Anda di halaman 1dari 28

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat

dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai

pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan

banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik

dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami

menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah

inidenganbenar.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentangini dapat memberikan manfaat

maupun inpirasi terhadap pembaca.

Balikpapan,10 Maret 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................................................... ii
BAB I .............................................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................................................. 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................................................... 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................................................... 2
1.3 TUJUAN MASALAH ................................................................................................................ 2
1.4 MANFAAT PENULISAN .......................................................................................................... 2
BAB II ............................................................................................................................................................. 4
PEMBAHASAN ............................................................................................................................................... 4
A.Peran Perawat dalam Pemberian Obat ................................................................................... 4
B. Prinsip Enam Benar ................................................................................................................. 6
C. Jenis-jenis dan Bentuk-bentuk Obat Oral ............................................................................. 10
BAB III .......................................................................................................................................................... 25
PENUTUP ..................................................................................................................................................... 25
A. Kesimpulan ......................................................................................................................... 25
B. Saran.................................................................................................................................. 26
C. Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 26

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah memberi obat yang aman dan

akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang

memiliki masalah. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat.

Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat

menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang

berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai dengan anjuran yang

sebenarnya.

Seorang perawat juga memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat dan

efek samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan

tepat, memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan

benar dan berdasarkan pengetahuan.

Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat – obatan yang aman . Perawat

harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan

perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar

batas yang direkomendasikan . Secara hukum Perawat bertanggung jawab jika mereka

1
memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut

merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien .

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Peran perawat dalam pemberian obat oral

2. Prinsip 6 benar dalam pemberian obat oral

3. Jenis-jenis dan Bentuk-bentuk obat oral

4. Indikasi, Kontraindikasi, dan efek samping obat oral

1.3 TUJUAN MASALAH

Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui Peran perawat dalam pemberian obat oral

2. Untuk mengetahui Prinsip 6 benar dalam pemberian obat oral

3. Untuk mengetahui Jenis-jenis dan Bentuk-bentuk obat oral

4. Untuk mengetahui Indikasi, Kontraindikasi, dan efek samping obat oral

1.4 MANFAAT PENULISAN

Manfaat yang dapat diperoleh dari makalah ini adalah

1. Sebagai sumber informasi yang sangat berguna dalam menambah ilmu pengetahuan dan

wawasan(aspek teoritis).

2
2. Sebagai sumber informasi yang sangat penting untuk dapat diaplikasikan dalam

kehidupan sehari-hari(aspek praktis).

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Peran Perawat dalam Pemberian Obat

Karena obat dapat menyembuhkan atau merugikan pasien, maka pemberian obat

menjadi salah satu tugas perawat yang paling penting. Perawat adalah mata rantai

terakhir dalam proses pemberian obat kepada pasien. Perawat yang bertanggung jawab

bahwa obat itu diberikan dan memastikan bahwa obat itu benar diminum.

Bila ada obat yang diberikan kepada pasien, hal itu harus menjadi bagian integral dari

rencana keperawatan. Perawat yang paling tahu tentang kebutuhan dan respon pasien

terhadap pengobatan. Misalnya, pasien yang sukar menelan, muntah atau tidak dapat

minum obat tertentu (dalam bentuk kapsul). Faktor gangguan visual, pendengaran,

intelektual atau motorik, yang mungkin menyebabkan pasien sukar makan obat, harus

dipertimbangkan.

Rencana perawatan harus mencangkup rencana pemberian obat, bergantung pada hasil

pengkajian, pengetahuan tentang kerja dan interaksi obat, efek samping, lama kerja, dan

program dokter.

Pemberian obat per oral adalah memberikan obat yang dimasukkan melalui

mulut. Memberikan obat oral adalah suatu tindakan untuk membantu proses

penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan melalui mulut sesuai dengan

program pengobatan dari dokter.

4
Pemberian obat per oral merupakan cara yang paling banyak dipakai karena ini

merupakan cara yang paling mudah, murah, aman, dan nyaman bagi pasien. Berbagai

bentuk obat dapat di berikan secara oral baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul atau

puyer. Untuk membantu absorbsi , maka pemberian obat per oral dapat di sertai dengan

pemberian setengah gelas air atau cairan yang lain.

Keuntungan

Keuntungan Pemberian Obat Rute Oral diantaranya cocok dan nyaman bagi

klien, Ekonomis, Dapat menimbulkan efek local atau sistemik, dan Jarang membuat

klien cemas.

