Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

KESETIMBANGAN ASAM BASA

DEWI SHAFIRA. M
H061 17 1013

LABORATORIUM KIMIA DASAR


UNIT PELAKSANA TEKNIS MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

KESETIMBANGAN ASAM BASA

Disusun dan diajukan oleh :

DEWI SHAFIRA. M
H061 17 1013

Loporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh :

Makassar, 13 November 2017


Asisten,

Harini Wahyuni.S
NIM : H31114504
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Asam dan basa sudah dikenal sejak dahulu. Istilah asam (acid) berasal

dari bahasa Latin acetum yang berarti cuka. Seperti diketahui, zat utama dalam

cuka adalah asam asetat. Istilah basa (alkali) berasal dari bahasa Arab yang berarti

abu. Juga sudah lama diketahui bahwa asam dan basa saling menetralkan. Sejak

berabad-abad yang lalu, para pakar mendefinisikan asam dan basa berdasarkan

sifat larutan airnya. Larutan asam mempunyai rasa asam dan bersifat korosif,

sedangkan larutan basa berasa agak pahit dan bersifat kaustik (Ari, 2008).

Mengenali asam dan basa pun tidak boleh dengan cara mencicipinya,

sebab banyak diantaranya yang dapat merusak kulit (korosif) atau bahkan bersifat

racun. Selain itu telah diketahui bahwa asam dan basa juga mempunyai sifat

berlawanan dan dapat meniadakan satu sama lain. Asam dan basa dapat dikenali

dengan menggunakan zat indikator, yaitu zat yang memberi warna berbeda di

lingkungan asam dan lingkungan basa (zat yang warnanya dapat berubah saat

berinteraksi atau bereaksi dengan senyawa asam maupun senyawa basa). Untuk

mengetahui apakah suatu larutan bersifat asam atau basa secara umum, biasanya

seseorang menggunakan indikator asam-basa (Amanda, dkk., 2012).

Oleh karena itu, dilakukanlah percobaan kesetimbangan asam basa agar

praktikan dapat lebih mengerti dan memahami cara membedakan larutan asam

dan basa serta dapat lebih mahir dalam penggunaan alat-alat laboratorium,

penggunaan indikator asam basa universal serta indikator larutan yang berbagai

macam.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah mengetahui nilai pH larutan asam lemah

menggunakan kertas pH universal serta tetapan kesetimbangan ionisasi dan

derajat ionisasi berdasarkan nilai pH.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah :

1. Menentukan pH larutan asam lemah dengan menggunakan kertas pH

Universal.

2. Menentukan pengaruh pengenceran terhadap nilai pH dan tetapan

kesetimbangan ionisasi serta derajat ionisasi larutan asam lemah.

3. Menentukan derajat ionisasi asam lemah berdasarkan nilai pH.

1.3 Prinsip Percobaan

Prinsip pada percobaan ini adalah menentukan nilai pH larutan asam

lemah menggunakan kertas pH universal. Hasil dari pengukuran pH tersebut akan

digunakan untuk menentukan tetapan kesetimbangan ionisasi dan derajat ionisasi

asam lemah. Selanjutnya, dilakukan pula perhitungan untuk menentukan pengaruh

pengenceran terhadap nilai pH, tetapan kesetimbangan ionisasi dan derajat

ionisasi larutan asam lemah.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Asam Basa Arrhenius

Sejarah perkembangan ilmu kimia mencatat berbagai teori yang akan

menjelaskan penyebab sifat asam dan basa. Pada tahun 1777, Lavoisier

mengemukakan bahwa asam mengandung oksigen. Unsur itu yang dianggap

bertanggung jawab atas sifat-sifat asam (nama oksigen diberikan oleh Lavoisier

yang berarti pembentuk asam). Namun pada tahun 1810, Humphrey Davy

menemukan bahwa asam hidrogen klorida tidak mengandung oksigen. Davy

kemudian menyimpulkan bahwa hidrogenlah dan bukan oksigen yang merupakan

unsur dasar dari setiap asam. Kemudian pada tahun 1814, Gay Lussac

menyimpulkan bahwa asam adalah zat yang dapat menetralkan alkali dan kedua

golongan senyawa itu hanya dapat didefinisikan dalam kaitan satu dengan yang

lain. Konsep yang cukup memuaskan tentang asam dan basa, dan yang tetap

diterima hingga sekarang, dikemukakan oleh Arrhenius pada tahun 1884. Menurut

Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+ sedangkan basa

melepaskan ion OH-. Jadi, pembawa sifat asam adalah ion H+ sedangkan

pembawa sifat basa adalah OH-. Asam Arrhenius dirumuskan sebagai HxZ yang

dalam air mengalami ionisasi sebagai berikut (Ari, 2008):

