Anda di halaman 1dari 11

INTERFERENSI CAHAYA

Intensitas medan listrik resultan E, di suatu titik dalam ruang dimana dua atau lebih
gelombang cahaya bertemu, adalah sama dengan jumlah vektor dari masing-masing gangguan
individual. Maka, interferensi optik bisa dinyatakan sebagai sebuah interaksi dari dua
atau lebih gelombang cahaya yang menghasilkan irradiansi resultan yang menyimpang
dari jumlah komponen-komponen irradiansi atau intensitas.

Gambar ilustrasi interferensi koheren dan tak koheren

Kita tinjau pertama-tama interferensi dua gelombang, 𝑬1 dan 𝑬2 , dimana kita


memperhitungkan sifat vektorial medan listrik. Di dalam kasus interferensi, kedua gelombang
berasal dari satu sumber dan bertemu setelah menempuh lintasan berbeda. Namun demikian,
arah perjalanan gelombang tidak harus sama, sehingga apakah mereka mempertahankan
frekuensi yang sama, umumnya mereka tidak mempunyai vektor perambatan yang sama k.
Maka, kita dapat menyatakan persamaan gelombang dengan

𝑬1 = 𝑬01 cos⁡(𝑘 ∙ 𝑟 − 𝜔𝑡 + 𝜀1 ) (3-1)

𝑬2 = 𝑬02 cos⁡(𝑘 ∙ 𝑟 − 𝜔𝑡 + 𝜀2 ) (3-1)

Pada titik P, yang didefinisikan oleh vektor posisi r, gelombang berpotongan untuk
menghasilkan gangguan yang mempunyai medan listrik Ep yang dinyatakan oleh prinsip
superposisi,

𝑬𝑝 = 𝑬1 + 𝑬2
E1 dan E2 bervariasi secara cepat dengan frekuensi optik berorde 1014 dan 1015 Hz untuk
cahaya tampak. Maka baik E1 dan E2 reratanya nol untuk interval waktu yang singkat.
Pengukuran gelombang melalui efeknya pada mata atau detektor tergantung pada energi
berkas cahaya. Rapat daya radian, atau irradian, I (W/m2), mengukur rerata waktu kuadrat
amplitude gelombang.

𝐼 = 𝜀0 𝑐〈𝑬2 〉 (3-3)

Maka irradians di titik P adalah

𝐼 = 𝜀0 𝑐〈𝑬2 𝑝 〉 = 𝜀0 𝑐〈𝑬𝑃 𝑬𝑃 〉 = 𝜀0 𝑐〈(𝑬1 + 𝑬2 )(𝑬1 + 𝑬2 )〉

atau

𝐼 = 𝜀0 𝑐〈𝑬1 2 + 𝑬1 2 + 2𝑬1 𝑬2 〉 (3-4)

Dua suku pertama berkaitan dengan irradians gelombang secara individual, I1 dan I2. Suku
terakhir tergantung pada interaksi gelombang dan disebut suku interferensi, I12. Maka
persamaan (3-4) dapat dituliskan sebagai

𝐼 = 𝐼1 + 𝐼2 + 𝐼12 (3-5)

Dimana

𝐼12 = 2𝜀0 𝑐〈𝑬1 𝑬2 〉 (3-6)

Untuk menghitungnya dalam waktu sesaat, kita bentuk

𝑬1 ∙ 𝑬2 = 𝑬01 ∙ 𝑬02 cos⁡(𝑘1 ∙ 𝑟 − 𝜔𝑡 + 𝜀1 ) × 𝑐𝑜𝑠(𝑘2 ∙ 𝑟 − 𝜔𝑡 + 𝜀2 )

Atau secara ekivalen

𝑬1 ∙ 𝑬2 = 𝑬01 ∙ 𝑬02 [cos(𝑘1 ∙ 𝑟 − 𝜔𝑡 + 𝜀1 ) × 𝑐𝑜𝑠⁡𝜔𝑡 + 𝑠𝑖𝑛(𝑘1 ∙ 𝑟 − 𝜔𝑡 + 𝜀1 ) × 𝑠𝑖𝑛⁡𝜔𝑡]


× [cos(𝑘2 ∙ 𝑟 − 𝜔𝑡 + 𝜀2 ) × 𝑐𝑜𝑠⁡𝜔𝑡 + 𝑠𝑖𝑛(𝑘2 ∙ 𝑟 − 𝜔𝑡 + 𝜀2 ) × 𝑠𝑖𝑛⁡𝜔𝑡]

