Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anisometropia merupakan suatu keadaan dimana terdapat perbedaan refraksi

antara kedua mata sebesar ≥ 1 dioptri di satu atau lebih meridian. Meskipun angka

kejadian anisometropia pada populasi umum tidak diketahui, tetapi di beberapa literatur

dikatakan bahwa angka kejadian anisometropia adalah sekitar 4-4,7%. Pada penderita

anisometropia, keluhan biasanya disebabkan karena adanya perbedaan kekuatan refraksi

antara kedua mata dan aniseikonia. 1, 2, 3

Aniseikonia merupakan suatu keadaan dimana gambar yang tampak pada kedua

mata tidak sama baik dalam bentuk maupun ukurannya. Aniseikonia seringkali

dihubungkan dengan anisometropia. Hal ini dikarenakan pada mata yang anisometropia,

terdapat perbedaan kekuatan refraksi antar kedua mata yang menyebabkan terjadi

perbedaan ukuran gambar yang diterima di retina. Angka kejadian aniseikonia berkisar

antara 5-10%. 1, 4

Meskipun fakta menyatakan bahwa anisometropia dan aniseikonia telah

didiskusikan sejak abad ke-17, namun penanganan klinis terhadap pasien anisometropia

dan aniseikonia masih jarang dilakukan oleh para ahli mata. Hal ini mungkin disebabkan

karena kurangnya informasi mengenai deteksi dan penatalaksanaan anisometropia dan

aniseikonia yang terus berkembang, minimnya alat pemeriksaan yang sederhana dan

akurat dan penentuan kacamata iseikonik yang cukup rumit dan memerlukan waktu. Oleh

karena itu, seorang dokter mata harus bisa memahami cara deteksi anisometropia dan
aniseikonia mulai dari gejala-gejala klinis yang timbul, pemeriksaan dan cara

penatalaksanaannya. 1, 4

1.2 Tujuan

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui lebih jelas cara deteksi dan

penatalaksanaan anisometropia dan aniseikonia.

BAB II
ANISOMETROPIA

Anisometropia merupakan suatu keadaan dimana terdapat perbedaan refraksi

antara kedua mata sebesar ≥1 dioptri. Perbedaan 1 dioptri antara kedua mata dapat

menyebabkan perbedaan 2% dalam ukuran gambar yang diterima di kedua retina.

Perbedaan ukuran gambar yang diterima dikedua retina masih bisa di toleransi dengan

baik sampai batas 5%. Dengan kata lain, anisometropia mencapai 2,5 dioptri masih bisa

ditoleransi dengan baik dan anisometropia 2,5 sampai 4 dioptri dapat ditoleransi sesuai

dengan sensitivitas individu tersebut. Tetapi, anisometropia yang lebih dari 4 dioptri tidak

bisa ditoleransi dan merupakan hal yang perlu diperhatikan. 1, 5, 6, 7, 8, 9

2.1 Klasifikasi anisometropia

Anisometropia dapat dikelompokkan berdasarkan penyebab dan bentuk klinisnya.

Anisometropia berdasarkan penyebab dapat dibagi menjadi 2 kategori utama, yaitu:

1. Anisometropia aksial

Pada anisometropia aksial ini, perbedaan kekuatan refraksi kedua mata disebabkan

karena perbedaan panjang sumbu aksial kedua mata

2. Anisometropia refraktif

Pada anisometropia refraktif, perbedaan kekuatan refraksi antara kedua mata terjadi

akibat perbedaan media refraksi antara kedua mata seperti kekuatan kornea, kekuatan

lensa atau posisi lensa kristalina.

Untuk membedakan kedua tipe ini secara klinis dapat menggunakan cara:
-
Jika besarnya anisometropia ≥ 2 dioptri, dapat diasumsikan anisometropia yang

terjadi tipe aksial


-
Jika besarnya anisometropia ≤ 2 dioptri atau hanya terdapat silindris, dapat

diasumsikan anisometropia yang terjadi tipe refraktif. 1

Anisometropia berdasarkan bentuk klinisnya dapat dibagi menjadi:

1. Anisometropia simplek

Pada keadaan ini, didapatkan satu mata normal (emetropia) dan mata yang lainnya

miopia (disebut miopik anisometropia simplek) atau hipermetropia (disebut

hipermetropik anisometropia simplek)

2. Anisometropia kompositus

Pada keadaan ini, didapatkan kedua mata hipermetropia (disebut hipermetropik

anisometropia kompositus) atau kedua mata miopia (disebut miopik anisometropia

kompositus), tetapi mata yang satu memiliki kelainan refraksi yang lebih tinggi sebesar ≥

1 dioptri dibandingkan mata yang lain.

