Anda di halaman 1dari 96

KARYA TULIS ILMIAH

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


PERILAKU KELUARGA DALAM PERAWATAN LANSIA
DI RW 04 KELURAHAN 5 ILIR PALEMBANG
TAHUN 2009

KTI ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
AHLI MADYA KEPERAWATAN (AMK)

OLEH :

DWI ASTARI
NIM.PO.71.20.1.06.008

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
JURUSAN KEPERAWATAN

i
TAHUN 2009

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan

Perilaku Keluarga Dalam Perawatan Lansia Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir

Palembang” telah disetujui, diperiksa dan telah dipertahankan di hadapan Tim

Penguji Karya Tulis Ilmiah Politeknik Kesehatan Departemen Jurusan Keperawatan

Palembang Tahun 2009.

Palembang, Agustus 2009

Pembimbing1

Hj. Hakimah, S.Pd


NIP.440014667

Pembimbing 2

H. Ridwan Ikob, S.Pd, M.kes


NIP.19630530.1994031.001

Mengetahui,
Ketua Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Depkes Palembang

Sulaiman, S.Pd, M.Pd

ii
NIP.19630525.1989031.005

PANITIA SIDANG KARYA TULIS ILMIAH

POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SUMSEL

JURUSAN KEPERAWATAN PALEMBANG

TAHUN 2009

Palembang, Agustus 2009


Pembimbing 1

Hj. Hakimah, S.Pd


NIP.440014667

Pembimbing 2

Hj. Ridwan Ikob, S.Pd, M.kes


NIP. 196305301994031.001

Penguji

Lukman, S.Kep, Ners, MM.


NIP.197204231996031.001

iii
DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
JURUSAN KEPERAWATAN

KARYA TULIS ILMIAH, AGUSTUS 2009

DWI ASTARI

Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Keluarga Dalam


Perawatan Lansia Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009

xiv + 62 Halaman + 11 Tabel + Lampiran

ABSTRAK

Pada akhir tahun 2006 Indonesia sudah memasuki negara dengan penduduk
lansia ketiga terbesar di Asia dengan jumlah 19 juta orang atau 8,9%.Untuk wilayah
Sumatera – Selatan jumlah penduduk lansia tahun 2009 mencapai 5.900 jiwa
penduduk lansia.Mayoritas lansia masih dalam kondisi yang kurang sejahtera dan
memerlukan perlindungan sosial dan bantuan perawatan secara permanen.
Peningkatan jumlah penduduk lansia menempatkan tuntunan perawatan yang lebih
besar pada sistem perawatan kesehatan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang
berhubungan dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia tahun 2009.Penelitian
ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan menggunakan rancangan potong
lintang atau cross sectional yaitu dilakukan dengan cara pendekatan,observasi dan
pengumpulan data sekaligus.Populasi penelitian adalah semua keluarga yang
memiliki anggota keluarga lansia ≥ 60 tahun di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang,
sampel penelitian adalah sebagian keluarga yang memiliki anggota keluarga lansia ≥
60 tahun,kriteria sampel adalah anggota keluarga yang merawat lansia di RW 04
Kelurahan 5 Ilir Palembang.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan yang bermakna antara
sosial ekonomi dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia, ini sesuai dengan
uji chi square dengan Pvalue = 0,001, tidak ada hubungan yang bermakna antara
pendidikan dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia, ini sesuai dengan uji
chi square dengan Pvalue = 0,25, ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan
dengan perillaku keluarga dalam perawatan lansia, ini sesuai dengan uji chi square
dengan Pvalue = 0,002, ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perilaku
keluarga dalam perawatan lansia, ini sesuai dengan uji chi square dengan Pvalue =
0,006. Dari variabel tersebut diharapkan bagi tenaga kesehatan lebih
mengoptimalisasikan perannya sebagai edukator dalam memberikan informasi
perawatan lansia

iv
Daftar Bacaan: 1998 - 2008
DEPARTMENT OF HEALTH REPUBLIC INDONESIA
PALEMBANG HEALTH POLYTECHNIC
DIPLOMA DEGREE OF NURSING

Scientific Writing Task, August 2009

DWI ASTARI

FACTORS RELATED WITH FAMILIY BEHAVIOR FOR OLD AGE PERSON


TREATMENT

xiv + 62 page + 11 Tabels + enclosure

Abstract

At the end of 2006 indonesia stated third place with for old age person
number in Asia by totals 19 milion person or 8,9%. For south Sumatera Region, total
old age person population up to 5.999 in 2009.The Mayority old age still less
prosperous,many old age lived neglected and need social protection and help
treatment scale permanent.Increase of old age population needs more health care
system.
This research is to know factors related with family behavior for old age
person treatment. This research is analytic research use cross sectional design which
is done approach, observation and data collecting altogether. Research population is
all family that have ≥ 60 age person, the criteria research is family who care old age
at RW 04 5 Ilir palembang.
Conclusion of this research, social economic state related with family
behavior for old age person treatment (p value = 0,001). Family education not related
with family behavior for old age person treatment (p value = 0,25). Family
knowledge related with family behavior for old age person treatment (p value = value
= 0,002). Family attitude related with family behavior for old age person treatment (p
value = 0,006).
Expected to health officer, improve and optimize their role as educator in give
information about old age person treatment.

References : 1998-2008

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Dwi Astari

TTL : Prabumulih, 23 Januari 1988

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Riwayat Pendidikan

Tahun 1993 - 1994 : TK Pertiwi Prabumulih

Tahun 1995 - 2000 : SDN 8 Prabumulih

Tahun 2001 - 2003 : SMPN 1 Prabumulih

Tahun 2004 - 2006 : SMAN 3 Prabumulih

Tahun 2007- 2009 : Politeknik Kesehatan Depkes Palembang Jurusan

Keperawatan

vi
Motto

 Allah akan meninggikan beberapa derajat orang yang bertakwa dan yang

berilmu pengetahuan.

 Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan

 Kunci pertolongan Allah adalah pada sabar dan sholat

Kupersembahkan untuk :

 Allah SWT, atas karuniaNya yang selalu tercurah

padaku serta baginda Rasululllah SAW yang telah

memberikan teladan bagi seluruh umat manusia di

bumi

 Kedua Orang Tuaku yang selalu mendoakan dan

memberi motivasi yang luar biasa di setiap langkah

hidupku

 Saudara – saudaraku yang sangat aku sayangi

 Pembimbingku,Ibu Hj. Hakimah S.Pd dan Bapak H.

Ridwan Ikob, S.Pd, M.Kes, terima kasih atas bantuan

dan kesabarannya dalam membimbing

 Teman – teman angkatan 39

 Angkatan 40 dan 41

vii
KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, segala puji dan syukur penulis panjatkan pada Allah SWT yang

telah mencurahkan seluruh karunia dan rahmatNya bagi seluruh alam semesta ini

serta kesempatan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada penulis sehingga

penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Faktor – Faktor yang

Berhubungan Dengan Perilaku Keluarga Dalam Perawatan Lansia Di RW 04

Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009.”

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini banyak

mendapat bantuan dari berbagai pihak, Pada kesempatan ini dengan segala

kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang

terhormat :

1. Bapak Drg. Rudiansyah, M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Depkes

Palembang.

2. Bapak Sulaiman, S.Pd, M.Pd selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik

Kesehatan Depkes Palembang

3. Bapak Kepala Kelurahan 5 Ilir Palembang

4. Bapak Fredy, selaku kepala RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang.

5. Ibu Hj. Hakimah, S.Pd, selaku dosen pembimbing utama yang telah dengan sabar

membimbing dan memberikan masukan yang sangat berharga serta pengarahan

yang sangat dibutuhkan dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini.

viii
6. Bapak H. Ridwan Ikob, S.Pd, M.Kes, selaku dosen pembimbing pendamping

yang telah dengan sabar membimbing dan memberikan masukan yang sangat

berharga pada penulis.

7. Bapak Lukman, S.Kep Ners, M.M selaku dosen penguji.

8. Staf dosen, Karyawan dan Karyawati Politeknik Kesehatan Program Studi

Keperawatan yang telah membimbing selama pembuatan karya tulis ilmiah ini.

9. Terkhusus segala rasa cinta dan hormat kepada orang tua yang telah membimbing

dorongan moral dan material kepada penulis.

10. Rekan – rekan seperjuangan yang telah banyak membantu baik secara langsung

maupun tidak langsung.

Penulis menyadari dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini masih banyak

kekurangan dan keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu,

dengan hati yang terbuka penulis menerima semua masukan dan kritikan yang

bersifat membangun demi perbaikan dan kualitas daripada Karya Tulis Ilmiah ini di

masa yang akan datang demi kebaikan kita bersama.

Semoga Allah berkenan melimpahkan segala rahmat dan karuniaNya kepada

kita semua dan semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,

Amin.

Palembang, Agustus 2009

Penulis

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN ......................................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... iii

ABSTRAK INDONESIA .............................................................................. iv

ABSTRAK INGGRIS ................................................................................... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ..................................................................... vi

LEMBAR PERSEMBAHAN ...................................................................... vii

KATA PENGANTAR .................................................................................. viii

DAFTAR ISI ................................................................................................ ix

DAFTAR TABEL ......................................................................................... x

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .......................................................................... 6

C. Pertanyaan penelitian ..................................................................... 6

D. Tujuan penelitian ........................................................................... 7

1. Tujuan Umum .................................................................... 7

2. Tujuan Khusus ................................................................... 7

E. Manfaat Penelitian ......................................................................... 7

F. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................. 8

x
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku ...................................................................................... 9

B. Perilaku Kesehatan .................................................................... 10

C. Keluarga ........................................................................................ 11

1. Pengertian ................................................................................. 11

2. Struktur Keluarga ..................................................................... 11

3. Ciri – Ciri Keluarga .................................................................. 12

4. Tipe – Tipe Keluarga ................................................................ 12

5. Fungsi Keluarga ........................................................................ 13

D. Lansia .......................................................................................... 15

1. Pengertian ............................................................................... 15

2. Teori Biologi dan Sosial tentang penuaan .............................. 16

3. Klasifikasi Lansia ................................................................... 17

4. Karakteristik Lansia ................................................................ 17

5. Tugas Perkembangan Lansia .................................................. 18

6. Pembinaan Kesehatan lansia .................................................. 18

7. Peran Anggota Keluarga Terhadap Lansia ............................ 19

8. Peran Anggota Keluarga Dalam Perawatan Lansia ............... 20

E. Personal Hygiene ......................................................................... 22

F. Perawatan Sehari – hari Lansia yang berhubungan dengan

Personal hygiene ......................................................................... 23

xi
G. Pengetahuan ............................................................................. 27

H. Sikap ......................................................................................... 29

I. Sosial Ekonomi ......................................................................... 31

J. Pendidikan ................................................................................. 31

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep ....................................................................... 33

B. Definisi Operasional .................................................................. 34

C. Hipotesis penelitian .................................................................... 37

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian ....................................................................... 38

B. Populasi dan Sampel Penelitian................................................. 38

C. Lokasi dan Penelitian ................................................................ 40

D. Teknik dan Instrumen Penelitian ............................................... 40

E. Etika Penelitian .......................................................................... 41

F. Metode Analisis Data ................................................................ 42

BAB V HASIL PENELITIAN

A. Profil RW 04 Kelurahan 5 Ilir .................................................... 44

B. Analisis Univariat ....................................................................... 45

C. Analisis Bivariat ......................................................................... 50

BAB VI PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian ............................................................... 54

B. Pembahasan Hasil Penelitian ...................................................... 54

xii
a. Hasil Univariat ................................................................ 55

b. Hasil Bivariat .................................................................. 55

1. Pengetahuan Dengan Perilaku Keluarga ............ 55

2. Sikap Dengan Perilaku Keluarga ....................... 57

3. Sosial Ekonomi Dengan Perilaku Keluarga ....... 58

4. Pendidikan Dengan Perilaku Keluarga .............. 59

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ................................................................................. 61

B. Saran ........................................................................................... 61

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xiii
Daftar Tabel

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia ……………….. 45

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan ………….46

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan ……… 47

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap ………........... 47

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sosial Ekonomi …... 48

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan ………. 48

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku …………... 49

Tabel 5.8 Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Perilaku Keluarga ……… 50

Tabel 5.9 Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku Keluarga ……………... 51

Tabel 5.10 Hubungan Antara Sosial Ekonomi Dengan Perilaku

Keluarga……………….................................................................. 52

Tabel 5.11 Hubungan Antara Pendidikan Dengan Perilaku

Keluarga……………….................................................................. 53

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses menua adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi

fisik, biologis, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain.

Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum

maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.

Population Studies United Nations, New York tahun 2000 jumlah

penduduk lansia diseluruh dunia mencapai 426 juta atau sekitar 6,8% total

populasi. Jumlah ini diperkirakan akan mencapai peningkatan dua kali lipat pada

tahun 2025 dimana terdapat 828 juta lansia yang menempati 9,7% populasi.

Peningkatan jumlah lansia ini terjadi baik di negara maju maupun negara yang

sedang berkembang (Budhi Darmojo K dan Hadi Martono, 1999).

Jepang masih mempertahankan reputasinya sebagai negara dengan jumlah

warga lansia terbanyak. Berdasarkan Sensus Nasional Jepang tahun 2003 jumlah

total lansia penduduk Jepang mencapai 127.690.000 atau 19% dari jumlah total

penduduk Jepang. Usia harapan hidup yang dicapai lansia di Jepang untuk pria

rata - rata adalah 78,32 tahun dan 85,23 tahun untuk wanita (www.kompas.com,

diakses 28 Maret 2009).

xv
Penuaan struktur penduduk juga terjadi di Indonesia. Pada akhir tahun

2006 Indonesia sudah merupakan negara dengan penduduk lansia ketiga terbesar

di Asia dengan jumlah sekitar 19 juta orang atau 8,9 %. Peningkatan jumlah

penduduk lansia menempatkan tuntunan perawatan yang lebih besar pada sistem

perawatan kesehatan. Pada tahun 2000 usia harapan hidup Indonesia rata – rata

64,5 tahun dan diprediksi pada tahun 2020 usia harapan hidup akan meningkat

menjadi 71,1 tahun. Pada tahun 2000 jumlah penduduk lansia di Indonesia sekitar

14,4 juta atau 7,18 % dan diperkirakan pada tahun 2020 meningkat menjadi 28,28

juta jiwa dari total penduduk Indonesia (BPS, 1998). Berdasarkan badan pusat

statistik jumlah lansia tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 5.900

jiwa penduduk lansia, rata – rata usia harapan hidup untuk lansia pria adalah 65,5

tahun dan lansia wanita 69,5 tahun (www.sripo.com, diakses 8 Mei 2009).

Peningkatan jumlah penduduk lansia merupakan dampak positif dari

pembangunan. Namun di sisi lain pembangunan secara tidak langsung juga

berdampak negatif melalui perubahan nilai – nilai dalam keluarga yang

berpengaruh kurang baik pada kesejahteraan lansia. Pembangunan juga

berdampak pada peningkatan pendidikan. Peningkatan di bidang pendidikan akan

menyebabkan waktu keluarga untuk bekerja di luar rumah akan lebih banyak. Hal

tersebut menyebabkan berkurangnya alokasi waktu keluarga untuk merawat

lansia.

Usia lanjut merupakan kelompok dengan kondisi resiko tinggi. Lansia

perlu mendapat perhatian khusus, pada kehidupan keluarga lanjut usia merupakan

xvi
figur tersendiri dalam kaitannya dengan sosial budaya bangsa. Namun dalam

fenomena di dalam masyarakat terjadi kecenderungan menganggap negatif

terhadap lansia terkait dengan produktifitasnnya. Terjadi banyak perubahan pada

lanjut usia, tapi banyak keluarga tidak memahami perubahan tersebut dan

menimbulkan banyak masalah. Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi

lansia, pengetahuan tentang mengasuh dan merawat lansia menjadi aspek yang

sangat penting (www.wordpress.com, diakses 8 Mei 2009)

Berdasarkan hasil penelitian Sutarna (2006) bahwa kebutuhan utama

lansia adalah kesehatan, ketenangan hidup dirumahnya, perlakuan yang wajar,

lembut dan tidak mendapatkan kata – kata kasar. Keluarga lansia memiliki sikap

positif, empati dan punya rasa tanggung jawab terhadap perawatan lansia, tetapi

keluarga tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang perubahan yang

terjadi pada lansia, kebutuhan lansia dan cara memenuhi kebutuhan lansia.

Menurut Inten Soewono, ketua komnas lansia, kondisi sosial ekonomi

lansia belum menggembirakan. Mayoritas lansia tinggal di pedesaan dengan

kondisi yang kurang sejahtera. Masih banyak lansia yang hidupnya terlantar dan

memerlukan perlindungan sosial dalam bentuk pelayanan dan bantuan perawatan

secara permanen. Peningkatan angka ketergantungan menyebabkan keberadaan

lansia yang tumbuh pesat menjadi beban negara dan bagi warga masyarakat yang

masih produktif (www.komnas lansia.com, diakses 27 Maret 2009).

Permasalahan utama yang dihadapi lansia adalah penurunan kondisi fisik

dan ekonomi, sementara kebutuhan perawatan kesehatan dan pemenuhan

xvii
kebutuhan hidup semakin meningkat, kemiskinan, keterlantaran dan kecacatan

lansia menyebabkan ketergantungan mereka secara ekonomi. Kondisi buruk yang

diderita sebagian lansia sebenarnya tidak saja disebabkan oleh faktor internal,

tetapi juga dikarenakan sikap masyarakat yang memberikan pembatasan dan

isolasi sosial terhadap lansia. Pembatasan lansia adalah sebuah sikap keliru yang

akan menyebabkan lansia kehilangan kepercayaan diri, frustasi dan akan

berpengaruh terhadap kesehatan fisik, mental dan juga akan berakibat pada

ketergantungan lansia (www.digilib.petra.ac.id, diakses 8 Mei 2009)

Menurut R.M Nugroho Abikusno, anggota komnas lansia, Lansia

merupakan bagian integral dari masyarakat. Lansia mempunyai hak dan

kewajiban kepada masyarakat dan sesama warga negara. Secara yuridis formal,

ketentuan untuk memenuhi lansia diatur dalam pasal 42 UU No.39 tahun 1999

tentang hak asazi manusia yang menyatakan bahwa setiap warga negara yang

berusia lanjut, cacat fisik dan cacat mental berhak memperoleh perawatan,

pendidikan, pelatihan dan bantuan khusus untuk menjamin kehidupan yang layak

sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri dan

kemampuan berpartisispasi dalam kehidupan bermasyarakat (www.komnas

lansia.com, diakses 1 April 2009).

Keluarga menjadi garis utama pertahanan masyarakat terhadap

pertumbuhan masalah penduduk lansia. Bagi para lansia, peran keluarga dalam

memberikan perawatan kesehatan sangatlah penting. Keluarga merupakan sistem

pendukung yang baik dalam memberikan perawatan pada lansia. Pengaruh

xviii
psikologis yang positif dilingkungan keluarga sangat mendukung untuk

memotivasi lansia agar bisa terus bugar dengan pola hidup yang sehat.

Berdasarkan hasil penelitian Tachman (2003) terhadap perawatan orang

lansia menunjukkan bahwa tempat yang baik orang lansia adalah tempat

tinggalnya sendiri dengan anggota keluarga yang lain. Perawatan yang dilakukan

oleh anak sendiri (keluarga) diduga lebih memberikan rasa nyaman dan aman,

karena lebih toleran.

Dari data WHO (1993) mengemukakan bahwa alasan keluarga untuk

menerima lansia karena sanggup melakukannnya sebesar 3,5%, karena tanggung

jawab keluarga sebanyak 86,1% dan karena tanggung jawab masyarakat sebesar

10,4%. Ini menggambarkan bahwa di Indonesia masih mempertahankan budaya

tradisionalnya dengan model extended family (Budhi darmojo R dan Hadi

Martono, 1999).

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Rachmah

Indawati (2002) didapatkan bahwa kebersamaan dalam rumah, secara sosial dapat

memberikan kondisi yang nyaman. Lansia yang tinggal bersama keluarga sangat

mendukung terhadap perawatan kesehatan, kebutuhan sehari-hari dan umumnya

keluarga tidak membatasi aktivitas yang dilakukan oleh lansia.

Menurut data yang ada di dinas kesehatan kota Palembang jumlah

penduduk lansia terus meningkat, pada tahun 2007 di Palembang terdapat

260.503 penduduk lansia dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 276.860.

xix
Kelurahan 5 Ilir Palembang merupakan daerah yang memiliki jumlah lansia yang

cukup tinggi, yaitu 1.918 jiwa atau 16,25% dari jumlah penduduk lansia.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti faktor-

faktor yang berhubungan dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia di RW

04 Kelurahan 5 Ilir Palembang

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti berminat melakukan

penelitian, faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran pengetahuan, sikap, sosial ekonomi, pendidikan dan

perilaku keluarga dalam perawatan lansia.

2. Bagaimana hubungan antara pengetahuan dengan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia.

3. Bagaimana hubungan antara sikap dengan perilaku keluarga dalam perawatan

lansia.

4. Bagaimana hubungan antara tingkat sosial ekonomi dengan perilaku keluarga

dalam perawatan lansia.

5. Bagaimana hubungan antara pendidikan dengan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia.

xx
D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang tahun 2009.

2. Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran pengetahuan, sikap, sosial ekonomi, pendidikan

dan perilaku keluarga dalam perawatan lansia.

2. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia.

3. Diketahuinya hubungan antara sikap dan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia.

4. Diketahuinya hubungan antara tingkat sosial ekonomi dan perilaku

keluarga dalam perawatan lansia.

5. Diketahuinya hubungan antara pendidikan dan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi institusi pendidikan

Memberikan informasi dan dapat digunakan sebagai bahan referensi

kepustakaan untuk mengembangkan kegiatan penelitian serta menambah

wawasan dan pengetahuan.

xxi
2. Manfaat bagi peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan dengan menempatkan ilmu yang

diperoleh.

3. Manfaat bagi Kelurahan 5 Ilir

Sebagai informasi dan bahan evaluasi bagi kelurahan 5 ilir untuk dapat

meningkatkan pelayanan terhadap lansia melalui keluarga.

