Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KELOMPOK

BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

(Ditujukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan)

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS PUTRA INDONESIA
CIANJUR
2013
BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

I. PENGELOLAAN BANK KONVENSIONAL

A. Berbagai pengertian bank :

 Bank sebagai suatu badan yang tugas utamanya menghimpun uang dari pihak ketiga
 Bank adalah suatu badan yang tugas utamanya sebagai perantara untuk menyalurkan
penawaran dan permintaan kredit pada waktu yang ditentukan
 Bank adalah suatu badan yang tugas utamanya menciptakan kredit
 Bank adalah Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-
bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Secara umum bank adalah suatu badan usaha yang memiliki wewenang dan fungsi untuk
untuk menghimpun dana masyarakat umum untuk disalurkan kepada yang memerlukan dana
tersebut.

 Dari beberapa defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa :


Bank Konvensional adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional
dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran. Bank Konvensional memiliki peranan yang strategis dalam
menyelaraskan dan menyeimbangkan unsur-unsur pemerataan pembangunan dan hasil- hasil
pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional guna menunjang pelaksanaan
pembangunan nasional.

B. Usaha Bank Konvensional meliputi :

 Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito
berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan
dengan itu
 memberikan kredit
 menerbitkan surat pengakuan hutang
 membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan
atas perintah nasabahnya
 memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan
nasabah
 menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank
lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel
unjuk, cek atau sarana lainnya
 menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan
dengan atau antar pihak ketiga
 menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga
 melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu
kontrak
 melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat
berharga yang tidak tercatat di bursa efek
 membeli melalui pelelangan agunan baik semua maupun sebagian dalam hal debitur
tidak memenuhi kewajibannya kepada bank, dengan ketentuan agunan yang dibeli
tersebut wajib dicairkan secepatnya
 melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat;
 menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah
 melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak
bertentangan dengan Undang-undang ini dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

II. PENGELOLAAN BANK SYARIAH

A. Pengertian Bank Syariah

Bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan syariah atau prinsip agama Islam.
Sesuai dengan prinsip Islam yang melarang sistem bunga atau riba yang memberatkan, maka
bank syariah beroperasi berdasarkan kemitraan pada semua aktivitas bisnis atas dasar
kesetaraan dan keadilan.

B. Pengelolaan Dana

Laju pertumbuhan perbankan syariah di tingkat global tak diragukan lagi. Aset lembaga
keuangan syariah di dunia diperkirakan mencapai 250 miliar dollar AS, tumbuh rata-rata
lebih dari 15 persen per tahun. Di Indonesia, volume usaha perbankan syariah selama lima
tahun terakhir rata-rata tumbuh 60 persen per tahun. Tahun 2005, perbankan syariah
Indonesia membukukan laba Rp 238,6 miliar, meningkat 47 persen dari tahun sebelumnya.
Meski begitu, Indonesia yang memiliki potensi pasar sangat luas untuk perbankan syariah,
masih tertinggal jauh di belakang Malaysia.
Tahun lalu, perbankan syariah Malaysia mencetak profit lebih dari satu miliar ringgit (272
juta dollar AS). Akhir Maret 2006, aset perbankan syariah di negeri jiran ini hampir mencapai
12 persen dari total aset perbankan nasional. Sedangkan di Indonesia, aset perbankan syariah
periode Maret 2006 baru tercatat 1,40 persen dari total aset perbankan. Bank Indonesia
memprediksi, akselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia baru akan dimulai
tahun ini.
Implementasi kebijakan office channeling, dukungan akseleratif pemerintah berupa
pengelolaan rekening haji yang akan dipercayakan pada perbankan syariah, serta hadirnya
investor-investor baru akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah. Konsultan perbankan
syariah, Adiwarman Azwar Karim, berpendapat, perkembangan perbankan syariah antara lain
akan ditandai penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk yang dipersiapkan pemerintah.
Sejumlah bank asing di Indonesia, seperti Citibank dan HSBC, bahkan bersiap
menyambut penerbitan sukuk dengan membuka unit usaha syariah. Sementara itu sejumlah
investor dari negara Teluk juga tengah bersiap membeli bank-bank di Indonesia untuk
dikonversi menjadi bank syariah. Kriteria bank yang dipilih umumnya beraset relatif kecil,
antara Rp 500 miliar dan Rp 2 triliun. Setelah dikonversi, bank-bank tersebut diupayakan
melakukan sindikasi pembiayaan proyek besar, melibatkan lembaga keuangan global.
Adanya perbankan syariah di Indonesia dipelopori oleh berdirinya Bank Muamalat
Indonesia yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)dengan tujuan
mengakomodir berbagai aspirasi dan pendapat di masyarakat terutama masyarakat Islam
yang banyak berpendapat bahwa bunga bank itu haram karena termasuk riba dan juga untuk
mengambil prinsip kehati-hatian. Apabila dilihat dari segi ekonomi dan nilai bisnis, ini
merupakan terobosan besar karena penduduk Indonesia 80% beragama islam, tentunya ini
bisnis yang sangat potensial. Meskipun sebagian orang islam berpendapat bahwa bunga bank
itu bukan riba tetapi faedah, karena bunga yang diberikan atau diambil oleh bank berjumlah
kecil jadi tidak akan saling dirugikan atau didzolimi, tetapi tetap saja bagi umat islam
berdirinya bank-bank syariah adalah sebuah kemajuan besar.
Tetapi sistem perbankan syariah di Indonesia masih belum sempurna atau masih ada
kekurangannya yaitu masih berinduk pada Bank Indonesia, idealnya pemerintah Indonesia
mendirikan lembaga keuangan khusus syariah yang setingkat Bank Indonesia yaitu Bank
Indonesia Syariah.

