Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN

Skizofrenia merupakan suatu deskirpsi sindrom dengan variasi penyebab


(banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tidak selalu bersifat kronis
“deteriorating”) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya.1
Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa
muda. Awitan laki-laki biasanya 15-25 tahun pada perempuan 25-35 tahun.
Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan
perempuan. Awitan setelah umur 40 tahun jarang terjadi.2,3
Penyebab skizofrenia sampai sekarang belum diketahui secara pasti.
Namun, berbagai teori telah berkembang seperti model diastasis-stes dan hipotesis
dopamine. Model diastasis stress merupakan satu model yang mengintegrasikan
faktor biologis, psikososial, dan lingkungan.2
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan
karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta afek yang tidak wajar (inappropriate)
atau tumpul (blunted). Kesadaran composmentis dan kemampuan intelektual
biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat terjadi
dikemudian hari.1
Gangguan skizofrenia berdasarkan PPDGJ III yaitu skizofrenia paranoid,
skizofrenia hebefrenik, skizofrenia katatonik, skizofrenia tak terinci, depresi pasca
skizofrenia, skizofrenia residual, skizofrenia simpleks, skizofrenia lainnya,
skizofrenia ytt. Beberapa kriteria diagnostic untuk subtype skizofrenia menurut
DSM-IV yaitu tipe paranoid, tipe terdisorganisasi, tipe katatonik, tipe tak
tergolongkan, dan tipe residual.1,2
2

BAB II
STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI PASIEN
a. Nama : Mr. Sayuti
b. Jenis kelamin : Laki-laki
c. Umur : 71 tahun (29 April 1946 )
d. Status perkawinan : Menikah
e. Agama : Islam
f. Tingkat pendidikan : SMA
g. Pekerjaan : Pensiunan Pertamina
h. Warga negara : Indonesia
i. Alamat : Perumahan PPI Talang Kelapa Palembang
j. MRS : 17 Mei 2017

II. ANAMNESIS
A. ALLOANAMNESIS
Diperoleh dari : Dewi
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 31tahun
Alamat : Perumahan PPI Talang Kelapa Palembang
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Perawat RSI Siti Khodijah
Hubungan dengan pasien : Anak Os

a. Sebabutama
Pasien curiga istri selingkuh dengan menantunya sejak 2 bulan
yang lalu

b. Keluhan utama
Tidak ada keluhan
3

c. Riwayat perjalanan penyakit


± 36 tahun yang lalu, pasien curiga istri selingkuh dengan
atasannya. Kecurigaan dirasakan terus menerus tanpa alasan. Pasien
kemudian mengamuk dan berkelahi dengan atasannya, pasien lalu di
bawa ke RS Rahma Kasih Palembang dan dirawat inap ± 1 bulan. Pasien
pulang dengan perbaikan, pasien tidak pernah kontrol dan tidak minum
obat.
± 3 bulan yang lalu, pasien sering berlaku kasar terhadap istrinya
karena pasien curiga istrinya berselingkuh dengan tetangganya. Pasien
mulai merasa sulit tidur dan mengoceh sendiri. Keadaan ini diketahui
oleh anak pasien yang tinggal di Palembang. Pasien dan istrinya
kemudian pindah dari Lampung ke Palembang untuk tinggal bersama
anak dan menantunya.
± 2 bulan yang lalu, pasien curiga bahwa istri berselingkuh dengan
menantunya. Kecurigaan terjadi terus-menerus dan semakin menjadi-
jadi. Pasien pernah mengacungkan gunting ke arah menantunya untuk
mengancam karena merasa curiga. Pasien masih merasa kurang tidur dan
masih sering berbicara sendiri. Pasien sering membawa pisau di
pinggangnya dan parang dengan alasan takut nyawanya terancam.
± 1 hari SMRS, pasien semakin menjadi-jadi setelah istrinya
meninggalkan rumah karena tidak tahan sering disiksa oleh pasien.
Pasien mencari tahu keberadaan istrinya ke rumah-rumah kerabat sambil
membawa pisau. Pasien lalu dibawa keluarga dengan bantuan polisi ke
RS Ernaldi Bahar dan ditemukan dua bilah pisau di saku celana pasien.
Perubahan mood (-), perubahan afek (-), kelainan kognitif (-).

d. Riwayat penyakit dahulu


- Riwayat trauma kepala (-)
- Riwayat kejang (-)
- Riwayat merokok (+)
- Asthma disangkal
- Hipertensi disangkal
4

- Diabetes Mellitus disangkal

e. Riwayat premorbid
- Lahir : lahir spontan, langsung menangis
- Bayi : tumbuh kembang baik
- Anak-anak : sosialisasi baik
- Remaja : sosialisasi baik
- Dewasa : sosialisasi baik

f. Riwayat perkembangan organobiologi


- Riwayat kejang (-) - Riwayat trauma kepala (-)
- Riwayat demam tinggi - Riwayat alergi obat (-)
yang lama (-) - Riwayat sakit ginjal (-)
- Riwayat hipertensi (-)

g. Riwayat penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang


- Riwayat mengonsumsi alkohol disangkal
- Riwayat mengonsumsi NAPZA disangkal

h. Riwayat pendidikan
Pasien tamat SMA

i. Riwayat pekerjaan
Pasien merupakan pensiunan Pertamina. Pasien dipensiunkan lebih
cepat pada usia 45 tahun karena gangguan jiwa yang diderita pasien.
Selama bekerja pasien pernah berkelahi dengan atasan dan rekan-rekan
kerjanya.