3. Anisometropia mixtus

Pada keadaan ini, didapatkan satu mata miopia dan mata yang lain hipermetropia. Hal ini

biasa disebut dengan antimetropia.

4. Anisometropia astigmatikum simplek

Pada keadaan ini, didapatkan satu mata normal (emetrop) dan mata yang lainnya

astigmatisme miopikum simplek atau astigmatisme hipermetropik simplek.

5. Anisometropia astigmatikum kompositus


Pada keadaan ini didapatkan kedua mata astigmatisme tetapi mata yang satu memiliki

astigmatisme yang ≥ 1 dioptri dibandingkan mata yang lain. 1, 5, 6

2.2 Insidensi dan Prevalensi

Hipermetropik anisometropia dengan atau tanpa astigmatisme, dilaporkan lebih

sering terjadi daripada anisometropia tipe lain (de Vries, 1985; Fledelius, 1984; Ingram,

1979). Prevalensi anisometropia pada beberapa literatur dilaporkan bervariasi, hal ini

dikarenakan bermacam-macam kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan

anisometropia. 1

Abrahamsson (1990) melaporkan prevalensi anisometropia ≥ 1 dioptri baik sferis

maupun silindris pada anak-anak adalah sebesar 2,7%-11%. Hirsch (1967) menemukan

anisometropia ≥ 1 dioptri pada 2,5% anak-anak usia sekolah dan 5,6% pada usia 16-19

tahun. 1

Tingginya prevalensi anisometropia dapat ditemukan pada penderita strabismus

(Phelps dan Muir, 1977). Anisometropia juga merupakan suatu penyebab utama

terjadinya ambliopia. 1

2.3 Etiologi

1. Anisometropia kongenital dan perkembangan

Anisometropia ini terjadi karena adanya perbedaan dalam pertumbuhan kedua bola mata,

sehingga terjadi perbedaan ukuran struktur kedua bola mata dan bisa menyebabkan

terjadinya anisometropia

2. Anisometropia yang didapat


Anisometropia yang didapat ini bisa saja terjadi pada uniokular afakia setelah

pengangkatan lensa akibat katarak, atau bisa juga disebabkan oleh kerusakan kornea

akibat trauma atau penyakit yang mengakibatkan astigmatisme. 5

2.4 Gejala klinis

Pada anisometropia yang tidak dikoreksi, hipermetropik anisometropia kompositus

ataupun simplek, akomodasi biasanya dikontrol oleh mata yang tingkat hipermetropianya

lebih kecil, sehingga mata yang lebih hipermetrop akan melihat gambar lebih kabur. Pada

miopik anisometropia simplek yang tidak dikoreksi atau antimetropia, satu mata dapat

digunakan untuk melihat dekat, sedangkan mata yang lain digunakan untuk melihat jauh.

Pada kasus-kasus anisometropia yang tidak dikoreksi, akan terjadi penghambatan

terlihatnya gambar yang jelas di retina pada mata yang lebih ametrop. Perbedaan tingkat

kejelasan dalam melihat suatu benda ini dapat menyebabkan kelainan visual seperti

ambliopia, kesulitan untuk fokus dan kesulitan untuk fusi. 1

Scheiman dan Rouse (1994) telah melaporkan bahwa anak-anak dengan

anisometropia sering menunjukkan gejala-gejala keterbatasan visual seperti juling, sering

mengedipkan mata, mengerutkan dahi, sering menggosok-gosok mata, menutup satu

mata atau memiringkan kepala. Anisometropia yang tidak dikoreksi juga menimbulkan

gejala penglihatan kabur, astenopia, sakit kepala dan diplopia, dimana anisometropia

akibat koreksi kacamata juga menimbulkan keluhan astenopia, sakit kepala, fotofobia,

aniseikonia dan mual-mual. Pada pasien dengan anisometropia yang berat, biasanya
1
terjadi supresi terhadap mata yang lebih ametrop dan sering tidak menimbulkan gejala.

