Anda di halaman 1dari 9

DETASEMEN KESEHATAN WILAYAH MALANG

RUMAH SAKIT TINGKAT III BALADHIKA HUSADA

PANDUAN PELAYANAN PASIEN LANJUT USIA

2014

2015

RUMAH SAKIT TK. III BALADHIKA HUSADA


JL. PB. SUDIRMAN No. 45 JEMBER
TELP/FAX/EMAIL (0331) 484674, 489207/ (0331) 425673/
Email : rsadbaladhikahusada@yahoo.com
KATA PENGANTAR

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan pengetahuan masyarakat terhadap upaya


pencegahan terhadap penyakit berdampak pada meningkatnya jumlah individu yang termasuk
dalam kelompok usia lanjut. Perubahan fisik dan psikologis yang terjadi pada pasien usia lanjut
berbeda pada pasien usia dewasa muda, yang akan mempengaruhi pelayanan pasien usia lanjut
terkait dengan kondisi penyakit yang menyertainya.
Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan suatu panduan pelayanan pasien usia lanjut di
rumah sakit sebagai acuan dalam memberikan pelayanan medis, keperawatan, dan profesi lainnya.
Para professional kesehatan di rumah sakit diharapkan dapat melakukan antisipasi dan perlakuan
khusus terkait keterbatasan dan penurunan fungsi tubuh terkait dengan proses penuaan.

Jember. 2015

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................................................1
A. DEFINISI......................................................................................................................................1
B. TUJUAN.......................................................................................................................................1
BAB II RUANG LINGKUP..........................................................................................................................2
A. UNIT KERJA TERKAIT...................................................................................................................2
B. PERUBAHAN FISIK PADA USIA LANJUT........................................................................................2
C. PERUBAHAN PSIKOLOGIS USIA LANJUT......................................................................................3
BAB III TATA LAKSANA.............................................................................................................................4
A. TATA LAKSANA SKRINING KEBUTUHAN PELAYANAN PASIEN LANJUT USIA.................................4
B. TATA LAKSANA ASESMEN KEBUTUHAN PELAYANAN PASIEN LANJUT USIA.................................4
C. TATA LAKSANA PELAYANAN PASIEN LANJUT USIA.......................................................................5
D. TATA LAKSANA PEMBERIAN OBAT DAN MONITORING................................................................5
E. TATA LAKSANA PEMBERIAN ASUPAN NUTRISI PASIEN LANJUT USIA...........................................6
F. TATA LAKSANA PECEGAHAN RISIKO JATUH PASIEN LANJUT USIA................................................6
BAB IV DOKUMENTASI............................................................................................................................7

ii
BAB I PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Proses penuaan merupakan realita proses biologis yang memiliki dinamika tersendiri, di
luar batas kemampuan kontrol manusia. Pada kebanyakan Negara berkembang batasan usia 60
atau 65 tahun merupakan usia pension, yang dianggap sebagai batas awal usia lanjut.
Anggapan lain berdasarkan aspek sosial, usia lanjut diartikan sebagai kondisi atau keadaan
dengan munculnya penurunan kemampuan fisik. (Gorman, 2000)
Penelitian antropologi internasional (Glascock, 1980) menyimpulkan bahwa definisi dan
kategori Usia Lanjut ditentukan oleh:
1. Usia kronologis
2. Perubahan peran sosial (perubahan pola kerja, menopause/andropause)
3. Perubahan kemampuan (invalid status, perubahan karakteristik fisik).
WHO mendefinisikan batasan usia lanjut adalah usia 50 tahun atau lebih. Sedangkan American
Journal of Nursing (AJN) menyebutkan bahwa asuhan keperawatan pada populasi usia lanjut,
dengan usia 65 tahun atau lebih, untuk mendapatkan asuhan khusus.

B. TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan pelayanan pasien dengan usia lanjut adalah:
1. Mengetahui perubahan fisik dan psikologis yang terjadi pada pasien usia lanjut
selain kondisi penyakit yang menyertainya,
2. Melakukan antisipasi dan perlakuan khusus terkait keterbatasan dan penurunan
fungsi tubuh terkait dengan proses penuaan.

1
BAB II RUANG LINGKUP

Ruang lingkup Panduan Pelayanan Pasien Usia Lanjut adalah unit kerja yang memberikan
pelayanan kepada pasien, meliputi:

A. UNIT KERJA TERKAIT


1. Tempat Pendaftaran Pasien
2. Instalasi Gawat Darurat
3. Unit Rawat Jalan
4. Unit Rawat Inap
5. Unit Radiologi
6. Unit Laboratorium
7. Unit Farmasi
8. Unit Fisioterapi

C. PERUBAHAN FISIK PADA USIA LANJUT


Kondisi sakit yang ditemukan pada pasien lanjut usia umumnya bukan merupakan satu
penyakit tunggal, namun merupakan kombinasi dari beberapa kondisi penyerta
1. Penglihatan
Menurunnya kemampuan fungsi penglihatan, bahkan karena underlying disease seperti
katarak atau glaucoma, sehingga sebelum dimulainya penanganan pasien usia lanjut
berupa proses pemeriksaan diagnostik maupun tindakan medis/keperawatan perlu
dilakukan skrining dan asesmen apakah pasien memerlukan penanganan khusus.
2. Pendengaran
Menurunnya kemampuan mendengar pada pasien usia lanjut, memungkinkan
diperlukannya suara yang lebih keras dalam berbicara dengan pasien; namun hindari
berteriak kepada pasien.
3. Rasa raba
Sensasi rasa raba yang menurun pada pasien usia lanjut, terlebih pada pasien dengan
diabetes dan pasien dengan gisi kurang, memerlukan perhatian khusus dalam penanganan
terkait penyakit/kondisi dengan rasa nyeri ; respon minor terhadap sensasi nyeri sedapat
mungkin tidak mengabaikan kondisi penyakit yang berat.
4. Kulit
Penipisan lemak subkutan pada pasien usia lanjut, berkurangnya elastisitas kulit karena
dehidrasi memerlukan penanganan khusus dalam menggerakkan anggota tubuh pasien
usia lanjut agar supaya menghindari terjadinya kerusakan kulit.
5. Hormonal
Seiring dengan bertambahnya usia individu, maka produksi hormone akan mengalami
penurunan, sehingga kadar hormone di dalam darah akan menurun dan berdampak pada
penurunan fungsi tubuh terkait mekanisme kerja hormone.
6. Ginjal
Penurunan fungsi ekskresi ginjal pada pasien usia lanjut perlu mendapatkan perhatian
khusus terkait pemberian obat-obatan tertentu, khususnya obat-obatan yang diekskresikan
melalui ginjal, sehingga mungkin diperlukan penyesuaian dosis obat.
7. Muskuloskeletal
Penurunan kekuatan otot dan tulang akan menyebabkan keterbatasan gerak pasien usia
lanjut yang akan berdampak pada meningkatnya risiko jatuh pada pasien usia lanjut,
sehingga penanganan dan pelayanan pasien usia lanjut perlu mendapatkan perhatian
lebih.

D. PERUBAHAN PSIKOLOGIS USIA LANJUT


1. Kondisi Psikologis secara Umum
Dalam kondisi tertentu pasien usia lanjut dapat mengalami kondisi psikologis yang
memerlukan perlakuan khusus. Kondisi tersebut antara lain kekhawatiran yang sedemikian
besar terhadap kematian, kesedihan yang mendalam atas kondisi fisik yang sudah

2
sedemikian menurun. Kondisi psikologis ini perlu mendapatkan perhatian khusus oleh para
professional kesehatan.
2. Proteksi Diri
Penurunan kemampuan fisik pasien usia lanjut dapat berdampak pada menurunnya
kemampuan dalam perlindungan terhadap diri sendiri, sehingga sangat rentan terhadap
kondisi berisiko yang dapat memperparah kondisi penyakitnya atau bahkan mengancam
jiwanya.
3. Dealing with Death
Pasien usia lanjut pada kondisi penyakit tertentu mungkin dapat membawa pasien usia
lanjut dalam kondisi psikologis yang merasa terancam jiwanya atau merasa dalam kondisi
sakratul maut. Hal tersebut dapat menimbulkan reaksi psikologis panik agresif maupun
kondisi depresi dalam berbagai tingkatan. Dampaknya mungkin dapat berupa reaksi
memberontak dan keinginan untuk melarikan diri, atau bahkan menolak semua
pengobatan maupun makanan yang diberikan kepadanya. Dalam tingkatan tertentu,
mungkin diperlukan penanganan seorang psikolog atau dokter spesialis kesehatan jiwa.

3
BAB III TATA LAKSANA

A. TATA LAKSANA SKRINING KEBUTUHAN PELAYANAN PASIEN LANJUT USIA


1. Skrining terhadap pasien lanjut usia yang memerlukan pelayanan khusus
dilakukan oleh seluruh unit yang berinteraksi dengan pasien sesuai dengan kompetensi
masing-masing.
2. Skrining pasien lanjut usia dilakukan oleh dokter, perawat, dan profesional lainnya
sesuai dengan kompetensi masing-masing untuk menemukan status fisiologis pasien
lanjut usia yang berisiko dan berbeda dengan pasien dewasa lainnya, untuk dilakukan
pelayanan khusus.
3. Kondisi berisiko tersebut antara lain:
a. kemampuan berjalan
b. perubahan tekstur kulit
c. inkontinentia urine
d. penggunaan gigi palsu
4. Kondisi berisiko tersebut perlu segera diketahui oleh tenaga profesional di rumah
sakit, untuk selanjutnya dikolaborasikan dengan tenaga profesional terkait, dan DPJP akan
menentukan asesmen dan pelayanan yang sesuai untuk pasien lanjut usia tersebut.

E. TATA LAKSANA ASESMEN KEBUTUHAN PELAYANAN PASIEN LANJUT USIA


1. Apabila tenaga profesional dalam proses skrining menemukan adanya faktor
berisiko pada pasien lanjut usia, wajib segera melakukan asesmen sesuai dengan
kompetensi masing-masing dan mengkoordinasikannya kepada DPJP, untuk selanjutnya
DPJP melakukan asesmen.
2. Asesmen pasien lanjut usia yang berisiko dalam berjalan, dilaksanakan berdasarkan
Panduan Asesmen Risiko Jatuh.
3. Faktor risiko terjadinya inkontinensia urin dilakukan asesmen apakah pasien lanjut
usia tersebut perlu menggunakan kateter, dengan melakukan asesmen seksama adanya
kontra indikasi pemasangan kateter.
4. Temuan adanya perubahan tekstur kulit perlu dilakukan asesmen sebelum
dilakukan tindakan invasif pemberian injeksi maupun pengambilan sampel darah, sehingga
dapat dicegah kemungkinan terjadinya ekstravasasi dan atau terjadinya infeksi aliran darah
perifer.
5. Pasien lanjut usia yang dirawat inap dalam waktu lama akan berpotensi terjadi
decubitus. Oleh karena itu perlu dilakukan asesmen untuk mengetahui apakah pasien perlu
dilakukan asuhan keperawatan khusus, atau kebutuhan penggunaan kasur air untuk
mencegah terjadinya decubitus tersebut.

F. TATA LAKSANA PELAYANAN PASIEN LANJUT USIA


1. Masing-masing tenaga professional kesehatan diharapkan dapat mengumpulkan
informasi mengenai kondisi fisiologis pasien usia lanjut terkait dengan kondisi penyakit
yang dialami.
2. Berdasarkan informasi tersebut selanjutnya dilakukan analisis untuk menentukan
rencana pelayanan kesehatan khusus terkait dengan proses penuaan yang ada.
3. Rencana pelayanan khusus ini perlu dibuat dan disusun sebagai pelengkap rencana
pelayanan terkait dengan penyakit yang dialami sebagaimana pasien dewasa pada
umumnya.
4. Apabila berdasarkan asesmen khusus yang dilakukan terhadap pasien usia lanjut
oleh masing-masing tenaga professional kesehatan diperlukan pelayanan khusus, maka
perlu koordinasi dengan dokter penanggung jawab pasien (DPJP), untuk persetujuan
diberikannya rencana pelayanan khusus tersebut.
5. Semua pelayanan khusus terhadap pasien usia lanjut harus dicatat di dalam rekam
medis pasien, dan apabila diperlukan dapat ditulis sedemikian rupa untuk mendapatkan
perhatian.
6. Seyogyanya pasien usia lanjut yang sedemikian terbatas kemampuan melaksanakan
aktivitas rutin individual, perlu didampingi oleh keluarga selama 24 jam.
4
7. Pelayanan pasien usia lanjut seyogyanya melibatkan keluarga dalam pengambilan
keputusan dan persetujuan terhadap rencana pelayanan dan tindakan medis maupun
pengobatan yang akan diberikan.

