Anda di halaman 1dari 17

A.

Konsep Penyakit
I. Definisi Penyakit
Hipertensi dikategorikan ringan jika tekanan diastoliknya berkisar 95-
104 MmHg, hipertensi sedang kalau tekanan diastoliknya diantara kisaran
105 & 114 MmHg, & hipertensi berat bila tekanan diastoliknya berkisar
115 MmHg atau lebih dari itu. Pembagian atau perkategian ini berdasarkan
dari peningkatan tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari
peningkatan sistolik (Gunawan, 2003).
Hipertensi ialah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran
menjelaskan hipertensi merupakan sebuah kondisi di mana berlangsung
gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah (Mansjoer,
2008:144).
II. Etiologi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya bisa dibedakan menjadi 2
golongan besar, yakni: (Lany Gunawan, 2001)
1. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) ialah hipertensi yg tidak
diketahui apa penyebabnya.
2. Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yg biasanya di sebabkan
oleh penyakit lain.
Hipertensi primer hampir terdapat pada lebih dari 90 persen penderita
hipertensi, sedangkan 10 persen sisanya disebabkan oleh hipertensi
sekunder. Walaupun hipertensi primer belum diketahui dengan tentu
penyebabnya, data-data penelitian sudah dapat menemukan sekian banyak
factor yg tidak jarang sekali menyebabkan terjadinya sebuah penyakit
hipertensi.
Pada umunya penyakit hipertensi tak memiliki penyebab yg secara
spesifik. Hipertensi terjadi juga terjadi sebagai respon peningkatan kardiak
output atau peningkatan tekanan perifer. Tapi ada sekian banyak faktor yg
sangat mempengaruhi proses terjadinya hipertensi, yaitu:
1. Genetik: Respon nerologi yang terjadi pada stress atau disebabkan
karena kelainan eksresi atau disebabkan karena transport Na.

1
2. Obesitas: Yang disebabkan karena terkait dengan level insulin yang
tinggi yang mengakibatkan atau menyebabkan tekanan darah menjadi
meningkat.
3. Stress dikarenakan atau disebabkan oleh Lingkungan.
4. Karena hilangnya Elastisitas pada jaringan serta arterisklerosis pada
seseorang yang lanjut usia serta terdapat pelebaran pembuluh darah.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia, yaitu karena
terjadinya proses perubahan-perubahan pada:
1. Elastisitas dinding aorta menurun.
2. Katub jantung menebal & menjadi kaku.
3. Kekuatan jantung dalam memompa darah yang menurun 1% setiap
tahun setelah biasanya berusia sekitar 20 tahun kekuatan jantung
memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi &
volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
faktor ini berjalan karena kurangnya efektifitas pembuluh darah
perifer buat oksigenasi.
5. Disebabkan karena meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Biarpun hipertensi primer belum diketahui dengan tentu apa yang
menyebabkannya, namun data-data penelitian sudah menemukan sekian
banyak aspek yg sering menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi.
Aspek tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Faktor keturunan
Dari data statistik yang ditemukan terbukti bahwa seorang akan
mempunyai kemungkinan jauh lebih besar utk memperoleh hipertensi
apabila orang tuanya merupakan penderita hipertensi.
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yg mempengaruhi timbulnya hipertensi, yaitu:
1. Umur (bila usia bertambah sehingga TD meningkat)
1) Jenis kelamin (laki laki lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan
dengan perempuan).

2
2) Ras (ras kulit hitam ternyata lebih banyak terkena penyakit hipertensi
dari kulit putih).
2. Adat hidup
Tradisi hidup atau gaya hidup saat ini ternyata yg sering menyebabkan
timbulnya hipertensi adalah:
1) Mengonsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gram).
2) Kegemukan atau makan berlebihan.
3) Stress karena suatu masalah.
4) Memiliki kebiasaan dalam Merokok.
5) Memiliki kebiasaan suka mengkonsumsi minuman beralkohol.
6) Minum obat-obatan (seperti ephedrine, prednison, dan epineprin).
III. Manifestasi Klinis
Terhadap sebagian besar penderita, hipertensi tak memunculkan
gejala; biarpun secara tidak sengaja sekian banyak gejala terjadi
bersamaan dan diakui berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal
sesungguhnya tidak). Gejala yg dimaksud yakni sakit kepala, perdarahan
dari hidung, pusing, wajah kemerahan & kelelahan; yg mungkin terjadi
baik pada penderita hipertensi, ataupun pada seseorang bersama tekanan
darah yg normal. Kalau hipertensinya berat atau menahun dan tidak
diobati, maka dapat timbul gejala berikut:
1) Sakit kepala.
2) Kelelahan.
3) Mual.
4) Muntah.
5) Sesak nafas.
6) Gelisah.
7) Pandangan jadi kabur yg terjadi dikarenakan adanya kerusakan pada
otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran &
bahkan koma dikarenakan terjadi pembengkakkan pada otak. Kondisi ini
dinamakan ensefalopati hipertensif, yg memerlukan penanganan langsung.

