Anda di halaman 1dari 17

BIMBINGAN dan KONSELING di SEKOLAH

(Tugas Makalah Mata Kuliah Manajemen Pendidikan)

Disusun oleh :

Niken Yuni Astiti


(1213023046)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan saya
kesehatan dan kesempatan sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini guna
memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Pendidikan. Pada kesempatan kali ini
saya mengangkat judul “Bimbingan dan Konseling di Sekolah”.

Program Bimbingan Konseling di Sekolah merupakan suatu program yang sangat


penting yang harus ada di setiap sekolah untuk memberikan pelayanan Bimbingan
Konseling bagi siswa. Agar siswa dapat mengembangkan potensi dan
menyelesaikan masalah yang dihadapinya, dengan adanya Program Bimbingan
Konseling di sekolah dapat membantu pihak sekolah dalam rangka
mengoptimalkan potensi siswa dan memajukan pendidikan.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan
dalam penulisan dan pembuatannya, sehingga saya selaku penulis mohon maaf
apabila terdapat banyak kekurangan di dalam makalah ini. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat dan mampu menambah wawasan bagi para pembaca dan
terutama bagi saya sendiri.

Bandar Lampung, 27 April 2013

Penulis

2
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................5

1.3 Tujuan ..............................................................................................................6

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling...............................................................7
2.2 Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan di Sekolah..................10
2.3 Tujuan Bimbingan di Sekolah..........................................................................11
2.4 Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pembelajaran Siswa......................12

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan......................................................................................................16
3.2 Saran................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada
kehidupan manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia di dalam
kehidupannya menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti.. Manusia
tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Ada
manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak lain, tetapi tidak
sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang
lain. Khususnya bagi yang terakhir inilah bimbingan dan konseling diperlukan.
Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan penting dalam pendidikan.
Kegiatan membimbing sangat menentukan arah perkembangan, dan kemunduran
peserta didik di sekolah baik perkembangan dan kemunduran pada prestasi
akademik maupun non-akademik serta perilaku-perilaku sosial lainnya, termasuk
pula dalam hal kedisiplinan.
Hal-hal tersebut tentu terjadi dalam kegiatan pendidikan yang
direalisasikan melalui kegiatan pembelajaran dengan pos-orientasi pada
pengajaran dan bimbingan. Mengajar dan membimbing bukanlah dua hal yang
dipisahkan, melainkan dua unit kegiatan yang terpadu dengan harapan peserta
didik dapat belajar secara maksimal. Untuk mengoptimalkan motivasi belajar itu,
bukanlah peranan pengajar semata, melaikan peranan dan keikutsertaan konselor
juga sangat menentukan.
Pada pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, guru memiliki
perananan yang sangat penting karena guru merupakan sumber yang sangat
menguasai informasi tentang keadaan siswa. Di dalam melakukan bimbingan dan
konseling, kerja sama konselor dengan personel lain di sekolah merupakan suatu
syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Kerja sama ini akan menjamin tersusunnya
program bimbingan dan konseling yang komprehensif, memenuhi sasaran, serta
realistik.

4
Mengingat perkembangan pendidikan semakin maju, peranan bimbingan
dan konseling akan memberikan kemantapan program kegiatan belajar siswa
terutama berkenaan dengan kepribadian, bakat, minat dan motivasi belajar atau
motivasi berprestasi. Sebuah pemahaman yang perlu ditanamkan bahwa kehadiran
konselor di suatu sekolah merupakan suatu yang mengembirakan, karena dengan
adanya konselor adalah untuk menghindari, membantu individu dan kelompok
menghadapi berbagai masalah dalam kehidupannya.
Artinya, peranan konselor tidak hanya membantu peserta didik yang
mengalami masalah di sekolah, akan tetapi juga berperan mengidentifikasi dan
membantu siswa yang bermasalah baik di rumah, lingkungan masyarakat, bahkan
yang lebih spesifik di lingkungan keluarga/ pribadi.
Dengan demikian, peranan seorang konselor dalam bimbingan dan
konselingnya sangatlah penting baik dalam keberlangsungan kegiatan belajar
mengajar maupun sebagai tenaga pembina sekaligus membantu dalam menangani
berbagai masalah yang dialami siswa. Dengan adanya konselor dalam lembaga
sekolah, maka memungkinkan teratasinya suatu masalah termasuk masalah
rendahnya prestasi belajar siswa. Selain itu, kehadiran bimbingan dan konseling
sangat relevan sekali dengan tujuan pendidikan nasional yaitu pendidikan adalah
usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan potensi-potensi berupa minat
belajar, bakat dan kompetensi.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang penulis angkata dalam pembuatan makalah ini
yaitu :
1. Apakah pengertian bimbingan dan konseling?
2. Bagaimana peranan bimbingan dan konseling dalam pendidikan di
sekolah?
3. Apakah tujuan bimbingan di sekolah?
4. Bagaimana peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa?

