Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

“KOROSI PADA PAKU”

Kelompok 4 :

1. Hasbi Ash Shiddiq


2. Lazuardi Firdaus
3. Metia Enggreni
4. Ramia Ayu Wandira
5. Shinta Lestari
6. Veorinda Febri

Guru Bidang Studi Kimia : Choiril Mar’ah, S.Pd

SMAN – 1 KATINGAN TENGAH


TAHUN AJARAN 2017 – 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga berhasil menyelesaikan laporan ini. Laporan ini berisikan
tentang ”Korosi Pada Paku”. Di harapkan laporan ini dapat memberikan informasi kepada kita
semua tentang ”Korosi Pada Paku“.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
laporan ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai
segala usaha kita. Amin.

Tumbang Samba, 06 Oktober 2017

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN ............................................................................................................... 1
1.1 Latar belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................................ 1
1.4 Manfaat Penelitian .......................................................................................................... 1

BAB II
KAJIAN PUSTAKA ........................................................................................................... 2
2.1 Landasan Teori ................................................................................................................ 2
2.1.1 Korosi ........................................................................................................................... 2
2.1.2 Besi .............................................................................................................................. 3
2.2 Hipotesis Penelitian ........................................................................................................ 3

BAB III
METODE PENELITIAN ................................................................................................... 4
3.1 Variabel Penelitian .......................................................................................................... 4
3.2 Alat dan Bahan ................................................................................................................ 4
3.3 Langkah Kerja ................................................................................................................. 4

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................................... 5
4.1 Hasil Penelitian ............................................................................................................... 5
4.2 Pertanyaan ....................................................................................................................... 6
4.2 Pembahasan Hasil ........................................................................................................... 7

BAB V
PENUTUP ............................................................................................................................ 8
5.1 Kesimpulan ..................................................................................................................... 8
5.2 Saran ............................................................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari hari, korosi atau yang biasa disebut karat sangat merugikan. Kerugian
yang ditimbulkan korosi mencapai sekitaran 13,5 triliun rupian per tahun. Kerugian yang dapat
ditimbulkan oleh korosi tidak hanya biaya langsung seperti pergantian peralatan industri,
perawatan jembatan, konstruksi dan sebagainya, tetapi juga biaya tidak langsung seperti
terganggunya proses produksi dalam industri serta kelancaran transportasi yang umumnya lebih
besar dibandingkan biaya langsung.
Dalam kehidupan sehari-hari, korosi dapat kita jumpai terjadi pada berbagai jenis logam.
Bangunan-bangunan maupun peralatan elektronik yang memakai komponen logam seperti seng,
tembaga, besi baja, dan sebagainya semuanya dapat terserang oleh korosi ini. Selain pada
perkakas logam ukuran besar, korosi ternyata juga mampu menyerang logam pada komponen-
komponen renik peralatan elektronik, mulai dari jam digital hingga komputer serta peralatan
canggih lainnya yang digunakan dalam berbagai aktivitas umat manusia, baik dalam kegiatan
industri maupun di dalam rumah tangga. Oleh karena itu, cara pencegahan dari korosi sangat
diperlukan untuk menghindari kerugian yang ditimbulkan oleh korosi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengaruh berbagai cairan terhadap korosi pada paku besi ?
2. Bagaimana rincian proses korosi yang terjadi pada paku besi ?
3. Bagaimana cara pencegahan korosi ?

1.3 Batasan Masalah


Agar penulisan laporan ini tidak menyimpang dan mengambang dari tujuan yang semula
direncanakan sehingga mempermudah mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, maka
kami menetapkan batasan-batasan sebagai berikut:
1. Metode Penelitian yang dilaksanakan dengan baik.
2. Hasil Pengamatan dan Pembahasan yang akan menjawab pertanyaan yang diberikan.
3. Mengamati proses korosi paku selama 7 hari dengan rutin.
4. Mencari kajian pustaka tentang Korosi yang akan menjelaskan proses Korosi/Oksidasi yang
terjadi pada paku.

1.4 Tujuan Penelitian


1. Menyampaikan pengaruh berbagai cairan terhadap korosi pada paku.
2. Menyampaikan penyebab dan pencegahan korosi.
3. Mengamati proses korosi paku pada beberapa medium.
4. Memenuhi tugas dari bu Choiril Mar’ah, S.Pd selaku pemberi tugas sekaligus guru kimia.

