Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS KECIL

COMMUNITY ACQUIRED PNEUMONIA (CAP), TUBERKULOSIS PARU


BTA (+) LESI LUAS KASUS PUTUS OBAT, DAN ANEMIA GRAVIS

Pembimbing:

dr. Indah Rahmawati, Sp.P

Disusun oleh:

Nur Qisthiyah G4A015065

SMF ILMU PENYAKIT DALAM


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO
JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2016

1
LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS KECIL


“COMMUNITY ACQUIRED PNEUMONIA (CAP), TUBERKULOSIS PARU
BTA (+) LESI LUAS KASUS PUTUS OBAT, DAN ANEMIA GRAVIS”

Disusun oleh :
Nur Qisthiyah G4A015065

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti kepaniteraan klinik di


bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal Juni 2016

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Indah Rahmawati, Sp.P


NIP. 19670316.200604.2.001

2
BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn. K
Usia : 33 tahun
Jeniskelamin : Laki-laki
Status : Sudah menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Alamat : Wlahar Wetan 05/01 Kalibagor
Tanggal masuk poli : 1 Juni 2016
Tanggal periksa : 7 Juni 2016
No. CM : 00951554

II. SUBJEKTIF
1. Keluhan Utama
Sesak napas

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Keluhan utama pasien adalah sesak nafas yang sudah dirasakan sejak 2
hari SMRS. Pasien mengeluh sesak nafas dirasakan seperti diikat terus
menerus sepanjang hari dan makin berat hingga tidak dapat beraktivitas. Sesak
dirasakan memberat ketika pasien bicara, jalan dengan jarak jauh, dan
kelelahan. Keluhan tersebut berkurang jika pasien istirahat. Keluhan semakin
hari semakin memberat sehingga pasien merasakan pada awalnya sesak hanya
bila beraktivitas berat hingga sesak kini dirasakan hanya karena berjalan
beberapa langkah.
Selain itu, pasien juga mengeluhkan pusing, batuk berdahak, badan dan
kaki lemas, berkeringat pada malam hari, dan nafsu makan berkurang hingga

3
berat badan terasa menurun dalam kurun waktu 1 bulan. Keluhan batuk
dirasakan awalnya sejak 1 tahun sebelum masuk RSMS, namun akhir-akhir ini
semakin berat dan sering frekuensinya. Menurut pasien pada awalnya dahak
hanya sedikit sekitar satu sendok teh dan berwarna putih namun sekarang
dahak berwarna kuning kehijauan dan jumlahnya semakin banyak sekitar satu
sendok makan. Pasien menyangkal batuk berdarah dan memiliki riwayat
minum OAT selama 3 bulan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien sebelumnya pernah menjalani pengobatan paru yang dapat
mebuat BAK menjadi berwarna kemerahan di RSMS pada tahun 2015 selama 3
bulan. Menurut pengakuan pasien, pasien tidak kontrol lagi setelah 3 bulan
dikarenakan tidak memiliki uang untuk biaya perjalanan ke RSMS dan tidak
ada yang mengantar untuk berobat.
a. Riwayat keluhan serupa : diakui
b. Riwayat OAT : diakui
c. Riwayat hipertensi : disangkal
d. Riwayat kencing manis : disangkal
e. Riwayat asma : disangkal
f. Riwayat alergi : disangkal
g. Riwayat mondok : diakui

4. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Riwayat keluhan serupa : disangkal
b. Riwayat hipertensi : disangkal
c. Riwayat kencing manis : disangkal
d. Riwayat asma : disangkal
e. Riwayat alergi : disangkal

4
5. Riwayat Sosial Ekonomi
a. Community
Pasien tinggal di lingkungan yang tidak padat penduduk. Rumah satu
dengan yang lainnya tidak berdekatan. Pasien mengaku tetangganya tidak
ada yang memiliki penyakit serupa. Sebelum sakit, pasien aktif pada
kegiatan di lingkungan rumah pasien. Hubungan pasien dengan keluarga
dan tetangga baik.
b. Home
Rumah pasien berdinding kayu, jendela dibuka setiap pagi, dengan lantai
dari plester semen. Pasien tinggal bersama istri, ibu, dan seorang anak.
c. Occupational
Pasien adalah seorang petani. Pembiayaan kebutuhan sehari-hari hanya
berasal dari pasien.
d. Personal habit
Pasien mempunyai pola makan yang teratur. Pasien tidak mempunyai
kebiasaan merokok dan minum alkohol.

III. OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
a. KeadaanUmum : Sedang
b. Kesadaran : Compos mentis, GCS = E4M6V5
c. BB : 34 Kg
d. TB : 160 cm
e. Status gizi : 13,2 (status gizi kurang)
f. Vital sign
- Tekanan darah : 100/60
- Nadi : 88 x/menit
- RR : 22 x/menit
- Suhu : 36,60C

5
Status generalis:
1) Kepala
a) Bentuk : mesochepal, simetris
b) Rambut : warna hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata, tidak
rontok
2) Mata
a) Palpebra : edema (-/-), ptosis (-/-)
b) Konjungtiva : anemis (+/+)
c) Sklera : ikterik (-/-)
d) Pupil : Reflek cahaya (+/+), isokor
e) Exophtalmus : (-/-)
f) Lapang pandang : dbn
g) Gerak bola mata : dbn
h) Nistagmus (-/-)
3) Telinga
a) Otore : (-/-)
b) Deformitas : (-/-)
c) Nyeri tekan : (-/-)
4) Hidung
a) Nafas cuping hidung : (-/-)
b) Deformitas : (-/-)
c) Discharge : (-/-)
5) Mulut
a) Bibir sianosis : (-)
b) Bibir kering : (-)
c) Lidah kotor : (-)
6) Leher
a) Deviasi trachea : (-)
b) Pembesaran kelenjar limfoid : (-)
c) Pembesaran kelenjar tiroid : (-)

6
7) Dada
a) Paru
- Inspeksi : Bentuk dada simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi (-),
jejas (-).
- Palpasi : Vocal fremitus kanan = kiri, ketinggalan gerak (-).
- Perkusi : Sonor pada lapang paru kanan dan kiri.
- Auskultasi : Suara dasar vesikuler +/+ menurun, RBH +/+, RBK -/-,
wheezing -/-
b) Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tampak pada SIC V LMCS
- Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V LMCS
- Perkusi : Batas jantung kanan atas SIC II LPSD, batas jantung kiri
atas SIC II LPSS, batas jantung kiri atas SIC IV LPSD, batas jantung
kiri bawah SIC V LMCS.
- Auskultasi : S1>S2, regular, murmur (-), gallop (-).
8) Abdomen
- Inspeksi : Datar
- Auskultasi : Bising usus (+) normal
- Perkusi : Timpani
- Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak teraba
9) Ekstremitas
- Superior : Deformitas (-/-), edema (-/-), akral hangat (+/+)
- Inferior : Deformitas (-/-), edema (-/-),akral hangat (+/+)

2. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Mikrobiologi
Pemeriksaan sputum dengan pewarnaan ZN1x (1 Juni 2016)
BTA I : 3+/positif tiga
Leukosit : positif
Epitel : positif

7
Pemeriksaan sputum dengan pewarnaan ZN2x (1 Juni 2016)
BTA II : 3+/positif tiga
Leukosit : positif
Epitel : positif
Pemeriksaan sputum dengan pewarnaan ZN3x (2 Juni 2016)
BTA II : 3+/positif tiga
Leukosit : positif
Epitel :positif
b. Pemeriksaan Gene Xpert
MTB positive, sensitive Rifampisin
c. VCT (non reaktif)
d. Pemeriksaan darah lengkap
1 Juni 2016 2 Juni 2016 4 Juni 2016 6 Juni 2016
Hemoglobin 4,2 L 4,2 L 7,3 L 8,5 L
Leukosit 12.620 H 10.280 12.700 H
Hematokrit 17 L 17 L 26 L 29 L
Eritrosit 2,9 L 2,9 L 3,8 L
Trombosit 476.000 H 549.000 H 479.000 H
MCV 57,1 L 58,9 L 69,6 L
MCH 14,2 L 14,4 L 19,5 L
MCHC 24,8 L 24,4 L 28,0 L
RDW 20,2 H 20,6 H 27,7 H
MPV 8,5 L 9,2 L 9,2 L
Hitung jenis
Eosinofil 0,6 L 2,6 0,1 L
Basofil 0,2 0,1 0,2
Batang 1,0 L 0,6 L 1,1 L
Segmen 85,4 H 80,4 H 82,3 H
Limfosit 5,1 L 5,9 L 6,3 L
Monosit 7,7 10,4 H 10,0 H
Kimia klinik
SGOT 12 L

