Anda di halaman 1dari 9

SKROFULODERMA

Referat

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas SMF Ilmu Kesehatan kulit dan kelamin
Program Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Bandung

Disusun oleh :

Neneng Halimatusa’diah

12100116002

Preseptor :

Dr. Mahdar Johan, Sp,KK

SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNISBA
RSUD R.SYAMSUDIN S.H SUKABUMI
2016
SKROFULODERMA

 Definisi

Adalah bentuk klinis tuberkulosis kutis sekunder yang disebabkan oleh

Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis) dan Mycobacterium atipikal.

Timbulnya skrofuloderma akibat penjalaran perkontinuitatum dari organ di bawah

kulit yang telah di serang penyakit tuberkulosis, yang tersering berasal dari kelenjar getah

bening, sedi dan tulang

 Epidemioligi

Di Rumah Sakit Dr. Cipto mangunkusumo (RSCM) Skrofluroderma merupakan

bentuk yang tersering terdapat ( 84% ), umumnya terjadi pada anak – anak dan dewasa muda,

wanita lebih sering daripada pria.

 Etiologi

Penyebab utama mycobacterium tuberkulosis berjumlah 91,5% sisanya (8,5%) di

sebabkan oleh mycobacterium atypical

 Bakteriologi

M tuberculosis adalah bakteri Berbentuk badang, panjang 2 – 4/ dan lebar 0,3 – 1,5/ m, tahan

asam, tidak bergerak, tidak membentuk spora,aerob,dan suhu optimal pertumbuhan pada 370

C
 Tempat predileksi

Yaitu pada temapat – tempat yang banyak di dapati kelenjar getah bening ( KGB )

superfisialis yang tersering ialah pada leher kemudian di susun di ketiak, yang terjarang pada

lipatan paha

 Porte d’entree

- Di daerah leher pada tonsil atau paru

- Di ketiak pada apeks pleura

- Di lipatan paha pada ektremitas bawah

- Kadang kadang ke 3 tempat predileksi di serang langsung sekaligus yaitu pada leher,

ketiak dan lipatan paha

- Kemungkinan terjadi penyebaran secara hematogen

 Patogenesis

Penjalaran langsung ke kulit dari organ di bawah kulit yang telah di kenai penyakit

tuborkulosis.

 Susunan kelenjar getah bening


 Gambaran klinis

Biasanya mulai sebagai lifadenitis tuberkulosis, berupa pembesaran KGB tanpa tanda

– tanda radang akut, selain tumor. Mula – mula hanya beberapa KGB yang di serang, lalu

makin banyak dan sebagian berkonfluensi. Selain lifadenitis juga terdapat periadenitis yang

menyebabkan perlekatan KGB tersebut dengan jaringan di sekitarnya. Kemudian kelenjar –

kelenjar tersebut mengalami perlunakan tidak serentak, mengakibatkan konsistensinya kenyal


dan lunak ( abses dingin ). Abses dingin akan memecah dan membentuk fistel, kemudian

muara fistel meluas hingga menjadi ulkus, yang mempunyai sifat khas yakni bentuknya

memanjang dan tidak teratur, disekitarnya berwarna merah kebiru – biruan ( livid ), dinding

bergaung, jaringan granulasinya tertutup oleh pus seropurulen, jika mengering menjadi krusta

berwarna kuning. Uluk – ulkus tersebut dapat sembuh secara sepontan menjadi sikatriks –

sikatriks tang juga memanjang dan tidak teratur, kadang – kadang sikatriks tersebut terdapat

jembatan kulit ( skin bridge), bentunya seperti tali, yang kedua ujungnya melekat pada

sikatriks tersebut, hingga sonde dapat dimasukan.

Gambaran klinis bervariasi bergantung pada lamanya penyakit, jika penyakitnya telah

menahun, maka gambaran klinisnya lengkap, artinya terdapat semua kelainan yang telah

disebutkan, bila penyakitnya belum menahun maka sikatriks dan jembatan kulitnya belum

terbentuk.

Sebagai kesimpulan, maka pada skrofuloderma yang menahun akan di dapati kelainan

sebagai berikut : pembesaran banyak KGB dengan konsistensi kenyal, lunak tanpa tanda –

tanda radang akut lain, selain tumor, periadenitis, abses dan fistel multipel, ulkus – ulkus

dengan sifat yang khas, sikatrik – sikatriks yang memanjang dan tidak teratur, dan jembatan

kulit

Pada skrofuloderma di leher biasanya gambaran klinisnya khas, sehingga tidak perlu

diadakan diagnosis banding. Pada stadium limfadenitis tuberkulosis sukar di buat diagnosis

secara klinis, oleh karena itu biopsi kelenjar hendaknya dilakukan untuk membedakannya

dengan penyakit lain yang menyerang kelenjar getah bening, misalnya lifadenitis bakterial non

tuberkulosis, limfosarkoma, dan limfoma malignum.

Jika didaerah ketiak dibedakan dengan hidradenitis supurativa, yakni infeksi oleh

piokokus pada kelenjar apokrin. Penyakit tersebut bersifat akut disertai tanda –tanda radang

akut yang jelas, terdapat gejala konstitusi dan leukositosis.


