Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena dengan hidayah,

inayah dan pertolongan sehingga kami dapat menyelesaikan proposal ini ini.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi

besar Muhammad SAW, nabi akhir zaman yang telah membawa umatnya dari

zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang yang dihiasi iman, islam, dan

ikhsan.

Penulisan proposal ini berjudul “Gambaran Pemenuhan “spiritual” oleh

perawat di Ruang Hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura”.

Jika dalam penulisan proposal ini terdapat kekurangan baik itu tulisan

maupun kata kata yang tidak logis, kami mengharapkan kritik dan saran yang

membangun.

Dalam penulisan proposal ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih

kepada semua pihak yang telah mambantu.

Akhir kata, kami mohon maaf apabila di dalam penulisan proposal ini terdapat

banyak kesalahan.

Banjarbaru, 12 Februari 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 4

A. Latar Belakang ............................................................................................. 4

B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 8

C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 8

D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 9

BAB II TINJAUAN TEORI ................................................................................. 10

A. Konsep Gagal Ginjal Kronik (GGK) ......................................................... 10

1. Pengertian ............................................................................................... 10

2. Etiologi ................................................................................................... 11

3. Stadium ................................................................................................... 12

B. Spiritual ...................................................................................................... 12

1. Definisi ................................................................................................... 12

2. Faktor yang mempengaruhi spiritual ...................................................... 13

3. Karakteristik Spiritual ............................................................................ 14

C. Kebutuhan Spiritual ................................................................................... 16

D. Hemodialisis............................................................................................... 18

1. Pengertian ............................................................................................... 18

E. Kepatuhan .................................................................................................. 18

1. Pengertian kepatuhan ............................................................................. 18

2. Faktor – faktor yang mendukung kepatuhan .......................................... 19

F. Standar Prosedur Operasional .................................................................... 21

1. Pengertian ............................................................................................... 21

2. Manfaat Standar Prosedur Operasional .................................................. 21

ii
G. Kerangka Konsep ....................................................................................... 22

BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 47

A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 47

B. Populasi dan Sampel Penelitian ................................................................. 48

1. Populasi .................................................................................................. 48

2. Sampel .................................................................................................... 48

C. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................... 49

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ............................................ 49

1. Variabel Penelitian ................................................................................. 49

2. Definisi Operasional ............................................................................... 49

E. Metode Pengumpulan Data ........................................................................ 50

1. Jenis instrumen ....................................................................................... 50

2. Cara Pengumpulan Data ......................................................................... 50

F. Pengolahan Data dan Analisis Data ........................................................... 52

1. Pengolahan Data ..................................................................................... 52

2. Analisa Data ........................................................................................... 53

G. Etika Penelitian .......................................................................................... 54

1. Informed Consent ................................................................................... 54

2. Anonymity (tanpa nama) ......................................................................... 54

3. Confidentiality (kerahasiaan).................................................................. 55

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna.


Manusia terdiri dari komponen menyeluruh yaitu komponen biologis,
psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Jadi manusia harus dilihat secara
utuh (holistik). Oleh sebab itu manusia memerlukan perawatan yang
bersifat Holistik, yaitu memenuhi semua komponennya termasuk
komponen Spiritual. Sedangkan Spiritual adalah sesuatu yang
berhubungan dengan spirit, semangat untuk mendapatkan keyakinan,
harapan dan makna hidup. Spiritualitas merupakan suatu kecenderungan
untuk membuat makna hidup melalui hubungan intrapersonal,
interpersonal dan transpersonal dalam mengatasi berbagai masalah
kehidupan.
Menurut McEwan (2005) Kata Spiritualitas berasal dari Bahasa
Latin spiritus, yang berarti bernapas atau angin. Jiwa memberikan
kehidupan bagi seseorang. Ini berarti segala sesuatu yang menjadi pusat
semua askpek kehidupan seseorang. Menurut Florence Nightingale,
spiritualitas adalah suatu dorongan yang menyediakan energi yang
dibutuhkan untuk mempromosikan lingkungan rumah sakit yang sehat,
dan melayani kebutuhan spiritual sama pentingnya dengan melayani
kebutuhan fisik. Hubungan antara spiritualitas dan penyembuhan tidak
begitu dipahami. Namun, hal tersebut merupakan faktor intrinsik individu
yang menjadi faktor penting dalam penyembuhan. Penyembuhan lebih
sering terjadi dengan adanya kepercayaan, data terbaru menunjukkan suatu
hubungan antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Kepercayaan dan harapan
individu akan memengaruhi kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang.
Pada satu penelitian, peneliti menemukan bahwa individu dewasa yang
menganut agama dan aliran spiritual serta berpartisipasi dalam kegiatan

