendeteksi Manipulasi Laporan keuangan (Theodorus M. Tuanakotta)
UU No.5 Tahun 2011 Tentang Akuntan Publik

2. Jelaskan mengapa audimart meminta jasa audit?


Jawaban :

IV. MANFAAT AUDIT


Dalam perkembangan dunia usaha, perusahaan tidak bisa menghindar
dari penarikan dana dari pihak luar, yang tidak selalu dalam penyertaan modal
dari investor, tetapi penarikan berupa pinjaman dari kreditur. Dengan demikian,
pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keungan perusahaan tidak
lagi hanya terbatas pada para pemimpin perusahaan, tetapi meluas kepada para
investor dan kreditur serta calon investor dan calon kreditur.
Mulyadi (2002), menjelaskan bahwa pihak-pihak luar memerlukan
informasi mengenai perusahaan untuk pengambilan keputusan tentang
hubungan mereka dengan perusahaan. Umumnya mereka mendasarkan
keputusan mereka berdasarkan informasi yang disajikan oleh manajemen dalam
laopran keuangan perusahaan. Dengan demikian, manfaat audit dikelompokkan
menjadi tiga kelompok dasar yang menikmati manfaat audit, yaitu :
Manfaat audit bagi pihak yang diaudit:
1. Menambah Kredibilitas laporan keuangannya sehingga laporan tersebut dapat
dipercaya untuk kepentingan pihak luar entitas seperti pemegang saham,
kreditor, pemerintah, dan lain-lain.
2. Mencegah dan menemukan fraud yang dilakukan oleh manajemen perusahaan
yang diaudit.
3. Memberikan dasar yang dapat lebih dipercaya untuk penyiapan Surat
pemberitahuan Pajak yang diserahkan kepada pemerintah.
4. Membuka pintu bagi masuknya sumber- pembiayaan dari luar.
5. Menyingkap kesalahan dan penyimpangan moneter dalam catatan keuangan.
Manfaat audit bagi anggota lain dalam dunia usaha:
1. Memberikan dasar yang lebih meyakinkan para kreditur atau para rekanan
untuk mengambil keputusan pemberian kredit.
2. Memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada perusahaan asuransi untuk
menyelesaikan klaim atas kerugian yang diasuransikan.
3. Memberikan dasar yang terpercaya kepada para investor dan calon investor
untuk menilai prestasi investasi dan kepengurusan manajemen
4. Memberikan dasar yang objektif kepada serikat buruh dan pihak yang diaudit
untuk menyelesaikan sengketa mengenai upah dan tunjangan.
5. Memberikan dasar yang independen kepada pembeli maupun penjual untuk
menentukan syarat penjualan, pembelian atau penggabungan perusahaan.
6. Memberikan dasar yang lebih baik, meyakinkan kepada para langganan atau
klien untuk menilai profitabilitas atau Audit Finansial, Audit Manajemen, dan
Sistem Pengendalian intern, efisiensi operasional, dan keadaan keuangannya

http://adhieariga.blogspot.co.id/2013/05/normal-0-false-false-false-in-x-none-th.html diakses
tanggal 18 maret 2017 pukul 6.02 PM

Mulyadi, 2002, Auditing, Edisi 6, Salemba Empat, Jakarta.


Mulyadi & Kanaka Puradiredja (1999), Auditing Buku I ; Salemba Empat Jakarta
Mengapa Jasa Audit oleh Akuntan Independen dibutuhkan oleh Suatu Entitas ?
diantaranya:

1. Ada komflik kepentingan antara Pemegang saham selaku pemilik modal dengan
Eksekutif,(Direktur) perusahaan (orang yang ditunjuk) untuk menjalankan perusahaan sehingga
dalam pemeriksaan diperlukan akuntan yang independen dan profesional.
2. Hasil Audit dibutuhkan pihak Eksternal dan Internal terutama bagi pengguna Laporan
keuangan
3. Bagi Pihak Majemen salah satu alat analisa dan pengendalian
4. Bagi Pemerintah untuk perhitungan pajak
5. Bagi karyawan senang kalau perusahaannya surplus (maju) untuk peningkatan
kesejahteraan
6. Salah satu Syarat untuk menaikkan prakwlifikasi
7. Salah satu syrat untuk kredit bank
8. Salah satu Syarat untuk mengikuti lelang/tender
http://kapswd.blogspot.co.id/2012/06/mengapa-jasa-audit-oleh-akuntan.html diakses tanggal 18 maret
2017 pukul 6.02 PM

3. Apa yang dimaksud oleh made audita bahwa KAP akuntomo adalah rekannya ? apakah KAP itu
memiliki masalah independensi ?

