Anda di halaman 1dari 18

SYSTEM PENCERNAAN PADA KUDA

Kuda merupakan ternak Non ruminansia. Hal ini disebabkan oleh sistem pencernaan
enzimatik terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pencernaan fermentatif. Kuda
memiliki kemampuan untuk memanfaatkan hijauan dalam jumlah yang cukup dengan proses
fermentatif di bagian caecum. Saluran pencernaan kuda memiliki ciri khusus yaitu ukuran
kapasitas saluran pencernaan bagian belakang lebih besar di bandingkan bagian belakang.
Alat pencernaan adalah organ-organ yang langsung berhubungan dengan penerimaan,
pencernaan bahan pakan dan pengeluaran sisa pencernaan atau metabolisme.
Berikut penjelasan mengenai alat dan fungsi pencernaan kuda:
1) Rongga Mulut
Mulut merupakan bagian pertama dari sistem penmcernaan yang mempunyai 3 fungsi
yaitu mengambil pakan, pengunyahan secara mekanik dan pembasahan pakan dengan saliva.
Di dalam rongga mulut terdapat organ pelengkap yaitu lidah, gigi, dan saliva. Lidah
merupakan alat pencernaan mekanik. Kuda dapat menyeleksi pakan yang dimakan
dikarenakan adanya bungkul-bungkul pengecap pada lidah dan terbanyak terdapat di daerah
dorsum lidah dibandingkan bagian lain dengan cara merasakan pakan yang dimakan. Gigi
adalah organ pelengkap yang secara mekanik relative kuat untuk memulai proses
pencernaan.
Gigi juga digunakan untuk menentukan umur umur dengan melihat : penyembulan
(erupsi), pergantian sementara, bentuk dan dan derajat keausan gigi. Saliva kuda
mengandung elektrolit utama yaitu Na+, K+, Ca2+, Cl-, HCO2-, HPO4- serta tidak atau

1
sedikit sekali mengandung amylase. Saliva dihasilkan oleh 3 pasang kelenjar yaitu kelenjar
parotis, kelenjar mandibularis, kelenjar sublingualis. Saliva berfungsi sebagai pelicin dalam
mengunyah dan menelan pakan dengan adanya mucin, mengatur temperatur rongga mulut,
pelindung mukosa mulut dan detoksikasi.
2) Pharynx dan Esofagus.
Pharynx adalah penyambung rongga mulut dan esophagus. Esophagus kuda mempunyai
panjang 62 cm, lingkar/lebar lambung kuda 4,5 cm dan berat lambung kuda 0,6 kg. Pada
pharynx dan esofagus tidak terjadi pencernaan yang berarti. Esofagus membawa pakan dari
mulut ke lambung. Esofagus letaknya membentuk sudut curam sehingga membentuk katup
satu arah dengan mekanisme menutup sangat kuat sehingga hampir tidak mungkin bagi kuda
untuk memuntahkan kembali pakan yang telah masuk lambung. Oleh karena itu lambung
dapat terganggu konsumsi pakan berlebihan. Esofagus juga merupakan segmen sistem
pencernaan dimana kuda juga dapat terdesak.
3) Lambung.
Lambung kuda relatif lebih kecil dibandingkan ternak lain terutama ternak ternak
ruminansia. Kuda jantan yang berumur 3,5 tahun dengan perkiraan bobot badan 125 kg dan
bobot total alat organ 28,8 kg mempunyai bobot lambung 1 kg, panjang lambung 38,5 cm,
lingkar/lebar lambung 28 cm. Lambung kuda mempunyai bentuk seperti parutan kelapa, isi
lambung kuda berwarna hijau kekuningan dan tekstur pada lambung kuda kasar dan kering.
Kapasitas lambung kuda antara 8 -15 liter atau hanya 9% dari total kapasitas saluran
pencernaan. Proses pencernaan yang terjadi di daerah lambung tidak sempurna dikarenakan
aktivitas mikroorganisme sangat terbatas dimana populasi bakteri relati rendah, waktu
tinggal pakan di lambung hanya sebentar sekitar 30menit, dan hasil proses fermentatif adalah
asam laktat bukan VFA.
4) Usus halus.
Usus halus merupakan tempat utama untuk mencerna karbohidrat, protein dan lemak
serta tempat absorbsi vitamin dan mineral. Kapasitas usus halus adalah 30%.dari seluruh
kapasitas saluran pencernaan kuda. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu: duodenum,
jejenum, dan ileum. Proses pencernaan di usus halus adalah proses pencernaan enzimatik.
Beberapa enzim tersebut adalah peptidase, dipeptidase, amylase, dan lipase.

2
Usus halus pada kuda mempunyai berat 3,3 kg, panjang usus halus pada kuda 11,33 cm
dan mempunyai lingkar/lebar 6 cm. Secara anatomi usus halus pada kuda dibagia menjadi tiga
bagian yaitu duodenum yang mempunyai lebar 3 cm, jejenum mempunyai lebar 8 cm dan ileum
mempunyai lebar 5 cm. Di dalam usus halus akan disekresikan cairan duodenum, empedu,
cairan pancreas dan cairan usus.
Kelenjar duodenum menghasilkan sekresi alkali yang masuk ke dalam saluran diantara villi
dan cairang ini berfungsi sebagai pelicin. Cairan ini juga berperan melindungi duodenum dari
pengaruh asam yang masuk ke dalam lambung. Sejumlah enzim disekresi di berbagai saluran
usus. Ada tiga golongan enzim yang disekresi oleh tractus digestivus, yaitu karbohidrase,
protease dan lipase. Karbohidrase bekerja pada pertautan glikosidik antara unit mono-sakarida. Α
–Amilase menghidrolisis pertautan pati 1,4 glikosidik dan glikogen. Jenis karbohidrase antara
lain yaitu sukrase, maltase, lactase. Enzim protease menghidrolisis pertautan peptida. Jenis
enzim ini yaitu pepsin, rennin, tripsin, khimotripsin, karboksi peptidase, aminopeptidase,
dipeptidase. Enzim-enzim tersebut menghidrolisis protein dan peptida tertentu ke dalam bentuk
asam amino.
Enzim lipase disekresi getah pancreas, menghidrolisis lemak ke dalam bentuk
monogliserida dan asam lemak. Terdapat pula sejumlah hidrolisis lengkap ke dalam asam lemak
dan gliserol yang sangat terbatas.
Pankreas terletak di lekukan duodenum dan cairan disekresikan masuk duodenum melalui
duktus pankreatikus. Bila zat-zat asam dari lambung masuk ke dalam duodenum, epitel usus
akan mengeluarkan hormon yang masuk kedalam pembuluh. Hormon ini mensekresikan sekretin
yang merangsang pancreas untuk mengeluarkan cairan ion bikarbonat yang berkadar tinggi
untuk menetralisis asam lambung. Keadaan ini akan merangsang hormon lain yaitu
pankreozimin yang dikeluarkan mukosa usus, terutama karena pengaruh peptide yang masuk ke
dalam duodenum merangsang pancreas untuk menghasilkan proenzim dan enzim juga termasuk
tripsinogen, kimotripsinogen, prokarboksipeptidase, alfa amilase, lipase, lesitinase dan nuclease.
Enterokinase adalah enzim yang dihasilkan mukosa usus duodenum yang mengubag
zimogen dan tripsinogen yang belum aktif menjadi tripsin yang aktif yang akan mengurai ikatan
peptida. Ikatan peptide yang diuraikan adalah mempunyai gugus karboksil dari lisin dan arginin
dan gugus karboksil dari asam-asam amino aromatik. Karboksipeptidase juga diaktifkan oleh

3
tripsin yang akan mengurai ikatan peptida dari rantai akhir dengan memisahkan asam amino
terminal yang mempunyai gugus karboksil bebas.
Lipase pancreas terlibat dalam hidrolisis lemak. Lemak meninggalkan lambung dalam
bentuk globule-globule besar dan sangat sukar dihidrolisis. Tetapi globule besar ini diemulsi oleh
garam empedu yang membantu lipase memghidrolisis trigliserida menjadi monogliserida
menjadi asam-asam lemak dan gliserol. Lesitin dihidrolisis oleh lesitinase menjadi asam-asam
lemak, gliserol, H3PO4 dan kholin.

5) Caecum.

Usus buntu atau yang di sebut dengan caecum terdapat pada hewan herbivora dan karnivora,
sedangkan pada kuda ( non ruminansia ) usus buntu hanya berperan sebagai tempat fermentasi.
Terdapat gerakan penduler (mencampur) penyerapan dapat maksimal.Usus buntu atau caecum
pada kuda jantan yang berumur 3,5 tahun mempunyai berat 21,2 kg, panjang caecum pada kuda
274 cm dan lebar caecum pada kuda 50,2 cm. Isi caecum pada kuda mempunyai bentuk kasar
(lolos dari usus), warna isi caecum pada kuda hijau mudah dan tekstur isi caecum sangat kasar
dan tidak berair.Caecum pada hewan herbivora lebih besar dibandingkan hewan karnivora. Hal
ini disebabkan karena makanan herbivora bervolume besar dan proses pencernannya berat,
sedangkan pada karnivora volume makanan kecil dan pencernaannya berlangsung dengan cepat.
Caecum pada kuda hanya berperan sebagai tempat fermentasi, disini terdapat gerakan penduler
(mencampur) panyerapan dapat maksimal. Setiap 3 sampai 8 jam caecum akan berkontraksi dan
memaksa material yang ada di dalamnya untuk kembali ke usus besar, dimana sisa-sisa tersebut
akan dilapisi oleh lendir, dan berpindah ke anus dan sisa proses absorbsi tersebut akan menjadi
kotoran. Caecum Berbentuk seperti kantung berwarna hijau tua keabuabuan. Dalam coecum
makanan disimpan dalam waktu sementara. Pencernaan selulosa dilakuakan oleh bakteri yang
menghasilkan asam asetat, propionat dan butirat.
6) Usus Besar.
Berat usus besar pada kuda jantan 2,5 kg, panjang usus besar sampai anus 165 cm dan
lingkar/lebar usus besar kuda jantan14,5 cm. Sedangkan deskripsi isi usus besar kuda jantan
mempunyai bentuk normal, warna hijau gelap dan tekstur kering. Usus besar terdiri dari
beberapa bagian antara lain caecum, colon dan rectum. Caecum pada kuda hanya berperan
sebagai tempat fermentasi, disini terdapat gerakan penduler (mencampur) panyerapan dapat

4
maksimal. Setiap 3 sampai 8 jam caecum akan berkontraksi dan memaksa material yang ada di
dalamnya untuk kembali ke usus besar, dimana sisa-sisa tersebut akan dilapisi oleh lendir, dan
berpindah ke anus dan sisa proses absorbsi tersebut akan menjadi kotoran. Caecum Berbentuk
seperti kantung berwarna hijau mudah. Dalam coecum makanan disimpan dalam waktu
sementara. Pencernaan selulosa dilakuakan oleh bakteri yang menghasilkan asam asetat,
propionat dan butirat. Colon mempunyai ukuran 13,5 cm yang lebih besar dari pada usus halus
dan terdapat sakulasi (kantong-kantong). Disini juga terjadi proses fermentasi dan absorbs air
dan elektrolit secara intensif dan colon ini juga sedikit menggunakan gerakan peristaltic. Rectum
merupakan kelanjutan dari colon dan membentuk feses dan penyimpanan sementara sebelum
dikeluarkan melalui anus (rektum berakhir sebagai anus). Feses yang keluar lewat anus
mengandung air. Feses merupakan sisa makanan yang tidak tercerna. Cairan dari tractus
digestivus, sel-sel epitel usus, mikroorganisme, garam organik, stearol dan hasil dekomposisi
dari bakteri keluar melalui anus.
Caecum dan colon memiliki kapasitas 60% dari keseluruhan saluran pencernaan yang
mempunyai fungsi 1) tempat fermentasi dengan hasil berupa VFA, 2) Sintesa Asam Amino,
Vit B & K, 3) Tempat utama mencerna neutral detergen fiber (NDF), 4) asam laktat dari
lambung dengan adanya Veilonella gazagones akan dirubah menjadi VFA.
Produksi dan proses pencernaan fermentatif di usus besar tidak semuanya dapat
dimanfaatkan karena posisi yang dibelakang setelah usus halus kecil, sehigga hanya sekitar
25% hasil fermentatif di usus besar yang dapat diserap kembali ke usus kecil atau
dimanfaatkan oleh tubuh. Sedangkan rektum merupakan tempat utama penyerapan air
kembali. Proses pencernaan dari mulut sampai terbuang sebagai feses dari 95 % pakan yang
dikonsumsi membutuhkan waktu 65-75 jam.
 Asesoris : Hati
Menurut Dellman (1971) hati (hepar) dianggap kelenjar yang paling besar dalam tubuh
hewan dan memiliki fungsi banyak. Pada tahap kehidupan awal (intra uterin) hati berfungsi
sebagai pembentuk benda-benda darah. Baru kemudian bangun hati disesuaikan dengan
fungsinya sebagai kelenjar eksokrin dan mengatur metabolisme tubuh. Bahkan pendapat
mutakhir mengatakan hati sebagai kelenjar endokrin, karena mampu mengadakan sintesa
berbagai bahan yang selanjutnya dilepas kedalam aliran darh seperti halnya hormon. Hati kuda
jantan mempunyai berat 1,5 kg, panjang hati kuda jantan 30 cm dan lingkar/lebar hati kuda