8
SGPT 14 L
Ureum 22,1
Kreatinin 0,71 L
Glukosa sewaktu 138
Asam urat 6,2
Albumin 2,76 L

e. Pemeriksaan Gambaran Darah Tepi (2 Juni 2016)


Eritrosit:
Anisositosis sedang
Poikilositosis berat (anulosit, tear drop, fragmentosit, sel pensil)
Leukosit:
Estimasi jumlah normal, netrofilia, atipikal limfosit
Trombosit:
Estimasi jumlah meningkat, bentuk besar (-), clumping (-)
Kesan:
Anemia mikrositik hipokromik
DD: Anemia defisiensi besi
Anemia penyakit kronik
f. Pemeriksaan foto thoraks PA (1 Juni 2016)
Kesan:
Bronkopneumonia underlying TB Paru lesi luas
Loculated pleural effusion lapang tengan pulmo sinistra
Besar cor dalam batas normal
Sistema tulang yang tervisualisasi baik

9
Gambar 1.1 Foto Thorax PA

IV. ASSESSMENT
1. Diagnosis Klinis:
Community Acquired Pneumonia (CAP)
TB Paru BTA (+) Lesi Luas Kasus Putus Obat
Anemia gravis

V. PLANNING
1. Terapi
a. Farmakologi
- IVFD NaCl/8 jam
- Inj Ceftriaxon 1x2 gr  Cefixime 2x100 mg p.o
- Inj Rantin 2x1 amp
- Inj Dexamethason 3x1 amp
- Sulfas Ferosus 3x1
- 4 FDC 1XII
- Streptomycin 1x500 mg

10
- Transfusi PRC 2 kolf (2 Juni 2016), 1 kolf (5 Juni 2016), dan usaha 1-2
kolf (7 Juni 2016)
b. Non farmakologi
- Rawat inap
- Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakit, cara penularan,
pengobatan serta efek samping obat.
- Konsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Lakukan screening pada anggota keluarga untuk tindakan pencegahan
dan pengobatan dini jika keluarga tertular.
- Edukasi tentang kebersihan lingkungan rumah, seperti membuka jendela
setiap hari agar sinar matahari dan sirkulasi udara bagus.
- Edukasi keluarga agar selalu menggunakan pengaman saat kontak
dengan pasien.
- Edukasi pasien untuk selalu memakai masker, tidak batuk, bersin, serta
membuang dahak sembarangan.
2. Monitoring
1. Monitoring
a. Keadaan umum dan kesadaran
b. Tanda vital
c. Evaluasi klinis
- Pasien dievaluasi setiap 2 minggu pada 1 bulan pertama pengobatan,
selanjutnya setiap 1 bulan.
- Evaluasi respon pengobatan dan ada tidaknya efek samping obat serta
ada tidaknya komplikasi
- Evaluasi klinis meliputi keluhan, berat badan, pemeriksaan fisik
d. Evaluasi bakteriologis (0-2-9)
- Tujuan untuk mendeteksi ada tidaknya konversi dahak
- Sebelum pengobatan dimulai
- Setelah 2 bulan pengobatan (setelah fase intensif)
- Akhir pengobatan

11
e. Evaluasi radiologik (0-2-9)
- Sebelum pengobatan
- Setelah 2 bulan pengobatan
- Pada akhir pengobatan
f. Evaluasi efek samping secara klinik
- Periksa fungsi hati (SGOT, SGPT, bilirubin)
- Periksa fungsi ginjal (ureum, kreatinin)
- Periksa GDS, G2PP, asam urat
- Pemeriksaan visus
- Pemeriksaan keseimbangan dan pendengaran
g. Evaluasi keteraturan obat
2. Prognosis
Keberhasilan kesembuhan penyakit tuberkulosis tergantung pada:
a. Kepatuhan minum obat
b. Komunikasi dan edukasi serta pengawasan minum obat
c. Umur penderita
d. Penyakit yang menyertai
e. Resistensi obat
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