j. Riwayat gaya hidup


Pasien merokok selama + 20 tahun, 2 bungkus per hari.
4

k. Riwayat perkawinan
Pasien sudah menikah. Pasien memiliki tiga orang anak. Anak
pertama pernah dirawat di RS Ernaldi Bahar karena gangguan jiwa dan
telah meninggal dunia 1 tahun yang lalu. Anak kedua tinggal di Bangka
dan anak bungsu pasien merupakan perempuan berusia 31 tahun dan
tinggal di Palembang bersama pasien dan istri pasien.

l. Keadaan sosial ekonomi


Pasien tinggal bersama keluarga dengan keadaan sosial ekonomi
menengah.

m. Riwayat keluarga
Pedigree:

Keterangan:
: Pasien

:Laki-laki

: Perempuan

B. AUTOANAMNESIS, ALLOANAMNESIS, DAN OBSERVASI


Wawancara dan observasi dilakukan pada Rabu, 17 Mei 2017
pukul 22.10 WIB di IGD Rumah Sakit Ernaldi Bahar,
Palembang.Wawancara dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia
dengan teknik autoanamnesis dan alloanamnesis. Pasien memiliki tingkat
4

kesadaran compos mentis dan cukup kooperatif. Pasien berbadan sedang dan
berpakaian rapi.

Pemeriksa Pasien Interpretasi


Pak, namanya siapa ? Nama saya Sayuti Afek: sesuai
(kontak mata baik) Kontak: atensi adekuat
Pak, umurnya berapa ? Usia 71 tahun (kontak Konsentrasi: adekuat
mata baik)

Sekarang kita lagi Di rumah sakit Ernaldi Orientasi tempat: baik


dimana, Pak? Bahar (menggerakkan
bibir)

Sekarang hari dan Kata perawatnya tadi, ini Orientasi waktu: baik
tanggal berapa, Pak? hari Rabu, tanggal 17
Mei. Saya harus cek
handphone saya biar
jawabannya benar.
(menggerakkan bibir)

Saat ini menurut bapak Ini masih pagi. Orientasi waktu: baik
ini masih pagi, siang, (menggerakkan bibir)
atau malam?

Ini siapa, Pak? (sambil Perawat Rumah Sakit ini Orientasi personal baik
menunjuk perawat)

Bapak kenapa ada di Saya bingung kenapa Waham persekutorik (+)


rumah sakit? saya ada disini. Saya Personal insight jelek
bangun tidur, orang
rumah sudah tidak ada.
Anak saya siap-siap mau
5

pergi naik motor. Saya


ditinggal sendirian. Saya
cemas terjadi sesuatu
kalau saya di rumah
sendirian jadi saya datang
kerumah saudara saya.
Tiba-tiba saya dibawa
oleh polisi ke RS Ernaldi
Bahar.

Menurut Bapak, apa yang Saya juga tidak tahu,


menyebabkan orang- Dok.
orang di rumah Bapak
pergi?

Saya dengar, Bapak Tidak ada, Dok. Saya Waham curiga


pernah mengasari istri memang curiga kalau
Bapak. Apa itu benar, istri saya itu ada main
Pak? sama menantu saya. Tapi
saya tidak pernah pukul
dia.

Lalu katanya Bapak ada Iya, tapi tidak saya Waham persekutorik
membawa pisau. Apa gunakan. Saya simpan
benar, Pak? untuk jaga-jaga kalau ada
orang mau berbuat jahat.

Bapak kapan pertama Tahun 1981 Ingatan jangka panjang:


kali masuk Rumah Sakit baik
ini?

Apa bapak ingat menu Pagi makan nasi, telur Ingatan jangka pendek:
6

makanan apa saja yang dan sayur dok. baik


bapak makan dari pagi?

Apa tidur Bapak Tidur saya tidak nyenyak


nyenyak?

Apa yang menyebabkan Saya sering mendengar Halusinasi auditorik (+)


tidur Bapak tidak suara berisik saat saya
nyenyak? mau tidur

Apa yang dikatakan oleh Susah untuk


suara-suara itu, Pak? diungkapkan, Dok.
Pokoknya suara-suara
itu sering mengganggu
saya.

Apa bapak melihat Tidak ada Halusinasi visual (-)


sesuatu yang tak kasat
mata seperti iblis?

