Anda di halaman 1dari 33

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA

PNEUMOTHORAX KANAN SPONTAN


SEKUNDER DAN PYOPNEUMOTHORAX KIRI
RSUP PERSAHABATAN
JAKARTA TIMUR

OLEH
Fiareka Danesia 021211010
Jennifer Dhea 021421019
Luthfan Danan Ajisoko 021211015
Maribeth Antonia 021211016
R. Rizkhi Aryawati 021211023

Binawan Institute of Health Sciences


Jakarta
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Pneumotoraks merupakan pengumpulan udara atau gas dalam rongga pleura, yang
berada antara paru-paru dan toraks. Pneumotoraks dapat terjadi secara spontan pada orang
tanpa kondisi paru-paru kronis (biasa disebut Pneumotoraks Primer) dan orang dengan
penyakit paru-paru (Pneumotoraks Sekunder). Selain itu, banyak juga ditemui kasus
pneumotoraks yang disebabkan trauma fisik pada dada, cedera akibat ledakan atau
komplikasi dari berbagai pengobatan. Udara dapat ke luar dari paru-paru ke rongga pleura
saat kantung udara di paru-paru, atau bulla, meledak. Latihan fisik secara berlebihan
dapat mendorong terjadinya pneumotoraks. Komplikasi kondisi paru-paru
seperti asma dan chronic obstructive pulmonary disease juga dapat memicu kondisi ini.
Dalam hal ini peran fisioterapis adalah membantu penderita dalam aspek promotif, yakni
memberikan fisioterapi kepada klien meliputi aspek psikososial, kultural, dan spiritual
untuk meningkatkan derajat kesehatan klien. Dalam aspek preventif untuk mencegah
timbulnya gejala dengan memberikan edukasi mengenai penyebab dan faktor pencetus.
Kemudian aspek kuratif yakni memberikan terapi dalam masa pengobatan ketika gejala
sudah muncul. Dan aspek rehabilitatif, yang merupakan terapi yang diberikan dalam masa
pemulihan.

2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan masalah uraian diatas, maka penulis dapat menemukan masalah-masalah


yang akan dilaporkan untuk “Penatalaksanaan Fisioterapi pada Pneumothorax Kanan
Spontan Sekunder dan Pyopneumothorax Kiri”.
1) Apakah segmental breathing excercise dapat membantu pengembangan paru pada
pasien pneumothoraks?
2) Apakah dengan deep breathing dapat meningkatkan kapasitas inspirasi pada pasien
pneumothoraks?
3. TUJUAN

Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas komprehensif fisioterapi kardiopulmonal pada semester VII


dan praktek klinis.

Tujuan Khusus

 Mengetahui pemeriksaan pada kasus Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder dan


Pyopneumothorax Kiri.
 Mengetahui problematik pada kasus Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder Dan
Pyopneumothorax Kiri.
 Menentukan intervensi yang tepat pada kasus Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder
Dan Pyopneumothorax Kiri.
 Menambah wawasan dan pengetahuan tentang peran fisioterapi pada kondisi
Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder Dan Pyopneumothorax Kiri.

4. MANFAAT

Manfaat penulisan makalah ini adalah:


a. Manfaat bagi fisioterapis
Memberikan informasi atau masukan bagi fisioterapis tentang penatalaksanaan
fisioterapi pada kondisi Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder Dan
Pyopneumothorax Kiri.
b. Manfaat bagi penulis
Menambah wawasan dan pemahaman tentang kondisi Pneumothorax Kanan Spontan
Sekunder Dan Pyopneumothorax Kiri
c. Manfaat bagi institusi pendidikan
Sebagai sarana pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik di lingkungan
pendidikan fisioterapi
d. Manfaat bagi masyarakat umum
Memberitahukan dan menyebarluaskan informasi tentang peran fisioterapi pada
kondisi Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder Dan Pyopneumothorax Kiri.
BAB II
KAJIAN TEORI

SISTEM RESPIRASI
1. DEFINISI
Respirasi merupakan proses pertukaran gas dalam tubuh dimana oksigen (O2) masuk
ke dalam tubuh lalu digunakan untuk metabolisme sehingga menghasilkan energi dan
karbondioksida (CO2) energi digunakan aktifitas dalam tubuh sementara sebagian CO2
dikeluarkan melalui paru-paru.

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Respirasi merupakan sebuah kegiatan paling utama dalam kehidupan dari aktifitas
tersebut, dapat dihasilkan energi karena salah satu komponennya merupakan O2 yang
didapat dari udara sekitar dan kemudian menghasilkan CO2, setiap hari manusia
membutuhkan sekitar 300liter oksigen per hari. Organ – organ yang terkait dalam proses
respirasi adalah sebagai berikut:

a) Rongga Hidung (cavum nasalis)


Rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir yang didalamnya terdapat kelenjar
minyak (kelenjar sebasea) dan juga kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Selaput
lendir sendiri bertugas untuk menangkap benda asing yang masuk lewat saluran
pernapasan, didalamnya juga terdapat rambut tebal dan pendek yang bertugas
menyaring kotoran yang ikut masuk bersama udara melalui rongga hidung. Terdapat
juga konka yang mempunyai banyak pembuluh darah bertugas untuk menghangatkan
udara yang masuk.
b) Faring
Faring merupakan percabangan dari dua saluran yaitu saluran pernapasan dan
pencernaan, pada bagian belakang faring terletak pita suara yang akan bergetar ketika
udara masuk yang terdengar sebagai suara. Fungsi utama faring sendiri bertugas
untuk menyediakan saluran bagi udara agar bisa keluar masuk, juga mengatur
jalannya makanan dan minuman, dan menyediakan ruang dengung untuk suara.
c) Laring
Laring merupakan suatu saluran yang dikelilingi oleh tulang rawan, salah satu
tulang rawan yang terdapat pada laring disebut epiglotis yang berfungsi untuk
memisah agar kerja pernapasan dan pencernaan tidak terjadi secara bersamaan. Laring
diselaputi oleh epitel berlapis pipih yang cukup tebal sehingga cukup kuat untuk
menahan getaran – getaran suara pada laring. Fungsi utama laring adalah untuk
menghasilkan suara dan sebagai tempat keluar masuknya udara.
d) Trachea
Trachea berbentuk pipa yang memiliki panjang ±10cm, dikelilingi oleh cincin
tulang rawan dan juga didalamnya bersilia berfungsi untuk menyaring kotoran yang
masuk. Trachea bercabang menjadi dua bronkus, kemudian bercabang lagi menjadi
bronkiolus.
e) Bronkus
Bronkus merupakan percabangan dari trachea, bronkus memiliki dua bagian
utama yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Bronkus kanan memiliki bentuk yang
lebih pendek dan lebih besar dan arahnya lebih vertical sementara bronkus kiri
memiliki bentuk yang lebih sempit dan lebih panjang dengan sudut yang lancip.
Bronkus utama memiliki dinding berlapis mukosa yang memiliki struktur yang sama
dengan trachea, namun tulang rawan yang menyusun bronkus memiliki bentuk yang
tidak teratur. Saat memasuki paru bronkus akan bercabang berulang kali menjadi
bronkus lobaris, bronkus segmental (percabangan generasi generasi 3 dan 4), dan
bronkus kecil (percabangan generasi 5-11). Fungsi utama dari bronkus adalah
menyediakan jalan bagi udara yang masuk dan keluar paru – paru.
f) Bronkiolus
Bronkiolus merupakan percabangan generasi 12-16 dari bronkus yang hanya
sedikit sekali mengandung kartilago. Bronkiolus terkecil (terminal) akan bercabang
menjadi bronkiolus respiratorius (percabangan generasi 17-19), dan kemudian
menjadi duktus dan sakus alveolaris.
g) Alveolus
Alveolus merupakan saluran akhir dari saluran pernapasan yang berupa
gelmbung-gelembung udara. Dinding alveolus sangat tipis, yaitu setebal selapis sel,
lembab dan berdekantan dengan kapiler-kapiler darah. Pada bagian alveolus inilah
terjadi pertukaran gas-gas O2 dari udara bebas ke sel-sel darah, sedangkan pertukaran
CO2 dari sel-sel tubuh ke udara bebas terjadi.
h) Paru – paru
Paru-paru terletak dalam rongga dada dibatasi oleh otot dada dan tulang rusuk,
pada bagian bawah dibatasi oleh otot diafragma yang kuat. Paru-paru merupakan
himpunan dari bronkeulus, saccus alveolaris dan alveolus. Paru-paru di bungkus oleh
selaput pleura yang berfungsi menghindari gesekan saat bernapas, diantara selaput
dan paru-paru terdapat cairan limfa yang berfungsi untuk melindungi paru-paru pada
saat mengembang dan mengempis. Paru-paru kanan memiliki 3 lobus dan paru-paru
kiri memiliki 2 lobus.

3. OTOT-OTOT BANTU PERNAPASAN


Otot pernapasan inspirasi yang utama adalah diafragma yang dipersyarafi oleh
n.peronicus yang dibantu oleh otot intercostalis externus. Selain itu, terdapat otot – otot
inspirasi tambahan yaitu sternocleidomastoideus, scaleneus, upper trapezius. Sementara
pada saat fase ekspirasi merupakan gerak pasif karena daya recoil paru, namun pada saat
ekspirasi paksa terdapat otot – otot yang bekerja yaitu; m.intercostalis internus, m.rectus
abdominis, m. obliqus internus, m. obliqus eksternus, & m. transversus abdominis.

4. VOLUME DAN TEKANAN PARU


1. Volume tidal (Tidal Volume, TV) merupakan volume udara yang keluar masuk paru –
paru saat pernapasan normal, nilai dari volume tidal ini sekitar 500mL, namun volume
ini juga dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, dan tinggi badan.
2. Volume cadangan ekspirasi (Expiratory Reserve Volume, ERV) merupakan selisih
dari volume udara saat ekspirasi istirahat dengan volume udara saat ekspirasi
maksimal. Jumlah volume ini berkisar 1000mL.
3. Volume cadangan inspirasi (Inspiratory Reserve Volume, IRV) merupakan selisih dari
volume udara inspirasi istirahat dengan volumeudara inspirasi maksimal. Jumlah
volume ini sekitar 3000mL.
4. Volume Residu (Residual Volume, RV) merupakan volume udara yang masih tersisa
didalam paru setelah ekspirasi maksimum. Nilainya adalah 1200mL.
5. Kapasitas Vital (Vital Capacity, VC) adalah voluidal maksimum, yaitu jumlah udara
selama inspirasi maksimum dan kemudian dilanjutkan dengan eksprasi maksimum.
Nilainya adalah 4500mL.
6. Kapasitas Residu Fungsional (Fungsional Residual Volume, FRC) adalah volume
udara yang masih tersisa dalam paru setelah ekspirasi normal. Nilainya adalah
2200mL.
7. Kapasitas Paru Total (Total Lung Capacity, TLC) adalah jumlah total volume udara
yang masuk secara maksimal dan keluar secara maksimal ditambah dengan volume
udara yang masih tersisa didalam paru. Nilainya adalah 5700 mL

