Anda di halaman 1dari 38

BUDNYUS PEDIA

Suku Aceh

Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami ujung utara Sumatra. Mereka
beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka adalah bahasa Aceh yang masih
berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian
dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia.

Suku Aceh memiliki sejarah panjang tentang kegemilangan sebuah kerajaan Islam hingga
perjuangan atas penaklukan kolonial Hindia Belanda.

Banyak dari budaya Aceh yang menyerap budaya Hindu India, dimana kosakata bahasa
Aceh banyak yang berbahasa Sanskerta. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang
pertama memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh
mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan.

Sejarah

Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa. Leluhur orang
Aceh berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin, Kamboja.

Di samping itu banyak pula keturunan bangsa asing di tanah Aceh, bangsa Arab dan India
dikenal erat hubungannya pasca penyebaran agama Islam di tanah Aceh. Bangsa Arab yang
datang ke Aceh banyak yang berasal dari provinsi Hadramaut (Negeri Yaman), dibuktikan
dengan marga-marga mereka al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-Kathiri, Badjubier, Sungkar,
Bawazier dan lain lain, yang semuanya merupakan marga marga bangsa Arab asal Yaman.
Mereka datang sebagai ulama dan berdagang. Saat ini banyak dari mereka yang sudah
kawin campur dengan penduduk asli Aceh, dan menghilangkan nama marganya.

Sedangkan bangsa India kebanyakan dari Gujarat dan Tamil. Dapat dibuktikan dengan
penampilan wajah bangsa Aceh, serta variasi makanan (kari), dan juga warisan
kebudayaan Hindu Tua (nama-nama desa yang diambil dari bahasa Hindi, contoh: Indra
Puri). Keturunan India dapat ditemukan tersebar di seluruh Aceh. Karena letak geografis
yang berdekatan maka keturunan India cukup dominan di Aceh.

Pedagang pedagang Tiongkok juga pernah memiliki hubungan yang erat dengan bangsa
Aceh, dibuktikan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, yang pernah singgah dan
menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng besar, yang sekarang dikenal dengan nama
Lonceng Cakra Donya, tersimpan di Banda Aceh. Semenjak saat itu hubungan dagang

1
antara Aceh dan Tiongkok cukup mesra, dan pelaut-pelaut Tiongkok pun menjadikan Aceh
sebagai pelabuhan transit utama sebelum melanjutkan pelayarannya ke Eropa.

Selain itu juga banyak keturunan bangsa Persia (Iran/Afghan) dan Turki, mereka pernah
datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih
prajurit dan serdadu perang kerajaan Aceh, dan saat ini keturunan keturunan mereka
kebanyakan tersebar di wilayah Aceh Besar. Hingga saat ini bangsa Aceh sangat menyukai
nama-nama warisan Persia dan Turki. Bahkan sebutan Banda, dalam nama kota Banda
Aceh pun adalah warisan bangsa Persia (Bandar arti: pelabuhan).

Di samping itu ada pula keturunan bangsa Portugis, di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir
barat Aceh). Mereka adalah keturunan dari pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan
nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka (Malaysia), dan sempat
singgah dan berdagang di wilayah Lam No, dan sebagian besar di antara mereka tetap
tinggal dan menetap di Lam No. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi antara tahun 1492-
1511, pada saat itu Lam No di bawah kekuasaan kerajaan kecil Lam No, pimpinan Raja
Meureuhom Daya. Hingga saat ini masih dapat dilihat keturunan mereka yang masih
memiliki profil wajah Eropa yang masih kental.

 Kuah pliek u
Tarian
 Kuah beulangong

 Tari Seudati
Kue-kue
 Tari Rateb Meuseukat
 Tari Likok Pulo  Karaih
 Peunajoh tho
Bahasa
 Meuseukat
 Wajeb
Bahasa yang digunakan adalah bahasa
 Bada reuteuek
Aceh.
 Cingkhuy
Makanan Khas  Bu Si Itek

Masakan

 Kuah masam keu'eueng

Suku Batak

Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah terma
kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari

2
Tapanuli, Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah Karo,
Pakpak, Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola.

Sebagian besar orang Batak menganut agama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam.
Tetapi ada pula yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan
Parmalim) dan juga penganut kepercayaan animisme (disebut Pelebegu atau Parbegu),
walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.

Sejarah

Topografi dan alam Tapanuli yang subur, telah menarik orang-orang Melayu Tua (Proto
Melayu) untuk bermigrasi ke wilayah Danau Toba sekitar 4.000 - 7.000 tahun lalu. Bahasa
dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang-orang Austronesia dari Taiwan telah
berpindah ke Sumatera dan Filipina sekitar 2.500 tahun lalu, dan kemungkinan orang
Batak termasuk ke dalam rombongan ini.[2]. Selama abad ke-13, orang Batak melakukan
hubungan dengan kerajaan Pagaruyung di Minangkabau yang mana hal ini telah
menginspirasikan pengembangan aksara Batak.[3]. Pada abad ke-6, pedagang-pedagang
Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka
berdagang kamper yang diusahakan oleh petani-petani Batak di pedalaman. Produksi
kamper dari tanah Batak berkualitas cukup baik, sehingga kamper menjadi komoditi utama
pertanian orang Batak, disamping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh
Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir
Sumatera[4]. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kamper banyak dikuasai oleh
pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara.
Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal[5].

Identitas Batak

R.W Liddle menyatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatera bagian utara tidak
terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya sampai abad ke-
19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar
kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk
menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih besar.[6] Pendapat lain
mengemukakan, bahwa munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru
terjadi pada zaman kolonial.[7] Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah
"Tanah Batak" dan "rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya, Siti Omas
Manurung, seorang Toba istri dari putra pendeta Batak menyatakan, bahwa sebelum
kedatangan Belanda, semua orang baik Karo maupun Simalungun mengakui dirinya
sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok
tersebut. Sebuah mitos yang memiliki berbagai macam versi menyatakan, bahwa Pusuk

3
Bukit, salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat "kelahiran" bangsa Batak.
Selain itu mitos-mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal
dari Samosir.

Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian
disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra.
Penelitian penting tentang tradisi Karo dilakukan oleh J.H Neumann, berdasarkan sastra
lisan dan transkripsi dua naskah setempat, yaitu Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting.
Menurut Pusatak Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di
Minangkabau. Orang Tamil diperkirakan juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo.
Hal ini terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil.
Orang-orang Tamil yang menjadi pedagang di pantai barat, lari ke pedalaman Sumatera
akibat serangan pasukan Minangkabau yang datang pada abad ke-14 untuk menguasai
Barus.[8]

Penyebaran agama

Kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara yang diwarnai, memiliki mayoritas penduduk


Batak

Masuknya Islam

Dalam kunjungannya pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan bahwa masyarakat Batak
sebagai orang-orang "liar yang musyrik" dan tidak pernah terpengaruh oleh agama-agama
dari luar. Meskipun Ibn Battuta, mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan
mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam

4
sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya,
banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak.
Hal ini secara perlahan telah meningkatakan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat
Batak.[9] Pada masa Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang
tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan
Angkola. Namun penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan
masyarakat tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama Protestan.[10] Kerajaan
Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo, Pakpak, dan
Dairi.

Misionaris Kristen
Lihat pula: Sejarah masuknya Kekristenan ke suku Batak

Pada tahun 1824, dua misionaris Baptist asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward
berjalan kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak.[11] Setelah tiga hari berjalan, mereka
sampai di dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua minggu di pedalaman. Dari
penjelajahan ini, mereka melakukan observasi dan pengamatan langsung atas kehidupan
masyarakat Batak. Pada tahun 1834, kegiatan ini diikuti oleh Henry Lyman dan Samuel
Munson dari Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri.[12]

Pada tahun 1850, Dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner van der Tuuk
untuk menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak - Belanda. Hal ini bertujuan
untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman berbicara dengan
masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran pengkristenan mereka.[13].

Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dan
sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer
Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak
Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama
diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak
dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma, terjemahan ini tidak
mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.[14]

Masyarakat Toba dan Karo menyerap agama Nasrani dengan cepat, dan pada awal abad ke-
20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya[15]. Pada masa ini merupakan
periode kebangkitan kolonialisme Hindia-Belanda, dimana banyak orang Batak sudah tidak
melakukan perlawanan lagi dengan pemerintahan kolonial. Perlawanan secara gerilya yang
dilakukan oleh orang-orang Batak Toba berakhir pada tahun 1907, setelah pemimpin
kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII wafat[16].

5
Gereja HKBP

Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) telah berdiri di Balige pada bulan September
1917. Pada akhir tahun 1920-an, sebuah sekolah perawat memberikan pelatihan
perawatan kepada bidan-bidan disana. Kemudian pada tahun 1941, Gereja Batak Karo
Protestan (GBKP) didirikan[17].

Kepercayaan

Sebelum suku Batak menganut agama Kristen Protestan, mereka mempunyai sistem
kepercayaan dan religi tentang Mulajadi Nabolon yang memiliki kekuasaan di atas langit
dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.

Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak mengenal tiga konsep, yaitu:

 Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu
tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam
kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan
sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari
sombaon yang menawannya.
 Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang
memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan
sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.
 Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan
tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha. Walaupun
sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau
meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka.
Ada juga kepercayaan yang ada di Tarutung tentang ular (ulok) dengan Si Boru Natumandi
Hutabarat, dimana boru Hutabarat tidak boleh dikatakan cantik di Tarutung. Apabila
dikatakan cantik maka nyawa wanita tersebut tidak akan lama lagi, menurut kepercayaan
orang itu.

