Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

ANALISIS BUTIR TES

OLEH KELOMPOK 2 :

NAMA NIM
ADI PUTRA NUGRAHA ( 4163111004 )
DEBY BORA BR GINTING ( 4162111018 )
MUHAMMAD WAHYU YAZIM ( 4161111047 )
SULAIMAH YUSRA NST ( 4161111072 )
WINDA ANGGRAINI ( 4161111081 )
WINDA FEBRI YANTI ( 4161111082 )

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ ANALISIS BUTIR TES ”. Makalah ini diajukan guna
memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah evaluasi pembelajaran matematika.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi mahasiswa dan bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Medan, 16 oktober 2017

Penulis

Kelompok 2

2|ANALISIS BUTIR TES


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................................................. 4

1.2 Tujuan.......................................................................................................................... 4

1.3 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 4

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN............................................................................................ 6

2. 1 Pengertian Analisis Butir Tes ...................................................................................... 6

2.2 Tujuan Analisis Butir Tes ........................................................................................... 7

2.3 Kelompok Peserta Tes ................................................................................................. 7

2.4 Analisis Butir Pada Teori Ujian Klasik ....................................................................... 7

2.4.1 Tingkat Kesukaran ............................................................................................... 8

2.4.2 Daya Beda .......................................................................................................... 13

2.4.3 Analisis Pengecoh .............................................................................................. 17

BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 19

3.1 Kesimpulan................................................................................................................ 19

3.2 Saran .......................................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 20

3|ANALISIS BUTIR TES


BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan, penilaian merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari proses belajar mengajar. Sistem penilaian yang baik akan
mendorong guru menggunakan strategi mengajar yang lebih baik dan
memotivasi anak untuk belajar lebih giat. Penilaian biasanya dimulai dengan
kegiatan pengukuran. Pengukuran (measurement) merupakan cabang ilmu
statistika terapan yang bertujuan untuk membangun dasar-dasar pengembangan
tes yang lebih baik sehingga menghasilkan tes yang berfungsi secara optimal,
valid, dan reliabel.

Proses belajar mengajar dilaksanakan tidak hanya untuk kesenangan atau


bersifat mekanis saja tetapi mempunyai misi atau tujuan bersama. Dalam usaha
untuk mencapai misi dan tujuan itu perlu diketahui apakah usaha yang dilakukan
sudah sesuai dengan tujuan? Untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah
tercapai perlu diadakan tes. Sebuah tes yang dapat baik sebagai alat pengukur
harus dianalisis terlebih dahulu. Dalam menganalisis butir soal dalam tes harus
memperhatikan daya serap, tingkat kesukaran, daya beda, fungsi pengecoh. Hal
tersebut dilakukan agar tes yang diberikan kepada siswa sesuai dengan daya
serap siswa, tingkat kesukarannya, dan soal yang diberikan pun harus valid.
Sehingga, tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini, yaitu:

a. Mendeskripsikan pengertian analisis butir tes.


b. Mengetahui cara menghitung indeks kesukaran butir tes.
c. Mengetahui cara menghitung indeks daya beda butir tes.
d. Menganalisis keefektifan jawaban pengecoh.

1.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan tujuan penyusunan makalah maka rumusan masalah dari makalah ini adalah
sebagai berikut :

a. Apakah yang dimaksud dengan analisis butir tes ?

4|ANALISIS BUTIR TES


b. Bagaimana cara menghitung indeks kesukaran butir tes ?
c. Bagaimana cara menghitung indeks daya beda butir tes ?
d. Bagaimana cara menganalisis keefektifan jawaban pengecoh ?

5|ANALISIS BUTIR TES


BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN


2. 1 Pengertian Analisis Butir Tes
Analisis butir tes adalah suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan
informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun.