F. Ruang Lingkup penelitian

Ruang lingkup penelitian analitik untuk keperawatan gerontik ini adalah

faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku keluarga dalam perawatan

lansia, yang meliputi: pengetahuan, sikap, sosial ekonomi dan pendidikan

keluarga. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni – Juli 2009.

xxii
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku

Perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh makhluk

hidup. Perilaku manusia mempunyai makna yang sangat luas kerena mencakup

kegiatan eksternal seperti berbicara, berpikir, persepsi dan segalanya.

(Notoadmojo, 2003).

Perilaku dapat diberi batasan sebagai tanggapan individu terhadap rangsangan

yang berasal dari dalam maupun dari luar individu tersebut.

Secara garis besar bentuk perilaku ada dua macam, yaitu :

1. Perilaku Pasif (Respon internal)

Perilaku yang sifatnya masih tertutup, terjadi dalam diri individu dan

tidak dapat diamati secara langsung. Perilaku ini sebatas sikap belum ada

tindakan yang nyata.

2. Perilaku aktif ( Respon eksternal)

Perilaku yang sifatnya terbuka, perilaku aktif adalah perilaku yang

dapat diamati langsung, berupa tindakan yang nyata.

xxiii
Green (1980) dalam Notoadmojo (2007), mengemukakan bahwa perilaku

seseorang terhadap suatu objek dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :

a. Faktor yang memudahkan (Predisposing Factor)

Faktor ini menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku, yang terwujud dalam

pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai – nilai dan sebagainya.

b. Faktor pendukung (Enabling Factor)

Faktor pendukung adalah faktor yang memungkinkan suatu motivasi atau

aspirasi terlaksana, yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau

tidak tersedianya fasilitas – fasilitas dan sarana – sarana kesehatan.

c. faktor pendorong (Reinforcing Factor)

Faktor pendorong merupakan faktor penyerta, yang terwujud dalam sikap

dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan

kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

B. Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan adalah perilaku manusia yang mencakup tingkah laku

budaya masyarakat atau perilaku perorangan yang erat hubungannnya dengan

masalah status kesehatan dan masyarakat atau perorangan (Depkes, 2001).

Menurut Notoadmojo 1997, rangsangan yang terkait dengan perilaku

kesehatan terdiri dari empat unsur, yaitu: sakit dan penyakit, system pelayanan

kesehatan, makanan dan lingkungan

xxiv
C. Keluarga

1. Pengertian

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala

keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat

dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1998).

Pengertian keluarga akan berbeda tergantung pada orientasi yang

digunakan dan orang yang mendefinisikan. Friedman (1998) mendefinisikan

keluarga sebagai suatu kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama

dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu yang mempunyai peran

masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.

2. Struktur keluarga

Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga

melaksanakan fungsi keluarga di masyarakat sekitarnya. Parad dan Caplan

(1965) yang diadopsi oleh Friedman mengatakan ada empat elemen pada

struktur keluarga, yaitu :

a. Struktur peran keluarga menggambarkan peran masing-masing

anggota keluarga dalam keluarga sendiri dan lingkungan masyarakat

sekitarnya.

b. Nilai atau norma keluarga menggambarkan nilai dan norma yang

dipelajari dan diyakini oleh keluarga khususnya yang berhubungan dengan

kesehatan.

xxv
c. Pola komunikasi keluarga, menggambarkan bagaimana cara dan pola

komunikasi ayah dan ibu (orang tua), orang tua dengan anak, anak dengan

anak dan anggota keluarga lain (pada keluarga besar) dengan keluarga inti.

d. Struktur kekuatan keluarga menggambarkan kemampuan anggota keluarga

untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang lain untuk mengubah

perilaku keluarga yang mendukung kesehatan.

3. Ciri – ciri keluarga (Anderson Carte )

a. Terorganisir saling berhubungan, saling ketergantungan antar

anggota keluarga.

b. Ada keterbatasan setiap anggota keluarga memiliki kebebasan tetapi

mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalani fungsi dan

tugasnya masing-masing.

c. Ada perbedaan dan kekhususan setiap anggota keluarga mempunyai

peranan dan fungsi masing-masing.

4. Tipe –tipe keluarga

a. Keluarga inti (Nuclear family)

adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

b. Keluarga besar (Extended family)

adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya nenek,

kakek keponakan, saudara sepupu. paman, bibi dan sebagainya.

xxvi
c. Keluarga berantai (Serial Family)

adalah keluarga yang terdiri dan wanita dan pria yang menikah lebih dari

satu kali dan merupakan satu keluarga inti.

d. Keluarga duda / janda (Single family)

adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.

e. Keluarga berkompetisi (Composite)

adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dari hidup secara

bersama.

f. Keluarga kabitas (Cahabitation)

adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu

keluarga.

Lansia dapat termasuk tipe keluarga inti, keluarga luas atau keluarga

dengan pasangan inti. Keluarga inti lansia yaitu ayah dan ibu lansia

anaknya yang telah dewasa masih bersama lansia kepala keluarga ayah

yang berusia lanjut sedangkan keluarga dengan pasangan lansia yaitu

suami dan istri yang telah berusia lanjut tinggal serumah, dimana anak-

anak tinggal di wilayah lain.

5. Fungsi Keluarga

Menurut Friedman (1998) secara umum fungsi keluarga adalah sebagai berikut

a. Fungsi afektif (the affective function)

adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu

untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.

xxvii
Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial

anggota keluarga.

b. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (Sosialization and social

placement function)

adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan

sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain

di luar rumah.

c. Fungsi reproduksi (the reproduction function)

adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan

keluarga.

d. Fungsi ekonomi (the economic function)

yaitu keluarga berfungsi untuk mengembangkan kemampuan individu

meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga.

Keluarga perlu memberikan dukungan dana atau lansia dipersiapkan untuk

mampu menyesuaikan diri dengan kenangan yang mulai menurun, sehingga

hal ini tidak memberikan dampak terhadap status kesehatan lansia.

e. Fungsi perawatan / pemeliharaan kesehatan (the health care function)

yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga

agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi

tugas keluarga dibidang kesehatan.

xxviii
Dari berbagai fungsi diatas ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota

keluarganya adalah :

1) Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman,

kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka

tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.

2) Asuh adalah memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak

agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan mereka

menjadi anak-anak yang sehat fisik, mental, sosial dan spiritual.

3) Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap

menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa

depannya.

D. Lansia

1. Pengertian

Proses penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari

berjalan terus menerus dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan

perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia pada tubuh sehingga akan

mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan (Depkes RI,

2001).

Pengertian lanjut usia menurut UU no. 132 tahun 1998 tentang

kesejahteraan lansia pasal 1 ayat 2 adalah seseorang yang telah mencapai usia

60 tahun keatas. Selanjutnya pada pasal 5 ayat 1 disebutkan bahwa lansia

xxix
mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara. Pasal 6 ayat 1 menyatakan bahwa lansia mempunyai kewajiban yang

sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2.Teori Biologi dan Sosial tentang penuaan

a. Teori biologis tentang penuaan

Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsik dan

teori ekstrinsik. Intrinsik berarti perubahan yang berkaitan dengan usia

timbul akibat penyebab di dalam sel sendiri, sedangkan teori ekstrinsik

menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan oleh pengaruh

lingkungan.

b. Teori Sosial tentang penuaan

Teori sosiologis yang selama ini dianut adalah :

1). Teori Interaksi sosial

2). Teori Penarikan diri

3). Teori Aktivitas

4). Teori Kesinambungan

5). Teori Perkembangan

6). Teori Stratifikasi Usia

xxx
3. Klasifikasi Lansia

Menurut Depkes RI (2003) dalam R. Siti Maryam, klasifikasi lansia sebagai

berikut:

a. Pralansia

Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun

b. Lansia

Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.

c. Lansia Resiko Tinggi

Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60

tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.

d. Lansia Potensial

Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang

dapat menghasilkan barang/jasa.

e. Lansia Tidak Potensial

Lansia yang tidak berdaya mancari nafkah, sehingga hidupnya bergantung

pada bantuan orang lain.

4. Karaktersitik Lansia

Menurut Budi Anna Keliat 1999, lansia memiliki karakteristik sebagai

berikut

a. Berusia lebih dari 60 tahun

xxxi
b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai

sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari

kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif.

c. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.

5. Tugas Perkembangan Lansia

Menurut Erikson, kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan

diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh

kembang pada tahap sebelumnya.

Adapun tugas perkembangan lansia adalah sebagai berikut :

a. Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun.

b. Mempersiapkan diri untuk pensiun.

c. Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya.

d. Mempersiapkan kehidupan baru.

6. Pembinaan Kesehatan Lansia

Tujuan Pembinaan Kesehatan lansia adalah meningkatkan derajat

kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua bahagia dan berguna

dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam

masyarakat (Depkes RI, 2003)

Sasaran

a. Sasaran langsung

1. Kelompok pralansia (45-59)

2. Kelompok lansia (60 tahun ke atas)

xxxii
3. Kelompok lansia dengan risiko tinggi (70 tahun ke atas)

b. Sasaran tidak langsung

1. Keluarga dimana usia lanjut berada

2. Organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut

3. Masyarakat

7. Peran Anggota Keluarga terhadap Lansia

Dalam melakukan perawatan terhadap lansia, setiap anggota keluarga

memiliki peranan yang sangat penting. Ada beberapa hal yang dapat

dilakukan oleh anggota keluarga dalam melaksanakan perannya terhadap

lansia, yaitu :

a. Melakukan pembicaraan terarah

b. Mempertahankan kehangatan keluarga

c. Membantu melaksanakan persiapan makanan bagi lansia

d. Membantu mencukupi kebutuhan lansia

e. Memeriksakan kesehatan secara teratur

f. Memberi dorongan untuk hidup bersih dan sehat

g. Pemeliharaan kesehatan usia lanjut adalah tanggung jawab bersama

h. Memberikan kasih sayang, menyediakan waktu dan perhatian untuk

merawat lansia

i. Memberikan kesempatan kepada lansia untuk tinggal bersama

xxxiii
8. Peran keluarga dalam perawatan lansia

Keluarga merupakan support sistem utama bagi lansia dalam

mempertahankan kesehatannya. Peranan keluarga dalam perawatan lansia

antara lain menjaga atau merawat lansia, mempertahankan dan meningkatkan

status mental, mengantisipasi perubahan sosial ekonomi, serta memberikan

motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spiritual bagi lansia.

Tugas perkembangan keluarga dengan lansia

Tugas perkembangan keluarga merupakan tanggung jawab yang harus

dicapai keluarga dalam setiap tahap perkembangannya. Keluarga diharapkan

dapat memenuhi kebutuhan biologis,imperatife, budaya dan aspirasi, serta nilai-

nilai keluarga.