Skrofuloderma di daerah lipatan paha kadang – kadang mirip penyakit venerik ialah

lifogranuloma venerum (LGV), perbedaan yang penting adalah pada LGV terdapat coitus

suspectus, disertai gejala konstitusi ( demam, malaise, artralgia ), dan terdapat kelima tanda

radang akut, lokalisasinya juga berbeda pada LGV yang tersering adalah KGB inguinal medial,

sedangkan pada skrofuloderma KGB inguinal lateral dan fewmoral. Pada setadium lanjut pada

LGV terdapat gejala bubo bertingkat yang berarti pembesaran KGB di inguinal edial dan fosa

iliaka, pada LGV test frei positif pada skrofuloderma tes tuberkulin positif

 Diagnosis

Pada tuberkulosis kutis LED meninggi tetapi peninggian LED ini lebih penting untuk

pengamatan hasil pengobatan dari pada untuk membantu diagnosis. Peninggian LED berarti

terjadi kerusakan jaringan.

Pemeriksaan bakteriologi terutama penting untuk menentukan etiologinya. Sebagai

pembantu diagnosis mempunyai arti yang kurang, karena hasilnya memerlukan waktu yang

lama ( 8 minggu untuk kultur dan binatang percoban)

Pemeriksaan histopatologi lebih penting dari pada pemeriksaan bakteriologik untuk

menegakan diagnosisi karena hasilnya cepat yakni dalam 1 minggu

Tes tuberkulin mempunyai arti pada usia 5 tahun kebawah dan jika positif hanya

berarti pernah atau sedag menderita tuberkulosis. Dan biopsi


 Penatalaksanaan

 Non medikamentosa

Keadaan umum di perbaiki misalnya keadaan gizi dan anemia

 Medikamentosa

Prinsip pengobatan sama dengan tuberkulosis paru, untuk mendapat hasil yang baik

hendaknya memperhatikan syarat berikut ini

1. Pengobatan harus dilakukan secara teratur tanpa terputus agar tidak cepat terjadi

resistensi

2. Pengobatan harus dalam kombinasi

Obat antituberkulosis yang ada di indonesia, cara pemberian dan efek sampingnya

Nama obat Dosis Cara pemberian Efek samping yang

utama

INH 5-10 mg/kg BB Per os dosisi tunggal Neuritis perifer

gangguan

Rifamfisin 10 mg/kg BB Per os dosis tunggal Gangguan hepar

Waktu lambung kosong

Pirazinamid 20 -35 mg/kgBB Per os dosis terbagi Gangguan hepar

Etambutol Bulan I/II 25 mg/kg Per os dosis tunggal Gangguan nerve 2

BB, berikutnya 15

mg/kg BB

Streptomisin 25 mg / kg BB IM Gangguan nerve VIII,

terutama cabang

vestibularis
Pada pengobatan tuberkulosis terdapat 2 tahapan ialah tahapan awal ( intensif) dan

tahapan lanjutan. Tujuan tahapan awal ialah membunuh kuman yang aktif membelah

sebanyak banyaknya dan secepat – cepatnya dengan obat yang bersifat bakterisidal. Tahapan

lanjutan dalah melalui kegiatan sterilisasi membunuh kuman yang tumbuh lambat. R dan H

disebut bakterisidal lengkap oleh karena kedua obat tersebut dapat memasuki seluruh

populasi kuman, masing – masing di beri nilai 1. Z dan S masing – masing hanya mendapat

nilai setengah karena Z hanya bekerja dalam lingkungan asam, sedangkan S dalam

lingkungan bebas.

Beberapa rejimen dapat di gunakan. Umumnya sebagai pengobatan tuberkulosis kutis

cukup di gunakan 3 atau 2 obat. Misalnya kombinasi 3 obat : H, R, Z.setelah 2 bulan Z di

hentikan. Rejimen tersebut sangat poten, sehingga masa pengobatan dapat di persingkat.

Karena obat tersebuut hepatotoksik, maka sebelum pengobatan di mulai di periksa dahulu

fungsi hepar ( SGOT, SGPT, dan fosfatase alkali ). Duaminggu setelah terapi diulang,

biasanya meninggi, dua minggu kemudian di periksa lagi. Bila tetap atau menurun,

pengobatan dilanjutkan, tetapi jika meninggi cara pengobatan di ubah, Z dihentikan, R

diberika seminggu 2 kali dengan dosis setiap kali 600 mg. Rejimen lain ialah kombinasi : H,

R dan E yang di berikan selama 2 bulan di lanjutkan dengan H dan R tanpa etambutol, jika

pasien kurang mampu terpaka di berikan 2 obat saja H dan R atau H dan etambutol, akan

tetapi waktu penyembuhan akan lebih lama, pada pengobatan tuberkulosis kutis, bila setelah

sebulan tidak tampak perbaikan harus di curigai telah terjadi resistensi dan dapat di berikan

obat lain.

 Prognosis

Pada umumnya selama pengobatan memenuhi syarat yang telah di sebutkan prognosis nya baik.
Daftar pustaka

1. Goldsmith LA, Katz SI, Glichrest BA, Paller AS, Leffel DJ, Wolff K. Fitzpatrick’s

dermatologi in general medicine. New York : McGraw-Hill medical; 2012

2. Menaldi SLS. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 7th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia; 2016

3. Skrofuloderma.Tersediadi: http://www.scribd.com/doc/58012392/skrofulo

derma

4. James WD, Berger T, Elston D. Andrew’ Disease of the skin : Clinical Dermatology.

Elsevier Health Sciences.2015

5. Coexistence of Tuberculosis Verucosa Cutis With Scrofuloderma, 2007. Available at :

http;//journals.tubitak.gov.tr/medical/issues/sag-08-38-5/sag-38-5-20-0712-27.pdf