Anda di halaman 1dari 15

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Definisi SIG


Definisi SIG kemungkinan besar masih berkembang, bertambah, dan sedikit
bervariasi. Hal ini terlihat dari banyaknya definisi SIG yang telah beredar di berbagai
sumber pustaka. Berikut adalaha beberapa definisi SIG yang telah beredar :
a. Marbel et al (1983), SIG merupakan sistem penanganan data keruangan.
b. Burrough (1986), SIG adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk
memasukan, menyimpan, mengelola, menganalisis dan mengaktifkan kembali data
yang mempunyai referensi keruangan untuk berbagai tujuan yang berkaitan dengan
pemetaan dan perencanaan.
c. Berry (1988), SIG merupakan sistem informasi, referensi internal, serta otomatisasi
data keruangan.
d. Aronoff (1989), SIG adalah suatu sistem berbasis komputer yang memiliki
kemampuan dalam menangani data bereferensi geografi yaitu pemasukan data,
manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan kembali), manipulasi dan analisis
data, serta keluaran sebagai hasil akhir (output). Hasil akhir (output) dapat dijadikan
acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan
geografi.
e. Gistut (1994), SIG adalah sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan
spasial dan mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi lokasi dengan
karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut. SIG yang
lengkap mencakup metodologi dan teknologi yang diperlukan yaitu data spasial,
perangkat keras, perangkat lunak dan struktur organisasi.
f. Chrisman (1997), SIG adalah sistem yang terdiri dari perangkat keras, perangkat
lunak, data, manusia (brainware), organisasi dan lembaga yang digunakan untuk
mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi-informasi
mengenai daerah-daerah di permukaan bumi.
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik
tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa, dan akhirnya memetakan hasilnya.
Data yang diolah pada SIG adalah data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi
geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar
referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti

5
lokasi,kondisi, tren, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG
dengan sistem informasi lainnya.
” Suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data
geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk
memasukan, menyimpan,memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi,
mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis
geografis ”.
SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer, walaupun
pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual, SIG yang berbasis komputer akan
sangat membantu ketika data geografis merupakan data yang besar (dalam jumlah dan
ukuran) dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan.
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik
tertentu di bumi,menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya.
Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang
berorientasi geografis dan merupakan lokasiyang memiliki sistem koordinat tertentu,
sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa
pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuaninilah yang
membedakan SIG dari sistem informasi lainnya.
Telah dijelaskan diawal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri
dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan
perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data geografis yang benar dan
sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan
menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG. (Sumber : Modul
Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

2.1.1 Sub-system SIG


SIG dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem sebagai berikut :
a. Data Input
Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan, mempersiapkan, dan menyimpan
data spasial dan atributnya dari berbagai sumber. Sub-sistem ini pula yang
bertanggung jawab dalam mengonversikan atau mentransformasikan format-format
data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oeh perangkat SIG yang
bersangkutan.
b. Data Output

6
Sub-sistem ini bertugas untuk menampilkan atau menghasilkan keluaran (termasuk
mengekspornya ke format yang dikehendaki) seluruh atau sebagian basis data
(spasial) baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy seperti halnya tabel, grafik,
report, peta, dan lain sebagainya.
c. Data Management
Sub-sistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun tabel-tabel atribut
terkait ke dalam sebuah sistem basis data sedemikian rupa hingga mudah dipanggil
kembali atau di-retrieve, diupdate, dan diedit.
d. Data Manipulation & Analysis
Sub-sistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG.
Selain itu sub-sistem ini juga melakukan manipulasi (evaluasi dan penggunaan
fungsi-fungsi dan operator matematis & logika) dan pemodelan data untuk
menghasilkan informasi yang diharapkan.
Sub-sistem SIG di atas dapat diilustrasikan sebagai berikut :

Gambar 2.1. Ilustrasi Uraian Sub-sistem


(Sumber: http://www.gienpratama.com)