Gejala yang timbul juga dapat dikelompokkan berdasarkan berat ringannya

anisometropia yang terjadi dan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:


Kelas I

Kelas ini meliputi pasien-pasien yang memiliki perbedaan ametropia yang sangat

kecil, umumnya kurang dari 1,5 dioptri. Pada pasien ini, kedua mata digunakan secara

bersamaan dengan fusi dan penglihatan stereoskopis yang berkembang baik. Gejala-

gejala yang timbul umumnya disebabkan karena terdapatnya kelainan pada mata yang

dominan.

Kelas II

Kelompok ini terdiri dari pasien-pasien dengan perbedaan dioptri kedua mata

antara 1,5 dan 3 dioptri, dimana perbedaan silindris lebih bermakna dibandingkan

perbedaan sferis. Pada kelas ini, kedua mata digunakan secara bersamaan hampir

sepanjang waktu, tetapi jika terdapat suatu ketidaknyamanan, maka mata yang lebih

ametrop akan disupresi oleh mata yang dominan. Fusi dan penglihatan binokular tunggal

yang baik masih dapat terjadi jika melihat benda-benda yang besar, tetapi jika melihat

benda-benda yang lebih kecil, maka perbedaan tingkat kejelasan dan ukuran gambar yang

ditangkap retina akan mengganggu penggunaan kedua mata dan mata yang lebih ametrop

akan berhenti berfungsi atau disupresi. Supresi ini dapat terjadi pada lapangan

pengllihatan sentral. Supresi penglihatan sentral dapat diketahui dengan mudah

menggunakan kartu stereoskopis. Jika dengan koreksi visus meningkat dari 20/200

menjadi 20/50, akan timbul keluhan sakit kepala dikarenakan kesulitan dalam

mensupresi. Mengkoreksi ametropia dapat meningkatkan visus masing-masing mata,

tetapi biasanya visus akan lebih baik pada mata yang dominan. Mata yang lebih jelek
akan mendapatkan visus yang telah dikoreksi sekitar 20/30, dimana mata yang dominan

akan mencapai 20/20 atau 20/15.

Kelas III

Pada kelompok ini, ametropia yang terjadi adalah perbedaan lebih dari 3 dioptri

antara kedua mata. Mata yang lebih baik akan bisa dikoreksi mencapai 20/20, tetapi mata

yang lain akan menjadi ambliopia dan hanya bisa dikoreksi mencapai 20/100 atau

20/200. Supresi akan terjadi pada mata yang lebih ametrop. Ambliopia yang terjadi disini

merupakan tipe disuse. Birch menemukan bahwa pada anak-anak, anisometropia ≥ 3

dioptri akan persisten dan mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya ambliopia. DeVries

memeriksa 32 pasien dengan anisometropia tanpa disertai strabismus atau kelainan okular

lainnya dan menemukan bahwa 53% dari pasien ini menderita ambliopia.

Kelas IV

Pada kelompok ini pasien mempunyai visus yang baik pada kedua mata tapi

kadang-kadang menggunakan hanya satu mata. Hal ini lebih sering terjadi pada pasien

dengan satu mata emetrop dan satu mata lainnya miopia sedang. Pada pasien ini, kedua

matanya tidak akan bekerja secara bersama-sama dan memiliki kecenderungan untuk

mensupresi satu mata bila melihat jauh dan satu mata lainnya untuk melihat dekat.

Kelompok ini ditemukan umumnya pada anak-anak yang juling. Pada orang dewasa,

kondisi ini dapat diatasi dengan mengkoreksi satu mata untuk penglihatan jauh dan mata

lainnya untuk penglihatan dekat. 6

Tiga kemungkinan keadaan penglihatan binokular pada anisometropia adalah:


1. Penglihatan binokular tunggal, dapat terjadi pada anisometropia kurang dari 3

dioptri

2. Penglihatan uniokular, bila anisometropia yang terjadi besarnya lebih dari 3

dioptri, maka mata tersebut akan disupresi dan akan terjadi ambliopia

anisometropia. Kemudian pasien hanya akan mempunyai penglihatan uniokular

3. Penglihatan bergantian, terjadi bila satu mata hipermetropia dan mata yang

lainnya miopia. Mata yang hipermetropia digunakan untuk penglihatan jauh dan

mata yang miopia digunakan untuk penglihatan dekat. 6

2.5 Diagnosis

Diagnosis dibuat setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan visus pada pasien.