III. PEMERIKSAAN
A. STATUS INTERNUS
1) Keadaan Umum
Sensorium : Compos mentis Suhu : 36,50C
Frekuensi nadi : 102 x/menit Frekuensi napas : 20 x/menit
Tekanan darah : 155/80 mmHg

B. STATUS NEUROLOGIKUS
7

1) Urat saraf kepala (panca indera) : tidak ada kelainan


2) Gejala rangsang meningeal : tidak ada kelainan
3) Mata :
Gerakan : baik, ke segala arah
Persepsi mata : baik, diplopia tidak ada, visus normal
Pupil : bentuk bulat, sentral, isokor, Ø 3mm/3mm
Refleks cahaya : +/+
Refleks kornea : +/+
Pemeriksaan oftalmoskopi : tidak dilakukan

4) Motorik
Lengan Tungkai
FungsiMotorik
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan Normal
Kekuatan 5/5
Tonus Eutonik Eutonik Eutonik Eutonik
Klonus - - - -
Refleks + + + +
fisiologis
Refleks - - - -
patologis
5) Sensibilitas : normal
6) Susunan saraf vegetatif : tidak ada kelainan
7) Fungsi luhur : tidak ada kelainan
8) Kelainan khusus : tidakada

C. STATUS PSIKIATRIKUS
KEADAAN UMUM
a. Sensorium : Compos Mentis
b. Perhatian : Atensi adekuat
c. Sikap : Kooperatif
8

d. Inisiatif : Adekuat
e. Tingkah laku motorik : Normal
f. Ekspresi fasial : Wajar
g. Cara bicara : Tidak meracau
h. Kontak psikis : Adekuat
Kontak fisik : adekuat
Kontak mata : adekuat
Kontak verbal : adekuat

KEADAAN KHUSUS (SPESIFIK)


a. Keadaan afektif
Afek : Sesuai
Mood : Eutimik

b. Hidup emosi
Stabilitas : stabil Echt-unecht : unecht
Dalam-dangkal : normal Skala diferensiasi : normal
Pengendalian : terkendali Einfuhlung : bisa dirasakan
Adekuat-Inadekuat : adekuat Arus emosi : stabil

c. Keadaan dan fungsi intelektual


Daya ingat : baik
Daya konsentrasi : baik
Orientasi orang/waktu/tempat : baik
Luas pengetahuan umum : sulit dinilai
Discriminative judgement : jelek
Discriminative insight : jelek
Dugaan taraf intelegensi : cukup
Depersonalisasi dan derealisasi : tidak ada
9

d. Kelainan sensasi dan persepsi


Ilusi : tidak ada
Halusinasi : ada (auditorik)

e. Keadaan proses berpikir


Bentuk Pikiran
- Autistik : tidak ada
- Simbolik : tidak ada
- Dereistik : tidak ada
- Simetrik : tidak ada
- Paralogik : tidak ada
- Konkritisasi : tidak ada
- Overinklusif : tidak ada

Arus pikiran
- Flight of ideas : tidak ada
- Inkoherensi : tidak ada
- Sirkumstansial : tidak ada
- Tangensial : tidak ada
- Terhalang (blocking) : tidak ada
- Terhambat (inhibition): tidak ada
- Perseverasi : tidak ada
- Verbigerasi : tidak ada

Isi Pikiran
- Waham : persekutorik, cemburu
- Pola Sentral : tidak ada
- Fobia : tidak ada
- Konfabulasi :tidak ada
- Perasaan inferior : tidak ada - Rasa permusuhan : ada
- Kecurigaan : ada - Perasaan berdosa : tidak ada
10

- Hipokondria : tidak ada - Ide melukai diri : tidak ada


- Ide bunuh diri : tidak ada - Lain-lain : tidak ada

Pemilikan pikiran
- Obsesi : tidak ada
- Alienasi : tidak ada

f. Keadaan dorongan instinctual dan perbuatan


- Hipobulia : tidak ada
- Vagabondage : tidak ada
- Stupor : tidak ada
- Pyromania : tidak ada
- Raptus/Impulsivitas : tidak ada
- Mannerisme : tidak ada
- Kegaduhan umum : tidak ada
- Autisme : tidak ada
- Deviasi seksual : tidak ada
- Logore : tidak ada
- Ekopraksi : tidak ada
- Mutisme : tidak ada
- Ekolalia : tidak ada
- Lain-lain : tidak ada

g. Kecemasan : tidak ada

h. Dekorum
- Kebersihan : cukup
- Cara berpakaian : cukup
- Sopan santun : cukup

i. Reality testing ability


RTA terganggu
11

D. PEMERIKSAAN LAIN
a. Pemeriksaan radiologi/foto thoraks : tidak dilakukan
b. Pemeriksaan radiologi/ CT scan : tidak dilakukan
c. Pemeriksaan darah rutin dll : hasil ureum meningkat
d. Pemeriksaan LCS : tidak dilakukan
e. Pemeriksaan elektroensefalogram : tidak dilakukan

Jenis Pemeriksaan Hasil Rujukan


Hemoglobin 13,6 gr/dL 13,5-18 gr/Dl
Leukosit 8,84 x 103 /mm3 4,73-10,89 x 103 /mm3
Laju Endap Darah 6 mm/jam 0-10 mm/jam
Basofil 0% 0-1%
Eosinofil 0% 1-3%
Stab/Batang 0% 2-6%
Segmen 84% 50-70%
Limfosit 12% 20-40%
Monosit 4% 2-8%
Hematokrit 40% 40-50%
Trombosit 227 x 103/mm3 150-450 x 103/mm3
Eritrosit 4,8 x 106 /mm3 4,6-6,2 x106/mm3
Glukosasewaktu 145 mg/dl <200 mg/dl
Ureum 44 mg/dl 15-39 mg/dl
Kreatinin 1,2 mg/dl <1.3 mg/dl
SGOT 13 U/L 7-40 U/L
SGPT 9 U/L 7-41 U/L
Tabel 1. Hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin tanggal 18 Mei 2017
12

DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I : F.20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II : F.60.0 Gangguan kepribadian paranoid
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah psikososial dan lingkungan sekitar
Aksis V : GAF scale 70-61

IV. DIAGNOSIS DIFFERENSIAL


- Gangguan kepribadian paranoid
- Gangguan waham menetap

V. TERAPI
a. Psikofarmaka
Risperidon 1x1 mg no III, selanjutnya risperidon 2x1mg
THP prn jika diketahui terdapat extrapiramidal syndrome
Injeksi lodomer ½ ampul IM

b. Psikoterapi
Suportif
- Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien dalam
menghadapi penyakit.

Kognitif
Menerangkan tentang gejala penyakit pasien yang timbul akibat
adanya gangguan pada sistem saraf pusat pasien.

Keluarga
13

Memberikan penyuluhan bersama dengan pasien yang


diharapkan keluarga dapat membantu dan mendukung kesembuhan
pasien.

Religius
Bimbingan keagamaan agar pasien selalu menjalankan ibadah
sesuai ajaran agama yang dianutnya, yaitu menjalankan solat lima
waktu, menegakkan amalan sunah seperti mengaji, berzikir, dan
berdoa kepada Allah SWT.

VI. PROGNOSIS
Quo ad fungsionam :Dubia ad bonam
Quo ad vitam :Dubia ad bonam
14

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Skizofrenia

3.1.1 Pengertian skizofrenia


Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan
gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku, pikiran yang
terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak salaing berhubungan secara
logis, persepsi dan perhatian yang keliru afek yang datar atau tidak sesuai,
dan berbagai gangguan aktifitas motorik yang bizzare (perilaku aneh),
pasien skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali
masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi.
Orang-orang yang menderita skozofrenia umunya mengalami beberapa
episode akut simtom–simtom, diantara setiap episode mereka sering
mengalami simtom–simtom yang tidak terlalu parah namun tetap sangat
menggagu keberfungsian mereka. Komorbiditas dengan penyalahguanaan
zat merupakan masalah utama bagi para pasien skizofrenia, terjadi pada
sekitar 50 persennya. (Konsten & Ziedonis. 1997, dalam Davison 2010).
Skizofrenia adalah jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau
disharmoni antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler (dalam
Maramis, 2009)membagi gejala – gejala skizofrenia menjadi 2 kelompok :
1) Gejala – gejala primer: Gangguan proses berpikir, Gangguan
emosi,Gangguan kemauan, Autisme
2) Gejala – gejala sekunder: waham, halusinasi, gejala katatonik
atau gangguan psikomotor yang lain

3.1.2 Jenis-jenis skizofrenia


Kraeplin (dalam Maramis, 2009) membagi skizofrenia menjadi
beberapa jenis. Penderita digolongkan ke dalam salah satu jenis menurut
gejala utama yang terdapat padanya. Akan tetapi batas-batas golongan-
15

golongan ini tidak jelas, gejala-gejala dapat berganti-ganti atau mungkin


seorang penderita tidak dapat digolongkan ke dalam satu jenis.
Pembagiannya adalah sebagai berikut:

a. Skizofrenia paranoid
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah mulai 30
tahun.Permulaanya mungkin subakut, tetapi mungkin juga akut.
Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan schizoid.
Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak dan kurang
percaya pada orang lain.

b. Skizofrenia hebefrenik
Permulaanya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada
masa remaja atau antara 15 – 25 tahun. Gejala yang mencolok adalah
gangguan proses berpikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi
atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism,
neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada
skizofrenia heberfrenik, waham dan halusinasinya banyak sekali.

c. Skizofrenia katatonik
Timbulnya pertama kali antara usia 15 sampai 30 tahun, dan
biasanya akut serta sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi
gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.
Gejala yang penting adalah gejala psikomotor seperti:
a. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup, muka tanpa
mimik, seperti topeng, stupor penderita tidak bergerak sama sekali
untuk waktu yang sangat lama, beberapa hari, bahkan kadang-
kadang beberapa bulan.
b. Bila diganti posisinya penderita menentang
c. Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga terkumpul di
dalam mulut dan meleleh keluar, air seni dan feses ditahan.
16

d. Terdapat grimas dan katalepsi.

d. Skizofrenia simplex
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada
jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan
halusinasi jarang sekali ditemukan.

e. Skizofrenia residual
Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat
sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang
kea rah gejala negative yang lebih menonjol. Gejala negative terdiri dari
kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpukan afek, pasif dan
tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspresi nonverbal yang
menurun, serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.

3.1.3 Simtom klinis skizofrenia.


Simtom-simtom yang dialami pasien skizofrenia mencakup
gangguan dalam beberapa hal penting pikiran, persepsi, dan perhatian.
Perilaku motorik, afek, atau emosi, dan keberfungsian hidup. Rentang
masalah orang-orang yang didiagnosis menderita skizofrenia sangat luas,
meskipun dalam satu waktu pasien umumnya mengalami hanya beberapa
dari masalah tersebut. Dalam hal ini akan diuraikan beberapa simtom-
simtom utama skizofrenia dalam tiga kategori. Simtom positif, simtom
negatif, dan simtom disorganisasi. (Davison, 2010).