Kekerabatan

Kekerabatan adalah menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup.
Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan
(genealogi) dan berdasarkan sosilogis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada.

6
Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga
mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan
kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga
tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat
adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan
adatnya adalah Marga Harahap vs narga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi
Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh
terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.

Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok
dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosopi agar kita
senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat.
Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun
pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.

Falsafah dan sistem kemasyarakatan

Dalihan na Tolu

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam
kemasyarakatannya yakni Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan
na Tolu, yakni Hula-hula, Dongan Tubu dan Boru ditambah Sihal-sihal. Dalam Bahasa Batak
Angkola Dalihan na Tolu terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anak Boru

 Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi
yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku
Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada
Hulahula (Somba marhula-hula).

 Dongan Tubu/Kahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu
marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon
yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya
kadang-kadang saling gesek. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu
marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati
dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak
(berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga.
Diistilahkan, manat mardongan tubu.

 Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga
(keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau
pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara

7
adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan
dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk,
diistilahkan: Elek marboru.

Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan
Dalihan na Tolu adalah bersifak kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak
pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap
orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam
tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku
baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap
pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raji no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Ritual kanibalisme

Ritual kanibalisme telah terdokumentasi dengan baik di kalangan orang Batak, yang
bertujuan untuk memperkuat tondi pemakan itu. Secara khusus, darah, jantung, telapak
tangan, dan telapak kaki dianggap sebagai kaya tondi.

Dalam memoir Marco Polo yang tinggal di pantai timur Sumatera dari bulan April sampai
September 1292, ia menyebutkan pernah berjumpa dengan rakyat bukit yang ia sebut
sebagai "pemakan manusia".[18] Dari sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita
tentang ritual kanibalisme di antara masyarakat "Battas". Walau Marco Polo hanya tinggal
di wilayah pesisir, dan tidak pernah pergi langsung ke pedalaman untuk memverifikasi
cerita tersebut, namun dia bisa menceritakan ritual tersebut.

Niccolò de 'Conti (1395-1469), seorang Venesia yang menghabiskan sebagian besar tahun
1421 di Sumatra, dalam perjalanan panjangnya untuk misi perdagangan di Asia Tenggara
(1414-1439), mencatat kehidupan masyarakat. Dia menulis sebuah deskripsi singkat
tentang penduduk Batak: "Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang
terus-menerus kepada tetangga mereka ".[19][20]

Thomas Stamford Raffles pada 1820 mempelajari Batak dan ritual mereka, serta undang-
undang mengenai konsumsi daging manusia, menulis secara detail tentang pelanggaran
yang dibenarkan.[21] Raffles menyatakan bahwa: "Suatu hal yang biasa dimana orang-orang
memakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja, dan untuk kejahatan tertentu
penjahat akan dimakan hidup-hidup".. "daging dimakan mentah atau dipanggang, dengan
kapur, garam dan sedikit nasi".[22]

8
Para dokter Jerman dan ahli geografi Franz Wilhelm Junghuhn, mengunjungi tanah Batak
pada tahun 1840-1841. Junghuhn mengatakan tentang ritual kanibalisme di antara orang
Batak (yang ia sebut "Battaer"). Junghuhn menceritakan bagaimana setelah penerbangan
berbahaya dan lapar, ia tiba di sebuah desa yang ramah. Makanan yang ditawarkan oleh
tuan rumahnya adalah daging dari dua tahanan yang telah disembelih sehari
sebelumnya.[23] Namun hal ini terkadang untuk menakut-nakuti calon penjajah dan sesekali
untuk mendapatkan pekerjaan sebagai tentara bayaran bagi suku-suku pesisir yang
diganggu oleh bajak laut.[24]

Oscar von Kessel mengunjungi Silindung di tahun 1840-an, dan pada tahun 1844 mungkin
orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana suatu pezina
dihukum dan dimakan hidup. Menariknya, terdapat deskripsi paralel dari Marsden untuk
beberapa hal penting, von Kessel menyatakan bahwa kanibalisme dianggap oleh orang
Batak sebagai perbuatan hukum dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran yang sangat
sempit yakni pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, cabe merah,
dan lemon harus diberikan oleh keluarga korban sebagai tanda bahwa mereka menerima
putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.[25]

Ida Pfeiffer Laura mengunjungi Batak pada bulan Agustus 1852, dan meskipun dia tidak
mengamati kanibalisme apapun, dia diberitahu bahwa: "Tahanan perang diikat pada
sebuah pohon dan dipenggal sekaligus, tetapi darah secara hati-hati diawetkan untuk
minuman, dan kadang-kadang dibuat menjadi semacam puding dengan nasi. Tubuh
kemudian didistribusikan; telinga, hidung, dan telapak kaki adalah milik eksklusif raja,
selain klaim atas sebagian lainnya. Telapak tangan, telapak kaki, daging kepala, jantung,
serta hati, dibuat menjadi hidangan khas. Daging pada umumnya dipanggang serta
dimakan dengan garam. Para perempuan tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam
makan malam publik besar ".[26]

Pada 1890, pemerintah kolonial Belanda melarang kanibalisme di wilayah kendali


mereka.[27] Rumor kanibalisme Batak bertahan hingga awal abad ke-20, dan nampaknya
kemungkinan bahwa adat tersebut telah jarang dilakukan sejak tahun 1816. Hal ini
dikarenakan besarnya pengaruh Islam dalam masyarakat Batak.[28]

Tarombo

Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi
mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai orang Batak kesasar
(nalilu). Orang Batak khusunya kaum laki-laki diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal
nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal

9
ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu klan
atau marga.

Kontroversi

Sebagian orang Karo, Angkola, dan Mandailing tidak menyebut dirinya sebagai bagian dari
suku Batak. Wacana itu muncul disebabkan karena pada umumnya kategori "Batak"
dipandang rendah oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu, perbedaan agama juga menyebabkan
sebagian orang Tapanuli tidak ingin disebut sebagai Batak. Di pesisir timur laut Sumatera,
khususnya di Kota Medan, perpecahan ini sangat terasa. Terutama dalam hal pemilihan
pemimpin politik dan perebutan sumber-sumber ekonomi.

Konflik terbesar adalah pertentangan antara masyarakat bagian utara Tapanuli dengan
selatan Tapanuli, mengenai identitas Batak dan Mandailing. Bagian utara menuntut
identitas Batak untuk sebagain besar penduduk Tapanuli, bahkan juga wilayah-wilayah di
luarnya. Sedangkan bagian selatan menolak identitas Batak, dengan bertumpu pada unsur-
unsur budaya dan sumber-sumber dari Barat. Penolakan masyarakat Mandailing yang
tidak ingin disebut sebagai bagian dari etnis Batak, sempat mencuat ke permukaan dalam
Kasus Syarikat Tapanuli (1919-1922), Kasus Pekuburan Sungai Mati (1922),[29] dan Kasus
Pembentukan Propinsi Tapanuli (2008-2009).

Berbicara tentang adat, maka kita berbicara mengenai aturan (role), oleh sebab itu
pemahaman adat identik dengan pemahaman aturan. Di dalam sejarah kehidupan manusia,
segala aktivitas manusia tidak terlepas dari aturan, yang kita sebut norma. Pelanggaran
terhadap suatu aturan atau norma, akan mendapatkan sanksi hukum (punishment) ada
hukuman moral dan ada hukuman fisik. Di dalam aturan adat, yang paling dominan adalah
norma. Pelanggaran atau kesalahan mengikuti norma, maka pertanggungjawabannya
adalah moral. Tujuan memahami aturan/norma adat adalah untuk menghidarkan sanksi
moral didalam diri orang yang melanggarnya terutama kalau orang tersebut adalah raja
adat. Bagi orang batak, peristiwa adat yang muatan normanya sangat kompleks adalah adat
perkawinan dan adat orang meninggal. Hampir semua aspek kehidupan orang batak
berdampingan dan bahkan menyatu dengan adat. Acara-acara adat yang demikian adalah;
1. Acara bulan ke-7 kehamilan I seorang ibunya (Nujubulanan) 2. Acara Kelahiran
(Esek-esek) 3. Acara pemberian nama (baptis) 4. Acara kedewasaan (Sidi) 5. Acara
perkawinan 6. Acara kematian' 7. Acara menempati rumah baru, dll. Semua acara
tersebut di atas mempunyai aturan atau norma pelaksanaannya. Pelanggaran terhadap
norma tersebut akan berakibat sanksi moral yang datangnya dari orang yang
mendengakan dan melihat perlakuan adat yang di pandu oleh seorang yang disebut raja
adat, seperti “ndang diboto adat” dan beban moral sebagai tanggung jawab terhadap
generasi muda. Banyak hal yang harus kita jaga di dalam pelaksanaan adat pada setiap

10
acara di atas. Acara 1.- 4 biasanya dilaksanakan sendiri oleh keluarga yang bersangkutan.
Di dalam koridor adat, acara yang lain, pada umumnya harus memakai orang lain yang
semarga (dongan sabutuha/kahanggi) disebut “Raja Adat” Siapakah Yang Disebut Raja
Adat Raja Adat, adalah orang yang donobatkan oleh satu marga di dalam suatu wilayah,
yang menguasai dan memahami tatanan dan aturan pelaksanaan adat serta memiliki sifat
dan perilaku sbagai berikut: - Raja adat adalah orang yang memahami aturan/adat. - Raja
adat adalah orang yang komit dengan adat dan marga - Raja adat adalah orang yang cepat
tanggap pada situasi pembicaraan diplomasi - Raja adat adalah orang yang sabar - Raja
adat adalah orang yang bersikap, berbicara, tingkah laku sopan dan panutan - Raja adat
adalah orang yang kuat dalam pendirian, tegas dalam mengambil keputusan, tetapi tidak
otoriter.