Kelemahan

Kelemahan dari pemberian obat per oral adalah pada aksinya yang lambat

sehingga cara ini tidak dapat di pakai pada keadaan gawat. Obat yang di berikan per oral

biasanya membutuhkan waktu 30 sampai dengan 45 menit sebelum di absorbsi dan efek

puncaknya di capai setelah 1 sampai dengan 1 ½ jam. Rasa dan bau obat yang tida enak

sering mengganggu pasien. Cara per oral tidak dapat di pakai pada pasien yang

mengalami mual-mual, muntah, semi koma, pasien yang akan menjalani pangisapan

cairan lambung serta pada pasien yang mempunyai gangguan menelan.

Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan iritasi lambung dan menyebabkan

muntah (mislanya garam besi dan Salisilat). Untuk mencegah hal ini, obat di persiapkan

dalam bentuk kapsul yang diharapkan tetap utuh dalam suasana asam di lambung, tetapi

menjadi hancur pada suasana netral atau basa di usus. Dalam memberikan obat jenis ini,

5
bungkus kapsul tidak boleh di buka, obat tidak boleh dikunyah dan pasien di beritahu

untuk tidak minum antasaid atau susu sekurang-kurangnya satu jam setelah minum obat.

Apabila obat dikemas dalam bentuk sirup, maka pemberian harus di lakukan

dengan cara yang paling nyaman khususnya untuk obat yang pahit atau rasanya tidak

enak. Pasien dapat di beri minuman dingin (es) sebelum minum sirup tersebut. Sesudah

minum sirup pasien dapat di beri minum, pencuci mulut atau kembang gula.

Tujuan Pemberian

1. Untuk memudahkan dalam pemberian

2. Proses reabsorbsi lebih lambat sehingga bila timbul efek samping dari obat

tersebut dapat segera diatasi

3. Menghindari pemberian obat yang menyebabkan nyeri

4. Menghindari pemberian obat yang menyebabkan kerusakan kulit dan jaringan

5. Pasien mendapatkan pengobatan sesuai program pengobatan dokter.

6. Memperlancar proses pengobatan dan menghindari kesalahan dalam pemberian

obat.

B. Prinsip Enam Benar

1.Benar Pasien

Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di

tempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya.

Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai,

6
misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat

gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti

menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang

identitasnya.

2.Benar Obat

Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang

yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu

hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum

memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali.

Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label

botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika

labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian

farmasi.

Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat

perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat

dan kerjanya.

3.Benar Dosis

Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa dosisnya. Jika ragu, perawat

harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker sebelum dilanjutkan

ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya lagi. Ada

beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda tiap ampul atau

tabletnya. Misalnya ondansentron 1 amp, karena 1 amp ondansentron dosisnya ada 4

7
mg, ada juga 8 mg. ada antibiotik 1 vial dosisnya 1 gr, ada juga 1 vial 500 mg. jadi Anda

harus tetap hati-hati dan teliti.

4.Benar Cara/Rute

Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang

menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan

respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan.

Obat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.

1. Oral, adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai,

karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui

rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN.

2. Parenteral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti

disamping, enteron berarti usus, jadi parenteral berarti diluar usus, atau tidak

melalui saluran cerna, yaitu melalui vena (perset / perinfus).

3. Topikal, yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. Misalnya

salep, losion, krim, spray, tetes mata.

4. Rektal, obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang

akan mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh

efek lokal seperti konstipasi (dulkolax supp), hemoroid (anusol), pasien yang

tidak sadar / kejang (stesolid supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang

lebih cepat dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral, namun sayangnya

tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria.

8
5. Inhalasi, yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas

memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk

pemberian obat secara lokal pada salurannya, misalnya salbotamol (ventolin),

combivent, berotek untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi

oksigen.

5.Benar Waktu

Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk

mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat harus diminum

sebelum makan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, harus diberi satu jam

sebelum makan. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak boleh diberikan bersama

susu karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap. Ada

obat yang harus diminum setelah makan, untuk menghindari iritasi yang berlebihan pada

lambung misalnya asam mefenamat.

6.Benar Dokumentasi

Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh

siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak

dapat diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan.

9
C. Jenis-jenis dan Bentuk-bentuk Obat Oral

1. Obat Tablet

Tablet adalah sedian farmasi yang padat, berbentuk bundar dan pipih atau cembung

rangkap.

Bentuk ini paling banyak beredar di Indonesia disebabkan karena bentuk “tablet” adalah

bentuk obat yang praktis dan ekonomis dalam produksi, penyimpanan dan

pemakaiannya.

Pembuatan tablet ini selain diperlukan bahan obat juga diperlukan zat tambahan, yaitu :

– Zat pengisi untuk memperbesar volume tablet.

Misalnya : saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phoshas, Calcii Carbonas

dan zat lain yang cocok.

– Zat pengikat ; dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat.

Biasanya digunakan mucilage Gummi Arabici 10-20 % (panas), Solution

Methylcelloeum 5 %

– Zat penghancur, dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut.

Biasanya digunakan : Amylum Manihot kering, Gelatinum, Agar- agar, Natrium

Alginat

– Zat pelicin, Dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan

Talcum 5 %, Magnesii Streras, Acidum Strearicum

10
Jenis –jenis tablet

a) Tablet Biasa

Yaitu tablet yang dicetak, tidak disalut diabsorpsi disaluran cerna dan pelepasan

obatnya cepat untuk segera memberikan efek terapi. Contoh : tablet paracetamol.

b) Tablet Kompresi

Adalah tablet yang dibuat dengan sekali tekanan menjadi berbagai bentuk tablet

dan ukuran, biasanya kedalam bahan obatnya diberi tambahan sejumlah bahan

pembantu. Contoh : Bodrexin.

c) Tablet Kompresi Ganda

Adalah tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya memerlukan lebih dari

satu kali tekanan. Contohnya : Decolgen .

d) Tablet Trikurat

Tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris dan biasanya

mengandung sejumlah kecil obat keras . Sudah jarang ditemukan.

e) Tablet Hipodermik

Tablet yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam

air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara

oral. Contoh: Atropin Sulfat

f) Tablet Sublingual

11
Dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet

di bawah lidah.

Contoh: Tablet Isosorbit dinitrat, Nitroglicerin.

g) Tablet Bukal

Tablet yang digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi. Contoh :

Progesteron

h) Tablet Efervescen

Yaitu tablet berbuih dilakukan dengan cara kompresi granulasi yang

mengandung garam-garam effer adalah bahan bahan lain yang mampu

melepaskan gas ketika bercampur dengan air. Harus dikemas dalam wadah

tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk

langsung ditelan”. Contohnya: CDR.

i) Tablet Diwarnai Coklat

Tablet ini menggunakan coklat untuk menyalut dan mewarnai tablet, misalnya

dengan menggunakan oksida besi yang dipakai sebagai warna tiruan coklat.

j) Tablet Kunyah

Tablet yamg cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di

rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.

biasa digunakan untuk tablet anak atau pada beberapa multivitamin. Contohnya:

Fitkom, Antasida

12
k) Tablet Salut Gula

Ini merupakan tablet tablet kempa yang terdiri dari penyalut gula. Tujuan

penyalutan ini adalah untuk melindungi obat dari udara dan kelembapan serta

member rasa atau untuk menghindarkan gangguan dalam pemakaiannya akibat

rasa atau bau bahan obat. Contohnya : Pahezon, Arcalion .

l) Tablet Salut Selaput

Tablet ini disalut dengan selaput yang tipis yang akan larut atau hancur di daerah

lambung usus. Contohnya : Fitogen.

m) Tablet Hisap

Digunakan untuk pengobatan local disekitar mulut. Contohnya : Ester C,

Biovision Kids

n) Tablet Salut Enteric

Tablet yang disalut dengan lapisan yang tidak atau hancur dilambung tapi di

usus. contoh : Voltaren 50 mg, Enzymfort

Kelebihan dan Kekurangan Tablet

a. Kelebihan

• Lebih mudah disimpan

• Memiliki usia pakai yang lebih panjang dibanding obat bentuk lainnya

• Bentuk obatnya lebih praktis

13
• Konsentrasi yang bervariasi.

• Dapat dibuat tablet kunyah dengan bahan mentol dan gliserin yang dapat larut dan

rasa yang

enak, dimana dapat diminum, atau memisah dimulut.

• Untuk anak-anak dan orang-orang secara kejiwaan, tidak mungkin menelan tablet,

maka tablet tersebut dapat ditambahkan penghancur, dan pembasah dengan air lebih

dahulu untuk pengolahannya.

