Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ketahuilah di seluruh dunia terdapat lebih dari 1,3 juta kasus baru
kanker paru, yang merupakan stadium lanjutan dari tumor paru dan
bronkus. Ini menyebabkan 1,1 juta kematian tiap tahunnya. Dari jumlah
insiden dan prevalensi di dunia, kawasan Asia, Australia, dan Timur Jauh
berada pada tingkat pertama dengan estimasi kasus lebih dari 670 ribu
dengan angka kematian mencapai lebih dari 580 ribu orang. Pada
umumnya tumor paru tersebut terbagi atas tumor jinak sekitar 5%, yaitu
jenis adenoma, hamartoma, fibroma serta tumor ganas sekitar 90%, yaitu
jenis karsinoma bronkogenik. 1
Di Negara maju seperti Amerika Serikat, kanker paru merupakan
kanker paling sering, setelah kanker prostat pada pria dan kanker payudara
pada wanita. American Cancer Society menyebutkan ada 221.220 kanker
pada paru dan bronkus akan didiagnosis di Amerika Serikat pada tahun
2014, dengan 158.040 kematian. Sekitar 85% dari kanker ini adalah jenis
NSCLC. Di Amerika Serikat, insiden kanker paru semakin menurun sejak
pertengahan tahun 1980-an. Di Inggris prevalensi kejadiannya mencapai
40.000/tahun, sedangkan Indonesia menduduki peringkat 4 kanker
terbanyak. Di RS Dharmais jakarta tahun 1998 menduduki peringkat
ketiga setelah kanker payudara dan rahim1,3,4.
Sampai saat ini kanker paru masih menjadi masalah besar di dunia
kedokteran. Kanker paru sulit terdeteksi dan tanpa gejala pada tahap awal.
Sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru sehingga
menyebabkan tumbuhnya tumor yang menghambat dan menghentikan
fungsi paru-paru sebagaimana mestinya. Besarnya ukuran paru-paru
menyebabkan kanker tumbuh bertahun-tahun tak terdeteksi dan tanpa

1
gejala. Penyakit ini baru bisa dideteksi setelah kanker mencapai stadium
lanjut. 3
Penegakan diagnosis penyakit ini membutuhkan ketrampilan dan
sarana yang tidak sederhana dan memerlukan pendekatan multidisiplin
kedokteran. Penyakit ini membutuhkan kerja sama yang erat dan terpadu
antara ahli paru dengan ahli radiologi, ahli patologi anatomi, ahli radiologi
terapi dan ahli bedah toraks, ahli rehabilitasi dan ahli-ahli lainnya.
Penentuan suatu Tumor benign atau suatu kanker ganas stadium awal
adalah penting sekali karena mempengaruhi prognosis atau kesembuhan
dari penderitanya. Penentuannya salah satunya dapat ditentukan
berdasarkan pemeriksaan penunjang, yaitu pemeriksaan radiologi selain
dari anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang lainnya1,3.
Maka dengan ini penemuan diagnosis dalam waktu yang lebih
cepat membantu penderita mendapatkan pengobatan atau penatalaksaan
segera sehingga memungkinkan penderita memperoleh kualitas hidup
yang lebih baik dalam perjalanan penyakitnya serta mencegah
progresifitas dari penyakit tersebut, meskipun tidak dapat
menyembuhkannya1.

B. Batasan Masalah
Referat ini akan membahas tentang Tumor Paru khususnya dari
segi gambaran radiologis (foto thoraks).

C. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Mengetahui tentang Tumor Paru dari definisi, epidemiologi, etiologi,
manifestasi klinis, penegakan diagnosa, dan pengobatannya.
b. Tujuan Khusus
Mengetahui gambaran radiologis (foto thoraks) pada Tumor Paru.

D. Metode Penulisan

2
Metode penulisan referat ini adalah tinjauan kepustakaan yang
merujuk pada berbagai literatur.

BAB II

3
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Pulmo (Paru)


Pulmo merupakan organ yang terletak di cavum thoraks. Masing-
masing pulmo memiliki puncak (apex), tiga permukaan (facies costalis,
facies mediastinalis, facies diaphragmatica) dan tiga tepi (margo anterior,
margo inferior, margo posterior). 6

Gambar 1.1. Pulmo

Apex pulmonalis ialah ujung cranial yang tumpul dan tertutup oleh
pleura servikalis. Apex pulmonalis dan pleura servikalis menonjol ke
cranial melalui apertura thoracis superior ke dalam pangkal leher. 5
Permukaan paru-paru. Masing-masing paru memiliki permukaan
berikut: 6
 Facies costalis, terhampar pada sternum, cartilage costalis dan
costa
 Facies mediastinalis, ke medial berhubungan dengan mediastinum
dan ke dorsal dengan sisi vertebra
 Facies diaphragmatica, bertumpu pada kubah diaphragma yang
cembung, cekungan terdalam terdapat pada paru-paru kanan,
karena letak kubah sebelah kanan lebih tinggi
Tepi paru-paru. Masing-masing paru memiliki tepi berikut:

4
 Margo anterior adalah tepi pertemuan facies costalis dengan facies
mediastinalis di sebelah ventral yang bertumpang pada jantung
 Margo inferior membentuk batas lingkar facies diaphragmatica
paru-paru dan memisahkan facies diaphragmatica dari facies
costalis dan facies mediastinalis
 Margo posterior ialah tepi pertemuan facies costalis dengan facies
mediastinalis di dorsal.

