Anda di halaman 1dari 18

I.

STATUS PASIEN

A. INDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. YS
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 30 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Kramat RT 05/01 Kembaran
Tanggal masuk RS : 12 Agustus 2017
Tanggal periksa : 13 Agustus 2017
Ruang rawat : Mawar wanita

B. ANAMNESIS (Autoanamnesis)
1. Keluhan utama
Demam
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan demam naik turun sudah 10 hari,
demam dirasa meningkat saat malam hari, mual (-), muntah (-), BAB lancar
dengan konsistensi lembek dan BAK lancar dengan warna kekuningan,
pasien mengeluhkan badan terasa lemas, buang air kecil anyang-anyangan,
BAK tidak tuntas, dan daerah kemaluan terasa panas saat BAK. Pasien tidak
mengalami penurunan berat badan, nafsu makan pasien baik, tidak terdapat riwayat
terluka atau terjatuh, dan tidak terdapat nyeri maupun pegal linu pada anggota gerak
maupun persendian. Pasien mengeluhkan batuk kadang-kadang tetapi tidak terus
menerus, batuk tidak berdahak dan tidak disertai nyeri tenggorokan maupun nyeri
dada. Pasien menyangkal pernah meminum obat-obatan dalam jangka waktu lama
yang menyebabkan pipis berwarna kemerahan serta menyangkal pernah dirawat di
rumah sakit sebelumnya. Siklus menstruasi pasien normal, pasien menstruasi sebulan
satu kali selama 5 hari dan sehari pasien dapat mengganti pembalut sebanyak 2 kali
hanya saat mandi. Sebelumnya pasien belum pernah berpergian diluar pulau Jawa.
3. Riwayat penyakit dahulu
a. Riwayat penyakit yang sama : disangkal
b. Riwayat hipertensi : disangkal
c. Riwayat DM : disangkal
d. Riwayat asma : disangkal
e. Riwayat operasi : disangkal
f. Riwayat penyakit ginjal : disangkal
g. Riwayat cuci darah : disangkal
h. Riwayat penyakit paru : disangkal
i. Riwayat penyakit jantung : disangkal
4. Riwayat penyakit keluarga
a. Riwayat hipertensi : disangkal
b. Riwayat DM : disangkal
c. Riwayat hepatitis B : disangkal
d. Riwayat alergi : disangkal
e. Riwayat penyakit ginjal : disangkal
f. Riwayat penyakit paru : disangkal
g. Riwayat penyakit jantung : disangkal
5. Riwayat sosial dan ekonomi
a. Community
Pasien tinggal di rumah bersama suami dan anaknya di lingkungan
pedesaan yang cukup padat penduduknya. Hubungan antara pasien dengan
tetangga dan keluarga dekat dan baik.
b. Home
Rumah pasien terdiri dari 3 kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang
keluarga, satu dapur, dan satu kamar mandi. Satu kamar masing-masing dihuni
oleh 1-2 orang. Kamar mandi dan jamban di dalam rumah. Atapnya memakai
genteng dan lantai terbuat dari keramik.
c. Occupational
Pasien merupakan Ibu rumah tangga. Pembiayaan kebutuhan sehari-hari
terpenuhi dari pendapatan suaminya. Pembiayaan rumah sakit ditanggung
Jamkesda.
d. Diet
Pasien mengaku makan sehari 2-3 kali sehari, dengan nasi, sayur dan
lauk pauk seadanya. Pasien mengaku tidak pernah mengkonsumsi alkohol,
ataupun mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

C. OBJEKTIF
1. Keadaan umum : Sedang
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Vital sign
TD : 120/80 mmHg
N : 60 x/menit
RR : 20 x menit
S : 36.3 oC
4. Berat badan : 55 kg
5. Tinggi badan : 156 cm
6. Indeks Massa Tubuh : 22.60 kg/m2