1
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Korosi
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksiredoks antara suatu logam
dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak
dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan.
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami
reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi
adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna_coklat-merah. Korosi merupakan
proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari_besi_itu_berlaku_sebagai
anode,_dimana_besi_mengalami_oksidasi. Fe(s)----->Fe2+(aq) +_2e Elektron yang
dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak_sebagai
katode,_dimana_oksigen_tereduksi. O2(g) +_4H+(aq) +_4e ---------> 2H2O(l) atau O2(g)
+_2H2O(l) +_4e------------->4OH-(aq) Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya
teroksidasi membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi,
yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan
bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat
pengotor,_atau_perbedaan_rapatan_logam_itu.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi
secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan
bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya.
Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuksenyawa besi oksida
atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk
pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan
lingkungan yang menyebabkan_korosi_kembali_menjadi_senyawa_besi_oksida). Deret
Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya
korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya
lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi
beda potensialterhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari
oksida.

a. Penyebab korosi
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal
dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan,
struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik
pencampuran bahan dan sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran
udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya.
Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam,
baik dalam bentuk senyawa_an-organik_maupun_organik. Penguapan dan pelepasan bahan-
bahan korosif ke udara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu
asam atau basa dapat memeprcepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam
ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal
sebagai bahan korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-
bahan organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan
dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas
dan sangat mudah terlepas ke udara.

b. Pengendalian korosi
Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur berbagai barang atau
bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan
mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel). Akan tetapi, proses ini terlalu
mahal untuk kebanyakan penggunaan besi. Korosi besi memerlukan oksigen dan air.
Kemudian, kita ketahui bahwa berbagai jenis logam dapat melindungi besi terhadap korosi.
Cara-cara pencegahan korosi besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat
tersebut.
1. Mengecat. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan

2
kontak_besi_dengan_udara_dan_air.
2. Melumuri dengan oli atau gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas
dan_mesin._Oli_dan_gemuk_mencegah_kontak_besi_dengan_air.
3. Dibalut dengan plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang
sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi dengan udara_dan_air.
4._Tin_plating_(pelapisan_dengan_timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang
dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan
secara elektrolisis, yang disebut electroplating. Timah tergolong logam yang tahan karat.
Besi yang dilapisi timah tidak mengalami korosi karena tidak ada kontak dengan oksigen
(udara) dan air. Akan tetapi, lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah
justru mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi
lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan
membentuk suatu sel elekrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah
mendorong korosi besi. Akan tetapi, hal itu justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng
bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink).
Pipa besi, tiang telpon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda
dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal
itu terjadi karena suatu mekanisme yang disebut dengan perlindungan katode. Oleh karena
potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan
membentuk sel elekrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian, besi terlindungi
dan zink yang mengalami oksidasi.
6. Cromium plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan
kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bumper mobil.
Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat
memberi perlindungan sekalipun lapisan_kromium_itu_ada_yang_rusak.
7. Sacrificial protection (pengorbanan anode).
Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi.
Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat tetapi
besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau
badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.

2.1.2 Besi
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan untuk
kehidupan manusia sehari-hari dari yang bermanfaat sampai dengan yang merusakkan.
Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya Hal itu karena
beberapa hal, diantaranya: • Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar, • Pengolahannya
relatif mudah dan murah, dan • Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah
dimodifikasi. Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi
menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau
bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan
mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal
untuk kebanyakan penggunaan besi. Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai
jenis logam contohnya Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi.

2.2 Hipotesis Penelitian


Cairan yang memiliki kandungan unsur oksigen (O2) dan air (H2O) akan mengalami korosi
pada paku besi dan dapat dicegah dengan cara pelapisan menggunakan bahan anti korosi.

3
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen atau percobaan. Eksperimen ini akan
didukung oleh hasil pengumpulan data dan informasi yang berhubungan dengan proses
perkorosian.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Waktu pelaksanaan dimulai tanggal 18 September s/d 25 Oktober 2017. Tempat penelitian dan
pengamatan di rumah.

3.3 Alat dan Bahan


1. Paku (20 buah)
2. Air
3. Air garam
4. Air cuka
5. Minyak tanah
6. Gelas plastik bening (10 buah)
7. Plastik
8. Karet/tali

3.4 Langkah Kerja


1. Menyiapkan 10 buah gelas plastik.
2. Mengisi gelas dengan air, air garam, air cuka, dan minyak tanah. Kemudian memasukkan 2
buah paku ke dalam masing-masing gelas seperti petunjuk berikut.
Gelas Kondisi
A Paku diletakkan dalam gelas kosong
B Paku diletakkan dalam gelas yang berisi air
Dibiarkan
C Paku diletakkan dalam gelas yang berisi air garam
Terbuka
D Paku diletakkan dalam gelas yang berisi air cuka
E Paku diletakkan dalam gelas yang berisi minyak tanah

F Paku diletakkan dalam gelas kosong


G Paku diletakkan dalam gelas yang berisi air
Ditutup dengan
H Paku diletakkan dalam gelas yang berisi air garam
plastik
I Paku diletakkan dalam gelas yang berisi air cuka
J Paku diletakkan dalam gelas yang berisi minyak tanah

3. Amati perubahan yang terjadi setiap hari, selama 1 minggu.


4. Catatlah hasil pengamatan.
5. Buatlah laporan hasil praktikum & menjawab pertanyaan yang diberikan serta kumpulkanlah
laporan hasil praktikum kepada guru bidang studi.

