Anda di halaman 1dari 27

contoh percakapan konseling TM I

di pagi hari ibu putri dan pak wanto keluar rumah menuju ke puskesmas terdekat.

Bu Putri : pagi bu bidan..


Bidan : eh bu putri, pak wanto, selamat pagi pak wanto bu putri (berjalan mendekati bu putri
dan pak wanto)
mari silahkan masuk..
Bu Putri : maksih bu, (masuk dan disusul pak wanto)
Pak Wanto : ayo bu (menuyusul bu putri)
Bidan : Bu, pak boleh saya tutup pintunya? supaya tak terganggu?
Bu Putri & Pak Wnto : silahkan bu...
Bidan : iya ( menutup pintu)(berjalan menuju meja bidan, dan duduk)
ada perlu apa ini bu?
Bu Putri : kali ini saya ingin periksa kehamilan saya bu bidan, ya kan pak?
Pak Wanto : iya bu (mengangguk)
Bidan : baiklah sambil kita bicara nanti, bapak & ibu silahkan bertanya bila kurang jelas dan
jangan sungkan untuk bercerita, karena cerita bapak & ibu akan terjaga kerahasiannya.
Pak Wanto : maksud bu bidan, dengan terjaga kerahasiannya, apa tha bu?
Bidan : maksud saya tidak akan bicara pada siapa pun, sudah menjadi hak bapak & ibu
mendapatkan konseling yang terjaga kerahasiaan nya.
Pak Wanto : oo.. gitu
Bidan : baiklah nah, sekarang mari kita membahas informasi yang benar dan bekerjasama untuk
memecahkan masalah yang ibu hadapi, apa yang bisa saya bantu bu ?
Bu Putri : aa.... begitu akhir-akhir ini saya sering mual dan muntah saya jadi malas untuk makan
karena melihat makanan saja rasa nya sudah mual bu bidan.
Bidan : o.. begitu mual dan muntah pada usia kehamilan muda sering terjadi bu Putri. kalau ibu
merasa mual saat memakan nasi , minggu ini di coba memakan selain nasi dulu ya bu ? jangan
sampai ibu tidak makan karena membahayakan kandungan ibu!
Bu Putri : iya ibu bidan , saya juga takut kalau nanti bayi saya kekurangan gizi. Tapi, bu bidan
apa benar kalau saya ngidam dan suami saya tidak bisa memberikan yang saya mau, nanti saat
bayi saya lahir, dia bisa ngences gitu ya bu bidan?
Bidan : begini bu putri, sebenarnya ngidam itu bukan keinginan dari bayi, itu hanya keinginan
ibu semata. nah kenapa bayi bisa ngences? itu karena saat hamil, ibu itu percaya bahwa ngidam
adalah keinginan bayi. jadi, bila ngidam itu tidak bida terlaksanakan ibu terus memikirkannya
dan itu akan berpengaruh pada janin.
Pak Wanto : jadi, kalo saya tidak bisa memberikan yang istri saya ngidamkan tidak berbahaya ya
bu bidan?
Bidan : saya senang Pak wanto bertanya, bapak tidak perlu kwatir selama bu putri yakin bahwa
itu bukan keinginan dari bayi dan jangan terlalu dipikirkan.
Bu Putri : iya bu bidan, lalu makanan apa yang harus saya konsumsi agar bayi saya sehat?
Bidan ; aaa... Bu putri harus banyak makan sayur-sayuran hijau, seperti bayam, buah-buahan,
kurangi makanan setengah matang, dan lebih baik hindari makanan yang mengandung bahan
pengawet dan mecin,karena dapat membayakan kandungan ibu.
Bu Putri : wa...bu bidan sepertinya menarik sekali yah, saya jadi lebih tau tentang kehamilan
saya
Bidan : baiklah kalau begitu saya akan periksa tekanan darah ibu dulu (memeriksa TD) ee...apa
ibu punya darah tinggi?
Bu Putri : alhamdulillah bu saya tidak punya darah tinggi
Bidan : bagaimana dengan yang lainnya? misalnya kencing manis, dan sakit kuning?
Bu putri ; wah...alhamdulillah bu saya tidak pernah mengalaminya (selesai diperiksa)
Bidan : baguslah kalau begitu (duduk kembali) hasil TD ibu juga bagus.
Bu Putri : alhamdulillah..
Tanda - Tanda Bahaya Kehamilan pada Ibu Hamil
Trimester 1,2,3

Kebutuhan Pengetahuan Tentang Tanda - Tanda Bahaya Kehamilan pada Ibu Hamil
Trimester 1,2,3

Tanda-tanda bahaya kehamilan adalah gejala yang menunjukkan bahwa ibu dan bayi
dalam keadaan bahaya kehamilan. Namun kehamilan yang normal dapat berubah
menjadi patologi. Salah satu asuhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk
menapis adanya risiko ini yaitu melakukan pendeteksian dini adanya komplikasi/
penyakit yang mungkin terjadi selama hamil muda.

Tanda-tanda bahaya kehamilan pada TM 1 yang perlu ibu ketahui yaitu

1) Mual muntah berlebihan

Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering
kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasa terjadi pada pagi hari, tetapi dapat
pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala–gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu
setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu.

Mual dan muntah terjadi pada 60-80 % primigravida dan 40-60 % multigravida. Satu
diantara seribu kehamilan, gejala–gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini
disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum.
Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian
gejala mual muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari-
hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk.Keadaan inilah disebut
hiperemisis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat
ringanya penyakit.

Mual muntah dapat diatasi dengan:


1. Makan sedikit tapi sering
2. Hindari makanan yang sulit dicerna dan berlemak
3. Jaga masukan cairan, karena cairan lebih mudah ditolelir daripada makanan
padat.
4. Selingi makanan berkuah dengan makanan kering. Makan hanya makanan
kering pada satu waktu makan, kemudian makanan berkuah pada waktu
berikutnya.
5. Jahe merupakan obat alami untuk mual. Cincang dan makan bersama sayuran
serta makanan lain.
6. Isap sepotong jeruk yang segara ketika merasa mual
7. Hindari hal–hal yang memicu mual, seperti bau, gerakan atau bunyi
8. Istirahat cukup
9. Hindari hal–hal yang membuat Anda berkeringat atau kepanasan, yang dapat
memicu rasa mual
Komplikasi jikaseseorangitumuntahterusmenerusadalah perdarahan pada retina yang
disebabkan oleh meningkatnya tekanan darah ketika penderita muntah.