4
keagamaan dilaporkan memiliki kesehatan fisik yang lebih baik, depresi
lebih sedikit, dan dukungan sosial yang lebih baik. (Potter & Perry, 2010)
Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan keperawatan
kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat baik dalam keadaan
sakit maupun sehat. Praktik keperawatan adalah pelayanan yang
diselenggarakan oleh perawat dalam bentuk asuhan keperawatan (Undang-
Undang Republik Indonesia No. 38 tahun 2014).
Perawat sebagai tenaga kesehatan yang profesional mempunyai
kesempatan paling besar untuk memberikan pelayanan kesehatan
khususnya pelayanan/asuhan keperawatan yang komprehensif dengan
membantu klien memenuhi kebutuhan dasar yang holistik. Perawat
berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan spiritual klien sebagai
bagian dari kebutuhan menyeluruh klien, antara lain dengan memfasilitasi
pemenuhan kebutuhan spiritual klien tersebut, walau pun perawat dan
klien mempunyai keyakinan spiritual atau keagamaan yang tidak sama.
Muslim dan Muslimah percaya bahwa sakit adalah bisa merupakan
cobaan hidup dan merupakan penghapus dosa seperti di jelaskan pada Al-
qur’an surah Asy-Syu’araa sebagai berikut:
78. (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang
menunjuki aku, 79. dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum
kepadaku 80. dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, 81.
dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku
(kembali), (Asy syu’araa 78-81).
Penyakit terminal biasanya menyebabkan ketakutan terhadap nyeri
fisik, isolasi, hal yang tak terduga, dan kematian. Penyakit terminal
menciptakan ketidakpastian tentang apa arti kematian dan membuat klien
rentan terhadap tekanan spiritual. Namun, beberapa klien memiliki suatu
rasa kedamaian spiritual yang membuat mereka dapat menghadapi
kematian tanpa rasa takut. Spiritualitas membantu klien untuk menemukan
kedamaian dalam diri dan kematian mereka. Individu yang mengalami
penyakit terminal biasanya akan menemukan diri mereka meninjau ulang

5
kehidupan mereka dan mengajukan pertanyaan tentang artinya. Pertanyaan
yang sering mereka ajukan adalah “Mengapa ini terjadi pada saya?” atau
“Apa yang telah saya lakukan?" Penyakit terminal juga memengaruhi
keluarga dan teman sama banyaknya dengan klien. Penyakit terminal
menyebabkan anggota keluarga menanyakan pertanyaan penting tentang
artinya dan bagaimana hal itu memengaruhi hubungan mereka dengan
klien. (Potter & Perry, 2010)
Gagal ginjal kronik (GGK) atau penyakit ginjal tahap akhir atau
End Stage Renal Disease (ESRD) adalah penyimpangan progresif, fungsi
ginjal yang tidak dapat pulih dimana kemampuan tubuh untuk
mempertahankan keseimbangan metabolik dan cairan dan elektrolit
mengalami kegagalan yang mengakibatkan uremia. Kondisi ini mungkin
disebabkan oleh gloumerulonefritis kronis. Preparat lingkungan dan
okupasi yang telah menunjukkan mempunyai dampak dalam gagal ginjal
kronis termasuk timah, kadmium, merkuri, dan kromium. Pada akhirnya
dialisis atau transplantasi ginjal diperlukan untuk menyelematkan pasien.
Sehingga GGK merupakan penyakit terminal yang dapat membuat klien
atau pasien menjadi rentan terhadap tekanan spiritual.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun
2013 menunjukkan bahwa prevalensi Gagal Ginjal Kronis (GGK)
Kalimantan Selatan adalah 0,2 persen dan menunjukkan bahwa
pertambahan usia merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit
GGK. Prevalensi penyakit GGK pada usia 34-44 tahun adalah 0,3 persen,
usia 45-54 tahun adalah 0,4 persen, usia 55-74 tahun adalah 0,5 persen dan
pada kelompok usia lebih dari 75 tahun sebesar 0,6 persen.
Penelitian Ahmad Sairaji (2017) Di Ruang Hemodialisa RSUD
RATU ZALECHA MARTAPURA Hasil penelitian bahwa dari 47
responden GGK yang diteliti menunjukkan bahwa 25 (53,2%) responden
yang pemenuhan kebutuhan spiritualnya dalam kategori baik, sedangkan
sisanya yaitu 22 (46,8%) responden kategori kebutuhan spiritualnya
kurang.

6
Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, permasalahan tentang
masih belum terpenuhinya pemenuhan kebutuhan spiritual pasien oleh
perawat, dan banyak penelitian tentang pemenuhan kebutuhan secara fisik
saja. Sedangkan perawat seharusnya juga memperhatikan tentang
pemenuhan spiritual pasien. Pada pasien GGK Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Asti, Hamid dan Putri (2014) menggambarkan bahwa
pasien GGK yang menjalani hemodialisis mengalami empat perubahan
yaitu perubahan psikologis berupa rasa takut terhadap terapi, cemas terkait
ketidakpastian sakit, cemas terkait peran dan tanggung jawab, serta
penolakan dan marah, perubahan fisik seperti penurunan berat badan dan
edema, perubahan fungsi tubuh seperti mual, insomnia, lemas, cepat
merasa lelah dan sesak nafas, perubahan aktifitas seperti tidak lagi bekerja
dan tidak melakukan aktifitas apapun, tidak lagi mengikuti kegiatan di
lingkungan dan jarang keluar rumah.
Pemenuhan kebutuhan spiritual pada pasien GGK dapat
menurunkan penderitaan dan membantu penyembuhan fisik dan mental.
Banyak pasien yang memiliki kebutuhan spiritual yang dapat
dipertahankan oleh perawat untuk membantu pasien mencapai dan
mempertahankan perasaan kesejahteraan spiritual, sembuh dari penyakit,
dan menghadapi kematian dengan tenang (Kozier, 2010, p.495). Setiap
perawat harus memahami konsep tentang spiritualitas, bagaimana spiritual
dapat mempengaruhi kehidupan seseorang, dan mempunyai keterampilan
dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Sebab, memenuhi kebutuhan
spiritualitas pasien dapat meningkatkan perilaku koping dan kekuatan
dalam mengadapi suatu penyakit (Potter & Perry, 2005, p.564).
Berdasarkan Studi Pendahuluan di RSUD RATU ZALECHA
MARTAPURA pada tanggal Januari 2018, telah didapatkan data bahwa
berdasarkan wawancara dengan pasien yang memiliki keadaan spiritual
yang lebih baik, pasien mengatakan penting pemberian pemenuhan
spiritual terhadap keadaan penyakitnya. Terutama pada saat pertama kali
melakukan Hemodialisa. Pasien lain dengan keadaan spiritual yang

7
kurang, merasa masih sulit untuk menerima penyakitnya, dan semangat
hidupnya menjadi kurang. Pada Peraturan Direktur RSUD RATU
ZALECHA MARTAPURA Nomor 126 Tahun 2016 tentang Penerapan
Hak Pasien Dan Keluarga Di Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha
Martapura menyatakan pasien berhak untuk mendapatkan pemenuhan
kebutuhan Spiritualnya dan dilaksanakan pada SPO (Standar Prosedur
Operasional) Identifikasi nilai-nilai dan kepercayaan pasien, Assesmen
Pasien tahap terminal, Pelayanan pasien tahap terminal, dan pelayanan
Kerohanian.
Berdasarkan data tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengangkat
sebuah judul penelitian tentang “Gambaran Pemenuhan ‘Spiritual’ oleh
Perawat Di Ruang Hemodialisa RSUD RATU ZALECHA
MARTAPURA”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini


adalah “bagaimana gambaran pemenuhan spiritual oleh perawat di ruang
hemodialisa RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang gambaran
pemenuhan spiritual oleh perawat di ruang hemodialisa RSUD RATU
ZALECHA MARTAPURA.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pemenuhan spiritual oleh perawat di
ruang hemodialisa RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA.

8
D. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis
Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan
pemikiran dan masukan ilmu pengetahuan untuk menunjang
peningkatan pengetahuan tentang pemenuhan spiritual oleh perawat di
ruang Hemodialisa.
2. Secara Praktis
a. Bagi Tenaga Kesehatan
Penelitian ini bisa menjadi tambahan ilmu bagi tenaga
kesehatan, khususnya bagi perawat. Dan juga dapat memberikan
menjadi pelajaran untuk lebih memenuhi kebutuhan spiritual
kepada pasien sebagai tenaga kesehatan.
b. Bagi Instansi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi
dan bahan pembelajaran yang berkaitan dengan penelitian tentang
kebutuhan spiritual untuk pasien.
c. Bagi Rumah Sakit
Penelitian ini bisa menjadi sumber rujukan ilmu dan
informasi dalam memberikan asuhan keperawatan untuk
penanganan masalah spiritual yang timbul pada pasien yang
memiliki penyakit kronis atau terhadap pasien terminal serta
sebagai tolak ukur untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan
pemulihan derajat kesehatan masyarakat.

9
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Gagal Ginjal Kronik (GGK)

1. Pengertian

Gagal ginjal Kronis adalah kegagalan fungsi ginjal untuk


mempertahankan metabolism serta keseimbangan cairan dan
elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan
manifestasi penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) di dalam
darah. (Muttaqin & Sari, 2011)
Beberapa pengertian lain di dalam Haryono, (2013) adalah
sebagai berikut:
Gagal ginjal kronik biasanya merupakan akibat akhir
kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges,
1999:626).
Gagal ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu
mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan
kehidupan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan
individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang
menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. (Barbara C
Long, 1996:368).
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD)
merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible
dimana kemampuan tubuh gagal mempertahankan metabolism dan
keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi
urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (brunner & Suddarth,
2001:1448).

10
Gagal ginjal kronik adalah sindrom klinis yang umum pada
stadium lanjut dari semua penyakit ginjal kronik yang ditandai oleh
uremia (Depkes RI, 1996:61).

2. Etiologi

Menurut Muttaqin & Sari (2011), Begitu banyak kondisi klinis yang
bisa menyebabkan terjadinya GGK. Akan tetapi, apapun sebabnya,
respons yang terjadi adalah penurunan fungsi ginjal secara progresif.
Kondisi klinis yang memungkinkan dapat mengakibatkan GGK bisa
disebabkan dari ginjal sendiri dan di luar ginjal.
a. Penyakit dari ginjal.
1) Penyakit pada saringan (glomerulus): Glomerulonefritis.
2) Infeksi kuman: pyelonephritis, ureteritis.
3) Batu ginjal: nefrolitiasis.
4) Kista di ginjal: polcytis kidney.
5) Trauma langsung pada ginjal.
6) Keganasan pada ginjal.
7) Sumbatan: batu, tumor, penyempitan/striktur.
b. Penyakit umum di luar ginjal
1) Penyakit sistemik: diabetes mellitus, hipertensi, kolesterol
tinggi.
2) Dyslipidemia.
3) SLE.
4) Infeksi di badan: TBC paru, sifilis, malaria, hepatitis.
5) Preeklamsi.
6) Obat-obatan.
7) Kehilangan banyak cairan mendadak (luka bakar).

11
3. Stadium

GGK selalu berkaitan dengan penurunan progresif GFR (Glomerular


Filtration Rate). Stadium-stadium GGK didasarkan pada tingkat GFR
yang tersisa dan meliputi hal-hal berikut:
a. Penurunan cadangan ginjal, yang terjadi apabila GFR turun 50%
dari normal.
b. Insufisiensi ginjal, yang terjadi apabila GFR turun menjadi 20-35%
dari normal. Nefron-nefron yang tersisa sangat rentan mengalami
kerusakan sendiri karena beratnya beban yang mereka terima.
c. Gagal ginjal, yang terjadi apabila GFR kurang dair 20% normal.
Semakin banyak nefron yang mati.
d. Gagal ginjal terminal, yang terjadi apabila GFR menjadi kurang
dari 5% dari normal. Hanya sedikit nefron fungsional yang tersisa.
Pada seluruh ginjal ditemukan jaringan parut dan atrofi tubulus.

B. Spiritual

1. Definisi

Spiritual menurut kamus bersar Bahasa Indonesia adalah sesuatu


yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan, rohani, batin.
Spiritual berkenaan dengan hati, jiwa, semangat, kepedulian antar
sesama manusia, makhluk lain, dana lam sekitar berdasarkan
keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Spiritual juga disebut
sebagai sesuatu yang dirasakan tentang diri sendiri dan hubungan
dengan orang lain, baik, ramah, menghormati, dan menghargai setiap
orang untuk membuat perasaan senang seseorang. Spiritual adalah
sebuah kehidupan, tidak hanya do’a, mengenal dan mengakui Tuhan
(Bown & Williams 1993; Hamid, 1999; Nelson, 2002). Berdasarkan
berbagai pengertian diatas , spiritual dapat digambarkan sebagai
pengalaman seseorang atau keyakinan seseorang tentang bagaimana

12
seharusnya menjalani hidup, menghargai orang lain dengan
menggunakan keyakinan akan kekuatan Yang Maha Esa. Spiritual
merupakan bagian dari kekuatan seseorang dalam memaknai
kehidupan. Spiritual merupakan upaya seseorang untuk mencari makna
hidup.

2. Faktor yang mempengaruhi spiritual

Menurut Taylor, 1997; Craven dan Hirnle, 1996; dan Hamid, 2000
ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan spiritual
seseorang antara lain:
1. Tahap perkembangan
Sejak bayi apa yang didengar, dilihat, dicium dan diraba
akan disimpan dalam memori dan akan terus berkembang dalam
menjalani tahap tumbuh kembang berikutnya. Konsep baik buruk,
boleh atau tidak, pantas atau tidak pantas, sudah mulai dipelajari
pada fase ini, termasuk konsep spiritualitas seseorang.
2. Peran Keluarga penting dalam perkembangan spiritual individu
Keluarga merupakan lingkungan terdekat dan dunia
pertama individu mempunyai pandangan, pengalaman terhadap
dunia yang diwarnai oleh pengalaman dengan keluarganya.
3. Latar belakang etnik dan budaya
Pada umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama
dan spiritual keluarga. Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh
latar belakang etnik dan sosial budaya.
4. Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun n egatif dapat
mempengaruhi spiritual seseorang dan sebaliknya juga dipengaruhi
oleh bagaimana seseorang mengartikan secara spiritual
pengalaman tersebut.

13
5. Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan atau bahkan
melemahkan keadaan spiritual seseorang.
6. Terpisah dari ikatan spiritual
Menderita sakit terutama yang bersifat akut, seringkali
membuat individu merasa terisolasi dan kehilangan kebebasan
pribadi dan system dukungan social. Kebiasaan hidup sehari-hari
juga berubah, antara lain tidak dapat menghadiri acara resmi,
mengikuti kegiatan keagamaan atau tidak dapat berkumpul dengan
keluarga atau teman dekat yang bisa memberikan dukungan setiap
saat diinginkan.
7. Isu moral terkait dengan terapi
Banyak isu moral dengan terapi meskipun sudah ada
pemisahan dan orientasi yang tegas dari pengobatan modern dan
pengobatan paradoksikal yang berbasis pada kombinasi energi
tubuh, spirit, dan pikiran (body, mind, and spirit) dengan unsur
akhir keajaiban (Miracle). Kenyataannya semua jenis pengobatan
ini terus berjalan dan tetap berkembang sesuai karakter masyarakat
dengan tokoh yang mengembangkan.

3. Karakteristik Spiritual

Karakteristik spiritual tergambarkan pada hubungan diri sendiri, orang


lain, alam dan hubungan dengan Tuhan (Kozier, Erb, Blais &
Wilkinson, 1995; Grimm, 1991; Puchalski, 2004).
Beberapa karakteristik spiritual adalah sebagai berikut:
1. Hubungan dengan diri sendiri
Merupakan kekuatan dari dalam diri sendiri seseorang, meliputi
pengetahuan dan sikap tentang diri.
Beberapa konsep karakteristik spiritual terkait hubungan dengan
diri sendiri antara lain; kepercayaan, harapan, dan makna hidup
a. Kepercayaan

14
Menurut Fowler dan Keen (19950 kepercayaan bersifat
universal, dimana merupakan penerimaan individu terhadap
kebenaran yang tidak dapat dibuktikan dengan pikiran yang
logis.
b. Harapan (Hope)
Harapan berhubungan dengan ketidakpastian dalam hidup dan
merupakan suatu proses interpersonal yang terebina melalui
hubungan saling percaya dengan orang lain, termasuk dengan
Tuhan. Harapan sangat penting bagi individu untuk
mempertahankan hidup, tanpa harapan banyak orang menjadi
depresi dan lebih cenderung terkena penyakit.
c. Makna atau arti dalam hidup (Meaning of Life)
Perasaan mengetahui makna hidup, yang kadang diidentikkan
dengan perasaan dekat dengan Tuhan, merasakan hidup sebagai
suatu pengalaman yang positif seperti membicarakan tentang
situasi yang nyata, membuat hidup lebih terarah, penuh harapan
tentang masa depan, merasakan mencintai dan dicintai oleh
orang lain.
2. Hubungan dengan orang lain.
karakteristik spiritual seseorang dalam berhubungan dengan orang
lain didasarkan oleh kepercayaan, harapan dan makna hidup yang
terbangun dalam spiritualitas pribadi. Hubungan ini terbagi atas
harmonis dan tidak harmonisnta hubungan dengan orang lain.
Keadaan harmonis meliputi pembagian waktu , pengetahuan dan
sumber secara timbal-balik, mengasuh anak, mengasuh orang tua
dan orang yang sakit serta meyakini kehidupan dan kematian.

15
C. Kebutuhan Spiritual

Kebutuhan Spiritual merupakan kebutuhan dasar yang


dibutuhkan oleh setiap manusia. Di saat sakit, maka hubungan
dengan Tuhannya menjadi semakin dekat, atau sebaliknya.
Mengingat seseorang dalam kondisi sakit menjadi lemah dalam
segala hal, tidak ada yang mamou membangkitkannya dari
kesembuhan kecuali Sang Pencipta. Setiap orang mempunyai
kebutuhan untuk merefleksikan spiritualitasnya. Kebutuhan sering
kali menonjol pada saat sakit atau pada saat krisis kesehatan
lainnya. Pasien yang memiliki keyakinan spiritual yang baik, maka
dapat menemukan atau merasakan bahwa keyakinannya ditantang
oleh situasi kesehatannya, sementara orang dengan keyakinan
spiritual yang kurang baik, akan merasakan secara tiba-tiba
berhadapan dengan berbagai pertanyaan yang menentang terkait
makna dan tujuan hidup.
Pemenuhan kebutuhan spiritual pasien dapat meningkatkan
perilaku koping yang memperluas sumber-sumber kekuatan pada
pasien. Kebutuhan spiritual sebagai factor yang penting untuk
mempertahankan atau memelihara hubungan pribadi yang dinamis
dari seseorang dengan Tuhan dan berkaitan untuk mempertahankan
atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama,
serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf (pengampunan),
mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya pada Tuhan.
Kebutuhan Spiritual juga dapat memenuhii kebutuhan untuk
mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan
dicintai, rasa keterikatan, kebutuhan untuk memberikan dan
mendapatkan maaf, kebutuhan untuk menjalankan kewajiban.
(Hawari, 2011)

16
Menurut Hawari (2011) terdapat beberapa kebutuhan spiritual.
4 (empat) diantaranya adalah:
a. Memenuhi Kewajiban Agama
Dalam agama (Islam) bagi mereka yang sakit dianjurkan untuk
berobat kepada ahlinya (memperoleh terapi medis) disertai
dengan berdoa, berdzikir, sholat, dan membaca Al-Quran.
b. Mempertahankan keyakinan
Mempertahankan keyakinan adalah berusaha mewujudkan
impian dengan cara ikhtiar maksimal dalam bingkai iman.
Menjadi wilayah Tuhan untuk mengabulkan saat terbaik doa
akan dikabulkan dan mewujudkan menjadi nyata melalui
mekanisme, proses, dan siklus yang tidak diketahui.
c. Mendapatkan maaf (pengampunan)
Maaf adalah ungkapan permintaan atau permohonan ampun
ataupun penyesalan karena suatu kesalahan. Rasa bersalah akan
dosa dimasa lalu terkadang membuat seseorang membutuhkan
sarana untuk pengampunan. Ciri-ciri seseorang yang
mendapatkan maaf (pengampunan) yaitu menerima diri sendiri
dan orang lain dapat berbuat salah, tidak mendakwa atau
berprasangka buruk, memandang penyakit sebagai sesuatu
yang nyata, memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain, dan
menerima pengampunan Tuhan.
d. Arti dan Tujuan Hidup
Kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, merupakan
kebutuhan untuk menemukan makna hidup dalam membangun
hubungan yang selaras dengan Tuhan dan sesama manusia
serta alam sekitarnya. Ciri-ciri seseorang yang mamou mencari
tujuan hidup yaitu merasa puas menjalani kehidupannya, bisa
menjalani sesuai dengan system nilai yang berlaku,
menggunakan penderitaan sebagai cara memahami diri,
mencari arti kehidupan/kematian.

