Anda di halaman 1dari 7

Psikologi Arsitektur

Studi awal rumah sakit jiwa

Psikologi arsitektur berawal dari Amerika dan Inggris karena banyaknya riset dan inisiatif
sistematik yang muncul dari kedua negara ini.

Penelitian yang berpengaruh

1. William Ittelson dan Harold Proshansky di City University off New York pada tahun
1958 di Amerika dalam buku yang berjudul “Some factors Influencing the Design
and Function of Psychiatriuc Facilities.” Tujuan risetnya untuk mempelajari setting
spasial/arsitektural dari rumah sakit jiwa yang dapat mempengaruhi perilaku
pasien
2. Penelitian penting juga dilakukan di Kanada pada akhir 1950-an dari kolaborasi
antara Humprey Osmond (psikiater), Robbert Sommer (psikolog social). Publikasi
pertama berjudul “Function as the Basis Psychiatric Ward Design (Osmond,1957)
yang mempretasikan teori Osmond tentang setting sociopetal yang berfungsi
memperbesar area interaksi social.
3. Berdasarkan teori Osmind, kyyo Izumi (1957) kemudian memasukkan indikasi-
indikasi psikologi ke dalam desain rumah sakit jiwa yang baru.
4. Studi lanjutan Sommer (1969) tentang perilaku pasien pada bangsal perawatan
pasien usia lanjut. Studi ini memperkenalkan konsep dan terminology Teritori
Manusia dan Ruang Personal. Lambat laut istilah ini sering digunakan pada studi
psikologi lingkunaga, psikologi arsitektur serta dalam buku ilmu desain arsitektur.
5. Di Eropa, di waktu yang hamper bersamaan Paul Silyadon seorang ahli jiwa dari
Perancis memulai penelitian yang berkolaborasi dengan seorang arsitek dalam
mendesain rumah sakit jiwa agar mempercepat penyembuhan pasien (Baker and
Chapman, 1962).

Sejak akhir tahun 1960-an masalah perencanaan rumah sakit jiwa ditangani oleh tim
khusu yang umumnya terdiri dari psikolog dan arsitek meskipun lambat laun semakin
banyak profesi yang terlibat namun kedua profesi tersebut menjadi poin utama sehingga
tercipta multi disiplin yang disebeut dengan psikologi arsitektur.

The Risearch o the American Institute of Architecture (AIA) mengadakan konferensi pada
tahun 1958 di Cleveland yagn dihadiri partisipan dari berbagai profesi. Konferensi ini
menghasilkan perjanjian kerjasama antara seorang arsitek Miller dan psikolog, Wheeler
menangani proyek konstruksi beberapa asrama mahasiswa di Unversitas Indiana
kemudian bangunan tersebut dijadikan objek studi evaluasi pasca huni.

Konferensi pertama tentang psikologi arsitektur diadakan di University of Utah (1961)

Model dasar dalam stsudi psikologi arsitektur yang diajukan ke dalam 3 fase: analisa,
sintesa, evaluasi (Broadbant & Ward, 1969). Kesimpulan penting yang dapat diambil dari
model dasar yang memiliki implikasi langsung pada psikologi adalah diperlukannya
penilaian (evaluasi) reaksi para pengguna terhadap bangunan-bangunan.

Menurut Canter dan Lee (1974), penelitan psikologi arsitektur harus menguji hubungan
antara variable-variabel lingkungan fisik dengan tindakan-tindakan actions), pemikiran-
pemikiran (thoughts) dan perasaan-perasaan (feelings) manusia.

Carter dan Lee (194) memberikan informasi dasar tentang psikologi agar dapat dipakai
dalam perancangan, yaitu: (1) aktivitas orang, (2) penilaian yang terdiferensiasi, (3)
hubungan perilaku dan lingkungan.

Kontribusi psikologi dalam desain arsitektur terdiri dari ideas, spesifikasi, dan penilaian

Dasar filsafat psikologi arsitektur

Manusia dan psikologi


Manusi terdiri dari 2 entitas yaitu tubuh dan jiwa dimana terdapat 3 posisi filosofis tentang
hubungan tubuh dan jiwa, yakni:

a. Entitas yang terpisah namun masih saling berhubungan (interactionism)


b. Entutas yang terpisah dan tidak saling terhubung (parallelism)
c. Entitas yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu kesatuan (double
aspectism)

Dalam psikologi modern terdapat 3 mazhab psikologi yang berbeda pandangan dalam
memposisikan jiwa dan tubuh yakni

a. Aliran psikoanalisa (lebih mengelaborasi aspek jiwa daripada tubuh)


b. Aliran psikologi perilaku (behaviorism) (aspek tubuh merupakan hal yang paling
penting)
c. Aliran psikologi humanistic (tidak menekankan pada salah satu aspek, melainkan
menganggap manusia sebagai satu kesatuan)

Manusia dan Arsitektur

Manusia tidak dapat lepas dari hukum-hukum alam berupa iklim dan lingkungan yang
akhirnya mempengaruhi perilaku manusia. Cara manusia merespon hokum alam
tersebut dapat disebut dengan kebudayaan salah satunya berupa menciptakan berbagai
bentuk tempat tinggal sesuai dengan iklim dan lingkungan. Jadi arsitektur merupakan
hasil dari kebudayaan manusia dalam merespon alam.

Terdapat 3 tahap proses arsitektur, yakni

a. Tahap primer, arsitektur hanya kebutuhan primer untuk bertahan hidup.


b. Tahap sekunder, mulai memenuhi kebutuhan hidup dengan menciptakan berbagai
ruang yang disesuaikan dengan pola aktivitasnya.
c. Tahap tertier, keinginan untuk memebri nilai lebih ruang-ruang secara estetik.
Psikologi dan Arsitektur

Psikologi dan arsitektur memiliki banyak konsep yang sama. Keduanya dapat diibaratkan
seperti Psikologi dikatakan sebagai aspek fisik dan psikologi sebagai mental.