5
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk menjelaskan pengertian dari bimbingan dan konseling.
2. Untuk menjelaskan peranan bimbingan dan konseling dalam pendidikan di
sekolah.
3. Untuk menjelaskan tujuan bimbingan di sekolah.
4. Untuk menjelaskan peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran
siswa.

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling


2.1.1 Bimbingan
Menurut Jones (1963), Guidance is the help given by one person to
another in making choice and adjustments and in solving problems. Dalam
pengertian tersebut terkandung maksud bahwa tugas pembimbing
hanyalah membantu agar individu yang dibimbing mampu membantu
dirinya sendiri, sedangakan keputusan terakhir tergantung kepada individu
yang dibimbing (klien).

Ini senada dengan pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh


Rochman Natawidjaja (1978) : Bimbingan adalah proses pemberian
bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya
individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup
mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan
keadaan keluarga serta masyarakat. Dengan demikian ia dapat mengecap
kebahagiaan hidupnya serta dapat memberikan sumbangan yang berarti.

Selanjutnya Bimo Walgito (1982:11) menyarikan beberapa rumusan


bimbingan yang dikemukakan para ahli, sehingga mendapatkan rumusan
sebagai berikut : Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang
diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam
menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya,
agar individu atau sekumpulan individu itu dapat mencapai kesejahteraan
hidupnya.

Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh banyak ahli


tersebut, dapat dikemukakan bahwa bimbingan merupakan : (a) suatu

7
proses yang berkesinambungan, (b) suatu proses membantu individu, (c)
bantuan yang diberika itu dimaksudkan agar individu yang bersangkutan
dapat mengarahkan dan mengembangkan dirinya secara optimal sesuai
dengan kemampuan/ potensinya, dan (d) kegiatan yang bertujuan utama
memberikan bantuan agar individu dapat memahami keadaan dirinya dan
mampu menyesuaikan dengan lingkungannya.

2.1.2 Konseling
Istilah konseling (counseling) diartikan sebagai penyuluhan. Istilah
penyuluhan dalam kegiatan bimbingan menurut beberapa ahli kurang
tepat. Menurut mereka yang lebih tepat adalah konseling, karena kegiatan
konseling ini sifatnya lebih khusus, tidak sama dengan kegiatan-kegiatan
penyuluhan lain seperti penyuluhan dalam bidang pertanian dan
penyuluhan dalam bidang keluarga berencana. Untuk menekankan
kekhususannya itulah maka diapakai istilah Bimbingan dan Konseling.
Pelayanan konseling menuntut keahlian khusus, sehingga tidak semua
orang yang dapat memberikan bimbingan mampu memberikan jenis
layanan konseling ini (Winkel, 1978).

Banyak ahli yang memberikan makna tentang konseling. Menurut James


P. Adam yang dikutip oleh Depdikbud (1976:19a) : Konseling adalah
suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu dimana yang
seorang (konselor) membantu yang lain (konseli) supaya dia dapat lebih
baik memahami dirinya dalam hubungannya dengan masalah hidup yang
dihadapinya pada waktu itu dan pada waktu yang akan datang.

Bimo Walgito (1982:11) menyatakan bahwa konseling adalah bantuan


yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah
kehidupannya dengan wawancara, dengan cara-cara yang sesuai dengan
keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.

8
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa
kegiatan konseling itu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Pada umumnya dilaksanakan secara individual
b. Pada umumnya dilakukan dalam suatu perjumpaan tatap muka
c. Untuk pelaksanaan konseling dibutuhkan orang yang ahli
d. Tujuan pembicaraan dalam proses konseling ini diarahkan untuk
memecahkan masalah yang dihadapi klien
e. Individu yang menerima layanan (klien) akhirnya mampu
memecahkan masalahnya dengan kemampuannya sendiri.

Kegiatan bimbingan dan konseling tersebut berbeda dengan kegiatan


mengajar. Perbedaan itu antara lain :
a. Tujuan yang ingin dicapai pada kegiatan mengajar sudah dirumuskan
terlebih dahulu dan target pencapaian tujuan tersebut sama untuk
seluruh siswa dalam satu kelas atau satu tingkat. Dalam kegiatan
bimbingan dan konseling target pencapaian tujuan lebih bersifat
individual atau kelompok.
b. Pembicaraan dalam kegiatan mengajar lebih banyak diarahkan pada
pemberian informasi, atau pembuktian dalam suatu masalah,
sedangkan pembicaraan dalam konseling lebih ditujukan untuk
memecahkan suatu masalah yang dihadapi klien.
c. Dalam kegiatan mengajar, para siswanya belum tentu mempunyai
masalah yang berkaitan dengan materi yang diajarkan, sedangkan
dalam kegiatan bimbingan dan konseling pada umumnya klien
telah/sedang menghadapi masalah.
d. Untuk melaksanakan bimbingan dan konseling, bagi konselor dituntut
suatu keterampilan khusus dan berbeda dengan tuntutan bagi seorang
guru/pengajar.

9
2.2 Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan di Sekolah
Bila tujuan pendidikan pada akhirnya adalah pembentukan manusia yang
utuh, maka proses pendidikan harus dapat membantu siswa mencapai
kematangan emosional dan sosial, sebagai individu dan anggota masyarakat
selain mengembangkan kemampuan inteleknya. Bimbingan dan konseling
menangani masalah-masalah atau hal-hal di luar bidang garapan pengajaran,
tetapi secara tidak langsung menunjang tercapainya tujuan pendidikan dan
pengajaran di sekolah itu. Kegiatan ini dilakukan melalui layanan secara
khusus terhadap semua siswa agar dapat mengembangkan dan memanfaatkan
kemampuannya secara penuh (Mortensen dan Schemuller, 1969).

Bimbingan dan konseling semakin hari semakin dirasakan perlu


keberadaannya di setiap sekolah. Hal ini didukung oleh berbagai macam
faktor, yakni sebagai berikut :
1. Sekolah merupakan lingkungan hidup kedua setelah rumah, dimana anak
dalam waktu sekian jam hidupnya berada di sekolah.
2. Para siswa yang usianya relatif masih muda sangat membutuhkan
bimbingan baik dalam memahami keadaan dirinya, mengarahkan dirinya,
maupun dalam mengatasi berbagai macam kesulitan.

Kehadiran konselor di sekolah dapat meringankan tugas guru (Lundquist dan


Chamely yang dikutip oleh Belkin, 1981). Mereka menyatakan bahwa
konselor ternyata sangat membantu guru, dalam hal :
1. Mengembangkan dan memperluas pandangan guru tentang masalah afektif
yang mempunyai kaitan erat dengan profesinya sebagai guru.
2. Mengembangkan wawasan guru bahwa keadaan emosionalnya akan
mempengaruhi proses belajar-mengajar.
3. Mengembangkan sikap yang lebih positif agar proses belajar siswa lebih
efektif.
4. Mengatasi masalah-masalah yang ditemui guru dalam melaksanakan
tugasnya.

10
Konselor dan guru merupakan suatu tim yang sangat penting dalam kegiatan
pendidikan. Keduanya dapat saling menunjang terciptanya proses
pembelajaran yang lebih efektif. Oleh karena itu, kegiatan bimbingan dan
konseling tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan sekolah.