HxZ(aq) xH+(aq) + ZX-(aq) (2.1)

Contoh : Asam klorida (HCl) dan asam sulfat (H2SO4) dalam air akan terionisasi

sebagai berikut (Ari, 2008):

HCl(aq) H+(aq) + Cl-(aq) (2.2)

H2SO4(aq) 2H+(aq) + SO42-(aq) (2.3)


Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh 1 molekul asam disebut valensi

asam. Sedangkan ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepas ion H+

disebut ion sisa asam. Nama asam sama dengan nama ion sisa asam dengan

didahului kata asam (Ari, 2008).

Basa Arrhenius adalah hidroksida logam, M(OH)x, yang dalam air terurai

sebagai berikut (Ari, 2008):

M(OH)x(aq) → Mx+(aq) + xOH-(aq) (2.4)

Jumlah ion OH- yang dapat dilepaskan oleh satu molekul basa disebut

valensi basa (Ari, 2008).

2.2 Teori Asam Basa Bronsted-Lowry

Di tahun 1923, kimiawan Denmark Johannes Nicolaus Bronsted

(1879-1947) dan kimiawan Inggris Thomas Martin Lowry (1874-1936) secara

independen mengusulkan teori asam basa baru, yang ternyata lebih umum.

Teori Bronsted dan Lowry diantaranya asam merupakan zat yang menghasilkan

dan mendonorkan proton (H+) pada zat lain dan basa merupakan zat

yang dapat menerima proton (H+) dari zat lain. Berdasarkan teori ini,

reaksi antara gas HCl dan NH3 dapat dijelaskan sebagai reaksi asam basa,

yakni (Takeuchi, 2006):

HCl(g) + NH3(g) → NH4Cl(s) (2.5)

simbol (g) dan (s) menyatakan zat berwujud gas dan padat. Hidrogen klorida

mendonorkan proton pada amonia dan berperan sebagai asam. Menurut

teori Bronsted dan Lowry, zat dapat berperan baik sebagai asam maupun

basa. Bila zat tertentu lebih mudah melepas proton, zat ini akan berperan

sebagai asam dan lawannya sebagai basa (Takeuchi, 2006).


2.3 Teori Asam Basa Lewis

Pada tahun 1923, bersamaan dengan terbitnya teori asam basa

Bronsted-lowry, GN Lewis mengemukakan definisi asam basa berkaitan dengan

struktur elektron dalam pembentukan ikatan kovalen antara asam dan basa

(Day, 2012).

Menurutnya, basa adalah spesies yang mampu memberikan sepasang

electron untuk membentuk ikatan kovalen, sedangkan asam adalah spesies yang

mampu menerima sepasang elektron untuk membentuk ikatan kovalen.

Contohnya, reaksi antara senyawa boron trifluorida (BF3) dan ammonia (NH3)

yang menghasilkan BF3NH3 (Day, 2012).

2.4 Indikator Asam Basa

Indikator asam basa adalah zat-zat warna yang warnanya bergantung pada

pH larutan, atau zat yang dapat menunjukkan sifat asam, basa dan netral. Sebagai

contoh kertas lakmus merah atau biru akan berwarna merah dalam larutan yang

pHnya lebih kecil dari 5,5 dan berwarna biru dalam larutan yang pHnya lebih

besar dari 8. Dalam larutan yang pHnya 5,5 sampai 8, warna lakmus adalah

kombinasi warna merah dan biru. Batas-batas pH ketika indikator mengalami

perubahan warna disebut trayek indikator (Lestari, 2016).

Berbagai macam indikator dapat digunakan sebagai penunjuk asam, basa,

atau garam. Macam-macam indikator tersebut adalah (Lestari, 2016):

1. Kertas lakmus, ada dua macam kertas lakmus yaitu, merah dan biru. Jika kertas

lakmus biru dicelupkan dalam larutan dan ternyata berubah warna menjadi

merah, berarti larutan tersebut bersifat asam. Sebaliknya jika kertas lakmus

merah dicelupkan ke dalam larutan dan warna kertas berubah menjadi biru,
berarti larutan tersebut bersifat basa. Jika kertas lakmus biru atau merah

dicelupkan ke dalam suatu larutan dan ternyata kedua kertas tidak mengalami

perubahan warna, berarti larutan tersebut bersifat netral.