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Pemeriksaan kepala
a. Bentuk kepala : Simetris, mesocephal
b. Rambut : Distribusi merata, warna hitam
c. Venektasi temporal : tidak ada
2. Pemeriksaan mata
a. Konjungtiva : Anemis (-/-)
b. Sklera : Ikterik (-/-)
c. Palpebra : Oedem (-/-)
d. Reflek cahaya langsung/ tidak langsung : (+/+) / (+/+)
3. Pemeriksaan telinga
a. Simetris
b. Kelainan bentuk : (-)
c. Discharge : (-)
4. Pemeriksaan Hidung
a. Discharge : (-)
b. Nafas Cuping Hidung : (-)
5. Pemeriksaan mulut
a. Bibir sianosis : (-)
b. Lidah sianosis : (-)
c. Lidah kotor : (-)
6. Pemeriksaan leher
Deviasi trakea (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
Palpasi : JVP 5+2 cm
7. PemeriksaanThorax
Pulmo
Inspeksi
Simetris kanan kiri, retraksi (-), ketinggalan gerak (-)
Palpasi
Vokal fremitus lobus superior kanan sama dengan kiri.
Vokal fremitus lobus inferior kanan sama dengan kiri.
Perkusi
Sonor di kedua lapang paru, batas paru hepar di SIC V LMCD.
Auskultasi
Suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-), RBH (-/-), RBK(-/-)

Jantung
Inspeksi
Ictus cordis tampak di SIC V LMCS, pulsasi epigastrium (-).
Palpasi
Ictus cordis teraba di SIC V LMCS, kuat angkat.
Perkusi
Batas atas kanan : SIC II LPSD
Batas atas kiri : SIC II LPSS
Batas bawah kanan : SIC V LPSD
Batas bawah kiri : SIC V LMCS
Auskultasi
S1>S2, reguler, murmur (-), gallop (-).

8. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi
Datar, jaringan parut (-)
Auskultasi
Bising usus (+) normal.
Perkusi
Timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)
Palpasi
Supel, nyeri tekan epigastrium (-), nyeri tekan suprapubik (+), undulasi (-)
Hepar : Tidak teraba
Lien : Tidak teraba
Ginjal : CVA (-)
9. Pemeriksaan Ekstremitas
Superior : Edema (-/-), akral dingin (-/-), sianosis (-/-), ikterik (-/-)
Inferior : Edema (-/-), akral dingin (-/-), sianosis (-/-), ikterik (-/-)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium tanggal 12 Agustus 2017
Satuan Nilai Normal
Darah Lengkap
Hemoglobin 10.8 (L) g/dL 11.7 – 15.5
Leukosit 4270 U/L 4500 - 12500
Hematokrit 33 (L) % 35 – 47
Eritrosit 4 x106 /uL 3.8 – 5.2
Trombosit 188000 /uL 154000 – 386000
MCV 83,8 fL 80 – 100
MCH 27.8 pg/cell 26 – 34
MCHC 32.5 % 32 – 36
RDW 13.3 % 11.5 – 14.5
MPV 10.6 fL 9.4 - 12.4
Hitung Jenis
Basofil 0.2 % 0–1
Eosinofil 0.22 % 2–4
Batang 0.5 (L) % 3–5
Segmen 57.2 % 50 – 70
Limfosit 26.2 % 25 – 40
Monosit 15.7 (H) % 2–8
Kimia Klinik
GDS 109 <200

Sero Imunologi
S typi O 1/80
S typi H 1/320
S paratypi B-H 1/80
S paratypi A-H Negatif
S paratypi A-O Negatif
S paratypi B-O Negatif
S paratypi C-H Negatif
S paratypi C-O Negatif

Patologi Klinik
Bakteri 10-20 /lpb /lpb Negatif
Bau Khas Khas
Berat Jenis 1.015 1.010 – 1.030
Bilirium Negatif Mg/dL Negatif
Epitel 5-10 /lpk Negatif
Eritrosit 0-2 /lpk Negatif
Glukosa Normal Mg/dL Negatif
Granuler halus Negatif /lpk Negatif
Granuler kasar Negatif /lpk Negatif
Jamur Negatif /lpk Negatif
Kejernihan Agak keruh Jernih
Keton Negatif Mg/dL Negatif
Kristal Negatif /lpk Negatif
Leukosit 75 /ul Negatif
Leukosit 15-20 /lpb Negatif
Nitrit Negatif Negatif
pH 7.5 4.6 – 7.8
Protein Negatif Mg/dL Negatif
Silinder eritrosit Negatif /lpk Negatif
Silinder hialin Negatif /lpk Negatif
Silinder leukosit Negatif /lpk Negatif
Silinder lilin Negatif /lpk Negatif
Trikomonas Negatif /lpk Negatif
Urobilinogen Normal Mg/dL Normal
Warna Kuning Kuning muda – kuning tua