Yang Perlu Dipahami

- Nuju bulan; Saat pertama sekali seorang ibu akan melahirkan seorang bayi pertama,
waktu umur ke-7 bulan atau lebih didalam kandungan, orang tua dari perempuan
membuat acara 7 bulanan. Disebut dalam istilah adatnya, “manaruho aek ni utte,
mambosuri, manggirdak, mangalehon ulos mula gabe, manaruhon tinaru”. Dalam acara ini,
kedatangan orangtua perempuan tidak begitu diutarakan kepada hela/mantu. Kalaupun
ditanya keberadaan mereka dirumah, hanya untuk kepastian ada tidaknya mereka dirumah
pada hari yang sudah ditentukan. Ada sebagian yang memberitahukan secara resmi dan
meminta kepada helanya agar disambut dengan acara adat juga, menyediakan tudu-tudu ni
sipanganon. Catatan: norma memberikan sipanganon tu hula-hula, kalau bukan acara
keluarga mis: masuk rumah., tardidi. dll. Harus di antar ketempat hula-hula, sedangkan
acara ini adalah acara orangtua perempuan kepada anaknya yang baru pertama kali akan
melahirkan.

- Esek-esek Acara ini adalah acara makan-makan sebagai pesta kecil-kecilan dalam bentuk
syukuran keluarga yang lahiran seorang bayi. Yang diundang makan adalah para tetangga
dan keluarga kandung yang dekat dalam arti tempat. (haroan)

- Mangalap goar/ mangampehon goar. Acara ini adalah bentuk pesta kecil-kecilan karena
anak bayi diberi nama. (bagi orang Kristen dibaptis di Gereja) Acara ini merupakan cara
memberitahukan nama si bayi supaya orang tahu memanggil namanya.

- Pabangkit hata (melamar) Adalah acara pelamaran orangtua laki kepada orangtua
perempuan dengan atas dasar, si laki sudah sepakat dengan si perempuan untuk
melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih pasti. Acara ini merupakan bagian
dari rangkaian prosesi perkawinan

11
- Hori-hori dingding Merupakan rangkaian lanjutan acara pabangkit hata. Acara ini
cenderung sebagai penjajakan linkage antara kemampuan orang tua laki dengan keinginan
orangtua perempuan, apabila hubungan tersebut dilanjutkan kepada pesta perkawinan.
Acara ini dilaksanakan secara rahasia oleh saudara prempuan orangtua laki-laki dengan
saudara perempuan orangtua perempuan. (acara imformal)

- Patua hata Acara ini merupakan lanjutan pabakkit hata dan hori-hori dingding yang
setingkat lebih tinggi kepastiannya. Acara ini menyatakan bahwa hubungan si anak dengan
siperempuan bukan hubungan terbatas antara kedua belah pihak tetapi sudah melebar
hingga kepada yang berkompeten. Pada saat sekarang acara ini sudah disatukan dengan
acara parhusipon. Kalau acara ini tersendiri didalam proses rencana perkawinan, maka
acara patua hata, sudah membawa konsep ancang-ancang waktu, marhusip, jumlah
undangan, tempat pesta, jumlah sinamot, bentuk ulaon dan sebagainya agar pada acara
marhusip semua sudah matang (all ready for go on).

- Marhusip Acara marhusip adalah acara pematangan ancang-ancang menjadi konsep ke


jenjang marhata sinamot. Didalam adat batak, dalam membicarakan sesuatu yang akan
pasti harus terbuka di antara dalihan natolu. Materi yang dibicarakan di dalam marhusip,
sama persis dengan yang dibicarakan dalam acara marhata sinamot. Keterbukaannya
adalah menjadi perbedaannya antara marhusip dengan marhata sinamot. Makanya disebut
bisik-bisik yang keras karena belum terbuka pembicaraan tersebut dengan dalihan natolu.
Bisik-bisik di dalam hal ini adalah, adanya salah satu komponen dalihan natolu yang belum
mendengar isi pembicaraan. Yaitu hula-hula kedua belah pihak. Apabila hula-hula kedua
belah pihak ikut serta dalam pembicaraan itu, maka parhusipon sudah masuk pada acara
marhata sinamot. Pinggan panukkunan sudah harus berjalan, jambar dan situak natonggi
serta piso dan upa tulang. Pada pesta unjut hanya menyelesaikan piso dan parjambaran
yang belum terlaksana. Kalau marhata sinamot sudah berjalan, maka tinggal pelaksanaan
pesta unjut. Catatan. Di sebahagian marga dan luat acara marhusip ditiadakan. Konsep
yang sudah disepakati pada acara patua hata langsung dibawa ke acara marhata sinamot
sekaligus pesta unjut.

- Todoan. Todoan adalah merupakan hak seseorang untuk menerima sejumlah uang,
barang atau ternak dari mertua seorang putrid pada waktu pernikahan. Di daerah tertentu
di Humbang Hasundutan, todoan ini sebagai permintaan khusus dari Ibu yang melahirkan
pengantin perempuan yang harus dipenuhi oleh orang tua pengantin laki-laki. Sebagai
imbalan dari todoan, orangtua dari perempuan harus memberikan “ulos” yang disebut ulos
todoan. Todoan ini hendaknya kita lestarikan sebagai Ciri Khas Adat Rambe

Bentuk Ulaon

12
1. Alap Jual. Alap jual adalah bentuk ulaon perkawinan dimana yang menyiapkan segala
sesuatu yang berkaitan dengan pesta perkawinan di kerjakan oleh keluarga perempuan
(Bolahan Amak). Pihak keluarga laki-laki tinggal datang dan membawa uang sesuai jumlah
yang telah disepakati pada saat marhusip atau patua hata. Setelah selesai pesta. Pengantin
perempuan di boyong ke rumah pengantin laki-laki.

2. Taruhon Jual Adalah bentuk pesta perkawinan di mana yang menyediakan segala
sesuatu yang berkaitan dengan pesta dilaksanakan oleh pihak pengantin laki-laki (Bolahan
Amak). Pihak pengantin perempuan datang untuk melaksanakan pesta (manaru boru) dan
akan menerima dan memberikan segala hak dan kewajiban sesuai dengan apa yang sudah
disepakati, didalan acara patua hata atau marhata sinamot. Kedatangan pihak pengantin
perempuan disambut oleh keluarga pengantin laki-laki. Sedangkan pada pesta alap jual,
keberadaan pihak pengantin perempuan sudah ditempatnya/dihalamannya maka tidak
ada lagi penyambutan terhadap pihak par boru.

3. Sulang-Sulang Pahompu/Manggarar Adat Adalah bentuk pesta adat yang


dilaksanakan suami istri, karena pada saat perkawinan mereka disebut Mangalua (Kawin
Lari). Bentuk perkawinan seperti ini sangat dihindari oleh orang Batak. Perkawinan
semacam ini adalah karena sesuatu dan lain hal terpaksa dilaksanakan. Walaupun dengan
resiko meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan. Disebut sulang-sulang pahompu
karena adat tersebut dilaksanakan setelah suami istri sudah punya anak. Disebut
manggarar adat karena perkawinan yang mereka lakukan mendahulukan lembaga
perkawinan dan membelakangkan pelaksanaan adatnya. Adat tersebut menjadi hutang
yang harus dibayar. Manggarar adat pada umumnya bentuk adat yang dilaksanakan
sebelum suami istri yang kawin lari mempunyai anak.

Suhi Ni Amppang Na Opat Suhi ni amppang na opat, sering disamaratakan dikeluarga


pengantin laki-laki dengan dikeluarga pengantin perempuan. Apasaja suhi ni amppang na
opat bagi Pihak Paranak? a. Suhut Pangamai b. Haha ni Pangoli c. Iboto ni pangoli/Sihutti
Appang d. Tulang ni pangoli / sijalo tikting marakkaup Suhi ni Appang na opat bagi pihak
par boru adalah a. Suhut Pamarai b. Simandokkon/ iboto ni namuli c. Pariban d. Sijalo upa
tulang/ Tulang ni boru muli Satu hal yang perlu kita pahami mengenai Upa Tulang dan
Tikting Marakkup. Upatulang adalah sejumlah uang dari sinamot yang diterima yang harus
diserahkan orang tua dari penganting perempuan kepada tulangnya pengantin perempuan.
Besarnya upa tulang, sesungguhnya adalah menurut perhitungan X : 2 = ½x : 3 Besarnya
hasil pembagian itulah yang diserahkan kepada tulangnya pengantin perempuan. Jaman
dahulu merupakan ke harusan. Berdasarkan itulah suhut takut untuk me-mark up sinamot
kalau hanya untuk di dengan khalayak. Tikting atau cincin marakkup Adalah besarnya

