Anda di halaman 1dari 4

Cerpen

Lentera Kasih

Dewi termenung. Ada sesuatu yang menggeluti benaknya. Tiba-tiba HP nya


berdering. Ada berita dari adiknya, Shinta di Yogya. Berita itu mengabarkan bahwa Rinto,
pacar kakaknya. Mengalami kecelakaan berat. Sekarang ada di Rumah Sakit.

Membaca berta itu. Dewi merasa gugup. Antara percaya dan tidak. Sebab, sudah lama
adiknya tidak menceritakan apa-apa. Barang kali khawatir akan menggangu pikiran
kakaknya. Shinta tahu hubungan kakaknya dengan Rinto tidak harmonis lagi. Sekarang ada
berita baru, Rinto kecelakaan.jantung Dewi berdebar-debar. Luka hati yang hampir kering.
Kini terusik kembali yang menorehkan luka yang amat dalam Dewi tidak tahu apa yang harus
dilakukan.

Menjawab beritapun tidak terlintas dalam benaknya. Yang ada gugup seperti ini.
Kegugupan, kecemasan bisa terjadi pada siapapun. Apa lagi diantara kedua remaja itu ada
hubungan bathin. Hubungan cinta meski sedang dilanda cobaan.

Dewi berusaha menguasai gejolak persaannya. Lalu ia meneguk segelas air puith.
Dan menghela nafas panjang. Setelah dirasakan debar jantungnya mulai reda.

Lalu duduk di bibir ranjang. Bola matanya menatap ke langit-langit kamar. Ia


berharap langit-langit itu dapat memberi inspirasi dan solusi. Namun, harapan tinggal
harapan kosong. Langit-langit diam membisu. Hanya daun di luar kamarnya yang bergoyang
terbesit angin. Kembali Dewi berdesah. Heem...................

.................................

Beroda

manakala orang merasa bahagia karena segala sesuatu yang diharap terpenuhi.
Bisanya orang akan lupa. Bahwa apa yang ia peroleh itu sebenarnya karena belas kasih
Tuhan. Sebaliknya, orang yang hidupnya kekurangan, menderita. Orang tersebut dekat
dengan yang maha Pencipta. Dewi menyadari akan hal itu, kemudian ia bersimpuh di kaki
Tuhan serta berdoa “Ya Tuhan Maha Pengasih. Berikan hamba kekuatan serta kemampuan.
Sebenarnya hamba ingin memaafkan orang yang telah melukai hati hamba. Tetapi, hati
hamba keras bagai batu cadas. Sebaliknya hamba membenci. Tolong ya Tuhan berikan
hamba Roh kebaikan, Roh kebijaksanaan. Berfirmanlah............”

Namun, Tuhan tidak segera menjawab meski Tuhan mendengar permohonannya.


Dewi kurang menyadari keberadaan Tuhan. Kehendak Tuhan bukan kehendak manusia.
Tetapi kehedak manusia di dengar Nya.

Dewi merasa doanya tidak didengar . bahkan merasa doa permohonannya sia-sia
belaka. Lalu Dewi mengumpat Rinto. “Ah, persetan kau Rinto......... kau sendiri yang berbuat.
Kaulah yang harus menanggungnya. Bukan aku”. Umpatan Dewi bukan saja dilontarkan
pada Rinto. Juga pada adiknya yang memberi kabar sebagai penyebab kegundahan baru.

Hari minggu Dewi ke gereja. Selesai misa ia mengajar anak-anak Sekolah Minggu.
Sebenarya ia enggan ke gereja. Tiap hari itu adalah tugasnya. Anak-anak menyanyikan lagu
yang indah.

Mengampuni, mengampuni lebih sungguh Tuhan mengampuni lebih ....... kepadaku.


Mengampuni lebih sungguh .......

Dewi merasakan keanehan pada suara-suraa bening anak-anak sekolah minggu yang
menyanyikan lagu itu. Sepertinya semua anak memandang ....... kepadanya dan menghujam
tepat di kedua bola matanya. Dasar munafik!. Dewi kakinya gemetar , ia berusaha menguasai
diri. Mencoba menepis halusinasinya. Ah..... mungkin perasaanku saja.

Lalu, mengajak anak-anak untuk berdoa guna mengakhiri pertemuan pagi. Aneh, lagi-
lagi ia merasa berdosa dan doanya terasa hampa dan tidak mengerti apa saja yang diucapkan
dalam doanya.

Ruang kelas sudah lengang. Anak-anak sudah pulang ke rumah. Hanya Dewi yang
masih tinggal sendirian. Sepi, tidak seperti hari-hari biasa. Menakutkan.

Dalam ketegangan bathin suara anak-anak kembali mengiang di telinga. Juga bayang
wajah anak-anak yang secara bersama-sama menuding telunjuk mereka. Munafik. Hentikan
sandiwaramu. Suara itu terasa menggema dalam kelas. Dewi merasa cemas. Ia menutup
telinga dengan kedua tangannya. Ia diburu rasa bersalah pada anak-anak didiknya. Dan
merasa berdosa pada Tuhan. Ia telah menempatkan diri sebagai tokoh yang hebat. Anak-anak
dibuat kagum akan kata-katanya mengenai perumpamaan pengampunan. Tentang kasih,
buah-buah kasih yaitu sikap lemah lembut, panjang sabar, murah hati dan penolong. Tetapi
apa yang diajarkan justru bertentangan dengan kenyataan. Dewi mengingkari. Tidak mau
memberi maaf pada orang yang bersalah padanya yaitu tujuh puluh kali tujuh seperti
diajarkan Tuhan Yesus. Demi telah menodai jiwa anak didiknya yang haus akan kebenaran.