17
D. Hemodialisis

1. Pengertian

Hemodialisis adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi


pengganti dungsi ginjal untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolism atau
racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air, natrium,
kalium, hidrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui
membran semi permeable sebagai pemisah darah dan cairan dialisat
pada ginjal buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis, dan
ultrafiltrasi. Dialysis bisa digunakan sebagai pengobatan sementara
sebelum penderita mengalami pencangkokan ginjal. Adapun pada
GGA (Gagal Ginjal Akut), dialysis dilakukan hanya selama beberapa
hari atau beberapa minggu, sampai fungsi ginjal kembali normal.
(Haryono, 2013)

E. Kepatuhan

1. Pengertian kepatuhan

Kepatuhan adalah merupakan suatu perubahan perilaku dari perilaku


yang tidak mentaati peraturan ke perilaku yang mentaati peraturan
(Green dalam Notoatmodjo, 2003).
Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan suatu aturan
dan perilaku yang disarankan (Smet, 1994).
Perilaku kepatuhan bersifat sementara karena perilaku ini akan
bertahan bila ada pengawasan. Jika pengawasan hilang atau
mengendur maka akan timbul perilaku ketidakpatuhan. Perilaku
kepatuhan ini akan optimal jika perawat itu sendiri menganggap
perilaku ini bernilai positif yang akan diintegrasikan melalui tindakan
asuhan keperawatan. Perilaku keperawatan ini akan dapat dicapai jika
manajer keperawatan merupakan orang yang dapat dipercaya dan
dapat memberikan motivasi (Sarwono, 2007).

18
2. Faktor – faktor yang mendukung kepatuhan

a. Faktor Internal
1) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu
(Notoatmodjo,2007).
2) Sikap
Menurut Azwar (2009) sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau
reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah
perasaan mendukung atau memihak maupun perasaan tidak
mendukung atau tidak memihak pada objek tertentu. Faktor
yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Azwar
(2009) antara lain pengalaman pribadi, pengaruh orang lain
yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa,
lembaga pendidikan dan lembaga agama, pengaruh faktor
emosional.
3) Kemampuan
Kemampuan adalah bakat seseorang untuk melakukan tugas
fisik maupun mental, kemampuan seseorang pada umumnya
stabil. Kemampuan individu mempengaruhi karakteristik
pekerjaan, perilaku, tanggung jawab, pendidikan dan memiliki
hubungan secara nyata terhadap kinerja pekerjaan (Ivancevich,
2007).
Manager harus berusaha menyesuaikan kemampuan dan
ketrampilan seseorang dengan kebutuhan pekerjaan. Proses
penyesuaian ini penting karena tidak ada kepemimpinan,
motivasi, atau sumber daya organisasi yang dapat mengatasi
kekurangan kemampuan dan ketrampilan meskipun beberapa
keterampilan dapat diperbaiki melalui latihan atau pelatihan
(Invancevich,2007).
4) Motivasi

19
Menurut Walgito (2004), motivasi merupakan keadaan dalam
diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah
tujuan. Dengan demikian motivasi mempunyai 3 aspek, yaitu
keadaan terdorong dalam diri organisme yaitu kesiapan
bergerak karena kebutuhan, perilaku yang timbul dan terarah
karena keadaan ini, goal atau tujuan yang dituju oleh perilaku
tersebut.
b. Faktor Eksternal
1) Karakteristik Organisasi
Subyantoro (2009), berpendapat bahwa karakteristik organisasi
meliputi komitmen organisasi dan hubungan antara teman kerja
sekerja dan supervisor yang akan berpengaruh terhadap
kepuasan kerja dan perilaku individu. Keadaan organisasi dan
struktur organisasi akan memotivasi atau gagal memotivasi
perawat profesional untuk berpartisipasi pada tingkatan yang
konsisten sesuai tujuan.
2) Karakteristik Kelompok
Rusmana (2008) berpendapat bahwa kelompok adalah unit
komunitas yang terdiri dari dua orang atau lebih yang memiliki
suatu kesatuan tujuan dan pemikiran serta integritas antar
anggota yang kuat. Karakteristik kelompok adalah adanya
interaksi, struktur, kebersamaan, adanya tujuan, ada suasana
kelompok dan adanya dinamika interdepensi. Anggota
kelompok melaksanakan peran tugas, peran pembentukan,
pemeliharaan kelompok dan peran individu. Anggota
melaksanakan hal ini melalui hubungan interpersonal. Tekanan
dari kelompok sangat mempengaruhi hubungan interpersonal
dan tingkat kepatuhan individu karena individu terpaksa
mengalah dan mengikuti perilaku mayoritas kelompok
meskipun sebenarnya individu tersebut tidak menyetujuinya.
3) Karakteristik Pekerjaan

20
Menurut Rahayu (2006), karakteristik pekerjaan adalah sifat
yang berbeda antar jenis pekerjaan yang satu dengan yang
lainnya yang bersifat khusus dan merupakan inti pekerjaan
yang berisikan sifat-sifat tugas yang ada di dalam semua
pekerjaan serta dirasakan oleh para pekerja sehingga
mempengaruhi sikap atau perilaku terhadap pekerjaannya.
4) Karakteristik Lingkungan
Apabila perawat harus bekerja dalam lingkungan yang terbatas
dan berinteraksi secara konstan dengan staf lain, pengunjung
dan tenaga kesehatan lain. Konsisi seperti ini yang dapat
menurunkan motivasi perawat terhadap pekerjaannya, dapat
menyebabkan stress, dan menimbulkan kepenatan (Swansburg,
2004).