Item analisis merupakan bagian integral dari validitas dan reliabilitas sebuah tes,
dan item analisis ini dilakukan oleh seorang evaluator, biasanya sesudah semua item yang
telah diberikan pada siswa dikembalikan, dan skornya sudah ditentukan. Disamping itu,
ketika seorang guru hendak melakukan analisis item suatu tes, sebaiknya ia memerhatikan
apakah tes yang hendak dianalisis direncanakan mengacu pada bentuk tes normatif( norm
referenced test ) atau pada bentuk kriterion ( criterion referenced mastery test ). Perhatian
terhadap acuan dengan melihat apakah mengacu pada acuan normatif atau acuan kriterion,
karena analisis item yang digunakan dalam normatif pada prinsipnya tidak secara langsung
dapat dipakai pada tes yang berbentuk kriterion ( criterion referenced mastery test ). Hal
ini dikarenakan pada tes kriterion ini direncanakan untuk mendeskripsikan kemampuan
siswa sebagai konsekuensi hasil belajar bisa ditampilkan. Pada tes yang berbentuk
kriterion, indeks kesulitan dan indeks pembeda tidak terlalu bermanfaat. Hal ini berbeda
dengan tes normatif yang berusaha menentukan posisi atau rangking siswa dengan siswa
lainnya dalam satu grup kelas yang sama. Item analisis merupakan suatu hal yang
diperlukan kehadirannya.
Menurut Thorndike dan Hagen ( 1977 ) , analisis tehadap soal-soal ( items ) tes
yang telah dijawab oleh murid-murid mempunyai dua tujuan penting. Pertama, jawaban-
jawaban soal itu merupakan informasi diagnostik untuk meneliti pelajaran dari kelas itu
dan kegagalan-kegagalan belajarnya, serta selanjutnya untuk membimbing ke arah cara
belajar yang lebih baik. Kedua, jawaban-jawaban terhadap soal-soal yang terpisah dan
perbaikan ( review ) soal-soal yang didasarkan atas jawaban-jawaban itu merupakan basis
bagi penyiapan tes-tes yang lebih baik untuk ditahun berikutnya. Jadi tujuan khusus dari
item analysis ialah mencari soal tes mana yang baik dan mana yang tidak baik. Dengan
mengetahui soal-soal yang tidak baik itu selanjutnya kita dapat mencari kemungkinan
sebab-sebab mengapa item itu tidak baik. Dengan membuat analisis soal, sedikitnya kita
dapat mengetahui tiga hal penting yang dapat diperoleh dari tiap soal, yaitu :

a. Sampai dimana tingkat atau taraf kesukaran soal itu ( difficulty level of an item ).

6|ANALISIS BUTIR TES


b. Apakah soal itu mempunyai daya pembeda ( discriminating power ) sehingga dapat
membedakan kelompok siswa yang pandai dengan kelompok siswa yang bodoh.
c. Apakah semua alternatif jawaban ( options ) menarik jawaban-jawaban, ataukah
ada yang demikian tidak menarik sehingga tidak perlu dimasukkan kedalam soal.

2.2 Tujuan Analisis Butir Tes


Analisis butir tes dilakukan dengan tujuan mencari butir tes yang berkualitas untuk
diguankan sebagai perangkat ukur hasil belajar atau instrumen penelitian dalam bidang
kognitif. Disamping itu analisis butir juga digunakan untuk menemukan butir mana yang
menyebabkan reliabilitas pengukuran menjadi rendah. Melakukan uji coba, analisis butir
dapat digunakan untuk melakukan pembuangan, perbaikan, atau penggantian butir
sehingga alat ukur menjadi berkualitas.

Faedah mengadakan analisis soal yaitu :

1. Membantu kita dalam mengidentifikasi butir-butir soal yang jelek.


2. Memperoleh informasi yang akan dapat digunakan untuk menyempurnakan soal-
soal untuk kepentingan lebih lanjut.
3. Memperoleh gambaran secara selintas tentang keadaan yang kita susun.

2.3 Kelompok Peserta Tes


Kemampuan peserta tes ( M ) dapat dikelompokkan menjadi kelompok tinggi,
kelompok sedang, dan kelompok rendah. Dalam analisis butir, pengelompokkan ini
diperlukan. Pembagian kelompok berdasarkan skor kemampuan peserta tes dan ada
beberapa cara yang dapat digunakan, yaitu :

1. Kelompok tinggi ( Mt ) 50% dan kelompok rendah ( Mr ) 50%.


2. Kelompok tinggi ( Mt ) 33% dan kelompok rendah ( Mr ) 33% sisanya kelompok
sedang ( Ms ) 34%.
3. Kelompok tinggi ( Mt ) 27% dan kelompok rendah ( Mr ) 27% sisanya kelomopok
sedang (Ms ) 46%.
4. Kelompok tinggi ( Mt ) 20 % dan kelompok rendah ( Mr ) 20% dan sisanya
kelompok sedang ( Ms ) 60%.