5
jantan 19 cm. Deskripsi isi hati kuda jantan mempunyai bentuk yang normal, warna merah hati
dan mempunyai tekstur halus.
Letak hati yang strategis diantara usus dan aliran darah umum, menyebabkan hati
menerima darah portal, yang mengangkut zat makanan dari usus halus, kecuali lemak yang
diangkat melalui pembuluh khil. Jadi lemak akan melalui duktus thorasikus masuk aliran darah
venosus dekat jantung (Delmann, 41 ; Ham, 74). Bahan makanan yang telah diserap setelah
sampai dihati diolah dan keluar sebagai bahan baru dalam aliran darah umum. Sebagian bahan
tersebut disimpan dlaam sel-sel tertentu dan selebihnya dipergunakan untuk metabolisme tubuh.
Bersama makanan dapat pula terserap zat toksis yang setelah sampai dihati akan ditawar melalui
oksidasi, hasil yang tidak berbahaya dibuang melalui empedu.

6
SISTEM PENCERNAAN PADA BABI

1) Mulut

Mulut merupakan tempat dimana pakan pertama kali memasuki sistim pencernaan. Disini
terjadi pemecahan secara mekanis dimana pakan dikunyah dan dipecah menjadi ukuran yang
lebih kecilmenggunakan gigi. Air ludah atau saliva yang diproduksi dalam mulut berfungsi
melunakkan dan melembabkan pakan. Saliva juga mengandung enzim amylaseyg mulai
memecah pati ( karbohidrat ) dalam pakan. Lidah dalam mulut membantu mendorong makanan
masuk ke kerongkongan (esophagus).
2) Kerongkongan (esophagus)
Kerongkongan merupakan saluran yang membawa makanan darimulut ke lambung.
Kontraksi otot mendorong makanan ke lambung. Di akhir kerongkongan terdapat katup yang
disebut ‘Cardiac valve’ yg mencegah kembalinya makanan yg telah sampai di lambung ke
kerongkongan.
3) Lambung ( Stomach )
Lambung merupakan tempat dimana asam klorida yg dikeluarkan oleh sel- sel di dinding
lambung. Penambahan asam klorida pada makanan terjadinya pemecahan ikatan kimia di dalam
makanan dan terbentuknya partikel – partikel kecil karbohoidrat, lemak dan protein. Ada sedikit
dari partikel ini yang diabsorpsi di lambung dan diangkut oleh darah. Partikel makanan
kemudian menuju usus halus melalui katup yang disebut ‘pyloric valve’.
4) Usus Halus