Ingat bahwa waktu rerata sebuah fungsi f(t), diambil untuk interval T , adalah

𝑡+𝑇
1
〈𝑓(𝑡)〉 = ∫ 𝑓(𝑡 ′ )𝑑𝑡 ′
𝑇
𝑡
Periode 𝜏 dari fungsi harmonik adalah 2𝜋/𝜔 dan kita tertarik pada kasus 𝑇 >> 𝜏. Dalam

kasus ini koefisien 1/𝑇 di depan integral mempunyai efek dominan. Untuk beberapa siklus

lengkap, dapat ditunjukkan bahwa

1 1
〈𝑐𝑜𝑠 2 𝜔𝑡〉 = ⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡⁡〈𝑠𝑖𝑛2 𝜔𝑡〉 =
2 2

dan

〈𝑠𝑖𝑛⁡𝜔𝑡 cos 𝜔𝑡〉 = 0

Maka

1
〈𝑬1 𝑬2 〉 = 𝑬01 ∙ 𝑬02 𝑐𝑜𝑠[(𝑘1 + 𝑘2 ) ∙ 𝑟 + (𝜀1 + 𝜀2 )] (3-7)
2

dimana ekspresi di dalam kurung adalah beda fase antara 𝑬1 dan 𝑬2 , seperti dinyatakan
dalam persamaan (3-1) dan (3-2):

𝛿 = (𝑘1 − 𝑘2 ) ∙ 𝑟 + (𝜀1 + 𝜀2 ) (3-8)

Dengan mengkombinasikan persamaan (3-6), (3-7), dan (3-8),

𝐼12 = 𝜀0 𝑐𝑬01 𝑬02 𝑐𝑜𝑠𝛿 (3-9)

Hal yang sama, suku irradiansi 𝐼1 dan ⁡𝐼2 dari persamaan (3-5) dapat menghasilkan

1
𝐼1 = 𝜀0 𝑐〈𝑬1 2 〉 = 2 𝜀0 𝑐⁡𝑬01 2 (3-10)

dan

1
𝐼1 = 𝜀0 𝑐〈𝑬1 2 〉 = 2 𝜀0 𝑐⁡𝑬01 2 (3-11)

Di dalam kasus 𝑬01 ||𝑬02 , dot product di dalam persamaan (3-9) adalah identik dengan
perkalian besarnya. Hal ini dinyatakan dalam irradiansi 𝐼1 dan 𝐼2⁡ dengan menggunakan
persamaan (3-10) dan (3-11), menghasilkan

𝐼12 = 2√𝐼1 𝐼2⁡ 𝑐𝑜𝑠𝛿 (3-12)

akhirnya dapat menuliskan,


𝐼 = 𝐼1 + 𝐼2⁡ + 2√𝐼1 𝐼2⁡ ⁡𝑐𝑜𝑠𝛿 (3-13)

Perhatikan bahwa jika kita mengasumsikan bahwa medan E adalah pararel, permasalahan
menjadi sama seperti teori skalar. Secara khusus persamaan (3-14) diperoleh secara langsung
dari persamaan (3-13) untuk N = 2 dan ketika persamaan (3-10) dan (3-11) digunakqn untuk
menyatakan irradiansi di tempat amplitudo.

Lebih khusus, ketika 𝑐𝑜𝑠⁡𝛿 = ⁡ +1, interferensi konstruktif menghasilkan inrradiansi


maksimum

𝐼𝑚𝑎𝑥 = 𝐼1 + 𝐼2⁡ + 2√𝐼1 𝐼2⁡ ⁡ (3-14)

Syarat ini terjadi ketika beda fase 𝛿 = 2𝑚𝜋, dimana m adalah bilangan bulat atau nol. Di
lain pihak, ketika 𝑐𝑜𝑠⁡𝛿 = ⁡ −1,, interferensi destruktif menghasilkan irrdiansi minimum atau
background

𝐼𝑚𝑖𝑛 = 𝐼1 + 𝐼2⁡ − 2√𝐼1 𝐼2⁡ ⁡ (3-15)

suatu syarat yang terjadi ketika⁡𝛿 = (2𝑚 + 1)𝜋. Plot irradiansi I versus fase 𝛿, dalam gambar
3-1a, menunjukkan frinji periodik. Interferensi destruktif adalah sempurna ketika I1= I2 = Io.
Maka persamaan (3-14) dan (3-15) menghasilkan

𝐼𝑚𝑎𝑥 = 4𝐼0 dan 𝐼𝑚𝑖𝑛 = 0

Bentuk yang berguna lainnya dari persamaan (3-13), untuk kasus berkas-berkas yang
interferensi beramplitudo sama, diperoleh dengan menuliskan

𝐼 = 𝐼0 + 𝐼0⁡ + 2√𝐼0 2 ⁡𝑐𝑜𝑠𝛿 = 2𝐼0 (1 + ⁡𝑐𝑜𝑠𝛿)

dan dengan menggunakan identitas trigonometri

𝛿
1 + ⁡𝑐𝑜𝑠𝛿 ≡ 2𝑐𝑜𝑠 2 ( )
2

Irradiansi untuk kedua berkas yang berinterferensi maka adalah

𝛿
𝐼 = 4𝐼0 𝑐𝑜𝑠 2 ( )
2
Bila kita perluas kasus interferensi dengan meninjau banyak gelombang yang berinteraksi
satu sama lain, maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa fase relative antara
gelombang-gelombang yang berinterferensi menentukan karakteristik intereferensi, apakah
konstruktif atau destruktif, seperti diperlihatkan dalam Gambar 3-2.