3
IV. Penatalaksanaan
Olah raga lebih banyak dihubungkan bersama pengobatan hipertensi,
sebab olah raga isotonik (seperti bersepeda, jogging, aerobik) yang rutin
bisa memperlancar peredaran darah maka bisa menurunkan tekanan darah.
Olah raga dapat juga digunakan buat mengurangi/mencegah obesitas &
mengurangi asupan garam ke dalam badan (badan yg berkeringat akan
mengeluarkan garam melalui kulit).
Pengobatan hipertensi dengan cara garis besar dibagi jadi 2 tipe adalah:
1) Pengobatan non obat (non farmakologis).
2) Pengobatan dgn obat-obatan (farmakologis).
1) Pengobatan non obat (non farmakologis)
Pengobatan non farmakologis kadang-kadang bisa mengontrol
tekanan darah maka pengobatan farmakologis jadi tak digunakan atau
sekurang-kurangnya ditunda. Sedangkan pada kondisi di mana obat
anti hipertensi diperlukan, pengobatan non farmakologis akan
dimanfaatkan sebagai pelengkap utk mendapati efek pengobatan yg
tambah baik. Pengobatan non farmakologis diantaranya, yatui:
1) Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh.
2) Mengurangi asupan garam ke dalam badan.
Nasehat pengurangan garam, mesti memperhatikan rutinitas makan
penderita. Pengurangan asupan garam dengan cara drastis dapat susah
dilaksanakan. Trik pengobatan ini hendaknya tidak dipakai yang
merupakan pengobatan tunggal, namun lebih baik dipakai juga
sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis.
3) Ciptakan kondisi rileks
Bermacam Macam trik relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis
sanggup mengontrol sistem saraf yg hasilnya mampu menurunkan
tekanan darah.
4) Melaksanakan olah raga seperti senam aerobik atau jalan serentak
selama 30-45 menit jumlahnya 3-4 kali seminggu.
5) Berhenti merokok & mengurangi mengonsumsi alkohol.

4
2) Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
Obat-obatan antihipertensi. Terdapat tidak sedikit tipe obat
antihipertensi yg beredar sekarang ini. Buat pemilihan obat yg pas
diharapkan dapat menghubungi dokter.
1) Diuretik
Obat-obatan tipe diuretik bekerja secara mengeluarkan cairan tubuh
(melalui kencing) maka volume cairan ditubuh menyusut yg
mengakibatkan daya pompa jantung jadi lebih ringan. Sample
obatannya merupakan Hidroklorotiazid.
2) Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dgn menghambat gerakan saraf simpatis
(saraf yg bekerja pada disaat kita beraktivitas). Contoh obatnya
adalah: Metildopa, Klonidin & Reserpin.
3) Betabloker
Prosedur kerja anti-hipertensi obat ini ialah lewat penurunan daya
pompa jantung. Tipe betabloker tak dianjurkan kepada penderita yg
sudah didapati mengidap kesukaran pernapasan seperti asma bronkial.
Contoh obatnya, yaitu: Metoprolol, Propranolol & Atenolol. Terhadap
penderita diabetes melitus mesti hati-hati, dikarenakan akan menutupi
gejala hipoglikemia (keadaan di mana kadar gula dalam darah turun
jadi teramat rendah yg dapat berakibat bahaya bagi penderitanya).
Kepada ortu terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran
pernapasan) maka pemberian obat mesti hati-hati.
4) Vasodilator
Obat golongan ini bekerja cepat terhadap pembuluh darah dengan
relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk juga dalam
golongan ini, yaitu: Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang mungkin
saja bakal terjadi dari pemberian obat ini merupakan: sakit kepala dan
pusing.