2) Perdarahan pervaginam

Perdarahan yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 22 minggu. Pada masa
kehamilan muda, perdarahan pervaginam yang berhubungan dengan kehamilan dapat
berupa: abortus, kehamilan mola, kehamilan ektopik.

Penanganannya dapat berupa Siapkan fasilitas tindakan gawat darurat, lakukan


pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu, termasuk tanda vital (nadi, tekanan
darah, respirasi, dan temperatur). Jika dicurigai adanya syok, segera lakukan tindakan
meskipun tanda–tanda syok belum terlihat. Ingat bahwa saat melakukan evaluasi lebih
lanjut kondisi ibu dapat memburuk dengan cepat. Jika terjadi syok, sangat penting
untuk segera memulai penanganan syok, yaitu pasang infus dan berikan cairan
intravena. Lakukan restorasi cairan darah sesuai dengan keperluan. Perdarahan ringan
membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk membasahi pembalut atau kain
bersih. Perdarahan berat membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk
membasahi pembalut atau kain bersih.

Macam–macam perdarahan pervaginamyaitu:

1. Abortus

2. Kehamilan Mola

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan pada atau sebelum kehamilan tersebut
berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu hidup diluar kandungan.
Macam-macamabortusyaitu:

A. Abortus Imminens

Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, hasil konsepsi masih didalam uetrus dan tanpa adanya dilatasi
serviks.

Diagnosis abortus imminens ditentukan bila pada wanita hamil terjadi perdarahan
melalui ostium uteri eksternum, disertai mules-mules sedikit atau tidak sama sekali,
besarnya uterus sesuai dengan usia kehamilan, serviks belum membuka, dan tes
kehamilan positif.Penanganan: tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total,
jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan sek sual, jika: perdarahan
berhenti lakukan asuhan antenatal seperti biasa. Lakukan penilaian jika perdarahan
terjadi lagi.Perdarahan terus berlangsung nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG)
lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain.

B. Abortus Insipiens

Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20


minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi
masih dalam uterus. Rasa mules labih sering dan kuat, perdarahan
bertambah.Penanganannya: bila ada tanda–tanda syok maka atasi dulu dengan
pemberian cairan dan tranfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin
dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu beri obat–obat uterotonika dan
antibiotika.

C. Abortus Inkomplit

Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum
20 minggu dengan masih ada sisa teringgal didalam serviks. Pada pemeriksaan
vaginam, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam cavum uteri atau
kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.

Perdarahan yang terjadi pada abortus inkomplitus dapat banyak sekali, sehingga dapat
menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebwlum sisa hasil konsepsi
dikeluarkan. Apabila abortus inkomplitus disertai syok karena perdarahan, segera atasi
syok, setelah keadaan menbaik baru dilakukan pengeluaran sisa
konsepsi.Penanganannya: bila ada tanda–tanda syok maka atasi dulu dengan
pemberian cairan dan tranfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin
dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu beri obat–obat uterotonika dan
antibiotika.

D. Abortus komplit

Pada abortus kompletus semua hasill konsepsi sudah keluar, ditemukan perdarahan
sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah mulai mengecil.

Diagnosis dapat dipermudah bila hasil konsepsi yang telah keluar dapat diperiksa
apakah sudah keluar semua dengan lengkap. Penderita dengan abortus kompletus
tidak memerlukan pengobatan secara khusus, hanya apabila ditemukan anemia perlu
diberi sulfas ferrosus (tablet Fe) atau transfusi.

E. Missed abortion

Missed abortion adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada
dalamrahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Penanganan: berikan obat
dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau
tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuretase. Hendaknya juga diberikan uterotonika dan
antibiotika.

F. Kehamilan ektopik terganggu

Kehamilan ektopik terjadi bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dan tumbuh
diluar cavum uteri. Pada keadaan ini besar kemungkinan terjadi keadaan gawat.
Keadaan gawat ini dapat terjadi apabila kehamilan ektopik terganggu.

Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. Pada rubtur tuba,
nyeri perut bagian bawah terjadi terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya disertai
dengan perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk dalam keadaan
syok.

Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik


terganggu. Perdarahan yang berasal dari uterus biasanya tidak banyak dan berwarna
coklat tua. Pada kehamilan ektopik terganggu ditemukan bahwa usaha menggerakkan
serviks uteri menimbulkan rasa nyeri, demikian pula cavum Douglas menonjol dan
nyeri pada perabaan.

Kehamilan ektopik terganggu sangat bervariasi, dari yang klasik dengan gejala
perdarahan mendadak dalam rongga perut dan ditandai oleh abdomen akut sampai
gejala samar-samar, sehingga sulit membuat diagnosis.

2. KehamilanMola

Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tanpa janindan ditemukan
jaringan seperti buah anggur.

Secara makroskopik mola hidatidosa mudah dikela yaitu berupa gelembung-gelembung


putih, tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari beberapa
mm sampai 1-2 cm.