F. DIAGNOSIS KERJA
Infeksi saluran kemih (ISK)
G. PENATALAKSANAAN
1. Non Medikamentosa
a. Bed rest
b. Edukasi pasien untuk menjaga higienitas dan untuk tidak menahan BAK
c. Intake cairan yang banyak
d. Hindari penggunaan baju yang ketat
e. Jika pasien dengan seksual aktif, cuci vagina setalah senggama dan hidari
kontrasepsi spermasida
f. Meminum antibiotik sampai habis atau tuntas agar tidak terjadi isk
berulang
2. Medikamentosa
1. IVFD aseryng 20 tpm
2. Inj Ceftriaxone 2x1 gr
3. Inj Ranitidine 2x1 amp
4. Po Paracetamol 3x500 mg

H. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad Bonam
Ad fungtionam : Dubia ad Bonam
Ad sanationam : Dubia ad Bonam
TINJAUAN PUSTAKA
INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

Definisi
Infeksi Saluran Kemih Infeksi saluran kemih adalah keadaan yang ditandai
dengan adanya bakteri dalam urin (bakteriuria). Bakteriuria bermakna bila
menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme murni lebih dari 100.000 koloni per
millimeter pada biakan urin. Bakteriuria bermakna mungkin tanpa disertai
presentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria asimtomatik. Sebaliknya, bakteriuria
disertai adanya presentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria bermakna simtomatik.
Pada beberapa keadaan pasien dengan presentasi klinis ISK tanpa bakteriuria yang
bermakna (Samirah, et al, 2006).

Klasifikasi
Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi:
1. Infeksi saluran kemih tanpa gejala (Bakteriuria asimptomatik). Dimana terdapat
bakteri dalam urin lebih dari 100.000 /ml urin. Urin diambil porsi tengah dengan
cara vulva dan meatus uretra eksternus dibersihkan terlebih dahulu dengan bahan
antiseptik. Atau jumlah bakteri antara 10.000 sampai dengan 100.000 bila urin
diambil dengan cara kateter uretra. Pada urinalisis dapat ditemukan adanya
leukosit.
2. Infeksi saluran kemih dengan gejala
a. Infeksi saluran kemih bagian bawah (cystitis).Dengan gejala dapat berupa
disuria, terkadang didapatkan hematuria, nyeri daerah suprasimpisis, terdesak
kencing (urgency), stranguria, tenesmus dan nokturia. Tetapi jarang sampai
menyebabkan demam dan menggigil. Pada urinalisis dapat dijumpai leukosit dan
eritrosit.
b. Infeksi saluran kemih bagian atas (pielonefritis). Dengan gejala berupa nyeri
dan tegang pada daerah sudut “costovertebral” atau daerah pinggang, demam,
mual dan muntah. Dapat juga disertai keluhan seperti pada infeksi saluran kemih
bagian bawah seperti disuria, urgensi dan polakisuria, stranguria, tenesmus,
nokturia. Pada pemeriksaan darah dapat dijumpai kadar ureum dan kreatinin yang
meningkat dan pada pemeriksaan urinalisis ditemukan leukosit attau pada
pemeriksaan imunologi didapatkan bakteriuria yang diselubungi antibodi
(Nguyen, Hiep T, 2008).

Epidemiologi
Infeksi saluran kemih tergantung banyak faktor seperti usia, gender,
prevalensi bakteriuria, dan faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan
struktur saluran kemih termasuk ginjal (Sudoyo AW, et al 2009). Awal dewasa
(18-24 tahun), kejadian tahunan ISK pada laki-laki masih relatif rendah pada
0,83%. Namun, hal itu meningkatkan secara substansial pada perempuan menjadi
10,8%. Penelitian dari 3046 spesimen urin yang dikumpulkan dari pasien yang
dirawat di Rumah Sakit Jamnagar, lebih dari (27,92%) laki-laki dan (64,75%)
perempuan memiliki hasil tes positif secara keseluruhan positif adalah 46,48%
(Lumbanbatu, Sondang M. 2003).
Secara anatomi, anak perempuan memang memiliki risiko mendapatkan
infeksi lebih besar daripada anak laki-laki, karena uretranya lebih pendek. Uretra
perempuan lebih pendek daripada uretra laki-laki sehingga memudahkan bakteri
mencapai daerah kandung kemih. Selain itu, letak uretra perempuan dekat dengan
anus dan vagina yang merupakan sumber bakteri (Subandiyah Krisni, 2004). Pada
umumnya perempuan lebih sering mengalami ISK daripada pria. Namun, pada
masa neonatus ISK lebih banyak terjadi pada bayi laki-laki (2,7%) yang tidak
menjalani sirkumsisi daripada bayi perempuan (0,7%). Dengan bertambahnya
usia, insiden ISK terbalik yaitu pada masa sekolah ISK pada anak perempuan 3%,
sedangkan anak laki-laki 1,1%. Insiden ISK ini pada remaja anak perempuan
meningkat 3,3% hingga 5,8% (Lumbanbatu & Sondang M. 2003).