Gambar 1.2. Segmentasi pulmo

Gambar 1.3. Lobus dan fissure pulmo


Pembuluh darah dan saraf pulmo

5
Masing-masing pulmo memperoleh perdarahan dari satu
a.pulmonalis yang besar dan darah venosa disalurkan keluar melalui dua
v.pulmonalis. A. pulmonalis dextra dan a. pulmonalis sinistra berasal dari
satu truncus pulmonalis setinggi angulus sterni. 6
Saraf pulmo berasal dari plexus pulmonalis ventral dan dorsal dari
radix pulmonis dexter dan radix pulmonis sinister. 6

Gambar 1.4. Vaskularisasi pulmo

B. Tumor Pulmo (Paru)


a. Definisi
Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan
baru yang abnormal. Tumor jinak atau Noduler Paru biasanya tidak
menyebabkan suatu gejala atau tanda-tanda, biasanya ditemukan
secara kebetulan pada pemeriksaan foto toraks atau CT. Tumor ganas
(kanker paru) adalah penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel
paru yang tidak terkontrol. Jadi jika tidak diobati dan dibiarkan maka
pertumbuhan sel paru akan berkembang dan menyebar keluar dari
organ paru tersebut. Jaringan paru yang mengalami keganasan yaitu
mukosa bronkus (sel epitel, sel membrane basalis, sel kelenjar
bronkus), mukosa bronkiolus, sel alveolus dan jaringan paru lainnya2,4.
b. Epidemiologi

6
Prevalensi kanker paru di negara sangat maju sangat tinggi, di
Amerika tahun 2002 dilaporkan terdapat 169.400 kasus baru
(merupakan 13% dari semua kanker baru yang terdiagnosis) dengan
154.900 kematian (merupakan 28 % dari seluruh akibat kanker)3.
Ketahuilah dilaporkan juga bahwa sekitar 5% mengalami tumor
jinak, yaitu antara lain adenoma, hamartoma dan tumor ganas. Adapun
sekitar 90% mengalami tumor ganas, yaitu karsinoma bronkogenik.
Kanker paru (tumor ganas paru) adalah pembunuh nomor satu diantara
pria di USA. Adapun sekitar 70% pasien kanker paru mengalami
penyebaran (metastasis) secara limfatik regional dan tempat lain pada
saat didiagnosis3,6

c. Etiologi
Penyebab yang pasti dari pada kanker paru belum diketahui, tapi
paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat
karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya
faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik dan lain-lain1.

Dari beberapa kepustakaan telah dilaporkan bahwa etiologi


kanker paru sangat berhubungan dengan kebiasaan merokok. Merokok
merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru
pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Rokok mengandung lebih dari
4.000 zat kimia, dimana 50 jenisnya bersifat karsinogen dan beracun
sehingga semakin banyak rokok yang dihisap, semakin besar resiko
untuk menderita kanker paru-paru. Hanya sebagian kecil kanker paru-
paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang
disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja.5
Lombard dan Doering (1928), telah melaporkan tingginya insiden
kanker paru pada perokok dibandingkan dengan yang tidak merokok.
Terdapat hubungan antara rata-rata jumlah rokok yang dihisap per hari
dengan tingginya insiden kanker paru. Dikatakan bahwa, 1 dari 9
perokok berat akan menderita kanker paru. Hidrokarbon karsinogenik

7
telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan
pada kulit hewan, menimbulkan tumor.5,6
Laporan beberapa penelitian terakhir ini mengatakan bahwa
perokok pasif pun akan berisiko terkena kanker paru. Anak-anak yang
terpapar asap rokok selama 25 tahun pada usia dewasa akan terkena
risiko kanker paru dua kali lipat dibandingkan dengan yang tidak
terpapar, dan perempuan yang hidup dengan suami/pasangan perokok
juga terkena risiko kanker paru 2-3 kali lipat. Diperkirakan 25 %
kanker paru dari bukan perokok adalah berasal dari perokok pasif.5,3
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di
Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 %
meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan
radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen
etiologi operatif. Insiden yang tinggi juga terjadi pada pekerja yang
terpapar karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput).
Pekerja pemecah hematite dan orang–orang yang bekerja dengan
asbestos dan kromat juga mengalami peningkatan insiden. 5
Ketahuilah adapun kanker paru seperti adenokarsinoma dan
karsinoma sel alveolar terjadi pada orang yang paru-parunya telah
memiliki jaringan parut karena penyakit paru lainnya, seperti
tuberkulosis dan fibrosis.7

d. Patofisiologi
Berdasarkan etiologi atau penyebab tersebut, yang menyerang
percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan
deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya
pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia, hyperplasia
dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia,
hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasanya akan
timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan
korpus vertebra.7
Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus
yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus

8
dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala – gejala yang
timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.
Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi.7
Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya
menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru
dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe,
dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.7
e. Manifestasi Klinis
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukan
gejala-gejala klinis. Bila sudah menampakan gejala berarti pasien
dalam stadium lanjut.7
Keluhan utama dapat berupa:
 Batuk-batuk dengan / tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen)
sekitar 45%-75%
 Batuk darah 57%
 Sesak napas
 Suara serak
 Sakit dada
 Sulit / sakit menelan
 Benjolan di pangkal leher
 Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan
dengan rasa nyeri yang hebat.
Gejala-gejala dapat bersifat 6,7:
1. Lokal (tumor tumbuh setempat)
b. Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
c. Batuk darah
d. Mengi karena ada obstruksi saluran napas
e. Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
f. Atelektasis
2. Invasi lokal
a. Nyeri dada
b. Sesak karena cairan pada rongga pleura
c. Invasi ke perikardium  terjadi tamponade atau aritmia
d. Sindrom vena cara superior
e. Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
f. Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent
g. Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf
simpatis servikalis
3. Gejala Penyakit Metastasis
a. Pada otak, tulang, hati, adrenal

9
b. Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai
metastasis)
4. Sindrom Para neoplastik (10% pada Ca Paru), dengan gejala:
a. Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam
b. Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
c. Hipertrofi osteoartropati
d. Neurologik : dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
e. Neuromiopati
f. Endoktrin: sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
g. Dermatologik : eritema multiform, hyperkeratosis, jari tabuh
h. Renal: Syndrome of inappropriate andiuretic hormone (SIADH)
5. Asimtomatik dengan kelainan radiologi
o
Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang
terdeteksi secara radiologis
o
Kelainan berupa nodul soliter(7)