7
Usus Halus merupakan saluran yang berbentuk spiral sehingga dapat menempati ruang
yg kecil. Dinding usus halus memiliki tonjolan – tonjolan mirip ibu jari yang disebut dengan vili
yang meningkatnya luas permukaan usus halus dalampenyerapan nutrien. Sel – sel di usus halus
mengeluarkan berbagai enzim yang membantu pencernaan dan menyerap hasil akhir pencernaan
makanan. Usus halus dibagi menjadi 3 segmen yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Di bagian
pertama usus halus yaitu duodenum terjadi penambahan sekresi dari hati dan pankreas. Sekresi
dari hati disimpan di empedu dan diteruskankeduodenum melaui saluran empedu. Sekresi ini
adalah garam empedu yang membantu pencernaan lemak yang terdapat dalam pakan. Sekresi
dari pankreas disalurkan ke duodenum melalui saluran pankreas. Sekresidaripankreas ini terdiri
dari berbagai enzim yang membantu pencernaan karbohidrat, lemak dan protein. Sebagian besar
penyerapan nutrien terjadi di jejunum dan ileum. Nutrien yang tidak tercerna memasuki usus
besar melalui katup yang disebut ‘ileocecal valve’.
5) Usus Besar
Usus Besar kira – kira panjangnya 4 - 4,5 m. Bagianini terdiri dari 3 bagian yaitu kolon,
sekum dan rektum. Pada sekum dan kolon terjadi penimbunan pakan sisa dari hasil pencernaan
di usus kecil. Sekum (cecum) atau usus buntu terletak di bagian depan usus besar dan umumnya
kurang memiliki fungsi. Sekum merupakan bangunan silinder dan buntu dengan volume sekitar
1,5 m panjangnya hanya mencapai 12 – 20 cm dan lebarnya 8 – 10 cm. Disini terjadi pencernaan
serat dalam jumlah kecil atau terbatas dimana mikroba menghasilkan enzim selulase yang
memecah selulosa ( serat kasar ). Sistim pencernaan serat kasar di sini tidak efisien. Kolon babi
mula – mula lebarnya sama dengan sekum makin kebelakang makin mengecil, dengan panjang
sekitar 4 – 5 meter.
6) Anus
Anus merupakan lubang dimana sisa pencernaan dikeluarkan dari tubuh. Pakan yang tidak
tercerna dan tidak terabsorpsi akan dikeluarkan melalui anus sebagai tinja.

8
SISTEM PENCERNAAN PADA RUMINANSIA

Nama ruminansia berasal dari bahasa Latin “ruminare” yang artinya mengunyah kembali
atau memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hewan memamah biak.
Ruminansia merupakan ternak masa depan yang mampu meningkatkan kesejahteraan manusia,
karena hanya hewan ini yang mampu dengan baik memanfaatkan bahan yang tidak dapat
dimanfaatkan oleh manusia. Hijauan seperti rumput atau limbah pertanian yang tidak dimakan
oleh manusia dapat dikonversikan ke dalam makanan bernilai gizi tinggi yang dapat dikonsumsi
oleh manusia. Ternak non ruminansia selain kuda dan kelinci, pada suatu saat akan merupakan
saingan manusia, karena pakan ternak tersebut juga merupakan makanan manusia.
Pada ruminansia atau hewan berlambung jamak yang umumnya pemakan tumbuh-
tumbuhan, di samping enzim yang dihasilkan oleh kelenjar eksokrin dan sel-sel khusus, juga
terdapat sejumlah enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang terdapat dalam rumen,
sehingga kelompok hewan ini mampu memanfaatkan selulosa dengan baik. Sebagian besar
makanannya terdiri atas serat kasar dan saluran pencernaannya panjang dan lebih kompleks.
Pada hewan ini, serat kasar dirombak secara intensif melalui proses fermentasi di dalam rumen
oleh mikroorganisme rumen.
Sistem pencernaan serta fungsi bagian-bagian dari alat pencernaan tersebut, khususnya
rumen, retikulum, omasum dan abomasums :
1) Mulut

9
Pencernaan di mulut pertama kali di lakukan oleh gigi molar dilanjutkan oleh mastikasi
dan di teruskan ke pencernaan mekanis. Di dalm mulut terdapat saliva. Saliva adalah cairan
kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan disebarkan ke dalam cavitas oral.
Fungsi saliva:
 membantu penelanan
 buffer (ph 8,4 – 8,5)
 suplai nutrien mikroba (70% urea)
2) Lambung Ruminansia
 Rumen
Rumen merupakan bagian saluran pencernaan vital pada ternak ruminansia. Pada rumen
terjadi pencernaan secara fermentatif dan pencernaan secara hidrolitik. Pencernaan fermentatif
membutuhkan bantuan mikroba dalam mencerna pakan terutama pakan dengan kandungan
selulase dan hemiselulase yang tinggi. Sedangkan pencernaan hidrokitik membutuhkan bantuan
enzim dalam mencerna pakan. Ternak ruminansia besar seperti sapi potong dan sapi perah dapat
memanfaatkan pakan dengan kandungan nutrisi yang sangat rendah, akan tetapi boros dalam
penggunaan energi.
Rumen pada sapi dewasa merupakan bagian yang mempunyai proporsi yang tinggi
dibandingkan dengan proporsi bagian lainnya. Rumen terletak di rongga abdominal bagian kiri.
Rumen sering disebut juga dengan perut beludru. Hal tersebut dikarenakan pada permukaan
rumen terdapat papilla dan papillae. Sedangkan substrat pakan yang dimakan akan mengendap
dibagian ventral. Pada retikulum dan rumen terjadi pencernaan secara fermentatif, karena pada
bagian tersebut terdapat bermilyaran mikroba.
letak: sebelah kiri rongga perut
Anatomi :
 Permukaan dilapisi papila (papila lidah) → memperluas
 permukaan untuk absorbs
 Terdiri 4 kantong (saccus)
 Terbagi menjadi 4 zona
Kondisi :
 bk isi rumen : 10 -15%
 temperatur : 39-40ºc