5
5) Penghambat ensim konversi Angiotensin
Trik kerja obat golongan ini merupakan menghambat pembentukan
zat Angiotensin II (zat yg bisa menyebabkan peningkatan tekanan
darah). Contoh obat yg termasuk juga golongan ini, yaitu Kaptopril.
Efek samping yg bisa jadi timbul adalah: batuk kering, pusing, sakit
kepala & lemas.
6) Antagonis kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung secara
menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yg termasuk juga
golongan obat ini, yaitu: Nifedipin, Diltiasem & Verapamil. Efek
samping yg bisa jadi timbul adalah: sembelit, pusing, sakit kepala &
muntah.
7) Penghambat Reseptor Angiotensin II
Kiat kerja obat ini, yaitu dengan cara menghalangi penempelan zat
Angiotensin II kepada reseptornya yang mengakibatkan ringannya
daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk juga dalam golongan
ini, yaitu Valsartan (Diovan). Efek samping yg bisa saja timbul
adalah: sakit kepala, pusing, lemas & mual.
Dengan pengobatan & kontrol yg rutin, pula menghindari perihal
dampak terjadinya hipertensi, sehingga angka kematian akibat penyakit ini
bisa ditekan.
V. Komplikasi
Adapun komplikasi yg bisa berlangsung pada penyakit hipertensi
menurut TIM POKJA RS Harapan Kita (2003 : 64) & Dr. Budhi Setianto
(Depkes, 2007), yaitu diantaranya adalah:
1) Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, dan
transient ischemic attack.
2) Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pektoris, infark
miocard acut (IMA).
3) Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.

6
4) Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, edema
pupil.
VI. Diagnosa Banding
Peningkatan tekanan darah akibat darah white coat hypertension, rasa
nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat, dll.
VII. Patofisiologi
Penyebab utama adalah pada penyakit jantung hipertensi merupakan
hipertrofi ventrikel kiri yang terjadi sebagai akibat dengan cara langsung
dari peningkatan bertahap tahanan pembuluh darah perifer dan beban akhir
ventrikel kiri. Aspek yg menentukan hipertrofi ventrikel kiri yakni derajat
dan lamanya peningkatan diastole. Pengaruh sekian banyak aspek humoral
seperti rangsangan simpato-adrenal yg meningkat & peningkatan aktivasi
sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAA) belum didapati, bisa jadi yang
merupakan penunjang saja. Fungsi pompa ventrikel kiri, yaitu
berhubungan erat bersama penyebab hipertrofi dan terjadinya
aterosklerosis primer.
Terhadap stadium permulaan hipertensi, hipertrofi yang berlangsung
yakni difus (konsentrik). Rasio massa dan volume akhir diastolik ventrikel
kiri meningkat tidak dengan perubahan yang berarti pada fungsi pompa
efektif ventrikel kiri. Pada stadium seterusnya, dikarenakan penyakir
berlanjut terus, hipertrofi menjadi tidak teratur, dan hasilnya eksentrik,
akibat terbatasnya aliran darah koroner. Khas pada jantung dengan
hipertrofi eksentrik menggambarkan berkurangnya rasio antara massa &
volume, oleh dikarenakan meningkatnya volume diastolik akhir. Faktor ini
diperlihatkan juga sebagai penurunan dengan cara menyeluruh fungsi
pompa (penurunan fraksi ejeksi), peningkatan tegangan dinding ventrikel
pada waktu sistol & konsumsi oksigen otot jantung. Hal-hal yang
memperburuk fungsi mekanik ventrikel kiri berhubungan erat apabila
disertai dengan penyakit jantung koroner.
Meskipun tekanan perfusi koroner meningkat, tahanan pembuluh
koroner pula meningkat. Menjadi cadangan aliran darah koroner

7
menyusut. Perubahan-perubahan secara hemodinamik sirkulasi koroner
yang terjadi pada hipertensi berhubungan erat bersama derajat hipertrofi
otot jantung. Ada 2 faktor penting penyebab penurunan cadangan aliran
darah koroner, adalah:
1) Penebalan arteriol koroner, adalah bagian dari hipertrofi umum pada
otot polos pembuluh darah yang resistensi arteriol (arteriolar
resistance vessels) semua badan. Setelah Itu terjadi retensi garam dan
air yang dapat mengakibatkan berkurangnya compliance pembuluh-
pembuluh ini dan mengakibatkan tahanan perifer.
2) Hipertrofi yg meningkat mengakibatkan kurangnya kepadatan kepiler
per unit otot jantung apabila timbul hipertrofi eksentrik. Peningkatan
jarak difusi antara kapiler dan serat otot yg hipertrofik jadi faktor
utama pada stadium lanjut dari gambaran hemodinamik ini.
Faktor koroner pada hipertensi dapat berkembang menjadi penyakit,
meski kelihatan sebagai penyebab patologis yang penting dari gangguan
aktifitas mekanik ventrikel kiri. Untuk mempermudah pemahaman dapat
dilihat pada skema yang ada dibawah ini:

8
B. Pengkajian
I. Wawancara
Pengkajian ini meliputi identitas pasien, umur, pekerjaan, riwayat
penyakit sekarang, dahulu, dan keluarga. Dalam pengkajian Doengoes
(1999) meliputi aktivitas dan latihan, eliminasi, kebiasaan BAB dan BAK,
makan dan cairan meliputi kebiasaan makanan dan minuman yang
dikonsumsi dari jenis makanan berlemak, kolesterol tinggi, beralkohol,
mengandung garam yang tinggi, dan sebagainya.
II. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda dugaan hipertensi sekunder
1. Ciri-ciri sindroma Cushing.
2. Stigmata kulit berupa neurofibromatosis (feokromasitoma).
3. Palpasi menunjukkan perbesaran ginjal (ginjal polikistik).
4. Auskultasi mendapatkan adanya murmur di abdomen (hipertensi
renovaskular).
5. Auskultasi di prekordial atau dada terdengar murmur (koarktasio aorta
atau kelainan aorta).
6. Pulsasi di femoral melambat dan lemah dan tekanan darah femoral
menurun (koarktasio aorta atau kelainan aorta).
2. Tanda-tanda kerusakan organ
1. Otak: murmur di atas arteri leher, defek sensorik maupun motorik.
2. Retina: funduskopi abnormal.
3. Jantung: lokasi dan karakteristik apical cordis berubah, aritmia, irama
gallop, ronki paru, edema tungkai.
4. Arteri perifer: pulsasi menghilang, menurun, atau asimetri;
ekstremitas dingin, lesi kulit iskemik.
5. Arteri karotis: murmur sistolik.
3. Bukti obesitas sentral
1. Berat badan.
2. Penambahan ukuran lingkar perut (posisi berdiri) pria > 102 cm,
wanita > 88 cm.

9
3. Kenaikan indeks massa tubuh (berat badan (kg)/tinggi badan (m2).
4. Overweight: 25 kg/m2 ; obesitas: 30 kg/m2.
Pengukuran tekanan darah yang akurat menjadi kunci penting untuk
mendiagnosis hipertensi. Beberapa pengukuran yang terpisah selama
periode beberapa minggu akan digunakan sebagai penentuan diagnosis.
Pasien akan diukur tekanan darahnya menggunakan sfigmomanometer
dengan 2-3 kali pengukuran terpisah berjeda 2 menit untuk setiap
kunjungan.
Anda sebaiknya duduk istirahat tenang setidaknya 5 menit sebelum
pengukuran tekanan darah. Tidak disarankan melakukan pengukuran
tekanan darah segera setelah beraktivitas fisik semisal berlari atau naik
tangga atau aktivitas lainnya sebab bisa mempengaruhi hasil pengukuran.
Pengukuran tekanan darah dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring
telentang. Pada pengukuran tekanan darah yang pertama kali, bisa diukur
di kedua lengan dan salah satu tungkai untuk menghindari terlewatnya
diagnosis koarktasio aorta atau stenosis arteri subklavia. Tekanan darah
dibaca sebagai dua angka yang merupakan kombinasi pengukuran tekanan
darah sistolik dan diastolik sebagai berikut:
Tekanan darah sistolik merupakan tekanan tertinggi terhadap dinding
arteri saat jantung memompa darah (jantung berdetak). Ditulis di depan.
Tekanan darah sistolik normal biasanya sekitar 110-120 mmHg (kurang
dari 120 mmHg).
Tekanan darah diastolik merupakan tekanan terendah terhadap dinding
arteri saat jantung relaksasi dan terisi darah (jantung istirahat diantara
detakan jantung). Tekanan darah diastolik normal biasanya 70 dan 80
mmHg (kurang dari 80 mmHg).
Pemeriksaan mata mungkin diperlukan jika dicurigai adanya tanda
khusus hypertensive retinopathy (seperti perdarahan retina,
mikroaneurisma, cotton-wool spot) bisa berhubungan dengan peningkatah
risiko gangguan kardiovaskuler (seperti stroke, atau kematian akibat
stroke). Dokter akan melakukan pemeriksaan funduskopi untuk