2.3 Tujuan Bimbingan di Sekolah


Layanan bimbingan sangat dibutuhkan agar siwa-siswa yang mempunyai
maslah dapat terbantu, sehinggaa mereka dapat belajar lebih baik. Tujuan
bimbingan di sekolah adalah membantu siswa :
1. Mengatasi kesulitan dalam belajarnya, sehingga memperoleh prestasi
belajar yang tinggi
2. Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang
dilakukannya pada saat proses belajar-mengajar berlangsung dan dalam
hubungan sosial
3. Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan
jasmani
4. Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan studi
5. Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan
pemilihan jenis pekerjaan setelah mereka tamat
6. Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosila-
emosional di sekolah yang bersumber dari sikap murid yang bersangkutan
terhadap dirinya sendiri, lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan
yang lebih luas

Di samping tujuan-tujuan tersebut, Downing (1968) juga mengemukakan


bahwa tujuan layanan bimbingan di sekolah sebenarnya sama dengan
pendidikan terhadap diri sendiri, yaitu membantu siswa agar dapat
memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial psikologi mereka, merealisasikan
keinginannya, serta mengembangkan kemampuan atau potensinya.

11
Secara umum dapat dikemukakan bahwa tujuan layanan bimbingan adalah
membantu mengatasi berbagai macam kesulitan yang dihadapi siswa
sehingga terjadi proses belajar-mengajar yang efektif dan efisien.

2.4 Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pembelajaran Siswa


Dalam proses pembelajaran siswa, setiap guru mempunyai keinginan agar
semua siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan.
Harapan tersebut sering kali kandas dan tidak bisa terwujud, sering
mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar. Sebagai pertanda bahwa
siswa mengalami kesulitan dalam belajar dapat diketahui dari berbagai jenis
gejalanya seperti yang dikemukakan Abu Ahmadi (1979) sebagai berikut :
1. Hasil belajarnya rendah, di bawah rata-rata kelas
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukannya
3. Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti suka menentang, dusta,
tidak mau menyelesaikan tugas-tugas, dan sebagainya
4. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti suka membolos, suka
mengganggu, dan sebagainya

Siswa yang mengalami kesulitan belajar kadang-kadang ada yang mengerti


bahwa dia mempunyai masalah tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya,
dan ada juga yang tidak mengerti kepada siapa ia harus meminta bantuan
dalam menyelesaikan masalahnya itu. Apabila masalahnya itu belum teratasi,
mereka mungkin tidak dapat belajar dengan baik, karena konsentrasinya akan
terganggu.

Dalam kondisi sebagaimana dikemukakan di atas, maka bimbingan dan


konseling dapat memberikan layanan dalam :
1. Bimbingan Belajar
Bimbingan ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah-masalah yang
berhubungan dengan kegiatan belajar baik di sekolah maupun di luar
sekolah. Bimbingan ini meliputi :

12
a. Cara belajar, baik belajar secara kelompok ataupun invidual
b. Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar
c. Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran
d. Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata
pelajaran tertentu
e. Cara, proses, dan prosedur tentang mengikuti pelajaran

Di samping itu, Winkel (1978) mengatakan bahwa layanan bimbingan


dan konseling mempunyai peranan penting untuk membantu siswa,
antara lain dalam hal :
a. Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang
terbuka bagi mereka, baik sekarang maupun yang akan datang
b. Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajarnya. Misalnya
masalah hubungan muda-mudi, masalah ekonomi, masalah hubungan
dengan orang tua/keluarga, dan sebagainya

2. Bimbingan Sosial
Dalam proses belajar di kelas siswa juga harus mampu menyesuaikan diri
dengan kehidupan kelompok. Dalam kehidupan kelompok perlu adanya
toleransi/ tenggang rasa, saling memberi dan menerima (take and give),
tidak mau menang sendiri, atau kalau mempunyai pendapat harus diterima
dalam mengambil keputusan. Langsung ataupun tidak langsung suasana
hubungan sosial di kelas atau di sekolah akan dapat mempengaruhi
perasaan aman bagi siswa yang bersangkutan. Hal ini dapat
mempengaruhi konsentrasi dalam belajar.

Bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam


memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan
masalah sosial, sehingga terciptalah suasana belajar-mengajar yang
kondusif. Menurut Abu Ahmadi (1977) bimbingan sosial ini dimaksudkan
untuk :

13
a. Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai
b. Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai
c. Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah
tertentu

Di samping itu, bimbingan sosial juga dimaksudkan agar siswa dapat


melakukan penyesuaian diri terhadap teman sebayanya di sekolah maupun
di luar sekolah (Downing, 1978).