3) Hipertensi Gravidarum

Hipertensi dalam kehamilan

Gejala dan tanda yang Gejala dan tanda yang Diagnosis kemungkinan
selalu ada kadang-kadang ada

Tekana diastolik ≥ 90 Hipertensi kronik


mmHg pada kehamilan
< 20 minggu

Tekana diastolik 90-110 Hipertensi kronik


mmHg pada kehamilan dengan superimposed
< 20 minggu pre-eklamsia ringan

Protein urin < ++

Tekana diastolik 90-110 Hipertensi dalam


mmHg (2 ppengukuran
berjarak 4 jam) pada kehamilan
kehamilan > 20 minggu

Proteinurin -

Tekana diastolik 90-110 Pre-eklamsi ringan


mmHg (2 ppengukuran
berjarak 4 jam) pada
kehamilan > 20 minggu

Proteinurin ++

Tekana diastolok ≥ 110 Nyeri kepala (tidak Pre-eklamsi berat


mmhg pada kehamilan hilang dengan analgesik
> 20 minggu biasa)

Proteinurin ≥ +++ Penglihatan kabur

Oliguria (< 400ml/24


jam)

Nyeri abdomen atas


(epigastrium)

Edema paru

Kejang Koma Eklamsia

Tekanan diastolik ≥ 90 Sama seperti pre-


mmHg pada kehamilan eklamsi berat
> 20 minggu

Proteinurin ≥ ++

1) Nyeri Perut Bagian Bawah

Nyeri perut pada kehamilan 22 minggu atau kurang kemungkinan merupakan


gejala utama pada kehamilan ektopik atau abortus, dapat juga disebabkan oleh sebab
lain.
Nyeri perut bagian bawah dapat ditemukan pada Apendisitis, Peritonitis, Kista
ovarium, Sistitis, Pielonefritis akut, Peritonitis. Pada keadaan-keadaan tersebut, nyeri
perut mungkin disertai dengan berbagai gejala dan tanda, seperti di bawah ini.

- Kista Ovarium

+ Nyeri perut

+ Tumor adneksa pada periksa dalam

+ Massa tumor di perut bawah

+ Perdarahan vaginal ringan

- Apendisitis

+ Nyeri perut bawah

+ Demam

+ Nyeri lepas

+ Perut membengkak

+ Anoreksia

+ Mual/muntah

+ Ileus paralitik

+ Lekositosis

- Sistitis

+ Disuria

+ Sering berkemih

+ Nyeri perut

+ Nyeri retro/suprapubik

- Pielonefritis akut

+ Disuria

+ Demam tinggi/menggigil

+ Sering berkemih

+ Nyeri perut
+ Nyeri retro/suprapubik

+ Nyeri pinggang

+ Sakit di dada

+ Anoreksia

+ Mual/muntah

- Peritonitis

+ Demam

+ Nyeri perut bawah

+ Bising usus (-)

+ Nyeri lepas

+ Perut kembung

+ Anoreksia

+ Mual/muntah

+ Syok

1) Selaput Kelopak Mata Pucat

Anemia adalah masalah medis yang umum terjadi pada banyak wanita hamil. Jumlah
sel darah merah dalam keadaan rendah, kuantitas dari sel–sel ini tidak memadai
untukmemberikan oksigen yang dibutuhkan oleh bayi.

Anemia sering terjadi pada kehamilan karena volume darah meningkat kira–kira 50%
selama kehamilan. Darah terbuat dari cairan dan sel. Cairan tersebut biasanya
meningkat lebih cepat daripada sel- selnya. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan
hematokrit (volume, jumlah atau persen sel darah merah dalam darah). Penurunan ini
dapat mengakibatkan anemia.Penanganannya: anemia dapat ditangani dengan minum
tablet zat besi dan istirahat cukup.

Komplikasi anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh langsung terhadap janin


sedangkan komplikasi pada kehamilan trimester I yaitu anemia dapat menyebabkan
terjadinya missed abortion, kelainan kongenital, abortus/ keguguran.
Sebagian besar kematian ibu terjadi selama masa pasca salin.Oleh karena itu sangatlah
penting untuk membimbing para ibu dan keluarganya mengenai tanda-tanda bahaya
yang menandakan bahwa ia perlu segera mencari bantuan medis. Tanda-tandanya
antara lain:

· perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak

· pengeluaran sekret vagina yang baunya menusuk

· rasa sakit di bagian bawah abdomen/punggung

· sakit kepala hebat dan terus-menerus

· pembengkakan di wajah dan tangan

· demam,muntah,rasa sakit waktu berkemih

· payudara memerah,panas dan terasa sakit

Tanda-tanda yang dialamiibupada TM 2 yaitu:

1. Sakit kepala yang hebat

Sakit kepala yang bisa terjadi selama kehamilan, dan sering kali merupakan
ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit kepala yang menunjukan suatu
masalah serius dalam kehamilan adalah sakit kepala yang hebat, menetap dan tidak
hilang dengan beristirahat. Terkadang sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin
menemukan bahwa penglihatanya menjadi kabur atau terbayang. Hal ini merupakan
gejala dari pre-eklamsia dan jika tidak diatasi dapat menyebabkan kejang maternal,
stroke, koagulopati dan kematian. Penanganannya dengan:

Jika ibu tidak sadar atau kejang, segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan
siapkan fasilitas tindakan gawat daruratan.

Segera lakukan observasi terhadap keadaan umum termasuk tanda vital (nadi, tekanan
darah, dan pernafasan) sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari
pasien dan keluarganya.

Komplikasinyadapatberupa:
Nyeri kepala pada masa hamil dapat merupakan gejala pre-eklampsia, suatu penyakit
yang terjadi hanya pada wanita hamil, dan jika tidak diatasi dapat menyebabkan
kejang maternal, stroke, koagulopati dan kematian.

2. Penglihatan Kabur

Penglihatan menjadi kabur atau berbayang dapat disebabkan oleh sakit kepala yang
hebat, sehingga terjadi oedema pada otak dan meningkatkan resistensi otak yang
mempengaruhi sistem saraf pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri
kepala, kejang), dan gangguan penglihatan. Perubahan penglihatan atau pandangan
kabur, dapat menjadi tanda pre-eklampsia. Masalah visual yang mengidentifikasikan
keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual yang mendadak, misalnya
penglihatan kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot), berkunang-kunang.

Selain itu adanya skotama, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang
menujukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini
disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks
cerebri atau didalam retina (oedema retina dan spasme pembuluh darah).

Penanganan Umum

1. Jika tidak sadar atau kejang. Segera dilakukan mobilisasi seluruh tenaga yang
ada dan menyiapkan fasilitas tindakan gawat darurat.

