Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUTORIAL

MODUL 4 BLOK 16

BEDAH PREPROSTETIK

Kelompok Insisivus 5
Tutor : Drg. Haria Fitri

Ketua : Cahyana Fitria

Sekretaris Meja : Sofie Bosoma Syamra

Sekretaris Papan : Dokta Bella Zuhurina

Anggota :

Asih Puspita Putri

Aulya Dwina

Haniyah Atsila Nasri

Dilla Azana Fitri

Retno Sri Mulyani

Ngesti Nur Tiara Ningsih

Mebby Putri Insani


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2018
MODUL 4

BEDAH PREPROSTETIK

SKENARIO 4

Bikin gigi palsu malah dibedah

Drg. Alveolin, Sp. Pros yang bertugas di RSGM bagian prostodonsia


melakukan pemeriksaan klinis pada pasiennya yang akan dibuatkan gigi tiruan
penuh. Dari hasil pemeriksaan ditemukaan adanya torus palatinus yang besar pada
maksila dan tulang yang tajam pada regio anterior mandibula. Kemudian drg.
Alveolin menjelaskan kepada pasien rencana perawatan yang akan dilakukan.
Pasiennya terkejut mengapa harus dilakukan bedah torus dan alveolektomi
terlebih dahulu. Setelah drg. Alveolin memberikan penjelasan, pasien setuju
dengan perawatan yang akan dilakukan, lalu drg. Alveolin merujuk pasiennya ke
bagian bedah mulut.

Bagaimana anda membantu drg. Alveolin menjelaskan kepada pasien


tentang bedha preprostetik yang akan dilakukan? Dan jelaskan berbagai bedah
preprostetik lainnya!

2
Langkah 1

Mengklarifikasikan terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan


hal-hal yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.

1. Bedah Preprostetik : prosedur pelaksamaam bedah yang bertujuan


memperbaiki kondisi dari jaringan lunak mulut dan jaringan keras sebelum
perawatan prostodonti.
2. Alveolektomi : suatu tindakan bedah yang radikal untuk mereduksi atau
mengambil prosesus alveolaris sebelum pembuatan gigi tiruan dan aposisi
mukosa yaitu prosedur yang dilakukan untuk mempersiapkan lingir
alveolar sebelum dilakukan terapi.

Langkah 2

Menentukan masalah.

1. Apa tujuan alveolektomi?


2. Apa hubungan dilakukan bedah preprostetik dengan keberhasilan GTP?
3. Apa saja macam bedah preprostetik?
4. Apa indikasi dan kontraindikasi alveolektomi?
5. Mengapa perlu dilakukan alveolektomi?
6. Apa indikasi dan kontraindikasi alveolektomi?
7. Bagaimana prosedur alveolektomi?
8. Bagaimana prosedur bedah torus?
9. Apa indikasi dan kontraindikasi bedah torus?

Langkah 3

Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior


knowledge.

1. Tujuan alveolektomi :
- Memperbaiki kelainan dan perubahan alveolar ridge yang berpengaruh
dalam adaptasi gigi tiruan.

3
- Pengambilan eksostosis, torus palatinus maupun torus mandibularis
yang besar yang dapat mengganggu pemakaian gigi tiruan.
- Membuang alveolar ridge yang tajam atau menonjol.
- Untuk menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan
gigi tiruan.
2. Hubungan perawatan bedah preprostetik dengan keberhasilan GTP :
Dengan adanya kemajuan teknologi memungkinkan dilakukannya
pemeliharaan terhadap gigi tiruan, masih diperlukan restorasi prostetik dan
rehabilitasi sistem pengunyahan pada pasien yang tidak bergigi atau
bergigi sebagian. Bedah preprostetik yang objektif adalah untuk
membentuk jaringan pendukung yang baik untuk penentuan gigi tiruan.
Karakteristik jaringan pendukung yang baik untuk gigi tiruan :
- Tidak ada kondisi patologis pada intraoral dan ekstraoral.
- Adanya hubungan/relasi rahang yang baik secara anteroposterior,
trasnversal dan dimensi vertikal.
- Bentuk prosesus alveolar yang baik (bentuk yang ideal dari prosesus
alveolaris adalah bentuk daerah U yang luas, dengan komponen
vertikal yang sejajar).
- Tidak ada tonjolan tulang atau jaringan lunak atau undercut.
- Mukosa yang baik pad daerah dukungan gigi tiruan.
- Kedalaman vestibular yang cukup.
- Bentuk alveolar dan jaringan lunak yang cukup untuk penempatan
implant.
3. Macam bedah preprostetik :
- Alveolektomi
- Gingivoplasti
- Torus removal
- Frenektomi
- Vestibuloplasti
- Implan
4. Indikasi bedah preprostetik :
- Adanya eksostosis