2.1.2. Sejarah SIG


Sistem ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1972 dengan nama
Data Banks for Development. Munculnya istilah Sistem Informasi Geografis seperti
sekarang ini setelah dicetuskan oleh General Assembly dari International Geographical
Union di Ottawa Kanada pada tahun 1967. Dikembangkan oleh Roger Tomlinson, yang
kemudian disebut CGIS (Canadian GIS-SIG Kanada). CGIS digunakan untuk
menyimpan, menganalisa dan mengolah data yang dikumpulkan untuk inventarisasi
Tanah Kanada (CLI-Canadian Land Inventory) yang merupakan sebuah inisiatif untuk
mengetahui kemampuan lahan di wilayah pedesaan Kanada dengan memetakan
berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam bebas, unggas dan
penggunaan tanah pada skala 1:250000.

7
Sejak saat itu Sistem Informasi Geografis berkembang di beberapa benua terutama
Benua Amerika, Benua Eropa, Benua Australia, dan Benua Asia. Seperti di Negara-
negara yang lain, di Indonesia pengembangan SIG dimulai di lingkungan pemerintahan
dan militer. Perkembangan SIG menjadi pesat semenjak di ditunjang oleh sumberdaya
yang bergerak di lingkungan akademis (kampus).
Dalam sejarahnya penggunaan SIG modern (berbasis komputer, digital) dimulai
sejak tahun 1960-an. Pada saat itu untuk menjalankan perangkat SIG diperlukan
computer mainframe khusus dan mahal. Dengan perkembangan computer PC,
kecanggihan CPU, dan semakin murahnya memori, sekarang SIG tersedia bagi
siapapun dengan harga murah
.

Gambar 2.2. Sejarah singkat SIG


(Sumber: http://www.gienpratama.com)

2.1.3. Komponen SIG


Menurut John E. Harmon, Steven J. Anderson, 2003, secara rinci SIG dapat
beroperasi dengan komponen- komponen sebagai berikut :
a. Orang yang menjalankan sistem meliputi orang yang mengoperasikan,
mengembangkan bahkan memperoleh manfaat dari sistem. Kategori orang yang
menjadi bagian dari SIG beragam, misalnya operator, analis, programmer, database
administrator bahkan stakeholder.
b. Aplikasi merupakan prosedur yang digunakan untuk mengolah data menjadi
informasi. Misalnya penjumlahan, klasifikasi, rotasi, koreksi geometri, query, overlay,
buffer, jointable, dsb.
c. Data yang digunakan dalam SIG dapat berupa data grafis dan data atribut. Data
posisi/koordinat/grafis/ruang/spasial, merupakan data yang merupakan representasi

8
fenomena permukaan bumi/keruangan yang memiliki referensi (koordinat) lazim
berupa peta, foto udara, citra satelit dan sebagainya atau hasil dari interpretasi data-data
tersebut. Data atribut/non-spasial, data yang merepresentasikan aspek-aspek deskriptif
dari fenomena yang dimodelkannya. Misalnya data sensus penduduk, catatan survei,
data statistik lainnya.
d. Software adalah perangkat lunak SIG berupa program aplikasi yang memiliki
kemampuan pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan, analisis dan penayangan data
spasial (contoh : ArcView, Idrisi, ARC/INFO, ILWIS, MapInfo, dll)
e. Hardware, perangkat keras yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem berupa
perangkat komputer, printer, scanner, digitizer, plotter dan perangkat pendukung
lainnya.
Selain kelima komponen di atas, ada satu komponen yang sebenarnya tidak kalah
penting yaitu Metode. Sebuah SIG yang baik adalah apabila didukung dengan metode
perencanaan desain sistem yang baik dan sesuai dengan ‘’business rules’’ organisasi
yang menggunakan SIG tersebut

