Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS

BRONKOPNEUMONIA DENGAN
SUSPEK ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA ANAK

Pembimbing:
dr. Achmad Sigit
dr. Ira H. Siagian

Disusun oleh:
dr. Brenda Shahnaz Qurrota Aina Baihaqi

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KEMBANGAN


PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA
JAKARTA
NOVEMBER 2017
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
Resume
Diagnosis Kerja
Diagnosis Banding
Pemeriksaan Anjuran
Penatalaksanaan
Prognosis
BAB III ANALISIS KASUS
BAB IV TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Epidemiologi
Etiologi
Patofisiologi
Manifestasi Klinis
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Penatalaksanaan
Prognosis
BAB V DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Pneumonia adalah peradangan/inflamasi parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, sertamenimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Sebagian besar disebabkan
oleh mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi,
radiasi dll). Pneumonia yang dimaksud di sini tidak termasuk dengan pneumonia yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pneumonia merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah lima tahun (balita). Diperkirakan hampir
seperlima kematian anak diseluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak balita, meninggal setiap
tahun akibat pneumonia, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Menurut survei
kesehatan nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi dan 22,8% kematian balita di
Indonesia disebabkan oleh penyakit sistem respiratori, terutama pneumonia. Lima provinsi
yang mempunyai insiden dan prevalensi pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah Nusa
Tenggara Timur (4,6% dan 10,3%), Papua (2,6% dan 8,2%), Sulawesi Tengah (2,3% dan
5,7%), Sulawesi Barat (3,1% dan 6,1%), dan Sulawesi Selatan (2,4% dan 4,8%) berdasarkan
RISKESDAS 2013.

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit


sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah cukup ke
jaringan perifer. Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di
seluruh dunia. Diperkirakan >30% penduduk dunia menderita anemia dan sebagian besar di
daerah tropis. Oleh karena itu anemia seringkali tidak mendapat perhatian oleh para dokter di
klinik.

BAB II
LAPORAN KASUS
PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA
RSUD KEMBANGAN

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nomor Rekam Medik : 04.61.xx


Nama : An. BA
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 1 tahun 10 bulan
Alamat : Jl. Sayur Asem RT 02/ RW 06, Joglo
Agama : Islam
Pendidikan :-
Pekerjaan :-

II. ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ibu kandung pasien, kemudian


dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik yang dilakukan pada:
Lokasi : IGD RSUD Kembangan
Tanggal / Waktu : Rabu/ 08 November 2017
Tanggal masuk : Rabu/ 08 November 2017
Keluhan utama : demam sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
Keluhan tambahan : batuk, lemas, rewel

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke IGD RSUD Kembangan dengan keluhan demam sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Demam dirasakan sepanjang hari, sejak jam 5 pagi
tanggal 7 November 2017, demam tidak turun apabila pasien minum obat demam, pasien
sudah minum obat demam sirup tiap 4 jam, pasien lupa nama obatnya, demam tidak pernah
diukur di rumah, hanya dirasakan dengan perabaan tangan. Pasien juga mengalami batuk,
lemas, dan rewel. Pasien batuk sejak 1 hari yang lalu, batuk berdahak, namun dahak tidak
bisa keluar. Ibu pasien menyangkal adanya pilek, mual, muntah, dan bercak merah di tubuh.
Pasien juga menyangkal pernah keluar cacing dari anus atau mulutnya, dan gatal pada anus.
Nafsu makan pasien baik, namun jarang makan daging, buang air besar lancar, konsistensi
lunak, dan buang air kecil lancar, berwarna kuning jernih. Di lingkungan pasien tidak ada
yang mengalami keluhan yang sama.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Menurut ibu pasien, pasien pernah dirawat di RSUD Kembangan 1 bulan yang lalu
karena muntah dan diare. Pasien sering mengalami demam batuk, pilek di rumah, namun
segera sembuh setelah diberikan obat yang dibeli ibu pasien sendiri di Apotek. Pasien
memiliki riwayat pengobatan batuk selama 6 bulan saat berusia 3 bulan, namun pasien hanya
menyelesaikan pengobatan selama 4 bulan karena keterbatasan ekonomi.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN


KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Tidak ada. Anemia (-), HT (-), DM (-),
penyakit jantung (-), penyakit paru (-),
infeksi (-).
Perawatan antenatal 9x kontrol ke tempat praktek bidan tiap 1
bulan sekali dan sudah melakukan
imunisasi
KELAHIRAN Tempat persalinan Praktek Bidan
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Partus Spontan
Masa gestasi Cukup Bulan (39 minggu)
Keadaan bayi Berat lahir: 3000 gram
Panjang lahir: Tidak tahu
Lingkar kepala : Tidak tahu
Segera menangis
Kemerahan (+)
Nilai APGAR : (tidak tahu)
Kelainan bawaan : tidak ada
RIWAYAT PERKEMBANGAN
Pertumbuhan gigi I : umur 6 bulan (Normal: 5-9 bulan)
Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
Psikomotor :

- Tengkurap : umur 4 bulan (Normal: 3-4 bulan)


- Duduk : umur 8 bulan (Normal: 7-10 bulan)
- Berdiri : umur 11 bulan (Normal: 10-12 bulan)
- Berjalan : umur 13 bulan (Normal: 12-18 bulan)
- Pengucapan kata-kata : umur 12 bulan (Normal: 9-12 bulan)

Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan: perkembangan pasien baik, sesuai


usia, tidak ada keterlambatan.

RIWAYAT MAKANAN
Umur (bulan) ASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
0–2 + - - -
2–4 + - - -
4–6 + - - -
6–8 + - - -
8 – 10 + - - -
10 -12 + - + -
12-24 + + + +

Kesimpulan riwayat makanan: Pasien mendapatkan ASI eksklusif. Pasien mendapatkan


ASI sampai usia 20 bulan, sejak 2 bulan terakhir pasien tidak mendapat ASI lagi. Susu
formula diberikan saat usia 10 bulan. Makanan pendamping seperti bubur susu sudah
diberikan sejak pasien berumur 12 bulan.

RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin Dasar ( umur ) Ulangan ( umur )
Hepatitis B 0 bulan 1 bulan 6 bulan - - - -
Polio 0 bulan 2 bulan 4 bulan 6 bulan - -
BCG 2 bulan - - - - - -
DPT / PT 2 bulan 4 bulan 6 bulan - - -
Campak - - - 9 bulan - -
Kesimpulan riwayat imunisasi: imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal

RIWAYAT KELUARGA
Corak Reproduksi
No Tahun lahir Jenis Hidup Lahir Abortus Mati Keterangan
kelamin mati (sebab) kesehatan
1. 2002 Perempuan Ya - - - Kakak Pasien
2. 2011 Perempuan Ya - - - Kakak Pasien
3. 2016 Perempuan Ya - - - Pasien

Riwayat Penyakit Keluarga


Pada anggota keluarga pasien, saat ini tidak ada yang mengalami keluhan serupa
seperti pasien. Kakak pasien pernah menderita TB namun pengobatannya tidak tuntas,
bersama dengan pasien saat berusia 3 bulan.

Riwayat Kebiasaan Keluarga

Keluarga pasien juga menyangkal adanya kebiasaan merokok, membakar sampah di


sekitar rumah, dan memlihara hewan di rumah. Ibu pasien mengaku kurang rajin
membersihkan rumah dan lingkungan rumah dengan rutin, terutama kamar tidur pasien.

RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA


Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi (-) Difteria (-) Penyakit (-)
jantung
Cacingan (-) Diare (+) Penyakit ginjal (-)
DBD (-) Kejang (-) Radang paru (-)
Otitis (-) Rubeola (-) TBC (+)
Parotitis (-) Operasi (-) Lain-lain: (-)

Kesimpulan Riwayat Penyakit yang pernah diderita:


Pasien belum pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya. Pasien pernah
mengalami sakit TB paru dan dirawat di RS karena diare.

RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN


Menurut pengakuan ibu pasien keadaan lingkungan rumah cukup padat penduduk.
Pada rumah pasien hanya terdapat 1 jendela di depan dan 1 jendela di belakang rumah.
Ventilasi udara, dan pencahayaan kurang. Sumber air berasal dari air mesin. Pembuangan
sampah rutin setiap hari. Membersihkan genangan air di kamar mandi dan lingkungan rumah
kurang rutin.

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Ayah pasien bekerja sebagai karyawan dengan penghasilan kurang lebih Rp.
1.200.000/ bulan. Sedangkan ibu pasien adalah ibu rumah tangga. Menurut ibu pasien
penghasilan tersebut masih bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

III. PEMERIKSAAN FISIK


STATUS GENERALISATA
Keadaan Umum
Kesan Sakit : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Kesan Gizi : gizi baik
Keadaan lain : pucat (-), ikterik (-), sesak (-), sianosis (-)

Data Antropometri
Berat Badan sekarang : 9 kg
Tinggi Badan : 80 cm

Status Gizi (CDC)

- BB / U = 9/11 x 100 % = 81,8%


- TB / U = 80/85 x 100 % =94,1 %
- BB / TB = 9/10 x 100 % = 90% (gizi normal)

Berdasarkan kurva CDC, status gizi pasien masuk dalam kategori gizi normal dengan
perhitungan BB/TB 90%.

- Nadi : 102x/ menit, reguler, kuat, isi cukup, equal kanan dan kiri
- Nafas : 40x/ menit, regular
- Suhu : 39,4°C

Pemeriksaan fisik
Kepala : Normosefali
Rambut : Rambut hitam, lurus, distribusi merata, dan tidak mudah dicabut
Wajah : Wajah simetris, edema (-)
Mata
Visus : tidak dilakukan Ptosis : -/-
Edema palpebral : -/- Sklera ikterik : -/-
Lagofthalmus : -/- Konjungtiva anemis : +/+
Mata Cekung : -/- Exophthalmus : -/-
Kornea jernih : +/+ Endophtalmus : -/-
Strabismus : -/- Nistagmus : -/-
Lensa jernih : +/+ Pupil : bulat, isokor, D 3mm/3mm
Refleks cahaya : langsung +/+, tidak langsung +/+

Telinga
Bentuk : normotia Cairan : -/-
Nyeri tarik aurikula : -/- Nyeri tekan tragus: -/-
Liang telinga : lapang Membran timpani: sulit dinilai
Serumen : -/- Refleks cahaya : sulit dinilai

Hidung
Bentuk : simetris Napas cuping hidung : -/-
Sekret : -/- Deviasi septum : -
Mukosa hiperemis : -/-

Bibir : mukosa berwarna merah muda, kering (-), sianosis (-), pucat (-)
Mulut : trismus (-), oral hygiene cukup baik, halitosis (-), mukosa gusi berwarna
merah muda, mukosa pipi berwarna merah muda, arkus palatum simetris

Lidah : normoglosia, mukosa berwarna merah muda, hiperemis (-), atrofi papil (-),
tremor (-) , lidah kotor(-)

Tenggorokan : tonsil T2-T2, hiperemis (-), detritus (-), dinding posterior faring tidak
hiperemis, arcus faring tidak hiperemis, uvula terletak ditengah

Leher : bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), tidak tampak dan tidak
teraba pembesaran tiroid maupun KGB, trakea tampak dan teraba di tengah

Thoraks :
Jantung
- Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
- Palpasi : ictus cordis teraba pada ICS V linea
midklavikularis sinistra

- Perkusi :
batas kiri jantung : ICS V linea midklavikularis sinistra
batas kanan jantung : ICS III-V linea sternalis dextra
batas atas jantung : ICS III linea parasternalis sinistra

- Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru
- Inspeksi : bentuk toraks simetris pada saat statis dan
dinamis, pernafasan torakoabdominal, retraksi sela iga -
/-, pembesaran KGB aksila -/-
- Palpasi : nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas simetris
kanan dan kiri, vocal fremitus sama kuat kanan dan kiri.
- Perkusi :
Sonor dikedua lapang paru.
Batas paru-lambung : ICS VII linea aksilaris anterior
Batas paru-hepar : ICS VI linea midklavikularis dextra
- Auskultasi : suara napas vesikuler +/+, ronki +/+, wheezing -/-
Abdomen
- Inspeksi : datar, warna kulit sawo matang, ruam (-), gerak
dinding perut saat pernapasan simetris, shagging of the flank (-),
venektasi (-), smiling umbilicus (-)
- Auskultasi : bising usus (+)
- Perkusi : timpani di seluruh lapang perut, shifting dullness (-),
undulasi (-)
- Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium (-), hepar tidak teraba
membesar, lien tidak teraba membesar, ballotement (-), turgor baik

Genitalia
Tidak dilakukan pemeriksaan

Kelenjar getah bening:


Preaurikuler : tidak teraba membesar
Postaurikuler : tidak teraba membesar
Submandibula : tidak teraba membesar
Supraklavicula : tidak teraba membesar
Aksila : tidak teraba membesar
Inguinal : tidak teraba membesar

Ekstremitas : Simetris, tidak terdapat kelainan pada bentuk tulang atau posisi
tangan, kaki, serta sikap badan, tidak terdapat keterbatasan gerak sendi,
akral hangat pada keempat ekstremitas, pitting edema pretibial (-/-),
edema dorsum pedis (-/-), sianosis (-), capillaryrefill time < 2 detik,
koilonikia (-)

Kulit : warna sawo matang merata, tidak ikterik, tidak sianosis.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


08/11/2017 (09.25)
HEMATOLOGI Hasil Nilai Rujukan
Hemoglobin 11,9 g/dl L: 13-17, P: 12-15 g/dl
Hematokrit 35 % 36-51 %
Leukosit 14 ribu/l 4-10 ribu/l
Trombosit 322 ribu/l 150-450 ribu/l
Eritrosit 4.6 juta/l L: 4,5-5,5, P: 3,8-4,8 juta/l
Indeks Eritrosit
MCV 75 fl 80-95 fl
MCH 26 pg 27-31 pg
MCHC 34 g/l 32-36 g/l
RDW 17 % 12-16 %
Hitung Jenis Leukosit
Basofil 0% 0-1%
Eosinofil 1% 2-4%
Neutrofil 68% 50-70%
Limfosit 27% 25-40%
Monosit 4% 2-8%
GLUKOSA DARAH
Gula Darah Sewaktu 92 mg/dl <200 mg/dl
ELEKTROLIT
Natrium (Na) 132 mmol/L 135-147 mmol/L
Kalium (K) 5.0 mmol/L 3,5-5,5 mmol/L
Klorida (Cl) 109 mmol/L 95-105 mmol/L

PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Thorax AP (20/9/2017)
Jantung tak membesar.
Mediastinum superior tidak melebar.
Trakea di tengan. Kedua hilus tidak menebal.
Tampak infiltrat di perihiler bilateral.
Diafragma di kanan-kiri normal. Sinus kostofrenikus kanan-kiri lancip.
Skeletal: tulang-tulang intak.
Kesan:
Bronkopneumonia bilateral
Tidak tampak kardiomegali

V. RESUME

Pasien datang ke IGD RSUD Kembangan dengan keluhan demam sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Demam dirasakan sepanjang hari, sejak jam 5 pagi
tanggal 7 November 2017, demam tidak turun apabila pasien minum obat demam, pasien
sudah minum obat demam sirup tiap 4 jam, pasien lupa nama obatnya, demam tidak pernah
diukur di rumah, nya dirasakan dengan perabaan tangan. Pasien juga terlihat lemas, rewel,
dan batuk sejak 1 hari yang lalu, batuk berdahak, namun dahak tidak keluar. pasien pernah
dirawat di RSUD Kembangan 1 bulan yang lalu karena muntah dan diare. Pasien sering
mengalami demam batuk, pilek di rumah, namun segera sembuh setelah diberikan obat yang
dibeli ibu pasien sendiri di Apotek. Pasien memiliki riwayat pengobatan batuk selama 6
bulan saat berusia 3 bulan, namun pasien hanya menyelesaikan pengobatan selama 4 bulan
karena keterbatasan ekonomi. Kakak pasien pernah menderita TB namun pengobatannya
tidak tuntas, bersama dengan pasien saat berusia 3 bulan. Ibu pasien mengaku kurang rajin
membersihkan rumah dan lingkungan rumah dengan rutin, terutama kamar tidur pasien.
Keadaan lingkungan rumah cukup padat penduduk. Ventilasi udara, dan pencahayaan kurang.
Membersihkan genangan air di kamar mandi dan lingkungan rumah kurang rutin.

Pada pemeriksaan Fisik, didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran
compos mentis, HR: 102 x/menit, RR: 40 x/menit, suhu: meningkat 39,4oC. Konjungtiva
anemis +/+, terdengar rhonki +/+ pada auskultasi paru. Pada pemeriksaan Laboratorium,
didapatkan Hb menurun: 11,9 g/dl, Ht menurun: 35%, dan leukosit meningkat: 14.000/l,
MCV dan MCH menurun 75 fl dan 26 pg. Pada pemeriksaan foto rontgen thorax AP,
didapatkan kesan bronkopneumonia bilateral.