Menurut Carter dan Mc Goldrick(1988), tugas perkembangan keluarga

dengan lansia adalah :

a. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan

Pengaturan hidup bagi lansia merupakan suatu faktor yang sangat

penting dalam mendukung kesejahteraan lansia. Perpindahan tempat

tinggal lansia merupakan suatu pengalaman traumatis, karena pindah

tempat tinggal berarti akan merubah kebiasaan-kebiasaan yang selama

ini dilakukan lansia dilingkungan tempat tinggalnya.

b. Penyesuaian terhadap pendapatan yang menurun

Ketika lansia memasuki pensiun, maka terjadi penurunan pendapatan

secara tajam dan semakin tidak memadai, karena biaya hidup terus

xxxiv
meningkat, sementara tabungan/ pendapat berkurang.Dengan seiring

munculnya masalah kesehatan, Pengeluaran untuk biaya kesehatan

merupakan masalah fungsional yang utama. Adanya harapan hidup

yang meningkat memungkinkan lansia untuk dapat hidup lebih lama

dengan masalah kesehatan yang ada.

c. Mempertahankan hubungan perkawinan

Hal ini menjadi lebih penting dalam mewujudkan kebahagian

keluarga. Perkawinan mempunyai kontribusi yang besar bagi moral

dan aktivitas yang berlangsung dari pasangan lansia.

d. Penyesuaian diri terhadap kehilangan pasangan

Tugas perkembangan ini secara umum merupakan tugas secara umum

tugas perkembangan yang paling traumatis. Lansia biasanya telah

menyadari bahwa kematian adalah bagian hidup normal, tetapi

kesadaran akan kematian tidak berarti bahwa pasangan yang

ditinggalkan akan menemukan penyesuaian kematian dengan mudah.

e.Pemeliharaan ikatan keluarga antargenerasi

Ada kecenderungan bagi lansia untuk menjauhkan diri dari hubungan

sosial, tetapi keluarga tetap menjadi fokus interaksi lansia dan sumber

utama dukungan sosial. Oleh karena lansia menarik diri dari aktivitas

dunia sekitarnya, maka hubungan dengan pasangan, anak-anak, cucu

serta saudaranya menjadi lebih penting.

xxxv
f. Meneruskan untuk memahami eksistensi usia lanjut

Penelaahan kehidupan memudahkan penyesuaian terhadap situasi-

situasi sulit yang memberikan pandangan terhadap kejadian- kejadian

di masa lalu. Lansia sangat peduli terhadap kualitas hidup mereka dan

berharap agar dapat hidup terhormat dengan kemegahan dan penuh arti

(Duvall,1977)

Selain itu, lansia sendiri harus dapat melakukan perawatan dirinya

sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitarnya pun perlu memahami

bagaimana melakukan perawatan yang tepat bagi lansia tersebut. Oleh

karena selama individu tersebut memiliki semangat untuk hidup serta

melakukan kegiatan-kegiatan, maka ia akan tetapi produktif dan

berbahagia meskipun usianya telah lanjut.

E. Personal Hygiene

Personal hygiene berasal dari dari bahasa yunani yaitu personal yang artinya

perorangan dan hygiene berarti sehat. Personal Hygiene (kebersihan diri) adalah

keadaan kebersihan diri yang meliputi kebersihan kepala dan rambut, gigi dan

mulut, mata, telinga, hidung, kuku, kulit dan bada serta kebersihan dalam

berpakaian sesuai dengan rasa nyaman untuk memelihara kesehatan dan

kesejateraan fisik maupun psikis (Martiwi, 2008).

Tujuan Personal Hygiene :

1. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang

xxxvi
2. Memelihara kebersihan diri seseorang

3. Memperbaiki personal hygiene yang kurang

4. Mencegah penyakit

5. Menciptakan keindahan

6. Meningkatkan rasa percaya diri

Dampak yang sering muncul pada masalah personal hygiene :

a. Dampak fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak

terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang

sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa

mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.

b. Dampak psikososial

Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan

kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga

diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

F. Perawatan Sehari – Hari Lansia Yang Berhubungan Dengan Personal

Hygiene

1. Kebersihan mulut dan gigi

Kebersihan mulut dan gigi tetap dijaga dengan menyikat gigi dan

berkumur meskipun sudah ompong. Bagi yang masih aktif dan masih

mempunyai gigi cukup lengkap, ia dapat menyikat giginya sendiri sekurang –

xxxvii
kurangnya dua kali dalam sehari, pagi setelah sarapan pagi dan malam

sebelum tidur.

Bagi lansia yang menggunakan gigi palsu (protesa) dapat dirawat sebagai

berikut :

a). Gigi palsu dilepas, dikeluarkan dari mulut dengan menggunakan kain

kasa atau sapu tangan yang bersih. Bila mengalami kesulitan, ia dapat

dibantu oleh keluarga/perawat.

b). Kemudian, gigi palsu disikat perlahan dibawah air mengalir sampai bersih,

bila perlu pasta gigi dapat digunakan.

c). Pada waktu tidur, gigi palsu tidak dipakai dan direndam di dalam air bersih

dalam gelas. Bagi yang sudah tidak mempunyai gigi atau tidak memakai

gigi palsu, setiap kali habis makan, ia harus berkumur – kumur untuk

mengeluarkan sisa makanan yang melekat diantara gigi. Bagi yang masih

mempunyai gigi, tetapi kondisinya lemah atau lumpuh, usaha

membersihkan gigi dan mulut dapat dilakukan dengan bantuan keluarga

atau jika tinggal dipanti, ia dibantu perawat atau petugas.

2. Kebersihan kulit dan badan

Kulit menerima berbagai rangsangan (stimulus) dari luar. Kulit merupakan

pintu masuk ke dalam tubuh. Kebersihan kulit mencerminkan kesadaran

seseorang terhadap pentingnya arti kebersihan. Kebersihan kulit dan kerapian

dalam berpakaian klien lanjut usia perlu tetap diperhatikan agar penampilan

xxxviii
mereka tetap segar. Usaha membersihkan kulit dapat dilakukan dengan cara

manusia setiap hari secara teratur, paling sedikit dua kali sehari.

Manfaat mandi ialah menghilangkan bau, menghilangkan kotoran,

merangsang peredaran darah, dan memberi kesegaran pada tubuh.

Pengawasan yang perlu dilakukan selama perawatan kulit adalah memeriksa

ada tidaknya lecet, mengoleskan minyak pelembab kulit setiap selesai mandi

agar kulit tidak terlalu kering atau keriput, menggunakan air hangat untuk

mandi, yang berguna merangsang peredaran darah dan mencegah kedinginan,

menggunakan sabun yang halus dan jangan terlalu sering karena hal ini dapat

mempengaruhi keadaan kulit yang sudah kering dan keriput.

3. Kebersihan kepala dan rambut

Seperti juga kuku, rambut tumbuh di luar epidermis. Pertumbuhan ini

terjadi karena rambut mendapat makanan dari pembuluh darah di sekitar

rambut. Warna rambut ditentukan oleh adanya pigmen. Klien dianjurkan

untuk keramas 2-3x seminggu. Bila tidak dibersihkan, rambut menjadi kotor

dan debu melekat pada rambut. Tujuan membersihkan kepala dan rambut

adalah untuk menghilangkan debu – debu serta kotoran yang mlekat pada

rambut dan kuli kepala. Klien lanjut usia yang masih aktif dapat mencuci

rambutnya sendiri.

Hal yang perlu diperhatikan yaitu :

a) Bila terdapat ketombe atau kutu rambut, obat dapat diberikan misalnya

peditox

xxxix
b) Untuk rambut yang kering, bisa diberi minyak atau orang – aring atau

lainnya.

c) Untuk mereka yang sama sekali tidak mencuci rambutnya sendiri, baik

karena sakit atau kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan, dapat

mencuci rambut di tempat tidur dengan bantuan salah satu anggota

keluarga atau perawat.

d) Bila lanjut usia lebih sering atau banyak berbaring di tempat tidur, perawat

harus lebih memperhatikan kebersihan rambut klien, mengingat posisi

tidur sering membuat rambut kusut, kering, bau dan gatal

4. Kebersihan kuku

Kuku yang panjang mudah menyebabkan berkumpulnya kotoran, bahkan

kuman penyakit. Oleh karena itu, lanjut usia harus selalu secara teratur

memotong kukunya. Bagi yang tidak mampu melakukan sendiri, sebaiknya

perawat atau keluarga memotongnya dan jangan terlalu pendek karena akan

terasa sakit.

5. Kebersihan pakaian

Pakaian lansia hendaknya terbuat dari bahan yang lunak, harus dijaga

tetap rapi karena banyak lansia yang tidak peduli lagi terhadap pakaiannya.

Warna pakaian cerah tapi lembut, dianjurkan untuk mengganti pakaian 2x

sehari.

6. Kebersihan mata

jika ada kotoran dimata, bersihkan dengan kapas basah dan bersih.

xl
7. Kebersihan telinga

Untuk membersihkan telinga, gunakanlah kapas lidi (cotton buds) dan

jangan menggunakan benda tajam.

8. Kebersihan hidung

Cara yang baik untuk membersihkan kotoran di hidung yaitu dengan

menghembuskan udara dari lubang hidung perlahan – lahan, jangan

memasukkan air dan benda kecil.

G. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang tersebut

melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

(Notoadmojo, 2007)

Pengetahuan yang mencakup domain kognitif mempunyai enam tingkatan

yaitu :

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu bahan atau materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari

seluruh bahasan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.

xli
2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar.

3. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah

dipelajari.

4. Analisis (Analysis)

Kemampuan untuk menjabarkan materi kedalam kmponen-komponen

tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan ada kaitannya satu

sama lain.

5. Sintesa (Syntesis)

Kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian

didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk

menyusun formulasi yang ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu

materi atau objek.

xlii
H. Sikap

Sikap adalah respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus

atau objek (Notoadmojo, 2003).

Pembentukan sikap menurut Azwar (1997), dari adanya interaksi sosial,

individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu tentang berbagai objek

psikologis yang dihadapinya. Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap

tersebut adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap

penting, media massa, institusi dan faktor emosi.

Komponen pokok sikap, Dalam bagian Allport (1945) dalam Notoadmojo

(2007), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai tiga komponen dasar, yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total

attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh, pengetahuan dan pikiran, keyakinan

dan emosi memegang peranan penting (Notoadmojo, 2007).

Menurut Notoadmojo (2003), Sikap juga terdiri dari berbagai tingkatan yaitu

1. Menerima

Menerima diartikan bahawa orang atau subjek manusia dan

memperhatikan stimulus yang diberikan atau objek. Misalnya sikap

orang terhadap gizi dapat dilihat kesediaan dan perhatian orang terhadap

ceramah-ceramah tentang gizi.

xliii
2. Merespon

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan

tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan

suatu usaha untuk menjawab pertanyaan dan mengerjakan tugas yang

diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti

bahwa orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu

masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4. Bertanggung jawab

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala

resiko merupakan sikap paling tinggi.

Fungsi sikap

a. Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikan diri.

b. Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku.

c. Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman.

d. Sikap berfungsi sebagai pernyataan kepbribadian.

Sikap itu dapat diubah atau dibentuk apabila :

1). Terdapat hubungan timbal balik yang langsung antara manusia

2). Adanya komunikasi yaitu hubungan langsung dari satu pihak

xliv
I. Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi masyarakat sangat mempengaruhi status kesehatan seseorang.

Sosial ekonomi masyarakat Indonesia sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan

yang rendah dan pertumbuhan yang cepat dan tidak diikuti dengan lapangan kerja

yang cukup untuk menampung laju pertumbuhan penduduk.

J. Pendidikan

Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi

orang lain baik individu, kelompok maupun masyarakat sehingga mereka

melakukan apa yang diharapkan oleh perilaku pendidikan (Notoadmojo, 2002).