Segera dilakukan penilaian terhadap keadaan umum termasuk tanda–tanda vital sambil
menanyakan riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya.

Komplikasi yang ditimbulkan antala lain kejang dan eklamsia

3. Bengkakpadawajah, kaki dantangan

Oedema ialah penimbunan cairan yang berlebih dalam jaringan tubuh, dan dapat
diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka.
Oedema pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga tidak
seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre-eklampsia. Hampir separuh dari ibu-
ibu akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya hilang setelah
beristirahat atau meninggikan kaki. Oedema yang mengkhawatirkan ialah oedema yang
muncul mendadak dan cenderung meluas. Oedema biasa menjadi menunjukkan adanya
masalah serius dengan tanda-tanda antara lain: jika muncul pada muka dan tangan,
bengkak tidak hilang setelah beristirahat, bengkak disertai dengan keluhan fisik
lainnya, seperti: sakit kepala yang hebat, pandangan mata kabur dll. Hal ini dapat
merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau pre-eklampsia.

Penanganan Umum

1. Istirahat cukup
2. Mengatur diet, yaitu meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung
protein dan mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat serta lemak.
3. Kalau keadaan memburuk namun memungkinkan dokter akan
mempertimbangkan untuk segera melahirkan bayi demi keselamatan ibu dan
bayi.(Hendrayani, 2009:3)
Komplikasi

Kondisi ibu disebabkan oleh kehamilan disebut dengan keracunan kehamilan dengan
tanda–tanda oedema (pembengkakan) terutama tampak pada tungkai dan muka,
tekanan darah tinggi dan dalam air seni terdapat zat putih telur pada pemeriksaan urin
dan laboratorium.

4. Gerakan Janin Berkurang

Ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah kehamilan 22 minggu atau selama
persalinan.

Penanganan Umum

1. Memberikan dukungan emosional pada ibu

2. Menilai denyut jantung janin (DJJ): a) Bila ibu mendapat sedative, tunggu
hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang; b) Bila DJJ tidak terdengar minta
beberapa orang mendengarkan menggunakan stetoskop Doppler. (Saifuddin, 2002 :
109)

Komplikasi

Komplikasi yang timbul adalah IUFD dan featal distress.

Tanda-tandabahaypadaibuhamil TM 3

1. Perdarahan pervaginam
Perdarahan pada kehamilan setelah 22 minggu sampai sebelum bayi dilahirkan disebut
sebagai perdarahan pada kehamilan lanjut atau perdarahan antepartum.

Gejala dan tanda Faktor predisposisi Penyulit lain Diagnosis


utama

Perdarahan tanpa Grande multipara Syok Plasenta previa


nyeri, usia gestasi
>22 minggu Aperdarhan setelah
koitus
Darah segar atau
kehitaman dengan Tidak ada kontraksi
bekuan uterus

Perdarahan dapat Bagian terndah


terjadi setelah janin tidak masuk
miksi atau PAP
defekasi, aktivitas
Kondisi janin
fisik, kontraksi
normal atau terjadi
koitus
gawat janin

Perdarahan dengan Hipertensi Syok yang tidak Solusio plasenta


nyeri intermitten sesuai dengan
atau menetap Versi luar jumlah darah yang
keluar
Warna darah Trauma abdomen
kehitaman dan cair Anemia berat
Poligidramnion
tetapi mungkin ada
bekuan jika solisio Melemah atau
Gemelli
relatif baru hilangnya gerakan
Defisiensi gizi janin
Jika ostium terbuka
terjadi perdarahan Gawat janin atau
warna merah segar hilangnya denyut
jantung janin

Uterus tegang dan


nyeri
1. Solusio Plasenta

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri
sebelum janin lahir. Biasanya terjadi pada trimester ketiga, walaupun dapat pula terjadi
setiap saat dalam kehamilan. Kehamilan dapat lepas sebagian atau seluruhnya. Bila
plasenta yang terlepas seluruhnya disebut solusio plasenta totalis. Bila hanya sebagian
disebut solusio plasenta parsialis atau bisa juga hanya sebagian kecil pinggir plasenta
yang lepas disebut rupture sinus marginalis.

Perdarahan yang terjadi karena lepasnya plasenta ini dapat mengalir keluar yaitu pada solusio plasenta dengan
perdarahan keluar. Sedangkan pada solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi dibelakang plasenta.
Dapat pula terjadi kedua-duanya atau perdarahanya menembus selaput ketuban masuk kedalam kantung
ketuban.

2. Plasenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi
sebagian atau seluruhnya pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak pada bagian atas uterus

Plasenta dapat menutupi seluruhnya pembukaan jalan lahir yang disebut plasenta previa totalis, apabila
sebagian jalan lahir yang tertutup jaringan plasenta maka disebut plasenta previa parsialis. Sedangkan apabila
pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan disebut plasenta previa marginalis.

Penyebab utama pada perdarahan antepartum adalah solusio plasenta dan plasenta previa. Selain kedua
penyebab utama tersebut, perdarahan pada kehamilan lanjut dapat pula disebabkan oleh hal lain misalnya
ruptur uteri atau gangguan pembekuan darah.