2.4 Analisis Butir Pada Teori Ujian Klasik


Teori tes klasik adalah teori mengenai analisis butir tes dimana analisis dilakukan
dengan memperhitungkan kedudukan butir dalam suatu kelas atau kelompok ,Analisis

7|ANALISIS BUTIR TES


butir digunakan untuk menentukan kualitas butir pada suatu perangkat tes. Butir tes
berkualitas rendah akan menurunkan kualitas ujian. Analisis butir pada teori ujian klasik
terdiri atas tingkat kesukaran, daya beda, dan distraktor.

2.4.1 Tingkat Kesukaran


Tingkat kesukaran ( difficulty index ) adalah derajat kesukaran atau taraf
kesukaran butir dalam suatu tes bagi peserta dan dinyatakan dengan p ( proporsi ).
Dengan kalimat yang sederhana, tingkat kesukaran adalah seberapa sukar suatu butir
dijawab oleh peserta tes atau responden. Tingkat kesukaran butir tes merupakan
perbandingan antara peserta tes yang menjawab benar dan jumlah seluruh responden
yang menjawab butir tes. Secara teoritis, bahwa p adalah probabilitas empiris yang
dijawab benar oleh peserta tes pada suatu butir tes tertentu dibagi dengan jumlah
seluruh kelompok peserta tes. Besarnya nilai tingkat kesukaran berkisar 0,00 sampai
dengan 1,00 sesuai dengan proporsi. Pembagian tingkat kesukaran menurut
Witherington adalah :
Rentang Tingkat Kesukaran
0,00 ≤ 𝑝 ≤ 0,24 Sukar
0,25 ≤ 𝑝 ≤ 0,74 Sedang
0,75 ≤ 𝑝 ≤ 1,00 Mudah

P: 0,0
0,1
Sukar
0,2

0,3
0,4
0,5 Sedang
0,6
0,7

0,8 Mudah
0,9
1,0

8|ANALISIS BUTIR TES


Berikut ini akan dibahas analisis tingkat kesukaran butir dengan berbagai cara
yaitu sebagai berikut :

a. Analisis Tingkat Kesukaran


Analisis tingkat kesukaran merupakan teknik analisis tingkat kesukaran butir
tes berdasarkan kelompok atau skor yang diperoleh pada sekelompok peserta tes
tertentu. Ada beberapa cara penghitungan yang dapat digunakan untuk analsis
tingkat kesukaran butir, antara lain :
1) Proporsi sederhana jawaban benar (p);
2) Proporsi dengan pinalti;
3) Skala linier;
4) Indeks davis;
5) Skala delta.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, penghitungan tingkat


kesukaran butir tes akan disajikan satu per satu sebagai berikut .

1) Proporsi sederhana jawaban benar (p)


Teknik analisis tingkat kesukaran butir tes berdasarkan pada proporsi
jawaban benar (p) yang diberikan oleh peserta tes dan proporsi jawaban salah
(q). Penghitungan tingkat kesukaran mempergunakan proporsi dilakukan
dengan menghitung butir tes yang dijawab benar oleh peserta tes dibagi dengan
jumlah seluruh peserta tes atau responden. Penghitungan tingkat kesukaran
dengan proporsi sederhana ini dibagi menjadi dua, yaitu proporsi seluruh
kelompok dan kelompok tinggi – rendah.
a) Seluruh Kelompok
Tingkat kesukaran suatu butir tes ditentukan berdasarkan pembagian jumlah
butir yang dijawab benar dengan jumlah seluruh peserta tes. Rumus
penghitungan tingkat kesukaran adalah :
𝑓𝑖 (𝑥 = 1)
𝑝𝑖 =
𝑀
Keterangan :

𝑓𝑖 = Peserta yang menjawab benar

𝑝𝑖 = taraf kesukaran butir tes ke – i

𝑀 = jumlah peserta
9|ANALISIS BUTIR TES
b) Kelompok Tinggi – Rendah
Penghitungan tingkat kesukaran pada cara ini langkah yang pertama adalah
membagi peserta yang menjawab benar suatu butir tes menjadi dua bagian,
yaitu kelompok tinggi dan kelompok rendah. Rumus penghitungan tingkat
kesukaran (p) adalah :
𝑝𝑖 = 0,5(𝑝𝑇𝑖 + 𝑝𝑅𝑖 )
𝑓𝑖 (𝑥 = 1)
𝑝𝑇𝑖 =
𝑀
Keterangan :