5. MEKANISME PERNAPASAN
Adanya udara yang dapat masuk dan keluar pada paru – paru disebabkan oleh adanya
perbedaan tekanan antara tekanan intrapleura dengan tekanan atmosfer. Pada saat proses
insprirasi terjadi perluasan rongga thorax sehingga membuat tekanan intrapleura menjadi
lebih negative sehingga menyebabkan paru dan alveoli mengembang, dan tekanan
alveolar menjadi rendah. Hal ini menyebabkan udara di sekitar memiliki tekanan yang
lebih tinggi daripada tekanan udara didalam sehingga udara dilingkungan tertarik
kedalam paru. Sementara pada proses ekspirasi tekanan intrapleura dan tekanan alveolar
meningkat, dan merupakan proses pasif dalam menurunkan volume intratorakal akibat
daya recoil paru yang cenderung menciut.

PNEUMOTHORAX KANAN SPONTAN SEKUNDER DAN PYOPNEUMOTHORAX


KIRI

PNEUMOTHORAKS
1. DEFINISI
Pneumothorax adalah adanya udara dalam rongga pleura. Pneumothorax dapat terjadi
secara spontan atau karena trauma (British Thoracic Society 2003). Secara normal,
tekanan di dalam paru-paru lebih besar dibandingkan tekanan dalam rongga pleura yang
mengelilingi paru. Namun, jika udara memasuki ruang pleura, tekanan pada pleura akan
menjadi lebih besar dari pada tekanan paru-paru, menyebabkan paru kolap sebagian atau
seluruhnya.

Dalam keadaan normal, paru tidak terisi oleh udara, supaya paru leluasa mengembang
terhadap rongga pleura. Udara masuk ke dalam rongga pleura melalui 3 jalan yaitu:

 Udara dari luar dan terdapat penetrasi dinding dada.


 Pembentukan gas/udara oleh mikroorganisme dalam dinding pleura pada penyakit
empiema.
Pneumothoraks lebih sering terjadi pada penderita dewasa yang berumur sekitar 40
tahun. Laki-laki lebih sering dari pada wanita. Pneumothorak lebih sering dijumpai pada
musim penyakit batuk.

Perkiraan tahunan angka kejadian pneumotorak spontan primer adalah antara 7,4 dan 18
kasus per 100.000 populasi pada laki-laki dan antara 1,2 dan 6 kasus per 100.000 populasi
pada wanita. Pneumotoraks terjadi terbanyak pada postur tinggi, laki-laki muda kurus
dibanding usia 30 tahun. Merokok dapat meningkatkan resiko pneumotoraks spontan.
Resiko berhubungan dengan jumlah rokok yang dihisap.

PYOPNEUMOTORAKS :

Pyopneumotoraks terdapatnya pneumotoraks di sertai empiema secara bersamaan pada


sisi paru . Infeksinya berasal dari mikro-organisme yang membentuk gas dan robekan
septik jaringan paru dan esofagus ke arah rongga pleura.

Etiologi pyopneumotoraks biasanya berasal dari paru seperti pneumonia, abses paru,
adanya fistula bronkopleura, bronkiektasis, tuberkulosis paru, aktinomikosis paru, dan
dari luar paru seperti trauma toraks, pembedahan toraks, torakosentesis pada efusi pleura,
abses sub phrenik dan abses hati amuba. (J Med Nus. 2005; 26:30-35)

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Anatomi
Suatu lapisan tipis yang kontinu mengandung kolagen dan jaringan elastin, dikenal
sebagai pleura, melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi setiap paru-
paru (pleura viseralis). Diantara pleura parietalis dan viseralis terdapat suatu lapisan tipis
cairan pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan bergerak selama
pernapasan dan untuk mencegah pemisahan toraks dan paru-paru.

Karena tidak ada ruangan yang sesungguhnya memisahkan pleura parietalis dan pleura
viseralis, maka apa yang disebut rongga pleura atau kavitas pleura hanyalah suatu
ruangan potensial saja. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir,
mencegah kolaps paru. Bila terserang penyakit, pleura mungkin mengalami peradangan,
atau udara atau cairan dapat masuk ke dalam rongga pleura, menyebabkan paru-paru
tertekan atau kolaps.
Fisiologi
Pada waktu inspirasi tekanan intrapleura lebih negatif daripada tekanan intrabronkial,
maka paru mengembang mengikuti gerakan dinding toraks sehinga udara dari luar dengan
tekanan permulaan nol, akan terisap masuk melalui bronkus hingga mencapai alveol.
Pada saat ekspirasi, dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intrapleura
akan lebih tinggi daripada tekanan udara alveol ataupun di bronkus, akibatnya udara akan
ditekan keluar melalui bronkus.