Tidak jarang yang pertama terlihat adalah gejala atau keluhan akibat
metastasis di luar paru, seperti kelainan yang timbul akibat kompresi hebat
di otak, pembesaran hepar, atau patah tulang kaki. Gejala dan keluhan
yang tidak khas, seperti:2,7
 Berat badan berkurang
 Nafsu makan hilang
 Demam hilang timbul
 Sindrom paraneoplastik, seperti “Hypertropic pulmonary
osteoartheopathy”, trombosis vena perifer dan neuropatia

f. Klasifikasi
Berdasarkan pertumbuhannya, tumor dibagi menjadi dua jenis yaitu : 2
1. Tumor jinak
Tumor jinak umumnya terlokalisir dan tidak menyebar ke bagian
tubuh yang lain. Tumor jenis ini mudah untuk dihilangkan atau
disembuhkan dengan tuntas. Contohnya:
a) Hamartroma
b) Kista paru
2. Tumor ganas atau lebih dikenal dengan sebutan kanker.
Tumor ganas (kanker) dapat tumbuh dan membesar dengan cepat,
bersifat merusak organ di sekitarnya serta dapat mengalami

10
metastase atau menyebar ke organ tubuh yang lain. Klasifikasi
menurut Leebow:2
a) Tumor ganas epithelial
I. Karsinoma bronkogen:
 Epidermoid (karsinoma sel skuamosa): 45-60%
 Adenokarsinoma: 15%
 Karsinoma anaplastik: 30%
 Campuran
II. Karsinoma bronkiolar
III. Adenoma bronkial
b) Sarkoma
c) Mixed epithelial and sarcomatous tumor (carcinoma)
d) Neoplasma asal sistem retikuloendotelial dalam paru
e) Metastasis pada paru
Berdasarkan level penyebarannya penyakit kanker paru-paru terbagi
dalam dua kriteria:4
1. Kanker paru primer
Memiliki 2 tipe utama, yaitu:
a. Small cell lung cancer (SCLC)
SCLC adalah jenis sel yang kecil-kecil (banyak) dan memiliki
daya pertumbuhan yang sangat cepat hingga membesar.
Biasanya disebut “oat cell carcinomas” (karsinoma sel
gandum). Tipe ini sangat erat kaitannya dengan perokok,
Penanganan cukup berespon baik melalui tindakan kemoterapi
dan radioterapi.7 Stadium (Stage) SCLC ada 2 yaitu4:
 Stage terbatas (limited) jika hanya melibatkan satu sisi paru
(hemitoraks)
 Stage luas (extensived) jika sudah meluas dari satu
hemitoraks atau menyebar ke organ lain
b. Non-small cell lung cancer (NSCLC).
NSCLC adalah merupakan pertumbuhan sel tunggal,
tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-
paru,7 mencakup adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa,
karsinoma sel besar (Large Cell Ca) dan karsinoma
adenoskuamosa.4
Stage NSLCLC dibagi atas : Stage 0, IA, IB, IIA, IIB,
IIIA, IIIB dan IV yang ditentukan menurut International Staging
System for Lung Cancer 1997, berdasarkan sistem TNM. 4

11
Stadium TNM

Occult carcinoma
Tx N0 M0
0
Tis N0 M0
IA
T1 N0 M0
IB
T2 N0 M0
IIA
T1 N1 M0
IIB
T2 N1 M0, T3 N0 M0
IIIA
T1 N2 M0, T2 N2 M0, T3 N1 M0, T3 N2 M0
berapapun T N3 M0, T4 berapapun N M0
IIIB
berapapun T berapapun N M1
IV

Tabel 1.1 Stadium Tumor Paru

Kategori TNM untuk Kanker Paru 4:


T : Tumor Primer
To : Tidak ada bukti ada tumor primer
Tx : Tumor primer sulit dinilai, atau tumor primer terbukti dari
penemuan sel tumor ganas pada sekret bronkopulmoner
tetapi tidak tampak secara radiologis atau bronkoskopis.
Tis : Karsinoma in situ
T1 : Tumor dengan garis tengah terbesar tidak melebihi 3 cm,
dikelilingi oleh jaringan paru atau pleura viseral dan secara
bronkoskopik invasi tidak lebih proksimal dari bronkus
lobus (belum sampai ke bronkus utama). Tumor sembarang
ukuran dengan komponen invasif terbatas pada dinding
bronkus yang meluas ke proksimal bronkus utama.
T2 :Setiap tumor dengan ukuran atau perluasan sebagai berikut: :
- Garis tengah terbesar lebih dari 3 cm
- Mengenai bronkus utama sejauh 2 cm atau lebih distal
dari karina, dapat mengenai pleura viseral
- Berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis
obstruktif yang meluas ke daerah hilus, tetapi belum
mengenai seluruh paru.

12
T3 : Tumor sembarang ukuran, dengan perluasan langsung pada
dinding dada (termasuk tumor sulkus superior), diafragma,
pleura mediastinum atau tumor dalam bronkus utama yang
jaraknya kurang dari 2 cm sebelah distal karina atau tumor
yang berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis
obstruktif seluruh paru.
T4 : Tumor sembarang ukuran yang mengenai mediastinum atau
jantung, pembuluh besar, trakea, esofagus, korpus vertebra,
karina, tumor yang disertai dengan efusi pleura ganas atau
tumor satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama dengan
tumor primer.
N : Kelenjar getah bening regional (KGB)
Nx : Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai
No : Tak terbukti keterlibatan kelenjar getah bening
N1 : Metastasis pada kelenjar getah bening peribronkial
dan/atau hilus ipsilateral, termasuk perluasan tumor secara
langsung
N2 : Metastasis pada kelenjar getah bening mediatinum
ipsilateral dan/atau KGB subkarina
N3 : Metastasis pada hilus atau mediastinum kontralateral atau
KGB skalenus/supraklavikula ipsilateral/kontralateral
M : Metastasis (anak sebar) jauh
Mx : Metastasis tak dapat dinilai
Mo : Tak ditemukan metastasis jauh
M1 : Ditemukan metastasis jauh. Nodul ipsilateral di luar lobus
tumor primer dianggap sebagai M1
2. Kanker paru sekunder
Merupakan penyakit kanker paru yang timbul sebagai dampak
penyebaran kanker dari bagian organ tubuh lainnya, yang paling
sering adalah kanker payudara dan kanker usus (perut). Kanker