10
 ph = 6,7 – 7,0
 bj = 1,022 – 1,055
 gas: co2, ch4, n2, o2, h2, h2s
 mikroba: bakteri, protozoa, jamuranaerob.
Fungsi :
 tempat fermentasi oleh mikroba rumen
 sorbsi : vfa, ammonia
 lokasi mixing
 menyimpan bahan makanan→ fermentasi
 Retikulum
Retikulum sering disebut sebagai perut jalang atau hardware stomach. Fungsi retikulum
adalah sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan
langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding penyekat. Pembatas
diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga partikel pakan menjadi
tercampur.
 secara fisik tidak terpisahkan dari rumen
 terdapat lipatan-lipatan esofagus yang meru-pakan lipatan jaringan yg langsung dr
esofagus ke omasum
 permukaan dalam : papila → sarang laba-laba (honey comb) perut jala
Fungsi:
 tempat fermentasi
 membantu proses ruminasi
 mengatur arus ingesta ke omasum
 absorpsi hasil fermentasi
 tempat berkumpulnya benda-benda asing
 Omasum
Omasum sering juga disebut dengan perut buku, karena permukaannya berbuku-buku. Ph
omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Antara omasum dan abomasums terdapat lubang yang
disebut omaso abomasal orifice.
 letak : sebelah kanan(retikulum) grs media (disebelah rusuk 7-11)

11
 bentuk : ellips
 permukaan dalam berbentuk laminae → perut buku (pada lamina terdapat papila untuk
absorpsi)
 fungsi: grinder, filtering, fermentasi, absorpsi)

 Abomasum
Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati. Fungsi omaso abomasal orifice
adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke omasum. Ph pada abomasum
asam yaitu berkisar antara 2 sampai 4,1. Abomasum terletak dibagian kanan bawah dan jika
kondisi tiba-tiba menjadi sangat asam, maka abomasum dapat berpindah kesebelah kiri.
Permukaan abomasum dilapisi oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi dinding
sel tercerna oleh enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan
pepsinogen dan sel parietal menghasilkan hcl. Pepsinogen bereaksi dengan hcl membentuk
pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara otokatalitik.
Letak :
 dasar perut (kanan bawah)
 bentuk : memanjang
 bagian dalam terdapat tonjolan : fold → absorpsi
 terdiri 3 bagian:kardia : sekresi mucus, fundika: pepsinogen, renin, hcl, mukus , pilorika :
sekresi mukus
Fungsi: tempat permulaan pencernaan enzimatis (perut sejati) → pencernaan protein mengatur
arus digesta dari abomasum ke duodenum
3) usus halus (intestinum tenue)
Fungsi : pencernaan enzimatis dan absorpsi
Kedalam usus halus masuk 4 sekresi:
 cairan duodenum: alkalis, fosfor, buffer
 cairan empedu: dihasilkan hati, k dan na (mengemulsikan lemak), mengaktifkan lipase
pankreas, zat warna
 cairan pankreas: ion bikarbinat untuk menetralisir asam lambung
 cairan usus

12
4) Pankreas
Letak : lengkungan duodenum
Mensekresikan enzim:amilase : alfa amilase, maltase, sukrase, protease : tripsinogen,
kemotripsinogen,prokarboksi, peptidase, lipase : lipase, lesitinase, fosfolapase, kolesterol,
esterase, nuklease: ribonuklease, deoksi ribonuclease.