Pemeriksaan visus dapat dibagi menjadi 2 cara, yaitu secara subjektif dan objektif.

Pemeriksaan visus secara subjektif dapat dilakukan dengan menggunakan Snellen chart,

ETDRS atau E-chart, sedangkan pada anak-anak dapat dilakukan pemeriksaan visus

dengan menggunakan Lea symbol. Pemeriksaan visus secara objektif dilakukan dengan

cara retinoskopi. 1, 6

2.6 Penatalaksanaan

Anisometropia harus dikoreksi sesegera mungkin. Hal ini sangat penting,

terutama pada anak-anak dengan tujuan untuk merangsang penglihatan binokular normal

dan mencegah terjadinya ambliopia dan supresi. 10

1. Kacamata
Koreksi dengan menggunakan kacamata hanya dapat ditoleransi pada perbedaan

maksimal 4 dioptri. Bila lebih dari 4 dioptri, maka akan terjadi diplopia. Ukuran

bayangan yang dihasilkan oleh lensa positif (konvex) adalah lebih besar, sedangkan

ukuran bayangan yang dihasilkan oleh lensa negatif (konkaf) adalah lebih kecil.

Keuntungan penggunaan kacamata adalah praktis, harga relatif murah, dan mudah

beradaptasi meskipun terjadi perbedaan ukuran gambar yang dilihat. Kerugian

penggunaan kacamata adalah perbedaan anisometropia yang dapat ditoleransi maksimal

hanya 4 dioptri, dapat menyebabkan terjadinya efek prismatik pada saat pasien

menggerakkan matanya atau ketika mata tidak berada pada posisi primer dan sering

menimbulkan aniseikonia.

2. Lensa kontak

Lensa kontak dianjurkan untuk anisometropia yang lebih besar. Meskipun lensa

kontak digunakan, kacamata juga tetap harus ada dan dapt digunakan bila sewaktu-waktu

lensa kontak tidak dapat digunakan. Keuntungan penggunaan lensa kontak adalah lensa

kontak dapat meminimalkan perbedaan ukuran gambar yang diterima kedua retina dan

juga dapat menghilangkan efek prismatik. Kerugian lensa kontak adalah tidak praktis,

agak sulit untuk beradaptasi dan tidak semua usia bisa menggunakannya, misalnya pada

anak-anak dan orang tua.

3. Penatalaksanaan lain

Penatalaksaan lain dari anisometropia antara lain:

- Penanaman lensa intraokular untuk pasien-pasien denga afakia uniokular

- Bedah refraksi untuk miopia tinggi unilateral, astigmatisme dan hipermetropia

- Pengangkatan lensa kristalina pada pasien dengan miopia sangat tinggi unilateral. 1, 3, 5
Pasien-pasien dengan anisometropia yang pada saat sebelum dikoreksi mengalami

kesulitan untuk berakomodasi atau pasien dengan ambliopia anisometropia harus

dievaluasi ulang setelah 1-3 bulan dikoreksi untuk mengetahui apakah masalah yang ada

sewaktu sebelum dikoreksi masih ada dan memerlukan penanganan lebih lanjut. 1, 11

BAB III

ANISEIKONIA
Aniseikonia merupakan suatu keadaan dimana gambar yang diproyeksikan dari kedua

retina ke korteks visual tidak sama, baik ukuran maupun bentuknya. Aniseikonia

merupakan salah satu keadaan yang paling sering dihubungkan dengan koreksi

anisometropia dengan kacamata. Batasan aniseikonia yang masih bisa dikoreksi dengan

baik adalah 5%. 1, 6, 12, 13

Gambar 1. Gambar skematik jalur yang harus dilalui untuk mendapatkan ukuran gambar yang sesuai.
(Diambil dari:http://www.opticaldiagnostics.com/info/aniseikonia.html)

3.1 Klasifikasi

Berdasarkan etiologinya, aniseikonia dibagi menjadi:

1. Aniseikonia optik

Aniseikonia ini bisa terjadi karena adanya anisometropia yang besar, pseudofakia

atau akibat bedah refraksi.