13
menyebar melalui darah, sistem limpa atau karena kedekatan
organ.7

g. Diagnosis
1. Anamnesis
Sesuaikan atau cocokkan dengan manifestasi dari Ca Paru yang
dijelaskan sebelumnya6.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara menyeluruh dan teliti..
Tumor paru ukuran kecil dan terletak di perifer dapat memberikan
gambaran normal pada pemeriksaan. Tumor dengan ukuran besar,
terlebih bila disertai atelektasis sebagai akibat kompresi bronkus, efusi
pleura atau penekanan vena kava akan memberikan hasil yang lebih
informatif,2 pada 50% pasien NSCLC dan 25% pasien SCLC
didapatkan adanya sindrom vena cava.
Pemeriksaan ini juga dapat memberikan data untuk penentuan
stage kanker, seperti pembesaran KGB (kelenjar getah bening) atau
tumor diluar paru. Metastasis ke organ lain juga dapat dideteksi
dengan perabaan hepar, pemeriksaan funduskopi untuk mendeteksi
peninggian tekanan intrakranial dan terjadinya fraktur sebagai akibat
metastasis ke tulang. 6
3. Pemeriksaan Penunjang
I. Pemeriksaan Radiologi
Hasil pemeriksaan radiologis adalah salah satu pemeriksaan
penunjang yang mutlak dibutuhkan untuk menentukan lokasi
tumor primer dan metastasis, serta penentuan stadium penyakit
berdasarkan sistem TNM. Pemeriksaan radiologi paru yaitu foto
toraks PA/lateral. Adapun pemeriksaan lain yang dapat dilakukan,
yaitu pemeriksaan CT-scan toraks, bone scan, Bone survey, USG
abdomen dan Brain-CT dibutuhkan untuk menentukan letak
kelainan, ukuran tumor dan metastasis.2,6

II. Pemeriksaan Khusus


a. Bronkoskopi
Bronkoskopi adalah pemeriksan dengan tujuan diagnostik
sekaligus dapat dihandalkan untuk dapat mengambil jaringan atau

14
bahan agar dapat dipastikan ada tidaknya sel ganas. Pemeriksaan
ada tidaknya masa intrabronkus atau perubahan mukosa saluran
napas, seperti terlihat kelainan mukosa tumor misalnya,
berbenjol-benjol, hiperemis, atau stinosis infiltratif, mudah
berdarah. Tampakan yang abnormal sebaiknya di ikuti dengan
tindakan biopsi tumor/dinding bronkus, bilasan, sikatan atau
kerokan bronkus.6,7
b. Biopsi aspirasi jarum
Apabila biopsi tumor intrabronkial tidak dapat dilakukan,
misalnya karena amat mudah berdarah, atau apabila mukosa licin
berbenjol, maka sebaiknya dilakukan biopsi aspirasi jarum,
karena bilasan dan biopsi bronkus saja sering memberikan hasil
negatif.6,7
c. Transbronchial Needle Aspiration (TBNA)
TBNA di karina, atau trakea 1/1 bawah (2 cincin di atas karina)
pada posisi jam 1 bila tumor ada dikanan, akan memberikan
informasi ganda, yakni didapat bahan untuk sitologi dan
informasi metastasis KGB subkarina atau paratrakeal.6,7
d. Transbronchial Lung Biopsy (TBLB)
Jika lesi kecil dan lokasi agak di perifer serta ada sarana untuk
fluoroskopik maka biopsi paru lewat bronkus (TBLB) harus
dilakukan.2,7
e. Biopsi Transtorakal (Transthoraxic Biopsy, TTB)
Jika lesi terletak di perifer dan ukuran lebih dari 2 cm, TTB
dengan bantuan flouroscopic angiography. Namun jika lesi lebih
kecil dari 2 cm dan terletak di sentral dapat dilakukan TTB
dengan tuntunan CTscan.6
f. Biopsi lain
Biopsi jarum halus dapat dilakukan bila terdapat pembesaran
KGB atau teraba masa yang dapat terlihat superfisial. Biopsi
KBG harus dilakukan bila teraba pembesaran KGB
supraklavikula, leher atau aksila, apalagi bila diagnosis
sitologi/histologi tumor primer di paru belum diketahui. Biopsi
Daniels dianjurkan bila tidak jelas terlihat pembesaran KGB

15
suparaklavikula dan cara lain tidak menghasilkan informasi
tentang jenis sel kanker. Punksi dan biopsi pleura harus dilakukan
jika ada efusi pleura.7
g. Torakoskopi medik
Dengan tindakan ini massa tumor di bagaian perifer paru, pleura
viseralis, pleura parietal dan mediastinum dapat dilihat dan
dibiopsi.6
h. Sitologi sputum
Sitologi sputum adalah tindakan diagnostik yang paling mudah
dan murah. Kekurangan pemeriksaan ini terjadi bila tumor ada di
perifer, penderita batuk kering dan tehnik pengumpulan dan
pengambilan sputum yang tidak memenuhi syarat. Dengan
bantuan inhalasi NaCl 3% untuk merangsang pengeluaran sputum
dapat ditingkatkan. Semua bahan yang diambil dengan
pemeriksaan tersebut di atas harus dikirim ke laboratorium
Patologi Anatomik untuk pemeriksaan sitologi/histologi. Bahan
berupa cairan harus dikirim segera tanpa fiksasi, atau dibuat
sediaan apus, lalu difiksasi dengan alkohol absolut atau minimal
alkohol 90%. Semua bahan jaringan harus difiksasi
dalamformalin 4%.(2,6,7)
III. Pemeriksaan Invasif Lain
Pada kasus kasus yang rumit terkadang tindakan invasif seperti
Torakoskopi dan tindakan bedah mediastinoskopi, torakoskopi,
torakotomi eksplorasi dan biopsi paru terbuka dibutuhkan agar
diagnosis dapat ditegakkan. Tindakan ini merupakan pilihan
terakhir bila dari semua cara pemeriksaan yang telah dilakukan,
diagnosis histologis / patologis tidak dapat ditegakkan.6,7
Semua tindakan diagnosis untuk kanker paru diarahkan agar dapat
ditentukan :
1. Jenis histologis.
2. Derajat (staging).
3. Tampilan (tingkat tampil, "performance status").