5) sekum dan kolon


Bentuk: tabung berstruktur sederhana, kondisi rumenfungsi: fermentasi oleh
mikrobaabsorpsi vfa dan air → kolonkonsentrasi vfa: sekum: 7 mm, kolon: 60 mm (rumen = 100
– 150 mm)

13
SISTEM PENCERNAAN KUCING
Sistem pencernaan kucing domestik sedikit lebih panjang dibandingkan kucing liar
leluhurnya. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pencernaan kucing telah beradaptasi dengan
jenis makanan sehari-harinya (mungkin dari sisa-sisa makanan manusia yang mengandung
daging dan sereal) sejak pertama kali berinteraksi dengan manusia beberapa ribu tahun silam.
Pola makan kucing adalah sedikit-sedikit namun sering. Mereka membutuhkan waktu sekitar 20
jam sejak makanan tersebut dimakan hingga dikeluarkan melalui buang air besar.

1) Mulut

Mulut adalah pintu masuk sistem pencernaan pada kucing. Biasanya kucing menelan
makananannya dalam bentuk potongan dibandingkan dengan mengunyahnya, karena gigi kucing
tidak memiliki permukaan datar seperti manusia. Selain itu rahang kucing hanya bergerak nbaik
dan turun, sementara rahang manusia bisa bergerak dari sisi ke sisi untuk membantu mengunyah
sayuran dan materi lainnya. Lidah kucing yang kasar juga berfungsi untuk memarut dan merobek
daging dan mencampurkannya dengan air liur untuk memulai pemecahan karbohidrat serta
membantu agar makanan mudah ditelan.

2) Esofagus dan lambung

Setelah lidah kucing membantu menelan makanan, maka selanjutnya makanan tersebut akan
melewati esofagus menuju lambung. Pada saat di lambung, makanan kucing akan dicerna dengan
bantuan enzim asam lambung untuk memudahkan kucing untuk menyerap nutrisi yang ada di

14
makanan — terutama protein. Asam lambung pada kucing cukup kuat hingga bisa melunakkan
tulang. Keren kan catlovers? Kontraksi dan sekresi enzim yang ada di lambung kucing dapat
melunakkan makanan hingga berbentuk cairan sebelum menuju tahap pencernaan selanjutnya.

3) Duodenum (usus dua belas jari), hati dan pankreas

Dari lambung, makanan yang telah menjadi bubur ini akan melewati sphincter menuju ke
duodenum (usus dua belas jari). Di dalam duodenum terjadi dua hal, yaitu kantung empedu akan
mengeluarkan cairan empedu dan pankreas akan mengeluarkan beberapa enzim. Empedu adalah
sebuah zat kimia yang diproduksi oleh hati dan disimpan dalam kantung empedu. Fungsi empedu
adalah untuk memecah molekul lemak besar menjadi lebih kecil sehingga dapat diserap dalam

15
tahap pencernaan selanjutnya. Sedangkan enzim-enzim yang disekresikan oleh pankreas
berfungsi untuk menetralkan asam dalam makanan yang telah menjadi bubur tersebut, dan
membantu mencerna gula, lemak dan protein. Salah satu enzim yang paling dikenal adalah
insulin, yang berfungsi untuk mengatur kadar glukosa dalam tubuh kucing kita.

4) Usus kecil dan usus besar

Usus kecil adalah bagian terpanjang dari sistem pencernaan kucing. Semua nutrisi yang
ada pada makanan akan diserap di sini. Pada usus kecil ini terdapat vili yang akan menyerap
protein, enzim, elektrolit dan air.Dalam usus besar, atau yang disebut dengan kolon, air dan
elektrolit yang tersisa akan diserap dari makanan. Feses yang padat akan mulai terbentuk dan
bakteri bermanfaat akan menghasilkan enzim untuk memecah materi yang sulit dicerna.

5) Rektum dan anus

16
Di sinilah feses akan terbentuk dan terkumpul hingga mereka siap dikeluarkan oleh
kucing ke litter box. Waktu transit yang dibutuhkan makanan dari mulut hingga anus
membutuhkan waktu sekitar 20 jam.

17
DAFTAR PUSTAKA

Chambliss, C. G. and E. L. Jhonson. 2002. Pastures and Forages Crops for Horses. In: C.G.
Chambliss (Ed.). Florida Forage Handbook. Institute of Food and Agricultural Sciences,
University of Florida.
Cheeke, P. R. 1999. Applied Animal Nutrition: Feed and Feeding. Second edition. Prentice Hall
Inc. Upper Saddle River, New Jersey.
Kosnoto, M. 1999. Sistem Pencernaan Pada Hewan.Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Airlangga, Surabaya.
Rasyid, G., A. B. Sudarmadji, dan Sriyana. 1996. Pencernaan Hewan Pemamah Biak.
Karangploso. Malang.

18