2. Aniseikonia retinal

Aniseikonia ini dapat terjadi karena adanya kesalahan dalam penempatan gambar

diretina dari titik nodal yang disebabkan oleh adanya peregangan atau edema

retina. Kepadatan dan distribusi reseptor-reseptor retina mempengaruhi gambar

yang diterima. Jika kepadatannya antara kedua mata berbeda, maka gambar yang

diterima juga akan berbeda. Misalnya pada edema retina akan terjadi peregangan
dari retina itu sendiri sehingga jarak antar reseptor-reseptor di retina akan lebih

renggang dan kepadatannya akan berkurang.

3. Aniseikonia kortikalis

Aniseikonia ini memperlihatkan adanya persepsi yang tidak simetris secara

bersamaan meskipun ukuran gambar yang dibentuk di kedua retina sama. Hal ini

mungkin dipengaruhi oleh adanya perbedaan penyebaran elemen-elemen saraf

visual, atau perbedaan dalam pembacaan gambar yang dihantarkan oleh saraf-

saraf visual. 1, 6, 12

Berdasarkan pergerakannya, aniseikonia dibagi menjadi:

1. Aniseikonia statik atau aniseikonia klasik, merupakan keadaan statik, dimana

pada saat mata menatap pada satu arah tertentu, akan terjadi perbedaan gambar

diterima di kedua retina

Gambar 1a. Mata kiri tidak ada lensa kacamata, pada mata kanan terdapat lensa kacamata negatif.
Gambar yang terlihat pada mata kanan lebih kecil dibandingkan dengan mata kiri. (Diambil
dari:http://www.opticaldiagnostics.com/info/aniseikonia.html)
2. Aniseikonia dinamik, merupakan suatu keadaan dimana terdapat perbedaan

besarnya sudut perputaran antara kedua mata agar kedua mata bisa menatap suatu

benda pada titik yang sama 4

Gambar 1b. Gerakan bola mata ke arah kiri. Mata kiri harus berputar lebih jauh untuk melihat ke
arah titik gambar yang sama dengan mata kanan. (Diambil
dari:http://www.opticaldiagnostics.com/info/aniseikonia.html)

Secara klinis, aniseikonia dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu:

1. Aniseikonia simetris

- Tipe sferis, gambar yang terlihat akan diperbesar atau diperkecil dengan ukuran

yang sama di kedua meridian

- Tipe silindris, gambar akan diperbesar atau diperkecil secara simetris hanya di

satu meridian

2. Aniseikonia asimetris
- Tipe prismatik.

Pada tipe prismatik ini, perbedaan gambar akan meningkat secara progresif di satu

arah.

- Tipe peniti.

Pada tipe ini, distorsi gambar akan meningkat secara progresif di kedua arah,

seperti terlihat pada pasien afakia dengan koreksi lensa sferis positif tinggi.

- Tipe distorsi barrel.

Pada tipe ini, distorsi gambar menurun secara progresif pada kedua arah, seperti

terlihat pada koreksi lensa sferis negatif tinggi.

- Tipe distorsi oblik.

Pada tipe ini ukuran gambar tetap sama, tetapi terjadi distorsi bentuk secara

oblik.5

Gambar 2. Tipe-tipe klinis anisometropia. A. Tipe sferis. B. Tipe silindris. C. Tipe prismatik. D. Tipe peniti.
E. Tipe distorsi barrel. F. Tipe distorsi oblik. Diambil dari: Khurana AK. Optics and Refraction. Khurana
AK, ed. Comprehensive Ophthalmology: Fourth edition. 2007; 38-39.
3.2 Gejala aniseikonia
Bannon dan Triller melaporkan daftar karakteristik gejala aniseikonia berdasarkan

penelitian pada 500 pasien.

Gejala Jumlah pasien (dalam %)


Sakit kepala 67%
Astenopia 67%
Fotofobia 27%
Kesulitan membaca 23%
Mual 15%
Diplopia 11%
Vertigo 7%
Distorsi persepsi ruang 6%

Burian mempublikasikan daftar gejala-gejala yang paling sering dikeluhkan oleh pasien

aniseikonia. Kategori utamanya adalah:

Kategori I : Gejala astenopia

Kategori II : Ketidakmampuan untuk fusi dan stereopsis yang jelek

Kategori III : Anomali lokalisasi spatial 1, 4, 12

3.3 Pemeriksaan aniseikonia

Beberapa alat bantu yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya aniseikonia yaitu:

1. Space Eikonometer

Dengan menggunakan space eikonometer ini, penderita diminta untuk melihat

kedalam alat ini melalui size lens yang dapat menghasilkan perbesaran pada dua meridian

primer. Tampilan yang terlihat terdiri dari empat garis vertikal yang berada pada empat

sudut suatu bujursangkar (misalnya empat garis yang menggambarkan empat sudut

vertikal kubus yang terdapat di dalam alat). Pada bagian tengah kubus terdapat satu garis

vertikal lagi dengan tanda silang yang terdiri dari 2 garis diagonal memotong bagian

tengah kubus.
Jika aniseikonia hanya terjadi pada dimensi horizontal, kubus dan garis silang

akan terlihat berputar pada aksis vertikal, dan garis vertikal akan mendekati sisi yang

memiliki perbesaran lebih kecil. Jika aniseikonia terjadi hanya pada dimensi vertikal,

garis vertikal tidak akan terlihat berputar, tetapi garis silang tetap akan terlihat berputar

mendekati sisi yang memiliki perbesaran lebih besar. Alat ini membutuhkan penglihatan

stereoskopis untuk bisa menentukan perputaran dan kemiringan sehingga alat ini tidak

bisa digunakan pada pasien yang tidak stereoskopis. 1, 12

Gambar 3a. Gambar target pada space eikonometer. Gambar yang stereokopis ditunjukkan di sebelah kiri.
Diambil dari: Taylor MA, et al. Patients With Anisometropia and Aniseikonia. Borish’s IM, ed. Clinical
refraction. 2004; 1134-1159.

Gambar 3b. Penglihatan stereoskopis terhadap target pada space eikonometer. Gambar pada mata kiri
mengalami perbesaran 5% pada meridian horizontal. Diambil dari: Taylor MA, et al. Patients With
Anisometropia and Aniseikonia. Borish’s IM, ed. Clinical refraction. 2004; 1134-1159.
2. Eikonometer standar

Dengan menggunakan alat ini, kedua mata melihat ke arah objek, yaitu garis

silang secara bersamaan. Sepanjang garis silang disebut dengan garis Nonius. Jika garis

Nonius pada mata kanan sama panjang dengan mata kiri, berarti tidak terdapat

aniseikonia, bila terdapat aniseikonia, maka garis Nonius akan terlihat tidak sama

panjang. Pemeriksaan dengan eikonometer standar ini tidak memerlukan penglihatan

stereoskopis seperti pada space eikonometer. 1, 12

3. Awaya’s New Aniseikonia Test

Tes ini merupakan suatu tes perbandingan langsung untuk menentukan ada

tidaknya aniseikonia. Pada tes ini digunakan kacamata merah/hijau untuk memisahkan

penglihatan kanan dan kiri sehingga mata kanan hanya bisa melihat garis di sebelah

kanan dan mata kiri hanya bisa melihat garis di sebelah kiri. Kemudian pasien diminta

untuk membandingkan ukuran garis pada mata sebelah kanan dan garis pada mata

sebelah kiri. 1, 12

Gambar 4. Awaya’s New Aniseikonia Test. Diambil


dari: :http://www.opticaldiagnostics.com/info/aniseikonia.html

3.4 Penatalaksanaan aniseikonia


Pada dasarnya, ada 4 cara penatalaksanaan aniseikonia, dimana masing-masing cara

memiliki kelebihan dan kekurangan. Cara yang dipilih disesuaikan dengan keadaan

pasien, tergantung dari jenis aniseikonia, kelainan refraksi, besarnya aniseikonia yang

harus dikoreksi, kepentingan kosmetik, dan lain-lain sehingga penatalaksanaan antara

satu pasien dengan pasien yang lain mungkin akan berbeda atau dapat pula berupa

kombinasi dari beberapa cara penatalaksanaan.

Cara I: Hanya menggunakan lensa kontak

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada pasien anisometropia, penggunaan lensa

kontak, sering (tetapi tidak selalu) menurunkan angka kejadian aniseikonia dibandingkan

dengan kacamata biasa. Keuntungan lainnya adalah sangat baik dari segi kosmetik, tidak

terjadi anisoforia (lensa kontak dapat bergerak mengikuti gerakan mata, jadi tidak

menyebabkan efek prismatik dengan gerakan mata), dan lensa kontak juga relatif murah.

Untuk kenyamanan pasien, sebaiknya pasien mencoba dulu beberapa trial contact lenses.