4. Apa keuntungan yang diberikan oleh KAP akuntomo kepada para pemilik perusahaan, kreditur
dan manajemen dengan melakukan audit ?

Jawab:
Audit dikembangkan dan dilaksanakan karena audit memberi
banyak manfaat bagi dunia bisnis. Pelaksaanaan audit mempunyai
tujuan yang berbeda, beberapa tujuan audit menurut adalah :
1. Penilaian Pengendalian ( Appraisal of Control )
Pemeriksaan operasional berhubungan dengan
pengendalian administratif pada seluruh tahap operasi
perusahaan yang bertujuan untuk menentukan apakah
pengendalian yang ada telah memadai dan terbukti
efektif serta mencapai tujuan perusahaan.
2. Penilaian Kinerja ( Appraisal of Performance )
Penilaian, Pelaksanaan dan Operasional serta hasilnya.
Penilaian diawali dengan mengumpulkan informasiinformasi
kuantitatif lalu melakukan penilaian efektifitas,
efisiensi dan ekonomisasi kinerja. Penilaian selanjutnya
menjadi informasi bagi manajemen untuk meningkatkan
kinerja perusahaan.
3. Membantu Manajemen ( Assistance to Manajement )
Dalam pemeriksaan operasional dan ketaatan maka
hasil audit lebih diarahkan bagi kepentingan manajemen
untuk performansinya. Dan hasilnya merupakan
rekomendasi-rekomendasi atas perbaikan-perbaikan
yang diperlukan pihak manajemen.
Manfaat audit dikelompokkan menjadi tiga kelompok dasar
yang menikmati manfaat audit, yaitu :
A. Bagi Pihak yang diaudit
1. Menambah Kredibilitas laporan keuangannya sehingga
laporan tersebut dapat dipercaya untuk kepentingan pihak
luar entitas seperti pemegang saham, kreditor, pemerintah,
dan lain-lain.
2. Mencegah dan menemukan fraud yang dilakukan oleh
manajemen perusahaan yang diaudit.
3. Memberikan dasar yang dapat lebih dipercaya untuk
penyiapan Surat Pemberitahuan Pajak yang diserahkan
kepaada Pemerintah.
4. Membuka pintu bagi masuknya sumber- pembiayaan dari
luar.
5. Menyingkap kesalahan dan penyimpangan moneter dalam
catatan keuangan.
B. Bagi anggota lain dalam dunia usaha
1. Memberikan dasar yang lebih meyakinkan para kreditur atau
para rekanan untuk mengambil keputusan pemberian kredit.
2. Memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada
perusahaan asuransi untuk menyelesaikan klaim atas
kerugian yang diasuransikan.
3. Memberikan dasar yang terpercaya kepada para investor dan
calon investor untuk menilai prestasi investasi dan
kepengurusan manajemen
4. Memberikan dasar yang objektif kepada serikat buruh dan
pihak yang diaudit untuk menyelesaikan sengketa mengenai
upah dan tunjangan.
5. Memberikan dasar yang independen kepada pembeli
maupun penjual untuk menentukan syarat penjualan,
pembelian atau penggabungan perusahaan.
6. Memberikan dasar yang lebih baik, meyakinkan kepada para
langganan atau klien untuk menilai profitabilitas atau
Audit Finansial, Audit Manajemen, Dan Sistem Pengendalian Intern 45
rentabilitas perusahaan itu, efisiensi operasionalnya, dan
keadaan keuangannya.
C. Bagi badan pemerintah dan orang-orang yang bergerak di
bidang hukum
1. Memberikan tambahan kepastian yang independen tentang
kecermatan dan keandalan laporan keuangan.
2. Memberikan dasar yang independen kepada mereka yang
bergerak di bidang hukum untuk mengurus harta warisan dan
harta titipan, menyelesaikan masalah dalam kebangkrutan
dan insolvensi, dan menentukan pelaksanaan perjanjian
persekutuan dengan cara semestinya.
3. Memegang peranan yang menentukan dalam mencapai
tujuan Undang-Undang Keamanan Sosial.

https://indrabexs.wordpress.com/2010/01/07/tujuan-dan-manfaat-audit/

5. Apakah tanggung jawab KAP kepada pemilik perusahaan , manajemen dan pengguna laporan
keuangan lainnya ?
JAWABAN :
Bookmark the permalink.