1. Simtom positif.
Mencakup hal–hal yag berlebihan dan distorsi, seperti halusinasi dan
waham, simtom–simtom ini, sebagian terbesarnya, menjadi ciri
episode akut skizofrenia.
17

a. Delusi (waham), yaitu keyakinan yang berlawanan dengan


kenyataan semacam itu merupakan simtom–simtom positif yang
umum pada skizofrenia.

b. Halusinasi, para pasien skizofrenia seringkali menuturkan bahwa


dunia tampak berbeda dalam satu atau lain cara atau bahkan tidak
nyata bagi mereka. Dan distorsi persepsi yang paling dramatis adalah
halusinasi yaitu diamana pengalaman indrawi tanpa adanya stimulasi
dari lingkuangan.

2. Simtom negatif.
Simtom–simtom negatif skizofrenia mencakup berbagai devisit
behavioral, seperti avolition, alogia, anhedonia, afek datar dan
asosiolitas. Simtom–simtom ini ini cenderung bertahan melampaui
suatu episode akut dan memiliki afek parah terhadap kehidupan para
pasien skizofrenia.

3. Simtom disorganisasi.
Simtom–simtom disorganisasi mencakup disorganisasi pembicaraan
dan perilaku aneh (bizarre). Disorganisasi pembicaraan juga dikenal
sebagai gangguan berfikir formal, disorganisasi pembicaraan merujuk
pada masalah dalam mengorganisasi berbagai pemikiran dan dalam
berbicara sehingga pendengar dapat memahaminya. Perilaku aneh
terwujud dalam banyak bentuk, pasien dapat meledak dalam
kemarahan atau konfrontasi singkat yang tidak dapat dimengerti,
memakai pakaian yang tidak biasa, bertingkah seperti anak–anak, atau
dengan gaya yang konyol, menyimpan makanan, mengumpulkan
sampah atau melakukan perilaku seksual yang tidak pantas.
18

3.2 Skizofrenia Paranoid


Skizofrenia adalah gangguan yang benar-benar membingungkan
dan menyimpan banyak tanda tanya (teka-teki). Kadangkala skizofrenia
dapat berpikir dan berkomunikasi dengan jelas, memiliki pandangan yang
tepat dan berfungsi secara baik dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada
saat yang lain, pemikiran dan kata-kata terbalik, mereka kehilangan
sentuhan dan mereka tidak mampu memelihara diri mereka sendiri (Nolen,
2004).
Skizofrenia merupakan sindrom klinis yang paling
membingungkan dan melumpuhkan. Skizofrenia merupakan gangguan
psikologis yang paling berhubungan dengan pandangan populer tentang
gila atau sakit mental. Hal ini sering menimbulkan rasa takut,
kesalahpahaman, dan penghukuman, bukannya simpati dan perhatian.
Skizofrenia menyerang jati diri seseorang, memutus hubungan yang erat
antara pemikiran dan perasaan serta mengisinya dengan persepsi yang
terganggu, ide yang salah, dan konsepsi yang tidak logis. Mereka mungkin
berbicara dengan nada yang mendatar dan menunjukkan sedikit ekspresi
(Greene, 2003).
Menurut Tubagus, skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yang
berarti jiwa yang retak (skizos artinya retak dan freenas artinya jiwa). Jiwa
manusia terdiri dari 3 unsur yaitu perasaan, kemauan dan perilaku (Erwin,
2002). Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi
berbagaifungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi, menerima
dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi dan
perilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial (Isaac, 2005).

3.2.1 Gejala-Gejala Skizofrenia Paranoid


Gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu:
1. Gejala positif
a. Delusi atau waham
19

Suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal). Meskipun


telah dibuktikan secara objektif bahwa keyakinannya itu tidak
rasional, namun penderita tetap meyakini kebenarannya.

b. Halusinasi
Pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan (stimulus). Misalnya
penderita mendengar suara-suara/ bisikan-bisikan di telinganya
padahal tidak ada sumber dari suara/ bisikan itu.

c. Kekacauan alam pikiran


Dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya kacau,
sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.

d. Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara


dengan semangat dan gembira berlebihan.

e. Merasa dirinya ”Orang Besar”, merasa serba mampu dan sejenisnya.

f. Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman


terhadap dirinya.

g. Menyimpan rasa permusuhan.

2. Gejala negatif

a. Alam perasaan (affect) ”tumpul” dan ”mendatar”


Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak
menunjukkan ekspresi.
b. Menarik diri atau mengasingkan diri, tidak mau bergaul atau kontak
dengan orang lain dan suka melamun.
c. Kontak emosional amat sedikit, sukar diajak bicara dan pendiam.
d. Pasif dan apatis serta menarik diri dari pergaulan sosial.
e. Sulit dalam berpikir nyata.
20

f. Pola pikir steorotip.


g. Tidak ada/ kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada inisiatif.