Sehingga jenis pengobatan dapat dipilih sesuai dengan kondisi


penderita.(2)

16
h. Gambaran Radiologi
a. Foto toraks :
Pada pemeriksaan foto toraks PA/lateral akan dapat dilihat bila
masa tumor dengan ukuran tumor lebih dari 1 cm. Tanda yang
mendukung keganasan adalah tepi yang ireguler, disertai identasi
pleura, tumor satelit tumor, dll. Pada foto tumor juga dapat ditemukan
telah invasi ke dinding dada, efusi pleura, efusi perikar dan metastasis
intrapulmoner. Sedangkan keterlibatan KGB untuk menentukan agak
sulit ditentukan dengan foto toraks saja. 1
Kewaspadaan dokter terhadap kemungkinan kanker paru pada
seorang penderita penyakit paru dengan gambaran yang tidak khas
untuk keganasan penting diingatkan. Seorang penderita yang tergolong
dalam golongan resiko tinggi (GRT) dengan diagnosis penyakit paru,
harus disertai difollowup yang teliti. Pemberian OAT yang tidak
menunjukan perbaikan atau bahkan memburuk setelah 1 bulan harus
menyingkirkan kemungkinan kanker paru, tetapi lain masalahnya
pengobatan pneumonia yang tidak berhasil setelah pemberian
antibiotik selama 1 minggu juga harus menimbulkan dugaan
kemungkinan tumor dibalik pneumonia tersebut.1
Bila foto toraks menunjukkan gambaran efusi pleura yang luas
harus diikuti dengan pengosongan isi pleura dengan punksi berulang
atau pemasangan WSD dan ulangan foto toraks agar bila ada tumor
primer dapat diperlihatkan. Keganasan harus difikirkan bila cairan
bersifat produktif, dan/atau cairan serohemoragik. 1,2
b. CT-Scan toraks :
Tenik pencitraan ini dapat menentukan kelainan di paru secara lebih
baik daripada foto toraks. CT-scan dapat mendeteksi tumor dengan
ukuran lebih kecil dari 1 cm secara lebih tepat. Demikian juga tanda-
tanda proses keganasan juga tergambar secara lebih baik, bahkan bila

17
terdapat penekanan terhadap bronkus, tumor intra bronkial, atelektasis,
efusi pleura yang tidak masif dan telah terjadi invasi ke mediastinum
dan dinding dada meski tanpa gejala. Lebih jauh lagi dengan CT-scan,
keterlibatan KGB yang sangat berperan untuk menentukan stage juga
lebih baik karena pembesaran KGB (N1 s/d N3) dapat dideteksi.
Demikian juga ketelitiannya mendeteksi kemungkinan metastasis
intrapulmoner. 1,2
Berikut dibawah ini gambaran radiologi baik foto rongent thoraks
maupun CT Scan thoraks:

Gambar 1.5. Tumor paru

18
Gambar 1.6. Paru normal dan tumor paru

Berdasarkan pertumbuhannya tumor dibagi menjadi tumor jinak dan


tumor ganas:
Ketahuilah terlebih dahulu perbedaan tumor jinak dan tumor ganas.
Tumor jinak adalah pertumbuhan sel secara abnormal pada satu bagian
tubuh dan tidak menyebar atau menyerang bagian tubuh lainnya, dengan
ciri khas bentuknya bulat (regular), permukaan licin, batas tegas, dan
mobile (masih dapat digerakkan). Sedangkan tumor ganas atau yang
sering disebut dengan istilah kanker adalah pertumbuhan sel – sel
abnormal secara progresif atau tidak terkontrol dan menyerang jaringan
sekitarnya dengan cara masuk ke kelenjar (limfogen) dan masuk ke
pembuluh darah (hematogen) sampai akhirnya menyerbar ke bagian
tubuh lainnya (bermetastasis), dengan ciri khas bentuk irregular,
pemukaan kasar (berbenjol-benjol), batas tidak tegas dan tidak mobile
(tidak dapat digerakkan).1,6

1. Tumor Jinak ( Hermatoma)


Hamartoma merupakan tumor jinak paru yang pertambahan
besarnya berlangsung dengan sangat lambat. Tumor ini biasanya
sering terjadi pada umur diatas 40 tahun, Sebagian besar sekitar
90% ditemukan di prifer paru dan sebagian lagi di sentral

19
(endobrankial) dan sering juga multiple, yaitu terdapat di beberapa
bagian paru. Bentuk tumor bulat atau bergelombang (globulated)
dengan batas yang tegas. Biasanya ukuran kurang dari 4cm dan
sering mengandung kalsifikasi berbentuk bercak-bercak garis atau
gambaran pop corn.2

Gambar. 1.7. Posteroanterior ( PA ) rontgen dada pada seorang pria


menunjukkan lesi koin insidental di zona tengah yang tepat dengan
karakteristik popcorn kalsifikasi

2. Tumor Jinak Paru (Kista Paru)


Kista paru adalah pertumbuhan jaringan abnormal berupa
kantung (pocket, pouch) yang tumbuh abnormal di paru-paru. Kista
paru ini terbentuk dari hiperinflasi udara kedalam parenkim paru
melalui suatu celah berupa klep akibat suatu peradangan kronis.
Kista paru dapat disebabkan kelaianan kongenital maupun kelainan
yang didapat, yang tidak dapat dibedakan berdasarkan pemeriksaan
radiologi.2
Kista ada yang berisi udara, cairan, nanah, atau bahan-bahan
lain. Gambaran radiologik memberi bayangan bulat berdinding tipis

20
dengan ukuran bervariasi. Bila kista paru lebih dari satu dan tesebar
di kedua paru disebut penyakit paru polikistik.2

Gambar. 1.8. Photo thorax menunjukkan kista ukuran besar


berdinding tipis di lobus atas kiri (tanda panah)

3. Tumor Ganas Paru (Karsinoma Bronkogen)


Karsinoma bronkogenik merupakan tumor ganas paru yang berasal
dari bronkus. Karsinoma bronkogenik dibagi menjadi karsinoma sel
skuamosa, karsinoma sel kecil, adenokarsinoma, karsinoma sel besar,
dan gabungan adenokarsinoma dan epidermoid.2