2. Larutan indikator, Beberapa contoh larutan indikator di antaranya phenolptalein

(PP) yang memberikan warna pink dalam lingkungan basa dan tidak berwarna

dalam lingkungan asam, metil orange (MO) yang memberikan warna merah

dalam lingkungan asam dan kuning dalam lingkungan basa.

3. Indikator Universal, Indikator ini kebanyakan berupa kertas dengan lembaran

kecil dengan beberapa rentang warna tetapi ada juga yang berupa larutan. Jika

kertas indikator ini dicelupkan ke dalam larutan, akan memberikan warna

tertentu yang kemudian dibandingkan dengan warna standar yang tertera dalam

wadahnya untuk mengetahui pH larutan yang sebenarnya. Indikator universal

mengalami perubahan warna pada berbagai pH. Akan tetapi indikator tersebut

kurang terjangkau jika dinilai dalam hal harga.

4. Indikator Alami, Indikator alami dapat dibuat dari bagian tanaman yang

berwarna, misalnya mahkota kembang sepatu, daun kubis ungu, daun bayam

merah, kayu secang dan kunyit. Sebenarnya hampir semua tumbuhan berwarna

dapat dipakai sebagai indikator, tetapi terkadang perubahan warnanya kurang

jelas. Oleh karena itu hanya beberapa saja yang sering dipakai, misalnya daun

kubis ungu, yang memberikan warna merah dan hijau, daun bayam merah yang

memberikan warna merah dan kuning. Beberapa indikator alami tersebut dapat

dibuat secara cepat, mudah dan sederhana. Pada penelitian ini bahan alami

yang digunakan sebagai indikator adalah bunga belimbing wuluh, dengan

pertimbangan bunga ini mudah di dapatkan dan memiliki warna yang jelas.
5. Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L), belimbing wuluh, belimbing

sayur atau belimbing asam adalah sejenis pohon kecil yang diperkirakan

berasal dari kepulauan Maluku, dan dikembangbiakkan serta tumbuh bebas di

Indonesia, Filipina, Sri Lanka dan Myanmar. Tumbuhan ini biasa ditanam di

pekarangan untuk diambil buahnya. Buahnya yang memiliki rasa asam sering

digunakan sebagai bumbu masakan dan campuran ramuan jamu.

2.5 Titrasi Asam Basa

Titrasi adalah suatu proses atau prosedur dalam analisis volumetric dimana

suatu titran atau larutan standar (yang telah diketahui konsentrasinya) diteteskan

melalui buret ke larutan lain yang dapat bereaksi dengannya (belum diketahui

konsentrasinya) hingga tercapai titik ekivalen atau titik akhir. Artinya, zat yang

ditambahkan tetap bereaksi dengan zat yang ditambahi. Zat yang ditentukan

kadarnya disebut “titrant” yang biasanya diletakkan di dalma erlenmeyer,

sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut “titer” dan biasanya

diletakkan di dalam buret. Baik titer maupun titrant biasanya berupa

larutan. Proses titrasi asam basa sering dipantau dengan penggambaran pH

larutan Berikut ini adala syarat-syarat yang diperlukan agar proses titrasi

berhasil (Ika, 2009):

1. Konsentrasi titran harus diketahui. Larutan seperti ini disebut larutan standar.

2. Titik ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna,

atau sangat dekat dengan titik ekuivalen yang sering digunakan. Salah satunya

dengan mengetahui perubahan warna larutan pada saat proses titrasi

berlangsung. Titik pada saat indikator berubahwarna disebut titik akhir.

3. Volume titrant yang dibutuhkan harus diketahui setepat mungkin.


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan

asam formiat 0,1 M, larutan asam cuka 0,1 M, akuades, kertas pH universal dan

tissue roll.