• Tablet oral mungkin mudah digunakan untuk pengobatan tersendiri dengan bantuan

segelas air.

• Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan,

terutama bila tersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera

terjadi.

• Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah.

• Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan yang

terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas

kandungan yang paling lemah.

• Secara umum, bentuk pengobatan dangan menggunakan tablet lebih disukai karena

bersih, praktis dan efisien.

• Sifat alamiah dari tablet yaitu tidak dapat dipisahkan, kualitas bagus dan dapat

dibawa kemana-mana, bentuknya kompak, fleksibel dan mudah pemberiannya.

• Tablet tidak mengandung alcohol

• Tablet dapat dibuat dalam berbagai dosis.

14
b. Kekurangan

• Warnanya cenderung memberikan bahaya.

• Tablet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk

menjaga kesalahan karena menurut mereka tablet tersebut adalah permen.

• Orang yang sukar menelan atau meminum obat.

• Keinginan konsumen beda dengan yang kita buat/produk.

• Beberapa obat tidak dapat dikepek menjadi padat dan kompak.

2.Obat Kaplet

Kaplet (kapsul tablet) adalah bentuk tablet yang dibungkus dengan lapisan gula

dan biasanya diberi zat warna yang menarik.

Bentuk dragee ini selain supaya bentuk tablet lebih menarik juga untuk

melindungi obat dari pengaruh kelembapan udara atau untuk melindungi obat dari

keasaman lambung. Kaplet pun merupakan sedian padat kompak dibuat secara kempa

cetak, bentuknya oval seperti kapsul.

Kelebihan dan Kekurangan Kaplet

Kelebihan :

a. Bentuk tablet lebih menarik

15
b. Kaplet mungkin mudah digunakan untuk pengobatan tersendiri dengan bantuan

segelas air.

Kekurangan :

a. Kaplet dan semua obat harus disimpan diluar jangkauan anak-anak untuk

menjaga kesalahan karena menurut mereka kaplet tersebut adalah permen.

b. Orang yang sukar menelan atau meminum obat.

3.Obat Kapsul

Kapsul didefinisikan sebagai sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras

atau lunak yang dapat larut. Cangkang dapat dibuat dari pati, gelatin, atau bahan lainnya yang

sesuai.

Kapsul telah digunakan sejak abad 19. Salah satu masalah farmasis yang muncul pada

abad 19 adalah rasa dan bau yang tidak enak dari obat herbal, sediaan dan pelayanan yang

kurang baik bagi pasien. Banyak sediaan baru diciptakan agar obat lebih enak dikonsumsi.

Sediaan yang paling diminati adalah kapsul gelatin. Kapsul gelatin pertama kali di patenkan oleh

F.A.B .Mothes , mahasiswa dan Dublanc, seorang farmasis . Paten mereka diperoleh pada

tahun 1834, meliputi metode untuk memproduksi kapsul gelatin yang terdiri dari satu bagian ,

berbentuk lonjong, ditutup dengan setetes larutan pekat gelatin panas sesudah diisi.

Penggunaan kapsul gelatin ini menyebar bahkan diproduksi oleh banyak Negara

di eropa dan amerika.

16
Kapsul gelatin memiliki banyak keunggulan dibanding sediaan obat lainnya.

Kapsul gelatin tidak berbau, tidak berasa dan mudah digunakan karena saat terbasahinya

oleh air liur akan segera diikuti daya bengkak dan daya larut airnya. Pengisian ke dalam

kapsul disarankan untuk obat yang memiliki rasa yang tidak enak atau bau yang tidak

enak. Kapsul yang dimpan dalam lingkungan yang kering menunjukkan dayha tahan dan

kemantapan penyimpanan yang baik dan dengan teknologi modern, pembuatannya lebih

mudah dan cepat serta ketepatan dosis lebih tinggi daripada tablet. Cara pengisian kapsul

juga tidak perlu memperhitungkan adanya perubahan sifat material asalnya dan

pelepasan zat aktifnya.

Selain gelatin, cangkang kapsul juga dapat dibuat dari pati dan tepung gandum

dan digunakan untuk mewadahi bahan obat berbentuk serbuk. Kapsul pati ini, memiliki

silinder tertutup satu muka atau mangkuk kecil (garis tengah 15-25 mm dan tinggi 10

mm). Walaupun tercantum dalam farmakope, tapi peranannya sampai saat ini tidak ada.