Gejala dan tanda Faktor predisposisi Penyulit lain Diagnosis


utama

Perdarahan intra Riwayat SC Syok atau Rupture uteri


abdominal dan atau takhikardia
vaginal Partus lama atau
kasep Adanya cairan
Nyeri hebat sebelum bebas intra
perdarahan dan syok Disproporsi kepala abdominal
yang kemudian hilang
Kelainan Hilangnya gerak
setelah terjadi
letak/presentasi dan DJJ
regangan hebat pada
perut bawah Persalinan Bentuk uterus
traumatik abnormal atau
kontumnya tidak
jelas

Nyeri raba atau


tekan diding perut
dan bagian janin
mudah dipalpasi

Perdarahan berwarna Solusio plasenta Perdarahan gusi Gangguan


merah segar penbekuan darah
Janin mati dalam Gambaran memar
Uji pembekuan darah rahim bawah kulit
tidak menunjukkan
adanya bekuan darah Eklampsia Perdarahan dari
setelah 7 menit tempat suntikan
Emboli air ketuban dan jarum infuse
Rendahnya faktor
pembekuan darah,
fibrinogen, trombosit,
fragmentasi sel darah
merah

Keluar cairan pervaginam

Pengeluaran cairan pervaginam pada kehamilan lanjut merupakan kemungkinan


mulainya persalinan lebih awal. Bila pengeluaran berupa mucus bercampur darah dan
mungkin disertai mules, kemungkinan persalinan akan dimulai lebih awal. Bila
pengeluaran berupa cairan, perlu diwaspadai terjadinya ketuban pecah dini (KPD).
Untuk menegakkan diagnosis KPD perlu diperiksa apakah cairan yang keluar tersebut
adalah cairan ketuban. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan speculum untuk
melihat darimana asal cairan, kemudian pemeriksaan reaksi pH basa.

2. Gerakan janin tidak terasa

Apabila ibu hamil tidak merasakan gerakan janin sesudah usia kehamilan 22 minggu
atau selama persalinan, maka waspada terhadap kemungkinan gawat janin atau
bahkan kematian janin dalam uterus.Gerakan janin berkurang atau bahkan hilang
dapat terjadi pada solusio plasenta dan ruptur uteri.
Menurut Sadovsky jumlah rata-rata pergerakan fetus perminggu adalah 50-950
gerakan. Variasi hariannya yang paling rendah adalah 4-10 per 12 jam pada kehamilan
normal.

Gejala dan tanda yang selalu Gejala dan tanda yang Diagnosis kemungkinan
ada kadang ada

Gerakan janin berkurang Syok Solusio placenta


atau hilang
Uterus tegang atau kaku
Nyeri perut hilang timbul
atau menetap Gawat janin atau DJJ
tidak terdengar
Perdarahan pervaginam
sesudah 22 minggu

Gerakan janin berkurang Cairan ketuban Gawat janin


atau hilang bercampur dengan
mekonium
DJJ abnormal (<100/menit
atau >180/menit)

Gerakan janin/DJJ hilang Tanda-tanda kehamilan Kematian janin


berhenti

Tinggi fundus uteri


berkurang

Pembesaran uterus
berkurang

Gerakan janin dan DJJ Syok Rupture uteri


tidak ada
Perut kembung atau
Perdarahan cairan bebas intra
abdominal
Nyeri perut hebat
Kontur uterus abdominal

Abdomen nyeri

Bagian-bagian janin
teraba

Denyut nadi ibu cepat


6. Nyeri perut yang hebat

Nyeri perut kemungkinan tanda persalinan preterm, ruptur uteri, solusio plasenta. Nyeri
perut hebat dapat terjadi pada ruptur uteri disertai shock, perdarahan intra abdomen
dan atau pervaginam, kontur uterus yang abnormal, serta gawat janin atau DJJ tidak
ada.

7. Keluar Air Ketuban Sebelum Waktunya

1. Keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan 22 minggu, ketuban
dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum
kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm.Penangannaumum:
2. Konfirmasi usia kehamilan, kalau ada dengan USG
3. Dilakukan pemeriksaan inspekulo (dengan speculum DTT) untuk menilai cairan
yang keluar (jumlah, warna,bau) dan membedakan dengan urin.
4. Jika ibu mengeluh perdarahan akhir kehamilan (setelah 22 minggu), jangan
lakukan pemeriksaan dalam secara digital.
5. Mengobservasi tidak ada infeksi
6. Mengobservasi tanda–tanda inpartu (Saifuddin, 2002: 112)
Komplikasi

 Perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusio plasenta


 Tanda–tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau)
 Jika terdapat his dan darah lendir, kemungkinan terjadi persalinan preterm
8. Kejang

Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya keadaan dan terjadinya
gejala–gejala sakit kepala, mual, nyeri ulu hati sehingga muntah. Bila semakin berat,
penglihatan semakin kabur, kesadaran menurun kemudian kejang. Kejang dalam
kehamilan dapat merupakan gejala dari eklamsia. Penanganan umum:
1. Baringkan pada sisi kiri tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit untuk
mengurangi kemungkinan aspirasi secret, muntahan, atau darah

2. Bebaskan jalan nafas

3. Hindari jatuhnya pasien dari tempat tidur


4. Lakukan pengawasan ketat

Komplikasi

Komplikasi yang dapat timbul antara lain: syok, eklamsia, hipertensi, proteinuria

9. Demam Tinggi

Ibu hamil menderita deman dengan suhu tubuh lebih 38° C dalam kehamilan
merupakan suatu masalah. Demam tinggi dapat merupakan gejala adanya infeksi
dalam kehamilan.Penanganan umum: demam tinggi dapat ditangani dengan: istirahat
baring, minum banyak, kompres untuk menurunkan suhu.

Komplikasi yang ditimbulkan akibat mengalami demam tinggi antara lain: sistitis
(infeksi kandung kencing), pielonefritis Akut (infeksi saluran kemih atas).

B. Kebutuhan Kunjungan Ibu Hamil Pada Trimester 1,2,3

Kebutuhan kunjungan pada ibu hamil ada 2 yaitu kunjungan awal ibu hamil dan
kunjungan ulang ibu hamil.

1) Kunjungan awal ibu hamil, hal ini penting bagi ibu karena pada kunjungan awal ibu
digunakan untuk mendetekasi atau memastikan apakah ibu itu benar hamil atau tidak.
Dalam kunjungan awal ini biasanya ibu ditemani dengan suami dan ibu dalam
melakukan kunjungan awal ini sudah mengalami tanda-tanda bahwa ia sedang hamil,
seperti mual, muntah, badan menjadi lemas, pusing, dll.