F. Standar Prosedur Operasional

1. Pengertian

Standar Prosedur Operasional adalah suatu standar atau pedoman


tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu
kelompok untuk mencapai tujuan organisasi (Perry dan Potter, 2005).

2. Manfaat Standar Prosedur Operasional

Manfaat standar prosedur operasional antara lain:


a. Agar petugas atau pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja
petugas atau pegawai atau tim dalam organisasi
b. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tunggung jawab dari
petugas atau pegawai terkait
c. Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi
dalam organisasi
d. Melindungi organisasi atau unit kerja dan petugas atau pegawai
dari malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya
e. Untuk menghindari kegagalan atau kesalahan, keraguan, duplikasi
dan inefisiensi

21
G. Kerangka Konsep

Kepatuhan perawat Pemenuhan kebutuhan


terhadap SOP tentang spiritual pada pasien gagal
pemenuhan kebutuhan ginjal kronik menjalani
spiritual hemodialisa

Gambar 1.1 kerangka Konsep Penelitian Gambaran pemenuhan “spiritual” oleh


perawat di Ruang Hemodialisa

22
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Rancangan penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam

penelitian, memungkinkan pengontrolan maksimal beberapa faktor yang

dapat mempengaruhi akurasi suatu hasil. Istilah rancangan penelitian

digunakan dalam dua hal: pertama, rancangan penelitian merupakan suatu

strategi penelitian dalam mengidentifikasi permasalahan sebelum

perencanaan akhir pengumpulan data; dan kedua, rancangan penelitian

digunakan untuk mendefinisikan struktur penelitian yang akan

dilaksanakan (Nursalam, 2016).

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif.

Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendiskripsikan (memaparkan)

peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa kini. Deskripsi

peristiwa dilakukan secara sistematis dan lebih menekankan pada data

faktual daripada penyimpulan. Fenomena disajikan secara apa adanya

tanpa manipulasi dan peneliti tidak mencoba menganalisis bagaimana dan

mengapa fenomena tersebut bisa terjadi, oleh karena itu penelitian jenis ini

tidak memerlukan adanya suatu hipotesis. Hasil penelitian deskripif sering

digunakan atau dilanjutkan dengan melakukan penelitian analitik

(Nursalam, 2016). Dalam hal ini peneliti bermaksud ingin mengetahui

47
48

gambaran pemenuhan “spiritual” oleh perawat di ruang hemodialisa

RSUD Ratu Zalecha Martapura tahun 2018.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan menggunakan

jenis penelitian ini, diharapkan akan mendapatkan informasi yang

sistematis dan akurat tentang pemenuhan “spiritual” oleh perawat di ruang

hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura pada objek yang diteliti.

Sehingga data-data yang tersaji tersebut tergambar jelas serta dapat

menggambarkan suatu masalah yang ingin dideskripsikan.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Sebelum dilakukan penarikan sampel terlebih dahulu peneliti

menentukan populasi. Populasi dalam penelitian adalah subjek

(misalnya manusia; klien) yang memenuhi kriteria yag telah ditetapkan

(Nursalam, 2016).

Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah seluruh tenaga

Keperawatan di ruang Hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura.

2. Sampel

Sampel terdiri atas bagian populasi terjangkau yang dapat

dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Sementara

sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat

mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2016).

48
49

Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode

Saturation Sampling, yaitu Metode pengambilan sampel dengan

mengikutsertakan semua anggota populasi sebagai sampel penelitian.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Ratu Zalecha Martapura, dan

lama penelitian ini dari bulan maret sampai dengan april 2018.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai

beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dan lain-lain) (Nursalam,

2016). Pada penelitian ini variabel penelitiannya adalah Pemenuhan

“spiritual” oleh perawat di ruang Hemodialisa.

2. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang

diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang

dapat diamati (diukur) itulah yang merupakan kunci definisi

operasional. Dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk

melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu

objek atau fenomena yang kemudian dapat diulangi lagi oleh orang

lain (Nursalam, 2016).

49
50

Tabel 1.1 Variabel dan Definisi Operasional Penelitian

Definisi
No. Variabel Alat Ukur Skala Kategori
Operasional

1. Pemenuhan Kepatuhan Kuesioner Ordinal

“spiritual” perawat terhadap

oleh perawat SPO tentang

di ruang spiritual di ruang

Hemodialisa Hemodialisa

E. Metode Pengumpulan Data

1. Jenis instrumen

Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner.

Kuesioner adalah sebuah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang

pribadinya atau hal-hal yang mereka ketahui (Nursalam, 2014).

2. Cara Pengumpulan Data

1) Data primer adalah data yang diambil secara langsung. Dalam

penelitian ini data primer diperoleh dari hasil jawaban kuesioner

yang dibagikan dan diisi oleh perawat di ruang hemodialisa

sebagai responden peneitian. Perhitungan hasil kuesioner tersebut

secara langsung dilakukan peneliti.