VI. DIAGNOSIS KERJA


 Bronkopneumonia bilateral
 Suspek Anemia Defisiensi Besi

VII. DIAGNOSIS BANDING


 TB Relaps

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


 Laboratorium Darah: Darah perifer lengkap, indeks eritrosit, elektrolit, GDS
 Foto Rontgen Thorax PA

IX. PENATALAKSANAAN
 Rehidrasi IVFD : KAEN 3A 1000cc/jam
 Antibiotik: Ceftriaxone 1x900 mg
 Mukolitik: Ambroxol 5mg 3x1 pulv
 Antipiretik:
I. Paracetamol supp
II. Paracetamol drip 100 mg

X. PROGNOSIS
 Ad Vitam : Ad bonam
 Ad Fungtionam : Ad bonam
 Ad Sanationam : Ad bonam

XI. FOLLOW UP
9/11/2017 S: Ibu pasien mengatakan, demam (+) naik turun dan batuk (+),
lemas (+), tidak rewel, dan tidak nafsu makan makanan RS
O: KU: tampak sakit ringan, Kes: Composmentis, HR: 116 x/menit,
Suhu: 37,5oC, RR: 32 x/menit
Mata: Sklera Ikterik -/-, Konjungtiva Anemis +/+
Thorax: BJ 1-2 reguler, murmur (-), gallop (-), SN Vesikuler (+/+),
Wheezing (-/-), Rhonki (+/-)
Abdomen: Supel, Bising usus (+), Hepatomegali (-), Nyeri tekan
epigastrium (-)
Ekstremitas: Akral hangat +/+, CRT < 2 detik

A: Bronkopneumonia bilateral dengan suspek ADF


P:
 Rehidrasi IVFD : KAEN 3A 1000cc/jam
 Antibiotik: Ceftriaxone 1x900 mg
 Mukolitik: Ambroxol 5mg 3x1 pulv
 Antipiretik: Paracetamol 3x Cth I

10/11/2017 S: Ibu pasien mengatakan, demam (+) naik turun dan batuk (+),
lemas (+), tidak rewel, dan tidak nafsu makan makanan RS
O: KU: tampak sakit ringan, Kes: Composmentis, HR: 112 x/menit,
Suhu: 37,3oC, RR: 28 x/menit
Mata: Sklera Ikterik -/-, Konjungtiva Anemis +/+
Thorax: BJ 1-2 reguler, murmur (-), gallop (-), SN Vesikuler (+/+),
Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)
Abdomen: Supel, Bising usus (+), Hepatomegali (-), Nyeri tekan
epigastrium (-)
Ekstremitas: Akral hangat +/+, CRT < 2 detik

A: Bronkopneumonia bilateral dengan suspek ADF


P:
 Rehidrasi IVFD : KAEN 3A 1000cc/jam
 Antibiotik: Ceftriaxone 1x900 mg
 Mukolitik: Ambroxol 5mg 3x1 pulv
 Antipiretik: Paracetamol 3x Cth I

13/11/2017 S: Ibu pasien mengatakan, demam sudah turun, batuk sudah reda,
tidak rewel, dan nafsu makan baik
O: KU: tampak sakit ringan, Kes: Composmentis, HR: 112 x/menit,
Suhu: 36,2oC, RR: 28 x/menit
Mata: Sklera Ikterik -/-, Konjungtiva Anemis -/-
Thorax: BJ 1-2 reguler, murmur (-), gallop (-), SN Vesikuler (+/+),
Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)
Abdomen: Supel, Bising usus (+), Hepatomegali (-), Nyeri tekan
epigastrium (-)
Ekstremitas: Akral hangat +/+, CRT < 2 detik

A: Bronkopneumonia bilateral dengan suspek ADF


P:
 Rehidrasi IVFD : KAEN 3A 1000cc/jam
 Antibiotik: Ceftriaxone 1x900 mg
 Mukolitik: Ambroxol 5mg 3x1 pulv
 Antipiretik: Paracetamol 3x Cth I

BAB III
ANALISIS KASUS
NO. KASUS TEORI
1 Anamnesis Anamnesis BP
 Demam
 Demam sejak 1 hari sebelum masuk
 Sakit kepala
rumah sakit (SMRS). Demam
 Gelisah
dirasakan sepanjang hari, sejak jam
 Malaise
5 pagi tanggal 7 November 2017,
 Penurunan nafsu makan
demam tidak turun apabila pasien
 keluhan gastrointestinal: mual,
minum obat demam, pasien sudah
muntah atau diare
minum obat demam sirup tiap 4
 Batuk
jam, pasien lupa nama obatnya,
 Sesak napas
demam tidak pernah diukur di
rumah, nya dirasakan dengan  Retraksi dada

perabaan tangan.  Takipnea

 Lemas  Napas cuping hidung

 Rewel  Merintih

 Batuk sejak 1 hari yang lalu, batuk  Sianosis.

berdahak, namun dahak tidak


keluar. Anamnesis ADF

 Lemah 


 Lesu 


 Letih 


 Lelah

 Penglihatan berkunang-kunang

 Pusing

 Telinga berdenging 


 Penurunan konsentrasi 


 Sesak nafas

2 Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik BP


 Demam
 keadaan umum: tampak sakit
 Pekak perkusi
sedang, kesadaran: compos mentis,
 Suara napas melemah
HR: 102 x/menit, RR: 40 x/menit,
 Ronki.
suhu: 39,4oC
 Konjungtiva anemis +/+
Pemeriksaan Fisik ADF
 Rhonki +/+
 Pucat pada konjungtiva, mukosa
mulut, telapak tangan, dan jaringan
di bawah kuku.
 Koilonychia
 Atrofi papil lidah
 Stomatitis angularis
 Disfagia
 Pica
3 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Penunjang BP
 Hb menurun: 11,9 g/dl  Pewarnaan gram
 Ht menurun: 35 %  pemeriksaan lekosit
 Leukosit meningkat: 14.000 /l  pemeriksaan foto toraks
 MCV menurun: 75 fl
 kultur sputum
 MCH menurun: 26 pg
 kultur darah (bila fasilitas tersedia)
 Foto rontgen thorax AP: efusi
Kesan bronkopneumonia bilateral Pemeriksaan Penunjang ADF
 Pemeriksaan darah: Hb, Ht,
leukosit, trombosit, eritrosit,
morfologi darah tepi (apusan darah
tepi), MCV, MCH, MCHC, feses

rutin, dan urin rutin. 