4
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


.
Identitas Perubahan yang Terjadi
Gelas
Hari ke-1 : Mulai berkarat
Hari ke-2 : Sedikit berkarat
Hari ke-3 : Sedikit berkarat
Hari ke-4 : Sedikit berkarat
A
Hari ke-5 : Berkarat sebagian
Hari ke-6 : Berkarat sebagian
Hari ke-7 : Berkarat pada ujung paku sampai bagian tengah
paku, dan kepala paku berkarat
Hari ke-1 : Normal/belum berkarat
Hari ke-2 : Mulai berkarat
Hari ke-3 : Sedikit berkarat
Hari ke-4 : Sedikit berkarat
B
Hari ke-5 : Berkarat sebagian
Hari ke-6 : Cukup berkarat
Hari ke-7 : Cukup berkarat, terutama pada bagian tengah
paku
Hari ke-1 : Normal/belum berkarat
Hari ke-2 : Mulai berkarat
Hari ke-3 : Sedikit berkarat
Hari ke-4 : Sedikit berkarat
C
Hari ke-5 : Berkarat sebagian
Hari ke-6 : Semua bagian paku berkarat
Hari ke-7 : Semua bagian paku berkarat dan warna air
berubah menjadi pekat hitam
Hari ke-1 : Normal/belum berkarat
Hari ke-2 : Normal/belum berkarat
Hari ke-3 : Normal/belum berkarat
Hari ke-4 : Normal/belum berkarat
D
Hari ke-5 : Normal/belum berkarat
Hari ke-6 : Normal/belum berkarat
Hari ke-7 : Mulai berkarat dan sedikit mengalami
perkaratan/korosi
Hari ke-1 : Normal/belum berkarat
Hari ke-2 : Normal/belum berkarat
Hari ke-3 : Normal/belum berkarat
E Hari ke-4 : Normal/belum berkarat
Hari ke-5 : Normal/belum berkarat
Hari ke-6 : Normal/belum berkarat
Hari ke-7 : Normal/belum berkarat
Hari ke-1 : Mulai berkarat
Hari ke-2 : Sedikit berkarat
Hari ke-3 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
Hari ke-4 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
F
Hari ke-5 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
Hari ke-6 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
Hari ke-7 : Cukup berkarat, perkaratan banyak terjadi di
daerah batang tengah paku
Hari ke-1 : Normal/tidak berkarat
G Hari ke-2 : Normal/tidak berkarat
Hari ke-3 : Normal/tidak berkarat
5
Hari ke-4 : Mulai berkarat
Hari ke-5 : Sedikit berkarat
Hari ke-6 : Cukup berkarat
Hari ke-7 : Berkarat dan air berwarna hitam kekuningan
Hari ke-1 : Normal/tidak berkarat
Hari ke-2 : Normal/tidak berkarat
Hari ke-3 : Normal/tidak berkarat
Hari ke-4 : Mulai berkarat
H Hari ke-5 : Sedikit berkarat
Hari ke-6 : Berkarat pada bagian ujung paku sampai kepala
paku
Hari ke-7 : Perkaratan cukup cepat, paku sangat berkarat dan
warna air berwarna hitam pekat
Hari ke-1 : Mulai berkarat
Hari ke-2 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
Hari ke-3 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
I Hari ke-4 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
Hari ke-5 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
Hari ke-6 : Sedikit berkarat (perkaratan berlangsung lambat)
Hari ke-7 : Berkarat, air berwarna kuning kecoklatan
Hari ke-1 : Normal/tidak berkarat
Hari ke-2 : Normal/tidak berkarat
Hari ke-3 : Paku ke-1 mulai berkarat, Paku ke-2 normal/tidak
berkarat
Hari ke-4 : Paku ke-1 sedikit berkarat, Paku ke-2 normal/tidak
berkarat
Hari ke-5 : Paku ke-1 sedikit berkarat, Paku ke-2 masih
J
normal/tidak berkarat
Hari ke-6 : Paku ke-1 sedikit berkarat terutama pada bagian
ujung paku, Paku ke-2 masih normal/tidak
berkarat
Hari ke-7 : Paku ke-1 sedikit berkarat terutama pada bagian
ujung dan kepala paku, Paku ke-2 masih
normal/tidak berkarat

4.2 Pertanyaan
1. Paku pada gelas mana yang paling cepat mengalami korosi ? Jelaskan !
2. Paku pada gelas mana yang paling lambat mengalami korosi ? Jelaskan !
3. Paku pada gelas mana yang paling banyak terkorosi ? Jelaskan !
4. Tuliskan persamaan reaksi redoks yang terjadi pada peristiwa korosi, senyawa apa yang
dihasilkan ? Jelaskan !