3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah pipet volume 5 mL,

pipet tetes, plat tetes, labu ukur 50 mL, gelas kimia 50 mL, labu semprot, bulb,

sikat tabung, termometer dan tabung reaksi.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Prosedur Percobaan Asam Formiat (HCOOH)

Larutan asam formiat 0,1 M dipipet 5 mL dan dimasukkan ke dalam labu

ukur 50 mL. Akuades ditambahkan sampai batas tanda. Larutan dihomogenkan

hingga tercampur rata. Larutan asam formiat yang telah dicampur dengan akuades

dipipet 2 mL, lalu dimasukkan ke dalam plat tetes. Diukur suhu dan pH larutan

tersebut dengan kertas pH universal. Nilai suhu dan pH-nya dicatat dalam tabel.

Percobaan dilakukan sebanyak empat kali dengan konsentrasi 0,01 M, 0,001 M,

0,0001 M dan 0,00001 M.

3.3.2 Asam Cuka (CH3COOH)

Larutan asam cuka 0,1 M dipipet 5 mL dan dimasukkan ke dalam labu ukur

50 mL. Akuades ditambahkan sampai batas tanda. Larutan dihomogenkan hingga

tercampur rata. Larutan asam cukat yang telah dicampur dengan akuades dipipet
2 mL, lalu dimasukkan ke dalam plat tetes. Diukur suhu dan pH larutan tersebut

dengan kertas pH universal. Nilai suhu dan pH-nya dicatat dalam tabel. Percobaan

dilakukan sebanyak empat kali dengan konsentrasi 0,01 M, 0,001 M, 0,0001 M

dan 0,00001 M.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Tabel Pengamatan Asam Formiat


Larutan Asam pH Suhu (OC)
Asam forrmiat 0,1 M 2 28
Asam forrmiat 0,01 M 4 29
Asam forrmiat 0,001 M 5 29
Asam forrmiat 0,0001 M 7 29
Asam forrmiat 0,00001 M 6 29

4.1.2 Tabel Pengamatan Asam Cuka


Larutan Asam pH Suhu (OC)
Asam cuka 0,1 M 3 29
Asam cuka 0,01 M 4 29
Asam cuka 0,001 M 4 29
Asam cuka 0,0001 M 5 29
Asam cuka 0,00001 M 6 29

4.2 Pembahasan

Sebenarnya pH pada dasarmya hanyalah suatu cara untuk menyatakan

konsentrasi ion hidrogen, larutan asam dan larutan basa pada 25oC dapat

diidentifikasi dengan berdasarkan nilai pH-nya. Larutan asam memiliki

konsentrasi [H+] > 1,0 x 10-7 M memiliki pH < 7,00. Perhatikan pH meningkat

dengan menurunnya konsentrasi [H+] (Chang, 2005).

Berdasarkan data percobaan yang diperoleh, dapat dilihat bahwa hasil dari

proses pengenceran akan menurunkan konsentrasi ion hidrogen pada proses


pengenceran diperoleh data volume larutan 0,1 M yang diperlukan untuk

membuat larutan asam formiat 0,001 M sebanyak 50 mL adalah 5 mL. Maka

untuk pembuatan larutan dengan konsentrasi lebih rendah sebanyak 50 mL,

digunakan larutan sebelumnya sebanyak 5 mL. Hal ini berlaku untuk asam

formiat dan asam cuka. Semakin rendah konsentrasi larutan asam menyebabkan

semakin tinggi pH larutan asam tersebut. Tetapi praktikan melakukan kesalahan

yang menyebabkan terjadi kesalahan pengukuran kadar pH pada larutan asam

formiat dengan konsentrasi 0,0001 M yang dimana seharusnya pH larutan asam

formiat 0,0001 M lebih kecil dari larutan asam cuka 0,0001 M. Selain itu pada

larutan asam asam cuka 0,01 M dan 0,001 M memiliki pH yang sama, padahal

seharusnya pH larutan asam asetat 0,001 M lebih tinggi dari larutan asam cuka

0,01 M. Hal ini menunjukkan praktikan kurang teliti dan melakukan sedikit

kesalahan dalam menjalankan praktikumnya.

Konstanta kesetimbangan untuk ionisasi asam ini, yang dinamakan

konstanta ionisasi asam. Semakin besar konstanta ionisasinya, maka semakin kuat

asamnya. Artinya semakin tinggi konsentrasi ion H+ pada kesetimbangan karena

ionisasinya (Chang, 2005).