 Pemeriksaan Khusus: Serum iron,


TIBC, saturasi transferin, dan feritin
serum.
4. Tatalaksana Tatalaksana BP
 Rehidrasi IVFD :  Non Medikamentosa
I. KAEN 3A 1000cc/jam  Pemberian cairan intravena
 Antibiotik:  Terapi oksigen
Ceftriaxone 1x900 mg  Koreksi terhadap gangguan
 Mukolitik: keseimbangan asam-basa, elektrolit,
Ambroxol 5mg 3x1 pulv dan gula darah

 Antipiretik:  Edukasi: Menghindari faktor

I. Paracetamol supp paparan asap rokok dan 
 polusi


II. Paracetamol drip 100 mg
udara , Membiasakan cuci tangan


 , Isolasi penderita 
 ,

Menghindarkan bayi/anak kecil dari

tempat 
 keramaian umum 
 ,

Pemberian ASI , Menghindarkan

bayi/anak kecil dari 
 kontak

dengan penderita ISPA


 Obati penyakit penyerta

 Medikamentosa
 Analgetik/antipiretik
 Antibiotik: lini pertama dapat
menggunakan antibiotik golongan
beta- laktam atau kloramfenikol,
jika tidak responsive, dapat
diberikan gentamisin, amikasin, atau
sefalosporin

Tatalaksana ADF
 Preparat besi (ferous sulfat, ferous
glukonat, ferous fumarat, dan ferous
suksinat): 4-6 mg/kgBB/hari.
 Respons terapi: menilai kenaikan
kadar Hb/Ht tiap satu bulan, yaitu
kenaikan kadar Hb sebesar 2 g/dL
atau lebih. Bila respons ditemukan,
terapi dilanjutkan sampai 2-3 bulan.
 Transfusi darah PRC: jika Hb
<4g/dL
 Edukasi:
o Mempertahankan ASI
eksklusif 6 bulan
o Menunda pemakaian susu
sapi sampai 1 tahun
o Menggunakan
sereal/makanan tambahan
yang difortifikasi tepat pada
waktunya, yaitu sejak usia 6
bulan sampai 1 tahun
o Vitamin C seperti jeruk, apel
pada waktu makan dan
minum preparat besi untuk
meningkatkan absorbsi besi,
serta menghindari bahan
yang menghambat absorbsi
besi seperti teh, fosfat, dan
fitat pada makanan.
o Menghindari minum susu
yang berlebihan dan
meningkatkan makanan
yang mengandung kadar besi
yang berasal dari hewani
o Pendidikan kebersihan
lingkungan
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

A. BRONKOPNEUMONIA PADA ANAK

I. DEFINISI

Pneumonia adalah peradangan/inflamasi parenkim paru, distal dari bronkiolus


terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Sebagian besar disebabkan
oleh mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi,
radiasi dll). Pneumonia yang dimaksud di sini tidak termasuk dengan pneumonia yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.

II. EPIDEMIOLOGI

Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di


bawah lima tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian anak diseluruh dunia,
lebih kurang 2 juta anak balita, meninggal setiap tahun akibat pneumonia, sebagian besar
terjadi di Afrika dan Asia Tenggara.

Menurut survei kesehatan nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi dan 22,8%
kematian balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit sistem respiratori, terutama
pneumonia. Lima provinsi yang mempunyai insiden dan prevalensi pneumonia tertinggi
untuk semua umur adalah Nusa Tenggara Timur (4,6% dan 10,3%), Papua (2,6% dan 8,2%),
Sulawesi Tengah (2,3% dan 5,7%), Sulawesi Barat (3,1% dan 6,1%), dan Sulawesi Selatan
(2,4% dan 4,8%) berdasarkan RISKESDAS 2013.

III. ETIOLOGI
Berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, antara lain virus, jamur,
dan bakteri. S. Pneumoniae merupakan penyebab tersering pneumonia bakterial pada semua
kelompok umur. Virus lebih sering ditemukan pada anak kurang dari umur 5 tahun.
Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan virus penyebab tersering pada anak kurang
dari 3 tahun. Pada umur yang lebih muda, adenovirus, para influenza virus, dan influenza
virus juga ditemukan. Mycoplasma pneumonia dan Chlamydia pneumonia lebih sering
ditemukan pada anak-anak, dan biasanya merupakan penyebab tersering yang ditemukan
pada anak lebih dari 10 tahun.
Beberapa faktor yang meningkatakan risiko dan derajat kejadian pneumonia, antara
lain defek anatomi bawaan, defisit imunologi, polusi, GER (gastroesophageal reflux),
aspirasi, gizi buruk, berat badan lahir rendah, tidak mendapatkan air susu ibu (ASI),
imunisasi tidak lengkap, adanya saudara di rumah yang menderita batuk, dan kamar tidur
yang terlalu padat penghuninya.

IV. PATOFISIOLOGI

Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas atau karena
aspirasi makanan dan minuman. Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut
masuk ke saluran pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di
tempat tersebut, sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran pernafasan
dengan gambaran sebagai berikut:
1. Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh
darah alveolus, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveolus.
2. Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran
pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora
normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan
kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan
dan elektrolit

V. MANIFESTASI KLINIS

Anamnesis
Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan hingga
sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil yang berat, mengancam
kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan perawatan di rumah
sakit.

Beberapa faktor yang memengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak adalah:

1. Imaturitas anatomik dan imunologik


2. Mikroorganisme penyebab yang luas, gejala klinis yang kadang- kadang tidak khas

terutama pada bayi


3. Etiologi noninfeksi yang relatif lebih sering

4. Faktor patogenesis


5. Kelompok usia pada anak merupakan faktor penting yang menyebabkan karakteristik
penyakit berbeda-beda, sehingga perlu dipertimbangkan dalam tatalaksana pneumonia.

Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat-ringannya
infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut:

1. Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu
makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare; kadang-kadang

ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner. 


2. Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea, napas
cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.

Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi, suara
napas melemah, dan ronki. Akan tetapi pada neonatus dan bayi kecil, gejala dan tanda
pneumonia lebih beragam dan tidak selalu jelas terlihat. Pada perkusi dan auskultasi paru
umumnya tidak ditemukan kelainan.
VI. DIAGNOSIS

Diagnosis etiologik berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan/atau serologis


sebagai dasar terapi yang optimal. Akan tetapi, penemuan bakteri penyebab tidak selalu
mudah karena memerlukan laboratorium penunjang yang memadai. Oleh karena itu,
pneumonia pada anak umumnya didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan
keterlibatan sistem respiratori, serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adanya
pneumonia adalah demam, sianosis, dan lebih dari satu gejala respiratori sebagai berikut:
takipnea, batuk, napas cuping hidung, retraksi, ronki, dan suara napas melemah.