12
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penegakan Diagnosis
a. Anamnesis
1) Keluhan utama : sesak nafas
2) Riwayat Penyakit Sekarang
a) Onset : 2 hari sebelum masuk rumah sakit
b) Kualitas : sesak terasa seperti diikat
c) Kuantitas : terus-menerus sepanjang hari dan makin berat
d) Faktor memperberat : ketika pasien bicara, jalan denganjarak jauh,
dan kelelahan
e) Faktor memperingan : ketika pasien beristirahat
f) Gejala penyerta :
- Batuk berdahak
- Pusing
- Badan dan kaki lemas
- Berkeringat pada malam hari
- Nafsu makan berkurang hingga berat badan menurun
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Memiliki riwayat keluhan yang sama sebelumnya sejak tahun 2015. Pasien
sebelumnya pernah menjalani pengobatan TB di RSMS pada tahun 2015 selama 3
bulan dan setelah itu tidak pernah kontrol kembali.
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien.
5) Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal di lingkungan yang tidak padat penduduk. Rumah satu
dengan yang lainnya tidak berdekatan. Rumah pasien berdinding kayu,
jendela dibuka setiap pagi, dengan lantai dari plester semen. Pasien tinggal
bersama istri, ibu, dan seorang anak. Pasien adalah seorang petani dan

13
pembiayaan kebutuhan sehari-hari hanya berasal dari pasien. Pasien tidak
mempunyai kebiasaan merokok.
b. Pemeriksaan fisik
1) Vital sign
a) Tekanandarah : 100/60 mmHg
b) Nadi : 88 x/menit
c) RR : 22 x/menit
d) Suhu : 36,60C
2) Pemeriksaan pada auskultasi paru didapatkan Suara dasar vesikuler kanan (+) kiri
(+) menurun, RBH +/+, RBK -/-, wheezing -/-
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Berdasarkan pemeriksaan mikrobiologi tanggal 1 Juni 2016 pada
pemeriksaan sputum dengan pewarnaan ZN 1x, didapatkan BTA I, II, III:
3+ (positif tiga).
2) Berdasarkan pemeriksaan darah lengkap tanggal 1 dan 4 Juni 2016
didapatkan leukositosis (12620 dan 12700).
3) Berdasarkan pemeriksaan darah lengkap tanggal 1 Juni 2016 didapatkan
anemia dengan kadar hemoglobin yang rendah (4,2).
4) Berdasarkan pemeriksaan foto thoraks PA tanggal 1 Juni 2016 didapatkan
kesan TB paru lesi luas.
Berdasarkan informasi di atas terdapat beberapa hal yang menjadi
pertimbangan untuk menegakan diagnosis TB Paru BTA (+) lesi luas kasus putus
obat ditandai dengan adanya keluhan batuk yang tidak kunjung sembuh selama 1
tahun, sesak napas, sering berkeringat pada malam hari, nafsu makan berkurang,
berat badan menurun, serta adanya riwayat minum OAT selama 3 bulan. Pada
pemeriksaan fisik paru didapatkan suara nafas dasar melemah dan adanya ronki
basah. Lalu berdasarkan pemeriksaan sputum didapatkan hasil BTA positif tiga dan
pada pemeriksaan foto thoraks didapatkan kesan TB paru lesi luas.
Diagnosis Community Acquired Pneumonia (CAP) ditandai dengan adanya
keluhan batuk dengan dahak berwarna kuning kehijauan dan sesak nafas. Pada
pemeriksaan darah lengkap didapatkan adanya peningkatan neutrofil segmen

14
menjadi 85,4% yang menunjukkan adanya infeksi bakteri akut dan leukositosis
hingga 12700/uL sebagai penanda adanya infeksi pada pasien. Pasien mendapatkan
infeksi pneumonia di luar lingkungan rumah sakit, sehingga disebut Community
Acquired Pneumonia (CAP). Sedangkan untuk anemia ditandai dengan adanya
keluhan berupa badan dan kaki terasa lemas. Serta kadar hemoglobin yang rendah
pada pemeriksaan laboratorium, yaitu 4,2.

B. Tindak Lanjut Penanganan Pasien


Pada kasus ini, pasien terdiagnosis sebagai pasien TB paru dengan BTA (+)
lesi luas kasus putus obat. Penangan pada pasien ini adalah pasien diberikan obat
OAT kategori 2 ditambah dengan obat-obatan simptomatik yang dirasakan pasien.
Hal ini dikarenakan pasien memiliki riwayat pengobatan TB di RSMS dengan
konsumsi obat OAT selama 3 bulan pada tahun 2015. Berikut adalah pengobatan
simptomatik yang diberikan kepada pasien.