Pendidikan ada 2 macam yaitu pendidikan formal dan informal, dimana

pendidikan formal dikategorikan menjadi SD, SMP, SMA, dan PT (Hastono,

2001). Pengetahuan dapat diperoleh dari peningkatan pendidikan karena makin

tinggi pendidikan seseorang maka makin realistis cara berpikirnya serta makin

luas ruang lingkup jangkauan berpikirnya (BKKBN, 1998).

Menurut Depdikbud (1997) klasifikasi pendidikan terbagi menjadi dua

antara lain :

1. Tinggi : > SLTA

2. Rendah : < SLTA

Pendidikan merupakan suatu bentuk pengajaran yang harus dipedomani oleh

orang tua untuk mendidik sehingga mampu mandiri dan bertanggung jawab.

Pendidikan tidak hanya didapat secara formal tetapi juga didapat secara informal.

xlv
Pola pendidikan orang tua dapat dipengaruhi oleh pendidikan pada pola pikir

dalam pemecahan masalah sebagai contoh tingkat pendidikan SMA kebawah

mempunyai kecenderungan pemecahan masalah berfokus pada subjek centered

kearah problem centered.

xlvi
BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL

DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka yang dikemukakan

sebelumnya, dan menurut teori Lawrens Greens kerangka konsep ini dapat ditulis

sebagai berikut :

Skema 3.1

Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan

Sikap

Perilaku Keluarga
Dalam Perawatan
Sosial Ekonomi
Lansia

Pendidikan

xlvii
B. Definisi Operasional

N Variabel Definisi Cara Alat Hasil Ukur Skala

o Operasional Ukur Ukur Ukur


1. Pengetahu- Segala Wawancara Kuesioner Baik : Apabila Ordinal
an Informasi responden
keluarga yang mampu menjawab
mengenai diterima dan pertanyaan dengan
perawatan dimengerti benar atau nilai
lansia. oleh yang diperoleh >
keluarga 75% dari
mengenai keseluruhan
perawatan pertanyaan yang
lansia. diajukan.
Cukup : Apabila
responden
menjawab
pertanyaan dengan
benar atau nilai
yang diperoleh
antara 60-75%
dari keseluruhan
pertanyaan yang
diajukan.
Kurang :
Apabila responden
mampu menjawab
pertanyaan dengan
benar atau nilai

xlviii
yang diperoleh <
60% dari
keseluruhan
(Arikunto,2002)

2. Sikap Tingkah Wawancara Kuesioner Positif : Apabila Ordinal


keluarga laku skor pernyataan
mengenai keluarga yang didapatkan
perawatan berupa responden >
lansia reaksi atau median (34,0)
berkaitan Negatif : apabila
dengan skor pernyataan
perawatan yang didapatkan
lansia responden <
median (34,0)
(Arikunto,2002)

3. Sosial Status sosial Wawancara Kuesioner Tinggi : jika Ordinal


Ekonomi Ekonomi penghasilan
yang terlihat responden 
dari Rp. 824.730
penghasilan Rendah : Jika
dan penghasilan
pengeluaran responden < Rp.
824.730
(UMR Sumsel,
2009)
4. Tingkat Jenjang Wawancara Kuesioner Tinggi : Jika Ordinal

xlix
Pendidikan pendidikan Pendidikan
formal Responden 
terakhir SMA
yang Rendah : Jika
diselesikan pendidikan
responden responden <
SMA

5. Perilaku Perbuatan Wawancara Kuesioner Baik : Apabila Ordinal


keluarga dan tindakan skor pernyataan
keluarga yang didapatkan
mengenai responden ≥
perawatan median (10,0)
lansia Buruk : Apabila
skor pernyataan
yang didapatkan
responden <
median (10,0)
(Arikunto, 2002)

B. Hipotesis Penelitian

l
Berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka konsep penelitian, dapat

dirumuskan hipotesa penelitian sebagai berikut :

1. Ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku keluarga dalam perawatan

lansia.

2. Ada hubungan antara sikap dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia.

3. Ada hubungan antara tingkat sosial ekonomi dengan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia

4. Ada hubungan antara pendidikan dengan perilaku keluarga dalam perawatan

lansia

li
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Pada penelitian ini penulis menggunakan metode analitik dengan

menggunakan rancangan potong lintang (dilakukan pada batas waktu tertentu)

atau Cross Sectional yaitu dilakukan dengan cara pendekatan, observasi dan

pengumpulan data sekaligus (Hidayat, AA Alimun, 2007).

2. Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh keluarga yang memiliki anggota

keluarga lansia ≥ 60 tahun, kriteria populasi adalah keluarga yang merawat lansia

dan tinggal bersama lansia di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang. Jumlah total

populasi ada 176 orang.

3. Sampel penelitian

Sampel penelitian diambil dengan metode random sampling dengan teknik

simple random sampling. Sampel penelitian adalah sebagian keluarga yang

memiliki anggota keluarga lansia ≥ 60 tahun, dengan kriteria sampel adalah

keluarga yang merawat dan tinggal bersama lansia di RW 04 Kelurahan 5 Ilir

Palembang tahun 2009.

lii
Jumlah sampel dihitung berdasarkan rumus besar dalam Notoadmojo (2005)

sebagai berikut :

n= N

1 + N(d)

Keterangan : N = Besar Populasi

d = Tingkat Ketepatan yang diinginkan (0,1)

n = Besar Sampel

n= N

1 + N(d)

n= 176

1 + 176(0,1)

n = 63,77 = 64 sampel

Jumlah sampel yang didapatkan yaitu sebanyak 64 sampel. Pengambilan

sampel dilakukan dengan metode Random sampling, tekhnik yang dipakai Simple

Random Sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan sederhana.

Hakikatnya bahwa setiap anggota atau unit populasi mempunyai kesempatan yang

sama untuk diseleksi sebagai sampel.

liii
4. Lokasi Penelitian

a. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang.

b. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2009.

5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

a. Teknik Pengumpulan Data

1). Data Primer

Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara langsung

Sebagai data primer yaitu dengan mengambil data dari responden melalui

wawancara dengan cara pengisian kuesioner.

2). Data Sekunder

Data yang diperoleh dari dokumen tertulis laporan Kelurahan 5 Ilir

Palembang.

b. Instrumen Pengumpulan Data

1). Variabel dependen (Perilaku Keluarga) terdiri dari 10 pertanyaan, dimana

pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui perilaku keluarga dalam

perawatan lansia. Dimana pertanyaan disediakan 2 alternatif jawaban yaitu

ya dan tidak, jawaban ya (kuesioner no. 1, 2, 3, 7, 10) dan jawaban tidak

(kuesioner no. 4, 5, 6, 8, 9) masing – masing pertanyaan diberi nilai 1 jika

jawaban benar dan 0 jika jawaban salah.

liv
2). Variabel independen

a). Pengetahuan terdiri dari 10 pertanyaan multiple choise (pilihan

ganda), dimana dari masing – masing pertanyaan akan diberi nilai 1

jika jawaban benar dan nilai 0 jika jawaban salah.

b). Sikap terdiri dari 10 pertanyaan, dimana pengukuran dilakukan

dengan menggunakan skala likert, yaitu untuk pernyataan positif

( kuesioner sikap 1, 3, 5, 7 dan 9) jawaban sangat setuju = 4, setuju =

3, tidak setuju = 2, sangat tidak setuju = 1. Sedangkan untuk

pernyataan negatif ( kuesioner sikap, 2, 4, 6, 8, dan 10) jawaban

sangat setuju = 1, setuju = 2, , tidak setuju = 3, sangat tidak setuju =

4.

c). Pendidikan terdiri dari Tinggi jika pendidikan responden ≥ SMA,

Rendah jika pendidikan responden < SMA.

d). Sosial ekonomi terdiri dari Tinggi jika penghasilan responden ≥

Rp. 824.730, Rendah jika penghasilan responden < Rp. 824.730.

6. Etika Penelitian

Sebelum pengambilan dan penyerahan kuesioner kepada responden terlebih

dahulu responden akan mendatangani surat persetujuan untuk menjadi responden

dalam penelitian yang dilakukan. Setelah mendapatkan persetujuan, peneliti dapat

memulai dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi :

a. Informed Consent

lv
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang diteliti dan sudah

memenuhi kriteria dari peneliti. Dalam lembar ini dicantumkan judul

penelitian dan manfaat penelitian. Bila subjek menolak maka penelitian tidak

boleh memaksa dan tetap menghormati hak – hak subjek.

b. Anonimity

Untuk menjaga kerahasiaan maka peneliti tidak akan mencantumkan nama

responden akan tetapi pada lembar tersebut hanya diberi kode.

c. Confenditiality

Kerahasiaan informasi yang didapat dari responden dijamin peneliti. Hanya

kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

7. Teknik Pengolahan dan Analisa Data

a. Pengolahan Data

1). Coding (Pengkodean)

Memberi kode pada setiap jawaban responden untuk memudahkan

pengolahan data.

2). Editing (Pengolahan Data)

Meneliti kembali jawaban pada lembar kuesioner apakah sudah baik dan

benar .Jawaban yang sudah baik dan benar dapat diteruskan untuk diolah

lebih lanjut.

3). Entry Data (Pemasukan data) atau Tabulating

Memasukan data yang sudah diolah sebelumnya kedalam tabel.

lvi
4). Cleaning (Pembersihan data)

Mengecek kembali data yang ada.

2. Analisa Data

Analisa data yang dilakukan menggunakan program computer (SPSS) dengan

langkah-langkah sebagai berikut :

a. Analisa Univariat dilakukan dengan melihat distribusi frekuensi dari

masing-masing kategori variabel dependen dan variabel independen.

b. Analisa Bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel

dependen dan variabel independen (Pengetahuan, Sikap, Pendidikan, dan

Sosial Ekonomi) dengan uji kai kuadrat (Chi Square).

lvii
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN UMUM

1. Batasan Komunitas

a. Batas Wilayah

- Sebelah Utara : Jl. Sutan Syahrir

- Sebelah Selatan : Kelurahan Duku

- Sebelah Barat : Kelurahan 2 Ilir

- Sebelah Timur : RT 14

b. Karakteristik Wilayah

Karakteristik wilayah Kelurahan 5 Ilir berupa pemukiman penduduk.

2. Dimensi Lokal

a. Luas Wilayah

Luas wilayah RW 04 adalah 24 Ha.

b. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk di RW 04 adalah 1403 jiwa.

c. Jumlah KK

Jumlah KK di RW 04 yaitu 160 KK.

d. Karakteristik

- Laki-laki : 629 Jiwa

lviii
- Perempuan : 774 Jiwa

3. Lokasi Pelayanan Kesehatan

a. Tempat Pelayanan Kesehatan

- Puskesmas 5 Ilir Palembang

- Posyandu Lansia Wijaya Kesuma Palembang

b. Jarak

- Jarak dari pemukiman ke Puskesmas 5 Ilir Palembang yaitu 1 Km.

- Jarak dari pemukiman ke Posyandu Lansia Wijaya Kesuma yaitu 100 M.

c. Cara Mencapai

Masyarakat dapat mencapai tempat pelayanan kesehatan dengan

menggunakan kendaraan bermotor, kendaraan umum atau berjalan kaki.