Etiologi Infeksi Saluran Kemih


Escherichia coli (E.coli) merupakan kuman penyebab tersering (60-80%)
ada ISK serangan pertama. Penelitian di dalam negeri antara lain di RSCM Jakarta
juga menunjukkan hasil yang sama. Kuman lain penyebab ISK adalah Proteus
mirabilis, Klebsiella pneumonia, Klebsiella oksitoka, Proteus vulgaris,
Pseudomonas aeroginosa, Enterobakter aerogenes, dan Morganella morganii,
Stafilokokus, dan Enterokokus. Pada ISK kompleks, sering ditemukan kuman
yang virulensinya rendah seperti Pseudomonas, golongan Streptokokus grup B,
Stafilokokus aureus atau Stafilokokus epidermidis. Haemofilus influenzae dan
parainfluenza dilaporkan sebagai penyebab ISK pada anak. Kuman ini tidak dapat
tumbuh pada media biakan standar sehingga sering tidak diperhitungkan sebagai
penyebab ISK. Bila penyebabnya Proteus sp. , perlu dicurigai kemungkinan batu
struvit (magnesium ammonium fosfat) karena kuman Proteus sp menghasilkan
enzim urease yang memecah ureum menjadi amonium, sehingga pH urin
meningkat menjadi 8-8,5. Pada urin yang alkalis, beberapa elektrolit seperti
kalsium, magnesium, dan fosfat akan mudah mengendap (Nicolle & Lindsay E,
2001).

Patofisiologi
Infeksi saluran kemih urin biasanya berada dalam keadaan steril. Infeksi
berlaku apabila bakteri masuk ke dalam urin dan mula bertumbuh. Proses infeksi
ini biasanya bermula pada pembukaan uretra di mana urin keluar dari tubuh dan
masuk naik ke dalam traktus urinari. Biasanya, dengan miksi ia dapat
mengeluarkan bakteri yang ada dari uretra tetapi jika bakteri yang ada terlalu
banyak, proses tersebut tidak membantu. Bakteri akan naik ke atas saluran kemih
hingga kandung kemih dan bertumbuh kembang di sini dan menjadi infeksi.
Infeksi bisa berlanjut melalui ureter hingga ke ginjal. Di ginjal, peradangan yang
terjadi disebut pielonefritis yang akan menjadi keadaan klinis yang serius jika
tidak teratasi dengan tuntas (Balentine, 2009). Pada individu normal, biasanya
laki-laki maupun perempuan urin selalu steril dikarenakan pertahanan jumlah dan
frekuensi kencing. Uretro distal merupakan tempat kolonisasi mikroorganisme
nonpathogenic fastidious gram positive dan gram negatif. Hampir semua ISK
disebabkan invasi mikroorganisme ascending dari uretra ke dalam kandung
kemih. Pada beberapa pasien tertentu invasi mikroorganisme dapat mencapai
ginjal. Proses ini dipermudah refleks vesikoureter. Proses invasi mikroorganisme
hematogen sangat jarang ditemukan di klinik, mungkin akibat lanjut dari
bakterimia. Ginjal diduga merupakan lokasi infeksi sebagai akibat lanjut
septikemi atau endokarditis akibat Stafilokokus aureus. Kelainan ginjal yang
terkait dengan endokarditis (Stafilokokus aureus) dikenal Nephritis Lohlein.
Beberapa peneliti melaporkan pionefritis akut (PNA) sebagai akibat lanjut invasi
hematogen dan infeksi sistemik gram negatif (Tessy, Agus, dkk. 2004).