R/ Inf. Asering No.III


S i.m.m
R/ Ceftriaxon inj gr 2 vial No.I
S 1 dd i.m.m
R/ Rantin inj No.II
S 2 dd i.m.m
R/ Dexamethason inj No.III
S 3 dd i.m.m
R/ Sulfas ferosus mg 300 tab No. III
S 3 dd 1 tab

Pengobatan TB yang diberian yaitu obat OAT kategori 2 berupa


2(RHZE)S/RHZE/5(RH)3E3 atau menggunakan sediaan Fixed Dose Combination
(FDC) yaitu 2(4FDC)S/4FDC/5(2FDC)3E3. Pada pengobatan fase intensif, pasien
diberikan obat oral berupa 4FDC yang mengandung empat macam obat yaitu

15
rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol. Obat tersebut diberikan selama 2
bulan yang akan di minum setiap hari serta di tambah dengan injeksi streptomisin.
Dosis pemberian obat akan disesuaikan dengan berat badan pasien (34 Kg)
yaitu 2 tablet setiap harinya. Selanjutnya pasien akan diberikan obat OAT sisipan
selama 1 bulan yang mengandung 4FDC dan obat fase lanjutan selama 5 bulan
yang diminum 3 kali dalam seminggu (senin, rabu, jumat). Pengambilan obat akan
diberikan setiap 2 minggu agar dokter dapat mengawasi kepatuhan pasien dalam
minum obat serta mengevaluasi efek samping dari pemberian OAT. Pencegahan
terjadinya efek samping dari isoniazid berupa rasa kesemutan sampai dengan rasa
terbakar di kaki maka pasien diberikan vitamin B6. (Nurrochmad dan Murwanti,
2000).
1. Penggunaan dengan menggunakan OAT 4FDC
R/ 4 FDC tab No. LX
S 1 dd tab II a.c (pagi)

2. Menggunakan obat satuan


a. Rifampisin
Dosis : 8-12 mg/kgBB/hari
34 x 8 = 272 mg sampai 34 x 12 = 408 mg
Sehingga dosis yang diberikan memiliki rentan antara 272-408 mg.
Sediaan : 300, 450, 600 mg
R/ Rifampisin tab mg 300 No. XXX
S 1 dd tab I a.c (pagi)

b. Isoniazid (INH)
Dosis : 4-6 mg/kgBB/hari
34 x 4 = 136 mg sampai 34 x 6 = 204 mg
Sehingga dosis yang diberikan memiliki rentan antara 136-204 mg.
Sediaan : 100, 300 mg
R/ Isoniazid tab mg 100 No. LX
S 1 dd tab II p.c (pagi)

16
c. Pirazinamid
Dosis : 20-30 mg/kgBB/hari
34 x 20 = 680 mg sampai 34 x 30 = 1020 mg
Sehingga dosis yang diberikan memiliki rentan antara 680-1020 mg.
Sediaan : 500 mg
R/ Pirazinamid tab mg 500 No. LX
S 1 dd tab II p.c (pagi)

d. Etambutol
Dosis : 15-20 mg/kgBB/hari
34 x 15 = 510 mg sampai 34 x 20 = 680 mg
Sehingga dosis yang diberikan memiliki rentan antara 510-680 mg.
Sediaan : 250, 500 mg
R/ Etambutol tab mg 250 No. XC
S 1 dd tab III p.c (pagi)

e. Streptomisin
Dosis : 12-18 mg/kgBB/hari
34 x 12 = 408 mg sampai 34x 18 = 612 mg
Sehingga dosis yang diberikan memiliki rentan antara 408-612 mg.
Sediaan :1g
Cara pemberian: 1 vial (1 g) + 4 cc aquades sehingga didapatkan 250
mg/1cc untuk didapatkan 500 mg maka membutuhkan 2 cc.
R/ Streptomisin 500 mg No. XXX
S i.m.m (pagi)

C. Pengobatan TB
Pada pasien TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan kembali
sesuai dengan kriteria sebagai berikut:

17
1. Berobat ≥ 4 bulan
a. BTA saat ini negatif
Klinis dan radiologi tidak aktif atau ada perbaikan maka pengobatan OAT
dihentikan. Bila gambaran radiologi aktif, lakukan analisis lebih lanjut untuk
memastikan diagnosis TB dengan mempertimbangkan juga kemungkinan
penyakit paru lain. Bila terbukti TB maka pengobatan dimulai dari awal dengan
paduan obat yang lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama.
b. BTA saat ini positif
Pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih kuat dan jangka
waktu pengobatan yang lebih lama.
2. Berobat < 4 bulan
a. Bila BTA positif, pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih
kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama.
b. Bila BTA negatif, gambaran foto toraks positif TB aktif pengobatan diteruskan
Jika memungkinkan seharusnya diperiksa uji resistensi terhadap OAT.