Cara II: Menggunakan kacamata dengan visus yang terkoreksi penuh

Cara kedua ini merupakan penatalaksanaan aniseikonia klasik dan tidak mengganggu

visus. Perubahan perbesaran optik disebabkan oleh perubahan bentuk lensa kacamata

(kurvatura dan ketebalan) dan jarak lensa ke mata. Karena perubahan bentuk lensa

kacamata, secara kosmetik mungkin akan terganggu (tergantung dari besarnya

aniseikonia yang dikoreksi). Pada optical aniseikonia, baik aniseikonia maupun


anisoforia akan berkurang bersamaan dengan menggunakan cara kedua ini. Pada retinal

aniseikonia, koreksi aniseikonia sering menimbulkan anisoforia, sehingga diperlukan

suatu keseimbangan berapa besar aniseikonia dikoreksi dan berapa besar anisoforia yang

akan timbul. Besarnya anisoforia yang timbul pada cara kedua ini lebih kecil

dibandingkan dengan cara III dan IV. Harga lensa kacamata juga akan sedikit lebih mahal

dibandingkan dengan lensa standar biasa, dikarenakan ketebalan dan kurvatura lensa

yang tidak standar.

Cara III: Menggunakan kacamata, dengan visus tidak terkoreksi penuh

Pada cara ini, perubahan perbesaran optik dilakukan dengan mengubah kekuatan refraksi

salah satu lensa kacamata. Sebagai akibatnya, gambar yang diterima akan menjadi kabur

pada satu mata, dan visus yang efektif akan menurun pada mata tersebut. Karena mata

yang lain masih mempunyai visus yang baik, maka secara keseluruhan visus binokular

tidak terlalu terpengaruh. Bagaimanapun, penglihatan yang kabur akan menyebabkan

ketidaknyamanan visual. Lensa kacamata yang digunakan dapat berupa lensa staaandar,

sehingga dari segi kosmetik dan biaya cara ketiga ini lebih disukai dibanding dengan cara

kedua. Besarnya anisoforia yang terjadi akan tergantung pada perbedaan kekuatan

refraksi antara kedua lensa (untuk retinal aniseikonia, cara ketiga ini seringkali

meningkatkan besarnya anisoforia).


Cara IV: Kombinasi lensa kontak dan kacamata

Cara keempat ini mirip dengan cara ketiga, tetapi pada cara ini ditambahkan lensa kontak

sehingga visus tetap akan terkoreksi penuh. Secara kosmetik akan terlihat baik, dimana

digunakan lensa kacamata standar. Biaya akan sedikit lebih mahal karena pasien harus

membeli kacamata dan lensa kontak. Besarnya anisoforia yang terjadi tergantung dari

keadaan refraksi kedua mata dan besarnya koreksi aniseikonia. 12, 14

Tabel 1. Ukuran gambar yang diterima retina dengan koreksi kelainan refraksi

Jenis kelainan Koreksi dengan Koreksi dengan Koreksi dengan

kacamata lensa intraokular lensa kontak


Miopia aksial =E >>E >E
Hipermetropia aksial =E <<E <E
Miopia refraktif <<E =E <E
Hipermetropia refraktif >>E =E >E
Simbol memperlihatkan apakah ukuran gambar yang diterima retina lebih besar (>), lebih

kecil (<) atau sama dengan ukuran gambar yang diterima retina pada mata yang

emetropia. 1
BAB IV

KESIMPULAN

Anisometropia merupakan suatu keadaan dimana terdapat perbedaan refraksi

antara kedua mata sebesar ≥ 1 dioptri di satu atau lebih meridian. Anisometropia kurang

dari 3 dioptri masih bisa ditoleransi dengan baik oleh mata kita. Anisometropia dapat

diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya, yaitu: anisometropia aksial dan anisometropia

refraktif. Berdasarkan klinisnya anisometropia dibagi menjadi: anisometropia simplek,

anisometropia kompositus, anisometropia mixtus, anisometropia astigmatikum simplek

dan anisometropia astigmatikum kompositus. Anisometropia dapat terjadi kongenital atau

pada saat masa perkembangan yaitu akibat perbedaan dalam pertumbuhan struktur bola

mata dan bisa juga terjadi akibat adanya kelainan pada kornea atau penyakit lain yang

menyebabkan astigmatisme atau pada afakia uniokular.