5 isu pokok yang menghubungkan kedua ilmu disiplin tersebut yakni:

a. Kepribadian
kepribadian seseorang dapat terlihat dari bentuk rumahnya. Bahkan ciri khas
suatu bangsa dapat terlihat dari bentuk rumah adatnya.
b. Arketipe
Dalam istilah psikologi, arketipe diartikan sebagai pemikiran universal yang ada
pada setiap orang di segala zaman dan dapat direpresentasikan ke dalam
arsitekur melalui bentuk bangunan yang memiliki makna yang sama pada setiap
orang.
c. Anatomi fisik
Obyek fisik psikologi adalah manusia yang mana secara anatomi terdiri dari 3
bagian utama, yaitu kepala, badan, dan kaki. Begitupun dengan arsitektur yang
obyek fisiknya adalah sebuah bangunan dan juga terdiri dari 3 bagian utama
kepala (atap), badan, dan kaki (pondasi).
d. Karakter gender
Dalam psikologi terdpat istilah maskulin yang mengacu pada sifat laki-laki dan
feminis mengacu pada sifat perempuan. Dalam arsitektur juga terdapat symbol-
simbol yang mewakili sifat maskulin dan feminis.
e. Psikofisik
Fisiologi sensorik manusia juga merupakan bagian khsusus dari psikologi dan
arsitektur menghasilkan sebuah karya yang dapat diindera oleh manusia.

Desain dalam perspektif psikologi


Kesadaran

Memerlukan kesadaran dalam mendesain dengan menguji dan menganalisa perilaku


manusia dalam mencapai kondisi kehidupan yang lebih baik.

Kreatifitas

Kreatifitas merupakan kemampuan memunculkan ide baru yang melibatkan proses


pemikiran dan dedikasi.

Nilai

Nilai adalah perasaan dan pikiran unik dan subyektif dari individu, tapi bisa menjadi
karakteristik lingkungan sosial.

Kebutuhan ruang

Perlu memahami dengan cermat tentang perilaku manusia sebelum merancang sebuah
ruang untuk berbagai kegiatan manusia.

Persepsi

Persepsi adalah proses di mana seseorang memperoleh informasi dari lingkungan


sekitar. Persepsi memerlukan pertemuan nyata dengan suatu benda dan juga
membutuhkan proses kognisi serta afeksi.

Ada dua dasar teori persepsi. Pertama, terfokus pada penerimaan dari pengalaman
indera dan yang kedua, terfokus pada pikiran sebagai sistem yang aktif dan saling
berhubungan.

Terdapat empat teori utama tentang persepsi yang akan dibahas


1. Teori Gestalt

Dalam teori gestalt, hal paling mendasar yang perlu diperhatikan adalah konsep tentang
form, yaitu suatu elemen yang terstruktur dan tertutup dalam pandangan visual
seseorang.

Keenam property dasar tersebut sangat penting dalam teori desain arsitektur karena
memberitahu bagaimana unit-unit dari lingkungan dapat diamati.

a. Proksimitas, obyek-obyek yang memiliki jarak yang lebih dekat cenderung dilihat lebih
berkelompok secara visual.
b. Similaritas, elemen-elemen yang memiliki similaritas atau kualitas yang sama dalam
hal ukuran, tekstur, dan warna maka elemen-elemen tersebut akan diamati sebagai
satu-kesatuan.
c. Ketertutupan (Closure), unit visual cenderung membentuk suatu unit yang tertutup.
d. Kesinambungan (good continuance), seseorang akan cenderung mengamati suatu
elemen yang berkesinambungan sebagai satu kesatuan yang unit.
e. Bidan dan simetri (area and symmetry), semakin kecil area yang tertutup dan simetris
semakin cenderung terlihat sebagai satu unit.
f. Bentuk dan latar (figure and ground), sebuah obyek akan terlihat berbeda ketika
sebuah bentuk memiliki latar yang kontras.

2. Teori Stevens’ Power

Stevens (1975) menunjukkan banyak kasus mengenai penilaian-penilaian psikologis


yang berhubungan dengan satu sama lain dengan fenomena fisik dinilai berdasarkan
rasio.

Penilaian psikologis (p) adalah suatu fungsi daya (power) dari besarnya stimulus fisik (s)
yang dinyatakan dengan rumus (P = Sα), dimana (α) berubah menurut variable fisik.
3. Teori Transaksional

Dalam teori transaksional, persepsi merupakan transaksi di mana lingkungan dan


pengamat saling bergantung satu dengan lainnya.

Orang menggambarkan persepsi mereka baik secara terstruktur maupun hanya


berdasarkan pengalaman saja (Ittelson dkk, 1976). Penjelasan berdasarkan pengalaman
terdapat unsur moods, perasaan, dan laporan diri. Sedangkan penjelasan secara
terstruktur melibatkan laporan mengenai hasil pengamatan yang aktual tentang struktur
fisikal dan sosial dunia ini.

4. Teori Ekologi

Teori ekologi memandang panca indera hanya sebagai sistem persepsi (Gibson, 1996).
Orang menyelidiki lingkungan untuk mempersepsikan detail-detail dengan
menggerakkan mata, kepala dan tubuhnya. Dengan pengalamannya, orang mampu
mengidentifikasi detail-detail terhalus dan hubungan-hubungan terluas (Gibson and
Gibson, 1955).