Gambar 1.9. Karsinoma


bronkogen

21
Gambar (A) nodul soliter paru pada radiologi konvensional dan

Gambar (B) CT Scannya. Gambaran diatas menunjukkan adanya


nodul sebear 1,8 cm di lobus atas paru kanan (terlihat solid & sesuai
ditunjuk tanda pabah putih) ini pada pasien laki-laki usia 53 tahun
dengan keluhan batuk berdarah (hemoptisis). Pertanyaan klinis untuk
menjawab apakah nodul soliter paru tersebut jinak atau ganas.
Jawaban atas pertanyaan tergantung pada banyak faktor, termasuk
ukuran lesi & ketersediaan studi pencitraan sebelumnya yang sangat
membantu dalam menambah ilmu dari waktu ke waktu. Pada PET
Scan lesi ukuran kecil membatu menunjukkan apakah nodul
jianak/tidak. Biopsi pasien menunjukkan adanya adenocarcinoma
paru

4. Karsinoma Bronkogen (Karsinoma Epidermoid)


Karsinoma epidermoid (squamous cell ca) sekitar 45-60%. Penyakit
ini sering ditemukan terutama pada laki-laki dengan rasio 10-20
banding 1 dengan golongan umur terbanyak 60 tahun. Karsinoma
epidermoid dapat mengalami nekrosis dan membentuk kavitas serta
dapat menjalar atau metastasis melalui hematogen pada stadium
lanjut.2

Gambar 2.0. Rongent thoraks & CT Scan karsinoma epidermoid


(squamous cell ca)

5. Karsinoma Bronkogen (Adenokarsinoma)

Adenokarsinoma lebih sering ditemukan pada wanita dan letaknya


sering di perifer paru, kadang-kadang di sentral, perkembangan jenis

22
tumor ini cepat dan cepat bermetastasis melalui hematogen atau
limfogen.2

Gambar2.1. Adenokarsinoma

6. Karsinoma Bronkial (Adenoma Bronkial)


Karsinoma Bronkial digolongkan ke dalam tumor ganas karena
bermetastasis secara limfogen, tetapi prognosisnya lebih baik
dibanding tumor ganas paru lain meskipus pada operasi sudah
ditemukan metastasis ke kelenjar hilus. Penyakit ini sering ditemukan
pada umur yang relatif muda dan frekuensi pada wanita lebih sering
daripada laki-laki (five years survival rate 90% atau lebih).2

Gambar.2.2. Karsinoma bronkus sebelah kanan

23
Gambar2.3. Foto dada P.A. dan lateral dengan karsinoma bronkus
perifer besar di segmen posterior lobus atas kiri serta CT Scan
karsinoma bronkus di segmen posterior lobus kanan atas dengan
kavitasi besar

Berdasarkan penyebarannya tumor paru dibagi menjadi 2 kategori utama,


yaitu SCLC dan NSCLC. NSCLC berkisar antara 85% dari semua kanker
paru.1,2
a. Small Cell Lung Carcinoma (SCLC)

24
SCLC adalah jenis sel yang kecil-kecil (banyak) dan memiliki daya
pertumbuhan yang sangat cepat hingga membesar. Biasanya disebut “oat
cell carcinomas” (karsinoma sel gandum). Tipe ini sangat erat kaitannya
dengan perokok, Penanganan cukup berespon baik melalui tindakan
kemoterapi dan radioterapi.7 Stadium (Stage) SCLC ada 2 yaitu9:
 Stage terbatas (limited) jika hanya melibatkan satu sisi paru
(hemitoraks)
 Stage luas (extensived) jika sudah meluas dari satu hemitoraks atau
menyebar ke organ lain

b. Non Small Cell Lung Carcinoma (NSCLC)


NSCLC dibagi lagi menjadi adenokarsinoma dan SCC, dan karsinoma
sel besar.1,2,7
1. Adenokarsinoma: terbentuk dari kelenjar mukosa bronkus, adalah
kanker NSCLC yang paling sering di Amerika Serikat, dengan
presentasi 35-40% dari semua kanker paru. Tipe ini adalah subtipe
yang ditemukan lebih banyak pada orang yang tidak merokok, yang
biasanya terjadi pada lokasi perifer dari paru, pada beberapa kasus di
tempat yang dulunya memiliki jejas, atau inflamasi.
Karsinoma bronkoalveolar berasal dari pneumosit tipe II dan
bertumbuh sepanjang alveolar septa. Subtipe ini mungkin
bermanifestasi sebagai nodul perifer yang soliter, multifokal, atau
bentuk pneumonik yang berkembang cepat. Karakteristik yang
ditemukan pada pasien dengan penyakit yang sudah parah adalah
sputum yang cair dan banyak
2. Karsinoma sel skuamosa: terdiri dari 25-30% dari semua kasus
kanker paru. Kalau adenokarsinoma adalah di tempat yang perifer,
maka KSS ini ditemukan pada bagian sentral dari paru. Manifestasi
klasik adalah lesi kavitas pada bronkus proksimal. Tipe ini secara
histologis memiliki karakteristik adanya mutiara keratin dan dapat
dideteksi dengan uji sitologi karena memiliki kecenderungan untuk

25
mengelupas. Tipe ini adalah tipe yang paling sering berhubungan
dengan hiperkalsemia.
3. Karsinoma sel besar: sekitar 10-15% dari seluruh kasus kanker paru,
yang secara tipikal sebagai masa perifer yang besar pada rontgen
toraks. Secara histologis, ditemukan sel-sel yang atipik dengan
nekrosis fokal, dan tidak ditemukannya keratinisasi (seperti pada
KSS) atau pembentukan kelenjar (seperti pada adenokarsinoma).

Berikut dibawah ini garambaran radiologi NSCLC dan SCLC:

Gambar 2.4. Gambaran radiologis Non Small Cell Lung Carcinoma


(Tampak gambaran efusi pleura dan berkurangnya volume sekunder
dari NSCLC pada lobus basal paru kiri. Pemeriksaan pada cairan efusi
pleura didapatkan hasil maligna dan lesi tidak dapat dioperasi)

26
Gambar 2.5 NSCLC, kolaps pada puncak paru kiri yang hampir selalu
disebabkan oleh carcinoma endobronchial brokhogenik.

Gambar.2.6. NSCLC kolaps penuh pada paru kiri sekunder dari


carcinoma bronkhogenik pada bronkus utama kiri.