Gambar 2.3. Komponen GIS


(Sumber: https://iisprastica.wordpress.com)
2.1.4. Tugas Utama SIG
Berdasarkan desain awalnya tugas utama SIG adalah untuk melakukan analisis data
spasial. Dilihat dari sudut pemrosesan data geografik, SIG bukanlah penemuan baru.
Pemrosesan data geografik sudah lama dilakukan oleh berbagai macam bidang ilmu,
yang membedakannya dengan pemrosesan lama hanyalah digunakannya data digital.
adapun tugas utama dalam SIG adalah sebagai berikut:

9
c. Input Data, sebelum data geografis digunakan dalam SIG, data tersebut harus
dikonversi terlebih dahulu ke dalam bentuk digital. Proses konversi data dari peta
kertas atau foto ke dalam bentuk digital disebut dengan digitizing. SIG modern bisa
melakukan proses ini secara otomatis menggunakan teknologi scanning.
d. Pembuatan peta, proses pembuatan peta dalam SIG lebih fleksibel dibandingkan
dengan cara manual atau pendekatan kartografi otomatis. Prosesnya diawali dengan
pembuatan database. Peta kertas dapat didigitalkan dan informasi digital tersebut
dapat diterjemahkan ke dalam SIG. Peta yang dihasilkan dapat dibuat dengan
berbagai skala dan dapat menunjukkan informasi yang dipilih sesuai dengan
karakteristik tertentu.
e. Manipulasi data, data dalam SIG akan membutuhkan transformasi atau manipulasi
untuk membuat data-data tersebut kompatibel dengan sistem. Teknologi SIG
menyediakan berbagai macam alat bantu untuk memanipulasi data yang ada dan
menghilangkan data-data yang tidak dibutuhkan.
f. Manajemen file, ketika volume data yang ada semakin besar dan jumlah data user
semakin banyak, maka hal terbaik yang harus dilakukan adalah menggunakan
database management system (DBMS) untuk membantu menyimpan, mengatur, dan
mengelola data
g. Analisis query, SIG menyediakan kapabilitas untuk menampilkan query dan alat
bantu untuk menganalisis informasi yang ada. Teknologi SIG digunakan untuk
menganalisis data geografis untuk melihat pola dan tren.
h. Memvisualisasikan hasil, untuk berbagai macam tipe operasi geografis, hasil
akhirnya divisualisasikan dalam bentuk peta atau graf. Peta sangat efisien untuk
menyimpan dan mengkomunikasikan informasi geografis. Namun saat ini SIG juga
sudah mengintegrasikan tampilan peta dengan menambahkan laporan, tampilan tiga
dimensi, dan multimedia.
2.1.5. Data Spasial
Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu
sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai
dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari
data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute) yang
dijelaskan berikut ini :

10
1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat
geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk diantaranya
informasi datum dan proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi yang
memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya, contohnya : jenis
vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.
Secara sederhana format dalam bahasa komputer berarti bentuk dan kode
penyimpanan data yang berbeda antara file satu dengan lainnya. Dalam SIG, data
spasial dapat direpresentasikan dalam dua format, yaitu:
1. Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan
garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik
yang sama), titik dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua buah garis).

Gambar 2.3.1 Data Vektor


(Sumber : Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )
Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam
merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat berguna untuk
analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basisdata batas-batas
kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial
dari beberapa fitur. Kelemahan data vektor yang utama adalah ketidakmampuannya
dalam mengakomodasi perubahan gradual. ( Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar,
2007 )
Data raster (atau disebut juga dengan sel grid) adalah data yang dihasilkan dari
sistem Penginderaan Jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai
struktur sel grid yang disebut dengan pixel (picture element).

11
Gambar 2.3.2 Data Raster
Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya. Dengan
kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang
diwakili oleh setiap pixel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang
direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik
untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis tanah,
kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya. Keterbatasan utama dari data
raster adalah besarnya ukuran file; semakin tinggi resolusi grid-nya semakin besar
pula ukuran filenya dan sangat tergantung pada kapasistas perangkat keras yang
tersedia.

Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan


format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan penggunaan, data yang
tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian yang diinginkan, serta kemudahan
dalam analisa. Data vektor relatif lebih ekonomis dalam hal ukuran file dan presisi
dalam lokasi, tetapi sangat sulit untuk digunakan dalam komputasi matematik.
Sedangkan data raster biasanya membutuhkan ruang penyimpanan file yang lebih
besar dan presisi lokasinya lebih rendah, tetapi lebih mudah digunakan secara
matematis. ( Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

2.1.6. Bidang-bidang Aplikasi SIG


Sistem Informasi Geografis dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dalam
mendapatkan data-data yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau
obyek. Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data

12
atribut dalam bentuk dijital. Sistem ini merelasikan data spasial (lokasi geografis)
dengan data non spasial, sehingga para penggunanya dapat membuat peta dan
menganalisa informasinya dengan berbagai cara. SIG merupakan alat yang handal
untuk menangani data spasial, dimana dalam SIG data dipelihara dalam bentuk digital
sehingga data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, tabel, atau dalam
bentuk konvensional lainya yang akhirnya akan mempercepat pekerjaan dan
meringankan biaya yang diperlukan.
Beberapa alasan penggunaan SIG, antara lain:
a. SIG sangat efektif dalam membantu proses-proses pembentukan, pengembangan,
atau perbaikan peta mental yang telah dimiliki oleh setiap orang yang selalu
berdampingan dengan lingkungan dunia nyata.
b. SIG dapat digunakan sebagai alat bantu utama yang effektif, menarik, dan
menantang dalam usaha-usaha untuk meningkatkan pemahaman, pengertian, dan
pendidikan mengenai ide atau konsep lokasi, ruang (spasial), kependudukan dan
unsur-unsur geografis yang terdapat dipermukaan bumi berikut data atribut terkait
yang menyertainya.
c. SIG dapat memberikan gambaran yang lengkap dan komprehensif terhadap suatu
masalah nyata yang terkait spasial permukaan bumi. Semua entitas yang dilibatkan
dapat divisualkan untuk memberikan informasi baik yang tersirat (implisit) maupun
yang tersurat (eksplisit).
d. SIG menggunakan baik data spasial maupun atribut secara terintegrasi hingga
sistemnya dapat menjawab baik pertanyaan spasial maupun non-spasial, memiliki
kemampuan analisis spasial dan non-spasial.
e. SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memvisualkan data spasial
berikut atribut-atributnya. Modifikasi warna, bentuk dan ukuran simbol yang
diperlukan untuk merepresentasikan unsur-unsur permukaan bumi dapat dilakukan
dengan mudah.
f. SIG memiliki kemampuan untuk menguraikan unsur-unsur yang terdapat di
permukaan bumi ke dalam bentuk layer, tematik, atau coverage data spasial.
Dengan layer ini permukaan bumi dapat direkonstruksi kembali atau dimodelkan
ke dalam bentuk nyata (real world tiga dimensi) dengan menggunakan data
ketinggian berikut layer tematik yang diperlukan.
g. SIG dapat menurunkan informasi secara otomatis tanpa keharusan untuk selalu
melakukan interpretasi secara manual. Dengan demikian, SIG dengan mudah dapat

13
menghasilkan data spasial tematik yang merupakan (hasil) turuan dari data spasial
yang lain (primer) dengan hanya memanipulasi atribut-atributnya.

Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi GIS di berbagai bidang :