2) Kunjungan ulang ibu hamil, hal ini digunakan untuk memeriksa dan memantau
perkembangan janin yang ada dalam kandungan ibu. Kunjungan ulang ini dilakukan
minimal 4 kali dalam masa kehamilan yaitu 1kali pada TM 1, 1kali pada TM 2 dan 2kali
pada TM 3. Tapibagiibu yang mempunyai keuangan mapan dapat memeriksakan
kehamilannya 1x dalam sebulan sampai usia kehamilan 28 minggu, memeriksakan
kehamilannya 2x dalam sebulan antara usia kehamilan 28-36 minggu dan jika sudah
memasuki usia kehamilan 36 minggu sampai kelahiran ibu dapat memeriksakan
kehamilannya 4x dalam sebulan.
PEMERIKSAAN PADA KUNJUNGAN IBU HAMIL

Pemeriksaan fisik Pemeriksaan Pemeriksaan Riwayat kehamilan


laboratorium panggul

BB, TTV Protein urin Pelvimetri klinik Gerakan janin

Leopold HB VT Masalah atau


tanda bahaya

Reflek Glukosa Keluhan dan


kekhawatiran

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat kunjungan ibu hamil yaitu:

1. Dari pihak ibu:

1) Tekanan darah

2) BB

3) Gejala atau tanda seperti sakit kepala, perubahan visus, sakit abdomen, nausea,
muntah, perdarahan, disuria, air ketuban pecah, dll.

a. TFU

b. Keadaan serviks

c. Ukuran pelvis

2. Dari pihak janin:

1) DJJ

2) Ukuran janin (TBJ, taksiran berat janin)

3) Letak dan presentasi, masuknya kepala

4) Kembar atau tunggal

3. Laboratorium:

1) Hb

2) STS pada trimester 1,2,3


3) Kultur untuk gonokokus

4) Protein dalam urin bila diperlukan.

DIAGNOSIS

Kehamilan Normal adalah kehamilan dimana ibu dalam keadaan sehat, tidak ada
riwayat obstetric buruk, ukuran uterus sama/sesuai usia kehamilan serta hasil
pemeriksaan fisik dan laboratorium normal.

Untuk kategori kehamilan dengan masalah khusus memiliki gambaran seperti masalah
keluarga atau psikososial, kekerasan dalam rumah tangga dan kebutuhan finansial.

Kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi


dan atau kerjasama penanganannya seperti hipertensi, anemia berat, preeklampsia,
pertumbuhan janin terhambat, infeksi saluran kemih, penyakit kelamin dan kondisi-
kondisi lain yang dapat memburuk selama kehamilan.

Kehamilan dengan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan rujukan segera


misalnya perdarahan, eklampsia, ketuban pecah dini, atau kondisi-kondisi
kegawatdaruratan lain pada ibu dan bayi.

Materi Konseling
Tanda Bahaya Kehamilan Dan Pre Eklamsi Berat

A. Tanda Bahaya Kehamilan


1. Pengertian
Tanda bahaya kehamilan adalah suatu kehamilan yang memiliki suatu tanda bahaya atau
resiko lebih besar dan biasanya (baik bagi ibu atau bayinya), akan terjadi penyakit atau kematian
sebelum maupun sesudah persalinan (Tiran, 2007).

2. Macam-macam Tanda Bahaya Kehamilan


a. Perdarahan pervaginam
Perdarahan pervaginam dalam kehamilan adalah cukup normal. Pada masa awal
kehamilan, ibu akan mengalami perdarahan yang sedikit (spotting) di sekitar waktu terlambat
haid. Perdarahan ini adalah perdarahan implantasi dan normal, perdarahan kecil dalam
kehamilan adalah pertanda dari “Friabel cerviks”.
Perdarahan semacam ini mungkin normal atau mungkin suatu tanda adanya infeksi. Jika
terjadi perdarahan yang lebih (tidak normal) yang menimbulkan rasa sakit pada ibu. Perdarahan
ini bisa berarti aborsi, kehamilan mola atau kehamilan ektopik. Pada akhir kehamilan,
perdarahan yang tidak normal adalah merah, banyak dan kadang-kadang tetapi tidak disertai
dengan rasa nyeri.
b. Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala selama kehamilan adalah umum dan sering kali merupakan ketidaknyaman
yang normal dalam kehamilan. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah
sakit kepala yang hebat yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat.
Kadang-kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa
penglihatannya menjadi kabur atau berbayangan. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan
adalah gejala dari preeklamsi. Sakit kepala sering dirasakan pada awal kehamilan dan umumnya
disebabkan oleh peregangan pembuluh darah diotak akibat hormon kehamilan khususnya
hormon progesteron. Jika ibu hamil merasa lelah, pusing atau tertekan atau pandangan mata
bermasalah, sakit kepala akan sering terjadi atau makin parah, jika sebelumnya menderita
migrain kondisi ini dapat semakin bermasalah selama 3 sampai 4 bulan pertama kehamilan.
c. Bengkak pada muka dan tangan
Hampir separuh dari ibu-ibu akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang
biasanya muncul pada sore hari dan biasanya hilang setelah beristirahat atau meletakkan lebih
tinggi. Bengkak bisa menunjukkan adanya masalah serius jika muncul pada muka dan tangan
tidak hilang setelah beristirahat dan diikuti dengan keluhan fisik yang lain. Hal ini bisa
merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau preeklamsi.
Sistem kerja ginjal yang tidak optimal pada wanita hamil mempengaruhi sistem kerja tubuh
sehingga menghasilkan kelebihan cairan. Ini dapat terlihat setelah kelahiran, jika pergelangan
kaki yang bengkak secara temporer semakin parah. Ini dikarenakan jaringan tambahan yang
diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan tidak lagi
dibutuhkan dan akan dibuang setelah sebelumnya diproses oleh ginjal menjadi urin. Oleh karena
ginjal belum mampu bekerja secara optimal, kelebihan cairan yang menumpuk dihasilkan
disekitar pembuluh darah hingga ginjal mampu memprosesnya lebih lanjut.
Terkadang bengkak membuat kulit di kaki dibagian bawah merenggang, terlihat mengkilat,
tegang dan sangat tidak nyaman. Bengkak pada muka yang disertai dengan peningkatan tekanan
darah dapat diindikasikan terjadinya Pre Eklamsi. Di Indonesia preeklamsia - eklamsia masih
merupakan penyebab utama kematian maternal dan kematian perinatal yang tinggi. Karena itu,
diagnosisi dini preeklamsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklamsia, serta penanganannya
perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan anak.
Preeklampsia - Eklampsia adalah penyakit pada wanita hamil, yang secara langsung
disebabkan oleh kehamilan. Preeklamsia adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema, akibat
kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat
timbul sebelum 20 minggu. Eklamsia adalah timbulnya kejang pada penderita preeklamsia, yang
disusul dengan koma. Kejang di sini bukan akibat kelainan neurologis.
1) Preeklamsia dan Eklamsia
a) Penanganan Umum
Segera rawat penderita dan lakukan pemeriksaan klinis terhadap keadaan umum, sambil
mencari tahu riwayat kesehatan sekarang dan terdahulu pasien atau keluarganya. Jika pasien
tidak bernafas, bebaskan jalan nafas, berikan O2 dengan sungkup dan lakukan intubasi jika perlu.
Jika pasien kehilangan kesadaran/koma, bebaskan jalan nafas, baringkan pada satu sisi, ukur
suhu dan periksa apakah ada kaku kuduk.
b) Jika pasien kejang (eklamsia)
Baringkan pada satu sisi, tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit untuk mengurangi
kemungkinan aspirasi sekret, muntahan atau darah, bebaskan jalan nafas. Pasang spatel lidah,
untuk menghindari tergigitnya lidah. Fiksasi untuk menghindari pasien jatuh dari tempat tidur.