27
Gambar.2.7. Gambaran radiologis Small Cell Lung Carcinoma (SCLC). Tampak
gambaran opasitas pada paru bagian kiri atas. Juga tampak gambaran nodul pada
paru kanan bagian bawah yang diduga deposit metastasis. Peningkatan opasitas
pada paratracheal paru kanan yang mengindikasikan limfadenopathy. Efusi pleura
yang minimal dengan blunting sudut costiphrenicus.

Gambar.2.8. Tampak peningkatan opasitas pada hilus dan region peretracheal


kanan dengan penebalan garis paratracheal kanan. Pengurangan volume juga
terlihat pada lobus bawah paru kanan. SCLC sering muncul sebagai massa pada
hilus atau mediastinal.

28
Gambar 2.9. Tumor ganas paru

Gambar.3.0. Kanan :CT scan posisi mediastinal pria 68 tahun dengan


gejala batuk produktif dan hemoptysis. Gambaran hiperdens,
carcinoid endobonchial pada bronchus intermedius. Kiri, CT scan
potongan paru memperlihatkan kistik postobstuktif bronkiektasis
yang berat.

c. Pemeriksaan radiologik lain : Kekurangan dari foto toraks dan CT-


scan toraks adalah tidak mampu mendeteksi telah terjadinya metastasis
jauh. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan radiologik lain, misalnya
Brain-CT untuk mendeteksi metastasis di tulang kepala / jaringan otak,
bone scan dan/atau bone survey dapat mendeteksi metastasis diseluruh
jaringan tulang tubuh. USG abdomen dapat melihat ada tidaknya
metastasis di hati, kelenjar adrenal dan organ lain dalam rongga perut10
i. Gambaran Radiologi Metastasis dan Kelainan Paru akibat Tumor
Ganas Paru
1. Metastasis
a) Metastasi Hematogen

29
Metastasis ini memberikan gambaran radiologi yang dapat bersifat
tunggal (soliter) atau ganda (multiple) dengan bayangan bulat
berukuran beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter, batas
tegas. Bayangan tersebut dapat mengandung bercak kalsifikasi,
misalnya pada anak sebar sarcoma osteogenik dan kavitas dapat
terbentuk meskipun jarang (5%) yang dapat disebabkan nekrosis
iskemik.2
b) Metastasis Limfogen
Metastasis ini memberikan gambaran radiologi berupa corakan
bronkovaskular yang kasar secara dua sisi atau satu sisi hemitoraks
atau gambaran garais-garis berdensitas yang halus seperti rambut
akibat anak sebarnya menetap di saluran limfe peribronkial atau
perivaskular. Biasanya penyebaran atau metastasis secara limfogen
sering menyebabkan pembesaran kelenjar mediastinum, sehingga
akibatnya terjadi penekanan trakea, esophagus, dan vena kava
superior. 2

30
Gambar 3.1. metastasis hematogen (kanan) dan metastasis lmfogen
(kiri) dan CT Scan Metastasis paru

2. Kelainan Paru akibat Tumor Ganas Paru

a) Perselubungan dengan destruksi tulang sekitarnya

Suatu perselubungan padat terutama dipuncak paru dengan


gambaran destruksi tulang iga atau korpus vertebra sekitarnya
merupakan tumor ganas primer pada paru (sulkus superior) yang
lanjut yang dikenal sebagai tumor Pancoast, klinis disertai dengan
sindroma Horner. Pancoast tumor adalah suatu tumor ganas pada
sulcus superior paru berupa massa yang tumbuh pada dinding dada
atau menyerang daerah apikal dari dinding dada. Pancoast tumor
lebih jarang terjadi daripada tumor ganas paru lainnya. Pancoast
tumor berkisar 1-3% dari semua kasus tumor ganas paru. 2,6

Permasalahan utama pancoast tumor adalah keterlambatan


dalam menegakan diagnosis, karena dalam stadium awal tidak
dapat terlihat kelainan pada foto toraks serta mempunyai kemiripan
gejala dengan penyakit otot dan saraf lainnya.2,6

31
Gambar 3.2. Tumor pancoast, perselubungan padat di paru kanan atas
dengan destruksi tulang iga I-II kanan.(kanan). Pancoast tumor puncak
kanan paru-paru . Dada x-ray menunjukkan kepadatan apicolateral
homogeny (kiri).

b) Atelektasis

Gambaran perselubungan padat akibat hilangnya aerasi yang


disebabkan sumbatan bronkus oleh tumor, dapat terjadi secara
segmental, lobaris, atau seluruh hemitoraks

32
Gambar 3.3. Perselubungan pada lapangan paru bagian atas

c) Pembesaran hilus unilateral

Suatu perbedaan besar hilus antara kedua hilus atau perbedaan


besar hilus perlu dicurigai adanya suatu tumor dan perlu penelitian
bronkus dengan tomografi atau bronkoskopi.2

Gambar 3.4. Pembesaran hilus unilateral

d) Kavitas atau abses


yang soliter

Suatu kavitas
soliter dengan
tanda infeksi yang
tidak berarti
terutama pada
orang berusia lanjut, perlu dipikirkan suatu karsinoma bronkogen
jenis epidermoid. Biasanya dinding kavitas tebal dan irregular.2

33
Gambar 3.5. Foto
Thorax Posisi
Lateral, tampak
adanya cavitas
dengan air-fluid
level yang
merupakan
karakteristik dari
abses paru.

e) Efusi Pleura

Adanya gambaran cairan dalam rongga pleura yang cepat


bertambah (progresif) atau bersamaan ditemukan bayangan massa
dalam paru, perlu dipertimbangkan suatu keganasan paru yang
sudah bermetastasis ke pleura. Biasanya cairan pleura tersebut
terdiri atas cairan darah.2

Gambar 3.6. Efusi pleura

j. Diagnosis Banding

Diagnosis banding dari kanker paru antara lain:


1. Kanker Mediastinum

34
Ketika kita melihat sebuah massa pada foto x-ray thoraks yang
mungkin berada di mediastinum, ada beberapa karakteristik yang
mengindikasikan bahwa lesi tersebut berasal dari mediastinum:6


Massa di mediastinum tidak akan memiliki air bronchograms


Margin batas yang dibuat oleh mediastinum dengan paru-paru
akan berupa suatu sudut yang tumpul, lebih dari 900 dan kurang
dari 1800

a. b.