𝑓𝑖 = Peserta yang menjawab benar

𝑝𝑇𝑖 = taraf kesukaran butir tes untuk kelompok tinggi ke – i


𝑀 = jumlah peserta tes
𝑓𝑖 (𝑥 = 1)
𝑝𝑅𝑖 =
𝑀
Keterangan :

𝑓𝑖 = Peserta yang menjawab benar

𝑝𝑅𝑖 = taraf kesukaran butir tes untuk kelompok rendah ke – i


𝑀 = jumlah peserta tes
2) Proporsi dengan Penalti (Hukuman)
Penghitungan tingkat kesukaran proporsi dengan penalti memiliki perbedaan
dengan proporsi sederhana terletak pada jumlah jawaban, yaitu penalti bagi
mereka yang salah menjawab dan tidak ada pinalti bagi mereka yang tidak
menjawab. Oleh karena itu, dalam penghitungan ini terdapat tiga kelompok
peserta, yaitu mereka yang menjawab benar, menjawab salah, dan tidak
menjawab.
a) Seluruh Kelompok
Adapun rumus penalti dan proporsi tingkat kesukaran adalah :
1
Jawaban salah, kena penalti sebesar = 𝑘−1
1 𝑓𝑠
𝑝𝑖 = (𝑓𝑏 − )
𝑀 − 𝑀𝑔 𝑘−1
𝑞𝑖 = 1 − 𝑝
Keterangan :

10 | A N A L I S I S B U T I R T E S
K = jumlah pilihan jawaban
M = jumlah peserta tes
𝑀𝑔 = peserta tidak menjawab
𝑓𝑏 = frekuensi jawaban benar
𝑓𝑠 = frekuensi jawaban salah
𝑝𝑖 = proporsi jawaban benar
𝑞𝑖 = proporsi jawaban salah
b) Kelompok Tinggi – Rendah
Penghitungan tingkat kesukaran cara ini, langkah pertama adalah membagi
peserta yang menjawab benar suatu butir tes menjadi dua bagian, yaitu
kelompok tinggi dan kelompok rendah. Langkah kedua, menghitung proporsi
tingkat kesukaran butir. Rumus untuk penghitungan proporsi penalti tingkat
kesukaran (p) kelompok tinggi – rendah adalah :
Kelompok Tinggi :
1 𝑓𝑠
𝑝𝑅𝑖 = (𝑓𝑏 − )
𝑀 − 𝑀𝑔 𝑘−1
Kelompok Rendah :
1 𝑓𝑠
𝑝𝑅𝑖 = (𝑓𝑏 − )
𝑀 − 𝑀𝑔 𝑘−1
Proporsi tingkat kesukaran :
𝑝𝑖 = 0,5(𝑝𝑇𝑖 + 𝑝𝑅𝑖 )
3) Skala Linear
Penghitungan tingkat kesukaran butir tes pada teknik ini dengan
mentransformasikan nilai p menjadi nilai z dan menggunakan tabel distribusi
normal. Nilai p yang diperoleh dikoreksi sehingga menjadi pb dengan rumus :
𝑎𝑝 − 1
𝑝𝑏𝑖 =
𝑎−1
Keterangan :
P = jumlah yang menjawab benar butir ke – i
𝑝𝑏𝑖 = p terkoreksi pada butir ke – i
a = jumlah pilihan jawaban
4) Tingkat Kesukaran dengan Indeks Davis
Penghitungan tingkat kesukaran dengan skala linier ada kemungkinan diperoleh
hasil bertanda negatif sehingga menyulitkan dalam mengambil kesimpulan.

11 | A N A L I S I S B U T I R T E S
Untuk mengatasi kesulitan tersebut, digunakan Indeks Davis yang mengacu
pada tabel probabilitas normal baku dengan rumus :
𝐷 = 21,063 𝑧 + 50
Untuk memperoleh nilai D secara cepat dapat dilakukan dengan melihat tabel
khusus yang disediakan. Tingkat kesukaran suatu butir tes mencapai maksimum
jika terdapat kecocokan di antara kemampuan (ability) responden dengan
tingkat kesukaran butir tes, yaitu :
Tingkat kesukaran maksimum : 𝑝 = 𝑞 = 0,5
Pada tes yang berbentuk pilihan ganda, ada dua macam kemungkinan, yaitu 0,5
kemungkinan dijawab salah dan 0,5 kemungkinan dijawab benar karena
terkaan. Jumlah pilihan (n) atau alternatif jawaban dapat dihitung tingkat
kesukaran maksimum suatu tes, hasilnya tampak pad tabel berikut :
Jumlah Opsi dan tingkat Kesukaran Maksimum
Jumlah Pilihan Jawaban Tingkat Kesukaran
Maksimum
2 0,5+0,250=0,750
3 0,5+0,167=0,667
4 0,5+0,125=0,625
5 0,5+0,100=0,600