10
menemukan gejala awal atau lambat, akut atau kronis dari hipertensi
retinopati seperti takik arteriovenosa atau perubahan di dinding pembuluh
darah (seperti copper wiring, silver wiring, SOT, hard exudates, flame-
shaped hemorrhages, papilledema). Pasien dengan keluhan pandangan
harus dirujuk ke dokter spesialis mata untuk dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut. Demikian juga penemuan tanda gejala perubahan mata bisa menjadi
tanda awal penyakit hipertensi pada kasus yang asimptomatik (tidak
bergejala) sehingga pasien bisa segera dirujuk ke dokter terkait.
III. Pemeriksaan Diagnostik
Penilaian hipertensi pada pasien meliputi pengukuran tekanan darah
yang akurat, fokus menggali riwayat kesehatan yang lengkap dan
pemeriksaan fisik, juga pemeriksaan penunjang yang diperlukan sesuai
kondisi klinis. Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai rekomendasi
dokter pada pemeriksaan klinis atau pada individu yang dicurigai memiliki
hipertensi sekunder. Semua langkah ini dapat membantu untuk
menentukan:
1. Adanya kerusakan organ-akhir.
2. Penyebab hipertensi.
3. Faktor risiko kardiovaskuler.
4. Nilai-nilai dasar fungsi organ untuk menentukan efek biokimia
terhadap respons terapi.
Tes laboratorium yang bisa dikerjakan untuk proses diagnosis antara
lain urinalisis, kadar glukosa darah puasa atau A1c, hematokrit; kadar
natrium serum, kalium, kreatinin dan kalsium; profil lipid (kolesterol total,
HDL, LDL dan trigliserida) setelah 9 hingga 12 jam puasa. Pengukuran
glomerular filtration rate (GFR) yang menurun dengan atau tanpa
albuminuria dikaitkan dengan peningkatan risiko intrakardiovaskuler.
Pemeriksaan echocardiography kemungkinan bisa mendeteksi dilatasi
atrium sinistra, hipertrofi ventrikular sinistra dan disfungsi sistolik atau
diastolik ventrikular sinistra dibanding dengan pemeriksaan EKG
(electrocardiography). Indikasi utama terutama untuk evalusia kerusakan

11
organ pada pasien dengan tekanan darah tinggi borderline. Keberadaan
hipertrofi ventrikel sinistra membutuhkan terapi antihipertensi meskipun
tekanan darah normal atau borderline hipertensi.
Pada orang dengan usia lebih dari sama dengan 50 tahun, the 2010
Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI) guideline pada diagnosis
dan pengobatan hipertensi mengindikasikan bahwa tekanan darah sistolik
menjadi faktor utama untuk menentukan, mengevaluasi dan mengobati
hipertensi.
IV. Analisa Data
No. Data Penyebab Masalah
1 DS : pasien mengatakan Peningkatan Gangguan rasa
kepala pusing, leher terasa tekanan darah. nyaman nyeri.
tegang dan kaku.
DO : pasien tampak meringis
kesakitan, kondisi badan
lemah.
2 DS : pasien mengatakan tidak Perubahan jenis Gangguan pola
selera makan. diet. nutrisi.
DO : pasien tampak lemah,
makanan yang disajikan habis
1/3 porsi.
3 DS : pasien mengatakan Efek hospitalisasi. Gangguan istirahat
susah tidur. dan tidur.
DO : pasien tampak pucat,
tidur malah hanya 2 jam,
pasien susah tidur siang, mata
terlihat cekung.
4 DS : pasien mengatakan Kelemahan fisik. Gangguan pola
kedua kakinya susah di aktivitas.
gerakkan.