Kelebihan dan Kekurangan Kapsul

Kelebihan kapsul

1. Cukup stabil dalam penyimpanan dan transportasi

2. Dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak

3. Tepat untuk obat yang teroksidasi dan mempunyai bau dan rasa yang tidak enak

4. Bentuk kapsul mudah ditelan dibanding bentuk tablet

5. Bentuknya lebih praktis dan menarik.

17
6. Bahan obat dapat cepat hancur dan larut di dalam perut sehingga dapat segera

diabsorpsi

7. Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari

8. Dokter dapat mengkombinasikan beberapa macam obat dan dosis yang berbeda-

beda

sesuai kebutuhan pasien.

9. Kapsul dapat diisi dengan cepat karena tidak memerlukan bahan

tambahan/pembantu

seperti pada pembuatan pil dan tablet.

Kekurangan kapsul

1. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang mudah menguap karena pori-pori

kapsul tidak dapat menahan penguapan.

2. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang higroskopis (menyerap lembab).

3. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul.

4. Tidak dapat diberikan untuk balita.

5. Tidak bisa dibagi-bagi.

18
4. Obat Cair

Merupakan sedian cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat

larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya,cara peracikan, atau

penggunaannya,tidak dimasukan dalam golongan produk lainnya.

Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topical.

Formula obat berbentuk cair tidak hanya mudah ditelan tapi juga bisa diberi tambahan

rasa. Kebanyakan formula obat untuk anak dibuat dalam bentuk ini.

Beberapa jenis suplemen (seperti vitamin E) juga dibuat dalam bentuk cair agar

lebih mudah dipakai di kulit. Tetes mata atau obat batuk merupakan jenis lain dari obat

bentuk cair.

a. Emulsi

Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi,

fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan

lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi.

b. Guttae (Obat Tetes)

Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan

untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan

menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang

dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat

tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tets mulut),

19
Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae

Ophtalmicae (tetes mata).

c. Suspensi

Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi

dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk

susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga

(telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.

d. Injectiones (Injeksi)

Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang

harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang

disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau

selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien

yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.

Kelebihan dan Kekurangan Obat Cair

Kelebihan

1. bentuk obat ini juga lebih mudah diserap di dalam saluran pencernaan

2. mudah ditelan

3. Kerja obat lebih cepat

4. Penyerapan obat hampir sempurna

5. Bioavailabilitas tinggi

6. Mudah bercampur dengan cairan biologis (getah lambung saluran cerna)

7. Merupakan campuran homogen.

20
8. Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan.

9. Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorpsi.

10. Mudah diberi pemanis, bau-bauan dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat

pada anak-anak.

11. Untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan.

Kekurangan

1.Stabilitas larutan kurang dibanding sediaan padat, contoh vitamin C

2. Kurang dapat menutupi rasa obat tidak enak, contoh garam ferro

3.Merepotkan penderita, karena harus menyiapkan sendok

4. Relatif lebih mahal daripada sediaan padat

5.Ekstrak

Obat Ekstrak Adalah sediaan obat yang diperoleh dengan memindahkan bagian

zat aktif dari bahan dasar obat (simplisia dari hewan atau tumbuhan) ke komponen lain

agar zat tersebut lebih berkhasiat. Contohnya memindahkan zat aktif menggunakan

larutan, kemudian seluruh atau sebagian besar pelarut tersebut diuapkan, sehingga

diperoleh massa atau serbuk dari zat aktif tadi, dan diolah sedimikian rupa hingga

memenuhi standar yang telah ditetapkan. Sediaan Obat Ekstrak digunakan untuk

memudahkan pengaturan dosis obat tersebut, dan agar zat aktif dapat diatur dalam kadar

yang tinggi sehingga kerjanya optimal.


21
ISTILAH YANG BERKAITAN DENGAN PEMBERIAN OBAT

INDIKASI

Yaitu obat tersebut dapat diberikan ke pasien.

Contoh : Paracetamol / Antalgin

INDIKASINYA

Penggunaannya adalah sebagai : Antipiretik & Analgetik

Efek Antipiretik (efek utamanya) adalah : menurunkan suhu tubuh / demam.

Efek Analgetik (efek utamanya ) adalah : menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri

dari ringan sampai berat.

KONTRA INDIKASI

Yaitu obat tersebut tidak dapat diberikan atau bila diberikan akan berbahaya.