5) Tingkat Kesukaran dengan Skla delta


Penghitugan tingkat kesukaran butir tes skala delta berdasarkan proporsi
sederhana yang selanjutnya hasil penghitungan ditransformasikan ke distribusi
probabilitas normal baku (tabel z) dengan menggunakan tabel. Nilai z
digunakan sebagai indeks tingkat kesukaran butir akan identik dengan
probabilitas menjawab butir tes, maka semakin banyak yang menjawab benar
suatu butir tes, maka semakin besar nilai z atau semakin kekiri posisi nilai z dan
butir tes semakin mudah dan berlaku juga untuk kebalikannya. Untuk
menghindarkan nilai minus dan melebarkan bentangan, maka diperbesar dengan
mengalikan 4z sehingga membentang dari -12 hingga +12 dan digeser sejauh 13
satuan ke kanan. Dengan demikian, tingkat kesukaran butir tes bernilai positif,
skala baru ini dinamakan dengan skala delta (Δ) sehingga skalanya menjadi :
Δ = 13 + 4z

12 | A N A L I S I S B U T I R T E S
Bentagan skala delta dari 1 sampai 25, dengan nilai tengah (median) sebesar 13,
sedangkan nilai z membentang dari -3 hingga +3.

2.4.2 Daya Beda


Daya beda (D) butir tes adalah kemampuan butir tes untuk mengetahui
seberapa besar suatu butir tes dapat membedakan (diskriminasi) antara peserta tes
yang berkemampuan tinggi dengan peserta tes yang berkemampuan rendah. Daya
beda dapat diketahui melalui besar kecilnya angka indeks diskriminasi dari setiap
butir tes. Adapun pembagian daya beda menurut Ebel, Robert (1979:267) sebagai
berikut :

Pembagian daya beda butir

Indeks Daya Beda Keterangan


0,70 ≤ 𝐷 ≤ 1,0 Butir memiliki daya beda baik sekali
0,40 ≤ 𝐷 ≤ 0,69 Butir memiliki daya beda cukup baik
0,30 ≤ 𝐷 ≤ 0,39 Butir memerlukan revisi sedikit atau tidak
0,20 ≤ 𝐷 ≤ 0,29 Butir memerlukan revisi atau disisihkan
0,00 ≤ 𝐷 ≤ 0,19 Butir direvisi total atau disisihkan

Penghitungan daya beda suatu butir tes dapat dilakukan dengan berbagi cara,
yaitu sebagai berikut :

a. Analisis Daya Beda


Penghitungan daya beda dilakukan dengan cara membagi kelompok menjadi dua
bagian, yaitu sebagian kelompok tinggi dan sebagian kelompok rendah.
Pembagian kelompok tinggi dan rendah disarankan adalah 27% karena hasilnya
lebih teliti dibandingkan 50% atau yang lainnya. Adapun teknik penghitungannya
sebagai berikut.
1) Penghitungan daya beda dengan kelompok tinggi – rendah cara 1
Penghitungan dilakukan dengan menggunakan rumus :
𝑓𝑇𝑖 (𝑥 = 1) 𝑓𝑅𝑖 (𝑥 = 1)
𝐷𝑖 = −
𝑀𝑇 𝑀𝑅
Keterangan :
𝑓𝑇𝑖 = frekuensi yang menjawab benar butir tes ke – i untuk kelompok tinggi
𝑓𝑅𝑖 = frekuensi yang menjawab benar butir tes ke – i untuk kelompok rendah