12
DO : ativitas pasien di bantu
oleh keluarga dan perawat.

C. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peningkatan tekanan darah, d/d pasien
tampak meringis kesakitan, dan kondisi badan lemah.
2. Gangguan pola nutrisi b/d perubahan jenis diet, d/d makanan yang
disajikan habis 1/3 porsi.
3. Gangguan istirahat tidur b/d efek hospitalisasi, d/d pasien tampak pucat,
mata cekung, tidur malam 2 jam, pasien susah tidur siang.
4. Gangguan pola aktivitas b/d kelemahan fisik, d/d aktivitas pasien dibantu
oleh keluarga dan perawat.
D. Rencana Asuhan Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional Evaluasi
Keperawatan
1 Gangguan rasa nyaman Nyeri dan - Atur posisi - Dengan - Klien
nyeri b/d peningkatan pusing semi fowler. mengatur kooperati
tekanan darah, d/d dapat - Berikan posisi semi f saat
pasien tampak meringis teratasi. istirahat fowler diberikan
kesakitan dan kondisi yang cukup. diharapkan posisi
badan lemah. - Kolaborasi pasien dapat semi
dengan merasa fowler.
dokter lebih - Klien
dalam nyaman. sudah
pemberian - Dengan tidak
obat. memberikan merasaka
istirahat n nyeri
yang cukup lagi.
diharapkan
nyeri pada

13
pasien dapat
berkurang.
- Dengan
berkolabora
si dengan
dokter
diharapkan
pasien
mendapat
penanganan
lebih lanjut.
2 Gangguan pola nutrisi Kebutuhan - Beri - Dengan - Klien
b/d perubahan jenis nutrisi makan memberikan sudah
diet, d/d makanan yang dapat pasien makan mau
disajikan habis 1/3 terpenuhi. sedikit- pasien makan.
porsi. sedikit tapi sedikit tapi - Klien
sering. sering sudah
- Beri diharapkan mengerti
makanan pasien tentang
dalam mudah manfaat
keadaan mencerna makanan
hangat. makanan yang ia
- Beri yang di makan.
makanan makannya. - Nafsu
yang - Dengan makan
bervariasi. memberikan klien
- Beri makanan bertamba
penjelasan dalam h.
tentang keadaan
manfaat hangat
makanan diharapkan

14
tersebut. dapat
menambah
nafsu
makan
pasien.
- Dengan
memberikan
penjelasan
makanan
pada pasien
agar pasien
dapat
mengetahui
manfaat
pada
makanan
tersebut.
3 Gangguan istirahat Istirahat - Berikan - Dengan - Klien
tidur b/d efek dan tidur pasien memberikan sudah
hospitalisasi, d/d pasien pasien ruangan pasien bisa tidur
tampak pucat, mata dapat yang ruangan nornal.
cekung, tidur malam terpenuhi. nyaman. yang - Mata
hanya 2 jam, pasien - Batasi jam nyaman klien
susah tidur siang. berkunjung diharapkan sudah
pasien. pasien dapat tidak
- Batasi merasa cekung.
jumlah nyaman. - Klien
pengunjung. - Dengan tampak
- Hindari membatasi segar.
keributan. jam
- Rapikan berkunjung

15
tempat tidur diharapkan
pasien. pasien dapat
beristirahat.
- Dengan
menghindar
i keributan
diharapkan
pasien dapat
merasa
lebih
nyaman.
- Dengan
merapikan
tempat tidur
pasien
setiap hari
diharapkan
dapat
meningkatk
an
kenyamana
n pasien
setiap hari.
4 Gangguan pola Aktivitas - Bantu - Dengan - Klien
aktivitas b/d kelemahan pasien aktivitas membantu sudah
fisik, d/d aktivitas dapat pasien. pasien bisa
pasien dibantu oleh terpenuhi. - Atur posisi untuk mengger
keluarga dan perawat. semi fowler. beraktivitas, akkan
- Dekatkan agar kedua kakinya.
barang- kaki pasien - Klien
barang yang tidak terasa sudah

16
dibutuhkan kaku. bisa
pasien. - Dengan melakuk
memberikan an
posisi semi aktivitas
fowler secara
diharapkan normal.
dapat - Pasien
mengurangi kooperati
rasa nyeri f saat
pada pasien. diberikan
- Dengan posisi
mendekatka semi
n barang- fowler.
barnag yang
dibutuhkan
pasien
klien,
diharapkan
pasien dapat
menjangkau
barang-
barang yang
ingin
diperlukan.

E. Daftar Pustaka
Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia. A. 2005. Patofisiologi. Jakarta: EGC.
http://askep33.com/2015/12/14/laporan-pendahuluan-
hipertensi/diaksespadatanggal24-01-2018padajam19.00.

17