3. KLASIFIKASI
Pneumothoraks lebih sering terjadi pada penderita dewasa yag berumur sekitar 40 tahun.
Laki-laki lebih sering dari pada wanita. Pneumothorax sering dijumpai pada musim
penyakit batuk.
Terdapat beberapa jenis pneumotoraks yang dikelompokkan berdasarkan penyebabnya:
1. Pneumotoraks spontan
Terjadi tanpa penyebab yang jelas. Pneumotoraks spontan primer terjadi jika pada
penderita tidak ditemukan penyakit paru-paru. Pneumotoraks ini diduga disebabkan
oleh pecahnya kantung kecil berisi udara di dalam paru-paru yang disebut bleb atau
bulla. Penyakit ini paling sering menyerang pria berpostur tinggi-kurus, usia 20-40
tahun. Faktor predisposisinya adalah merokok sigaret dan riwayat keluarga dengan
penyakit yang sama. Pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari
penyakit paru-paru (misalnya penyakit paru obstruktif menahun, asma, fibrosis kistik,
tuberkulosis, batuk rejan).
2. Pneumotoraks traumatik
Terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa bersifat menembus (luka
tusuk, peluru) atau tumpul (benturan pada kecelakaan kendaraan bermotor).
Pneumotoraks juga bisa merupakan komplikasi dari tindakan medis tertentu
(misalnya torakosentesis).
3. Pneumotoraks karena tekanan
Terjadi jika paru-paru mendapatkan tekanan berlebihan sehingga paru-paru
mengalami kolaps. Tekanan yang berlebihan juga bisa menghalangi pemompaan
darah oleh jantung secara efektif sehingga terjadi syok.
PNEUMOTHORAKS SPONTAN SEKUNDER
Terjadi akibat komplikasi dari penyakit paru yang mendasarinya atau dapat
pula sebagai akibat rupturnya bulla. Adanya penyakit paru menyebabkan timbulnya
defek atau kelemahan pada dinding alveoli atau pleura. Jika suatu saat terjadi
peningkatan tekanan di jalan napas seperti pada batuk atau penyakit menahun maka
alveolus atau pleura akan pecah sehingga timbul pneumothoraks.

4. PATOFISIOLOGI
Paru-paru dibungkus oleh pleura parietalis dan pleura visceralis. Di antara pleura
parietalis dan visceralis terdapat cavum pleura. Cavum pleura normal berisi sedikit cairan
serous jaringan. Tekanan intrapleura selalu berupa tekanan negatif. Tekanan negatif pada
intrapleura membantu dalam proses respirasi. Proses respirasi terdiri dari 2 tahap : fase
inspirasi dan fase eksprasi. Pada fase inspirasi tekanan intrapleura : -9 s/d -12 cmH2O;
sedangkan pada fase ekspirasi tekanan intrapleura: -3 s/d -6 cmH2O.

Pneumotorak adalah adanya udara pada cavum pleura. Adanya udara pada cavum
pleura menyebabkan tekanan negatif pada intrapleura tidak terbentuk. Sehingga akan
mengganggu pada proses respirasi.

Pneumotorak spontan terjadi karena lemahnya dinding alveolus dan pleura


visceralis. Apabila dinding alveolus dan pleura visceralis yang lemah ini pecah, maka
akan ada fistel yang menyebabkan udara masuk ke dalam cavum pleura. Mekanismenya
pada saat inspirasi rongga dada mengembang, disertai pengembangan cavum pleura yang
kemudian menyebabkan paru dipaksa ikut mengembang, seperti balon yang dihisap.
Pengembangan paru menyebabkan tekanan intralveolar menjadi negatif sehingga udara
luar masuk. Pada pneumotorak spontan, paru-paru kolpas, udara inspirasi ini bocor
masuk ke cavum pleura sehingga tekanan intrapleura tidak negatif. Pada saat inspirasi
akan terjadi hiperekspansi cavum pleura akibatnya menekan mediastinal ke sisi yang
sehat. Pada saat ekspirasi mediastinal kembali lagi ke posisi semula. Proses yang terjadi
ini dikenal dengan mediastinal flutter.

Pneumotorak ini terjadi biasanya pada satu sisi, sehingga respirasi paru sisi sebaliknya
masih bisa menerima udara secara maksimal dan bekerja dengan sempurna.
5. TANDA DAN GEJALA
Gejalanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara yang masuk ke dalam
rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami kolaps (mengempis).
Gejalanya bisa berupa:
 Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika penderita
menarik napas dalam atau terbatuk
 Sesak napas
 Dada terasa sempit
 Mudah lelah
 Denyut jantung yang cepat
 Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.
Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat atau tidur. Gejala lainnya yang
mungkin ditemukan:
 Hidung tampak kemerahan
 Cemas, stres, tegang
 Tekanan darah rendah (hipotensi)

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA PNEUMOTHORAKS


DEFINISI FISIOTERAPI
Fisioterapi sebagai salah satu pelaksanaan pelayanan kesehatan, meliputi masalah
gerak dan fungsi dengan kajian menyangkut aspek peningkatan (promotif), aspek
pencegahan (preventif), aspek penyembuhan (kuratif), aspek pemulihan dan
pemeliharaan (rehabilitasi) untuk mewujudkan program pemerintah yaitu program sehat
2010 (DepKes RI, 1999)

DEFINISI FISIOTERAPI
Fisioterapi sebagai salah satu pelaksanaan pelayanan kesehatan, meliputi masalah
gerak dan fungsi dengan kajian menyangkut aspek peningkatan (promotif), aspek
pencegahan (preventif), aspek penyembuhan (kuratif), aspek pemulihan dan
pemeliharaan (rehabilitasi) untuk mewujudkan program pemerintah yaitu program sehat
2010 (DepKes RI, 1999)