4
- Adanya torus
- Adanya frenulum tinggi
- Memperoleh keadaan linger alveolar yang baik
- Tidak ada kondisi patologis pada IO dan EO
- Nyeri akibat pemasangan gigi tiruan
- Karena ulser yang berulang pada sekitar GT
- Atrofi rahang karena proses fisiologis - Disfungsi yang tidak
berkurang dengan perbaikan konvensional, misalnya disfungsi
pengunyahan, bicara dan disfungsi TMJ
Kontraindikasi bedah preprostetik :
- Pasien usia lanjut, usia lanjut tulang mengalami resopsi sehingga jika
dilakukan pembedahan harus hati – hati.
- Kelainan psikologi: depresi, bingung, belum siap menggunakan gigi
palsu.
5. Alasan dilakukan alveolektomi yakni pada skenario pasien memiliki
eksostosis atau tonjolan tulang pada prosesus alveolaris, tajam bila diraba,
dan tidakdapat digerakkan. Hal ini mengganggu retensi, stabilitas, dan
kenyamanan pasien, maka dari itu perlu dilakukan alveolektomi aar hal-
hal tersebut tidak mengganggu saat penggunaan gigitiruan.
6. Indikasi alveolektomi :
- Pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya undercut, cortical plate
yang tajam, dan puncak ridge yang tidak teratur sehingga mengganggu
proses pembuatan dan adaptasi gigitiruan.
- Pada kasus gigi posterior yang tinggal sendiri sering mengalami
ekstrusi atau supra-erupsi. Tulang dan jaringan lunak pendukungnya
berkembang berlebihan untuk mendukung hal tersebut, sehingga bila
gigi tersebut dicabut akan terlihat prosesus alveolaris yang lebih
menonjol.
- Pada kasus pencabutan gigi multiple, apabila setelah pencabutan gigi
terdapat sisi marginal alveolar yang kasar dan tidak beraturan atau jika
ridge alveolar tinggi.

5
- Pada kasus dengan kelainan eksostosis, torus palatinus maupun torus
mandibularis yang besar yang dapat mengganggu fungsi
pengunyahan,estetis, dan pemakaian gigitiruan.

Kontraindikasi alveolektomi :

- Pada pasien yang memiliki bentuk prosesus alveolaris yang tidak rata,
tetapi tidak mengganggu adaptasi gigitiruan baik dalam hal
pemasangan, retensi maupun stabilitas.
- Pada pasien yang memiliki penyakit sistemik yang tidak terkontrol
yaitu penyakit kardiovaskuler, Diabetes Mellitus (DM) dan
aterosklerosis.
7. Prosedur alveolektomi :
- Desinfeksi dengan povidon iodine
- Anastesi daerah kerja
- Buat flap (triangular atau trapesium) pada daerah pembedahan
- Pengurangan tulang dengan bur tulang, knabel tang, dan bone file
- Dilakukan perabaan pada mukosa, bila masih ada yang tajam dikurangi
lagi
- Irigasi dengan bersih dengan larutan saline (NaCl)
- Apabila didapatkan pengambilan tulang yang berlebihan dilakukan
free graft
- Ditutup dan dijahit
- Pemberian antiinflamasi, antibiotik, dan analgesik
- Instruksi pasien
8. Prosedur bedah torus :
- Insisi
- Pengangkatan mukoperiosteum dan [enjahitan flap
- Pengambilan potongan torus
- Penghalusan daerah palatal
- Pemotongan sisa mukosa
- Penjahitan flap
9. Indikasi bedah torus :

