Anda di halaman 1dari 2

PRINSIP ETlKA PROFESI IKATAN AKUNTAN INDONESIA

1. Tanggung Jawab profesi

Hadi Sutanto melanggar etika profesi akuntansi prinsip pertama karena dalam melaksanakan
tanggung-jawabnya sebagai profesionalnya Hadi Sutanto tidak menggunakan pertimbangan moral
dan profesional dalam kegiatanya. Ketamakan dan keinginan untung sendiri membuat tindakan
Hadi Sutanto tidak dapat dibenarkan dan melanggar.

2. Kepentingan Publik

Menjadi auditor publik yang harus berorientasi kepada kepentingan publik. Hal ini tidak
terkandung dalam kasus perselihan KAP Hadi Sutanto dan KAP Eddy Pianto karena Hadi Sutanto
mengambil tindakan yang berorientasi kepada kepentingan pribadi dan kelompok. Seharusnya
Hadi Sutanto bisa menjaga kepercayaan publik, menunjukan komitmen, profesionalisme, dan
menjaga teguh prinsip-prinsip etika profesi akuntansi walaupun dihadapkan dengan tantangan
yang berbanding terbalik dengan keinginan pihak-pihak tertentu dengan tidak menolak untuk
saling bekerja sama.

3. Integritas

Sebagai auditor yang berlandaskan kepercayaan publik, diharapkan memiliki integritas dalam
menjalankan tugasnya namu tindakan Hadi Sutanto membawa penurunan nilai integritas auditor
dimata publik. Saling bekerja sama dan menyatukan visi-dan misi diharuskan bagi setiap hubungan
auditor perusahaan induk dan auditor perusahaan anak.

4. Obyektivitas

Auditor mutlak harus bekerja dengan obyektivitas sedangkan Hadi Sutanto yang bekerja secara
subyektif sehingga menimbulkan kerugian bagi orang lain dan hanya membuat keuntungan bagi
diri sendiri.

5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Dalam kasus ini, dua orang yang memegang nama sebagai auditor pemerintah telah ceroboh
menggunakan kompetensi dan wewenang yang mereka punya. Seenaknya mereka menerima uang
suap tanpa memperdulikan prinsip-prinsip akuntan yang telah dilanggarnya. Seharusnya mereka
bisa memanfaatkan kompetensi dan kehati-hatian profesioal mereka untuk bisa bersaing menjadi
auditor yang terkenal hebat dan jujur, bukan hebat memanipulasi.

Hadi Sutanto menurut saya telah salah menggunakan kompetensi yang dimilikinya dan
wewewnang yang dipegangnya. Salah menafsirkan PSA 543 sehingga tidak berhati-hati dalam
mengambil kesimpulan dan keputusan membuat hasil audit KAP Eddy Pianto ditolak SEC karena
tidak dapat menerima Form 20-F yang disampaikan oleh PT. Telkom dengan alasan:

1. Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Telkom Tahun Buku 2002 belum mendapatkan quality control
dari Grant Thornton LL,P., selaku US Affiliate KAP Eddy Pianto.
2. KAP Hadi Sutanto tidak memberikan ijin untuk dimasukkannya Laporan Audit KAP Hadi Sutanto
atas Laporan Keuangan PT. Telkomsel Tahun Buku 2002 dalam Form 20-F PT. Telkom.
3. Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Telkom Tahun Buku 2002 yang dimasukkan dalam Form 20-
F PT. Telkom tidak disertai dengan Laporan Audit atas Laporan Keuangan anak perusahaan PT.
Telkom lainnya yang juga diacu oleh KAP Eddy Pianto (Triyono, 2010).

6. Kerahasiaan

Tindakan yang dilakukan oleh KAP Hadi Sutanto yaitu merahasiakan hasil auditnya kepada Eddy
Pianto membuat prinsip kerahasiaan menjadi salah kaprah. Kerahasiaan bukan bagi sesama auditor
yang berasosiasi mengaudit anak perusahaan dan induk perusahaan. Seharusnya sesama auditor
itu saling bekerja sama.

7. Perilaku Profesional

Dalam kasus ini, Hadi Sutanto mengabaikan pentingnya perilaku profesional. Dia mengambil
kesimpulan sendiri tanpa mendiskusikannya dengan orang lain sehingga hasil penafsirannya itu
berujung pada pengambilan tindakan yang menimbulkan kerugian bagi PT. Telkom dan KAP
Eddy Pianto.

8. Standar Teknis

Dalam menjalankan tugasnya Hadi Pianto memang berdasarkan standar teknis audit yaitu PSA
namun salah penafsiran yang sudah dilakukan oleh Hadi Sutanto membuat kerugian bagi orang
lain.