PROSES FISIOTERAPI
A. ANAMNESIS:
Anamnesis adalah proses tanya jawab untuk mendapatkan data pasien, meliputi
keadaan dan keluhan yang dialami oleh pasien. Anamnesa terbagi menjadi dua jenis,
yaitu auto anamnesa dan allo anamnesa. Auto anamnesa yaitu apabila tanya jawab
dilakukan dengan pasien sendiri, sedangkan allo anamnesa yaitu apabila tanya jawab
dilakukan dengan orang lain yang dianggap mengetahui keadaan pasien (care giver).
1. Anamnesis umum: identitas pasien
Berisi nama paien, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pekerjaan pasien, pendidikan
terakhir dan hobi.
2. Anamnesis khusus
a. Keluhan utama
Merupakan keluhan atau gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Pada kasus paru
biasanya pasien mengeluhkan sesak napas, batuk dengan atau tanpa dahak, dan
nyeri dada.
b. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat perjalanan penyakit yang menggambarkan riwayat penyakit secara
lengkap dan jelas. Dalam kasus paru biasanya yang ditanyakan :
Sesak : Pada kondisi apa timbulnya, berapa lama, penyebabnya
Batuk : Pada kondisi/posisi apa timbul batuk
Jenis batuk  batuk kering (alergi), basah (berdahak), spastik (batuk
secara terus menerus, samapi perut kram.
Dahak : Tanyakan jumlah (buat perbandingannya), warna (putih ,hijau,
kuning), dan kekentalan
Nyeri dada: Kapan,kondisi bagaimana, durasi, penyebabnya.
c. Riwayat penyakit dahulu merupakan daftar penyakit fisik atau psikiatrik yang
pernah diderita ssebelumnya seperti penyakit serius, trauma, diabetes, ataupun
hipertensi.
d. Riwayat penyakit keluarga merupakan penyakit dengan kecenderungan herediter
atau menurun
e. Riwayat psikososial merupakan keadaan psikologi atau sosial pasien yang diduga
mempengaruhi kondisi penyakit.

B. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Umum
-Cara datang : bagaimana pasien mendatangi fisioterapis, pola jalan
dan kemandirian.
-Kesadaran : bagaimana keadaan kesadaran pasien saat mendatangi
fisioterapis
-Kooperatif/tidak kooperatif
-Tensi : merupakan ukuran tekanan darah pasien, apakah hipertensi,
hipotensi, atau normal.
-Nadi : merupakan acuan untuk dilakukannya latihan atau tidak.
-RR : untuk menilai bagaimana frekuensi pernapasan pasien
ketika akan melakukan latihan
-Suhu : pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan
termometer (afebris / febris)

2. Pemeriksaan Khusus
Inspeksi
a. Bagian kepala dan leher
- Warna muka/bibir (pucat, cyanosis)
- Pernapasan hidung/cuping hidung (tampak atau tidak)/Pursed lips breathing
- Hipertrofi otot bantu pernapasan.
b. Bagian thorak
- Tampak depan : kedudukan bahu, posisi clavicula, deformitas dada, kedudukan
papilla mammae, dan arm pit
- Tampak samping : leher lordosis/protraksi, pundak protraksi/retraksi, bentuk
lingkar dada, dan postur tubuh hiperkifosis/hiperlordosis
- Tampak belakang : kedudukan bahu, arm pit, bentuk dan lengkung iga, posisi
spine trehadap garis vertikal, hump, dan kedudukan kedua scapula
- Bentuk dada
a) Barrel chest
b) Paralitik
- Deformitas
a) Skoliosis
b) Kifosis
c) Lordosis
d) Pectus Excavatum (dada cekung)
e) Pectus Karinatum (dada burung)
- Lihat ada atau tidaknya bekas jahitan operasi dan pemasangan WSD
- Irama napas (teratur/tidak, cepat/lambat)
- Pola napas (abdominal atau thorakal breathing)
- Pengambangan dada (simetris/tidak)
c. Bagian perifer
- Warna kulit (Cyanosis atau kebituan)
- Clubbing finger
- Oedem

Palpasi
a. Pemeriksaan gerak napas (torakal, abdominal breathing)
b. Gerak pengembangan simetris dada (upper, midlle, dan lower)
c. Ekspansi thorak
d. Fremitus
e. Spasme otot-otot bantu pernapasan

Gerak
a. Pemeriksaan ROM
Pergerakan dalam lingkup gerak sendi sesuai dengan ekstremitas yang
bermasalah dengan menggunakan goneometer.
b. Pemeriksaan Manual Muscle Testing
Pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan tahanan Manual dari
terapis untuk mengetahui kekuatan otot pada sisi anggota tubuh yang
bermasalah. Yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan ini ialah :
 Posisi pasien
 Stabilisasi
 Besarnya Tahanan yang diberikan
Kriteria Hasil MMT ialah sebagai berikut :
Nilai (angka) Nilai (verbal) Keterangan

0 Zero tidak ada kontraksi otot

1 Trace Ada kontraksi otot tetapi


tidak ada gerakan sendi

2 Poor Kontraksi otot, ada gerakan


sendi, belum bisa melawan
gravitasi

3 Fair Ada kontraksi otot dapat


menggerakan sendi secara
penuh dengan melawan
gravitasi

4 Good kontraksi otot dengan


gerakan sendi penuh,
mampu melawan gravitasi
dengan tahanan ringan

5 Normal kontraksi otot dengan


gerakan sendi penuh,
mampu melawan gravitasi
dengan tahanan penuh

c. Tes Khusus
1. Derajat sesak napas (Borg Scale)
0 Tidak ada sama sekali
0,5. Sangat-sangat ringan
1. Sangat ringan
2. Ringan
3. Sedang
4. Agak berat
5. Berat
6.
7. Sangat berat
8
9. Sangat-sangat berat
10. Maksimal
2. Skala Nyeri (VAS)

C. PROBLEMATIK FISIOTERAPI
Problematik didapat dari hasil pemeriksaan yang diurutkan berdasarkan prioritas.
Problematik fisioterapi berhubungan dengan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka
panjang serta intervensi yang akan diberikan untuk mengatasi problematik tersebut.