Manifestasi Klinis Infeksi Saluran Kemih


Tidak semua penderita ISK mengalami keluhan tetapi kebanyakannya ada
seperti berkemih yang berulang kali, sensasi panas dan sakit pada kandung kemih
atau uretra sewaktu miksi dan lain-lain. Pada perempuan biasanya merasakan
tekanan pada bagian superior simfisisnya sedangkan laki-laki sering merasakan
kepenuhan (fullness) pada rektum. Ia adalah kebiasaan bagi penderita ISK untuk
mengeluhkan walaupun sentiasa ingin berkemih, jumlah urin yang keluar hanya
sedikit. Urin biasanya terlihat keruh, atau merah jika ada perdarahan. ISK jarang
menyebabkan demam jika lokasi biakan bakteri berlaku di daerah kandung kemih
atau uretra melainkan pada ginjal. Keluahan-keluhan lain ISK termasuk nyeri di
bagian punggung, nausea dan muntah (Tessy, Agus, dkk. 2004).

Lower urinary tract infection (cystitis) yaitu sepanjang uretra dan kandung kemih:
(Elsevier)
1. Disuria yaitu nyeri ketika buang air kecil.
2. Kerap buang air kecil atau bangun pada malam hari untuk kencing dan jumlah
urin biasanya sedikit.
3. Urgency atau tidak bisa menahan urin dalam kandung kemih.
4. Urin yang keruh, busuk atau disertai darah.
5. Nyeri pada bagian abdomen bawah (suprapubik).
6. Demam dan rasa tidak enak tubuh atau malaise.

Upper urinary tract infection (pyelonephritis): (Elsevier)


1. Demam tinggi dan menggigil.
2. Muntah dan mual.
3. Nyeri pada bagian pinggang
4. Hipotensi atau syok.
Diagnosis Infeksi Saluran Kemih
Penegakkan diagnosis infeksi saluran kemih berdasarkan gejala klinis dan
pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan mikroskopis urin dan kultur urin.
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan untuk menentukan jumlah leukosit dan
bakteri dalam urin. Jumlah leukosit yang dianggap bermakna adalah >10/lapang
pandang besar (LPB). Apabila didapat leukosituri yang bermakna, perlu
dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur (Sudoyo AW, et al, 2009).
1. Pemeriksaan Leukosit Urin

Sepuluh ml sampel urin yang telah dikocok merata dan disentrifugasi


dengan kecepatan 2500 – 3000 rpm selama 5 menit. Cairan yang terdapat diatas
tabung pemusing dibuang, ditinggal endapannya. Kemudian satu tetes sedimen
ditempatkan ke slide mikroskop, tertutup dan diperiksa menggunakan mikroskop
cahaya di bawah 40x perbesaran. Pertama kali dilihat dibawah mikroskopis
dengan lapangan pandang kecil (LPK), kemudian beberapa kali dengan lapangan
pandang besar (LPB). Penilaian dilakukan dengan melihat beberapa kali dalam
beberapa kali dalam LPB. Laporan dihasilkan bila dijumpai lebih dari 5
leukosit/LPB (Chenari M et al, 2012).
2. Pemeriksaan Kultur Urin