Gejala yang timbul pada anisometropia dapat dikelompokkan berdasarkan berat

ringannya anisometropia yang terjadi dan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu: kelas I

(anisometropia < 1,5 dioptri), kelas II (anisometropia 1,5-3 dioptri), kelas III

(anisometropia > 3 dioptri), kelas IV (biasa terjadi pada pasien satu mata emetrop dan

satu mata miopia sedang). Diagnosis anisometropia dibuat dengan melakukan anamnesa

dan pemeiksaan visus baik secara subjektif maupun objektif. Penatalaksanaan

anisometropia dapat dilakukan dengan memberikan koreksi berupa kacamata, lensa

kontak atau tindakan lain misalnya penanaman lensa intraokular pada pasien afakia

uniokular.

Aniseikonia merupakan suatu keadaan dimana gambar yang diproyeksikan dari kedua

retina ke korteks visual tidak sama, baik ukuran maupun bentuknya. Berdasarkan

etiologinya, aniseikonia dibagi menjadi aniseikonia optik, aniseikonia retinal dan

aniseikonia kortikalis. Berdasarkan pergerakannya, aniseikonia dibagi menjadi

aniseikonia statik dan aniseikonia dinamis. Secara klinis, aniseikonia dibagi menjadi tipe

simetris dan asimetris. Gejala-gejala yang sering dikeluhkan oleh penderita aniseikonia

meliputi sakit kepala, astenopia, fotofobia, kesulitan membaca, mual, diplopia, vertigo,

distorsi persepsi ruang. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan adanya

aniseikonia yaitu pemeriksaan space eikonometer, eikonometer standar dan awaya’s new

aniseikonia test. Penatalaksanaan aniseikonia dapat dibagi menjadi 4 cara,yaitu hanya

menggunakan lensa kontak, menggunakan kacamata dengan visus terkoreksi penuh,

menggunakan kacamata dengan visus tidak terkoreksi penuh dan menggunakan

kombinasi lensa kontak dan kacamata.


DAFTAR PUSTAKA

1. Taylor MA, et al. Patients With Anisometropia and Aniseikonia. Borish’s IM, ed.
Clinical refraction. Philadelphia: W. B. Saunders publisher, 2004; 1134-1159.
2. Dadeya S, et al. The Effect of Anisometropia on Binocular Visual Function. 2001.
Available at: http://www.ijo.com/anisomtropia/pdfhandler
3. Beyer JE, et al. Refractive Error, Clinical Optics and Contact Lenses. Langston
DP, ed. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy: Sixth edition. Philadelphia:
Lippincott Williams and Wilkins publisher, 2008; 411.
4. De Wit GC, Remole A. Clinical Management of Aniseikonia. 2003. Available at:
http://www.otmagazine.co.uk/articles/docs/949ae.pdf
5. Khurana AK. Optics and Refraction. Khurana AK, ed. Comprehensive
Ophthalmology: Fourth edition. New Delhi: New Age International publisher. 2007;
38-39.
6. Sloane, AF. Anisometropia. Sloane AF, ed. The Teaching of Refraction. 2005;
139-146.
7. Riordan P, dkk. Optik dan Refraksi. Suyono YJ, ed. Oftalmologi Umum: edisi 14.
Jakarta: Widya Medika. 2000; 403-404.
8. Ilyas S. Strabismus. Ilmu penyakit mata: Edisi ketiga. Jakarta: Fakultas
kedokteran Universitas Indonesia, 2006; 251.
9. Liesegang TJ, et al. Optics of the Human Eye: Section 3; Clinical Optics. San
Fransisco: American Academy of Ophthalmology, 2005; 118-119.
10. Anonim. Anisometropia. 2007. Available at:
http://www.habazar.com/opticaldirectory/anisometropia.htm
11. Maloney WF. Refractive Surgery. 2006. Available at:
http://images.google.com/images
12. Anonim. About Aniseikonia. 2007. Available at:
http://www.opticaldiagnostics.com/info/aniseikonia.html
13. Liesegang TJ, et al. Amblyopia: Section 6; Pediatric Ophthalmology and
Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology, 2005; 65
14. Thill EZ. Theory and Practice of Spectacle Correction of Aniseikonia. Duanes’s
clinical ophthalmology on CD-ROM. Philadelphia: Lippincott William and Wilkins
publisher, 2003.