D. DIAGNOSA FISIOTERAPI
Berisikan tentang penegakan diagnosis fisioterapi berdasarkan prioritas masalah yang
dialami pasien yang meliputi gangguan gerak dan fungsi, jaringan spesifik yang terkena
dan patologi.

E. INTERVENSI FISIOTERAPI
Intervensi fisioterapi ialah implementasi perencanaan dan memodifikasi untuk mencapai
tujuan yang disepakati, mencakup : penanganan manual, peningkatan gerak, peralatan
fisis, peralatan elektroterapeutis dan peralatan mekanis, pelatihan fungsional, penentuan
bantuan dan peralatan bantuan, dokumentasi dan koordinasi, komunikasi.

F. HOME PROGRAM (EDUKASI)


Merupakan program latihan maupun edukasi yang diberikan oleh fisioterapis kepada
pasien untuk dilakukan dirumah, program ini diberikan agar tujuan yang ingin dicapai
oleh pasien, terapis, maupun keluarga dapat diraih. Home program sebaiknya dilakukan
oleh pasien dan didampingi oleh keluarga pasien.

G. EVALUASI
Evaluasi dilakukan sebelum dan setelah dilakukan intervensi. Evaluasi hasil terapi:
berisikan mengenai sudah berapa kali pasien diterapi dan apakah ada kemajuan atau tidak
dari hasil terapi yang sudah dilakukan serta untuk menilai berhasil atau tidakkah program
yang diberikan kepada pasien. Adapun hal-hal yang dievaluasi dalam kasus ini
berdasarkan problem fisioterapi yang telah ditemukan di dalam kondisi pasien. Evaluasi
tersebut meliputi;
S (Subjektif) : berisikan evaluasi terhadap keluhan subjektif pasien, seperti
kelemahan pada tangan dan kaki
O (Objektif) : berisikan evaluasi terhadap problem fisioterapi yang dihadapi pasien,
hal tersebut dinilai berdasarkan pemeriksaan umum dan khusus.
A (Assesment) : berisikan diagnosa fisioterapi yang dialami oleh pasien setelah
dilakukan pemeriksaan kembali.
P (Planning) : berisikan intervensi fisioterapi dan dosis terapi yang diberikan.
BAB III

URAIAN KASUS
DEPARTEMEN REHABILITASI MEDIK
RSUP PERSAHABATAN JAKARTA
FORMULIR FISOTERAPI

Nama Fisioterapis : Kiriyadi, SSt.FT Peminatan : Kardiorespirasi


Nama Dokter : dr. Anita R, SpKFR Ruangan : Soka Atas 02
Nomor Register : 204.75.69 Tgl Pemeriksaan : 19/9/2015

A. PENGUMPULAN DATA IDENTITAS PASIEN:


Nama Inisial : Ny.M
Tempat & tgl Lahir : Jakarta, 10 Oktober 1963
Alamat : Menteng atas
Pendidikan terakhir : SD
Pekerjaan : Pembantu rumah tangga
Hobi : Menonton TV
Diagnosis Medik : Pneumothorax kanan spontan sekunder dan pyopneumothorax kiri

B. PENGUMPULAN DATA RIWAYAT PENYAKIT


KU : Os merasa nyeri pada daerah pemasangan WSD.

RPS : Tanggal 19 September 2015 pukul 09:00 os baru saja melakukan pergantian
selang WSD (Water Seal Drainage). Os merasa nyeri pada bagian pemasangan WSD. Os
merasa nyeri saat melakukan aktivitas seperti berpindah posisi saat turun dari kasur dan
saat batuk. Os merasa sesak dan gemetar setelah buang air besar dan saat berdiri terlalu
lama. Os tidak merasa ada dahak saat batuk, batuk jarang dan sekali-kali hanya ketika
tenggorokan terasa gatal. Os masuk ke RSUP Persahabatan pada tanggal 23 Juli 2015
dengan keluhan sesak kuat dan badan terasa panas dingin. Dan didiagnosa TB paru
klinis, hidropneumothorax kiri dan pneumothorax kanan spontan sekunder. Setelah
sehari dirawat inap, tanggal 24 Juli 2015 os di operasi pemasangan WSD pada paru kiri
nya. 4 hari kemudian tanggal 28 Juli 2015, os di operasi pemasangan WSD di paru
sebelah kanannya. Dan dirawat hingga sekarang serta mengonsumsi obat yang diberi
oleh rumah sakit.

RPD : Os pernah mengalami sesak lalu pergi ke puskesmas Setia Budi, setelah itu
os berobat ke RS. Agung dan didiagnosa TB paru klinis, dan hidropneumothorax, tulang
belakang sakit dan merasa sesak. Kemudian os dirujuk ke RSUP Persahabatan.
Asma (-) Merokok (-)
DM (-) Jantung (-)

RPK: Ibu dan paman os juga memiliki riwayat sesak nafas. Sebelumnya Alm suami Os
merupakan perokok aktif dan Os tinggal di daerah permukiman yang banyak asap dan
polusi jalanan.