6
- Torus palatinus yang sangat besar dan menutupi hampir seluruh ruang
palatum
- Torus palatinus yang panjang sampai ke arah posterior dan melewati
AH line
- Torus palatinus yang keras dan bentuknya bergelombang sehingga
menyebakan penumpukan plak dan debris
- Torus palatinus yang menyebabkan masalah psikologis pada pasien
yang mengalami cancerphobia

Kontraindikasi bedah torus :

- Pada radiografi terlihat celah (ruang udara di dalam struktur torus


palatinus)
- Pasien dengan penyakit sistemik tidak terkontrol

Langkah 4

Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan


mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk
membuat solusi secara terintegrasi.

Langkah 5

Memformulasikan tujuan pembelajaran.

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang alveolektomi.


2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang vestibuloplasti.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang augmentasi
linggir (alveoloplasti).
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang bedah torus.

7
Langkah 6

Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain.

Langkah 7

Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh.

1. Alveolektomi
Pembedahan yang digunakan untuk mengambil eksostosis yaitu
dengan alveolektomi. Alveolektomi merupakan bedah preprostetik yang
betujuan untuk mengurangi tulang soket dengan cara mengurangi plate
labial atau bukal dari prosessus alveolaris dengan pengambilan septum
interdental dan interradikuler.

Tujuan dilakukannya alveolectomi antara lain:


- Bertujuan mendapatkan protesa dg retensi, stabilsasi, estetik, dan
fungsi yang lebih baik.
- Untuk membuang ridge alveolus yang tajam dan menonjol
- Untuk membuang tulang intraseptal sewaktu dilakukan gingivektomy
- Untuk membentuk kontur tulang yang sesuai dengan kontur jaringan
gingival
- Untuk memperbaiki prognatisme pada maxilla sehingga didapatkan
estetik yang baik pada gigi tiruan.
-

Indikasi dan kontraindikasi dari alveolectomy, antara lain:

Indikasi:

- Rahang yang perlu direparasi untuk prostetik sbg stabilisasi dan retensi
dan estetik GT
- Adanya alveolar ridge yang runcing yang dapat menyebabkan protesa
tidak stabil.

8
- Untuk menghilangkan tuberositas untuk mendapatkan protesa yang
stabil.
- Adanya eksostosis yang perlu di eksisi - Ekstraksi gigi inflamatik atau
trauma eksternal.
- Untuk menghilangkan undercut

Kontraindikasi:

- Pasien dengan penyakit sistemik


- Periodontitis, merupakan penyakit periodontal yang parah, yang
mengakibatkan kehilangan tulang

Alveolectomi sendiri dapat diklasifikasikan menjadi beberapa


klasifikasi, diantaranya adalah:

a. Alveolectomy pada gigi tunggal


Dilakukan karena daerah lama tak bergigi sudah mengalami
resobsi, sehingga bila gigi tersebut dicabut tampak prosessus alveolaris
yang lebih menonjol.

b. Alveolectomy Dean’s (pencabutan Multiple)


Dilakukan karena tulang antar akar tampak menonjol setelah gigi –
gigi dicabut, sehingga dapat dilakukan pencetakan dengan baik.
c. Alveolectomy untuk mengurangi protusi maxilla
Dilakukan pada kaus labial protusi dari incisivus rahang atas dan
prosessus alveolaris yang ekstrim digunakan teknik alveolektomi
menurut obwegeser.
d. Alveolectomy pada kortikal labial atau bukal
Dilakukan bila ada eksostosis pada tulang yang dapat mengganggu
stabilitas protesa dan memudahkan pencetakan.