3.2.2 Faktor Resiko Skizofrenia Paranoid


Faktor resiko skizofrenia adalah sebagai berikut:
1. Riwayat skizofrenia dalam keluarga
2. Kembar identik
3. Struktur otak abnormal
Dengan perkembangan teknik pencitraan teknik noninvasif, seperti CT
scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan Positron Emission
Tomography (PET) dalam 25 tahun terakhir, para ilmuwan meneliti
struktur otak dan aktivitas otak individu penderita skizofrenia. Penelitian
menunjukkan bahwa individu penderita skizofrenia memiliki jaringan
otak yang relatif lebih sedikit (Carpenter, 2000).
4. Sosiokultural
Lingkungan sosial individu dengan skizofrenia di negara-negara
berkembang mungkin menfasilitasi dan memulihkan (recovery) dengan
lebih baik daripada di negara maju (Jenkins, 2003). Di negara
berkembang, terdapat jaringan keluarga yang lebih luas dan lebih dekat
disekeliling orang-orang dengan skizofrenia dan menyediakan lebih
banyak kepedulian terhadap penderita. Keluarga-keluarga di beberapa
negara berkembang lebih sedikit melakukan tindakan permusuhan,
mengkritik, dan sangat terlibat jika dibandingkan dengan keluarga-
keluarga di beberapa negara-negara maju. Hal ini mungkin membantu
jumlah atau tingkat kekambuhan dari anggota-anggota keluarga penderita
skizofrenia.
5. Tampilan emosi
Sejumlah penelitian menunjukkan orang-orang dengan skizofrenia yang
keluarganya tinggi dalam mengekspresikan emosi, lebih besar
kemungkinannya untuk menderita kekambuhan psikosis daripada mereka
21

yang keluarganya sedikit atau kurang mengekspresikan emosi (Hooley,


2000).

3.2.3 Diagnosis
Berdasarkan ICD-10 dan PPDGJ III, untuk mendiagnosa skizofrenia harus
ada seidaknya satu gejala berikut ini yang jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih
bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas.
Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang bergema dan berulang
dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namun kualitasnya berbeda. Thought insertion or withdrawal = isi pikiran asing
dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar
oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal). Thought broadcasting = isi pikirannya
tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya. Delution of control
= waham tentang dirinya dikendalikan oleh sesuatu kekuatan tertentu dari luar.
Delution ofinfluence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan
tertentu dari luar. Delution of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan
pasrahterhadap kekuatan dari luar. Delution of perception = pengalaman indrawi
yang tidakwajar, yang bermakna sangat khas bagidirinya, biasanya bersifat mistik
atau mukjizat.
Gejala-gejala lainnya adalah Halusinasi auditorik: suara halusinasi yang
berkomentar secara terus-menerus tentang perilaku pasien. Mendiskusikan perihal
pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara). Jenis
suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. Waham-waham
menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan
sesuatu yang mustahil.12 Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus
selalu ada secara jelas: halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja,
apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah
berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide
berlebihan (over-valued ideas) yang menetap,atau apabila terjadi setiap hari
selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus. Arus pikiran yang
terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat
22

inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme. Perilaku


katatonik, seperti gaduhgelisah,posisi tubuh tertentu, atau fleksibilitas cerea,
negativisme, mutisme, dan stupor.
Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respon emosional yang menumpul atau tidak wajar,biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus
jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi
neuroleptika. Gejala harus berlangsung minimal 1 bulan. Harus ada perubahan
yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek
perilaku pribadi.12
Sementara berdasarkan PPDGJ-III untuk memdiagnosis skizofrenia
paranoid harus memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia dan sebagai tambahannya
terdapat: Halusinasidan atau waham arus menonjol, suara-suarahalusinasi yang
mengancam pasien ataumemberi perintah, atau halusinasi auditoriktanpa bentuk
verbal berupa bunyi pluit(whistling), mendengung (humming) ataubunyi tawa
(laughing). Halusinasi pembauanatau pengecapan rasa, atau bersifat seksual ,atau
lain-lain, perasaan tubuh, halusinasivisual mungkin ada tetapi jarang
menonjol.Waham dapat berupa hampir setiap jenis,tetapi waham dikendalikan
(delusion ofcontrol), dipengaruhi (delusion of influence)atau passivity (delussion
of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang
paling khas. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala
katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.

3.2.4 Tatalaksana
Terapi farmakologi masih merupakan pilihan utama pada skizofrenia.
Pilihan terapi pada skizofrenia dipilih berdasarkan target gejala pada pasien
skizofrenia. Tujuan pengobatan adalah untuk mencegah bahaya pada pasien,
mengontrol perilaku pasien, dan untuk mengurangi gejala psikotik pada pasien
seperti agitasi, agresif, negatif simptom, positif simptom, serta gejala afek.
Rencana terapi yang diberikan adalah antipsikosis atipikal golongan benzixosazole
yaitu risperidon 2x2 mg selama 5 hari sebagai dosis inisial. Resperidon
23