Etika Dalam Auditing (Etika


Profesi Akuntansi)
Nov15 by dwiantokhristiano

Nama / NPM / Kelas : Dwianto Khristiano / 22212316 / 4EB23

ETIKA DALAM AUDITING

1. Kepercayaan Publik

Kepercayaan masyarakat umum sebagai pengguna jasa audit atas independen sangat penting
bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat
bukti bahwa independensi auditor ternyata berkurang, bahkan kepercayaan masyarakat juga bisa
menurun disebabkan oleh keadaan mereka yang berpikiran sehat (reasonable) dianggap dapat
mempengaruhi sikap independensi tersebut. Untuk menjadi independen, auditor harus secara
intelektual jujur, bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai suatu
kepentingan dengan kliennya baik merupakan manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan.
Kompetensi dan independensi yang dimiliki oleh auditor dalam penerapannya akan terkait
dengan etika. Akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis tertinggi
mereka kepada organisasi dimana mereka bernaung, profesi mereka, masyarakat dan diri mereka
sendiri dimana akuntan mempunyai tanggung jawab menjadi kompeten dan untuk menjaga
integritas dan obyektivitas mereka.

INI JAWABANNYA : YANG DI BOLD!!!

2. Tanggung Jawab Auditor Kepada Publik

Profesi akuntan di dalam masyarakat memiliki peranan yang sangat penting dalam
memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib dengan menilai kewajaran dari laporan
keuangan yang disajikan oleh perusahaan. Ketergantungan antara akuntan dengan publik
menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Dalam kode etik
diungkapkan, akuntan tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap klien yang
membayarnya saja, akan tetapi memiliki tanggung jawab juga terhadap publik.
Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang
dilayani secara keseluruhan. Publik akan mengharapkan akuntan untuk memenuhi
tanggung jawabnya dengan integritas, obyektifitas, keseksamaan profesionalisme, dan
kepentingan untuk melayani publik. Para akuntan diharapkan memberikan jasa yang
berkualitas, mengenakan jasa imbalan yang pantas, serta menawarkan berbagai jasa
dengan tingkat profesionalisme yang tinggi. Atas kepercayaan publik yang diberikan inilah
seorang akuntan harus secara terus-menerus menunjukkan dedikasinya untuk mencapai
profesionalisme yang tinggi.

Justice Buger mengungkapkan bahwa akuntan publik yang independen dalam


memberikan laporan penilaian mengenai laporan keuangan perusahaan memandang
bahwa tanggung jawab kepada publik itu melampaui hubungan antara auditor dengan
kliennya. Akuntan publik yang independen memiliki fungsi yang berbeda, tidak hanya
patuh terhadap para kreditur dan pemegang saham saja, akan tetapi berfungsi sebagai ”a
public watchdog function”. Dalam menjalankan fungsi tersebut seorang akuntan harus
mempertahankan independensinya secara keseluruhan di setiap waktu dan memenuhi
kesetiaan terhadap kepentingan publik. Hal ini membuat konflik kepentingan antara klien
dan publik mengenai konfil loyalitas auditor.

Hal serupa juga diungkapan oleh Baker dan Hayes, bahwa seorang akuntan publik
diharapkan memberikan pelayanan yang profesional dengan cara yang berbeda untuk
mendapatkan keuntungan dari contractual arragment antara akuntan publik dan klien.

Ketika auditor menerima penugasan audit terhadap sebuah perusahaan, hal ini membuat
konsequensi terhadap auditor untuk bertanggung jawab kepada publik. Penugasan untuk
melaporkan kepada publik mengenai kewajaran dalam gambaran laporan keuangan dan
pengoperasian perusahaan untuk waktu tertentu memberikan ”fiduciary
responsibility” kepada auditor untuk melindungi kepentingan publik dan sikap
independen dari klien yang digunakan sebagai dasar dalam menjaga kepercayaan dari
publik.
3. Tanggung Jawab Dasar Auditor

The Auditing Practice Committee, yang merupakan cikal bakal dari Auditing Practices Board,
ditahun 1980, memberikan ringkasan (summary) mengenai tanggung jawab auditor:

 Perencanaan, Pengendalian dan Pencatatan. Auditor perlu merencanakan, mengendalikan


dan mencatat pekerjannya.
 Sistem Akuntansi. Auditor harus mengetahui dengan pasti sistem pencatatan dan
pemrosesan transaksi dan menilai kecukupannya sebagai dasar penyusunan laporan
keuangan.
 Bukti Audit. Auditor akan memperoleh bukti audit yang relevan dan reliable untuk
memberikan kesimpulan rasional.
 Pengendalian Intern. Bila auditor berharap untuk menempatkan kepercayaan pada
pengendalian internal, hendaknya memastikan dan mengevaluasi pengendalian itu dan
melakukan compliance test.
 Meninjau Ulang Laporan Keuangan yang Relevan. Auditor melaksanakan tinjau ulang
laporan keuangan yang relevan seperlunya, dalam hubungannya dengan kesimpulan yang
diambil berdasarkan bukti audit lain yang didapat, dan untuk memberi dasar rasional atas
pendapat mengenai laporan keuangan.

4. Independensi auditor

Independensi merupakan dasar dari profesi auditing. Hal itu berarti auditor akan bersifat
netralterhadap entitas, dan oleh karena itu akan bersifat objektif. Publik dapat mempercayai
fungsi auditkarena auditor bersikap tidak memihak serta mengakui adanya kewajiban untuk
bersiikap adil. Entitasadalah klien auditor, namun CPA memiliki tanggung jawab yang lebih
besar kepada para penggunalaporan auditor yang jelas telah diketahui. Auditor tidak boleh
memposisikan diri atau pertimbangannyadi bawah kelompok apapun dan siapapun.
Independensi, integritas dan objektivitas auditor mendorongpihak ketiga untuk menggunakan
laporan keuangan yang tercakup dalam laporan auditor dengan rasa yakin dan percaya
sepenuhnya.

5. Peraturan Pasar Modal dan Regulator mengenai independensi akuntan publik

Pada tanggal 28 Pebruari 2011, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(Bapepam dan LK) telah menerbitkan peraturan yang mengatur mengenai independensi akuntan
yang memberikan jasa di pasar modal, yaitu dengan berdasarkan Peraturan Nomor VIII.A.2
lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-86/BL/2011 tentang Independensi
Akuntan Yang Memberikan Jasa di Pasar Modal.
Seperti yang disiarkan dalam Press Release Bapepam LK pada tanggal 28 Pebruari 2011,
Peraturan Nomor VIII.A.2 tersebut merupakan penyempurnaan atas peraturan yang telah ada
sebelumnya dan bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi Kantor Akuntan Publik atau
Akuntan Publik dalam memberikan jasa profesional sesuai bidang tugasnya. Berikut adalah
keputusannya :
KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR: KEP- 20 /PM/2002
TENTANG INDEPENDENSI AKUNTAN YANG MEMBERIKAN JASA AUDIT
DI PASAR MODAL

Pasal 1

Ketentuan mengenai Independensi Akuntan yang Memberikan Jasa Audit di Pasar Modal, diatur
dalam PERATURAN NOMOR VIII.A.2 : INDEPENDENSI AKUNTAN YANG MEMBERIKA
JASA AUDIT DI PASAR MODAL:

1. Definisi dari istilah-istilah pada peraturan ini adalah :


2. Periode Audit dan Periode Penugasan Profesional :

1) Periode Audit adalah periode yang mencakup periode laporan keuangan yang diaudit atau
yang direview; dan

2) Periode Penugasan Profesional adalah periode penugasan untuk mengaudit atau mereview
laporan keuangan klien atau untuk menyiapkan laporan kepada Bapepam.

1. Anggota Keluarga Dekat adalah istri atau suami, orang tua, anak, baik didalam maupun
diluar tanggungan, dan saudara kandung.
2. Fee Kontinjen adalah fee yang ditetapkan untuk pelaksanaan suatu jasa profesional yang
hanya akan dibebankan apabila ada temuan atau hasil tertentu dimana jumlah fee
tergantung pada temuan atau hasil tertentu tersebut. Fee dianggap tidak kontinjen jika
ditetapkan oleh pengadilan atau badan pengatur atau dalam hal perpajakan, jika dasar
penetapan adalah hasil penyelesaian hukum atau temuan badan pengatur.
3. Orang Dalam Kantor Akuntan Publik adalah:

1) Orang yang termasuk dalam Tim Penugasan Audit yaitu sema rekan, pimpinan, dan karyawan
profesional yang berpartisipasi dalam audit, review, atau penugasan atestasi dari klien, termasuk
mereka yang melakukan penelaahan lanjutan atau yang bertindak sebagai rekan ke dua selama
Periode Audit atau penugasan atestasi tentang isu-isu teknis atau industri khusus, transaksi, atau
kejadian penting;

2) Orang yang termasuk dalam rantai pelaksana/perintah yaitu semua orang yang:

1. a) mengawasi atau mempunyai tanggung jawab manajemen secara langsung terhadap


audit;
2. b) mengevaluasi kinerja atau merekomendasikan kompensasi bagi rekan dalam
penugasan audit; atau
3. c) menyediakan pengendalian mutu atau pengawasan lain atas audit; atau

3) Setiap rekan lainnya, pimpinan, atau karyawan profesional lainnya dari Kantor
Akuntan Publik yang telah memberikan jasa-jasa non audit kepada klien.
1. Karyawan Kunci yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung
jawabuntuk merencanakan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor
yang meliputi anggota Komisaris, anggota Direksi, dan manajer dari perusahaan.
2. Jangka waktu Periode Penugasan Profesional:
3. Periode Penugasan Profesional dimulai sejak dimulainya pekerjaan lapangan atau
penandatanganan penugasan, mana yang lebih dahulu.
4. Periode Penugasan Profesional berakhir pada saat tanggal laporan Akuntan atau
pemberitahuan secara tertulis oleh Akuntan atau klien kepada Bapepam bahwa penugasa
telah selesai, mana yang lebih dahulu.
5. Dalam memberikan jasa profesional, khususnya dalam memberikan opini atau penilaian,
Akuntan wajib senantiasa mempertahankan sikap independen. Akuntan tidak independen
apabila selama Periode Audit dan selama Periode Penugasan Profesionalnya,
baik Akuntan, Kantor Akuntan Publik, maupun Orang Dalam Kantor Akuntan Publik :
6. mempunyai kepentingan keuangan langsung atau tidak langsung yang material pada
klien, seperti :

1) investasi pada klien; atau

2) kepentingan keuangan lain pada klien yang dapat menimbulkan bentura kepentingan.

1. mempunyai hubungan pekerjaan dengan klien, seperti :

1) merangkap sebagai Karyawan Kunci pada klien;

2) memiliki Anggota Keluarga Dekat yang bekerja pada klien sebagai Karyawan Kunci dalam
bidang akuntansi dan keuangan;

3) mempunyai mantan rekan atau karyawan profesional dari Kantor Akuntan Publik yang
bekerja pada klien sebagai Karyawan Kunci dalam bidang akuntansi dan keuangan, kecuali
setelah lebih dari 1 (satu) tahun tidak bekerja lagi pada Kantor Akuntan Publik yang
bersangkutan; atau

4) mempunyai rekan atau karyawan profesional dari Kantor Akuntan Publik yang sebelumnya
pernah bekerja pada klien sebagai Karyawan Kunci dalam bidang akuntansi dan keuangan,
kecuali yang bersangkutan tidak ikut melaksanakan audit terhadap klien tersebut dalam Periode
Audit.

1. mempunyai hubungan usaha secara langsung atau tidak langsung yang material dengan
klien, atau dengan karyawan kunci yang bekerja pada klien, atau dengan pemegang
saham utama klien. Hubungan usaha dalam butir ini tidak termasuk hubungan usaha
dalam hal Akuntan, Kantor Akuntan Publik, atau Orang Dalam Kantor Akuntan Publik
memberikan jasa audit atau non audit kepada klien, atau merupakan konsumen dari
produk barang atau jasa klien dalam rangka menunjang kegiatan rutin.
2. memberikan jasa-jasa non audit kepada klien seperti :
1) pembukuan atau jasa lain yang berhubungan dengan catatan akuntansi klien;

2) atau laporan keuangan;

3) desain sistim informasi keuangan dan implementasi;

4) penilaian atau opini kewajaran (fairness opinion);

5) aktuaria;

6) audit internal;

7) konsultasi manajemen;

8) konsultasi sumber daya manusia;

9) konsultasi perpajakan;

10) Penasihat Investasi dan keuangan; atau

11) jasa-jasa lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan

1. memberikan jasa atau produk kepada klien dengan dasar Fee Kontinjen atau komisi, atau
menerima Fee Kontinjen atau komisi dari klien.
2. Sistim Pengendalian Mutu

Kantor Akuntan Publik wajib mempunyai sistem pengendalian mutu dengan tingkat keyakinan
yang memadai bahwa Kantor Akuntan Publik atau karyawannya dapat menjaga sikap
independen dengan mempertimbangkan ukuran dan sifat praktik dari Kantor Akuntan Publik
tersebut.