..................................

Hari senin Shinta ke Solo mengajak kakaknya untuk menengok Rinto ke Rumah
Sakit. Shinta pinjam mobil teman. Dewi menolak. Dalam perjalanan Dewi lebih banyak
diam. Padahal Dewi tipe periang, Shinta memahami perubahan sikap Dewi. Dengan hati-hati
untuk tidak menyinggung perasaannya. Ia membuka pembicaraan dengan kata-kata yang
lembut.

“Kak, lupakan saja masa lalu. Biarlah masa lalu itu berlalu. Kakak jangan terbelenggu
perasaan. Apalagi rasa benci. Kasihan Kak Rinto sudah dijauhi kakak. Sekarang jatuh
tertimpa tangga”. Mendengar kata-kata adiknya. Dalam hati ia mengamini. Dalam lahir,
tidak. Dewi tidak merespon. Ia memilih diam. Shinta pun tidak melanjutkan ucapnya. Hanya
matanya melirik pada kakaknya yang melihat ke luar jendela mobil. Sambil memukul-mukul
pegangan kursi. Mungkin dalam hati ia tidak mengharap cepat sampai di Rumah Sakit. Ia
enggan bertemu Rinto. Rasa benci masih melekat dalam hati. Rasa benci selalu melahirkan
hal-hal yang negatif pada seseorang.

Sampai di Rumah Sakit, mereka langsung menuju ruang dimana Rinto dirawat. Dewi
mengikuti langkah Shinta yang cepat. Sementara Dewi langkahnya pelan, sengaja. Shinta
berkali-kali berhenti menunggu. “Ayo Kak, cepat sedikit. Nanti kehabisan waktu”. Ibu Rinto
sudah lebih dulu datang dan mengambil ........ uang. “Mari nak Dewi. Rinto selalu
mananyakan. Kakinya patah kata dokter walau sudah sembuh. Ia harus pakai krugs
(penyangga)”. Dewi menghampiri Rinto, ia melihat ada goresan luka diwajah. Kaki kanan
dibalut gips tebal dan tergantung di sebuah besi. Ia terbaring lemah. Matanya terpejam dan
menggigau. “Dewi....Dewi dimana kau, kenapa tak mau datang?”.

Hati Dewi mulai tergerak rasa kemanusiaannya. Ia sedih dan haru melihat kondisinya.
Lalu mendekat dan memegang tangannya. Dingin seperti tidak ada darah. “Rinto, ini aku.
Aku Dewi. Aku saudah datang”. Kata Dewi lirih dan parau. Rinto yang merasa dipegang
tangannya dan tak asing medengar suara itu, lalu perlahan membuka matanya. “Kau datang
Dewi. Terimakasih mau menengok aku. Maafkan aku telah melukai perasaanmu. Aku
berdosa. Dan aku tidak akan melakukan lagi. Aku berjanji.......”

Lagi-lagi Dewi masih diam. Tidak sepatah kata terlontar dari mulutnya. Ia terharu
medengar pengakuan Rinto. Saat-saat rasa kasih menguasai hati. Saat itu muncul godaan
shetan. Shetan mempengaruhi agar Dewi jangan memaafkan. Namun Roh Kudus lebih
dominan. Dalam hatinya. Dewi mampu menepis suara shetan itu. Lalu mengannguk. “Rinto
aku memaafkan kamu. Rasa kecewa luka dalam hatiku sudah terpendam. Ku buang jauh.
Mari kita bangkit dan kita buat lentera kasih yang baru”. Mendengar jawaban Dewi. Rinto
merasa lega dan bersyukur karena campur tangan Tuhan. Semangat hidup untuk hidup lebih
baik menyala kembali. “Ya....ya Dewi. Mari kita buat lentera kasih yang baru, bersumber
pada kasih Allah.” Tangan Rinto yang semula terasa dingin.

Kini berubah, hangat. Sehangat kasih yang pernah akrab beberapa bulan yang lalu.
Kasih yang lembut, murah hati. Shinta yang tidak jauh berada di samping mereka. Ikut .
tenggelam dalam kebahagiaan.

Begitu pula Ibu Rinto. Shinta mengambil Alkitab kecil dari sakunya dan dibaca di
depan mereka. Surat Rasul Paulus pada jemaan di Korentus 13:4-7. “Kaih itu tidak pemarah,
kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain”

“Janganlah kasih dan setia itu meinggalkan kita. Kalungkanlah itu pada lehermu,
tuliskanlah itu pada Roh hatimu” (Amsal 3:3).

Semua yang mendengar Firman Tuhan menengadah ke atas dan menucap syukur serta
terima kasih atas rahmat serta karunia Tuhan. Lentera kasih yang pernah hampir padam.
Sekarang menyala kembali. Amien

Oleh : St. Slamet Riyadi