9
Teknik untuk alveolektomi maksila dan mandibula:

1. Jika kasus salah satu dari gigi yang tersisa baru dicabut,
mukoperiosteum harus dicek untuk memastikan bahwa telah terdapat
kedalaman minimum sebesar 10m dari semua tepi gingival yang
mengelilingi area yang akan dihilangkan.
2. Pastikan bahwa insisi telah dibuka mulai dari midpoint dari puncak
alveolar pada titik di pertengahan antara permukaan buccal dan lingual
dari gigi terakhir pada satu garis, yaitu gigi paling distal yang akan
dicabut, menuju ke lipatan mukobukal pada sudut 450 setidaknya
15mm. tarik insisi ke area dimana gigi tersebut sudah dicabut
sebelumnya.
3. Angkat flap dengan periosteal elevator dan tahan pada posisi tersebut
dengan jari telunjuk tangan kiri atau dengan hemostat yang
ditempelkan pada tepi flap atau dengan tissue retactor.
4. Bebaskan tepi flap dari darah menggunakan suction apparatus, dan
jaga dari seluruh area operasi.
5. Letakkan bone shear atau single edge bone-cutting rongeur dengan
satu blade pada puncak alveolar dan blade lainnya dibawah undercut
yang akan dibuang, dimulai pada regio insisivus sentral atas atau
bawah dan berlanjut ke bagian paling distal dari alveolar ridge pada
sisi yang terbuka.
6. Bebaskan mukoperiosteal membrane dari puncak alveolar dan angkat
menuju lingual, sehingga plate bagian lingual dapat terlihat. Prosedur
ini akan memperlihatkan banyak tulang interseptal yang tajam.
7. Hilangkan penonjolan tulang interseptal yang tajam tersebut dengan
end-cutting rongeurs.
8. Haluskan permukaan bukal dan labial dari alveolar ridge dengan bone
file. Tahan bone file pada posisi yang sama sebagai straight operative
chisel , pada posisi jari yang sama, dan file area tersebut pada dengan
gerakan mendorong.
9. Susuri soket dengan small bowl currete dan buang tiap spikula kecil
tulang atau struktur gigi atau material tumpatan yang masuk ke dalam

10
soket. Ulangi prosedur ini pada sisi kiri atas dan lanjutkan ke tahap
berikutnya.
10. Kembalikan flap pada posisi semula, kurang lebih pada tepi jaringan
lunak, dan ratakan pada posisi tersebut dengan jari telunjuk yang
lembab.
11. Catat jumlah jaringan yang overlapping, yang notabene bahwa tulang
dibawahnya telah dikurangi, yang akhirnya meninggalkan tulang yang
lebih sedikit dilapisi oleh jaringan lunak.
12. Dengan gunting, hilangkan sejumlah mukoperiosteum yang
sebelumnya terlihat overlap.
13. Ratakan jaringan lunak tersebut kembali ketempatnya menggunakan
jari telunjuk yang lembab, perkirakan tepi dari mukoperiosteum, lalu
catat apakah ada penonjolan tajam yang tersisa pada alveolar ridge.
Operator dapat merasakannya dengan jari telunjuk.
14. Jika masih terdapat penonjolan dari tulang yang tersisa, hilangkan
dengan bone fie.
15. Jahit mukoperiosteum kembali ketempatnya. Disarankan menggunakan
benang jahitan sutra hitam kontinyu nomor 000. Walaupun demikian,
jahitan interrupted juga dapat digunakan jika diinginkan,

2. Vestibuloplasti
Vestibuloplasti merupakan suatu tindakan bedah yang bertujuan untuk
meninggikan sulkus vestibular dengan cara melakukan reposisi mukosa,
ikatan otot dan otot yang melekat pada tulang yang dapat dilakukan baik pada
maksila maupun pada mandibula dan akan menghasilkan sulkus vestibular
yang dalam untuk menambah stabilisasi dan retensi protesa.

Tipe vestibuloplasti:
a. Vestibuloplasti Submukosa
Pada tahun 1959, Obwegeser mendeskripsikan vestibuloplasty
submukosa untuk mengekstensi jaringan linggir alveolar dalam

11
maksila.Prosedur ini khususnya berguna pada pasien yang mengalami
resorpsi linggir alveolar dengan gangguan pada ikatan dari linggir.
Vestibuloplasty submukosa ideal dilakukan jika sisa dari rahang
atas secara anatomis kondusif untuk rekonstruksi prostetik.Panjang
mukosa yang adekuat harus ada agar prosedur ini sukses dilakukan
tanpa perubahan yang tidak proporsional dari bibir atas.Jika pisau lidah
atau kaca mulut ditempatkan pada ketinggian vestibulum maksila tanpa
distorsi atau inversi dari bibir atas, berarti terdapat kedalaman
labiovestibular yang adekuat.Jika terjadi distorsi maka vestibuloplasty
maksila menggunakan split-thickness skin graft atau vestibuloplasty
laser merupakan prosedur yang tepat.
Vestibuloplasty submukosa dapat dilakukan di dalam ruang
praktek dengan outpatient general anesthesia atau sedasi yang
dalam.Insisi midline dilakukan melalui mukosa di dalam maksila
diikuti dengan pemisahan mukosa secara bilateral.Pemisahan
supraperiosteal dari otot intermediate dan ikatan jaringan lunak telah
selesai. Insisi tajam dari bidang jaringan intermediate dibuat pada
ikatan dekat dengan crest dari alveolus maksila. Lapisan jaringan dapat
dieksisi atau direposisi ke arah superior.
Penutupan insisi dan penempatan stent post-bedah atau gigi tiruan
secara kaku pada palatum perlu dilakukan untuk mempertahankan
posisi baru dari ikatan jaringan lunak.Pembukaan gigi tiruan atau stent
dilakukan 2 minggu setelah pembedahan.
Selama periode pemulihan, jaringan mukosa berikatan dengan
periosteum yang ada dibawahnya, menghasilkan ekstensi fix jaringan
yang melapisi alveolus maksila. Reline final dari gigi tiruan pasien
dapat dilakukan kira-kira 1 bulan setelah pembedahan.

b. Vestibuloplasti Maksila
Jika vestibuloplasty submukosa merupakan kontraindikasi,
pedicled mukosa dari bibir atas dapat direposisi pada kedalaman

12
vestibulim dalam supraperiosteal.Periosteum yang terekspos dapat
dibiarkan untuk epitelisasi secara sekunder.
Split-thickness skin graft dapat dilakukan untuk mempersingkat
periode pemulihan.Sebagai tambahan, penempatan gigi tiruan yang
telah di-reline dapat meminimalisir ketidaknyamanan pasien dan
membantu membentuk dan mengadaptasi jaringan lunak dibawahnya
dan/atau skin graft.Pilihan lainnya dalam situasi ini adalah
vestibuloplasty laser.Laser karbondioksida digunakan untuk mereseksi
jaringan dalam bidang supraperiosteal pada kedalaman vestibulum
yang diinginkan. Gigi tiruan dengan reline halus ditempatkan untuk
mempertahankan kedalaman vestibular.
Pembukaan gigi tiruan dalam 2 hingga 3 minggu memperlihatkan
vestibulum yang telah terepitelisasi dengan baik yang terekstensi pada
kedalaman yang diinginkan.

c. Lip-Switch Vestibuloplasty
Pada vestibuloplasty sebelumnya, insisi pada bibir bawah dan
pemisahan submukosa hingga ke alveolus diikuti dengan diseksi
supraperiosteal hingga kedalaman vestibulum. Flap mukosa kemudian
disutur pada kedalaman vestibulum dan distabilisasi dengan stent atau
gigi tiruan. Jaringan labial kemudian dibiarkan untuk berepitelisasi
secara sekunder.
Pada vestibuloplasty transposisional, periosteum diinsisi pada crest
alveolus dan ditranspos lalu disutur pada submukosa labial. Flap
mucosal yang telah dielevasi kemudian diposisikan diatas tulang yang
terekspos dan disutur pada kedalaman vestibulum.
Prosedur ini memberikan hasil yang memuaskan apabila terdapat
ketinggian mandibular yang adekuat.Tinggi minimal 15 mm dapat
diterima untuk prosedur diatas.Kerugian meliputi hasil yang tidak
diduga, bekas luka, dan kambuh (relapse).

d. Vestibuloplasty Mandibula dan Perendahan Dasar Mulut

13
Sebagai tambahan pada ikatan otot labial dan jaringan lunak pada
area penempatan gigi tiruan, otot mylohyoid dan genioglossus di dalam
dasar mulut juga memberikan masalah yang serupa pada aspek lingual
dari mandibula. Trauner mendeskripsikan bahwa melepas otot
mylohyoid dari area linggir mylohyoid dan mereposisikannya ke arah
inferior, dapat secara efektif memperdalam area dasar mulut dan
meringankan pengaruh otot mylohyoid terhadap gigi tiruan. Setelah
dua teknik ekstensi vestibular dilakukan, skin graft dapat digunakan
untuk menutupi periosteum. Kombinasi prosedur ini dapat secara
efektif mengeliminasi gaya penggeser dari ikatan mukosa dan otot
serta memberikan dasar yang luas dari jaringan terkeratinisasi pada
area penempatan gigi tiruan.
Prosedur grafting jaringan lunak dengan vestibuloplasty bukal dan
dasar mulut diindikasikan jika linggir alveolar adekuat untuk area
penempatan gigi tiruan telah hilang namun setidaknya masih tersisa
ketinggian tulang mandibular 15 mm. Tulang yang tersisa harus
memiliki kontur yang adekuat sehingga bentuk dari linggir alveolar
yang terekspos setelah perosedur adekuat untuk dilakukan konstruksi
gigi tiruan.Jika terdapat kelainan tulang yang besar, seperti konkavitas
yang besar dalam aspek superior dari mandibula posterior, maka harus
dikoreksi melalui prosedur grafting atau alveoplasty minor sebelum
prosedur jaringan lunak.
Keuntungan dari teknik ini adalah penutupan dini dari periosteum
yang meningkatkan kenyamanan pasien dan memungkinkan konstruksi
gigi tiruan lebih awal.Kerugian utama yang dapat dialami pasien post
bedah adalah perlunya untuk dirawat di rumah sakit dan pembedahan
di lokasi donor dan pembengkakan moderat serta
ketidaknyamanan.Pasien jarang mengeluhkan tentang penampilan atau
fungsi kulit dalam kavitas oral.

14
3. Augmentasi Linggir (Alveoloplasti)
Augmentasi linggir alveolar adalah suatu prosedur bedah untuk
memperbaiki bentuk dan ukuran linggir alveolar dalam persiapan untuk
menerima dan mempertahankan prostesa gigi. Augmentasi linggir alveolar
merupakan perawatan yang paling dapat diprediksi untuk menciptakan kontur
tulang yang memadai untuk penempatan implan.
Augmentasi linggir alveolar telah dilakukan dengan menggunakan
berbagai teknik dan material yang berbeda. Material yang digunakan dalam
augmentasi linggir Universitas Sumatera Utara alveolar antara lain autograf,
alograf, xenograf, bahan pengganti tulang sintetis (aloplastik), bahan
osteoaktif dan membran resorbable atau nonresorbable.
Selain penggunaan bahan cangkok tulang, ada beberapa teknik yang
memungkinkan pemanfaatan tulang yang terdapat pada tulang maksilofasial
secara maksimal tanpa menggunakan bahan cangkok tulang, antara lain:
a. Osteokondensasi, yaitu suatu teknik untuk membentuk kembali morfologi
tulang alveolar pada maksila dengan memadatkan tulang dari berbagai
arah dengan menggunakan condensing chisel atau plungers.
b. Crestal split technique, yaitu suatu teknik untuk memperluas linggir
alveolar dengan teknik osteotomi dengan menggunakan chisel untuk
menghasilkan “greenstick fracture” pada dasar alveolus.
c. Distraksi osteogenesis, yaitu teknik yang dikembangkan untuk augmentasi
yang terbatas pada crest alveolar untuk keperluan implan dengan
menggunakan alat yang akan mengekspansi rahang dari waktu ke waktu
dan dilepas pada saat pemasangan implan.
d. Guide Bone Regeneration (GBR) yaitu suatu teknik dimana pertumbuhan
tulang diperoleh dengan mempertahankan ruang dan mencegah
pertumbuhan jaringan lunak ke daerah yang akan dikembangkan dengan
menggunakan resorbable atau nonresorbable barrier membrane.

Indikasi untuk augmentasi tulang adalah:

- Kelainan kraniofasial

15
- Cleft fasial. Pasien pada kasus ini sering mengalami hipoplasia
maksila. Bahkan setelah perbaikan sumbingnya dan perawatan
ortodontik, defisiensi maksila yang parah masih tetap ada. Augmentasi
tulang secara eksternal dapat memperlambat ekspansi pada jaringan
sekitarnya, sehingga tubuh bisa mengakomodasi posisi baru maksila.
- Defisiensi linggir alveolar
- Trauma kompleks
- Anomali dengan defisiensi maksila, misalnya kasus sindrom Crouzon
atau sindrom Pfeiffer
- Kekurangan tulang alveolar. Kekurangan tulang alveolar mungkin
merupakan hasil dari keadaan, seperti trauma avulsi gigi insisivus
rahang bawah atau cacat bawaan.
- Bila daerah yang mendukung protesa dari linggir yang atropi yang
besar tidak bisa dibaiki dengan vestibuloplasti.

Kontraindikasi untuk augmentasi tulang adalah:

Pasien muda harus dipilih dengan hati-hati karena tulang mereka rapuh dan
jumlah tulang yang tersedia untuk penempatan implan mungkin tidak memadai.
Banyak penelitian telah menunjukkan hasil yang memuaskan pada bayi, tanpa
adanya efek samping. Sebelum operasi, operator harus mengkonfirmasi bahwa
kekuatan dari segmen yang dipindahkan cukup untuk menahan kekuatan
pengunyahan. Kelainan bentuk tulang akibat penyakit tulang tidak termasuk
dalam kontraindikasi, selama tulang tersebut cukup untuk dilakukan augmentasi
tulang. Selain itu, pasien yang kooperatif akan mendukung kelancaran perawatan
ini.

4. Bedah torus
Torus merupakan suatu pembasaran, penonjolan yang membulat pada
rongga mulut. Jika terjadi di daerah palatum disebut torus palatines,
sedangkan jika terjadi di daerah lingual maka disebut torus lingualis (Harty,
1995).

16
Torus lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Torus biasanya
muncul pada orang dewasa dan jarang terjadi pada usia dibawah 15 tahun.
Torus dianggap sebagai suatu anomaly yang berkembang, yang tumbuh secara
perlahan-lahan sepanjang hidup. Torus biasanya tampak pada area premolar
dan dapat muncul multiple di rongga mulut, berdiameter 1,5-4 cm. Torus
mempunyai tempat-tempat yang spesifik. Torus palatius terletak di median
line palatal, dan torus mandibularis terletak di sisi lingual dari alveolar,
sedangkan bukal eksotosis terletak pada alveolar bagian bukal. Kadang torus
sulit dibedakan dengan peripheral ossifying fibroma atau produksi masa
jaringan lunak tulang pada mulut.
Torus palatinus adalah penonjolan tulang yang umum terjadi di tengah
palatum durum. Ukurannya bervariasi dari yang hampir tidak nyata hingga
sangat besar, dari yang datar/flat hingga terbatas/lobular. Torus palatinus pada
rongga mulut ini bukan merupakan penyakit atau tanda dari suatu penyakit
tetapi jika ukurannya besar kemungkinan akan menjadi masalah dalam
konstruksi dan pemakaian denture. Torus palatinus pada rongga mulut ini
biasanya terdiri dari tulang kanselous (cancellouse bone) yang matur dan
padat dikelilingi tulang kortikal dengan ketebalan bervariasi (Belsky, 2003).
Torus palatinus, mempunyai ukuran dan bentuk sangat bervariasi, bisa berupa
tonjol kecil tunggal/ berupa tonjol multilobuler yang luas (Pedersen, 1996).
Torus mandibularis terletak diatas perlekatan otot mylohyoid, dan
biasanya bilateral. Pertumbuhan bersifat jinak dan jarang membutuhkan
perawatan khusus. Pengambilan tulang ini biasanya disebut dengan prosedur
astetomi (Pedenser, 1996).