13
jumlah uang yang diambil dari sinamot yang diterima yang harus diberikan oleh orang tua
dari pengantin perempuan Kepada tulangnya pengantin laki-laki biasanya ½ dari jumlah
upa tulang. Pemberian ini ada kaitannya dengan namanya Tikting atau tittin marakkup.
Bagi sebagian daerah disebut Tikting Marakkup, adalah pemberitahuan (Tikting = Warta)
kepada tulang dari hela bahwa berenya sudah menjadi hela, sama artinya dengan bere.
Sehingga mulai pada saat itu kedudukan mereka terhadap marga helanya adalah sama.
(Hot pe jabu I, hot do I margulang-gulang. Tudia pe berei mangalap boru, hot do I boru ni
tulang). Di lain daerah mengatakan “Tittin Marakkup” tittin (cincin) adalah pertanda antara
dua pihak yang sama menggunakan cincin, bahwa mreka berdua sama kedudukannya
terhadap keluarga pengantin laki-laki. Cincing yang dimaksud adalah sejumlah uang yang
diberikan kepada tulangnya pengantin laki-laki. Pinggan Panukkunan Bagi orang batak
mengatakan “Sai marmula do nauli, sai marmula do nadenggan”. Sebagai kepastian hukum
bagi Raja Raja Adat, Natua-tua dan Khalayak, maka untuk memulai suatu pembicaraan
resmi dikatakan, “Hesek mulani gondang, serser mula ni tortor, sise mulani hata” Setelah
selesai makan, untuk memulai pembicaraan, maka pihak pengantin perempuan menanya
keberadaan pinggan panukkunan sebagai kepastian hukum yang akan dibicarakan. Pinggan
panukkunan adalah sebuah piring berisi beras secukupnya, daun sirih 5 atau 7 lembar,
uang empat lembar dan dulu, selalu disertakan sepotong daging (Tanggo-tanggo). Piring
(wadah), beras (kemakmuran), Daun sirih (kesegaran dan kesehatan prima), Uang (suka
cita) dan daging masing-masing mempunyai makna dalam pembicaraan resmi pada adat
perkawinan. Sebagai pendahuluan menghantarkan pembicaraan raja adat, isi pengantar
tersebut harus berkaitan dengan semua isi dari pinggan panukkunan. Selanjutnya
pembicaraan memasuki inti dari pesta adat. (Skenario Tanya jawab dalam marhata
sinamot pada pesta unjut akan dipelajari dan menjadi inti pertemuan kita) Tikkir
Tangga/Paulak Une Acara ini sebetulnya adalah acara yang sangat pribadi bagi kedua belah
pihak dan dahulu acara ini sangat sensitive bagi pihak luar terutama paulak une. Itulah
sebabnya acara ini dilaksanakan oleh yang bersangkutan (pengantin) dan orangtua
pengantin laki-laki. Kalau kita lihat pelaksanaannya, acara tikkir tangga dilaksanakan
parboru kerumah paranak sebelum acara patua hata. Tujuannya adalah untuk mengetahui
siapakah calon helanya di antara 7anak didalam keluarga nya? Bagi orang batak ada: anak
hasudungan, anak bunga-bunga, anak na niain, anak na sinuanhon, anak pisang, anak
gappang, anak hatoban. Kalau kedudukan calon helanya diantara 7 macam anak bagi orang
batak tidak disukai oleg pihak par boru, maka hubungan pertunangan dapat dibatalkan
tanpa ada yang dipermalukan. Acara Paulak Une dilaksanakan minimal seminggu sesudah
resmi menjadi suami istri. Tujuannya adalah memberitahukan secara tidak langsung
bahwa istrinya adalah boru ni raja dan une atau tidak (perawan atau tidak).
Konsekuensinya apabila si istri bukan gadis lagi, pertanda bagi orang tua perempuan,
anaknya ditinggalkan dirumah orangtuanya. Pihak parboru harus rela anaknya kembali
kerumahnya, walaupun itu menjadi aib* ) Berdasarkan keterangan di atas bahwa
sesunggunya pesta perkawinan adat batak tidak mengenal istilah ulaon sadari. Kalau toh

14
harus diadakan maka Tikkir Tangga dan Paulak Une diserahkan kepada kedua belah pihak
untuk melaksanakannya kemudian.

Suku Minangkabau

Minangkabau atau Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan
menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera
Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan
Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia[3]. Dalam
percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk
kepada nama ibukota propinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang.

Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu
yang tumbuh dan besar karena sistem monarki[4] serta menganut sistem adat yang khas,
yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal[5],
walaupun budayanya juga sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam. Saat ini masyarakat
Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia[6][7]. Selain itu, etnik
ini juga telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan adanya
kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum. Prinsip adat
Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syara', syara' basandi
Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur'an) yang berarti adat
berlandaskan ajaran Islam[8].

Orang Minangkabau sangat menonjol dibidang perniagaan, sebagai profesional dan


intelektual. Mereka merupakan pewaris terhormat dari tradisi tua Kerajaan Melayu dan
Sriwijaya yang gemar berdagang dan dinamis.[9] Hampir separuh jumlah keseluruhan
anggota masyarakat ini berada dalam perantauan. Minang perantauan pada umumnya
bermukim di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, Batam,
Palembang, dan Surabaya. Di luar wilayah Indonesia, etnis Minang banyak terdapat di
Negeri Sembilan, Malaysia dan Singapura.

Masyarakat Minang memiliki masakan khas yang populer dengan sebutan masakan
Padang, dan sangat digemari di Indonesia bahkan sampai mancanegara

15
Etimologi

Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan
suatu legenda khas Minang yang dikenal didalam tambo. Dari tambo tersebut, konon pada
suatu masa ada satu kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari
laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat
mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan
menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat
menyediakan seekor anak kerbau yang lapar dengan diberikan pisau pada tanduknya.
Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah
induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga
mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan
masyarakat setempat memakai nama Minangkabau[11], yang berasal dari ucapan 'Manang
kabau' (artinya menang kerbau). Nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut
sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di kecamatan Sungayang,
kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.

Dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit, Nagarakretagama[12] bertarikh 1365 M, juga


telah ada menyebutkan nama Minangkabwa sebagai salah satu dari negeri Melayu yang
ditaklukannya.

Sedangkan nama "Minang" (kerajaan Minanga) itu sendiri juga telah disebutkan dalam
Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 682 Masehi dan berbahasa Sansekerta. Dalam
prasasti itu dinyatakan bahwa pendiri kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang
bertolak dari "Minānga" ...[13]. Beberapa ahli yang merujuk dari sumber prasasti itu
menduga, kata baris ke-4 (...minānga) dan ke-5 (tāmvan....) sebenarnya tergabung, sehingga
menjadi mināngatāmvan dan diterjemahkan dengan makna sungai kembar. Sungai
kembar yang dimaksud diduga menunjuk kepada pertemuan (temu) dua sumber aliran
Sungai Kampar, yaitu Sungai Kampar Kiri dan Sungai Kampar Kanan[14]. Namun pendapat
ini dibantah oleh Casparis, yang membuktikan bahwa "tāmvan" tidak ada hubungannya
dengan "temu", karena kata temu dan muara juga dijumpai pada prasasti-prasasti
peninggalan zaman Sriwijaya yang lainnya[15]. Oleh karena itu kata Minanga berdiri sendiri
dan identik dengan penyebutan Minang itu sendiri.

Masyarakat Minang merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda)
yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Sumatera sekitar 2.500-2.000
tahun yang lalu. Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah timur pulau
Sumatera, menyusuri aliran sungai Kampar sampai ke dataran tinggi yang disebut darek
dan menjadi kampung halaman orang Minangkabau[16]. Beberapa kawasan darek ini
kemudian membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan nama luhak, yang

16
selanjutnya disebut juga dengan nama Luhak nan Tigo, yang terdiri dari Luhak Limo Puluah,
Luhak Agam, dan Luhak Tanah Datar[5]. Kemudian seiring dengan pertumbuhan dan
perkembangan penduduk, masyarakat Minangkabau terus menyebar ke kawasan darek
yang lain serta membentuk beberapa kawasan tertentu menjadi kawasan rantau.

Dari tambo yang diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyang
mereka berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun
secara sistematis dan lebih kepada legenda berbanding fakta serta cendrung kepada
sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak.[4]

Adat dan budaya


Sebuah pertunjukan randai

Adat dan budaya Minangkabau bercorakkan keibuan (matrilineal), dimana pihak


perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Menurut tambo,
sistem adat Minangkabau pertama kali dicetuskan oleh dua orang bersaudara, Datuk
Perpatih Nan Sebatang dan Datuk Ketumanggungan. Datuk Perpatih mewariskan sistem
adat Bodi Caniago yang demokratis, sedangkan Datuk Ketumanggungan mewariskan
sistem adat Koto Piliang yang aristokratis. Dalam perjalanannya, dua sistem adat yang
dikenal dengan kelarasan ini saling isi mengisi dan membentuk sistem masyarakat
Minangkabau.

Dalam masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar yang membangun dan menjaga keutuhan
budaya serta adat istiadat. Mereka adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak,
yang dikenal dengan istilah Tali nan Tigo Sapilin. Ketiganya saling melengkapi dan bahu
membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat Minangkabau yang
demokratis dan egaliter, semua urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu
secara mufakat[17].

