Anda di halaman 1dari 6

RMK Karakteristik biografis, Kemampuan,

Kepribadian dan Pembelajaran (SAP 2)

Oleh Kelempok 13
I Gusti Ngurah Putu Artawan 1506205160 (36)
Dewa Putu Wisnu P P 1506205161 (37)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2016
1.1 Karakteristik – karakteristik Biografis
A. Usia
Terdapat kepercayaan bahwa kinerja pekerjaan menurun saat usia bertambah. Pekerja yang
lebih tua juga dianggap kurang memilik fleksibilitas dan sering menolak teknologi baru.
Namun pekerja yang lebih tua juga memiliki sisi positif diantaranya pengalaman kerja,
penilaian, etika kerja yang kuat dan komitmen terhadap kualitas.
Semakin tua, semakin kecil kemungkinan bagi anda untuk keluar dari pekerjaan anda.
Seiring lebih tua pekerja mereka memiliki lebih sedikit peluang alternatife pekerjaan. Selain itu
pekerja yang lebih tua juga berkemungkinan lebih rendah untuk mengundurkan diri. Pekerja
yang lebih tua memiliki tingkat ketidakhadiran yang dapat dihindari lebih rendah dari pekerja
yang lebih muda karena mereka memiliki komitmen kerja. Banyak orang mengasumsikan
seiring bertambahnya usia maka produktivitas akan menurun, tetapi tidak semua jenis
pekerjaan yang dapat dikatakan memiliki hubungan produktivitas dengan usia.
B. Gender
Tidak terdapat perbedaan yang konsisten antara pria-wanita dalam hal memecahkan
masalah, menganalisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas atau kemampuan belajar.
Namun penelitian terhadap ketidakhadiran secara konsisten menunjukkan bahwa para wanita
memiliki tingkat ketidakhadiran yang lebih tinggi dibandingkan pria. Hal ini dikarenakan para
pekerja wanita juga memiliki tanggung jawab rumah tangga dan keluarga wanita. Ketika anak
sakit, secara tradisional adalah wanita yang mengambil libur dari kerja.
C. Ras
Ras telah dipelajari sedikit banyak dalam PO, khususnya dalam hubungannya terhadap hasil-
hasil pekerjaan seperti keputusan pemilihan personel, evaluasi kinerja, dan diskriminasi di
tempat kerja.
D. Masa Jabatan
Jika mendefinisikan senioritas sebagai waktu pada suatu pekerjaan maka kita dapat berkata
bahwa bukti terbaru menunjukkan adanya hubungan positif antara senioritas dan produktivitas
pekerjaan. Pekerja yang lebih senior juga memiliki tingkat ketidakhadiaran yang lebih rendah.
Semakin lama seseorang berada dalam satu pekerjaan lebih kecil kemungkinannya untuk
mengundurkan diri.

1.2 Kemampuan
Kemampuan adalah sebuah penilaian terkini atas apa yang dapat dilakukan seseorang.
Kemampuan keseluruhan seorang individu pada dasarnya terdiri atas dua kelompok factor:
intelektual dan fisik.
A. Kemampuan Intelektual
Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas
mental-berfikir, menalar, dan memecahkan masalah. Individu yang cerdas biasanya
mendapatkan lebih banyak uang dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Individu yang cerdas
juga lebih mungkin menjadi pemimpin dalam suatu kelompok. Terdapat perbedaan tuntunan
kerja bagi karyawan ketika menggunakan kemampuan intelektual mereka. Seamakin kompleks
suatu pekerjaan dalam hal tuntunan pemrosesan informasi semakin banyak kemampuan
kecerdasan umum dan verbal yang dibutuhkan.
B. Kemampuan Fisik
Pada tingkat yang sama di mana kemampuan intelektual memainkan sebuah peran yang
lebih besar dalam pekerjaan kompleks dengan tuntunan kebutuhan pemrosesan informasi,
kemampuan fisik tertentu bermakna penting bagi keberhasilan pekerjaan yang kurang
membutuhkan ketrampilan dan lebih terstandar, misalnya pekerjaan-pekerjaan yang menuntut
stamina, ketangkasan fisik, kekuatan kaki dan kemampuan fisik lainnya.