5. Pembatasan Penugasan Audit


6. Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan klien hanya dapat dilakukan oleh
Kantor Akuntan Publik paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut dan oleh
seorang Akuntan paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut.
7. Kantor Akuntan Publik dan Akuntan dapat menerima penugasan audit kembali untuk
klien tersebut setelah 3 (tiga) tahun buku secara berturut-turut tidak mengaudit klien
tersebut.
8. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b di atas tidak berlaku bagi
laporan keuangan interim yang diaudit untuk kepentingan Penawaran Umum.
9. Ketentuan Peralihan
10. Kantor Akuntan Publik yang telah memberikan jasa audit umum untuk 5 (lima) tahun
buku berturut-turut atau lebih dan masih mempunyai perikatan audit umum untuk tahun
buku berikutnya atas laporan keuangan klien, pada saat berlakunya peraturan ini hanya
dapat melaksanakan perikatan dimaksud untuk 1 (satu) tahun buku berikutnya.
11. Akuntan yang telah memberikan jasa audit umum untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut
atau lebih dan masih mempunyai perikatan audit umum untuk tahun buku berikutnya atas
laporan keuangan klien, pada saat berlakunya peraturan ini hanya dapat melaksanakan
perikatan dimaksud untuk 1 (satu) tahun buku berikutnya.
12. Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal, Bapepam berwenang
mengenakan sanksi terhadap setiap pelanggaran ketentuan peraturan ini, termasuk Pihak
yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut.
13. Contoh Kasus Etika Dalam Auditing

Kasus Audit Kas/Teller Laporan Fiktif Kas di Bank BRI Unit Tapung Raya

Kepala Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Tapung Raya, Masril (40) ditahan polisi. Ia terbukti
melakukan transfer uang Rp1,6 miliar dan merekayasa dokumen laporan keuangan. Perbuatan
tersangka diketahui oleh tim penilik/pemeriksa dan pengawas dari BRI Cabang Bangkinang pada
hari Rabu 23 Februari 2011 Tommy saat melakukan pemeriksaan di BRI Unit Tapung. Tim ini
menemukan kejanggalan dari hasil pemeriksaan antara jumlah saldo neraca dengan kas tidak
seimbang. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan cermat, diketahu iadanya transaksi
gantung yaitu adanya pembukuan setoran kas Rp 1,6 miliar yang berasal BRIUnit Pasir
Pengaraian II ke BRI Unit Tapung pada tanggal 14 Februari 2011 yang dilakukanMasril, namun
tidak disertai dengan pengiriman fisik uangnya.Kapolres Kampar AKBP MZ Muttaqien yang
dikonfirmasi mengatakan, Kepala BRI Tapung Raya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di
sel Mapolres Kampar karenamentransfer uang Rp1,6 miliar dan merekayasa laporan
pembukuan.Kasus ini dilaporkan oleh Sudarman (Kepala BRI Cabang Bangkinang dan Rustian

Martha pegawai BRI Cabang Bangkinang. “Masril telah melakukan tindak pidana membuat atau
menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau laporan maupun dalam dokumen
laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening Bank (TP Perbankan). Tersangka dijerat
pasal yang disangkakan yakni pasal 49 ayat (1) UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan
atasUU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan dangan ancaman hukuman 10 tahun,” kata
Kapolres.

Polres Kampar telah melakukan penyitaan sejumlah barang bukti dokumen BRI serta melakukan
koordinasi dengan instansi terkait, memeriksa dan menahan tersangka dan 6 orang saksi telah
diperiksa dan meminta keterangan ahli.

PENYELESAIAN MASALAH

Skills Kemampuan yang diberikan harus sesuai dengan bidang kerja yang ia lakukan.Kemudian
kemampuan tersebut dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkankontribusi karyawan pada
perusahaan. Perusahaan melakukan pelatihan pendidikan secara periodik kepada karyawan
sesuai dengan perkembangan teknologi yang berkembang.
Pembinaan ini sangatlah penting karena setiap karyawan memiliki kepribadian yang berbeda jadi
attitude ini harus ditekankan kepada karyawan. Dalam hal ini karyawandiharapkan dapat
memiliki kepribadian yang baik sehingga dapat memperkecil resikoterjadinya penyimpangan
dari karyawan itu sendiri.

Prosedur Otoritas Yang Wajar :

Ø Harus ada batas transaksi untuk masing-masing teller dan head teller.

Ø Penyimpanan uang dalam khasanah harus menggunakan pengawasan ganda.

Ø Teller secara pribadi tidak diperkenankan menerima kuasa dalam bentuk apapundari nasabah
untuk melaksanakan transaksi atas nasabah tersebut.

Ø Teller secara pribadi dilarang menerima titipan barang atau dokumen pentingmilik nasabah.

Dokumen dan catatan yang cukup :

Setiap setoran/penarikan tunai harus dihitung dan dicocokan dengan buktisetoran/ penarikan.
Setiap bukti setoran/ penarikan harus diberi cap identifikasiteller yang memproses.

Setiap transaksi harus dibukukan secara baik dan dilengkapi dengan buktipendukung seperti
Daftar Mutasi Kas,

Cash Register (daftar persediaan uangtunai berdasarkan kopurs/masing-masing pecahan)

Kontrol fisik atas uang tunai dan catatan :

Head teller harus memeriksa saldo kas, apakah sesuai dengan yang dilaporkanoleh teller.

Head teller harus menghitung saldo uang tunai pada box teller sebelum teller yangbersangkutan
cuti atau seteleh teller tersebut absen tanpa pemberitahuan.

Setiap selisih harus diindentifikasi, dilaporkan kepada head teller dan pemimpincabang,
diinvestigasi dan dikoreksi.

Selisih uang tunai yang ada pada teller ataupun dalam khasanah harus dibuatkanberita acara
selisih kas.

Area teller/ counter/khasanah adalah area terbatas dalam arti selain petugas ataupejabat yang
berwenang, tidak diperbolehkan masuk.

Teller dilarang membawa tas, makanan, ataupun perlengkapan pribadi ke counterarea

Pemeriksaan yang dilakukan oleh unit yang independen :


Setiap hari Unit Kontrol Intern harus memeriksa transaksi-transaksi yang berasaldari unit kas.

Secara periodik saldo fisik harus diperiksa oleh SKAI.

Pemimpin Cabang melakukan pemeriksaan kas dadakan.

Kesimpulan Kasus Audit Kas/Teller Laporan Fiktif Kas di Bank BRI Unit Tapung Raya penting
karena setiap karyawan memiliki kepribadian yang berbeda jadi attitude ini harus ditekankan
kepada karyawan. Dalam hal ini karyawan diharapkan dapat memiliki kepribadian yang baik
sehingga dapat memperkecil resikoterjadinya penyimpangan dari karyawan itu sendiri.
Perusahaan melakukan pelatihan pendidikan secara periodik kepada karyawan sesuai dengan
perkembangan teknologi yang berkembang.

Kasus KAP Andersen dan Enron

Kasus KAP Andersen dan Enron terungkap saat Enron mendaftarkan kebangkrutannya ke
pengadilan pada tanggal 2 Desember 2001. Saat itu terungkap, terdapat hutang perusahaan yang
tidak dilaporkan, yang menyebabkan nilai investasi dan laba yang ditahan berkurang dalam
jumlah yang sama. Sebelum kebangkrutan Enron terungkap, KAP Andersen mempertahankan
Enron sebagai klien perusahaan, dengan memanipulasi laporan keuangan dan penghancuran
dokumen atas kebangkrutan Enron, dimana sebelumnya Enron menyatakan bahwa pada periode
pelaporan keuangan yang bersangkutan tersebut, perusahaan mendapatkan laba bersih sebesar $
393, padahal pada periode tersebut perusahaan mengalami kerugian sebesar $ 644 juta yang
disebabkan oleh transaksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh
Enron.