3. Bimbingan dalam Mengatasi Masalah-Masalah Pribadi


Bimbingan ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam mengatasi
masalah-masalah pribadi, yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya.
Siswa yang mempunyai masalah dan belum dapat diatasi akan cenderung
terganggu konsentrasinya dalam belajar, dan akibatnya prestasi belajar
yang dicapainya rendah. Penyuluhan dinyatakan ada beberapa masalah
pribadi yang memerlukan bantuan konseling, yaitu masalah akibat konflik
antara :
a. Perkembangan intelektual dengan emosionalnya
b. Bakat dengan aspirasi lingkungannya
c. Kehendak siswa dengan orang tua atau lingkungannya
d. Kepentingan siswa dengan orang tua atau lingkungannya
e. Situasi sekolah dengan situasi lingkungan
f. Bakat dan pendidikan yang kurang bermutu dengan kelemahan
keengganan mengambil pilihan

Masalah-masalah pribadi ini juga sering ditimbulkan oleh hubungan


muda-mudi. Selanjutnya juga dikemukakan oleh Downing (1968) bahwa
layanan bimbingan di sekolah sangat bermanfaat, terutama dalam
membantu :
a. Menciptakan suasana hubungan sosial yang menyenangkan

14
b. Menstimulkan siswa agar mereka meningkatkan partisipasinya dalam
kegiatan belajar-mengajar
c. Menciptakan atau mewujudkan pengalaman belajar yang lebih
bermakna
d. Meningkatkan motivasi belajar siswa
e. Menciptakan dan menstimulkan tumbuhnya minat belajar

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perkembangan kemampuan siswa secara optimal untuk berkreasi, mandiri,
bertanggung jawab dan memecahkan masalah merupakan tanggung jawab
yang besar dari kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, pemahaman potensi
pribadi sangat penting untuk perkembangan siswa sebagai manusia yang
utuh. Di samping itu, dalam perkembangannya siswa sering sekali
menghadapi masalah yang tidak mampu dipecahkan sendiri, sehingga
mengganggu keberhasilan belajarnya.

Untuk membantu proses perkembangan pribadi dan mengatasi masalah yang


dihadapi sering kali siswa memerlukan bantuan profesional. Sekolah harus
dapat menyediakan layanan profesional yang dimaksud berupa layanan
bimbingan dan konseling, karena sekolah merupakan lingkungan yang
terpenting setelah keluarga.

Layanan ini dalam batas tertentu dapat dilakukan guru, tetapi jika masalahnya
berat maka diperlukan petugas khusus konselor untuk menanganinya.
Menurut jenis permasalahannya guru atau konselor dapat memberikan
bantuan dalam bentuk : (a) bimbingan belajar, (b) bimbingan sosial, dan (c)
bimbingan dalam mengatasi masalah pribadi.

3.2 Saran
Saran yang ingin disampaikan penulis dalam pembuatan makalah ini yaitu
sebaiknya para konselor/ pembimbing dapat lebih memahami karakter para
siswanya dalam kegiatan belajar di sekolah, sehingga apabila siswa
mengalami suatu masalah maka dapat langsung mendapat bimbingan dari
konselor dan itu membuat konsentrasi belajarnya tidak akan terganggu.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1979. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Semarang : Toha


Putra.

Belkin, S. Gary. 1981. Practical Counseling in The Schools. Dubuque : Wm. C.


Brown Company Publishers.

Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Menengah Atas 1975, Pedoman Bimbingan


dan Penyuluhan. Jakarta : Balai Pustaka.

Downing, Lester N. 1968. Guidance and Counseling Sevice An Introduction. New


York : McGraw-Hill Book Company.

Mortensen, D.G. dan Schmuller, A.M. 1969. Guidance in Today’s School. New
York : John Willy dan Son.

Walgito, Bimo. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogyakarta :


Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

Winkel, W.S. 1978. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta :


Gramedia

http://nopi-nurpatimah.blogspot.com/2011/12/makalah-bimbingan-dan-konseling-
di.html diakses pada tanggal 27 April 2013 pukul 22.10 WIB

17