Pengelolaan Fasilitas : Peta skala besar, network analysis, biasanya digunakan untuk
pengolaan fasilitas kota. Contoh aplikasinya adalah penempatan pipa dan kabel bawah
tanah, perencanaan fasilitas, perawatan, pelayanan jaringan telekomunikasi.
Sumber Daya Alam: studi kelayakan untuk tanaman pertanian, pengelolaan hutan,
perencanaan tataguna lahan, analisis daerah bencana alam dan analisis dampak
lingkungan.
Lingkungan : pencemaran sungai, danau, laut, evaluasi pengendapan lumpur di sekitar
sungai, danau atau laut, pemodelan pencemaran udara.
Perencanaan : pemukiman transmigrasi, tata ruang wilayah, tata kota, relokasi
industri, pasar, pemukiman, dll.
Ekonomi dan bisnis : penentuan lokasi bisnis yang prospektif untuk bank, pasar
swalayan, mesin ATM, show room, dll.
Kependudukan : penyediaan informasi kependudukan, pemilihan umum.
Transportasi: inventarisasi jaringan (seperti jalur angkutan umum), analisis rawan
kemacetan dan kecelakaan, manajemen transit perencanaan rute, dll.
Telekomunikasi : inventarisasi jaringan, perizinan lokasi-lokasi BTS beserta
pemodelan spasialnya, sistem informasi pelanggan, perencanaan pemeliharaan dan
analisis perluasan jaringan, dll.
Militer : penyediaan data spasial untuk rute perjalanan logistic, peralatan perang, dll

2.2 ArcGIS
ArcGIS adalah salah satu perangkat lunak SIG yang memiliki versi desktop.
Perangkat lunak ini memiliki banyak fungsional, exstension yang sudah terintegrasi,
dan juga mengimplementasikan konsep basis data spasial; khususnya geodatabase (baik
personal maupun multi-user). ArcGis dekstop memiliki 4 aplikasi dasar, yaitu :

1. Arcglobe , adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk


menampilkan peta-peta secara 3D ke dalam bola dunia dan dapat dihubungkan
langsung dengan internet. Aplikasi ini umumnya dirancang untuk digunakan
dengan dataset yang sangat besar dan memungkinkan untuk visualisasi yang tidak

14
terputus untuk data raster dan fitur peta lainnya. View dalam arcglobe didasarkan
pada pandangan global, dengan semua data diproyeksikan ke proyeksi cube global
dan ditampilkan pada berbagai tingkat detail ( LODs ).

2. ArcScene , adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk mengolah


dan menampilkan peta-peta ke dalam 3D. ArcCatalog digunakan untuk menjelajah
(browsing), mengatur (organizing), membagi (distribution) dan menyimpan
(documentation) data – data SIG. Secara sederhana, fungsi dari ArcCatalog ialah
manajemen data.

3. ArcCatalog , merupakan bagian dari ArcGis yang digunakan untuk


menjelajah (browsing), mengatur (organizing), membagi (distribution) dan
menyimpan (documentation) data data SIG. Secara sederhana, fungsi dari
ArcCatalog ialah manajemen data.

4. ArcMap , merupakan modul utama di dalam ArcGis yang digunakan


untuk membuat (create), menampilkan (viewing), memilih (query), editing,
composing dan publishing peta. ( Pengenalan ArcGis, 2014 )

2.3 Perubahan Penggunaan Lahan


Lahan dapat didefinisikan sebagai suatu ruang di permukaan bumi yang secara
alamiah dibatasi oleh sifat-sifat fisik serta bentuk lahan tertentu. Sedangkan sumber
daya lahan adalah lahan yang didalamnya mengandung semua unsur sumberdaya lahan
adalah lahan yang didalamnya mengandung semua unsur sumberdaya, baik yang berada
dibawah maupun diatas permukaan bumi. (Noor, 2006).
Faktor-faktor yang menentukan peruntukan lahan adalah ketinggian/elevasi,
kelerengan, jenis batuan, jenis tanah, tutupan lahan, hidrologi, flora dan fauna, iklim
dan posisi geografis dan bencana alam.
Perubahan penggunaan lahan pada dasarnya adalah peralihan fungsi lahan yang
tadinya untuk peruntukan tertentu berubah menjadi peruntukan tertentu pula (yang
lain). Dengan adanya perubahan penggunaan lahan, suatu daerah mengalami
perkembangan terutama adalah perkembangan jumlah sarana baik berupa
perekonomian, jalan, maupun sarana dan prasarana yang lain.
Masalah yang berkaitan dengan lahan, tidak hanya menyangkut perbandingan antara
jumlah penduduk yang terus bertambah dan luas lahan yang tersedia, tetapi juga