Komentar :

Contoh kasus yang terjadi pada KAP Andersen dan Enron adalah sebuah pelanggaran etika
profesi akuntansi dan prinsip etika profesi, yaitu berupa pelanggaran tanggung jawab –yang
salah satunya adalah memelihara kepercayaan masyarakat terhadap jasa profesional seorang
akuntan. Pelanggaran prinsip kedua yaitu kepentingan publik,pada kasus KAP Andersen dan
Enron tersebut kurang dipegang teguhnya kepercayaan masyarakat, dan tanggung jawab yang
tidak semata-mata hanya untuk kepentingan kliennya tetapi juga menitikberatkan pada
kepentingan public. Jadi seharusnya KAP Andersen dalam melakukan tugasnya sebagai akuntan
harus melakukan tindakan berdasarkan etika profesi akuntansi dan prinsip etika profesi.

KASUS LIPPO

Beberapa kasus yang hampir serupa juga terjadi di Indonesia, salah satunya adalah laporan
keuangan ganda Bank Lippo pada tahun 2002. Kasus Lippo bermula dari adanya tiga versi
laporan keuangan yang ditemukan oleh Bapepam untuk periode 30 September 2002, yang
masing-masing berbeda. Laporan yang berbeda itu, pertama, yang diberikan kepada publik atau
diiklankan melalui media massa pada 28 November 2002. Kedua, laporan ke BEJ pada 27
Desember 2002, dan ketiga, laporan yang disampaikan akuntan publik, dalam hal ini kantor
akuntan public Prasetio, Sarwoko dan Sandjaja dengan auditor Ruchjat Kosasih dan disampaikan
kepada manajemen Bank Lippo pada 6 Januari 2003. Dari ketiga versi laporan keuangan tersebut
yang benar-benar telah diaudit dan mencantumkan ”opini wajar tanpa pengecualian” adalah
laporan yang disampaikan pada 6 Januari 2003. Dimana dalam laporan itu disampaikan adanya
penurunan AYDA (agunan yang diambil alih) sebesar Rp 1,42 triliun, total aktiva Rp 22,8 triliun,
rugi bersih sebesar Rp 1,273 triliun dan CAR sebesar 4,23 %. Untuk laporan keuangan yang
diiklankan pada 28 November 2002 ternyata terdapat kelalaian manajemen dengan
mencantumkan kata audit. Padahal laporan tersebut belum diaudit, dimana angka yang tercatat
pada saat diiklankan adalah AYDA sebesar Rp2,933 triliun, aktiva sebesar Rp 24,185 triliun, laba
bersih tercatat Rp 98,77 miliar, dan CAR 24,77 %. Karena itu BAPEPAM menjatuhkan sanksi
denda kepada jajaran direksi PT Bank Lippo Tbk. sebesar Rp 2,5 miliar, karena pencantuman
kata ”diaudit” dan ”opini wajar tanpa

pengecualian” di laporan keuangan 30 September 2002 yang dipublikasikan pada 28 Nopember


2002, dan juga menjatuhkan sanksi denda sebesar Rp 3,5 juta kepada Ruchjat Kosasih selaku
partner kantor akuntan publik (KAP) Prasetio, Sarwoko & Sandjaja karena keterlambatan
penyampaian informasi penting mengenai penurunan AYDA Bank Lippo selama 35 hari. Kasus-
kasus skandal diatas menyebabkan profesi akuntan beberapa tahun terakhir telah mengalami
krisis kepercayaan. Hal itu mempertegas perlunya kepekaan profesi akuntan terhadap etika.
Jones,et al. (2003) lebih memilih pendekatan individu terhadap kepedulian etika yang berbeda
dengan pendekatan aturan seperti yang berdasarkan pada Sarbanes Oxley Act. Mastracchio
(2005) menekankan bahwa kepedulian terhadap etika harus diawali dari kurikulum akuntansi,
jauh sebelum mahasiswa akuntansi masuk di dunia profesi akuntansi.

Kesimpulan kasus LIPO

Dari kedua kasus di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa dalam profesi akuntan terdapat
masalah yang cukup pelik di mana di satu sisi para akuntan harus menunjukkan independensinya
sebagai auditor dengan menyampaikan hasil audit ke masyarakat secara obyektif, tetapi di sisi
lain mereka dipekerjakan dan dibayar oleh perusahaan yang tentunya memiliki kepentingan
tersendiri.

REFERENSI :

(Nugrahiningsih, 2005 dalam Alim dkk 2007).

https://enomutzz.wordpress.com/2012/01/27/etika-dalam-auditing/

http://wahidsyahban.blogspot.co.id/2015/11/etika-auditing.html

http://nadhiafadhilah.blogspot.co.id/2015/11/tugas-6-etika-dalam-auditing.html