1.3 Kepribadian
Kepribadian membentuk perilaku setiap individu. Jadi apabila ingin memahami dengan
lebih baik perilaku seseorang dalam suatu organisasi, sangatlah berguna jika kita mengetahui
sesuatu tentang kepribadiannya. Kepribadian merupakan keseluruhan cara dimana seorang
individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lainnya.
A. Faktor-faktor Penentu Kepribadian
1. Faktor Keturunan, keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu, terdapat tiga
dasar penelitian berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argument bahwa
faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar
pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan tempramen anak-anak. Dasar
kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti
konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi.
2. Faktor Lingungan, faktor lain yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap
pembentukan karakter kita adalah linkungan dimana kita tumbuh dan dibesarkan, norma dalam
keluarga, teman-teman, dan kelompok social. Faktor-faktor lingkungan ini memiliki peran
dalam membentuk kepribadian kita. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, siakp, dan
nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya menghasilkan konsistensi
seiring berjalannya waktu.
B. Sifat-sifat Kepribadian
Karakteristik yang umumnya melekat dalam diri seorang individu adalah malu, agresif,
malas, ambisius, setia, dan takut. Karakteristik-karakteristik tersebut, ketika ditunjukkan dalam
berbagai situasi disebut sifat-sifat kepribadian. Sifat-sifat kepribadian dapat membantu proses
seleksi karyawan, menyesuaikan bidang pekerjaan dengan individu, dan memandu keputusan
pengembangan karier.
C. Menilai Kepribadian
Nilai dalam tes kepribadian membantu manajer meramalkan calon terbaik untuk suatu
pekerjaan. Beberapa manajer ingin mengetahui cara menilai individu dalam tes kepribadian
agar lebih memahami dan lebih baik dalam mengatur individu yang bekerja dengan mereka.
Terdapat tiga cara utama untuk menilai kepribadian yaitu : survei mandiri, survei
peringkat oleh pengamat dan ukuran proyeksi.

1.4 Pembelajaran
Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai
hasil dari pengalaman. Pembelajaran melibatkan peruabahan. Dari sudut pandang organisasi,
perubahan dapat berarti baik atau buruk. Individu dapat mempelajari perilaku yang tidak
menguntungkan berprasangka atau melalaikan tanggung jawab dan juga berprilaku yang
menguntungkan.
A. Teori Pembelajaran
Tiga teori ditawarkan untuk menjelaskan proses di mana kita memperoleh pola perilaku.
Teori-teori tersebut adalah pengondisian klasik, pengondisian operant, dan pembelajaran sosial.
 Pengondisian klasik, mempelajari sebuah respons berkondisi dan rangsangan tidak
berkondisi. Ketika rangsangan tersebut, yang satu menggoda dan yang lainnya netral,
dipasangkan, rangsangan yang netral, menjadi sebuah rangsangan berkondisi, dan
dengan demikian mengambil sifat-sifat dari rangsangan tidak berkondisi tersebut.
 Pengondisian Operant, menyatakan bahwa perilaku merupakan fungsi dari
konsekuensi-konsekuensinya. Individu belajar berperilaku untuk mendapatkan sesuatu
yang mereka inginkan atau menghindari sesuatu yang tidak mereka inginkan.
 Pembelajaran Sosial, seseorang dapat juga belajar dengan mengamati apa yang terjadi
pada individu lain dan hanya dengan diberi tahu mengenai sesuatu, seperti belajar dari
pengalaman langsung. Banyak pengalaman orang lain yang dapat kita jadikan
pembelajaran. Pandangan bahwa kita dapat belajar melalui pengamatan maupun
pengalaman langsung disebut teori pembelajaran sosial.

Daftar Pustaka
Steppen P Robbins – Timonthy A Judge, 2008, Organizational Behavior 12th edition,Salemba
Empat, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai