Anda di halaman 1dari 13

TURBIDIMETRI DAN NEFELOMETRI

MAKALAH
Memenuhi tugas kelompok matakuliah
Analisis Spektrometri
yang dibina Ibu Qonitah Fardiyah S.Si., M.Si.

Oleh Kelompok 1
Mikho Imam F (11509020)
Ferry Ch. Nalle (12509020711100 )
Anne Alifatur R (12509020711100 )
Fitriana Dewi K (125090207111011 )
Ella Yuni Dwi Andari (1250902071110017)
Rohmatul Wahid (12509020711100 )
Puspita Diah P. (125090207111029)
M. Alwi (12509020711100 )
Qurratu A’yun (12509020711100 )

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
Oktober 2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Beberapa senyawaan yang tak dapat larut, dalam jumlah sedikit dapat disiapkan
dalam keadaan agregasi sedemikian sehingga diperoleh suspensi yang stabilnya sedang.
Sifat-sifat dari setiap suspensi akan berbeda-beda menurut konsentrasi fase terdispersinya.
Bila cahaya dilewatkan melalui suspensi itu, sebagian dari energi radiasi yang jatuh
dihamburka denagn penyerapan, pemantulan, pembiasan, sementara sisanya
ditransmisikan. Pengukuran intensitas cahaya yang ditransmisikan sebagai fungsi dari
konsentrasi fase-terdispersi adalah dasar dari analisis turbidimetri. Bila suspensi
dipandang dengan sudut tegak-lurus terhadapa aah cahaya yang jatuh, sinar tampak
opalesens (berpendar seperti mutiara) disebabkan oleh pantulan cahaya dari partikel-
partikel suspensi itu (efek Tyndall).
Cahaya dipantulkan tak beraturan dan membaur, sehingga istilah cahaya-baur
digunakan untuk menerangkan opalesens atau kekabutan itu. Pengukuran intensitas
cahaya-baur ini, sebagai fungsi dari konversi fase-terdispersinya adalah dasar dari analisis
nefelometri (Gr nephele = awan). Analisis nefelometri adalah paling pekaan untuk
suspensi-suspensi yang sangat encer (> 100 mg per liter). Teknik-teknik untuk analisis
turbidimetri dan analisis nefelometri masing-masing menyerupai analisis filter fotometri
dan flourometri.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana prinsip dari analisis turbidimetri ?
b. Bagaimana prinsip dari analisis nefelometri?
c. Apa saja aplikasi yang dapat diterapkan untuk analisis turbidimetri?
d. Apa saja aplikasi yang dapat diterapkan untuk analisis nefelometri?
e. Bagaimana contoh soal untuk analisis turbidimetri dan analisis nefelometri?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Dapat menjelaskan prinsip dari analisis turbidimetri.
b. Dapat menjelaskan prinsip dari analisis nefelometri.
c. Dapat mengetahui aplikasi dari analisis turbidimetri.
d. Dapat mengetahui aplikasi dari analisis nefelometri.
e. Dapat memberikan contoh soal dari analisis turbidimetri dan analisis nefelometri.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Prinsip Dasar Analisis Turbidimetri


Turbidimetri adalah suatu metoda analisis kuantitatif yang berdasarkan pada
pelenturan sinar oleh suspensi zat padat. Pada dasarnya yang diukur adalah perbandingan
antara intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar mula-mula. Bila cahaya
dilewatkan melalui larutan yang bersuspensi, maka sebagian dari energi radiasi akan
dihamburkan, diserap, dipantulkan, dibiaskan dan sisanya akan diteruskan. Pengukuran
intensitas cahaya diteruskan sebagai fungsi dari konsentrasi yang merupakan dasar dari
perelatan Turbidimeter. Bila suspensi dipandang dengan sudut tegak lurus terhadap cahaya
yang datang maka sistem (larutan) tampak berpencar yang disebabkan oleh pantulan cahaya
dari partikel-partikel suspensi (efek tyndall). Pada umumnya turbidimeter di gunakan untuk
analisa larutan suspensi

Skema Alat

Keterangan alat
1. Sumber sinar: Sumber sinar yang digunakan harus dapat memberikan sinar polikromatis
secara kontiniu.
2. Ceremin cekung: Digunakan untuk memantulkan sinar dari sumber sinar menuju lensa.
3. Lensa: Berfungsi untuk memantulkan sinar dari sumber sinar menuju lensa.
4. Filter: filetr yang digunakan harus sama dengan warna larutan (jika larutan berwarna)
atau tergantung pad kondisi smpel yang dianalisa.
5. Kuvet: sebagai tempat sampel
6. Detektor: detektor berfungsi sebagai untuk medeteksi sinar hamburan yang berasal dari
partikel padat yang terdapat dalam larutan. Detektir pada posisi ini terdapat pada
peralatan nefelometer.
7. Detektor. Digunakan untuk medeteksi sinar yang diteruskan oleh sample. Detector pada
posisi ini terdapat pada perelatan turbidimeter.

Sinar yang dipancarkan oleh lampu akan dipantulkan oleh cremin cekung dan
kemudian diteruskan ke sample yang mengandung partikel yang tersuspensi. Sinar yang jatuh
tepat pada partikel yang trsuspensi tersebut akan disebarkan atau dihamburkan. Kemudian
sinar yang dihamburkan oleh cuplikan akan ditangkap nefelometer yang mana arahnya tegak
lurus dari sumber cahaya. Sinar yang diteruskan ditangkap oleh pengamatan yang arahnya
membentuk garis lurus dari sumber cahaya disebut Turbidimeter. Alat yang biasanya dipakai
untuk menentukan kekeruhan secara fisual digunakan perlatan Hellige Turbiditmeter.
Pada peralatan ini terdapat 3 macam filter dan 3 macam ukuran tabung.Pemakainan
tabung tergantung dari kekeruhan sample semakin keruh sample maka semakin pendek
tabung yang digunakan. Filter tersebut adalh None, Dark dan Light.
Prinsip kerja: Sample dimasukkan kedalam tabung atau kuffet sampai tanda garis
kemudian ditutup dengan “Plunger “ kuffet yang berisi sample tersebut ke dalam turbidimeter
dan dipasang filter yang digunakan yang tergantung kepada keadaan sample kemudian alat
dihidupkan dan diatur tombol skala 0 – 200 sampai didapatkan banyangan yang merata

Bila banyangan mereta telah diperoleh bacalah ckala yang ditunjukkan pada saat banyangan
mereta tersebut. Angka yang didapt diplot kedalam kurva yang telah tersedia akan didapatkan
kekeruhan sebagai ppm SiO2.
Prinsip kerja dari turbidimetri sendiri adalah menghitung jumlah cahaya yang
diteruskan (dan mengkalkulasi jumlah cahaya yang diabsorbsi) oleh partikel dalam suspensi
untuk menentukan konsentrasi substansi yang ingin dicari. Karena menggunakan jumlah
cahaya yang diabsorbsi untuk pengukuran konsentrasi, maka jumlah cahaya yang diabsorbsi
akan bergantung pada :
1. Jumlah partikel
2. Ukuran partikel.
Semakin besar dan banyak jumlah partikel, maka jumlah cahaya yang diabsorbsi akan
semakin besar.

Dan untuk penentuan kadarnya (detector) digunakan spektrofotometer cahaya.

Ilustrasi :

Keterangan :

 Sejumlah cahaya ditembakkan dari sebuah sumber cahaya menuju monokromator


 Monokromator akan menguraikan cahaya dan meneruskannya menuju cuvet yang
berisikan suspensi sel
 Ketika cahaya melewati cuvet, maka terjadi tiga kemungkinan
1. Cahaya akan diserap sebagian oleh partikel tersuspensi
2. Sebagian cahaya diteruskan
3. dan sebagian lagi menyebar ke segala arah
 Jumlah cahaya yang diserap akan sebanding dengan jumlah partikel tersuspensi
(konsentrasi sampel).
 Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometr (detektor)

2.2 Prinsip Dasar Analisis Nefelometri


Nephelometri dan turbidimetri terkait erat dengan teknik analisis yang berdasarkan
pada hamburan radiasi dengan larutan yang mengandung materi partikulat tersebar. Ketika
radiasi yang melewati media transparan yang partikelnya padat tersebar, bagian radiasi
tersebar ke segala arah, memberikan penampilan keruh pada campuran. Penurunan kejadian
radiasi, sebagai hasil dari hamburan oleh partikel adalah dasar dari metode turbidimetri.
Disisi lain, metode nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar, biasanya
disudut kanan insiden balok tersebut. Pilihan antara nephelometri dan pengukuran
turbidimetri tergantung pada fraksi cahaya yang tersebar. Ketika hamburan luas, karena
kehadiran banyak partikel, turbidimetri umunya menghasilkan hasil yang lebih dapat
diandalkan. Nephelometri lebih disukai pada konsentrasi rendah karena intensitas tersebarnya
kecil dengan latar belakang hitam lebih mudah untuk diukur dibandingkan perubahan kecil
dalam intensitas radiasi yang ditransmisikan intens. Hal ini penting untuk dicatat bahwa
hamburan terkait dengan kedua nephelometri dan turbidimetri tidak melibatkan kerugian
daya radiasi, hanya arah propagasi dipengaruhi (Morais, dkk, 2012).
Nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar oleh partikel sampel
disudut kanan pada balok. Detektor ditempatkan pada jalan insiden radiasi dari sumber.
Dalam kebanyakan kasus, detektor ditempatkan di 90 derajat relative terhadap jalur insiden
radiasi. Ini mengukur intensitas yang bagian dari radiasi tersebar yang dipancarkan tegak
lurus dari sel ke arah detektor. Untuk pengukuran nephelometric, persamaan menggambarkan
hubungan antara intensitas radiasi tersebar, intensitas kejadian radiasi, dan konsentrasi
partikel yang menyebabkan hamburan (Morais, dkk, 2012):
I = KI0C

Nilai K adalah konstan hanya untuk instrumen tertentu dan ketika eksperimental kondisi
dikendalikan dengan hati-hati. Intensitas radiasi tersebar adalah berbanding lurus dengan
kedua intensitas radiasi insiden dan konsentrasi analit. Untuk tes solusi diencerkan, hal ini
menguntungkan untuk menggunakan insiden radiasi yang memiliki intensitas tinggi (Morais,
dkk, 2012).

Sinyal yang teredeteksi tersebar mungkin timbul dari partikel bunga tetapi juga dari
debu, bercak di latar belakang, atau dari molekul lain (misalnya, protein dan lipid) dalam
sampel. Refleksi dan menyebar dari komponen optic instrumen juga dapat menyebabkan
sinyal latar belakang. Kinerja terbaik diperoleh dalam solusi encer mana penyerapan dan
refleksi yang minimal. Dengan kondisi tersebut, hubungan antara konsentrasi hamburan
partikel dan intensitas cahaya yang tersebar hampir linier atas sangat luas berbagai
konsentrasi (Morais, dkk, 2012).
Prinsip kerja :

 Nefelometri menitik beratkan pengukuran pada jumlah cahaya yang disebarkan


(scaterred) dari kuvet yang mengandung suspense partikel dalam suatu cairan
(solution)
 Komponen-komponen dari nefelometer itu sama dengan komponen yang terdapat pada
spektrometer cahaya kecuali pada detector yang ditempatkan pada sudut yang khusus
dari sumber cahaya.
 Detector merupakan sabuah tube fotomultiplier yang ditempatkan pada suatu posisi
untuk mendeteksi cahaya yang tersebar. Detektor bisa ditempatkan pada sudut 90o,
70o or 37o tergantung pada sudut mana paling banyak ditemukan cahaya yang
disebarkan.
 Karena jumlah cahaya yang disebarkan jauh lebih besar daripada yang diteruskan
dalam suspensi turbid, maka nefelometri memiliki tingkat sensitifitas yang lebih tinggi
daripada turbidimetri.
 Jumlah cahaya yang disebarkan, bergantung pada jumlah dan ukuran partikel yang
tersuspensi

Ilustrasi :

 Sebagian besar aplikasi klinis, sumber cahaya yang digunakan adalah lampu tungsten,
dimana tungsten memberikan cahaya dalam daerah visible.
 Untuk snsitivitas yang lebih tinggi dan untuk aplikasi penentuan ukuran dan jumlah
partikel dalam suspense, digunakan laser light nefelometer

2.3 Aplikasi Turbidimetri


 Penentuan konsentrasi total protein dalam cairan biologis seperti urin dan CSF yang
mengandung sedikit protein (mg/L kuantitas) menggunakan Asam Trikoloroasetat.
 Penentuan aktivitas amilase menggunakan pati sebagai substrat. Penurunan
kekeruhan berbanding lurus dengan aktivitas amilase.
 Penentuan aktivitas enzim lipase menggunakan trigliserida sebagai substrat.
Penurunan kekeruhan berbanding lurus dengan aktivitas enzim lipase.
 Penentuan kekeruhan pada air reservoir
 Analisa limbah detergen
 Penentuan Kadar Sulfat dengan Metode Turbidimetri
Metode :

Standar sulfat sebanyak 0,5 ; 1,0 ; 1,5 ; 2,0 ; dan 3,0 ml diletakkan dalam labu takar
25 ml kedalam masing-masing labu takar ditambahkan 2,5 ml NaCl-HCl dan 5 ml
larutan gliserol-etanol dan diencerkan sampai tanda tera dengan air. BaCl2 1 g
ditambahkan ke tiap labu,ditutup, dan dikocok selama 1 menit dengan cara
membalik-balik labu takar. Larutan blankodisiapkan tanpa penambahan
larutan standar sulfat. Larutan analat disiapkan juga dengan perlakuan yang sama
seperti larutan standar dan dibuat dalam 3 kali ulangan. Turbiditas masing-masing
larutan diukur. Kurva hubungan turbiditas dengan kandungan sulfat (ppm)
dibuat.Kadar sulfat dalam analat beserta standar deviasi dan selang kepercayaan
95% lalu dihitung.

2.4 Aplikasi Nefelometri


 Digunakan secara luas untuk menentukan konsentrasi zat yang tidak diketahui dimana
terdapat reaksi antigen-antibody
 Penetuan immunoglobulin (total, IgG, IgE, IgM, IgA) di dalam serum dan cairan
biologi lainnya.
 Penentuan konsentrasi serum protein individu; Hb, Haptoglobin, Transferring, c-
reaktif protein, 1-antitrypsin, albumin (dengan menggunakan antibody spesifik
untuk setiap protein).
 Penetuan ukuran dan jumlah partikel (dengan laser – nephelometer).
 Sintesis Imunoglobulin Cairan Cerebrospinal
 Menentukan tingkat beberapa protein plasma darah. Misalnya total tingkat antibodi
isotypes atau kelas: Immunoglobulin M, imunoglobulin G, dan Imunoglobulin A. Hal
ini penting dalam kuantifikasi M - protein dalam penyakit seperti multiple myeloma
(Anonim1, 2013).
Hal ini dilakukan dengan mengukur kekeruhan dalam sampel air dengan
melewatkan cahaya melalui sampel yang diukur. Dalam nephelometri pengukuran
dilakukan dengan mengukur cahaya melewati sampel di sudut (Anonim2, 2013).
Teknik ini banyak digunakan di laboratorium klinis karena relatif mudah
otomatis. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa suspensi encer partikel kecil akan
menghamburkan cahaya (biasanya laser) melewatinya bukan hanya menyerapnya.
Jumlah menyebar ditentukan dengan mengumpulkan cahaya pada sudut (biasanya
pada 30 dan 90 derajat) (Anonim2, 2013).
Antibodi dan antigen dicampur dalam konsentrasi sehingga hanya agregat
kecil dibentuk yang tidak cepat menyelesaikan ke bawah. Jumlah menghamburkan
cahaya diukur dan dibandingkan dengan jumlah pencar dari campuran dikenal.
Jumlah diketahui ditentukan dari kurva standar (Anonim2, 2013).
 Mendeteksi antigen atau antibodi, tetapi biasanya dijalankan dengan antibodi sebagai
reagen dan antigen pasien sebagai diketahui (Stevens, 2010). Titik akhir tes
nephelometry dijalankan dengan memungkinkan reaksi antibodi/antigen untuk
menjalankan sampai selesai (sampai semua antibodi reagen hadir dan membawa
antigen sampel pasien yang dapat agregat telah melakukannya dan tidak lebih
kompleks dapat terbentuk). Sayangnya, partikel yang besar akan jatuh keluar dari
solusi dan menyebabkan pembacaan palsu pencar, sehingga nephelometry kinetik itu
dibuat (Rahma, 2011).

2.5 Contoh soal Turbidimetri dan Nefelometri

1. Sebutkan perbedaan turbidimetri dan neflometri !


2. Gambarkan diagram skema metode neflometi dan turbidimetri !
3. Tuliskan Persamaan matematis untuk neflometri dan turbidimetri !
4. Sebutkan aplikasi turbidimetri dan neflometri !

JAWABAN
1. Turbidimetri : pengukuran spesi dengan pergerakan cahaya dalam larutan dengan
penurunan intensitas cahaya setelah dilewatkan pada larutan. Pada turbidimetri
detector ditempatkan sejajar dengan sumber sinar dan mengukur penurunan kekuatan
radiasi yang ditransmisikan.
Neflometri : teknik untuk mengukur spesi dengan pergerakan cahaya dalam larutan
dengan intensitas cahaya pada sudut terjauh dari cahaya yang dilewatkan melalui
sampel. Pada neflometri pergerakan radiasi diukur pada sudut 900C terhadap sumber
sinar.

2. Gambar skema perbedaan neflometri dan turbidimetri (Harvey,2000)

3. Persamaan untuk Neflometri

Persamaan untuk Turbidimetri


Dimana :
T : Transmitan
IT : Intensitas Radiasi yang ditransmisikan oleh sampel
I0 : Intensitas sumber radiasi yang ditransmisikan oleh blanko
C : konsentrasi (w/v)
k : konstanta (bergantung pada ukuran beberapa factor seperti ukuran dan bentuk
hamburan patikel dan panjang gelombang dari sumber radiasi.
b : panjang kuvet
IS : intensitas hamburan radiasi
kS : konstanta empiris untuk system
I0 : intensitas sumber radiasi

4. Aplikasi turbidimetri
a. Penentuan konsentrasi total protein pada fluida biologis seperti urine dan CSF
yang terdiri atas protein dalam jumlah kecil (mg/L) menggunakan asam
trikloroasetik.
b. Penentuan aktivitas amylase menggunakan amilum sebagai substrat.
c. Penentuan aktivitas lipas menggunakan trigliserida sebagai substrat.
Aplikasi Neflometri
a. penentuan immunoglobulin pada serum dan fluida biologis laiinya
b. penentuan konsentrasi serum protein seperti hemoglobin,haptoglobin,albumin,dsb
c. penentuan ukuran dan jumlah partikel (laser neflometer)

5. Tentukan kadar ion sulfat jika diketahui tabel berikut!


Tabel 1 penentuan kurva kalibrasi larutan standart sulfat [SO 42-]
Turbidan
Volume SO42- Konsentrasi Turbidan
Larutan Terkoreksi
(mL) SO42- (ppm) Terukur (NTU)
(NTU)
Blanko 0.0000 0.0000 5.23 0
Standart 1 0.1000 0.174000 17.50 14.50
Standart 2 0.2000 3.48000 46.50 42.00
Standart 3 0.3000 5.22000 75.50 71.00
Standart 4 0.4000 6.96000 86.50 82.20
Standart 5 0.5000 8.70000 102.50 97.50
Standart 6 0.6000 10.44000 126.50 121.44
Perhitungan:
1. Turbidan Terkoreksi = Turbidan Terukur – Turbidan Blanko
= (17.50 – 5.23) NTU
= 12.27 ppm
2. Berat Molekul K2SO4 = 174 g/mol
3. Konsentrasi larutan stok sulfat (ppm) = 0.01 mol/L x 174 g/mol x 1000 mg/1 g
= 1740 ppm
4. Pengenceran
V1N1 = V2N2
0.100 mL x 1740 ppm = 100 mL x N2
N2 = 0.1740

Tabel 2 Pengukuran Konsentrasi Pada Sampel dengan Turbidimetri


Turbiditasterukur Turbiditasterkoreksi
Laruta Konsentrasi (ppm)
(NTU) (NTU)
n
1 2 3 1 2 3 1 2 3 Rerata
Sampel 96.0 93.1 84.6 91.7 88.8 80.3 39.093 37.864 34.246 37.073
1 0 0 0 7 7 7 5 8 3 8
Sampel 56.4 62.7 62.4 52.1 58.4 58.1 22.314 24.983 24.856 24.051
2 0 0 0 7 7 7 6 9 8 8

Perhitungan:
1. Persamaan regresi
y = 2.3601x – 0.4946
R2 = 0.9859
2. Konsentrasi 1 ulangan 1
91.77 = 2.3601x – 0.4946
x = 39.0935
𝑈𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 1+𝑈𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 2+𝑈𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 3
3. Rerata Konsentrasi sampel 1 = 3
(39.0935+37.8648+34.2463)ppm
= 3
= 37.0738
∑𝑛
𝑖=1(𝑥−(𝑥 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎))
2
4. Standart Deviasi sampel 1 =√ 𝑛−1

(39.0935−37.0738)+(37.8648−37.0738)+(34.2463−37.0738)
=√ 3−1
= 2.5104
∑𝑛
𝑖=1(𝑥−(𝑥 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎))
2
5. Standart Deviasi sampel 2 =√ 𝑛−1
= 1.5058
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑡 𝐷𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖
6. Ketelitian Sampel 1 = ( 1- 𝑅𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎
) x 100 %
2.5104
= ( 1- 37.0738 ) x 100 %
= 93.29 %
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑡 𝐷𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖
7. Ketelitian Sampel 2 = ( 1- ) x 100 %
𝑅𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎
1.5058
= ( 1- 24.0518 ) x 100 %

= 93.74 %
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Turbidimetri adalah suatu metoda analisis kuantitatif yang berdasarkan pada
pelenturan sinar oleh suspensi zat padat. Pada dasarnya yang diukur adalah
perbandingan antara intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar mula-
mula. Bila cahaya dilewatkan melalui larutan yang bersuspensi, maka sebagian dari
energi radiasi akan dihamburkan, diserap, dipantulkan, dibiaskan dan sisanya akan
diteruskan.
2. Nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar oleh partikel sampel
disudut kanan pada balok. Detektor ditempatkan pada jalan insiden radiasi dari
sumber
3. Turbidimetri dapat diaplikasikan salah satunya dalam analisa limbah detergen
4. Nefelometri salah satunya digunakan untuk menentukan konsentrasi zat yang tidak
diketahui dimana terdapat reaksi antigen-antibody
DAFTAR PUSTAKA

Anonim1, 2013, Definition of Nephelometry,


http://www.lib.mcg.edu/edu/esimmuno/ch4/nephelom.htm, (online) diakses pada
tanggal 15 Oktober 2014.

Anonim2, 2013, Quantitave Nephelometry,


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003545.htm, (online) diakses pada
tanggal 15 Oktober 2014.

Bassett ,J. dkk. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta:
Kedokteran EGC.

Harvey, D. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York: McGraw Hill.

Khopkar.1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia.

Morais, Ines P. A., Ildiko V. Toth, and Antonio O. S. S. Rangel. 2012. Turbidimetric and
Nephelometric Flow Analysis: Concepts and Applications, pg 557-559, Universidade
Cato´lica Portuguesa. Portugal.

Rahma, S. 2011. Turbidimetri dan nefelometri. ITB. Bandung.

Stevens. 2010. Clinical Immunology dan Seriology 3rd Ed, pg 127. USA: FA Davis
Company.

Walimah, A. 2014. Turbidimetri untuk analisis ion sulfat dengan menggunakan flow
injection analysis. Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan alam. Universitas
Negeri Jember.