Anda di halaman 1dari 6

Menjadi Ibu Pengganti untuk Keluar dari

Kemiskinan
38 hari lalu | 0 komentar

Kruti, 28 tahun, sedang menggendong bayi laki-laki. Ia melahirkan bayinya beberapa pekan lalu
di Klinik Infertilitas Akansha di Kota Anand, Negara Bagian Gujarat.

Tapi bayi itu bukan miliknya. Dia mengandung sel telur yang telah dibuahi milik pasangan
Kanada yang datang ke klinik itu tahun lalu. Ini untuk kali kedua ia mengandung anak pasangan
lain atau yang lebih dikenal dengan penyewaan rahim.

“Saya sendiri yang memilih untuk jadi seorang


ibu pengganti. Saya merasa senang bisa membantu para perempuan yang tidak bisa punya anak,”
ujar Kruti.

“Saya buta huruf tapi saya bermimpi anak saya nanti bisa sekolah di tempat yang bagus. Untuk
itu saya butuh banyak uang dan itu saya dapat dengan jadi ibu pengganti. Ini akan mewujudkan
impian saya.”

Dengan tiga anak kandung dan suami pemabuk, Kruti harus mencari uang untuk keluarganya. Ia
memutuskan jadi ibu pengganti beberapa tahun lalu. Dan dia tidak sendiri. Diperkirakan ibu-ibu
pengganti ini melahirkan dua ribu anak di seluruh India tahun lalu. Mereka sebagian besar adalah
perempuan miskin yang tinggal di kawasan kumuh perkotaan.

Mereka bisa mendapatkan uang antara Rp 57 juta hingga Rp. 95 juta. Jumlah yang sangat besar
bila dibandingkan pekerjaan kasar yang mereka tekuni, yang hanya menghasilkan kurang dari Rp
20 ribu perhari.

India merupakan ‘pusat penyewaan rahim’ dunia. Praktik ini dilarang dibanyak negara tapi di
India diperbolehkan sejak 10 tahun lalu.
‘Menyewakan rahim untuk komersial’ berarti membayar seorang perempuan untuk mengandung
anak dalam rahimnya. Industri itu bernilai Rp 23 triliyun setiap tahunnya dan merupakan kunci
pasar turis kedokteran yang menguntungkan di negeri itu.

Rimi, 27 tahun, mengantarkan anaknya ke sekolah. Ia juga seorang ibu pengganti dan baru saja
melahirkan bayi titipan pertamanya Januari lalu. Rimi dulu bekerja di wartel dengan gaji Rp 500
ribu sebulan. Tahun lalu ia melihat iklan di surat kabar lokal dari sebuah klinik yang mencari ibu
titipan. Ia segera menjawab iklan itu karena ia butuh uang untuk keluarganya.

“Sejak suami saya mencampakkan saya tiga tahun lalu, saya mengalami masalah keuangan. Saya
punya dua anak. Saya lihat ada tawaran jadi ibu pengganti dan saya menerimanya,” ujar Rimi.

“Saya menggunakan uangnya untuk membeli sebuah kamar dan untuk masa depan anak-anak
saya. Saya berterima kasih pada klinik dan pasangan itu yang memberi saya uang.”

Ia mendapat bayaran Rp 57 juta dari pekerjaan itu. Dan baru-baru ini ia mengenalkan lima
perempuan lain yang juga ingin jadi ibu pengganti pada klinik itu

“Seperti saya, sebagian besar perempuan ini juga miskin. Mereka tidak akan mampu
mengerjakan pekerjaan apapun selama setahun karena hamil. Ini pelayanan yang tak ternilai.
Mereka siap membantu pasangan kaya yang tidak bisa punya anak. Lalu apa salahnya jika
mereka mendapat uang dari pelayanannya itu?”
Klinik menetapkan biaya sekira Rp 110 hingga 280 juta untuk layanan penyewaan rahim ini. Ini
adalah paket komplit termasuk pembayaran fertilisasi, ibu pengganti dan proses melahirkan di
rumah sakit. Jika orangtua adalah orang asing maka biaya juga termasuk tiket pesawat dan
akomodasi selama berada di India.

Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, hampir 10 pesen pasangan di dunia tidak bisa punya
anak. Banyak diantara mereka mendatangi klinik kesuburan dan bayi tabung dan sekitar dua
persen membutuhkan ibu pengganti untuk melahirkan anak mereka.

Di India ada seribuan klinik kesuburan dan bayi tabung. Setengahnya menyediakan penyewaan
rahim komersial.
Tapi tidak semua orang mendukung bisnis ini. Aktivis HAM, Brinda Karat seorang kritikus
vokal.

“Warga negara asing datang kemari untuk memanfaatkan situasi, karena di negara mereka
praktik ini dilarang. Penyewaan rahim dilarang di Australia, Inggris, di banyak negara bagian
Amerika Serikat dan Eropa,” tegas Karat.
“Jadi negara mereka sendiri sepenuhnya tidak sensitif terhadap pasangan yang ingin punya anak
kandung. Mereka tidak peduli, mereka hanya ingin melindungi para ibu pengganti. Jadi mereka
menemukan India-lah yang mau menerima mereka. Saya pikir ini benar-benar mengeksploitasi
perempuan miskin di India.”
Penyewaan rahim diperbolehkan di beberapa negara di Amerika Utara tapi di India harganya dua
hingga tiga kali lebih murah. Beberapa orang setuju dengan penyewaan rahim tapi mereka
khawatir bila uang dilibatkan.

Ahli kesuburan dan bayi tabung, dokter Kamini Rao, mengatakan praktik ini tidak etis karena
memperlakukan anak seperti komoditi. Ia bilang peyewaan rahim itu boleh hanya bila tidak
dibayar. Tujuannya untuk membantu orangtua dengan itikad baik.

“Itu seharusnya dilakukan dengan ikhlas. Perempuan yang tidak bisa melahirkan bisa ditawari
penyewaan rahim. Dan ini berlaku untuk semua orang.”

Tapi dokter Indira Hinduja tidak sepakat. Ia kepala fasilitas Kesuburan bayi tabung di Rumah
Sakit Hinduja Mumbai dan telah bergelut di bidang penyewaan rahim selama 25 tahun. Ia tahu
berat untuk menemukan ibu pengganti bila tak memberi mereka uang.

“Jika perempuan miskin mengandung anak orang lain, dan pasangan yang punya anak ingin
memberikan uang kepada perempuan itu, apa salahnya? Saat perempuan itu dan anak-anaknya
kelaparan di jalanan atau rumahnya rubuh, siapa yang akan membantu dia? Apakah pemerintah
membantu dia? Apakah Anda atau saya akan membantu dia?”

Salah satu masalah terbesar adalah tidak adanya hukum yang melindungi hak para ibu pengganti
ini. Berdasarkan kontraknya, mereka kerap dipaksa untuk melahirkan lewat operasi caesar walau
ini membawa resiko berkali lipat yang bisa berujung kematian saat melahirkan.

Selain itu si Ibu kerap tidak mendapatkan perawatan sebelum atau sesudah persalinan. Kini,
India menempati posisi atas dalam tingkat kematian ibu melahirkan dengan jumlah 56 ribu orang
meninggal setiap tahun.

Masalah lain, tidak ada pembatasan berapa kali seorang perempuan bisa jadi ibu pengganti.
Kemudian ibu pengganti India hanya menerima seperempat dari uang yang diterima klinik
padahal di beberapa tempat di Amerika Serikat, ibu pengganti menerima hingga 75 persen.

Sebuah rancangan Undang-undang yang disebut RUU Teknologi Reproduksi yang Dibantu
rampung dua tahun lalu, dan bertujuan untuk melindungi para ibu pengganti India. RUU ini
dijadwalkan dibawa ke Parlemen tahun ini. Jika disahkan, penyewaan rahim komersial akan
disahkan tapi dengan aturan yang lebih ketat.

Dokter Radhey Sharma, Deputi Sekretaris Jenderal Dewan Penelitian Medis India yang terlibat
dalam penyusunan RUU, mengatakan: “Kami merancang daftar pertanyaan dan melakukan
tujuh debat publik di berbagai negara bagian. Mayoritas masyarakat mendukung praktik ini.
Mereka bilang penyewaan rahim komersial harus diizinkan di negara ini.”