WHO mengembangkan pedoman diagnosis dan tatalaksana yang sederhana. Pedoman


ini terutama ditujukan untuk Pelayanan Kesehatan tingkat pertama, dan sebagai pendidikan
kesehatan untuk masyarakat di negara berkembang.

Gejala klinis sederhana tersebut meliputi napas cepat, sesak napas, dan berbagai tanda
bahaya agar anak segera dirujuk ke pelayanan kesehatan. Napas cepat dinilai dengan
menghitung frekuensi napas selama satu menit penuh ketika bayi dalam keadaan tenang.
Sesak napas dinilai dengan melihat adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
ketika menarik napas (retraksi epigastrium).

Tanda bahaya pada anak berusia 2 bulan–5 tahun adalah tidak dapat minum, kejang,
kesadaran menurun, stridor, dan gizi buruk; tanda bahaya untuk bayi berusia di bawah 2
bulan adalah malas minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, mengi, dan demam/badan
terasa dingin.

Klasifikasi pneumonia berdasarkan pedoman WHO adalah:

1. Bayi dan anak berusia 2 bulan–5 tahun

a. Pneumonia berat

o Ada sesak napas

o Harus dirawat dan diberikan antibiotik.


b. Pneumonia

o Tidak ada sesak napas

o Ada napas cepat dengan laju napas: 


>50 x/menit untuk anak usia 2 bulan–1 tahun


>40 x/menit untuk anak >1–5 tahun 


o Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral.

o Tidak ada napas cepat dan sesak 
 napas 


o Tidak perlu dirawat dan tidak 
 perlu antibiotik, hanya diberikan pengobatan

simptomatis seperti penurun panas 


2. Bayi berusia di bawah 2 bulan

a. Pneumonia

o Ada napas cepat (>60 x/menit) atau sesak napas


o Harus dirawat dan diberikan antibiotik.


b. Bukan pneumonia

o Tidak ada napas cepat atau sesak


o Tidak perlu dirawat, cukup pengobatan simptomatis.

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pewarnaan gram
2. pemeriksaan lekosit
3. pemeriksaan foto toraks
4. kultur sputum
5. kultur darah (bila fasilitas tersedia)

VIII. PENATALAKSANAAN
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Indikasi perawatan
terutama berdasarkan berat-ringannya penyakit, misalnya toksis, distres pernapasan, tidak
mau makan/ minum, atau ada penyakit dasar yang lain, komplikasi, dan terutama
mempertimbangkan usia pasien. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis
pneumonia harus dirawat inap.

Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan antibiotik
yang sesuai dan pengobatan suportif yang meliputi :

1. Pemberian cairan intravena, terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan keseimbangan


asam-basa, elektrolit, dan gula darah
2. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik
3. Suplementasi vitamin A tidak terbukti efektif
4. Penyakit penyerta harus ditanggulangi dengan adekuat 


5. Komplikasi yang mungkin terjadi harus dipantau dan diatasi 


Pneumonia Rawat Jalan

Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini pertama secara oral,
misalnya amoksisilin atau kotrimoksazol. Pada pneumonia ringan berobat jalan, dapat
diberikan antibiotik tunggal oral dengan efektifitas yang mencapai 90%. Penelitian
multisenter di Pakistan menemukan bahwa pada pneumonia rawat jalan, pemberian
amoksisilin dan kotrimoksazol dua kali sehari mempunyai efektifitas yang sama. Dosis
amoksisilin yang diberikan adalah 25 mg/kgBB, sedangkan kotrimoksazol adalah 4 mg/kgBB
TMP − 20 mg/kgBB sulfametoksazol.

Penumonia Rawat Inap

Pilihan antibiotik lini pertama dapat menggunakan antibiotik golongan beta- laktam
atau kloramfenikol. Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap beta-laktam dan
kloramfenikol, dapat diberikan antibiotik lain seperti gentamisin, amikasin, atau sefalosporin,
sesuai dengan petunjuk etiologi yang ditemukan. Sebaiknya segera dirujuk jika tidak tersedia
antibiotik yang sesuai.

Kriteria Rujukan
1. Pneumonia berat 


2. Pneumonia rawat inap 


Pencegahan

1. Pemberian imunisasi Pemberian vitamin A 


2. Menghindari faktor paparan asap rokok dan 
 polusi udara 


3. Membiasakan cuci tangan 


4. Isolasi penderita 


5. Menghindarkan bayi/anak kecil dari tempat 
 keramaian umum 


6. Pemberian ASI 


7. Menghindarkan bayi/anak kecil dari 
 kontak dengan penderita ISPA Komplikasi

Empiema torakis, Perikarditis purulenta, Pneumotoraks, Infeksi ekstrapulmoner


seperti meningitis purulenta

Peralatan

1. Termometer
2. Tensimeter
3. Pulse oxymeter (jika fasilitas tersedia)
4. Pemeriksaan pewarnaan gram


5. Pemeriksaan darah rutin


6. Radiologi (jika fasilitas tersedia)


7. Oksigen

IX. PROGNOSIS

Prognosis tergantung pada beratnya penyakit dan ketepatan penanganan.


B. ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA ANAK

I. DEFINISI

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit


sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah cukup ke
jaringan perifer.

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan
besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong yang pada akhirnya mengkibatkan

pembentukan hemoglobin berkurang. 


II. EPIDEMIOLOGI

Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di seluruh
dunia. Diperkirakan >30% penduduk dunia menderita anemia dan sebagian besar di daerah
tropis. Oleh karena itu anemia seringkali tidak mendapat perhatian oleh para dokter di klinik.