C. Prinsip Perbankan Syariah

Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak
lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya
yang sesuai dengan syariah.
Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain :
Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai
ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha
institusi yang meminjam dana.
Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanya merupakan
media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.
Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus
mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.
Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam. Usaha
minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.
Prinsip perbankan syariah pada akhirnya akan membawa kemaslahatan bagi umat karena
menjanjikan keseimbangan sistem ekonominya.

D. Produk Perbankan Syariah

 Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain:
a. Jasa untuk peminjam dana
 Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Setiap
keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko
kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh
kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti
penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
 Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau joint
venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara
kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak.
Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini ada campur tangan
pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada campur tangan
 Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan membelikan
barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke pengguna
jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank,
dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai
akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah margin yang disepakati.
Contoh:harga rumah, 500 juta, margin bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang
dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati
diawal antara Bank dan Nasabah. (asuransi islam).

b. Jasa untuk penyimpan dana

 Wadi’ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil
dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak berkewajiban,
namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah. Bank Muamalat
Indonesia-Shahibul Maal.
 Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu yang
tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan bank akan
dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.

E. Fungsi Bank umum syariah

a. Manajemen Investasi

Bank-bank Islam dapat melaksanakan fungsi ini ber-dasarkan kontrak mudharabah atau
kontrak perwakilan.

b. Investasi

Bank-bank Islam menginvestasikan dana yang ditem-patkan pada dunia usaha (baik dana
modal maupun dana rekening investasi) dengan menggunakan alat-alat investasi yang
konsisten dengan syariah.
c. Jasa-Jasa Keuangan

Bank Islam dapat juga menawarkan berbagai jasa ke-uangan lainnya berdasarkan upah (fee
based) dalam sebuah kontrak perwakilan atau penyewaan

d. Jasa Sosial

Konsep perbankan Islam mengharuskan bank Islam me-laksanakan jasa sosial, bisa melalui
dana qardh (pinjaman kebajikan), zakat, atau dana sosial yang sesuai dengan ajaran Islam.
Lebih jauh lagi, konsep perbankan Islam juga mengharuskan bank Islam memainkan peran
dalam pengembangan sumber daya insani dan menyumbang dana bagi pemeliharaan serta
pengembangan lingkungan hidup

 Kesimpulan :

Hal ini sangat disayangkan karena kurangnya pengetahuan tentang prinsip tersebut
sehingga masih banyak masyarakat yang kurang percaya dan kurang merasa mudah
menggunakan fasilitas-fasilitas yang terdapat dalam prinsip-prinsip Bank Syari’ah. Didalam
perbankaqn syari’ah telah diatur berbagai macam transaksi yang tidak merugikan bagi kedua
pihak. Karena jika sampai ada yang dirugikan dan dirugikan maka sudah melanggar ajaran
Islam itu sendiri. Prinsip perbankan syari’ah itu sendiri bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