Bahasa

Bahasa Minangkabau merupakan salah satu anak cabang bahasa Austronesia. Walaupun
ada perbedaan pendapat mengenai hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu,
ada yang menganggap bahasa yang dituturkan masyarakat ini sebagai bagian dari dialek
Melayu, karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya, sementara
yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan
Melayu serta ada juga yang menyebut bahasa Minangkabau merupakan bahasa proto-
Melayu.[18][19]

Selain itu dalam masyarakat penutur bahasa Minang itu sendiri juga sudah terdapat
berbagai macam dialek bergantung kepada daerahnya masing-masing.[20][21]

17
Kesenian

Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam atraksi dan kesenian, seperti tari-
tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan. Diantara tari-tarian
tersebut misalnya tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai
ucapan selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru
saja sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para
penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi
dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dan saluang.

Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini yang
sudah berkembang sejak lama. Selain itu, adapula tarian yang bercampur dengan silek yang
disebut dengan randai. Randai biasa diiringi dengan nyanyian atau disebut juga dengan
sijobang[22], dalam randai ini juga terdapat seni peran (acting) berdasarkan skenario[23].

Di samping itu, Minangkabau juga menonjol dalam seni berkata-kata. Ada tiga genre seni
berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang. Seni berkata-
kata atau bersilat lidah, lebih mengedepankan kata sindiran, kiasan, ibarat, alegori,
metafora, dan aphorisme. Dalam seni berkata-kata seseorang diajarkan untuk
mempertahankan kehormatan dan harga diri, tanpa menggunakan senjata dan kontak
fisik.[24].

Rumah Gadang

Rumah adat

Rumah adat Minangkabau disebut dengan Rumah Gadang, yang biasanya dibangun di atas
sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku tersebut secara turun temurun[25]. Rumah
Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian muka dan
belakang.[26] Umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti bentuk rumah

18
panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau yang biasa disebut
gonjong[27] dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap seng.

Namun hanya kaum perempuan dan suaminya, beserta anak-anak yang jadi penghuni
rumah gadang. Sedangkan laki-laki kaum tersebut yang sudah beristri, menetap di rumah
istrinya. Jika laki-laki anggota kaum belum menikah, biasanya tidur di surau.

Surau biasanya dibangun tidak jauh dari komplek rumah gadang tersebut, selain berfungsi
sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai tempat tinggal lelaki dewasa namun belum
menikah.

Pakaian perempuan Minang dalam pesta adat atau perkawinan

Perkawinan

Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting
dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam
membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut keturunan. Bagi lelaki Minang,
perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru, yakni pihak keluarga
istrinya. Sedangkan bagi keluarga pihak istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan
anggota di komunitas rumah gadang mereka.

Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai beberapa
tahapan yang umum dilakukan. Dimulai dengan maminang (meminang), manjapuik
marapulai (menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di pelaminan).
Setelah maminang dan muncul kesepakatan manantuan hari (menentukan hari
pernikahan), maka kemudian dilanjutkan dengan pernikahan secara Islam yang biasa
dilakukan di Mesjid, sebelum kedua pengantin bersanding di pelaminan. Pada nagari
tertentu setelah ijab kabul di depan penghulu atau tuan kadi, mempelai pria akan diberikan
gelar baru sebagai panggilan penganti nama kecilnya.[28] Kemudian masyarakat sekitar
akan memanggilnya dengan gelar baru tersebut. Gelar panggilan tersebut biasanya
bermulai dari sutan, bagindo atau sidi di kawasan pesisir pantai. Sedangkan di kawasan
luhak limo puluah, pemberian gelar ini tidak berlaku.

19
Sosial kemasyarakatan

Persukuan

Suku dalam tatanan Masyarakat Minangkabau merupakan basis dari organisasi sosial,
sekaligus tempat pertarungan kekuasaan yang fundamental. Pengertian awal kata suku
dalam Bahasa Minang dapat bermaksud satu per-empat, sehingga jika dikaitkan dengan
pendirian suatu nagari di Minangkabau, dapat dikatakan sempurna apabila telah terdiri
dari komposisi empat suku yang mendiami kawasan tersebut. Selanjutnya, setiap suku
dalam tradisi Minang, diurut dari garis keturunan yang sama dari pihak ibu, dan diyakini
berasal dari satu keturunan nenek moyang yang sama[5].

Selain sebagai basis politik, suku juga merupakan basis dari unit-unit ekonomi. Kekayaan
ditentukan oleh kepemilikan tanah keluarga, harta, dan sumber-sumber pemasukan
lainnya yang semuanya itu dikenal sebagai harta pusaka. Harta pusaka merupakan harta
milik bersama dari seluruh anggota kaum-keluarga. Harta pusaka tidak dapat
diperjualbelikan dan tidak dapat menjadi milik pribadi. Harta pusaka semacam dana
jaminan bersama untuk melindungi anggota kaum-keluarga dari kemiskinan. Jika ada
anggota keluarga yang mengalami kesulitan atau tertimpa musibah, maka harta pusaka
dapat digadaikan.

Suku terbagi-bagi ke dalam beberapa cabang keluarga yang lebih kecil atau disebut
payuang (payung). Adapun unit yang paling kecil setelah sapayuang disebut saparuik.
Sebuah paruik (perut) biasanya tinggal pada sebuah rumah gadang secara bersama-
sama[29]

Nagari

Daerah Minangkabau terdiri atas banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah otonom
dengan kekuasaan tertinggi di Minangkabau. Tidak ada kekuasaan sosial dan politik
lainnya yang dapat mencampuri adat di sebuah nagari. Nagari yang berbeda akan mungkin
sekali mempunyai tipikal adat yang berbeda. Tiap nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang
terdiri dari pemimpin suku dari semua suku yang ada di nagari tersebut. Dewan ini disebut
dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN). Dari hasil musyawarah dan mufakat dalam dewan
inilah sebuah keputusan dan peraturan yang mengikat untuk nagari itu dihasilkan.

Faktor utama yang menentukan dinamika masyarakat Minangkabau adalah terdapatnya


kompetisi yang konstan antar nagari, kaum-keluarga, dan individu untuk mendapatkan
status dan prestise.[30] Oleh karenanya setiap kepala kaum akan berlomba-lomba
meningkatkan prestise kaum-keluarganya dengan mencari kekayaan (berdagang) serta
menyekolahkan anggota kaum ke tingkat yang paling tinggi.

20
Dalam pembentukan suatu nagari sejak dahulunya telah dikenal dalam istilah pepatah yang
ada pada masyarakat adat Minang itu sendiri yaitu Dari Taratak manjadi Dusun, dari Dusun
manjadi Koto, dari Koto manjadi Nagari, Nagari ba Panghulu. Jadi dalam sistem
administrasi pemerintahan di kawasan Minang dimulai dari struktur terendah disebut
dengan Taratak, kemudian berkembang menjadi Dusun, kemudian berkembang menjadi
Koto dan kemudian berkembang menjadi Nagari. Biasanya setiap nagari yang dibentuk
minimal telah terdiri dari 4 suku yang mendomisili kawasan tersebut[5].

Penghulu

Penghulu atau biasa yang digelari dengan datuk, merupakan kepala kaum-keluarga yang
diangkat oleh anggota keluarga untuk mengatur semua permasalahan kaum. Penghulu
biasanya seorang laki-laki yang terpilih diantara anggota kaum laki-laki lainnya. Setiap
kaum-keluarga akan memilih seorang laki-laki yang pandai berbicara, bijaksana, dan
memahami adat, untuk menduduki posisi ini. Hal ini dikarenakan ia bertanggung jawab
mengurusi semua harta pusaka kaum, membimbing kemenakan, serta sebagai wakil kaum
dalam masyarakat nagari. Setiap penghulu berdiri sejajar dengan penghulu lainnya,
sehingga dalam rapat-rapat nagari semua suara penghulu yang mewakili setiap kaum
bernilai sama.

Seiring dengan bertambahnya anggota kaum, serta permasalahan dan konflik intern yang
timbul, maka kadang-kadang dalam sebuah keluarga posisi kepenghuluan ini dipecah
menjadi dua. Atau sebaliknya, anggota kaum yang semakin sedikit jumlahnya, cenderung
akan menggabungkan gelar kepenghuluannya kepada keluarga lainnya yang sesuku.[31] Hal
ini mengakibatkan berubah-ubahnya jumlah penghulu dalam suatu nagari.

Memiliki penghulu yang mewakili suara kaum dalam rapat nagari, merupakan suatu
prestise dan harga diri. Sehingga setiap kaum akan berusaha sekuatnya memiliki penghulu
sendiri. Kaum-keluarga yang gelar kepenghuluannya sudah lama terlipat, akan berusaha
membangkitkan kembali posisinya dengan mencari kekayaan untuk "membeli" gelar
penghulunya yang telah lama terbenam. Bertegak penghulu memakan biaya cukup besar,
sehingga tekanan untuk menegakkan penghulu selalu muncul dari keluarga kaya.[32]

21
Istano Pagaruyung sebuah legitimasi institusi kerajaan pada suku Minangkabau

Kerajaan

Dalam laporan de Stuers[33] kepada pemerintah Hindia-Belanda, dinyatakan bahwa di


daerah pedalaman Minangkabau, tidak pernah ada suatu kekuasaan pemerintahan
terpusat dibawah seorang raja. Tetapi yang ada adalah nagari-nagari kecil yang mirip
dengan pemerintahan polis-polis pada masa Yunani kuno. [34] Namun dari beberapa
prasasti yang ditemukan pada kawasan pedalaman Minangkabau, serta dari tambo yang
ada pada masyarakat setempat, etnis Minangkabau pernah berada dalam suatu sistem
kerajaan yang kuat dengan daerah kekuasaan meliputi pulau Sumatra dan bahkan sampai
semenanjung Malaya. Beberapa kerajaaan yang ada di wilayah Minangkabau antara lain
Kerajaan Dharmasraya, Kerajaan Pagaruyung, dan Kerajaan Inderapura.

Minangkabau perantauan

Minangkabau perantauan merupakan istilah untuk orang Minang yang hidup di luar
provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Merantau merupakan proses interaksi masyarakat
Minangkabau dengan dunia luar. Kegiatan ini merupakan sebuah petualangan pengalaman
dan geografis, dengan meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri
orang. Keluarga yang telah lama memiliki tradisi merantau, biasanya mempunyai saudara
di hampir semua kota utama di Indonesia dan Malaysia. Keluarga yang paling kuat dalam
mengembangkan tradisi merantau biasanya datang dari keluarga pedagang-pengrajin dan
penuntut ilmu agama.[35]

Para perantau biasanya telah pergi merantau sejak usia belasan tahun, baik sebagai
pedagang ataupun penuntut ilmu. Bagi sebagian besar masyarakat Minangkabau, merantau
merupakan sebuah cara yang ideal untuk mencapai kematangan dan kesuksesan. Dengan
merantau tidak hanya harta kekayaan dan ilmu pengetahuan yang didapat, namun juga
prestise dan kehormatan individu di tengah-tengah lingkungan adat.

Dari pencarian yang diperoleh, para perantau biasanya mengirimkan sebagian hasilnya ke
kampung halaman untuk kemudian diinvestasikan dalam usaha keluarga, yakni dengan
memperluas kepemilikan sawah, memegang kendali pengolahan lahan, atau menjemput
sawah-sawah yang tergadai. Uang dari para perantau biasanya juga dipergunakan untuk
memperbaiki sarana-sarana nagari, seperti mesjid, jalan, ataupun pematang sawah.

22
Jumlah perantau

Etos merantau orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di


Indonesia. Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mochtar Naim, pada tahun 1961
terdapat sekitar 32 % orang Minang yang berdomisili di luar Sumatera Barat. Kemudian
pada tahun 1971 jumlah itu meningkat menjadi 44 %[36]. Berdasarkan sensus tahun 2000,
etnis Minang yang tinggal di Sumatera Barat berjumlah 3,7 juta jiwa, dengan perkiraan
hampir sepertiga orang Minang berada di perantauan.[1]. Mobilitas migrasi orang
Minangkabau dengan proporsi besar terjadi dalam rentang antara tahun 1958 sampai
tahun 1978, dimana lebih 80 % perantau yang tinggal di kawasan rantau telah
meninggalkan kampung halamannya setelah masa kolonial Belanda[37]. Melihat data
tersebut, maka terdapat perubahan cukup besar pada etos merantau orang Minangkabau
dibanding suku lainnya di Indonesia. Sebab menurut sensus tahun 1930, perantau
Minangkabau hanya sebesar 10,5 % dibawah orang Bawean (35,9 %), Batak (14,3 %), dan
Banjar (14,2 %).

Namun tidak terdapat angka pasti mengenai jumlah orang Minang di perantauan. Angka-
angka yang ditampilkan dalam perhitungan, biasanya hanya memasukkan para perantau
kelahiran Sumatera Barat. Namun belum mencakup keturunan-keturunan Minang yang
telah beberapa generasi menetap di perantauan.

Gelombang rantau

Merantau pada etnis Minang telah berlangsung cukup lama. Sejarah mencatat migrasi
pertama terjadi pada abad ke-7, dimana banyak pedagang-pedagang emas yang berasal
dari pedalaman Minangkabau melakukan perdagangan di muara Jambi, dan terlibat dalam
pembentukan Kerajaan Malayu.[38] Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke-14, dimana
banyak keluarga Minang yang berpindah ke pesisir timur Sumatera. Mereka mendirikan
koloni-koloni dagang di Batubara, Pelalawan, hingga melintasi selat ke Penang dan Negeri
Sembilan, Malaysia. Bersamaan dengan gelombang migrasi ke arah timur, juga terjadi
perpindahan masyarakat Minang ke pesisir barat Sumatera. Di sepanjang pesisir ini
perantau Minang banyak bermukim di Meulaboh, Aceh tempat keturunan Minang dikenal
dengan sebutan Aneuk Jamee, Barus, hingga Bengkulu.[39] Setelah Kesultanan Malaka jatuh
ke tangan Portugis pada tahun 1511, banyak keluarga Minangkabau yang berpindah ke
Sulawesi Selatan. Mereka menjadi pendukung kerajaan Gowa, sebagai pedagang dan
administratur kerajaan. Datuk Makotta bersama istrinya Tuan Sitti, sebagai cikal bakal
keluarga Minangkabau di Sulawesi.[40] Gelombang migrasi berikutnya terjadi pada abad ke-
18, yaitu ketika Minangkabau mendapatkan hak istimewa untuk mendiami kawasan
Kerajaan Siak.

23
Pada masa penjajahan Hindia-Belanda, migrasi besar-besaran kembali terjadi pada tahun
1920, ketika perkebunan tembakau di Deli Serdang, Sumatera Timur mulai dibuka. Pada
masa kemerdekaan, Minang perantauan banyak mendiami kota-kota besar di Jawa, pada
tahun 1961 jumlah perantau Minang terutama di kota Jakarta meningkat 18,7 kali
dibandingkan dengan tingkat pertambahan penduduk kota itu yang hanya 3,7 kali [41], dan
pada tahun 1971 etnis ini diperkirakan telah berjumlah sekitar 10 % dari jumlah penduduk
Jakarta waktu itu[42]. Kini Minang perantauan hampir tersebar di seluruh dunia.

Perantauan intelektual

Pada akhir abad ke-18, banyak pelajar Minang yang merantau ke Mekkah untuk mendalami
agama Islam, diantaranya Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Setibanya di tanah
air, mereka menjadi penyokong kuat gerakan Paderi dan menyebarluaskan pemikiran
Islam yang murni di seluruh Minangkabau dan Mandailing. Gelombang kedua perantauan
ke Timur Tengah terjadi pada awal abad ke-20, yang dimotori oleh Abdul Karim Amrullah,
Tahir Jalaluddin, Muhammad Jamil Jambek, dan Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Selain ke Timur Tengah, pelajar Minangkabau juga banyak yang merantau ke Eropa.
Mereka antara lain Abdoel Rivai, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Roestam Effendi, dan
Nazir Pamuntjak. Intelektual lain, Tan Malaka, hidup mengembara di delapan negara Eropa
dan Asia, membangun jaringan pergerakan kemerdekaan Asia. Semua pelajar Minang
tersebut, yang merantau ke Eropa sejak akhir abad ke-19, menjadi pejuang kemerdekaan
dan pendiri Republik Indonesia.[43]

Sebab merantau

Faktor budaya

Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini, salah satu penyebabnya ialah sistem
kekerabatan matrilineal. Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum
perempuan sedangkan hak kaum pria dalam hal ini cukup kecil. Selain itu, setelah masa akil
baligh para pemuda tidak lagi dapat tidur di rumah orang tuanya, karena rumah hanya
diperuntukkan untuk kaum perempuan beserta suaminya, dan anak-anak.

Para perantau yang pulang ke kampung halaman, biasanya akan menceritakan pengalaman
merantau kepada anak-anak kampung. Daya tarik kehidupan para perantau inilah yang
sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Minangkabau sedari kecil. Siapa pun yang
tidak pernah mencoba pergi merantau, maka ia akan selalu diperolok-olok oleh teman-
temannya.[31] Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau.
Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut
suami, tapi juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.

24
Menurut Rudolf Mrazek, sosiolog Belanda, dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme
dan anti-parokialisme melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan
luas, hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat
Minangkabau.[44] Semangat untuk merubah nasib dengan mengejar ilmu dan kekayaan,
serta pepatah Minang yang mengatakan Karatau madang dahulu, babuah babungo alun,
marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena
dikampung belum berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari
muda.

Faktor ekonomi

Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya
sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber
utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam
yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi memberi hasil untuk memenuhi
kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga. Selain itu adalah
tumbuhnya kesempatan baru dengan dibukanya daerah perkebunan dan pertambangan.
Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu
nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamanya ke tanah rantau, biasanya para
perantau menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk
semang. Para perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pedagang kecil.

Selain itu, perekonomian masyarakat Minangkabau sejak dahulunya telah ditopang oleh
kemampuan berdagang, terutama untuk mendistribusikan hasil bumi mereka. Kawasan
pedalaman Minangkabau, secara geologis memiliki cadangan bahan baku terutama emas,
tembaga, timah, seng, merkuri, dan besi, semua bahan tersebut telah mampu diolah oleh
mereka.[45] Sehingga julukan suvarnadvipa (pulau emas) yang muncul pada cerita legenda
di India sebelum Masehi, kemungkinan dirujuk untuk pulau Sumatera karena hal ini. [46]
Pedagang dari Arab pada abad ke-9, telah melaporkan bahwa masyarakat di pulau
Sumatera telah menggunakan sejumlah emas dalam perdagangannya. Kemudian
dilanjutkan pada abad ke-13 diketahui ada raja di Sumatera yang menggunakan mahkota
dari emas. Tomé Pires sekitar abad ke-16 menyebutkan, bahwa emas yang
diperdagangangkan di Malaka, Panchur (Barus), Tico (Tiku) dan Priaman (Pariaman),
berasal dari kawasan pedalaman Minangkabau. Disebutkan juga kawasan Indragiri pada
sehiliran Batang Kuantan di pesisir timur Sumatera, merupakan pusat pelabuhan dari raja
Minangkabau.[47] Dalam prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman disebut bahwa dia
adalah penguasa bumi emas. Hal inilah menjadi salah satu penyebab, mendorong Belanda
membangun pelabuhan di Padang[48] dan sampai pada abad ke-17 Belanda masih
menyebut yang menguasai emas kepada raja Pagaruyung.[49] Kemudian meminta Thomas
Diaz untuk menyelidiki hal tersebut, dari laporannya dia memasuki pedalaman

25
Minangkabau dari pesisir timur Sumatera dan dia berhasil menjumpai salah seorang raja
Minangkabau waktu itu (Rajo Buo), dan raja itu menyebutkan bahwa salah satu pekerjaan
masyarakatnya adalah pendulang emas.[50] Sementara itu dari catatan para geologi
Belanda, pada sehiliran Batanghari dijumpai 42 tempat bekas penambangan emas dengan
kedalaman mencapai 60 m serta di Kerinci waktu itu, mereka masih menjumpai para
pendulang emas.[51] Sampai abad ke-19, legenda akan kandungan emas pedalaman
Minangkabau, masih mendorong Raffles untuk membuktikannya, sehingga dia tercatat
sebagai orang Eropa pertama yang berhasil mencapai Pagaruyung melalui pesisir barat
Sumatera.[52]

Faktor perang

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Padri dan Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia

Beberapa peperangan juga menimbulkan gelombang perpindahan masyarakat


Minangkabau terutama dari daerah konflik, setelah perang Padri,[53] muncul
pemberontakan di Batipuh menentang tanam paksa Belanda, disusul pemberontakan Siti
Manggopoh menentang Belasting dan pemberontakan komunis tahun 1926-1927.[54]
Setelah kemerdekaan muncul PRRI yang juga menyebabkan timbulnya eksodus besar-
besaran masyarakat Minangkabau ke daerah lain.[42] Dari beberapa perlawanan dan
peperangan ini, memperlihatkan karakter masyarakat Minang yang tidak menyukai
penindasan. Mereka akan melakukan perlawanan dengan kekuatan fisik, namun jika tidak
mampu mereka lebih memilih pergi meninggalkan kampung halaman (merantau). Orang
Sakai berdasarkan cerita turun temurun dari para tetuanya menyebutkan bahwa mereka
berasal dari Pagaruyung.[55] Orang Kubu menyebut bahwa orang dari Pagaruyung adalah
saudara mereka. Kemungkinan masyarakat terasing ini termasuk masyarakat Minang yang
melakukan resistansi dengan meninggalkan kampung halaman mereka karena tidak mau
menerima perubahan yang terjadi di negeri mereka. De Stuers sebelumnya juga
melaporkan bahwa masyarakat Padangsche Bovenlanden sangat berbeda dengan
masyarakat di Jawa, di Pagaruyung ia menyaksikan masyarakat setempat begitu percaya
diri dan tidak minder dengan orang Eropa. Ia merasakan sendiri, penduduk lokal lalu lalang
begitu saja dihadapannya tanpa ia mendapatkan perlakuan istimewa, malah ada penduduk
lokal meminta rokoknya, serta meminta ia menyulutkan api untuk rokok tersebut.[33]

Merantau dalam sastra

Fenomena merantau dalam masyarakat Minangkabau, ternyata sering menjadi sumber


inspirasi bagi para pekerja seni, terutama sastrawan. Hamka, dalam novelnya Merantau ke
Deli, bercerita tentang pengalaman hidup perantau Minang yang pergi ke Deli dan menikah

26
dengan perempuan Jawa. Novelnya yang lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga
bercerita tentang kisah anak perantau Minang yang pulang kampung. Di kampung, ia
menghadapi kendala oleh masyarakat adat Minang yang merupakan induk bakonya sendiri.

Suku Sunda

Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia,
yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat. Suku Sunda merupakan etnis
kedua terbesar di Indonesia, setelah etnis Jawa. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk
Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam. Namun dalam
kehidupan sehari-hari, masih banyak masyarakat yang mempercayai kekuatan-kekuatan
supranatural, yang berasal dari kebudayaan animisme dan Hindu.

Dalam urusan-urusan nasional, tidak banyak peran penting yang dimainkan oleh etnis
Sunda. Walaupun peristiwa-peristiwa penting sering terjadi di Jawa Barat, namun sedikit
sekali dari peristiwa tersebut yang diperankan oleh orang-orang Sunda. Dalam kancah
kehidupan berbangsa dan bernegara, hanya sedikit orang Sunda yang menjadi pemimpin
politik, sastrawan, dan pengusaha. Prestasi yang cukup membanggakan adalah banyaknya
penyanyi dan artis dari etnis Sunda, yang berkiprah di tingkat nasional.

Etimologi

Sunda berasal dari kata Su yang berarti segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan.
Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan
menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur
(baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan
oleh masyarakat yang bermukim di Jawa bagian barat sejak jaman Kerajaan Salakanagara.

Nama Sunda mulai digunakan oleh raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut
ibukota Kerajaan Tarumanagara yang didirikannya. Untuk mengembalikan pamor
Tarumanagara yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa
Tarumanagara yang ke-13, mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.
Kemudian peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan
negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan
perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan raja Galuh. Akhirnya kawasan
Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh
dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.

27
Peta linguistik Jawa Barat

Bahasa

Dalam percakapan sehari-hari, etnis Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Namun
kini telah banyak masyarakat Sunda terutama yang tinggal di perkotaan tidak lagi
menggunakan bahasa tersebut dalam bertutur kata.[3] Seperti yang terjadi di pusat-pusat
keramaian kota Bandung dan Bogor, dimana banyak masyarakat yang tidak lagi
menggunakan bahasa Sunda.

Ada beberapa dialek dalam bahasa Sunda, antara lain dialek Sunda-Banten, dialek Sunda-
Bogor, dialek Sunda-Priangan, dialek Sunda-Jawa, dan beberapa dialek lainnya yang telah
bercampur baur dengan bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Karena pengaruh budaya Jawa
pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, bahasa Sunda - terutama dialek Sunda
Priangan - mengenal beberapa tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa
loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun di wilayah-wilayah pedesaan dan mayoritas
daerah Banten, bahasa Sunda loma tetap dominan.

Profesi

Mayoritas masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani, penambang pasir, dan berladang.[4]
Sampai abad ke-19, banyak dari masyarakat Sunda yang berladang secara berpindah-
pindah. Di wilayah perkotaan, banyak orang Sunda yang berprofesi sebagai buruh pabrik,
pegawai negeri, dan pembantu rumah tangga. Profesi pedagang keliling banyak pula
dilakoni oleh masyarakat Sunda, terutama asal Tasikmalaya dan Garut. Mereka banyak
menjual aneka perabotan rumah tangga.

28
Pernikahan adat Sunda saat ini lebih disederhanakan, sebagai akibat percampuran
dengan ketentuan syariat Islam dan nilai-nilai "keparaktisan" dimana "sang penganten"
ingin lebih sederhana dan tidak bertele-tele.

Adat yang biasanya dilakukan meliputi : acara pengajian, siraman (sehari sebelumnya,
acara "seren sumeren" calon pengantin. Kemudian acara sungkeman, "nincak endog
(nginjak telor), "meuleum harupat"( membakar lidi tujuh buah), "meupeuskeun kendi"
(memecahkan kendi, sawer dan "ngaleupaskeun "kanjut kunang (melepaskan pundi-pundi
yang berisi uang logam).

Acara "pengajian" yang dikaitkan dan menjelang pernikahan tidak dicontohkan oleh Nabi
Saw. namun ada beberapa kalangan yang menyatakan bahwa hal itu suatu kebaikan
dengan tujuan mendapatkan keberkahan dan ridho Allah Swt yaitu melalui penyampaian
"do'a".

Siraman, merupakan simbol kesangan orang tua terhadap anaknya sebagaimana dulu
"anaknya ketika kecil" dimandikan kedua orang tuanya. Pada siraman itu, kedua orang tua
menyiramkan air "berbau tujuh macam kembang" kepada tubuh anaknya. Konon acara
siraman itu dilakukan pula terhadap calon penganten lelaki di rumahnya masing-masing.
Syaerat islam tidak mengajarkan seperti itu tapi juga tidak ada larangannya. Asalkan pada
acara siraman itu, si calong penganten perempuan tidak menampakan aurat (sesuai
ketentuan agama Islam).

Untuk acara sungkeman yang dilakukan setelah "acara akad nikah" dilakukan oleh kedua
mempelai kepada kedua orang tuanya masing-masing dengan tujuan mohon do'a restu atas
akan memulainya kehidupan "bahtera rumah tangga". Sungkeman juga dilakukan kepada
nenek dan kake atau saudaranya masing-masing.

Acara adat saweran yaitu, dua penganten diberi lantunan wejangan yang isinya
menyangkut bagaimana hidup yang baik dan kewajiban masing-masing dalam rumah
tangga. Setelah diberi lantunan wejangan, kemudian di "sawer" dengan uang logam, beras
kuning, oleh kedua orang tuanya.