Pertama kita tinjau interferensi dua gelombang. Beda fase relative diantara gelombang-
gelombang yang berinterferensi merupakan faktor penting yang menentukan intensitas total
interferensi. Ingat bahwa intensitas interferensi dua gelombang dinyatakan dalam amplitude
komplek adalah

𝐼 = 𝐼1 + 𝐼2⁡ + 𝑐𝐸Re{Ẽ1 ∙ Ẽ2 }

dimana 1 E~ dan 2 E~ adalah amplitudo kompleks. Jika kita menyatakan amplitudo dalam
terminologi intensitasnya, Ii, dan fase mutlaknya 𝜃𝐼 , Ẽ𝑖 ∞√𝐼𝑖 exp[−𝑖𝜃𝑖 ]
Intensitas total juga dapat dinyatakan dalam fase relative sebagai berikut

𝐼 = 𝐼1 + 𝐼2⁡ + 2√𝐼1 𝐼2⁡ Re{exp[−𝑖(𝜃1 − 𝜃2 )]}

Maka intensitas bernilai antara

𝐼 = 𝐼1 + 𝐼2⁡ + 2√𝐼1 𝐼2⁡ ⁡⁡⁡dan 𝐼 = 𝐼1 + 𝐼2⁡ − 2√𝐼1 𝐼2⁡

Tergantung pada nilai (𝜃1 − 𝜃2 )

Bila lebih dari dua gelombang, N gelombang, masing-masing medan dengan fase acak, 𝜃𝑖

Maka intensitas total dapat dituliskan sebagai

Persamaan di atas dapat diilustrasikan menggunakan amplitudo komplek sebagai berikut


Secara ringkas syarat interferensi gelombang dirangkum dalam Gambar 3-3. Dari tabel
tersebut dapat disimpulkan bahwa interferensi hanya terjadi jike gelombang-gelombang
mempunyai warna sama, polarisasi sama, dan beda fase yang tetap, dengan kata lain sumber-
sumber tersebut koheren. Cahaya Koheren mempunyai sifat sebagai berikut :
Sistem optik yang menghasilkan gejala interferensi disebut interferometer. Secara umum,
sistem optik yang menghasilkan gejala interferensi dapat dibagi menjadi dua kelompok:
sistem pembagi muka gelombang (wavefront splitting) dan sistem pembagi amplitudo
(amplitude splitting). Dalam sistem pertama, muka gelombang primer digunakan baik secara
langsung sebagai sumber untuk memancarkan muka gelombang sekunder, maupun dipadukan
dengan piranti lain untuk menghasilkan sumber muka gelombang sekunder virtual.
Gelombang-gelombang sekunder ini bertemu membentuk pola interferensi. Dalam sistem
kedua atau dalam sistem pembagi amplitudo, gelombang primer itu sendiri dibagi menjadi
dua segmen yang menempuh lintasan berbeda sebelum bertemu lagi dan berinterferensi.

2. SISTEM PEMBAGI MUKA GELOMBANG

2.1. Percobaan Celah Ganda Young

Secara skematis percobaan yang dilakukan oleh young pada tahun 1802 dilukiskan dalam
gambar 3-1. Cahaya monokromatik bidang dilewatkan pada sebuah celah kecil pada aperture
dengan maksud untuk menghasilkan sebuah titik sumber tunggal S. Cahaya menyebar
sebagai gelombang sferis dari sumber sesuai dengan prinsip Huygen dan melewati pada dua
celah berdekatan S1 dan S2 pada aperture. Kedua celah maka menjadi dua sumber cahaya
koheren, yang interferensinya dapat diamati pada layar yang berjarak jauh. Jika kedua lubang
berukuran sama, cahaya yang memancar dari celah-celah tersebut mempunyai amplitudo
sebanding , dan irradiansi pada titik-titk superposisi dinyatakan oleh persamaan (3-16).
Untuk titik P dekat sumbu optik, dimana 𝑦⁡ << ⁡𝑠, kita dapat mendekati 𝑠𝑖𝑛⁡𝜃 ≅ ⁡𝑡𝑎𝑛⁡𝜃⁡ ≅
𝜋𝑎𝑦
⁡𝑦/𝑠, sehingga 𝐼 = 4𝐼0 𝑐𝑜𝑠 2 ( )
𝜆𝑠

Gambar 3-2. Iradiansi versus jarak dari sumbu optik untuk pola frinji celah ganda

Gambar 3-3. Komparasi intensitas interferensi beberapa celah


Gambar 3-4. Frinji interferensi terang dan gelap dihasilkan oleh cahaya dari dua sumber
koheren. Sepanjang arah dimana puncak (lingkaran tebal) dari S1 memotong puncak dari S2,
frinji terang (B). Sepanjang arah dimana puncak (lingkaran tebal) bertemu lembah (lingkaran
putus-putus), frinji gelap (D).