Klasifikasi berdasarkan pada bentuknya adalah sebagai berikut


(Archer,1975):
a. Convex sessile : lunak, pertumbuhan keluar, bilateral, biasanya simetris.
b. Nodular : massanya bersifat semifuse (agak menyebar), ukurannya
berariasi dan ada sejumlah peninggian tulang yang semi pedunculated.
c. Lobular : kebanyakan menyerupai bentuk nodular yang pertumbuhannya
lebih cepat dan sangat luas serta memunyai banyak undercut. Bagian

17
dasarnya pedunculated tapi hal ini sangat sukar dilihat pada torus lobular
yang besar sampai beberapa segmennya sudah diekspose dengan refleksi
dari membrane mukoperiosteal.
d. Spindle : bentuknya panjang tipis, tampak disepanjang midline ridge.
Spindle juga dapat mempunyai bentuk tapered. Bentuk tapered ini
merupakan bentuk yang tidak biasa dari tori spindle yang besar.

Indikasi torus removal surgery:


a. Bagi orang yang memakai gigi tiruan dan alat orho lepasan, terdapat
ulserasi yang berulang (kambuhan), dan kesultan dalam makan dan
berbicara.
b. Jika torus tersebut membesar dan pasien merasa terganngu dengan danya
torus tersebut, sehingga dapat menghambat fungsi dari rongga mulut itu
sendiri.
c. Apabila mengganggu stabilitas gigi tiruan lepasan, apabila ukurannya
terlalu besar, dan apabila tidak dilakukan relief pada landasan gigi tiruan.

Kontraindikasi torus removal surgery:

Karena torus removal merupakan tindakan bedah minor,sehingga kontra


inidikasinya sama dengan kontra indikasi bedah minor yaitu :
a. Kelainan darah
b. Purpura hemoragik
c. Lekemia
d. Penyakit ginjal
e. Penyakit kelenjar endokrin
f. Diabetes Melitus
g. Kehamilan
h. Penyakit kardiovaskuler
i. Hipertensi
j. AIDS
k. Sifilis
l. Hipersensitivitas

18
Prosedur torus removal pada torus palatinus:

a. Palatum sebelum penghilangan torus palatinus

b. Setelah dilakukan anastesi, Dilakukan insisi di sepanjang midline palatum


dengan dua insisi serong pada anterior dan posteriornya

c. Flap yang terbentuk lalu ditarik dengan benang jahit atau jahitan traction.

d. Lesi kermudian dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dengan


fissure bur

e. Kemudian dilakukan penghilangan fragmen eksostosis dengan monobevel


chisel

f. Lalu dilakukan penghalusan permukaan tulang dengan bur tulang

19
g. Apabila ada jaringan lunak yang berlebihan maka dilakukan pemotongan
seperlunya
h. Dilakukan penutupan flap dimulai dari posterior dan dengan beberapa
jahitan matres horizontal terputus.
i. Hematom yang terjadi di bawah flap palatal merupakan hal biasa yang
terjadi. Kejadian ini bisa dihindari atau diperkecil dengan pengikatan
sponge pada palatum sehingga membantu menekan flap kea rah palatum.

j. Palatum setelah penghilangan torus

Prosedur torus removal torus mandibula:


a. Torus mandibularis di edentulous

b. Sayatan sepanjang lengkung alveolar (tanpa melepaskan sayatan vertical)

20
c. Penutup mucoperiosteal dibuka untuk mengekspos exostosis

d. Penghilangan tulang exostosis dengan bur tulang

e. Permukaan tulang dirapikan dengan bone file

f. Area operasi setelah recontouring bedah tulang

21
g. Area operasi setelah dijahit

22
DAFTAR PUSTAKA

- Pedersen GW. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta. EGC
- Archer, W. H. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Vol. I.
Philadelphia: Saunders, 1975: 135, 179-187.
- Indresano, A. T. and Laskin, D. M. Procedures to Improve the Bony
Alveolar Ridge. In: Laskin, D. M., editor. Oral and Maxillofacial
Surgery. St. Louis: Mosby, 1985: 293-305.
- McGowan, D. A. An Atlas of Minor Oral Surgery. 1st ed.. London:
Martin Dunitz, 1989: 75, 87-91.
- D. Fragiskos, Fragiskos DDS, PhD Associate Professor, Oral and
Maxillofacial Surgery. School of Dentistry University of Athens
Greece, 2007.

23