G. TATA LAKSANA PEMBERIAN OBAT DAN MONITORING


1. Pemberian antibiotika pada pasien lanjut usia perlu mempertimbangkan factor
penurunan kekebalan tubuh pasien serta penurunan kemampuan organ tubuh untuk
memetabolisir obat antibiotika.
2. Farmasis perlu mengkoordinasikan kepada DPJP apabila diketahui jenis dan dosis
antibiotika yang diberikan kurang sesuai atau merupakan kontraindikasi untuk diberikan
kepada pasien lanjut usia.
3. Pasien usia lanjut perlu mendapatkan bantuan dalam mendapatkan pemberian
obat per oral, dan perlu dicatat dalam rekam medis, mengingat penurunan daya ingat
pasien usia lanjut.

H. TATA LAKSANA PEMBERIAN ASUPAN NUTRISI PASIEN LANJUT USIA


1. Kebutuhan nutrisi pasien usia lanjut selain berdasarkan kondisi penyakitnya, perlu
disesuaikan dengan fungsi pencernaan yang sangat mungkin mengalami penurunan,
terlebih apabila didapatkan adanya kondisi/gangguan fungsi saluran pencernaan.
2. Jenis dan menu nutrisi yang diberikan kepada pasien usia lanjut perlu disesuaikan
dengan kemampuannya mencernakan makanan yang diperlukan. Misalnya pasien dengan
gigi palsu, sebaiknya diberikan makanan lunak atau bubur, mengingat DPJP mungkin
merekomendasikan untuk menanggalkan gigi palsu tersebut selama pelayanan di rumah
sakit.
3. Sedapat mungkin pemberian makanan pasien usia lanjut dilakukan oleh perawat,
atau setidaknya oleh keluarga yang telah mendapatkan informasi cara pemberian makanan
tersebut oleh ahli gizi.

I. TATA LAKSANA PECEGAHAN RISIKO JATUH PASIEN LANJUT USIA


1. Keterbatasan mobilitas pasien usia lanjut perlu diidentifikasi sedini mungkin sejak
pasien berinteraksi dengan staf rumah sakit.
2. Sesuai dengan Panduan Pelayanan Pasien Risiko Jatuh, staf rumah sakit sesuai
dengan kompetensi masing-masing harus memberikan bantuan mobilitas, baik secara
manual maupun dengan alat bantu jalan lainnya.

5
BAB IV DOKUMENTASI

A. Pencatatan Rekam Medis


Mendokumentasikan pemeriksaan pasien merupakan langkah kritikal dan penting dalam
proses asuhan pasien. Hal ini umumnya dipahami pelaksana praktek kedokteran bahwa “ jika
anda tidak mendokumentasikannya, anda tidak melakukannya”. Dokumentasi adalah alat
komunikasi berharga untuk pertemuan di masa mendatang dengan pasien tersebut dan
dengan tenaga ahli asuhan kesehatan lainnya. Alasan lain mengapa dokumentasi sangat
kritikal terhadap proses asuhan pasien didaftarkan pada Gambar 1-2. Saat ini, beberapa
metode berbeda digunakan untuk mendokumentasikan asuhan pasien dan PCP, dan beragam
format cetakan dan perangkat lunak komputer tersedia untuk membantu dokter, perawat,
farmasis dan profesi lainnya dalam proses ini. Dokumentasi yang baik adalah lebih dari sekedar
mengisi formulir; akan tetapi, harus memfasilitasi asuhan pasien yang baik. Ciri-ciri yang harus
dimiliki suatu dokumentasi agar bermnanfaat untuk pertemuan dengan pasien meliputi:
Informasi tersusun rapi, terorganisir dan dapat ditemukan dengan cepat.
B. Pencatatan Data dan Evaluasi
Pelayanan pasien lanjut usia perlu dicatat dan dikumpulkan pada buku tersendiri, untuk
selanjutnya data tersebut dievaluasi. Temuan-temuan khusus dalam pemberian pelayanan
pasien lanjut usia seyogyanya dianalisis sebagai bahan evaluasi penyusunan dan atau
perubahan sistem pelayanan, baik medis, keperawatan, maupun professional lainnya,
sehingga pelayanan pasien lanjut usia dapat ditingkatkan dan terjamin Keselamatan Pasien
lanjut usia di RS.