Rpsi : Os tinggal sendiri karena suami sudah meninggal. Selama dirawat os merasa tidak
sesak lagi.

C. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Umum
a. Cara datang : Pasien berbaring di bed
b. Kesadaran : composmentis
c. Kooperatif
d. Tensi : 110/60 mmHg
e. RR : 20 x/menit
f. Status Gizi : Berat Badan : 33 kg ; Tinggi Badan : 148 cm
IMT = BB /(TB/100)2
IMT = 33 kg/ (148 cm/100)2
IMT = 15,1 kg/m2 , underweight
g. Suhu : 37 C
h. Sat. O2 : 99% (saat terpasang O2 1 lpm) ; HR: 105 x/menit

2. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Statis :
Bagian kepala dan leher :
1) Warna muka : normal
2) Konjungtiva : pucat
3) Warna bibir : normal
4) Gerakan cuping hidung : tidak ada
5) Kontraksi otot bantu pernapasan : ya, m. sternocleidomastoideus
6) Clubbing Finger : tidak ada

Bagian thorak
1) Bentuk dada : Paralitik
2) Irama napas : Pendek dan dalam
3) Postur posisi berdiri :
a) Tampak Depan
- head tilting kesebelah kiri
- clavicula kanan lebih tinggi dari clavicula kiri
- axilla kanan lebih tinggi dari axilla kiri
- papilla mamae kanan lebih tinggi dari papilla mamae kiri
- bahu kanan lebih tinggi daripada bahu kiri
- body arm space : jarak antara tubuh dan lengan atas, sebelah kanan lebih
jauh dibanding kiri

b) Tampak Samping
- adanya forward head
- bahu protraksi
- postur tubuh : kifosis

c) Tampak Belakang :
- Jarak scapula kiri dengan prosesus spinosus lebih jauh di bandingkan
dengan scapula kanan
- Pelvic : asimetri
- Vertebra : Skoliosis

Dinamis :

1) Pola napas saat duduk : thoracal


b. Palpasi
1) Ada peningkatan suhu pada thorax kiri
2) Spasme pada otot : upper trapezius, scalene, sternocleidomastoideus
3) Gerakan pengembangan simetris dada
Regio Kesimterisan

Upper Kanan > Kiri


Middle Kanan > Kiri
Lower Kanan > Kiri
Keterangan : pengembangan simetris dada abnormal
4) Fremitus : Kiri
5) Tonus Otot : Hipotonus dan atropi otot

c. Pemeriksaan Fungsi
Pengukuran mobilitas lingkar dada (ekspansi thorak)

Bagian Inspirasi – Ekspirasi Selisih Nilai Normal


Upper 72cm – 71cm 1 2-3 cm
Middle 77cm – 76cm 1 3-5 cm
Lower 65 cm – 64cm 1 5-7 cm
Keterangan : Ekspansi thoraks abnormal pada upper middle dan lower chest.
d. Pemeriksaan endurance (Six minutes walking test): masih belum bisa dilakukan
e. Pemeriksaan skala nyeri dengan VAS: 7
f. Pemeriksaan sesak borg scale : 2
g. Pemeriksaan gerak
ROM dan MMT
PLANE ROM MMT
NECK Sagital 20 – 0 – 10 3+
(Extension/Flexion) N : 40 – 0 – 40
Frontal 32 – 0 – 25 3+
(Side flexion N: 45 – 0 – 45
left/right)
Rotation 45 – 0 – 40 3+
(left/right) N: 50 – 0 – 50
SHOULDER Sagital 50 – 0 – 105 3+ / 4- 3+ / 4-
(ekstensi-fleksi) N: 50 – 0 – 170
Frontal 90 – 0 – 0 3+ / 4- 3+ / 4-
(abduksi-adduksi) N: 170 – 0 – 0
Rotasi 3+ / 4- 3+ / 4-
(eksternal rot- 55 – 0 – 70
internal rot) N: 60 – 0 – 70
Horizontal 3+ / 4- 3+ / 4-
Abduction/ 105 – 0 – 10
Adduction N: 135 – 0 – 45

ROM : ISOM (International Standard Orthopaedic Measurements)

D. DIAGNOSA PENUNJANG
- X ray:
- CT Scan :
- BTA ( Tes Dahak) :
- Hasil Spirometri :
- Analisa Gas Darah
E. 1. URUTAN MASALAH FISIOTERAPI BERDASARKAN PRIORITAS
 Nyeri gerak dan tekan bilateral paru pada daerah WSD
 Gangguan ekspansi thorax kiri
 Spasme otot sternocleidomastoideus, scalene, upper trapezius
 Keterbatasan ROM shoulder
 Gangguan Posture
 Penurunan endurance kardiorespirasi

2. DIAGNOSA FISIOTERAPI
 Gangguan fungsi pernapasan terkait dengan adanya nyeri gerak dan tekan bilateral
paru pada daerah WSD, gangguan ekspansi thorax kiri, spasme otot
sternocleidomastoideus, scalene, upper trapezius, keterbatasan ROM dan penurunan
endurance et causa Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder Dan Pyopneumothorax
Kiri.