merupakan antipsikosis atipikal atau antipsikosis golongan II. Antipsikosis


golongan II merupakan golongan obat yang memiliki efek untuk mengurangi
gejala negatif maupun positif. Jika dibandingkan dengan antipsikosis golongan I,
risperidon mempunyai efektivitas yang lebih baik dalam mengontrol gejala negatif
dan positif.
Obat ini mempunyai afinitas tinggi terhadap reseptor serotonin (5HT2)
dan aktivitas menengah terhadap reseptor dopamin (D2), α1 dan α2 adrenergik,
serta histamin. Sindrom psikosis berkaitan dengan aktivitas neurotransmitter
Dopamine yang mengikat (hiperreaktivitas sistem dopaminergik sentral), obat ini
dapat memblokade Dopamine pada reseptor pascasinaptik neuron di otak,
khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamineD2 receptor
antagonis). Dengan demikian obat ini efektif baik untuk gejala positif (halusinasi,
gangguan proses pikir) maupun gejala negatif (upaya pasien yang menarik diri
dari lingkungan). Risperidon dimetabolisme di hati dan diekskresi di urin. Dengan
demikian perlu diadakan pengawasan terhadap fungsi hati. Secara umum
risperidon ditoleransi dengan baik. Efek samping sedasi, otonomik, dan
ekstrapiramidal sangat minimal dibandingkan obat antipsikosis tipikal. Dosis
anjurannya adalah 2-6 mg/hari.
Selain diberikan obat-obat terapi medikamentosa pasien juga dilakukan
terapi nonmedikamentosa yaitu psikoterapi dan psikoedukasi yang dianjurkan
setelah pasien tenang dengan pemberian dukungan pada pasien dan keluarga agar
mempercepat penyembuhan pasien dan diperlukan rehabilitasi yang disesuaikan
dengan psikiatrik serta minat dan bakat penderita sehingga bisa dipilih metode
yang sesuai untuk pasien tersebut.

3.2.5 Prognosis

Prognosis Baik Prognosis Buruk


 Onset tua  Onset muda
 Faktor pencetus jelas  Faktor pencetus tidak jelas
24

 Onset cepat  Onset lambat


 Riwayat premorbid baik  Riwayat premorbid jelek
 Gejala-gejala afektif (terutama  Gejala-gejala penarikan diri
depresif)  Tidak menikah
 Menikah  Riwayat skizofrenia pada keluarga
 Riwayat gangguan mood pada  Dukungan sosial buruk
keluarga  Gejala-gejala negatif, neurologis,
 Dukungan sosial yang baik riwayat trauma perinatal, tiga tahun
 Gejala-gejala positif tanpa remisi, sering kambuh, riwayat
agresi
25

BAB IV
ANALISA MASALAH

Seorang laki laki berumur 71 tahun, merupakan pensiunan Pertamina dan


sudah menikah dengan 3 orang anak. Pasien dibawa ke rumah sakit oleh
keluarganya karena sering mencurigai istrinya berselingkuh dengan menantunya
tanpa alasan yang jelas. Pasien sering berlaku kasar kepada istrinya dan pernah
mengancam menantunya menggunakan gunting. 1 hari yang lalu, istri pasien
meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap perlakuan pasien. Pasien lalu
mencari keberadaan istrinya sambil membawa pisau.
36 tahun yang lalu, pasien pernah dirawat di RS Rahma Kasih dengan
diagnosis gangguan jiwa setelah pasien menuduh atasannya berselingkuh dengan
istri pasien, pasien kemudian mengamuk dan berkelahi dengan atasannya. Pasien
dirawat 1 bulan kemudian pulang dengan perbaikan namun tidak pernah kontrol
dan minum obat lagi.
3 bulan yang lalu, pasien kembali mencurigai istrinya selingkuh dengan
tetangganya. Pasien berlaku kasar terhadap istrinya, sering merasa sulit tidur, dan
mengoceh sendiri. Sejak 2 bulan yang lalu, pasien mencurigai istrinya selingkuh
dengan menantunya. Pasien kerap membawa senjata tajam karena merasa
nyawanya selalu terancam.
Dari inspeksi pasien tampak tenang, kontak mata baik, pakaian rapi dan
bersih. Saat dilakukan wawancara psikiatri, pasien mampu berkooperasi dengan
pemeriksa dan menjawab pertanyaan dengan tenang. Pasien mengatakan bahwa ia
merasa sering diintai dan nyawanya terancam sehingga ia selalu membawa pisau
untuk berjaga-jaga. Pasien juga mencurigai istrinya selingkuh tapi pasien tidak
mengaku pernah melakukan kekerasan kepada istrinya. Pasien mengaku
mendengar suara-suara tak kasat mata tapi menyangkal melihat wujud-wujud
tertentu. Ini menunjukkan bahwa pasien memiliki halusinasi auditorik, waham
persekutorik, dan waham curiga.
26

Berdasarkan autoanamnesis dan pemeriksaan status mental, didapatkan


gejala klinis bermakna berupa pasien sering berbicara sendiri, susah memulai tidur
dan jika terbangun susah untuk tidur kembali sehingga pasien dapat disimpulkan
mengalami gangguan jiwa. Pada pemeriksaan status mental ditemukan hendaya
dalam menilai realita, sehingga didiagnosis gangguan jiwa psikotik. Pada status
internus tidak ditemukan kelainan apapun. Sedangkan pada pemeriksaan status
neurologi tidak ditemukan adanya kelainan, sehingga gangguan mental organik
dapat disingkirkan dan didiagnosis gangguan jiwa psikotik non organik. Dari
autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan 3 gejala kuat berupa
waham curiga, waham persekutorik, dan halusinasi auditorik selama lebih dari 1
tahun. Selain itu, didapatkan juga keraguan yang tidak dibenarkan mengenai
kesetiaan rekan kerja dan atasannya, menganggap hal-hal disekitarnya
mengancam nyawanya, memiliki kecurigaan berulang tanpa adanya pembenaran
mengenai kesetiaan pasangan, dan kecurigaan tanpa dasar bahwa orang lain
menipu dirinya. Jadi berdasarkan hal tersebut dapat ditegakkan sebuah diagnosis
multiaksial berupa diagnosis aksis I yaitu F.20.0 Schizofrenia Paranoid. Dengan
diagnosis aksis II gangguan kepribadian paranoid. Aksis III tidak ada diagnosis.
Aksis IV yaitu masalah interpersonal dan lingkungan sekitar dengan GAF scale
tertinggi 1 tahun terakhir: 40-31, GAF scale saat MRS: 30-21 GAF scale saat
follow-up: 70-61.
Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis dengan gambaran psikopatologi
yang bervariasi tetapi sangat berat, yang mempengaruhi kognisi, emosi, persepsi,
dan aspek perilaku lainnya. Manifestasi ini bervariasi di antara pasien-pasien dan
pada waktu yang berbeda, namun efeknya selalu berat dan biasanya berlangsung
lama. Istilah skizofrenia pertama kali dikenalkan oleh Eugene Bleurer.
Gambaran klinis Pasien memenuhi kriteria diagnosis skizofenia menurut
PPDGJ III yaitu adanya gejala yang yang amat jelas yaitu halusinasi auditorik,
halusinasi visual dan waham yang menetap, serta gejala yang harus selalu ada
secara jelas yaitu halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila
disertai baik oleh waham yang mengambang mauupun yang setengah berbentuk
tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-
27

valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-
minggu atau berbulan-bulan terus menerus. Selain itu juga memenuhi kriteria
bahwa adanya gejala-gejala khas tersebut telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal),
dimana pada kasus ini gejala telah berlangsung sejak tahun 1990.
Skizofrenia berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi skizofrenia paranoid,
herbefrenik, katatonik, tak terinci, depresi pasca skizofrenia, residual, simpleks,
lainnya dan YTT. Pada kasus ini memenuhi kriteria skizofrenia paranoid dimana
terdapat halusinasi auditorik dan visual serta waham curiga yang paling menonjol
dibanding gambaran klinis lain pada pasien.
Tatalaksana Os berupa rawat inap di RSJ berdasarkan indikasi berupa
tujuan diagnostik, menstabilkan medikasi, dan keamanan pasien dan orang-orang
disekitar pasien karena Os beresiko mencelakakan orang lain akibat perilaku Os
yang kacau dan tidak sesuai.
Pengobatan yang dilakukan kepada pasien ini adalah dengan dua
pengobatan. Pengobatan psikoterapi dan juga dengan pengobatan farmakoterapi.
Untuk farmakoterapi diberikan Risperidon 1x1 mg no III, selanjutnya risperidon
2x1mg, THP jika diketahui terdapat extrapiramidal syndrome, dan injeksi
lodomer ½ ampul IM.
Pemberian risperidom dikarenakan pasien ini memiliki gejala positif yang
dominan sehingga kita berikan obat untuk mengurangi gejala positif yang dialami
oleh pasien ini. THP diberikan hanya jika pasien menunjukkan tanda-tanda
mengalami extrapirramidal syndrome akibat penggunaan obat antipsikotik.
Lodomer diberikan dengan tujuan mencegah agitasi pada pasien.
Prognosis pada pasien ini adalah dubia at malam dikarenakan onset usia
muda, progresifitas penyakit lambat, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar
kurang serta GAF scale tertinggi pasien ini dalam satu tahun terakhir adalah 40-
31.
28

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, R. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Ed.K.jakarta


2003.bagian ilmu kedokteran jiwa FK unika atma jaya.hal : 48 - 49
2. Sadock B, Sadock VA. Kaplan&Sadock. BukuAjarPsikiatriKlinis, Edisi 2.
Jakarta : EGC. 2010
3. Sinaga, Benhard Rudyanto. Skizofrenia dan Diagnosis Banding. Jakarta : Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007
4. Kaplan,Sadock,Grebb.SinopsisPsikiatriIlmuPengetahuanPrilakuPsikiatriKlinisJ
ilidSatu.Jakarta:BinarupaAksara.2010.
5. Maramis, F willy DKK. Skizofreniadalamcatatanilmukedokteranjiwa. Edisi :
II. Jakarta 2009. Airlangga University Press.hal : 259 – 281
6. Amir HA.Dr,dkk. Bukupenuntunpraktispelayanankesehatanjiwa. Jakarta Barat:
Tim MedisRumah Sakit Jiwa Pusat. 1996.
7. Maslim, R SpKJ..PanduanPraktis: PengguanaanKlinisObatPsikotropik,
EdisiKetiga. Jakarta :BagianIlmuKedokteranJiwa FK-UnikaAtma Jaya. 2007

8. Lehman A.F., Lieberman J.A., Dixon L.B., et al. Practice Guideline for The
Treatment of Patients with Schizophrenia. 2nd ed. Arlington: American
Psychiatric Association, 2004.

9. Herz M.I., Marder S.R. Schizophrenia Comprehensive Treatment and


Management. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2002.
29
30