III. PRODUK KONVERSIONAL DAN SYARIAH

A. Produk yang yang ditawarkan oleh perbankan konversional antara lain:

1. Tabungan
Bagi anda yang sering berhubungan dengan bank pastinya sudah tidak asing lagi dengan
produk bank yang saat ini banyak cara digunakan bank untuk menghimpun dana dari
nasabah, dan yang umum berasal dari tabungan di tabungan itu sendiri bank menawarkan
produk mulai tabungan pendidikan sampai tabungan hari tua. Hal tersebut semata-mata
dilakukan oleh bank untuk menambah keuntungan mereka

2. Deposito
Lain lagi dengan tabungan, produk perbankan yang satu ini adalah produk penyimpanan dana
tetapi dengan jangka waktu tertentu, sehingga nasabah hanya bisa mengambil uangnya sesuai
dengan lama deposito yang dipilih, jika dibandingkan dengan tabungan deposito memiliki
penawaran bunga yang jauh lebih besar

3. Giro
Sedangkan giro merupakan sebuah produk perbanka yang berfungsi untuk memindah
bukukan dana dari rekening nasabah suatu ke rekening nasabah yang lain. Fungsi dari giro
ini tidak lain untuk mempermudah transaksi keuangan

4. Cek
Cek merupakan suatu produk perbankan yang memudahkan transaksi keuangan. Cek tersebut
merupakan surat printah kepada bank untuk mencairkan dana sebesar dana yang tertera pada
cek. Sedangkan cek itu sendiri terdiri atas beragam jenis salah satunya adalah cek atas nama
dan cek atas unjuk
5. Kredit
Kredit merupakan sebuah produk perbankan yang mampu memberikan keuntungan besar
pada sektor perbankan. Hal tersebut terjadi karena dengan kredit bank mendapatkan pendapat
berupa selisih tingkat suku bunga kredit dengan tingkat suku bunga tabungan.
Dari produk kredit itu sendiri bank menawarkan jenis kredit yang antara lain meliputi kredit
modal kerja, kredit investasi, kredit perdagangan dan kredit konsumtif

6. Produk jasa lainnya


Produk perbankan yang tidak kalah penting yang lain adalah produk jasa lainnya yang antara
lain meliputi transfer uang, transaksi RTGS, transaksi kliring dll

B. Produk Perbankan Syariah

Sedangkan produk perbankan yang ditawarkan oleh perbankan syariah mempunyai


perbedaan dengan bank konversional hal tersebut dikarenakan bank syariah yang mengusung
nilai-nilai islam dengan memasukan beragam ajaran islam dalam perbankan syariah

1. Al- Wadiah
Al- wadiah merupakan jasa penitipan yang disediakan oleh perbankan. Dengan adanya al
wadiah. Nasabah bisa menitipkan dananya di bank dan mengambilnya sewaktu-waktu.
Untuk mempermudah pemahaman mengenal al-wadiah, bisa dibanyangkan ketika seorang
nasabah menabung di bank. Nasabah bebas menitipkan dana mereka di bank dan mereka juga
bebas untuk mengambilnya sewaktu-waktu jika dana tersebut mereka butuhkan jenis produk
ini biasanya menyatu dengan mutharabah, sejenis akad yang digunakan untuk produk
tabungan perbankan

2. Deposito Mudharabah
Produk bank jenis ini ditemui ketika anda menyimpan dana di bank (menabung) dalam
jangka waktu tertentu. Dengan menggunakan akad mudharabah, terjadi bagi hasil antara
nasabah dari pihak perbankan yang tercantum dalam prosentase. Sehingga ketika pendapatan
bank meningkat maka bagi hasil yang diperoleh nasabah akan meningkat dan sebaliknya
sehingga dengan menggunakan akad mudharabah tersebut akan terjadi keadilan baik dari sisi
bank maupun nasabah yang membedkan dengan tabungan biasa diposito mudharabah
tersebut hanya bisa dicairkan sesuai dengan tanggal yang ditentukan

3. Ba’i Al Murabahah
Jenis produk ini biasa digunakan ketika konsumen mengajukan pinjaman konsumsi kepada
pihak perbankan. Dengan menggunakan akad ba’i murabahah pihak bank membelikan barang
yang diinginkan nasabah untuk dijual kepada nasabah. Untuk mempermudah pemahaman
anda mengenai bentuk transaksi ini bisa diilustrasikan sebagai berikut.