Nincak endog yaitu memecahkan telor oleh kaki pengantin priya dengan maksud, bahwa
"pada malam" pertamanya itu, ia bersama isterinya akan "memecahkan" yang pertama kali
dalam hubungan suami isteri. Kemudian acara lainnya yaitu membakar tujung batang lidi
(masing-masing panjangnnya 20 cm) dan setelah dibakar, dimasukan ke air yang terdapat
dalam sebuah kendi. Setelah padam kemudian di potong bagi dua dan lalu dibuang jauh-
jauh. Sedangkan kendinya dipecahkan oleh kedua mempelai secara bersama-sama.

29
Acara terakhir adat Sunda , yaitu, "Huap Lingklung dan huap deudeuh ("kasih sayang).
Artinya, kedua pengantin disuapi oleh kedua orang tuanya smasing-masing sebagai tanda
kasih sayang orang tua yang terakhir kali. Kemudian masing-masing mempelai saling
"menyuapi" sebagai tanda kasih sayang. Acara haup lingkun diakhir dengan saling menarik
"bakakak" (ayam seutuhnya yang telah dibakar. yang mendapatkamn bagian terbanyak
"konon akan" mendapatkan rezeki banyak.

Setelah acara adat berakhir maka kedua mempelai beserta keluarganya beristirahat untuk
menanti acara resepsi atau walimahan.

Suku Betawi

Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara
biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah
campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang
disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta.
Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih
dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan
Tionghoa. Istilah Betawi

Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa
Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi
sebenarnya berasal dari kata "Batavia," yaitu nama kuno Jakarta yang diberikan oleh
Belanda.

Sejarah

Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan
Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula
pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur,
dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.

Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis


Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini
didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan
Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus,
yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk
Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak
ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

30
Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada
tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah
Kota. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang
sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Jawa dan Sunda, orang
Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu.

Suku Betawi

Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul
sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak
778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.

Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan,


kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum
mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan
lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang
Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai
satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul
pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan
Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar
mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat
campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup
penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal
di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum
digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis
pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di
Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa
Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik
keroncong.

Setelah kemerdekaan

Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri
imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal
sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari

31
antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran,
bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’
Betawi tidaklah pernah tergusur atau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari
berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses
panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.

Seni dan kebudayaan

Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam
etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang menarik
pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain,
Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta
juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan
Portugis.

Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang.
Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat
dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari
Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar
budaya di Situ Babakan.

Bahasa

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara
umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal
dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.

Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga
dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan
Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan
ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis
Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan
bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai
bahasa nasional.

Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda
menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis
Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian,
masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam
bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari
Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-

32
lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga
Manik[1] yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa
informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

Musik

Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang
berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik
Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang
berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong,
Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.

Tari

Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang
ada di dalamnya. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan
Tiongkok, seperti tari Jaipong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun
Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul
seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.

Cerita rakyat

Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si
Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang
mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang
dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal
cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial.

Senjata tradisional

Senjata khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan terbuat dari kayu.

Kepercayaan

Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen;
Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang
beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran
antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16,
Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan

33
Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk
komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan
menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.

Profesi

Di Jakarta, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa
profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung
Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek,
kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan
pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak
dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga
Kemanggisan.

Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi
perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek,
jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari
Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak
zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru,
pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.

Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu
Ganefonya Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya
untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita
kenal sekarang ini. Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang
Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing
kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-
masing.

Perilaku dan sifat

Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam
segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil.
Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo
yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi,
walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius.
Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua
(terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat

34
menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat
Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.

Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku
kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari
masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa
kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun
tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan
menopang modernisasi tersebut.

Perkawinan Adat Pengantin Betawi ditandai dengan serangkaian prosesi. Didahului masa
perkenalan melalui Mak Comblang. Dilanjutkan lamaran. Pingitan. Upacara siraman.
Prosesi potong cantung atau ngerik bulu kalong dengan uang logam yang diapit lalu
digunting. Malam pacar, mempelai memerahkan kuku kaki dan kuku tangannya dengan
pacar.

Puncak adat Betawi adalah Akad Nikah. Mempelai wanita memakai baju kurung dengan
teratai dan selendang sarung songket. Kepala mempelai wanita dihias sanggul sawi asing
serta kembang goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepasang burung Hong. Dahi
mempelai wanita diberi tanda merah berupa bulan sabit menandakan masih gadis saat
menikah.

Mempelai pria memakai jas Rebet, kain sarung plakat, Hem, Jas, serta kopiah. Ditambah
baju Gamis berupa Jubah Arab yang dipakai saat resepsi dimulai. Jubah, Baju Gamis,
Selendang yang memanjang dari kiri ke kanan serta topi model Alpie menandai agar rumah
tangga selalu rukun dan damai.

Prosesi Akad Nikah

Mempelai pria dan keluarganya datang naik andong atau delman hias. Disambut Petasan.
Syarat mempelai pria diperbolehkan masuk menemui orang tua mempelai wanita adalah
prosesi ‘Buka Palang Pintu’. Yakni, dialog antara jagoan pria dan jagoan wanita, kemudian
ditandai pertandingan silat serta dilantunkan tembang Zike atau lantunan ayat-ayat Al
Quran. Pada akad nikah, rombongan mempelai pria membawa hantaran berupa:

1. Sirih, gambir, pala, kapur dan pinang. Artinya segala pahit, getir, manisnya
kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama antara suami istri.
2. Maket Masjid, agar tidak lupa pada agama dan harus menjalani ibadah salat serta
mengaji.

35
3. Kekudang, berupa barang kesukaan mempelai wanita misalnya salak condet,
jamblang, dan sebagainya.
4. Mahar atau mas kawin.
5. Pesalinan berupa pakaian wanita seperti kebaya encim, kain batik, lasem, kosmetik,
sepasang roti buaya. Buaya merupakan pasangan yang abadi dan tidak berpoligami
serta selalu mencari makan bersama-sama.
6. Petisie yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta, misalnya wortel,
kentang, telur asin, bihun, buncis dan sebagainya.

Akad nikah dilakukan di depan penghulu. Setelah itu ada beberapa rangkaian acara:

1. Mempelai pria membuka cadar pengantin wanita untuk memastikan pengantin


tersebut adalah dambaan hatinya.
2. Mempelai wanita mencium tangan mempelai pria.
3. Kedua mempelai duduk bersanding di pelaminan.
4. Dihibur Tarian kembang Jakarta
5. Pembacaan doa berisi wejangan untuk kedua mempelai dan keluarga kedua belah
pihak yang tengah berbahagia.

Adat Melayu

Malam Berinai

Tujuan upacara ini dimaksudkan untuk menolak bala dan melindungi pasangan pengantin
dari marabahaya, termasuk bahaya yang kasat mata, menaikkan aura dan cahaya
pengantin wanita dan memunculkan wibawa pengantin pria.

Berinai yang dimaksud adalah memasang/memoleskan daun inai (daun pacar) yang sudah
digiling halus, terutama pada kuku jari tangan dan telapak tangan jari kaki dan telapaknya
samapi ke tumit.

Upacara Berandam

Upacara ini lazim dilakukan setelah malam berinai yaitu keesokan harinya. Tujuannya
untuk menghapuskan/membersihkan sang calon pengantin dari ‘kotoran’ dunia sehingga
hatinya menjadi putih dan suci.

Berandam pada hakikatnya adalah melakukan pencukuran bulu roma pada wajah dan
tengkuk calon pengantin wanita sekaligus juga membersihkan mukanya.

36
Akad Nikah

Biasanya upacara akad nikah ini dilakukan pada malam hari yang mengambil tempat di
kediaman calon pengantin wanita.

Sebelum berangkat ke rumah mempelai wanita, pengantin pria terlebih dahulu ditepung
tawari(diberi bedak dingin yang dibuat secara tradisional) sebagai lambing hati yang sejuk,
oleh keluarga dekat dan kerabat yang dituai atau dihormati, kemudian meminta doa restu
drai orangtua agar akad nikahnya dapat berjalan lancar.

Makan Nasi Hadap-Hadapan

Upacara ini dilakukan di depan pelaminan. Hidangan yang disajikan untuk upacara ini
dibuat dalam kemasan seindah mungkin. Yang boleh menyantap hidangan ini selain kedua
mempelai adalah keluarga terdekat dan orang-orang yang dihormati.

Dalam upacara ini juga biasanya lazim diadakan upacara pembasuhan tangan pengantin
laki-laki oleh pengantin wanita sebagai ungkapan pengabdian seorang istri terhadap
suaminya.

Menyembah Mertua

Upacara ini dilakukan apabila di siang harinya kedua mempelai telah disandingkan di
pelaminan, maka pada malam harinya dilanjutkan dengan acara menyembah pada mertua.

Pengantin laki-laki dan wanita dengan diiringi oleh rombongan kerabat pengantin wanita
berkunjung ke rumah orangtua pengantin laki-laki denagn membawa beraneka hidangan
tertentu.

Bersiram Kumbo Taman (Mandi Damai)

Upacara mandi damai ini sebagai tanda sebuah ungkapan rasa syukur atas kelancaran
keseluruhan rangkaian upacara perkawinan yang telah mempersatukan dua insan menjadi
pasangan suani istri yang sah.

Biasanya prosesi adapt ini dilakukan setelah kedua pengantin melangsungkan perkawinan
selama tiga hari.

37
38