50
51

2) Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diambil secara tidak

langsung. Data sekunder dikumpulkan sebagai data pelengkap

yang mendukung penelitian. Dengan melihat data-data yang ada

diharapkan dapat menunjang hasil penelitian ini.

Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari SPO

RSUD Ratu Zalecha Martapura, Studi Pendahuluan, dan penelitian

sebelumnya yang berhubungan dengan Spiritual di ruang

hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura.

3) Langkah-langkah Pengumpulan Data

1) Peneliti meminta surat izin studi pendahuluan kepada kampus

jurusan keperawatan Politeknik Kesehatan Banjarmasin

mengenai data pemenuhan “spiritual” oleh perawat di ruang

Hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura..

2) Peneliti menyerahkan surat izin studi pendahuluan dari kampus

kepada Badan Pelayanan Penelitian Terpadu (BP2T)

Banjarbaru, setelah diberikan izin lalu dibuatkan surat

perantara untuk meminta data kepada RSUD Ratu Zalecha

Martapura.

3) Peneliti meminta data dan melakukan studi pendahuluan

tentang pemenuhan “spiritual” oleh perawat di ruang

Hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura.

4) Peneliti mengikuti sidang proposal KTI.

51
52

5) Peneliti meminta izin kepada RSUD Ratu Zalecha Martapura

untuk melakukan penelitian pada tenaga keperawatan mengenai

Gambaran pemenuhan “spiritual” oleh perawat di ruang

Hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura.

6) Peneliti meminta kepada tenaga Keperawatan di ruang

Hemodialisa untuk mengisi kuesioner. Dan peneliti akan

menjelaskan prosedur penelitian kepada responden, meminta

persetujuan untuk partisipasi dengan menandatangani informed

consent (lembar persetujuan) yang telah dibuat kepada

responden, memberikan koesioner dan memberi kesempatan

responden untuk menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti

terkait cara pengisian kuesioner. Setelah selesai kuesioner diisi

responden, lalu kuesioner diambil oleh Peneliti.

F. Pengolahan Data dan Analisis Data

1. Pengolahan Data

a. Pengolahan Data Primer

Dalam penelitian ini, peneliti mengolah data primer dengan cara

pembagian kuesioner pada tenaga keperawatan di ruang hemodialisa.

Pengolahan data dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut:

1) Editing Data

Pada tahap data diolah, data perlu diedit terlebih dahulu

dengan cara memeriksa kelengkapan daftar pertanyaan yang

52
53

telah diisi oleh responden. Tujuan dari editing ini untuk

mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada dalam daftar

pertanyaan yang sudah diisi oleh responden.

2) Coding

Data yang diperoleh dimasukkan dengan cara memberi

kode pada kolom yang telah disajikan di tiap item pertanyaan

agar memudahkan dalam pengolahan data.

3) Pembersihan Data

Data yang dimasukkan diperiksa kembali untuk memastikan

bahwa data telah bersih dari kesalahan, baik pada waktu

pengkodean maupun pada waktu membaca kode sehingga siap

di analisa.

b. Pengolahan Data Sekunder

Peneliti mengolah data sekunder dengan cara membaca data

SPO RSUD Ratu Zalecha Martapura, Studi Pendahuluan, dan

penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan Spiritual di ruang

hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura kemudian langsung

dimasukkan pada bagian latar belakang penelitian.

2. Analisa Data

Analisis pada penelitian ini dilakukan analisis univariat. Analisis

univariat dilakukan untuk melihat proporsi pada variabel yaitu

pemenuhan “spiritual” oleh perawat di ruang Hemodialisa. Data di

53
54

analisis secara deskriptif dengan melihat tabel hasil deskripsi

frekuensi. Salah satu pengamatan yang dilakukan pada tahap analisis

deskriptif adalah pengamatan terhadap tabel frekuensi. Tabel frekuensi

terdiri atas kolom-kolom yang memuat frekuensi persentase untuk

setiap kategori (Nursalam, 2016).

G. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini peneliti mendapat izin dari pihak

RSUD Ratu Zalecha Martapura.

Prinsip etika yang akan dilaksanakan peneliti ini meliputi:

1. Informed Consent

Subjek mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan

penelitian yang akan dilaksanakan serta berhak untuk berpartisipasi

atau menolak menjadi responden. Jika subjek bersedia menjadi

responden, maka subjek diminta menandatanganani lembar persetujuan

menjadi responden. Jika tidak bersedia, maka peneliti menghormati

hak responden.

2. Anonymity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mencantumkan nama

responden pada lembar pengumpulan data, cukup dengan menuliskan

inisial pada lembar tersebut

54
55

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, hanya

kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan

sebagai hasil riset.

55
56

DAFTAR PUSTAKA

Haryono, R. (2013). Keperawatan Medikal Bedah: Sistem Perkemihan.


Yogyakarta: Rapha Publishing.

Muttaqin, A., & Sari, K. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem


Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental of Nursing, 7th edition. Jakarta:
Salemba Medika.

Yusuf, A., Nirhayati, H. E., Iswari, M. F., & Okviasanti, F. (2016). Kebutuhan
Spiritual Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan. Jakarta: Mitra
Wacana Media.

56

Beri Nilai