Pemeriksaan kultur urin adalah pemeriksaan mikrobiologi atau biakan urin


berdasarkan kuantitatif bakteri untuk menentukan infeksi saluran kemih. Bahan
urin untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pada pagi hari. Bahan
urin dapat diambil dengan cara punksi suprapubik, dari kateter dan urin porsi
tengah (midstream urine). Bahan urin yang paling mudah diperoleh adalah urin
porsi tengah yang ditampung dalam wadah bermulut lebar dan steril (Chenari M
et al, 2012).
Untuk pemeriksaan kultur urin dan tes celup urin, sampel urin harus
diambil dengan teknik pancar tengah yang diambil secara bersih untuk
menghindari kontaminasi. Khusus untuk pemeriksaan uji nitrit dengan tes celup
urin, sampel urin yang digunakan harus berasal dari urin pertama pada pagi hari
segera sesudah pasien bangun tidur. Kalau pemeriksaan bukan pagi hari, ibu
diminta untuk menahan buang air kecil minimal 2 jam sebelum urin diambil untuk
diperiksa, ini penting diingat karena diperlukan waktu yang cukup untuk
berubahnya nitrat menjadi nitrit di dalam kandung kemih.
Tahapan pengambilan sampel urin pancar tengah yang diambil secara
bersih adalah sebagai berikut: pertama cuci labia dan perineum dengan air dan
sabun, selanjutnya duduk atau jongkok di toilet dengan posisi kaki mengangkang,
buka labia dengan dua jari, lalu gunakan kapas, kasa, atau tisu yang sudah
dibasahi dengan air steril atau desinfeksi tingkat tinggi (DTT, air yang sudah
dimasak selama minimal 30 menit) untuk membersihkan daerah sekitar orifisium
uretra dan bagian dalam labia. Kasa/kapas/tisu diusapkan satu kali saja dari arah
orifisium uretra ke arah vagina. Bila diperlukan, harus digunakan kasa/kapas/tisu
yang baru dengan arah pengusapan yang searah. Keluarkan sedikit kemih tanpa
ditampung, lalu tahan sesaat sebelum melanjutkan berkemih ke dalam wadah urin
yang diletakkan sedekat mungkin dengan muara uretra tanpa menyentuh daerah
genitalia. Pastikan wadah urin minimal terisi separuhnya. Setelah wadah urin
terisi, sisihkan wadah tersebut dan selesaikan berkemih (Ocviyanti D, 2012).
Bahan urin harus segera dikirim ke laboratorium, karena penundaan akan
menyebabkan bakteri yang terdapat dalam urin berkembang biak dan
penghitungan koloni yang tumbuh pada biakan menunjukkan jumlah bakteri
sebenarnya yang terdapat dalam urin pada saat pengambilan. Sampel harus
diterima maksimun 1 jam setelah penampungan. Sampel harus sudah diperiksa
dalam waktu 2 jam. Setiap sampel yang diterima lebih dari 2 jam setelah
pengambilan tanpa bukti telah disimpan dalam kulkas, seharusnya tidak dikultur
dan sebaiknya dimintakan sampel baru. Bila pengiriman terpaksa ditunda, bahan
urin harus disimpan pada suhu 4 C selama tidak lebih dari 24 jam (Joey, 2013).
Pemeriksaan Kultur Urin. Deteksi jumlah bermakna kuman patogen (significant
bacteriuria) dari kultur urin merupakan baku emas untuk diagnosis ISK. Bila
jumlah koloni yang tumbuh ≥ 105 koloni/ml urin, maka dapat dipastikan bahwa
bakteri yang tumbuh merupakan penyebab ISK, sedangkan bila hanya tumbuh
koloni dengan jumlah ≤ 10 3
koloni / ml urin, maka bakteri yang tumbuh
kemungkinan besar hanya merupakan kontaminasi flora normal dari muara uretra.
3 5
Jika diperoleh jumlah koloni antara 10 -10 koloni / ml urin, kemungkinan
kontaminasi belum dapat disingkirkan dan sebaiknya dilakukan biakan ulang
dengan bahan urin yang baru. Bila lebih dari tiga jenis bakteri yang terisolasi,
maka kemungkinan besar bahan urin yang diperiksa telah terkontaminasi
(Purnomo & Basuki B, 2008).

Komplikasi Infeksi Saluran Kemih


Komplikasi infeksi saluran kemih tergantung dari tipe yaitu infeksi saluran
kemih tipe sederhana (uncomplicated) dan tipe berkomplikasi (complicated).
1. Infeksi saluran kemih sederhana (uncomplicated) Infeksi saluran kemih akut
tipe sederhana (cystisis) yaitu non-obstruksi dan bukan perempuan hamil
merupakan penyakit ringan (self limited disiase) dan tidak menyebabkan akibat
lanjut jangka lama.
2. Infeksi saluran kemih berkomplikasi (complicated) - Infeksi saluran kemih
selama kehamilan - Infeksi saluran kemih pada diabetes melitus (Stamm & Walter
E. 2008.).