Data yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan menunjukkan nilai

konstanta ionisasi asam formiat semakin kecil mengikuti konsentrasi larutannya

yang semakin mengecil. Hal ini dialami baik oleh asam formiat maupun asam

cuka. Namun terjadi sedikit kesalahan yang dilaukan praktikan dimana pada asam

formiat dengan konsentrasi 0,0001 M memiliki Ka sebesar 10-10 yang ternyata

lebih kecil dari asam formiat 0,00001 M dengan Ka sebesar 10-7, padahal

seharusnya konsentrasi asam formiat 0,0001 M harus lebih kecil daripada asam

formiat 0,00001 M. Hal ini dikarenakan terjadi kesalahan praktikan dalam


mengukur pH yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam perhitungan

konstanta ionisasinya. Begitu pula pada asam asetat yang pada konsentrasi 0,01 M

memilki nilai Ka sebesar 10-6 sedangkan asam asetat 0,001 M memilki nilai Ka

sebesar 10-5. Padahal seharusnya nilai Ka asam cuka 0,01 M lebih besar dari asam

cuka dengan konsentrasi 0,001 M.

Cara lain mengetahui kekuatan asam adalah mengukur persen ionisasi

(derajat ionisasi). Semakin kuat asam, semakin besar persen ionisasi. Pada data

hasil pengolahan, diperoleh data derajat ionisasi untuk asam formiat semakin

mengecil mengikuti konsentrasinya yang semakin mengecil. Dengan kata lain

semakin tinggi keasamaan larutan asam formiat maka semakin besar derajat

ionisasinya. Namun terjadi sedikit kesalahan dalam proses praktikum yang

menyebabkan derajat ionisasi asam formiat 0,00001 M sebesar 10%. Sedangkan

asam formiat 0,0001 M memilki derajat ionisasi sebesar 0,1%. Seharusnya asam

formiat 0,00001 M memiliki derajat ionisasi yang lebih rendah dibandingkan

asam formiat 0,0001 M.

Kemudian data yang diperoleh untuk asam asetat menunjukkan terjadi

kesalahan dalam penentuan pH asam. Hal ini dikarenakan semakin besar pH atau

semakin lemah asam cuka justru derajat ionisasinya semakin tinggi. Dapat dilihat

bahwa data ini bertentangan dengan teori derajat ionisasi yang telah disebutkan

sebelumnya. Tampaknya praktikan telah melakukan kesalahan sehingga hasil

pengolahan data yang diperoleh menyimpang dari teori.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa:

1. Semakin rendah konsentrasi suatu asam lemah maka nilai pH akan semakin

tinggi.

2. Pengenceran suatu larutan asam lemah dapat memengaruhi nilai pH, tetapan

kesetimbangan ionisasi dan derajat ionisasi. Semakin banyak jumlah

pengenceran yang diberikan maka semakin rendah harga konsentrasi suatu

larutan asam lemah dan hal ini yang menyebabkan tingginya nilai pH larutan

itu.

3. Derajat ionisasi suatu larutan asam lemah dapat ditentukan berdasarkan nilai

pH.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Laboratorium

Saya berharap agar kebersihan di dalam laboratorium selalu dijaga agar

hati menjadi nyaman ketika melaksanakan praktikum dan juga ada baiknya jika

bahan yang akan digunakan untuk praktikum ditambah misalnya seperti pH

indikator.

5.2.2 Saran untuk Asisten

Cara asisten memberikan arahan saat melakukan praktikum sudah sangat

baik dan penjelasannya juga sudah cukup jelas, keramahannya juga agar tetap

dijaga agar praktikan enjoy dalam melakukan praktikum (tidak tegang).


DAFTAR PUSTAKA

Amanda, N.W.Y., Sri, P.U.D., K. Dwi K., N.L.M dan Diah E., 2012, Identifikasi
Sifat Asam Basa dengan Menggunakan Indikator Alami, jurnal Neutrino,
1(7): 1-3.

Ari, A.A., 2008, Bahan Ajar Kimia Dasar, Fakultas Teknik Universitas Negeri
Yogyakarta, Yogyakarta

Day, R.A dan Underwood, A.L., 2012, Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam,
Erlangga, Jakarta.

Ika, D., 2009, Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C dengan Metode Titrasi
Asam Basa, Jurnal Neutrino, 1(2): 166-167.

Lestari, P., 2016, Kertas Indikator Bunga Belimbing Wuluh (Avverhoa Bilimbi L)
untuk Uji Larutan Asam Basa, Jurnal Pendidikan Madrasah, 1(1): 71-72.

Takeuchi, Y., 2006, Buku Teks Pengantar Kimia, Muki Kagaku, Tokyo.