13 | A N A L I S I S B U T I R T E S
𝑀𝑇 = jumlah seluruh peserta kelompok tinggi
𝑀𝑅 = jumlah seluruh peserta kelompok rendah
2) Penghitungan daya beda dengan kelompok tinggi – rendah cara 2
Penghitungan dilakukan dengan menggunakan rumus :
𝑓𝑇𝑖 (𝑥 = 1)
𝐷𝑖 =
𝑓𝑇𝑖 (𝑥 = 1) + 𝑓𝑅𝑖 (𝑥 = 1)
3) Penghitungan daya beda dengan kelompok tinggi – rendah cara 3
Penghitungan dilakukan dengan menggunakan rumus :
𝑓𝑇𝑖 (𝑥 = 1) − 𝑓𝑅𝑖 (𝑥 = 1)
𝐷𝑖 =
1
2 (𝑀𝑇 + 𝑀𝑅 )
Karena 𝑀𝑇 = 𝑀𝑅 , maka ½ (𝑀𝑇 + 𝑀𝑅 ) = 𝑀𝑇 = 𝑀𝑅 , dengan demikian maka
indeks daya beda jenis pertama sama dengan indeks daya beda jenis ketiga.
4) Penghitungan daya beda dengan rumus Chi – Kuadrat
Penghitungan dilakukan dengan menggunakan rumus :
a) 𝑓𝐵𝑖 positif, maka rumus :
𝑓𝐵𝑖 − 1
𝑥2 =
𝑓
√𝑓𝐵𝑖 (1 − 𝑀 −𝐵𝑖𝑀 )
𝑔

b) 𝑓𝐵𝑖 negatif, maka rumus :

𝑓𝐵𝑖 + 1
𝑥2 =
𝑓
√𝑓𝐵𝑖 (1 − 𝑀 −𝐵𝑖𝑀 )
𝑔

Keterangan :
𝑓𝐵𝑖 = 𝑓𝑇𝑖 (𝑥 = 1) − 𝑓𝑅𝑖 (𝑥 = 1)
𝑀 = banyaknya peserta
𝑀𝑔 = banyaknya peserta yang tidak menjawab
5) Penghitungan daya beda dengan koefisien korelasi butir – total dan
koefisien biserial titik
Korelasi butir – total merupakan korelasi yang didasarkan pada skor
butir dan skor total atau skor responden untuk semua butir yang dijawab benar.
Koefisien korelasi akan bertanda positif tinggi jika skor butir tinggi
berpasangan dengan total skor tinggi. Sebaliknya, skor yang satu tinggi dan

14 | A N A L I S I S B U T I R T E S
yang lainnya rendah, maka korelasi akan bertanda negatif. Skor yang tinggi
pada suatu butir tes berpasangan dengan skor total yang tinggi, dan skor rendah
berpasangan dengan skor total yang rendah.dalam perhitungan korelasi butir,
pasangan yang demikian menunjukkan butir memiliki daya untuk
membedakan responden yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan
rendah.
Pada korelasi butir total diperoleh nilai koefisien korelasi tinggi jika skor
X tinggi berpasangan dengan A tinggi dan X rendah berpasangan dengan A
rendah, ini berarti daya beda tinggi.
Peserta Butir Total
12345.....i.....N
1 𝑋𝑖1 𝐴1
2 𝑋𝑖2 𝐴2
3 𝑋𝑖3 𝐴3
4 𝑋𝑖4 𝐴4
. . .
M 𝑋𝑖𝑀 𝐴𝑀

Korelasi butir – total 𝑝𝑖𝐴

Penghitungan korelasi butir total untuk data dengan skor politomi


menggunakan koefisien korelasi butir total linier profuct moment dari pearson.
Rumus korelasi butir – total adalah :

𝑀 ∑ 𝑋𝑖 𝐴 − ∑ 𝑋𝑖 ∑ 𝐴
𝜌𝑋𝑖𝐴 =
√{𝑀 ∑ 𝑋𝑖2 − (∑ 𝑋𝑖 )2 }{𝑀 ∑ 𝐴2 − (∑ 𝐴)2 }

Penghitungan korelasi butir total untuk data dengan skor dikotomi


menggunakan koefien korelasi biserial titik. Penghitungan daya beda
mempergunakan rumus koefisien korelasi point biserial menurut Thorndike L
(1982:71) adalah :

15 | A N A L I S I S B U T I R T E S
𝜇𝑝𝑖 − 𝜇𝑞𝑖
𝜌𝑝𝑏𝑖𝑠 = √𝑝𝑖 𝑞𝑖
𝜎𝑡

Keterangan :

𝜇𝑝𝑖 = rata – rata skor total responden yang menjawab benar

𝜇𝑞𝑖 = rata – rata skor total responden yang menjawab salah

𝜎𝑡 = simpangan baku skor total semua responden

𝑝𝑖 = proporsi jawaban benar butir tes tertentu

𝑞𝑖 = proporsi jawaban salah butir tes tertentu

𝜌𝑝𝑏𝑖𝑠 = koefisien korelasi biserial

Penggunaan skor untuk penghitungan daya beda dengan menggunakan


rumus korelasi butir – total ada beberapa kritik dari para ahli sehingga perlu
dilakukan koreksi. Berdasarkan kritik tersebut, perlu adanya koreksi terhadap r
(rho) yang disebut 𝜌𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 . Adapun cara yang digunakan, yaitu melakukan
pengurangan terhadap skor total dengan skor butir tes tersebut atau skor butir
dikeluarkan dari skor total ( A - Xi ). Dengan demikian, terjadilah korelasi antara
skor butir dan skor sisa bukan lagi dengan skor total.

Responden Butir Jumlah A Sisa A – Butir


123....i
1 𝑋1 𝐴1 𝐴1 − 𝑋1
2 𝑋2 𝐴2 𝐴2 − 𝑋2
3 𝑋3 𝐴2 𝐴3 − 𝑋3
...
M 𝑋𝑀 𝐴𝑀 𝐴𝑀 − 𝑋𝑀

Penghitungan yang digunakan dalam melakukan koreksi terhadap harga


korelasi butir – sisa dilakukan oleh Hwnryson dengan rumus sebagai berikut :

𝑁 𝜌𝑏𝑖𝑠 𝜎𝐴 −√𝑝𝑖 𝑞𝑖
𝜌𝑝𝑏𝑖𝑠 𝑘 = √𝑁−1
2 −∑ 𝑝 𝑞
√𝜎𝐴 𝑖 𝑖

16 | A N A L I S I S B U T I R T E S
b. Analisis Daya Beda Acuan Kriteria
Untuk menghitung daya beda acuan kriteria ada beberapa cara antara lain :
1) Pre – tes dan Post – tes
Prosedur yang digunakan dalam penghitungan daya beda, yaitu mengurangkan
hasil perbandingan jawaban benar suatu butir tes dengan jumlah seluruh
responden hasil pre – tes dengan post – tes.
𝑃𝑠 (𝑓𝑥𝑖 = 1) 𝑃𝑎 (𝑓𝑥𝑖 = 1)
𝐷= −
𝑀 𝑀
Keterangan :
𝑃𝑠 (𝑓𝑥𝑖 = 1) = jumlah jawaban benar post – tes
𝑃𝑎 (𝑓𝑥𝑖 = 1) = jumlah jawaban benar pre – tes
𝑀 = jumlah responden
2) Indeks Perbedaan Tuntas dan Tak Tuntas dari Brennan
Penghitungan daya beda yang dikemukakan Brennan didasarkan pada hasil
perbandingan dari dua kombinasi ( benar – tuntas ) dengan penjumlahan dua
kombinasi, yaitu benar – tuntas dan salah – tuntas dikurangi dengan hasil
perbandingan dari dua kombinasi ( benar – tak tuntas ) dengan penjumlahan
dua kombinasi, yaitu benar – tak tuntas dan salah – tak tuntas.
Ujian
Tak tuntas Tuntas
butir Benar a b
Salah c d

𝑏 𝑎
𝐷= −
𝑏+𝑑 𝑎+𝑐

2.4.3 Analisis Pengecoh


Analisis pengecoh atau distraktor tujuannya adalah mengetahui kemampuan
responden yang sebenarnya dengan jalan memberikan pilihan alternatif yang
memungkinkan untuk dipilih, terutama bagi responden yang tidak memahami butir
tes tersebut. Butir tes yang berbentuk pilihan ganda hanya ada satu pilihan jawaban
yang benar dan pilihan jawaban lainnya digunakan untuk pengecoh. Pilihan jawaban
yang terbaik sebagai pengecoh adalah pilihan jawaban dalam suatu butir tes
memiliki kemiripan atau kesetaraan antara yang satu dan lainnya. Tujuan
dilakukannya analisis pengecoh atau distraktor pada tes pilihan ganda adaah

17 | A N A L I S I S B U T I R T E S
mengetahui apakah semua pilihan jawaban telah dipilih oleh peserta tes. Jika
terdapat pengecoh yang tidak dipilih oleh peserta tes, maka pengecoh tersebut tidak
efektif atau keberadaan pengecoh tidak ada fungsinya.