B. Analisis Univariat

1.Usia Responden

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia
Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009

No Usia Ibu Jumlah


n Persentase
1 < 20 tahun 2 3,2 %
2 20 – 35 tahun 45 70,3%
3 > 35 tahun 17 26,6%
Total 64 100 %

Dari tabel 5.1 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden adalah

dengan usia 20 – 35 tahun yaitu sebanyak 45 responden (70,3%) dan

lix
responden yang berusia > 35 tahun sebanyak 17 responden

(26,6%).Sedangkan responden yang berusia < 20 tahun hanya sebanyak 2

responden (3,1%).

2. Pekerjaan Responden

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan
Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009

No. Pekerjaan Jumlah


n Persentase
1 IRT 7 10,9%
2 Buruh 12 18,8%
3 Wiraswasta 10 15,6%
4 Swasta 17 26,6%
5 PNS 18 28,1%
Total 64 100%

Dari Tabel 5.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden

memiliki pekerjaan sebagai PNS sebanyak 18 responden (28,1%), responden

yang memiliki pekerjaan sebagai swasta sebanyak 17 responden (26,6%),

kemudian menyusul responden dengan pekerjaan sebagai buruh sebanyak 12

responden (18,8%), responden yang memilki pekerjaan sebagai wiraswasta

sebanyak 10 responden (15,6%) dan responden yang hanya IRT sebanyak 7

responden (10,9%).

lx
3. Pengetahuan Responden

Tabel 5.3
Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan
Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009

No Pengetahuan Jumlah
n Persentase
1 Baik 21 32,8 %
2 Cukup 26 40,6 %
3 Kurang 17 26,6%
Total 64 100 %

Dari tabel 5.3 dapat diketahui bahwa responden dengan pengetahuan

baik sebanyak 21 responden (32,8 %), responden dengan pengetahuan cukup

sebanyak 26 responden (40,6 %) dan responden yang memiliki pengetahuan

kurang sebanyak 17 responden (26,6%).

4. Sikap Responden

Tabel 5.4
Frekuensi Berdasarkan Sikap
Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009

No Sikap Jumlah
n Presentase
1 Positif 34 53,1 %
2 Negatif 30 46,9 %
Total 64 100 %

Dari tabel 5.4 dapat diketahui bahwa responden yang memilki sikap

positif sebanyak 34 (53,1 %) dan responden yang memilki sikap negatif

sebanyak 30 (46,9 %).

lxi
5. Sosial Ekonomi Responden

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Sosial Ekonomi
Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009

No Social Ekonomi Jumlah


n Persentase
1 Tinggi 42 65,6 %
2 Rendah 22 34,4 %
Total 64 100 %

Dari tabel 5.5 dapat diketahui bahwa Responden yang sosial ekonomi

tinggi sebanyak 42 responden (65,6 %) dan responden dengan sosial ekonomi

rendah sebanyak 22 responden (34,4 %).

6. Pendidikan Responden

Tabel 5.6
Frekuensi Berdasarkan Pendidikan
Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009

No Pendidikan Jumlah
n Persentase
1 Tinggi 44 68,8 %
2 Rendah 20 31,3 %
Total 64 100 %

Dari tabel 5.6 diketahui bahwa sebagian besar responden

berpendidikan tinggi sebanyak 44 responden(68,8%) dan responden dengan

pendidikan rendah sebanyak 20 responden (31,3%).

lxii
7. Perilaku Responden

Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Perilaku
Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009

No Perilaku Jumlah
N Persentase
1 Baik 34 53,1%
2 Buruk 30 46,9%
Total 64 100 %

Dari tabel 5.7 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden sudah

memiliki perilaku baik sebanyak 34 (53,1 %) dan responden yang memiliki

perilaku buruk sebanyak 30 responden (46,9 %).

lxiii
B. Analisis Bivariat

Analisis Bivariat dilakukan dengan tabulasi silang (Crossstab) dan Uji

Chi Square untuk menemukan bentuk hubungan statistik antara variabel

independen (pengetahuan, sikap, sosial ekonomi dan pendidikan) dengan

variabel dependen (perilaku).

Hasil analisis bivariat ini menemukan hubungan masing – masing

variabel independen dengan variabel dependen.

1. Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Keluarga Dalam Perawatan


Lansia.

Tabel 5.8
Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Keluarga dalam
Perawatan Lansia Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang
Tahun 2009

Pengetahuan Perilaku Total Pvalue


Baik Buruk
n % n % n %
Baik 17 81,0 14 19,0 21 100 0,002
Cukup 13 50,0 13 50,0 26 100
Kurang 14 23,5 13 76,5 17 100

Total 34 53,1 30 46,9 64 100

Dari tabel 5.8 dijelaskan bahwa hasil analisis menemukan bahwa

terdapat 17 responden (81,0%) memiliki perilaku baik dengan pengetahuan

baik, sedangkan responden yang memiliki perilaku baik pengetahuan cukup

ada 13 responden (50,0%) dan responden yang berperilaku baik pengetahuan

ada 14 responden. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nila Pvalue = 0,002,

lxiv
dimana Pvalue < 0,05 maka ada hubungan antara pengetahuan responden

dengan perilaku responden dalam perawatan lansia.

2. Hubungan Sikap Dengan Perilaku Keluarga Dalam Perawatan Lansia

Tabel 5.9
Hubungan Sikap Dengan Perilaku Keluarga Dalam Perawatan
Lansia Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang
Tahun 2009

Sikap Perilaku Total Pvalue


Baik Buruk
n % n % n %
Positif 24 70,6 10 29,4 34 53,1 0,006
Negatif 10 33,3 20 66,7 30 46,9
Total 34 53,1 30 46,9 64 100

Dari tabel 5.9 dijelaskan bahwa hasil analisis menemukan bahwa

terdapat 24 responden (70,6%) yang memiliki perilaku baik dengan sikap

positif, lebih besar dari responden perilaku baik dengan sikap negatif yang

hanya ada 10 responden (33,3%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai

Pvalue = 0,006, dimana Pvalue < 0,05 maka ada hubungan antara sikap

responden dengan perilaku responden dalam perawatan lansia.

lxv
3. Hubungan Sosial Ekonomi dengan Perilaku keluarga Dalam

Perawatan Lansia

Tabel 5.10
Hubungan Sosial Ekonomi Dengan Perilaku Keluarga Dalam
Perawatan Lansia Di RW 04 kelurahan 5 Ilir Palembang
Tahun 2009

Sosial Perilaku Total Pvalue


Ekonomi Baik Buruk n %
n % n %
Tinggi 29 69,0 13 31,0 42 100 0,001
Rendah 5 14,7 17 77,3 22 100
Total 34 53,1 30 46,9 64 100

Dari tabel 5.10 dijelaskan bahwa hasil analisis menemukan bahwa

terdapat 29 responden (69,0%) yang memiliki perilaku baik dengan sosial

ekonomi tinggi sedangkan responden yang memiliki perilaku baik sosial

ekonomi rendah hanya 5 responden (22,7%). Hasil Uji statistik menunjukkan

bahwa nilai Pvalue = 0,001, dimana Pvalue < 0,05 maka ada hubungan yang

bermakna antara sosial ekonomi responden dengan perilaku responden dalam

perawatan lansia.

lxvi
4. Hubungan Pendidikan Dengan Perilaku Keluarga Dengan Perawatan
Lansia

Tabel 5.11
Hubungan Pendidikan Dengan Perilaku Keluarga Dalam
Perawatan Lansia Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang
Tahun 2009

Pendidikan Perilaku Total Pvalue


Baik Buruk
n % n % n %
Tinggi 26 59,1 18 40,9 44 100 0.25
Rendah 8 40,0 12 60,0 20 100
Total 34 53,1 30 46,9 64 100

Dari tabel 5.11 dijelaskan bahwa hasil analisis menemukan bahwa

terdapat 26 responden (59,1%) yang memiliki perilaku baik dengan

pendidikan tinggi sedangkan responden yang memiliki perilaku baik

pendidikan rendah hanya ada 8 responden (40,0%). Hasil uji statistik

menunjukkan bahwa nilai Pvalue = 0,25, dimana Pvalue > 0,05 maka tidak

ada hubungan antara pendidikan dengan perilaku responden dalam perawatan

lansia.

lxvii
BAB VI

PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

1. Jumlah sampel yang masih sedikit untuk memperoleh hasil analisis pada

setiap kategori variabel yang memenuhi persyaratan uji statistik yang

memadai

2. Uji statistik yang digunakan belum kompleks untuk menganalisis perilaku

keluarga dalam perawatan lansia secara lengkap dan utuh.

3. Jumlah variabel yang diteliti masih sedikit.

4. Kuesioner pada variabel independen tidak dilakukan uji validitas dan

reabilitas terlebih dahulu.

5. Jumlah pertanyaan pada masing – masing variabel masih sedikit atau

masih kurang dari 20 pertanyaan.

B. Pembahasan Hasil Penelitian


1. Analisis Univariat

a. Pengetahuan Responden

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden yaitu sebanyak 21 responden (32,8%) memilki pengetahuan

kategori baik, 26 responden (40,6%) memiliki pengetahuan dengan

kategori cukup, dan 17 responden (26,6%) memiliki pengetahuan dengan

kategori kurang.

lxviii
b. Sikap Responden

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden yaitu sebanyak 34 responden (53,1%) memiliki sikap positif

dan 30 responden (46,9%) memiliki sikap negatif.

c. Sosial Ekonomi Responden

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden yaitu sebanyak 42 responden (65,6%) dikategorikan sosial

ekonomi tinggi dan 22 responden (34,4%) termasuk dalam kategori sosial

ekonomi rendah.

d. Pendidikan Responden

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden yaitu sebanyak 44 responden (68,8%) dikategorikan pendidikan

tinggi dan 20 responden (31,3%) termasuk dalam kategori pendidikan

rendah.

2. Analisis Bivariat

a. Pengetahuan Keluarga Dengan Perilaku Keluarga Dalam Perawatan


Lansia

Dalam hubungannya dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia

diketahui bahwa hasil analisis proporsi terdapat 17 responden (81,0%)

yang memiliki perilaku baik dengan pengetahuan baik, responden yang

memiliki perilaku baik berpengetahuan cukup ada 13 responden (50,0%)

lxix
dan responden yang memiliki perilaku baik pengetahuan kurang ada 4

responden (23,5%), sedangkan responden yang memiliki perilaku buruk

pengetahuan baik ada 4 responden (19,0%), responden dengan perilaku

buruk pengetahuan cukup ada 13 responden (50,0%) dan ada 13

responden (76,5%) yang memiliki perilaku buruk pengetahuan kurang.

Hasil uji statistik didapat Pvalue = 0,002. Hal ini menunjukkan bahwa ada

hubungan antara pengetahuan dengan perilaku keluarga dalam perawatan

lansia di RW 04 kelurahan 5 Ilir Palembang tahun 2009.

Berdasarkan hasil penelitian Sri Astuti N (2002), Seiring dengan

meningkatnya jumlah populasi warga lansia, pengetahuan tentang

mengasuh dan merawat lansia menjadi suatu hal yang penting. Dengan

pengetahuan yang sudah baik diharapkan meningkatkan mutu perawatan

terhadap lansia sehingga meningkat derajat kesehatan lansia. Peningkatan

penyuluhan, posyandu lansia, diskusi – diskusi dan simulasi akan sangat

berguna untuk menambah pengetahuan keluarga.