Misal nasabah A ingin membeli mobil. Kemudian nasabah A mengajukan dana kepada bank.
Setelah itu ketika bank menunjukan ajuan nasabah A maka bank membelikan mobil untuk
nasabah A. Setelah mobil dibeli kemudian bank menjual mobil tersebut dengan tambahan
keuntungan. Misalnya harga beli mobil 300 juta maka bank akan menjualnya sebesar 350
juta. Kemudian untuk cicilan pembayaran nasabah A bisa dilakukan secara flat atau
kesepakatan awal antara bank dan nasabah A.

4. Ar-Rahn
Pada produk jenis ini perbankan menawarkan produk kepada nasabah seperti praktik pada
gadai sehingga nasabah bisa menggadaikan barangnya ke bank untuk mengajukan suatu
pinjaman. Praktik gadai yang sat ini dengan marak pada perbankan syariah adalah gadai
emas. Hal itu terjadi selain karena prospek emas yang meningkat juga dikarenakan
kesetabilan emas
5. Al-Qardh
Produk pebankan jenis ini dikhususkan sebagai upaya menolong nasabah yang sedang
membutuhkan dana tanpa mengharapkan suatu imbalan ataupun bunga sehingga dari awal
jenis akad ini memang tidak diperuntukan untuk tujuan komersial.Setelah dijelaskan berbagai
macam produk perbankan baik itu pada perbankan konversional maupun perbankan syariah.
Anda tinggal memilih untuk menggunakan produk perbankan yang paling cocok dan
menguntungkan. Hal itu bisa dilihat dari kondisi keungan anda maupun dari beragam
penawaran yang ditawarkan. Misalnya jika anda memilih menggunakan perbankan
konversional. Tidak ada salahnya jika anda melihat tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh
pihak bank. Sedangkan jika anda menggunakan perbankan bank syariah. Yang patut
dipertimbangkan adalah kinerja perbankan yang bersangkutan serta bagi hasil yang
ditawarkan.

IV. PERBEDAAN BANK KONVERSIONAL DAN BANK SYARIAH

Bank Syariah adalah sebuah lembaga perbankan yang pada prinsipnya berpegang pada
syariat Islam, mempunyai sistem operasi di mana ia tidak mengandalkan pada
bunga. sedangkan Bank Konvensional adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Perbankan Konvesional :

1. Sistem pendapatan berupa bunga yang sudah ditentukan dimuka oleh bank
2. Hubungan antara nasabah dan bank adalah kreditur – debitur
3. Dana nasabah diinvestasikan pada aset-aset yang sesuai dengan kebijakan
4. Prinsip dasar penghimpunan dana dan penyaluran dana dari masyarakat tidak ada

Perbankan Syariah :

1. Sistem pendapatan bukan dengan bunga tetapi dengan prinsip : mudarabah ( bagi
hasil) waidah (titipan),ijarah ( sewa ), murabahah ( penjualan kembali )
2. Hubungan antara nasabah dengan bank adalah hubungan kemitraan
3. Dana nasabah diinvestasikan pada aset-aset yang sesuai dengan prinsip syariah
( syariah complaiance )
4. Prinsip dasar penghimpunan dana dan penyaluran dana dari masyarakat harus sesuai
dengan fatwa dewan
 Perbedaan yang mendasar antara bank syariah dengan bank konvensional, antara lain :

1. Perbedaan Falsafah
Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan
falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh
aktivitasnya sedangkan bank kovensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadi
perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank
syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah
jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian
sebenarnya semua jenis transaksi perniagaan melalu bank syariah diperbolehkan asalkan
tidak mengandung unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistem bunga berbunga
atau compound interest dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya
kewajiban salah satu pihak seperti efek bola salju pada cerita di awal artikel ini. Sangat
menguntungkan saya tapi berakibat fatal untuk banknya. Riba, sangat berpotensi untuk
mengakibatkan keuntungan besar disuatu pihak namun kerugian besar dipihak lain, atau
malah ke dua-duanya.