15
menyangkut persaingan yang semakin lama semakin intensif dalam mendapatkan atau
memperebutkan lokasi diseputar pusat kegiatan atau paling dekat dengan pusat-pusat
kegiatan dimana fasilitas-fasilitas kota tersedia. Sehingga adanya pembangunan sektor
industri juga akan sangat berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan walaupun
tidak diiringi oleh pertumbuhan penduduk.
Menurut Bintarto (1983), ada tiga masalah yang timbul dalam pengaturan tataguna
tanah antara lain :
1 timbulnya masalah dibidang pertanian seperti pelapukan, banjir, dan erosi yang
mengakibatkan terancamnya masa depan Indonesia,
2 timbulnya masalah dibidang tata ruang desa yang dapat berakibat negatif bagi
penduduk, dan
3 adanya kekhilafan di masa lampau dalam pemilihan lokasi proyek-proyek sumber
alami, juga penggunaan lahan-lahan pertanian untuk non pertanian yang tidak
terarah dan terencana.

Bentuk penggunaan lahan suatu wilayah terkait dengan pertumbuhan penduduk dan
aktivitasnya, semakin meningkatnya jumlah penduduk di suatu tempat akan berdampak
pada makin meningkatnya perubahan penggunaan lahan. Selain itu dengan adanya
pertumbuhan dan aktivitas penduduk yang tinggi akan mengalami perubahan
penggunaan lahan yang cepat pula. Kebutuhan lahan yang berbeda-beda menyebabkan
manusia merubah lahan untuk disesuaikan dengan kebutuhannya. Perubahan alih
fungsi lahan tersebut terdapat variabilitas spasial yang di pengaruhi faktor-faktor antara
lain adalah jumlah penduduk yang semakin meningkat sehingga akan mendorong
terjadinya peningkatan kebutuhan penggunaan lahan. Selain akibat dari meningkatnya
jumlah penduduk , variabilitas spasial disebabkan antara lain karena aksesibilitasnya.
Perubahan penggunaan lahan terjadi karena adanya pertambahan jumlah penduduk
dan adanya perkembanhgan tuntutan hidup, kebutuhan rumah yang membutuhkan
wadah semakin meningkat. Gerakan penduduk yang terbalik, yaitu dari kota ke daerah
pinggiran kota yang sudah termasuk daerah pinggiran (desa). Daerah pinggiran kota
sebagai daerah yang memiliki ruang relative masih luas ini memiliki daya tarik bagi
penduduk dalam memperoleh tempat tinggal. Kepadatan penduduk secara umum dapat
diartikan sebagai perbandingan jumlah penduduk dan luas tanah yang didiami dalam
satuan luas. Kepadatan penduduk dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti topografi,
iklim, tata air, aksesibilitas, dan ketersediaan fasilitas hidup (Bintarto, 1983)

16
Penggunaan lahan dan tata ruang dapat dipelajari dengan menggunakan suatu
metode pendekatan tertentu. Dalam geografi terpadu (integrated geography) untuk
mendekati dan menghampiri masalah digunakan bermacam-macam pendekatan yang
secara ekspisit dituangkan kedalam beberapa analisis sebagai berikut :
1. analisa keruangan (spatial analysis) yaitu mempelajari perbedaan lokasi mengenai
sifat-sifat penting yang memperhatikan persebaran penggunaan ruang yang telah ada
dan penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang
direncanakan,
2. analisa lingkungan (ecological analysis) yaitu pendekatan yang memperhatikan
interaksi organism hidup dengan lingkungan, dan
3. analisa kompleks wilayah (regional complex analysis) yaitu pendekatan yang
merupakan kombinasi antara analisis keruangan dengan analisis komplek wilayah
(Bintarto dan Surastopo,1979).

Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah analisis keruangan


(spatial analysis) yaitu mempelajari penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan
penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang direncanakan.
Hadi Sabari Yunus (2010) mengemukakan bahwa setiap upaya analisis keruangan
selalu bertujuan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan what (apa), where
(dimana), why (mengapa) dan how (bagaimana) tentang suatu gejala. Pendapat ini
memberi petunjuk bahwa pada dasarnya analisa keruangan selalu bertujuan untuk
mencari jawaban dari pertanyaan tentang gejala-gejala apa yang terjadi, mengapa
terjadi persebaran itu dan bagaimana persebaran tersebut terjadi.

2.4 Permukiman
Struktur ruang meliputi susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana
dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat
yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional . Permukiman adalah area tanah
yang digunakan sebagai lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung
perikehidupan dan penghidupan, dan merupakan bagian dari lingkungan hidup di luar
kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan (Hadi Sabari
Yunus, 1987 dalam Su Rintohardoyo, 1990 ).
Kawasan permukiman tidak saja hanya sebagai lingkungan tempat tinggal, tapi
juga sebagai sarana tempat berlangsungnya proses kehidupan manusia yang

17
menentukan kualitas dari suatu komunitas manusia saat ini bahkan manusia yang akan
datang (future generation).

2.5 Penginderaan Jauh


Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang
suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat
tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan
Kiefer, 1999). Pengambilan data Penginderaan Jauh dilakukan dari jarak jauh, oleh karena
itu diperlukan tenaga penghubung yang membawa data objek ke sensor, tenaga inilah
yang digunakan dalam Penginderaan Jauh. Tenaga ini dapat dibedakan atas :

a. Tenaga alam, yaitu tenaga yang berasal dari alam. Misalnya sensor matahari,
emisi/pancaran suhu benda-benda di permukaan bumi. Biasanya tenaga ini digunakan
untuk Penginderaan Jauh sistem pasif.
b. Tenaga buatan, yaitu tenaga yang dibuat untuk mendukung sistem Penginderaan
Jauh, contohnya pulsa radar. Biasanya digunakan untuk Penginderaan Jauh aktif.

Konsep dasar penginderaan jauh terdiri atas beberapa komponen yang meliputi
sumber tenaga, atmosfer, interaksi tenaga dengan objek di permukaan bumi, sensor,
sistem pengolahan data dan berbagai pengguna data. Komponen penginderaan jauh
menurut Lillesand dan Kiefer (1999) antara lain adalah:
a. sumber tenaga,
dibedakan menjadi dua yaitu tenaga aktif (bila sumber tenaga berasal dari matahari)
dan tenaga pasif (apabila tenaga berasal tenaga buatan);
b. atmosfer,
atmosfer pada dasarnya mempunyai sifat menyerap, memantulkan, menghamburkan
dan melewatkan radiasi elektromagnetik pengaruh atmosfer ini tidak sama bagi
bagian spektrum yang berbeda;
c. interaksi antara tenaga dan obyek,
tiap obyek dimuka bumi ini memantulkan spektrum elektromagnetik yang diterima
atau akan memancarkan spektrum elektromagnetik dari dalam obyek tersebut.
Radiasi dari tiap obyek diterima dan direkam oleh sensor dan sesudah diproses akan
terbentuk citra;
d. sensor,

18
sensor menerima dan merekam radiasi yang datang dari obyek. Sensor pada dasarnya
dapat dibedakan atas dua bagian, yaitu kamera atau sensor fotografi dan sensor bukan
kamera atau non-fotografi. Kamera beroperasi pada bagian spektrum tampak mata,
sedangkan sensor nonfotografi dapat beroperasi pada bagian spektrum yang jauh dan
lebih luas yakni dari sinar X hingga panjang gelombang radio;
e. perolehan data dan penggunaan data,
perolehan data penginderaan jauh dapat dilakukan dengan interpretasi manual
ataupun digital dan data ini dapat dimanfaatkan oleh pengguna untuk berbagai
aplikasi penginderaan jauh.

19