Penatalaksanaan ISK
Tatalaksana ISK didasarkan pada beberapa faktor seperti umur pasien,
lokasi infeksi, gejala klinis, dan ada tidaknya kelainan yang menyertai ISK.
Cystitis dan pielonefritis memerlukan pengobatan yang berbeda. Keterlambatan
pemberian antibiotik merupakan faktor risiko penting terhadap terjadinya jaringan
parut pada pielonefritis. Sebelum pemberian antibiotik, terlebih dahulu diambil
sampel urin untuk pemeriksaan biakan urin dan resistensi antimikroba.
Penanganan ISK pada anak yang dilakukan lebih awal dan tepat dapat mencegah
terjadinya kerusakan ginjal lebih lanjut. Sampai saat ini masih belum ada
keseragaman dalam penanganan ISK pada anak, dan masih terdapat beberapa hal
yang masih kontroversi. Beberapa protokol penanganan ISK telah dibuat
berdasarkan hasil penelitian multisenter berupa uji klinis dan meta-analisis,
meskipun terdapat beberapa perbedaan tetapi protokol penanganan ini saling
melengkapi. Secara garis besar, tata laksana ISK terdiri atas:
1. Eradikasi infeksi akut,
2. Deteksi dan tata laksana kelainan anatomi dan fungsional pada ginjal dan
saluran kemih, dan
3. Deteksi dan mencegah infeksi berulang (Pardede Sudung, Tambunan Taralan,
2011).

Terapi yang di berikan kepada pasien dibedakan menjadi 2 bentuk terapi.


1. Terapi non farmakologi
Terapi Non Farmakologi meliputi :
Ø Hindari stress.
Ø Jangan terlalu lama menahan keinginan buang air kecil.
Ø Jika membersihkan kotoran, bersihkan dari arah depan ke belakang,
agar kotoran dari dubur tidak masuk ke dalam saluran kemih.
Ø Kurangi makanan yang banyak mengandung gula.
Ø Minum banyak cairan (dianjurkan untuk minum minimal 8 gelas air
putih sehari).

2. Terapi farmakologi
Pada ISK yang tidak memberi gejala klinis tidak
perlu diberi terapi, bila sudah ada keluhan harus
segeradiberi antibiotika. Antibiotika diberikan berdasar atas kultur
kuman dan test kepekaan antibiotika.
Dengan tujuan pengobatan ISK adalah mencegah dan
menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati bakteriemia, mencegah
dan mengurangi risiko kerusakan jaringan ginjal yang mungkin timbul
dengan pemberian obat-obatan yang sensitif, murah, aman dengan efek
samping yang minimal.
Selain itu diperlukan pemeriksaan penunjang pada ISK untuk
mengetahui adanya batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor
predisposisi ISK sehingga mampu menganalisa penggunaan obat serta
memilih obat yang tepat, yang bdapat diberikan berupa dosis tunggal,
dimulai dengan pengobatan jangka pendek, bila tidak sembuh di
lanjutkan dengan pengobatan jangka panjang, setelah berlangsung lama
dapat dilakukan dengan profilaksis dosis rendah, bila masih belum dapat
di tangani gunakan pula pengobatan supresif.
a. Sulfonamide
Sulfonamide dapat menghambat baik bakteri gram positif dan
gram negatif. Biasanya diberikan per oral, dapat dikombinasi
dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di ekskresi
di ginjal. Sulfonamide digunakan untuk pengobatan infeksi saluran
kemih dan bisa terjadi resisten karena hasil mutasi yang
menyebabkan produksi PABA berlebihan. Efek samping yang
ditimbulkan hipersensitivitas (demam, rash, fotosensitivitas),
gangguan pencernaan (nausea, vomiting,
diare), Hematotoxicity(granulositopenia, (thrombositopenia,
aplastik anemia) dan lain-lain. Mempunyai 3 jenis berdasarkan
waktu paruhnya Short acting, Intermediate actingdan Long acting.
b. Trimethoprim
Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya
dengan menghambat enzim dihydrofolate reductase yang
mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif dari folic
acid. Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik
dari usus dan ekskresi dalam urine, aktif melawan bakteri gram
negatif kecuali Pseudomonas sp. Biasanya untuk pengobatan utama
infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan tunggal (100
mg setiap 12 jam) pada infeksi saluran kemih akut. Efek samping :
megaloblastik anemia, leukopenia, granulocytopenia.
c. First line
yang digunakan untuk terapi ISK uncomplicated pada
wanita premenopause adalah trimethoprim-sulfamethoxazole
(160/800 mg) yang diberikan 2 kali sehari selama 3 hari.
d. Alternatif obat
yang dapat digunakan adalah Nitrofurantoin 2x100 mg/hari
selama 5 hari, co-amoxiclav, cephalosporin (cefixime, cefdinir, dll)
selama 5-7 hari, fosfomycin 3 g single dose, Fluoroquinolon
(ofloxacin, ciprofloxacin, levofloxacin) selama 3 hari. (Gupta et al,
2011 & Mazzulli, 2012)
DAFTAR PUSTAKA