Prevalensi tertinggi ditemukan pada akhir masa bayi, awal masa anak, anak sekolah,
dan masa remaja karena adanya percepatan tumbuh pada masa tersebut, disertai asupan besi
yang rendah, penggunaan susu sapi dengan kadar besi yang kurang.

III. ETIOLOGI
1. kehilangan besi akibat perdarahan manahun dapat berasal dari:
a. Saluran cerna: tukak peptik, pemakaian NSAID, Ca lambung, Ca kolon,

divertikulosis, hemoroid dan infeksi cac ing ta mba ng 


b. saluran genitalia perempuan: menorrhagia atau metrorhagia. 


c. Saluran kemih: hematuria 


d. Respirasi: hemoptoe


2. Faktor nutrisi: akibat kurangnya besi total dalam makanan, atau 
 bioavailabilitas

besi yang tidak baik (makanan banyak serat, 
 rendah vitamin C, dan rendah daging)

3. Kebutuhan besi meningkat: pada prematuritas anak dalam masa 
 pertumbuhan dan

kehamilan

4. Gangguan absorbsi besi: gastrektomi, tropical sprue atau kolitis 
 kronik. 


Karena zat besi (Fe) adalah salah satu komponen penting untuk membentuk
hemoglobin seperti yang telah dibahas di atas, maka kekurangan zat besi akan membuat
produksi hemoglobin berkurang sehingga hemoglobin eritrosit akan berkurang. Kurangnya
hemoglobin eritrosit akan membuat eritrosit yang terbentuk menjadi mikrositik karena
jumlah hemoglobin dalam sitoplasma eritrosit tersebut tidak memadai. Kurangnya kadar
hemoglobin juga membuat konsentrasi hemoglobin dalam eritrosit berkurang sehingga
eritrosit menjadi hipokromik.

IV. PATOFISIOLOGI

Pada anemia mikrositik hipokrom akibat defisiensi besi, kurangnya jumlah zat besi
yang memadai pada tubuh pada awalnya akan berusaha diseimbangkan dengan melepas
cadangan besi yang tersimpan di tubuh yang sebagian besar disimpan dalam bentuk ferritin di
hepar. Ferritin secara mendasar dapat menyimpan hingga mencapai 1000x kebutuhan besi
harian, sehingga kekurangan zat besi yang akut tidak akan menyebabkan gambaran klinis
anemia. Namun ketika cadangan besi di ferritin sudah habis, maka kadar besi totoal darah
yang akan dibawa ke sumsum tulang untuk dipakai sebagai pembentuk hemoglobin akan
berkurang dan menyebabkan terganggunya pembentukan hemoglobin. Hal ini akan
menyebabkan ukuran sitoplasma eritrosit mengecil (MCV rendah) karena jumlah hemoglobin
yang menjadi pengisi sitoplasma eritrosit juga berkurang. Selain itu akan terbentuk eritrosit
dengan konsentrasi hemoglobin yang kurang (MCHC rendah), sehingga memberikan
gambaran hipokromik (karena hemoglobin berperan memberikan warna merah pada
eritrosit).

V. MANIFESTASI KLINIS

Anamnesis
Pasien datang ke dokter dengan keluhan:

1. Lemah 
 6. Pusing

7. Telinga berdenging 

2. Lesu 


8. Penurunan konsentrasi 

3. Letih 


9. Sesak nafas 

4. Lelah

5. Penglihatan berkunang-kunang

Faktor Risiko

1. Ibu hamil 
 2. Remaja putri 



3. Status gizi kurang 
 5. Infeksi kronik 


4. Faktor ekonomi kurang 
 6. Vegetarian 


Pemeriksaan Fisik

1. Gejala umum:


Pucat dapat terlihat pada konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan, dan jaringan di
bawah kuku.

2. Gejala anemia defisiensi besi:

o Koilonychia: kuku sendok, kuku menjadi rapuh, bergaris-garis 
 vertikal dan

menjadi cekung 


o Atrofi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap 


o Stomatitis angularis: adanya peradangan pada sudut mulut 
 sehingga tampak

sebagai bercak berwarna pucat keputihan. 


o Disfagia; nyeri pada menelan karena kerusaka epitel hipofaring

o Pica: keinginan untuk memakan bahan tidak lazim, seperti 
 tanah liat, es,

lem.

VI. DIAGNOSIS

Diagnosis Klinis

1. Tahap pertama: menentukan adanya anemia dengan kadar Hb dan 
 Ht 


2. Tahap kedua: memastikan adanya defisiensi besi 


3. Tahap ketiga: menentuka penyebab 
 Kriteria diagnosis yang dimodifikasi dari

Kerlin et al: anemia mikrositik hipokrom pada hapusan darah tepi atau MCV < 80 fl
dan MCHC < 31 % dengan salah satu dari: 


o Dua dari tiga parameter di bawah ini:

 Iron serum < 50 mg/dl


 TIBC > 350 mg/dl


 Saturasi transferin < 15 % 


o Feritin serum <20 mg/dl 


o Pengecatan sumsum tulang Perl’s stain menunjukkan cadangan 
 besi (butir-

butir hemosiderin) negatif. 


o Dengan pemberian sulfas ferosus 3 x 200 mg/hari (atau preparat 
 besi lain

yang setara) selama 4 minggu disertai kenaikan kenaikan kadar Hb > 2 g/dl 


Anemia adalah suatu sindrom yang dapat disebabkan oleh penyakit dasar sehingga
penting menentukan penyakit dasar yang menyebabkan anemia. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan darah dengan kriteria Hb
darah kurang dari kadar Hb normal.

Nilai rujukan kadar hemoglobin normal menurut WHO:

a. Laki-laki: >13 g/dL 


b. Perempuan: >12 g/dL 


c. Perempuan hamil: >11 g/dL 


Diagnosis Banding

1. Anemia defisiensi vitamin B12 


2. Anemia aplastik
3. Anemia hemolitik 


4. Anemia pada penyakit kronik 


VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


 Pemeriksaan darah: hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), leukosit,trombosit, jumlah
eritrosit, morfologi darah tepi (apusan darah tepi), MCV, MCH, MCHC, feses rutin,

dan urin rutin. 


 Pemeriksaan Khusus (dilakukan di layanan sekunder) :Serum iron, TIBC, saturasi

transferin, dan feritin serum. 


VIII. PENATALAKSANAAN

Mengetahui faktor penyebab: riwayat nutrisi dan kelahiran, adanya perdarahan yang
abnormal, pasca pembedahan.

 Preparat besi. Preparat yang tersedia ferous sulfat, ferous glukonat, ferous fumarat,
dan ferous suksinat. Dosis besi elemental 4-6 mg/kgBB/hari. Respons terapi dengan
menilai kenaikan kadar Hb/Ht setelah satu bulan, yaitu kenaikan kadar Hb sebesar 2
g/dL atau lebih. Bila respons ditemukan, terapi dilanjutkan sampai 2-3 bulan.
 Komposisi besi elemental:
o Ferous fumarat: 33% merupakan besi elemental
o Ferous glukonas: 11,6% merupakan besi elemental
o Ferous sulfat: 20% merupakan besi elemental
 Transfusi darah. Jarang diperlukan, hanya diberi pada keadaan anemia yang sangat
berat dengan kadar Hb <4g/dL. Komponen darah yang diberi PRC.
Pencegahan
 Pencegahan primer
o Mempertahankan ASI eksklusif hingga 6 bulan
o Menunda pemakaian susu sapi sampai usia 1 tahun
o Menggunakan sereal/makanan tambahan yang difortifikasi tepat pada
waktunya, yaitu sejak usia 6 bulan sampai 1 tahun
o Pemberian vitamin C seperti jeruk, apel pada waktu makan dan minum
preparat besi untuk meningkatkan absorbsi besi, serta menghindari bahan yang
menghambat absorbsi besi seperti teh, fosfat, dan fitat pada makanan.
o Menghindari minum susu yang berlebihan dan meningkatkan makanan yang
mengandung kadar besi yang berasal dari hewani
o Pendidikan kebersihan lingkungan
 Pencegahan sekunder
o Skrining ADB
o Skrining ADB dilakukan dengan pemeriksaan Hb atau Ht, waktunya
disesuaikan dengan berat badan lahir dan usia bayi. Waktu yang tepat masih
kontroversial. American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan antara
usia 9–12 bulan, 6 bulan kemudian, dan usia 24 bulan. Pada daerah dengan
risiko tinggi dilakukan tiap tahun sejak usia 1 tahun sampai 5 tahun
o Skrining dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan MCV, RDW, feritin serum,
dan trial terapi besi. Skrining dilakukan sampai usia remaja.
o Nilai MCV yang rendah dengan RDW yang lebar merupakan salah satu alat
skrining ADB
o Skrining yang paling sensitif, mudah dan dianjurkan yaitu zinc erythrocyte
protoporphyrin (ZEP).
o Bila bayi dan anak diberi susu sapi sebagai menu utama dan berlebihan
sebaiknya dipikirkan melakukan skrining untuk deteksi ADB dan segera
memberi terapi.
o Suplementasi besi. Merupakan cara paling tepat untuk mencegah terjadinya
ADB di daerah dengan prevalens tinggi. Dosis besi elemental yang
dianjurkan:
a. Bayi berat lahir normal dimulai sejak usia 6 bulan dianjurkan 1 mg/kg
BB/hari
b. Bayi 1,5-2,0 kg: 2 mg/kgBB/hari, diberikan sejak usia 2 minggu
c. Bayi 1,0-1,5 kg: 3 mg/kgBB/hari, diberikan sejak usia 2 minggu
d. Bayi – Bahan makanan yang sudah difortifikasi seperti susu formula
untuk bayi dan makanan pendamping ASI seperti sereal.
Rencana Tindak Lanjut

Untuk penegakan diagnosis definitif anemia defisiensi besi memerlukan pemeriksaan


laboratorium di layananan sekunder dan penatalaksanaan selanjutnya dapat dilakukan di
layanan tingkat pertama.

Konseling dan Edukasi

1. Memberikan pengertian kepada pasien dan keluarga tentang perjalanan penyakit dan
tata laksananya, sehingga meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam berobat serta

meningkatkan kualitas hidup pasien. 


2. Pasien diinformasikan mengenai efek samping obat berupa mual, muntah, heartburn,

konstipasi, diare, serta BAB kehitaman. 


3. Bila terdapat efek samping obat maka segera ke pelayanan kesehatan. 


Kriteria Rujukan

1. Anemia tanpa gejala dengan kadar Hb <8 g/ dL. 


2. Anemia dengan gejala tanpa melihat kadar Hb segera dirujuk. 


3. Anemia berat dengan indikasi transfusi (Hb <7 g/dL).


4. Anemia karena penyebab yang tidak termasuk kompetensi dokter di layanan tingkat

pertama misalnya anemia aplastik, anemia hemolitik dan anemia megaloblastik.


5. Jika didapatkan kegawatan (misal perdarahan aktif atau distres pernafasan) pasien
segera dirujuk.

Peralatan

Pemeriksaan laboratorium sederhana (darah rutin, urin rutin, feses rutin).

IX. PROGNOSIS

Prognosis umumnya dubia ad bonam karena sangat tergantung pada penyakit yang
mendasarinya. Bila penyakit yang mendasarinya teratasi, dengan nutrisi yang baik anemia
defisiensi besi dapat teratas

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
1. Ekayanti F, Hariyani I, Hendarto J, Paranadipa M, Zainuddin A, et al. Pneumonia
Bronkopneumonia. In: Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan
Primer. Ed 1st. 2017. p. 262-7. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia: Jakarta.
2. Ekayanti F, Hariyani I, Hendarto J, Paranadipa M, Zainuddin A, et al. Anemia
Defisiensi Besi. In: Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan
Primer. Ed 1st. 2017. p. 52-3. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia: Jakarta.
3. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, et al. Pneumonia.
In: Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2009. p. 250-5. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI.
4. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, et al. Anemia
Defisiensi Besia. In: Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2009.
p. 10-3. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.