Keberadaan pengecoh digunakan untuk menjebak terutama bagi mereka


yang berkemampuan rendah untuk memilih jawaban yang salah. Adapun yang
berkemampuan tinggi tidak terkecoh oleh pilihan jawaban yang salah. Disamping
itu, keberadaan pengecoh pada tes pilihan ganda bertujuan untuk mencegah peserta
tes melakukan tebakan, terutama untuk tes yang menggunakan hukuman berupa
pengurangan skor. Ada bebarapa cara penghitungan yang dapat digunakan untuk
mengecek keberfungsian pengecoh, antara lain sebagai berikut :

1) Analisis Pengecoh ( Distraktor ) Proporsi Persentasi


Distraktor berjalan dengan baik jika dapat menggiring peserta tes untuk memilih
atau sekurang – kurangnya telah dipilih oleh peserta minimal 5% dari jumlah
keseluruhan peserta tes. Teknik yang dilakukan melalui penghitungan proporsi
dengan rumus :
𝑓𝑥𝑖
𝜌𝑥𝑖 = 𝑥 100%
𝑀

Keterangan :
M = jumlah responden
𝜌𝑥𝑖 = proporsi masing – masing pilihan jawaban suatu butir tes
𝑓𝑥𝑖 = frekuensi masing – masing pilihan jawaban suatu butir tes

18 | A N A L I S I S B U T I R T E S
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Analisis butir tes adalah suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan
informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun. Teori tes klasik
adalah teori mengenai analisis butir tes dimana analisis dilakukan dengan
memperhitungkan kedudukan butir dalam suatu kelas atau kelompok ,Analisis butir
digunakan untuk menentukan kualitas butir pada suatu perangkat tes. Butir tes berkualitas
rendah akan menurunkan kualitas ujian. Analisis butir pada teori ujian klasik terdiri atas
tingkat kesukaran, daya beda, dan distraktor.

o Tingkat kesukaran adalah seberapa sukar suatu butir dijawab oleh peserta tes
atau responden. Tingkat kesukaran butir tes merupakan perbandingan antara
peserta tes yang menjawab benar dan jumlah seluruh responden yang menjawab
butir tes. Tingkat kesukaran butir tes dapat dihitung dengan berbagai rumus.
o Daya beda (D) butir tes adalah kemampuan butir tes untuk mengetahui seberapa
besar suatu butir tes dapat membedakan (diskriminasi) antara peserta tes yang
berkemampuan tinggi dengan peserta tes yang berkemampuan rendah. Daya
beda dapat diketahui melalui besar kecilnya angka indeks diskriminasi dari
setiap butir tes.
o Analisis pengecoh atau distraktor tujuannya adalah mengetahui kemampuan
responden yang sebenarnya dengan jalan memberikan pilihan alternatif yang
memungkinkan untuk dipilih, terutama bagi responden yang tidak memahami
butir tes tersebut.

3.2 Saran
Dengan dibuat makalah ini semoga pembaca lebih memahami tentang analisis butir
tes dalam pembelajaran matematika khususnya mampu mendeskripsikan pengertian
analisis butir tes, mengetahui cara menghitung indeks kesukaran butir tes, mengetahui cara
menghitung indeks daya beda butir tes, menganalisis keefektifan jawaban pengecoh.
Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penulis meminta saran yang membangun demi tercapainya kesempurnaan dalam
makalah singkat ini

19 | A N A L I S I S B U T I R T E S
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2013. DASAR – DASAR EVALUASI PENDIDIKAN Edisi Kedua.
Jakarta : Bumi Aksara.

Daryanto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Sukardi, H. M. 2010. Evaluasi Pendidikan :Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta ; Bumi Aksara

Muliani, T, Dina H . 2016. Pengembangan Instrumen Tes Geometri dan Pengukuran pada
jenjang SMP. Jurnal Pendidikan Matematika. No(2).Vol(2). Hal. 2442-3041.

20 | A N A L I S I S B U T I R T E S
ANGGOTA KELOMPOK 2

WINDA FEBRI YANTI WINDA ANGGRAINI


( 4161111082 ) ( 4161111081 )

SULAIMAH YUSRA DEBY BORA BR GINTING


( 4161111072 ) ( 4162111018 )

ADI PUTRA NUGRAHA MUHAMMAD WAHYU YAZIM


(4163111004 ) ( 4161111047 )

21 | A N A L I S I S B U T I R T E S

Anda mungkin juga menyukai