Dalam teori yang diungkapkan oleh Notoadmojo juga menyebutkan

bahwa salah satu hal yang mempengaruhi perilaku atau tindakan

seseorang tersebut adalah pengetahuan. Dimana peningkatan pengetahuan

tersebut mempunyai hubungan yang positif dengan perubahan variabel

perilaku (Green 1991 dalam Notoadmojo).

lxx
b. Sikap Keluarga Dengan Perilaku Keluarga Dalam Perawatan Lansia

Dalam hubungannya dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia

diketahui bahwa hasil analisis proporsi terdapat 24 responden (70,6%)

yang memiliki perilaku baik sikap positif dan ada 10 responden (29,4%

%) yang memiliki perilaku baik sikap negatif, sedangkan responden yang

memiliki perilaku buruk sikap positif ada 10 responden (33,3%) dan

responden yang memiliki perilaku buruk sikap negatif ada sebanyak 20

responden (66,7%). Hasil uji statistik didapat Pvalue = 0,006. Hal ini

menunjukkan bahwa ada hubungan antara sikap dengan perilaku keluarga

dalam perawatan lansia di RW 04 kelurahan 5 Ilir Palembang tahun 2009.

Berdasarkan hasil penelitian Sutarna (2006), menunjukkan bahwa

kebutuhan utama dari lanjut usia adalah kesehatan, ketenangan hidup,

perlakuan yang wajar, lembut, tidak mendapat kata- kata kasar. Sikap

positif dari keluarga menjadi hal yang sangat berpengaruh terhadap

perawatan lansia.

Sikap adalah penilaian seseorang terhadap stimulus atau objek. Setelah

seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya akan

menilai atau bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan

(Notoadmojo, 1993).

Apabila individu memiliki sikap positif terhadap suatu stimulus atau

objek kesehatan maka ia akan mempunyai sikap yang menunjukkan atau

lxxi
memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui serta melaksanakan

norma – norma yang berlaku dimana individu tersebut berada. Sebaliknya

bila ia memiliki sikap negatif terhadap suatu objek, maka ia akan memilki

sikap yang menunjukkan atau memperlihatkan penolakan atau tidak

menyetujui terhadap norma – norma yang berlaku dimana individu

tersebut berada (Sunaryo, 2004).

c. Sosial Ekonomi Keluarga Dengan Perilaku Keluarga Dalam


Perawatan Lansia
.
Dalam hubungannya dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia

diketahui bahwa hasil analisis proporsi terdapat 29 responden (69,0%)

yang memiliki perilaku baik dengan sosial ekonomi tinggi dan ada 5

responden (22,7%) memiliki perilaku baik sosial ekonomi rendah,

sedangkan responden yang memiliki perilaku buruk dengan sosial

ekonomi tinggi ada 13 responden (31,0%) dan responden yang memiliki

perilaku buruk sosial ekonomi rendah sebanyak 17 responden (77,3%).

Hasil uji statistik didapat Pvalue = 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa ada

hubungan antara sosial ekonomi dengan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia di RW 04 kelurahan 5 Ilir Palembang tahun 2009.

Berdasarkan hasil penelitian Adi H (2003), Banyak lansia yang

mengalami keluhan dan gangguan kesehatan. Kebersamaan lansia dengan

keluarga sangat berperan dalam kesejahteraan hidup lansia dan keluarga

lxxii
sangat berperan dalam kesejahteraan hidup lansia dan keluarga sangat

bertanggung jawab dalam hal yang berhubungan dengan kebutuhan lansia,

dukungan secara sosial ekonomi (financial) dari keluarga sangat

mempengaruhi kondisi perawatan lansia.

Status ekonomi sangat mempengaruhi status kesehatan seseorang.

Keadaan sosial ekonomi yang rendah pada umumnya karena

ketidakmampuan seseorang dalam mengatasi masalah yang mereka

hadapi, sebaliknya pada sosial ekonomi yang tinggi memiliki

kecenderungan untuk dapat mengatasi masalah (Effendi, 1998).

d. Pendidikan Keluarga Dengan Perilaku Keluarga Dalam Perawatan


Lansia

Dalam hubungannya dengan perilaku keluarga dalam perawatan lansia

diketahui bahwa hasil analisis proporsi terdapat 26 responden (59,1%)

yang memiliki perilaku baik dengan pendidikan tinggi dan ada 8

responden (40,9%) memiliki perilaku baik pendidikan rendah, sedangkan

responden yang memiliki perilaku buruk dengan pendidikan tinggi ada 18

responden (40,0%) dan 12 responden (60,0%) memiliki perilaku buruk

dengan pendidikan rendah. Hasil uji statistik didapat Pvalue = 0,25. Hal

ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan

perilaku keluarga dalam perawatan lansia di RW 04 kelurahan 5 Ilir

Palembang tahun 2009.

lxxiii
Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin

tinggi pendidikan seseorang maka makin realistis cara berpikirnya serta

makin luas ruang lingkup jangkauan berpikirnya (BKKBN, 1999).

Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk

mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok maupun masyarakat

sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh perilaku

pendidikan.

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

lxxiv
A. Kesimpulan

1. Ada hubungan yang bermakna antara Pengetahuan keluarga dengan perilaku

keluarga dalam perawatan lansia dengan Pvalue = 0,002

2. Ada hubungan yang bermakna antara Sikap dengan perilaku keluarga dalam

perawatan lansia dengan Pvalue = 0,006

3. Ada hubungan yang bermakna antara Sosial Ekonomi dengan perilaku

keluarga dalam perawatan lansia dengan Pvalue = 0,001

4. Tidak ada hubungan yang bermakna antara Pendidikan dengan perilaku

keluarga dalam perawatan lansia dengan Pvalue = 0,25

B. Saran

1. Bagi Tenaga Kesehatan

Diharapkan tenaga kesehatan dapat mengoptimalisasikan peran tenaga

kesehatan sebagai edukator dalam meberikan informasi tentang perawatan

lansia.

2. Bagi Peneliti

Perlu penelitian selanjutnya untuk mengetahui hubungan perilaku keluarga

dalam perawatan lansia dengan sampel yang lebih besar, dengan analisis yang

lebih kompleks dan bisa seminimal mungkin.

3. Bagi Responden

lxxv
Diharapkan lebih membuka diri terhadap segala sesuatu informasi mengenai

perawatan lansia dan mempunyai kesadaran tinggi dalam peningkatan

kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

lxxvi
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Edisi Revisi VI. Rineka Cipta : Jakarta.

Budhi Darmojo dan Hadi Martono. 1999. Buku Ajar Geriarti. Balai Pustaka FKUI

Effendi, Nasrul.1998. Dasar – Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC:


Jakarta.

Hardiwinoto dan Toni Setiabudi. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan Dari


Berbagai Aspek. Gramedia : Jakarta

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Metode Penelitian Dan Tekhnik Analsis Data.
Salemba Medika: Jakarta.

Hastono, P. Sutanto. 2001. Analisa Data. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas


Indonesia: Jakarta.

Mahcfoedz, Ircham. 2007. Metodologi Penelitian Bidang Keperawatan Dan


Kebidanan. Fitramaya: Yogyakarta.

Notoadmojo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta : Jakarta.

, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta : Jakarta.

, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta : Jakarta.

Purwanto, Heri. 1998. Pengantar Perilaku Manusia. EGC : Jakarta.

R. Siti Maryam, dkk. 2008. Mengenal Usia lanjut dan Perawatannya.Salemba


Medika : Jakarta..

http// www.analisadailiy.com. Pertambahan Jumlah Lansia Indonesia terbesar di


Dunia, diakses 28 Maret 2009.

http// www.komnas lansia.com. Kepedulian Masyarakat dan Nasib Lansia, diakses 1


April 2009.

http// www.kompas.com. Reputasi Jepang dengan Jumlah Lansia Terbanyak, diakses


28 Maret 2009.
http// www.Depsos.go.id. Lansia Dalam Keluarga dan Masyarakat, diakses 27 Maret
2009.

lxxvii
http/junaidichaniago.wordpress.com.Penduduk Lanjut Usia dan Peranan Keluarga,
diakses 8 Mei 2009.

http/digilib.petra.ac.id.Lanjut Usia, diakes 8 Mei 2009.

http/hidayat2.wordpress.com. Konsep Personal Hygiene, diakses 13 Agustus 2009.

DEPARTEMEN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG

lxxviii
JURUSAN KEPERAWATAN

Jl. Merdeka 76-78 Telp. 0711351081


Palembang 30134 Fax. 0711317182

LEMBAR PERSETUJUAN

MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

Judul Penelitian : Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku

Keluarga Dalam Perawatan Lansia Di RW 04 Kelurahan 5

Ilir Palembang

Tahun 2009.

Nama Peneliti : Dwi Astari

Saya telah diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai segala sesuatu

yang berkaitan dengan penelitian dan mengenai peran serta saya dalam penelitian ini.

Semua pertanyaan saya telah dijawab dan dijelaskan oleh peneliti.

Dengan demikian secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun,

saya bersedia berperan dalam penelitian ini dan menandatangani lembar persetujuan

sebagai responden dalam penelitian ini.

Peneliti Tertanda
Responden

( ) ( )

DEPARTEMEN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG

lxxix
JURUSAN KEPERAWATAN

Jl. Merdeka 76-78 Telp. 0711351081


Palembang 30134 Fax. 0711317182

LEMBAR PERSETUJUAN

SEBAGAI RESPONDEN PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Alamat :

Umur :

Menyatakan bersedia menjadi responden dalam penelitian yang

berjudul ”Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Keluarga Dalam

Perawatan Lansia Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang Tahun 2009”

Demikian surat pernyataan ini saya tanda tangani secara sadar tanpa

ada unsur paksaan dari pihak manapun.

Palembang, Juni 2009


Responden

( )

Lembar Kuesioner

lxxx
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Keluarga Dalam Perawatan

Lansia

Tahun 2009

No. Responden :

Petunjuk :

- Tulislah Nama, Alamat, Pendidikan Terakhir, Pekerjaan, dan Penghasilan.

- Tulislah jawaban anda pada tempat yang telah disediakan.

- Pertanyaan ini bukan untuk menilai anda, tetapi untuk mengetahui hubungan

Pengetahuan, Sikap, Pendidikan dan Sosial Ekonomi dengan perilaku

keluarga dalam perawatan lansia.

- Jawablah pertanyaan berikut dengan sejujur mungkin.

- Jawablah pertanyaan berikut sesuai kemampuan anda, hasil penelitian tidak

akan mempengaruhi penilaian anda.

A. Identitas Responden

lxxxi
Nama :

Usia :

Pendidikan :

Pekerjaan :

Penghasilan :

Alamat :

Berilah tanda (√) pada pilihan yang menurut anda yang paling benar.