2) Preeklampsia berat dan Eklampsia


a) Penanganan preeklampsia berat dan eklamsia sama, kecuali persalinan harus berlangsung dalam
6 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.
Penanganan kejang :
(1.) Beri obat kejang (antikonvulsan).
(2.) Perlangkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, pengisap lendir, masker oksigen dan
oksigen).
(3.) Lindungi pasien dari kemungkinan trauma.
(4.) Aspirasi mulut dan tenggorokan.
(5.) Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi tradelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi.
(6.) Berikan O2 4-6 liter/menit.
b) Penanganan umum
Jika tekanan diastolik >110 mmHg, berikan obat anti hipertensi sampai tekanan diastolik
antara 90-100 mm/Hg. Pasang infus ringer laktat dengan jarum besar nomor 16 atau lebih. Ukur
keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload. Kateterisasi urin untuk mengukur volum
dan pemeriksaan proteinuria. Infus cairan dipertahankan 1,5-2 liter/24 jam.
Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian
ibu dan janin. Observasi tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap 1 jam. Auskultasi
paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi merupakan tanda-tanda edema paru. Jika
ada edema paru, hentikan pemberian cairan dan berikan diuretic (misalnya furosemid 40 mg IV).
Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan. Jika pembekuan tidak terjadi setelah 7 menit,
kemungkinan terjadi koagulopati.