Gupta, et al., International Clinical Practice Guidelines for the Treatment


of Acute Uncomplicated Cystitis and Pyelonephritis in Women: A 2010 Update
by the Infectious Diseases Society of America and the European Society for
Microbiology and Infectious Diseases, Clinical Practice Guidelines 2011:52
Guluma, Kama. 2004. Urinary Tract Infections and Hematuria. In:
Emergency Medicine Manual, 6th Edition. Singapore : The McGraw-Hill
Companies. 267-269.
Hooton, Thomas M, dkk. 2010. Diagnosis, Prevention, and Treatment of
CatheterAssociated Urinary Tract Infection in Adults: 2009 International Clinical
Practice Guidelines from the Infectious Diseases Society of America. In : Clinical
Infectious Diseases. 50 : 625–663.
Lumbanbatu, Sondang M. 2003. Bakteriuria Asimptomatik pada Anak
Sekolah Dasar Usia 9-12 tahun. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas
Sumatra Utara. Tesis.
Mazzulli, Tony., Diagnosis and management of simple and complicated
urinary tract infections (UTIs), The Canadian Journal of
Urology 2012, 19(Supplement 1)
Nguyen, Hiep T. 2008. Bacterial Infection of the Genitourinary Tract. In
: Smith’s General Urology, 17th Edition. USA : The McGraw-Hill Companies.
Nicolle, Lindsay E. 2001. Urinary Tract Pathogens in Complicated
Infection and in Elderly Individuals. In : The Journal of Infectious Diseases. 183
(Suppl 1) : S5–8.
Ocviyanti D, Fernando D. Tatalaksana dan pencegahan infeksi saluran
kemih pada kehamilan. J Indon Med Assoc. 2012; 62:482-5.
Pardede Sudung, Tambunan Taralan, 2011, Saripediatri : infeksi saluran
kemih pada anak, Jakarta : IDAI
Pendit, Brahm U. 2003. Infeksi Saluran Kemih. Dalam : Mikrobiologi
Terapan Untuk Perawat. Jakarta : EGC. 167-79.
Prasetyowati, Endang. 2001. Leukosituria, Bakteriuria dan Pengecatan
Gram Urin sebagai Kriteria Diagnostik Infeksi Saluran Kemih pada Anak. Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Diponegoro Semarang. Tesis.
Priyanto., 2010, Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Farmasi dan
Keperawatan, Jawa Barat: Lenskonfi
Purnomo, Basuki B. 2008. Infeksi Urogenitalia. Dalam : Dasar-Dasar
Urologi. Jakarata : CV. Sagung Seto. 35-40. ________. 2008. Kateterisasi dan
Sirkumsisi. Dalam : Dasar-Dasar Urologi. Jakarata : CV. Sagung Seto. 227-241.
Rajabnia-Chenari M., Gooran S, Fazeli F., Dashipour A., 2012,
Antibiotic resistance pattern in urinary tract infections in Imam-Ali hospital,
Zahedan (2010-2011), Zahedan Journal of Research in Medical Science, Zahedan.
Rani, A.Aziz, dkk (Ed.). 2008. Infeksi Saluran Kemih. Dalam : Panduan
Pelayanan Medik Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia.
Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Indonesia. 38
Samirah, dkk. 2006. Pola dan Sensitivitas Kuman di Penderita Infeksi
Saluran Kemih. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical
Laboratory. 12(3):110-113.
Stamm, Walter E. 2008. Urinary Tractus Infection and Pielonefritis. In :
Harrison’s Principles Of Internal Medicine 17th Edition. Singapore : The
McGraw-Hill Companies. 1820-1827.
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid II edisi V. Jakarta: Interna Publishing; 2009.
Sukandar, Endang. 2006. Nefrologi Klinik Edisi III. Bandung : Pusat
Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNPAD. 43-45. ________.
2009. Infeksi Saluran Kemih Pasien Dewasa. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid II. Edisi Kelima. Jakarta : Interna Publishing.
Tessy, Agus, dkk. 2004. Infeksi Saluran Kemih. Dalam : Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Balai Penerbit FK UI. 369-76. Vandepitte, dkk.
2010. Prosedur Laboraturium Dasar untuk Bakteriologi Klinis. Jakarta : EGC. 29-
34.