Secara umum, obat yang dipakai untuk mengobati TB terdiri dari:


1. Jenis OAT lini 1 yang digunakan, yaitu
a. Rifampisin
b. INH
c. Pirazinamid
d. Etambutol
e. Streptomisin
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2):
a. Kanamisin
b. Amikasin
c. Kuinolon
d. Obat lain masih dalam penelitian: makrolid, amoksilin+asam klavulanat
3. Kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination)
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari:
a. Empat OAT dalam satu tablet, yaitu rifampisin 150 mg, isoniazid 75 mg,
pirazinamid 400 mg dan etambutol 275 mg

18
b. Tiga OAT dalam satu tablet, yaitu rifampisin 150 mg, isoniazid 75 mg
dan pirazinamid 400 mg
Tabel 2.1 Jenis dan dosis OAT
Obat Dosis Dosis yang dianjurkan Dosis Dosis (mg)/BB (kg)
(mg/kgBB/hr) (mg/kgBB/hr) maks
Harian Intermitten (mg) < 40 40-60 >60
R 8-12 10 10 600 300 450 600
H 4-6 5 10 300 150 300 450
Z 20-30 25 35 750 1000 1500
E 15-20 15 30 750 1000 1500
S 15-18 15 15 1000 Sesuai 750 1000
BB

Tabel 2.2 Dosis OAT FDC


BB Fase intensif (2 bulan) Fase lanjutan (4 bulan)
Harian Harian 3x/minggu Harian 3x/minggu
RHZE RHZ RHZ RH RH
150/75/400/275 150/75/400 150/150/500 150/75 150/150
30-37 2 2 2 2 2
38-54 3 3 3 3 3
55-70 4 4 4 4 4
> 71 5 5 5 5 5

19
Tabel 2.3 Paduan obat
Kategori Kasus Paduan obat yang dianjurkan Keterangan
- I TB paru BTA (+) 2 RHZE/4RH atau 2RHZE/6HE
- TB paru BTA (-) *2RHZE/4(RH)3
- TB paru lesi luas

- II Kambuh RHZES/1RHZE atau sesuai hasil uji


- Gagal resistensi atau
pengobatan 2RHZES/1RHZE/5RHE
3-6 kanamisin, ofloksasin, etionamid,
sikloserin/15-18 ofloksasin,
etionamid, sikloserin atau
2RHZES/1RHZE/5RHE
- II TB paru putus Sesuai lama pengobatan sebelumnya, Bila streptomisin
berobat lama berhenti minum obat dan alergi, dapat
keadaan klinis, bakteriologi dan diganti kanamisin
radiologi saat ini (lihat uraiannya)
atau
*2RHZES/1RHZE/5(RHE)3
- III TB paru BTA (-) 2 RHZE/4RH atau 6 RHE atau
lesi minimal *2RHZE/4(RH)3
- IV Kronik RHZES atau sesuai hasil uji
resistensi (minimal OAT yang
sensitif) + obat lini 2 (pengobatan
minimal 18 bulan)
- IV MDR TB Sesuai uji resistensi + OAT lini 2
atau H seumur hidup
Catatan : * Obat yang disediakan oleh Program Nasional TB

20
Gambar 2.1 Efek samping OAT dan penatalaksanaannya

21
BAB III
KESIMPULAN

1. Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium


tuberculosis.
2. Penegakkan diagnosis penyakit TB didasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang.
3. Hal-hal yang perlu dievaluasi selama pengobatan TB antara lain keadaan klinis,
sputum bakterologis, foto radiologis, efek samping obat, dan keteraturan
pengobatan.
4. Keberhasilan pengobatan TB berdasarkan pada kepatuhan minum obat, faktor
pencetus, dan penyakit yang menyertai.

22
DAFTAR ISI

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis &


Penatalaksanaan di Indonesia. Diunduh dari:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.pdf. Diakses tanggal 8 Juni 2016.

23