(1.) Persalinan
Pada preeklamsia berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam. Sedangkan pada eklamsia,
persalinan harus terjadi dalam 6 jam sejak eklamsia timbul. Jika terjadi gawat janin atau
persalinan tidak dapat terjadi dalam 12 jam (pada eklamsia), lakukan operasi Caesar. Jika bedah
akan dilakukan, beberapa hal harus diperhatikan :
 Tidak terdapat koagulopati. Koagulopati berkontraindikasi dengan anestesi spinal.
 Anestesi yang aman/terpilih adalah anestesi umum untuk eklamsia dan spinal untuk PEB.
Dilakukan anestesi lokal bila risiko anestesi terlalu tinggi.
 Jika serviks telah mengalami pematangan, lakukan induksi dengan oksitosin 2-5 IU dalam
dextrose 10 tetes/menit atau dengan cara pemberian prostaglandin/misoprostol.
(2.) Perawatan Post Partum
Antikonvulsan diteruskan sampai 24 jam post partum atau kejang yang terakhir. Teruskan
terapi hipertensi, jika tekanan diastolik masih > 90 mmHg. Lakukan pemantauan jumlah urin.
Pada kasus preeklampsia berat, di masa setelah kelahiran dapat terjadi eklampsia. Dilaporkan
lebih dari 44% eklamsia dapat terjadi, terutama pada wanita yang melahirkan pada usia
kehamilan aterm. Wanita yang timbul hipertensi atau gejala preeklamsia setelah kehamilan (sakit
kepala, gangguan penglihatan, mual dan muntah, nyeri epigastrum), sebaiknya dirujuk ke
spesialis.
Wanita dengan kelahiran yang disertai preeklampsia berat (atau eklampsia), sebaiknya
dilakukan pemantauan dengan optimal pasca melahirkan. Dilaporkan dapat terjadi eklampsia
setelah minggu ke-4. Terapi anti-hipertensi sebaiknya tetap dilanjutkan pasca kehamilan. Walau
pada awalnya tekanan darah turun, biasanya akan kembali naik kurang lebih 24 jam setelah
kehamilan. Pengurangan terapi anti-hipertensi, sebaiknya dilakukan secara berjenjang.
Cortikosteroid digunakan pada pasien dengan sindrom HELLP. Hasil penelitian terbaru
memperkirakan,corticosteroid dapat memicu perbaikan gangguan biokimia
dan menatology secara cepat. Tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan kortikosteroid dapat
menurunkan morbiditas.
d) Rujukan
Rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap jika :
1) Terdapat oliguria (<400ml/24 jam).
2) Terdapat sindrom HELLP.
3) Koma berlanjut lebih dari 24 jam setelah kejang.
e) Antikonvulsan
Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada
preeklamsia dan eklamsia. Alternative lain adalah diazepam dengan risiko terjadinya depresi
neonatal.
Magnesium sulfat untuk preeklamsia dan eklamsia :
1. Dosis awal adalah 4 gram intravena sebagai larutan 40% selama 5 menit.
2. Diikuti dengan MgSO4 (40%) 5g IM dengan iml Lignokain (dalam semprit yang sama)
3. Sebelum pemberian MgSO4 ulangan, lakukan pemeriksaan :
a. Frekuensi pernafasan minimal 16 kali/menit
b. Ada reflek patella
c. Urin minimal 30ml/jam dalam 4 jam terakhir
d. Frekuensi pernafasan < 16 kali/menit
e. Cara pemberian MgSO4 IV/drip ialah :
f. Setelah pemberian dosis awal, diberikan 12 gram dalam 500 ml RL dengan tetes 15/menit (2
gram/jam).
g. Reflex patella tidak ada, bradipnea (16 kali/menit)
h. Urin < 30ml/jam pada hari ke 2
4. Hentikan pemberian MgSO4, jika :
a. Terjadi henti nafas bantu pernafasan dengan ventilator
b. Beri kalsium glukonas 2 gram (20ml dalam larutan 10%) IV. Perlahan-lahan samapai pernafasan
mulai lagi.
f) Diazepam untuk Preeklamsia dan Eklamsia
1. Dosis awal adalah 10mg IV. Diberikan secara perlahan selama 2 menit. Jika kejang berulang,
ulangi pemberian sesuai dosis awal.
2. Dosis pemeliharaan adalah 40 mg dalam 500 ml larutan ringer laktat melalui infus. Depresi
pernafasan ibu baru mungkin terjadi bila dosis 30 mg/jam. Jangan berikan melebihi 100 mg/jam.
g) Anti Hipertensi
Pemberian antihipertensi sebaiknya dimulai pada wanita dengan tekanan darah sistolik lebih dari
160 mmHg, atau tekanan darah diastolik lebih dari 110 mmHg. Pemberian labetalol secara oral
atau intravena, nifedipine secara oral atau intravena hydralazinedapat lakukan untuk
menatalaksana hipertensi berat. Ada konsensus bersama, bila tekanan darah lebih dari 170/110
mmHg, lakukan penanganan terhadap tekanan darah ibu. Obat terpilih yang digunakan adalah
labetalol, nifedipine, atau hydralazine.
Labetalol memiliki keuntungan dapat diberikan awal lewat mulut, pada kasus hipertensi
berat dan jika diperlukan, bisa secara intravena. Terdapat konsensus, bila tekanan darah dibawah
160/100, tidak dibutuhkan secara mendesak pemberian terapi anti hipertensi. Terdapat
perkecualian, bila ditemukan indikasi untuk penyakit dengan gejala yang yang lebih berat, yakni
protenuria berat atau gangguan hari, atau hasil tes darah. Pada kondisi demikian, peningkatan
tekanan darah dapat diantisipasi, dengan terapi antihipertensi pada level tekanan darah yang
lebih rendah yang telah disesuaikan.
d. Nyeri abdomen yang kuat
Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan normal adalah tidak normal.
Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah
yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat. Hal ini bisa berarti apendixitis,
kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang pelviks, persalinan preterm, gastritis, penyakit
kantong empedu, iritasi uterus, abrupsi plasenta, infeksi saluran kemih atau infeksi lain.
e. Bayi kurang bergerak seperti biasa
Ibu mulai merasakan gerakan bayinya selama bulan ke-5 atau ke-6, beberapa ibu dapat
merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi tidur, gerakkannya akan melemah. Bayi harus
bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam. Gerakkan bayi akan mudah lebih mudah
terasa jika berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik. apabila ibu
tidak merasakan gerakan bayi seperti biasa dapat dikarenakan oleh aktivitas ibu yang berlebihan,
keadaan psikologis ibu maupun kecelakaan sehingga aktivitas bayi didalam rahim tidak seperti
biasanya.

3. Pencegahan Tanda Bahaya Kehamilan


a. Mengenal dan mengetahui ibu yang termasuk dalam kondisi yang mengalami tanda bahaya
dengan adanya pengetahuan ibu sehingga dapat dilakukan rujukan tempat fasilitas yang lebih
baik (rumah sakit).
b. Meningkatkan mutu perinatal care.
c. Menganjurkan setiap ibu hamil kontrol ke BKIA.
d. Penyuluhan oleh bidan desa terhadap kesehatan ibu, bayi serta penyakit yang dapat diderita oleh
ibu selama kehamilan secara aktif.
e. Bidan desa harus bertempat tinggal di desa yang ditugaskan yang merupakan ujung tombak
tentang kesehatan ibu di desa yang ditempatinya.
f. Dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke posyandu, puskesmas, rumah
sakit, paling sedikit 4 kali selama kehamilan.
g. Dengan mendapatkan imunisasi TT 2 kali.
h. Bila ditemukan kelainan saat pemeriksaan harus lebih sering intensif.
i. Makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna (Rachmat, 2007)

4 B. Kiomplikasi Tanda Bahaya Kehamilan


a. Perdarahan
Penyebab perdarahan paling sering pada Trimester ketiga adalah :
1) Kelainan letak plasenta
2) Pelepasan plasenta sebelum waktunya
3) Penyakit pada vagina atau leher rahim misalnya infeksi. Perdarahan pada Trimester ketiga
memiliki resiko terjadinya kematian bayi, perdarahan hebat dan kematian ibu pada saat
persalinan. untuk menentukan penyebab terjadinya perdarahan bisa dilakukan pemeriksaan USG,
pengamatan leher rahim dan papsmear.
b. Persalinan Prematur lebih mungkin terjadi pada keadaan berikut :
1) Ibu memiliki kelainan struktur pada rahim atau leher rahim.
2) Perdarahan
3) Stres fisik atau mental
4) Kehamilan ganda
5) Ibu pernah mengalami perdarahan rahim
c. Bayi lahir cukup bulan
d. Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
e. Keguguran (abortus)
f. Persalinan tidak lancar/macet
g. Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan
h. Janin mati dalam kandungan
i. Ibu hamil/bersalin meninggal dunia
j. Keracunan kehamilan/kejang – kejang (Firdaus, 2006 ).