Berdasarkan RUU itu, seorang perempuan yang bertindak sebagai ibu pengganti harus berusia
antara 22 hingga 34 tahun. Dan dia hanya boleh melahirkan maksimal lima bayi termasuk anak-
anaknya sendiri.
Tapi, Rimi bilang dia akan jadi ibu pengganti lagi.
“Jika mereka tidak membayar atas jasa saya, saya tidak mau jadi ibu pengganti. Karena saya
memang melakukannya demi uang. Hampir semua ibu pengganti begitu. Jika penyewaan rahim
secara komersial dilarang hari ini maka besok saya kira Anda tidak akan mendapatkan satu
perempuan pun yang mau melakukannya dengan gratis.” ( Shaikh Azizur Rahman – Asia
Calling/Anand, Gujarat, India ) (205)
Aspek Hukum Ibu Pengganti (Surrogate Mother)

Dalam hukum Indonesia, praktek ibu pengganti secara implisit tidak diperbolehkan. Dalam pasal
127 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan diatur bahwa upaya kehamilan di luar cara
alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan:

a) Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam
rahim istri dari mana ovum berasal;

b) dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;

c) pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.

Jadi, yang diperbolehkan oleh hukum Indonesia adalah metode pembuahan sperma dan ovum
dari suami istri yang sah yang ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal. Metode ini
dikenal dengan metode bayi tabung. Adapun metode atau upaya kehamilan di luar cara alamiah
selain yang diatur dalam pasal 127 UU Kesehatan, termasuk ibu pengganti atau sewa
menyewa/penitipan rahim, secara hukum tidak dapat dilakukan di Indonesia. Sebagai informasi
tambahan, praktek transfer embrio ke rahim titipan (bukan rahim istri yang memiliki sel telur
tersebut) telah difatwakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 26 Mei 2006.

Praktek ibu pengganti atau sewa menyewa rahim belum diatur di Indonesia. Oleh karena itu,
tidak ada perlindungan hukum bagi para pelaku perjanjian ibu pengganti ataupun sewa menyewa
rahim.

Dalam pasal 1338 KUHPer memang diatur mengenai kebebasan berkontrak, di mana para pihak
dalam berkontrak bebas untuk membuat perjanjian, apapun isi dan bagaimanapun bentuknya:

Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku bagi undang-undang bagi mereka yang
membuatnya.

Akan tetapi, asas kebebasan berkontrak tersebut tetap tidak boleh melanggar syarat-syarat sahnya
perjanjian dalam pasal 1320 KUHPer yaitu:

1. Kesepakatan para pihak;

2. Kecakapan para pihak;

3. Mengenai suatu hal tertentu; dan

4. Sebab yang halal.

Jadi, salah satu syarat sahnya perjanjian adalah harus memiliki sebab yang halal, yaitu tidak
bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, maupun dengan ketertiban umum (pasal 1320
jo pasal 1337 KUHPer). Sedangkan praktek ibu pengganti bukan merupakan upaya kehamilan
yang dapat dilakukan menurut UU Kesehatan. Dengan demikian syarat sebab yang halal ini tidak
terpenuhi.

Dalam konteks tidak dipenuhinya persyaratan yang menyangkut syarat yang melekat pada objek
perjanjian (sebab yang halal) bisa berakibat antara lain:

1. menjadi dasar atau alasan bagi salah satu pihak untuk menuntut kebatalan demi hukum
perjanjian tersebut karena perjanjian tidak memenuhi syarat sebab atau kausa yang halal, dan

2. tidak ada landasan hukum bagi wanita pemilik sel telur atau suaminya untuk menuntut si ibu
pengganti dalam hal ia tidak mau menyerahkan bayi yang dititipkan dalam rahimnya tersebut.

Hal lain yang penting diperhatikan dalam ibu pengganti adalah hak-hak anak yang terlahir dari
ibu pengganti tidak boleh terabaikan, khususnya hak identitas diri yang dituangkan dalam akta
kelahiran (lihat pasal 27 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Apabila terjadi
perselisihan antara Ibu dengan si ibu pengganti, maka penyelesaiannya harus mengedepankan
prinsip kepentingan terbaik bagi si anak.