Jawaban :
1. Gelas A & gelas F, sebab korosi terjadi lebih mudah jika suatu logam berekasi dengan udara
disekitarnya, jadi korosi akan lebih cepat terjadi jika oksigen bereaksi dengan mengoksidasi
logam tertentu yang cukup reaktif, seperti besi (Fe).
2. Gelas D & gelas I, karena tidak semua pereduksi mampu menyebabkan korosi, contohnya
HCl, dan larutan lainya dari asam halida.
3. Gelas C & gelas H, karena pada larutan garam, terdapat kandungan air(H2O) kandungan
oksigen dalam larutan garam ini menyebabkan korosi dan proses korosi yang terjadi
dipercepat oleh kandungan NaCl yang bersifat elektrolit.
4. Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku
sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.

Fe(s) <--> Fe2+(aq) + 2e

6
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak
sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.

O2(g) + 4H+(aq) + 4e <--> 2H2O(l)

atau

O2(g) + 2H2O(l) + 4e <--> 4OH-(aq)

Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III) yang
kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana
dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode,
bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu.

Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi
secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa
korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih
mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida,
setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja
atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang
menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian


Dari pengamatan yang dilakukan selama tujuh hari tersebut, dapat diketahui bahwa pada gelas
tanpa isi air (pada gelas terbuka & tertutup), yang berisi air garam (pada gelas tertutup), dan
yang berisi air cuka (pada gelas tertutup) mengalami korosi dimulai pada hari pertama dan
berlanjut sampai hari ketujuh dengan jumlah korosi yang terus bertambah, sedangkan pada gelas
yang berisi minyak tanah (pada gelas terbuka).
Pada gelas J (minyak tanah) yang tertutup, keunikan terjadi pada paku ke-1 yang tidak berkarat
tetapi paku ke-2 mengalami perkaratan. Pada paku yang mengalami korosi memiliki kecepatan
korosi yang berbeda pada setiap cairan.
Berdasarkan kecepatan dan jumlah korosi yang ditimbulkan, dapat di tulis cairan yang
menyebabkan korosi dari yang tercepat adalah
1. Air garam
2. Air biasa
3. Udara
4. Air cuka
5. Minyak tanah
Pada air biasa, penyebab terjadinya korosi adalah adanya air yang mengandung oksigen terlarut
sehingga menyebabkan korosi pada paku.
Pada gelas yang tidak ditambahkan cairan tidak mengalami korosi dikarenakan kadar oksigen
yang berada pada gelas tertutup tersebut hanya sedikit dan tidak adanya faktor pendorong untuk
terjadinya korosi, sehinga tidak terjadi korosi.
Pada gelas yang berisi minyak tanah tidak mengalami korosi karena minyak tanah tidak
mengandung oksigen dan tidak dapat berikatan dengan oksigen di udara, sehingga paku dalam
keadaan bebas oksigen dan tidak dapat mengalami perkaratan.

Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa, untuk melindungi bahan besi dari korosi
dapat dilakukan dengan cara pelapisan besi dengan bahan yang tidak mengalami perkorosian
atau bahan yang tidak dapat bereaksi dengan oksigen, sehingga besi dalam keadaan bebas
oksigen dan tidak mengalami korosi.

7
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa :
1. Korosi pada logam besi disebabkan karena adanya oksigen dan air.
2. Kecepatan dan jumlah korosi didukung oleh berbagai faktor.
3. Korosi dapat dicegah dengan melapisi dengan bahan anti korosi.

5.2 Saran
1. Lakukan percobaan dengan langkah kerja yang tertulis.
2. Penutupan gelas yang baik sehingga tanpa ada celah untuk masuknya oksigen.
3. Lakukan pencatatan data setiap hari secara berturut-turut dengan waktu yang sama.

8
DAFTAR PUSTAKA

Harnanto, Arie. 2009. Kimia 3 untuk kelas XII. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional.

Pratana, Fajar. 2009. Mari Belajar Kimia : Untuk XII SMA IPA. Jakarta : Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.

Astuti, Widya. Praktikum pada Korosi. http://widyaastutisahnur.blogspot.co.id/2013/10/laporan-


praktikum-korosi-pada-paku.html (diakses tanggal 06 Oktober 2017)