B. Pengetahuan

1. Lansia adalah...
a. Seseorang yang berumur lebih dari 60 tahun
b. Seseorang yang mengalami penurunan fisik
c. Seseorang yang sakit – sakitan

2. Proses penuaan adalah...


a. Proses menjadi tua dan mengalami penurunan tingkat kemampuan.
b. Proses alami yang menyebabkan penurunan fungsi dan kemampuan tubuh.
c. Proses menjadi tua yang berguna dan bahagia

3. Salah satu karakter lansia adalah..


a. Usia lebih dari 60 tahun
b. Lingkungan tempat tinggal di keluarga
c. Lansia mengalami ketergantungan

4. Yang paling bertanggung jawab dalam merawat kesehatan lansia adalah...


a. Masyarakat

lxxxii
b. Keluarga
c. Dinas Sosial

5. Tujuan membina kesehatan lansia adalah...


a. Meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa
tua yang bahagia dan berguna
b. Meningkatkan kemandirian dalam kehidupan lansia
c. Membangun sikap diri lansia yang produktif

6. Sasaran langsung dari pembinaan kesehatan lansia adalah...


a. Lansia
b. Keluarga
c. Masyarakat

7. Peran keluarga dalam perawatan lansia adalah...


a. Menjaga dan merawat kesehatan lansia
b. Membiarkan lansia melakukan aktivitas sendiri
c. Membentuk hubungan baik dengan lansia

8. Tempat yang paling baik untuk merawat lansia adalah...


a. Panti jompo
b. Keluarga
c. Dinas Sosial

9. Salah satu tugas keluarga dalam merawat lansia adalah...


a. Memeriksakan kesehatan secara teratur

lxxxiii
b. Meningkatkan mutu kehidupan lansia
c. Tidak membentuk hubungan yang baik pada lansia

10. Lansia termasuk kedalam tipe keluarga...


a. Keluarga besar
b. Keluarga inti
c. Keluarga kecil

C. Sikap
Pilihlah jawaban yang anda anggap paling benar sesuai dengan diri anda (√ ) pada
kolom yang telah tersedia.
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju

No Pertanyaan SS S TS STS
1. Keluarga selalu
memotivasi lansia dalam
mempertahankan
kesehatannya
2. Keluarga merasa
terganggu dan tertekan
dengan adanya orang tua
yang tinggal bersama
keluarga
3. Keluarga selalu
mendukung kegiatan

lxxxiv
yang dilakukan oleh
orang tua
4. Keluarga merasa
terbebani dengan biaya
pengobatan orang tua
jika orang tua sakit
5. Keluarga selalu mencari
informasi mengenai
kesehatan lansia atau
pengobatan bila orang
tua sakit
6. Keluarga tidak pernah
memeriksakan kesehatan
orang tua secara teratur
7. Merawat orang tua
merupakan tanggung
jawab keluarga
8. Orang tua lebih baik
dirawat di Panti daripada
di rumah oleh keluarga

9. Keluarga membantu
mencukupi kebutuhan
lansia

10. Keluarga kurang


memberikan perhatian
dan kasih sayang pada
orang tua

lxxxv
D. Perilaku
Pilihlah jawaban yang sesuai yang pernah anda lakukan dengan cara memberi tanda
( √ ) pada kolom yang tersedia.
No. Pertanyaan Ya Tidak
1. Apakah keluarga selalu memeriksakan
kesehatan orang tua secara rutin
2. Apakah keluarga selalu meluangkan waktu
untuk merawat orang tua
3. Apakah keluarga selalu memberi dorongan
pada orang tua untuk hidup bersih dan sehat
4. Apakah keluarga tidak pernah membantu
lansia merawat diri seperti menjaga
kebersihan diri
5. Jika orang tua sakit, apakah keluarga
membiarkannya saja
6. Apakah keluarga tidak memberikan makanan
bergizi pada orang tua
7. Apakah keluarga selalu menghormati dan
menghargai keberadaan orang tua di rumah
8. Apakah keluarga terpaksa memberikan
kesempatan orang tua untuk tinggal bersama
keluarga
9. Apakah keluarga tidak merawat orang tua
dengan kasih sayang dan perhatian
10. Apakah keluarga mampu menciptakan
lingkungan yang aman bagi lansia

lxxxvi
LEMBAR KONSULTASI
BIMBINGAN KARYA TULIS ILMIAH

Nama : Dwi Astari


NIM : PO. 071.20.1.06.008
Judul : Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Keluarga
Dalam Perawatan Lansia Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang
Tahun 2009.
Pembimbing : 1. Hj. Hakimah, S.Pd
2. H. Ridwan Ikob, S.Pd, M.Kes

lxxxvii
No Tanggal Konsul HAL/BAB Hasil Konsultasi Paraf
Dikonsultasikan
1 24 Februari 2009 Konsul Judul ACC
2 30 Maret 2009 BAB 1 Perbaikan
3 7 April 2009 BAB 1, BAB II Perbaikan
4 13 April 2009 BAB III, BAB IV Perbaikan
5 15 April 2009 BAB I,BAB II, BAB III Perbaikan
dan BAB IV
6 22 April 2009 Kuesioner ACC
7 27 April 2009 BAB I,BAB II, BAB III ACC
dan BAB IV, Kuesioner
8 20 Juli 2009 BAB V Perbaikan
9 22 Juli 2009 BAB VI dan BAB VII Perbaikan
10 6 Agustus 2009 KTI ACC
11 KTI Perbaikan
12

Palembang, Agustus 2009


Pembimbing

Hj. Hakimah, S.Pd


NIP.
LEMBAR KONSULTASI
BIMBINGAN KARYA TULIS ILMIAH

Nama : Dwi Astari


NIM : PO. 071.20.1.06.008
Judul : Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Keluarga
Dalam Perawatan Lansia Di RW 04 Kelurahan 5 Ilir Palembang
Tahun 2009.
Pembimbing : 1. Hj. Hakimah, S.Pd
2. H. Ridwan Ikob, M.Kes
No Tanggal HAL/BAB Hasil Konsultasi Paraf

lxxxviii
Konsul Dikonsultasikan
1 15 April 2009 BAB 1 dan BAB Perbaikan
II
2 24 April 2009 BAB I,BAB Perbaikan
II,BAB III,BAB
IV dan kuesioner
3. 30 April 2009 BAB I,BAB ACC
II,BAB III,BAB
IV dan kuesioner
4. 30 Juli 2009 BAB V,BAB VI Perbaikan
dan BAB VII

Palembang, Agustus 2009


Pembimbing

H. Ridwan Ikob, S.Pd, M.Kes


NIP.
Frequencies
Statistics

Umur

N Valid 64
Missing 0

Umur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid < 20 2 3.1 3.1 3.1
20 - 35 45 70.3 70.3 73.4
> 35 17 26.6 26.6 100.0
Total 64 100.0 100.0

Statistics

Pekerjaan

lxxxix
N Valid 64
Missing 0
Pekerjaan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid IRT 7 10.9 10.9 10.9
Buruh 12 18.8 18.8 29.7
Wiraswasta 10 15.6 15.6 45.3
Swasta 17 26.6 26.6 71.9
PNS 18 28.1 28.1 100.0
Total 64 100.0 100.0

Frequencies table
N Sikap Perilaku
Mean 33,69 9,14
Median 34,00 10,00
Mode 34 10
Minimum 26 5
Maximum 38 10
Sum 2156 585

Pengetahuan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid baik 21 32.8 32.8 32.8
cukup 26 40.6 40.6 73.4
kurang 17 26.6 26.6 100.0
Total 64 100.0 100.0

Sikap

xc
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid positif 34 53.1 53.1 53.1
negatif 30 46.9 46.9 100.0
Total 64 100.0 100.0

Sosial ekonomi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tinggi 42 65.6 65.6 65.6
rendah 22 34.4 34.4 100.0
Total 64 100.0 100.0

Pendidikan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid tinggi 44 68.8 68.8 68.8
rendah 20 31.3 31.3 100.0
Total 64 100.0 100.0

Perilaku

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid baik 34 53.1 53.1 53.1
buruk 30 46.9 46.9 100.0
Total 64 100.0 100.0

xci
Crosstabs : Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pengetahuan*Peri
64 100.0% 0 .0% 64 100.0%
laku

Pengetahuan*Perilaku Crosstabulation

perilaku Total
baik buruk
Pengeta baik Count
17 4 21
huan
% within
81.0% 19.0% 100.0%
pengetahuan
% of Total 26.6% 6.3% 32.8%
cukup Count 13 13 26
% within
50.0% 50.0% 100.0%
pengetahuan
% of Total 20.3% 20.3% 40.6%
kurang Count 4 13 17
% within
23.5% 76.5% 100.0%
pengetahuan

xcii
% of Total 6.3% 20.3% 26.6%
Total Count 34 30 64
% within
53.1% 46.9% 100.0%
pengetahuan
% of Total 53.1% 46.9% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig.
Value df (2-sided)
Pearson Chi-Square 12.612(a) 2 .002
Likelihood Ratio 13.428 2 .001
Linear-by-Linear
12.384 1 .000
Association
N of Valid Cases
64
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.97.

Crosstabs : Hubungan Sikap dengan Perilaku

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
sikap * Perilaku 64 100.0% 0 .0% 64 100.0%

sikap * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
baik buruk
sikap positif Count 24 10 34
% within sikap 70.6% 29.4% 100.0%
% of Total 37.5% 15.6% 53.1%
negatif Count 10 20 30
% within sikap 33.3% 66.7% 100.0%
% of Total 15.6% 31.3% 46.9%
Total Count 34 30 64
% within sikap 53.1% 46.9% 100.0%
% of Total 53.1% 46.9% 100.0%

Chi-Square Tests

xciii
Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.
Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 8.883(b) 1 .003
Continuity
7.450 1 .006
Correction(a)
Likelihood Ratio 9.088 1 .003
Fisher's Exact Test .005 .003
Linear-by-Linear
Association 8.744 1 .003
N of Valid Cases 64
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14.06.

Crosstabs : Hubungan Sosial Ekonomi dengan Perilaku

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Sosek*Perilaku 64 100.0% 0 .0% 64 100.0%

Social ekonomi* perilaku Crosstabulation

perilaku Total
baik buruk
sosek tinggi Count 29 13 42
% within sosek 69.0% 31.0% 100.0%
% of Total 45.3% 20.3% 65.6%
rendah Count 5 17 22
% within sosek 22.7% 77.3% 100.0%
% of Total 7.8% 26.6% 34.4%
Total Count 34 30 64
% within sosek 53.1% 46.9% 100.0%
% of Total 53.1% 46.9% 100.0%

Chi-Square Tests

xciv
Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.
Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 12.439(b) 1 .000
Continuity
10.649 1 .001
Correction(a)
Likelihood Ratio 12.918 1 .000
Fisher's Exact Test .001 .000
Linear-by-Linear
Association 12.245 1 .000
N of Valid Cases 64
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.31.

Crosstabs : Hubungan Pendidikan dengan Perilaku

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pendidikan*Peri
64 100.0% 0 .0% 64 100.0%
laku

Pendidikan*Perilaku Crosstabulation

perilaku Total
baik buruk
pendidi tinggi Count 26 18 44
kan % within
59.1% 40.9% 100.0%
pendidikan
% of Total 40.6% 28.1% 68.8%
rendah Count 8 12 20
% within
40.0% 60.0% 100.0%
pendidikan
% of Total 12.5% 18.8% 31.3%
Total Count 34 30 64
% within
53.1% 46.9% 100.0%
pendidikan
% of Total 53.1% 46.9% 100.0%

Chi-Square Tests

xcv
Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.
Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 2.012(b) 1 .156
Continuity
1.319 1 .251
Correction(a)
Likelihood Ratio 2.018 1 .155
Fisher's Exact Test .185 .125
Linear-by-Linear
Association 1.981 1 .159
N of Valid Cases 64
a Computed only for a 2x2 table
b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.38.

xcvi

Beri Nilai