Contoh : Obat Oxytosin

Kontra Indikasinya adalah bila kelainan pada uterus ; Uterus pernah dioperasi (SC), atau

pada panggul sempit.

EFEK SAMPING (SIDE EFFECT)

Istilah efek samping (side effect) lebih diartikan dari efek obat yang merugikan pasien

yang menggunakan obat tersebut.

Misalnya :

a. Obat Diphenhidramine

Efek utamanya adalah Antihistamin (anti allergi),

Efek sampingnya adalah menghambat SSP → pasien menjadi mengantuk.

22
b. Obat Atropin

Efek utamanya adalah relaksasi usus / ureter

Efek sampingnya adalah mulut / bibir menjadi kering.

4. EFEK UTAMA ( MAIN EFFECT = PRINCIPAL EFFECT)

Efek utama suatu obat adalah efek yang paling menonjol dari sekian banyak efek yang

mungkin dapat ditimbulkan oleh obat tersebut apabila diberikan kepada pasien.

Misalnya :

Diazepam → efek utamanya : menenangkan (tranquilizer)

Frusemid (Lasix) → efek utamanya : diuresis.

5. REAKSI ALLERGI

Adalah efek atau akibat penggunaan obat yang tidak terkait dengan sifat aktivitas obat

dan terjadi pada pasien tertentu.

Reaksi allergi tidak berhubungan dengan dosis obat akan tetapi bergantung pada

reaktiviti / hepersensivitas dari pasien yang mendapatkan obat oleh karena terbentuknya

kompleks antigen – antibody yang menimbulkan efek / reaksi.

Ditinjau dari saat terjadinya reaksi allergi, dibagi menjadi :

5.1. Reaksi segera

Dapat terjadi Shock Anafilaktik, edema larynx, urtikaria yang menyeluruh,

conjunctivitis.

5.2. Reaksi tidak terlalu lama

Dapat terjadi manifestasi pada :

23
- Kulit dan mukosa : urtikaria.

- Pada darah : anemia aplastik.

5.3. Reaksi lambat ( 5 – 10 hari)

Reaksi pada kulit dan mukosa : urtikaria.

Reaksi pada darah : anemia aplastik.

6. EFEK TOKSIS

Salah satu bentuk lain dari efek obat yang merupakan efek lain yang tidak diinginkan

atau diharapkan adalah efek toksis

Ini terjadi pada penggunaan obat yang melebihi dosis terapeutik atau penggunaan bahan

toksis / racun yang tidak digunakan untuk pengobatan.

24
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pemberian obat oral adalah suatu tindakan untuk membantu proses penyembuhan

dengan cara memberikan obat-obatan melalui mulut sesuai dengan program pengobatan

dari dokter.

Tujuan dari pengobatan via oral antara lain mencegah, mengobati dan mengurangi rasa

sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis obat, dan menghindari pemberian obat yang

menyebabkan kerusakan kulit dan jaringan.

Sedangkan hal yang harus diperhatikan meliputi indikasi, kontraindikasi, penggunaan

prinsip 6 benar, jenis obat, serta memastikan bahwa pasien benar-benar meminum obat

tersebut.

 Pemberian obat secara sublingual merupakan pemberian obat yang cara pemberiannya

di taruh di bawah lidah. Absorbsinya baik melalui jaringan kapiler di bawah lidah obat-

obatan ini mudah diberikan sendiri.

 Tujuannya Agar efek yang ditimbulkan bisa lebih cepat karena pembuluh darah di

bawah lidah merupakan pusat dari sakit.

 Kelebihan yaitu efek obat akan terasa lebih cepat dan kerusakan obat pada saluran cerna

dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat di hindari.

25
 Kekurangannya yaitu kurang praktis untuk digunakan terus menerus dan dapat

merangsang selaput lendir mulut.

 Hanya obat yang bersifat lipofil dan dapat diberikan dengan jalan ini.

 Contoh obat sublingual adalah obat-obatan nitrogliserin dan steroid.

B. Saran

1. Bagi siswa/i diharapkan untuk menambah wawasan dengan banyak membaca buku dan

terus mencari informasi tetang pengobatan melalui oral. Dan Sublingual

2. Bagi para tenaga kesehatan diharapkan untuk melakukan cara pemberian obat dengan

baik dan benar.

C. Daftar Pustaka

https://ndezzndezz.wordpress.com/2011/06/29/bentuk-obat-tablet-kapsul-kaplet-dan-cair/

26