Gambar 85. (a)Pada gambar yang kiri, massa paru yang bersinggungan
dengan permukaan mediastinum akan membentuk sudut yang tajam;
(b)Pada gambar yang kanan, massa mediastinal akan mendesak jaringan
parenkim paru-paru dan membentuk sudut yang tumpul dengan paru-paru.
2. Tuberculoma

35
Gambar. Tuberculoma

Tuberculoma merupakan kelainan yang menyerupai tumor. Pada


hakikatnya kelainan ini memberikan gambaran seperti suatu sarang
keju (caseosa) yang letaknya di bagian apeks paru dan biasanya
menunjukkan penyakit yang tidak begitu virulen, bahkan biasanya
bersifat tidak aktif, permukaan licin, batas tegas dan didalam atau
dipinggirnya ditemukan adanya sarang perkapuran, yang dapat dilihat
dengan jelas menggunakan tomogram.3

k. Penatalaksanaan

Pengobatan kanker paru adalah combined modality therapy (multi-


modaliti terapi), yaitu kombinasi dari pembedahan, radioterapi, dan
kemoterapi. Adapun Indikasi yang memerlukan intervensi bedah, seperti
pada kegawat daruratan berupa kanker paru dengan sindroma vena kava
superiror berat.

l. Prognosis

Angka kematian karena kaner paru tinggi. Di Eropa, survival 5 tahun


sekitar 11%. Angka survival 5 tahun yang paling tinggi yang dilaporkan
terdapat di Amerika Serikat. Amerika Serikat mencatat dari tahun 2004-
2010 bahwa angka survival selama 5 tahun dari kanker paru sekitar 16,8%,
yang merefleksikan perkembangan yang membaik walaupun lambat yaitu

36
dari 12,5 % di tahun 1975. Namun, tingkat survival seseorang tergantung
dari stage kanker paru yang dideritanya. Estimasi survival 5 tahun
berdasarkan stage penyakit adalah sebagai berikut:1,2,7

 Stage IA - 75%
 Stage IB - 55%
 Stage IIA - 50%
 Stage IIB - 40%
 Stage IIIA - 10-35%
 Stage IIIB – kurang dari 5%
 Stage IV – kurang dari 5%

BAB III
KESIMPULAN

kanker paru adalah jenis penyakit keganasan yang menjadi penyebab


kematian utama pada kelompok kematian akibat keganasan, bukan hanya pada laki
laki tetapi juga pada perempuan. Gangguan atau kekacauan dari sistim checks dan
balances pada pertumbuhan sel berakibat pada suatu pembelahan dan
perkembangbiakan sel-sel yang tidak terkontrol yang pada akhirnya membentuk
suatu massa yang dikenal sebagai suatu tumor. Kanker adalah tumor yang
dipertimbangkan sebagai ganas
Kanker paru memiliki 2 tipe utama, yaitu Small cell lung cancer (SCLC)
dan Non-small cell lung cancer (NSCLC). SCLC adalah jenis sel yang kecil-kecil
(banyak) dimana memiliki daya pertumbuhan yang sangat cepat hingga membesar.

37
Tipe ini sangat erat kaitannya dengan perokok, Penanganan cukup berespon baik
melalui tindakan kemoterapi dan radioterapi. Sedangkan NSCLC adalah merupakan
pertumbuhan sell tunggal, tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di
paru-paru, misalnya adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, karsinoma sel besar
(Large Cell Ca) dan karsinoma adenoskuamosa .
Penemuan diagnosis dini atau sangat cepat sangatlah penting pada penyakit
tumor paru ini, diantaranya dapat dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang terutama pemeriksaan radiologi yang mutlak dibutuhkan
untuk menentukan lokasi tumor primer dan metastasis, serta penentuan stadium
penyakit berdasarkan sistem TNM tetapi lebih jelas menggunakan tomografi
komputer. Pemeriksaan radiologi berupa foto toraks PA/lateral. Pemeriksaan lain
yang dapat dilakukan, yaitu pemeriksaan CT-scan toraks, bone scan, Bone survey,
USG abdomen dan Brain-CT dibutuhkan untuk menentukan letak kelainan, ukuran
tumor dan metastasis yang lebih jauh. Pada foto toraks biasanya didapatkan
gambaran berupa massa tumor ukuran lebih dari 1 cm dengan bentuk tepi reguler
dan batas masih tegas, jika sudah mengalami keganasan maka ditandai adanya
gambaran tepi iireguler disertai identasi pleura, tumor satelit. Selain itu, tumor juga
dapat ditemukan telah invasi ke dinding dada, efusi pleura, efusi perikard dan
metastasis intrapulmoner.
Penatalaksanaan kanker paru adalah combined modality therapy (multi-
modaliti terapi). Kemoterapi dengan gefitinib untuk lini pertama memberikan angka
harapan hidup yang cukup baik. Prognosis keseluruhan untuk kanker paru adalah
jelek. Angka-angka kelangsungan hidup untuk kanker paru umumnya lebih rendah
daripada kanker jenis lainnya, dengan suatu angka keseluruhan kelangsungan hidup
lima tahun untuk kanker paru sebesar 16%.

38
Daftar Pustaka

1. Winston W. Non-Small Cell Lung Cancer. Medscape 2015 [updated: 16


July 2015, cited: 30 September 2015] Aveailable from:
http://emedicine.medscape.com/article/279960-overview#a5
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Kanker Paru Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. 2003.
3. Ekayuda I, Rasad S. Radiologi Diagnostik Ed 2.FKUI.Jakarta.2009
4. Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Nasional Penanganan
Kanker Paru versi 1,0 2015. Komite Penanggulangan Kanker. 2015.
5. Stover DE. Women, smoking and lung cancer. Chest 1998; 113:1-2.
6. Division of Thoracic Oncology. Focus on Lung Cancer. 2006.
7. Suyono, Slamet, (2001), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3,
Balai Penerbit FKUI,Jakarta

39
40