2. Konsep Pengelolaan Dana Nasabah


Dalam sistem bank syariah dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun
investasi. Cara titipan dan investasi jelas berbeda dengan deposito pada bank konvensional
dimana deposito merupakan upaya mem-bungakan uang. Konsep dana titipan berarti kapan
saja si nasabah membutuhkan, maka bank syariah harus dapat memenuhinya, akibatnya dana
titipan menjadi sangat likuid. Likuiditas yang tinggi inilah membuat dana titipan kurang
memenuhi syarat suatu investasi yang membutuhkan pengendapan dana. Karena
pengendapan dananya tidak lama alias cuma titipan maka bank boleh saja tidak memberikan
imbal hasil. Sedangkan jika dana nasabah tersebut diinvestasikan, maka karena konsep
investasi adalah usaha yang menanggung risiko, artinya setiap kesempatan untuk
memperoleh keuntungan dari usaha yang dilaksanakan, didalamnya terdapat pula risiko untuk
menerima kerugian, maka antara nasabah dan banknya sama-sama saling berbagi baik
keuntungan maupun risiko.
Sesuai dengan fungsi bank sebagai intermediary yaitu lembaga keuangan penyalur
dana nasabah penyimpan kepada nasabah peminjam, dana nasabah yang terkumpul dengan
cara titipan atau investasi tadi kemudian, dimanfaatkan atau disalurkan ke dalam traksaksi
perniagaan yang diperbolehkan pada sistem syariah. Hasil keuntungan dari pemanfaatan dana
nasabah yang disalurkan ke dalam berbagai usaha itulah yang akan dibagikan kepada
nasabah. Hasil usaha semakin tingi maka semakin besar pula keuntungan yang dibagikan
bank kepada dan nasabahnya. Namun jika keuntungannya kecil otomatis semakin kecil pula
keuntungan yang dibagikan bank kepada nasabahnya. Jadi konsep bagi hasil hanya bisa
berjalan jika dana nasabah di bank di investasikan terlebih dahulu kedalam usaha, barulah
keuntungan usahanya dibagikan. Berbeda dengan simpanan nasabah di bank konvensional,
tidak peduli apakah simpanan tersebut di salurkan ke dalam usaha atau tidak, bank tetap
wajib membayar bunganya.
Dengan demikian sistem bagi hasil membuat besar kecilnya keuntungan yang
diterima nasabah mengikuti besar kecilnya keuntungan bank syariah. Semakin besar
keuntungan bank syariah semakin besar pula keuntungan nasabahnya. Berbeda dengan bank
konvensional, keuntungan banknya tidak dibagikan kepada nasabahnya. Tidak peduli
berapapun jumlah keuntungan bank konvesional, nasabah hanya dibayar sejumlah prosentase
dari dana yang disimpannya saja.
3. Kewajiban Mengelola Zakat
Bank syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalam arti wajib membayar zakat,
menghimpun, mengadministrasikannya dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi
dan peran yang melekat pada bank syariah untuk memobilisasi dana-dana sosial (zakat. Infak,
sedekah)

4. Struktur Organisasi
Di dalam struktur organisasi suatu bank syariah diharuskan adanya Dewan Pengawas Syariah
(DPS). DPS bertugas mengawasi segala aktifitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-
prinsip syariah. DPS ini dibawahi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Berdasarkan laporan
dari DPS pada masing-masing lembaga keuangan syariah, DSN dapat memberikan teguran
jika lembaga yang bersangkutan menyimpang. DSN juga dapat mengajukan rekomendasi
kepada lembaga yang memiliki otoritas seperti Bank Indonesia dan Departemen Keuangan
untuk memberikan sangsi.

 Bagaimana Nasabah Mendapat Keuntungan

Jika bank konvensional membayar bunga kepada nasabahnya, maka bank syariah membayar
bagi hasil keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Kesepakatan bagi hasil ini ditetapkan
dengan suatu angka ratio bagi hasil atau nisbah. Nisbah antara bank dengan nasabahnya
ditentukan di awal, misalnya ditentukan porsi masing-masing pihak 60:40, yang berarti atas
hasil usaha yang diperolah akan didisitribusikan sebesar 60% bagi nasabah dan 40% bagi
bank. Angka nisbah ini dengan mudah Anda dapatkan informasinya dengan bertanya ke
customer service atau datang langsung dan melihat papan display “ Perhitugan dan Distribusi
Bagi Hasil” yang ada di cabang bank syariah. (Kusuma Asda Sandra)