F. PROGRAM PELAKSANAAN FISIOTERAPI


1. Pengumpulan data program fisioterapi dari dokter Rehabilitasi Medik
- Chest Fisioterapi
- Segmental Breathing
- Perbaiki Postur
- AROM UE sinistra dan dextra

2. Tujuan
a) Tujuan jangka pendek :
 Meningkatkan ekspansi thorax
 Perbaiki postur
 Meningkatkan ROM
 Mengurangi spasme otot
b) Tujuan Jangka panjang :
 Meningkatkan endurance
 Memperbaiki postur
3. Metode Pemberian Fisioterapi
No Jenis Metoda Dosis Keterangan
1 Chest Chest Mobility F: 2-3x perhari Untuk meningkatkan
Fisioterapi ekspansi thorak,
I : 5-10 repetisi
memperbaiki postur
D: 10 menit
tubuh, meningkatkan
ROM sendi bahu.

F : 3x seminggu Untuk meningkatkan


2. Chest Deep breathing
D : 5 menit kapasitas inspirasi.
Fisioterapi

F : 3x seminggu Untuk meningkatkan


3. Chest Segmental
D : 5 menit ekspansi thorax.
Fisioterapi Breathing

F: 3x seminggu
4. Manual Stretching M. Upper Untuk mengurangi
D : 5 menit
Stretching Trapezius spasme otot.

4. Uraian Tindakan Fisioterapi\


a. Chest Mobility
Tujuan :
 Meningkatkan ekspansi thorax
 Meningkatkan ROM sendi bahu
 Memperbaiki postur tubuh
Tatalaksana :
Posisi pasien : Berdiri depan samping terapis
Posisi terapis : Depan samping pasien
- Mengangkat tangan dari bawah ke atas (tarik napas selama 6 detik dan
keluar napas 3 detik)
- Mengangkat tangan dari samping ke atas
- Merentangkan tangan dari depan ke samping
- Memutarkan sendi bawah
- Tekuk siku hingga posisi tangan di depan dada, lalu buka ke samping
- Tekuk siku hingga posisi tangan di samping tubuh, lalu lakukan
gerakan memutar

b. Deep Breathing Exercise


Tujuan :
 Untuk meningkatkan kapasitas inspirasi.
Tatalaksana:
Posisi pasien : duduk
Posisi terapis : depan samping pasien
Pasien diminta bernapas melalui perut / abdomen. Pasien menarik napas
dengan mengembangkan perut, dan mengeluarkan napas dengan
mengempiskan perut.

c. Segmental Breathing
Tujuan :
 Untuk meningkatkan ekspansi thorax.
Tatalaksana:
Posisi pasien : berbaring di bed
Posisi terapis : di tepi bed pasien
Terapis memberikan tekanan pada daerah paru pasien yang bermasalah saat
inspirasi.

d. Strecthing M. Upper Trapezius


Tujuan :
 Untuk mengurangi spasme
 Melancarkan sirkulasi darah
Tatakasana:
Pasien duduk tegak, kepala ke arah diagonal (melihat ke arah lateral paha),
kemudian tangan terapis memfiksasi di trapezius kanan, tangan satunya
memberi sedikit tekanan kearah fleksi diagonal kiri
5. EDUKASI
1. Latihan chest mobility, ulangi 2-3x sehari
2. Latihan deep breathing, ulangi 2-3x sehari
3. Latihan self stretching otot upper trapezius, ulangi 2-3x sehari
4. Latihan jalan ditempat selama 5 menit
5. Latihan duduk ke berdiri selama 1 menit
6. Latihan inspirasi dengan inspiratory muscle training.

6. EVALUASI
Evaluasi 1 pada tanggal 19 September 2015 (pkl. 11.00 WIB)
S: sakit pada area WSD dan cepat lelah
O: 1. SPO2  99 %
2. HR  93 x/menit
3. TD  110/60 mmHg
4. Ekspansi thoraks

Bagian Inspirasi – Ekspiras i Selisih Nilai Normal


Upper 72 cm -71 cm 1 cm 2-3 cm
Middle 77 cm – 76 cm 1 cm 3-5 cm
Lower 65 cm – 66 cm 1 cm 5-8 Cm

A: Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder dan Pyopneumothorax Kiri


P: Chest Mobility, Deep Breathing Exercise, Segmental Breathing dan Stretching M.
Upper Trapezius.

Evaluasi 2 pada tanggal 22 September 2015


S: sakit pada area WSD dan cepat lelah
O: 1. SPO2  99%
2. HR  89 x/menit
3. TD  110/70 mmHg
4. Ekspansi thoraks

Bagian Inspirasi – Ekspirasi Selisih Nilai Normal


Upper 72 cm -71 cm 1 2-3 cm
Middle 77 cm -76 cm 1 3-5 cm
Lower 65 cm -64 cm 1 5-8 Cm

A: Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder dan Pyopneumothorax Kiri


P: Chest Mobility, Deep Breathing Exercise, Segmental Breathing dan Stretching M.
Upper Trapezius.
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pyopneumotoraks terdapatnya pneumotoraks disertai empiema secara bersamaan
pada sisi paru . Infeksinya berasal dari mikro-organisme yang membentuk gas dan
robekan septik jaringan paru dan esofagus ke arah rongga pleura. Etiologi
pyopneumotoraks biasanya berasal dari paru seperti pneumonia, abses paru, adanya
fistula bronkopleura, bronkiektasis, tuberkulosis paru, aktinomikosis paru, dan dari
luar paru seperti trauma toraks, pembedahan toraks, torakosentesis pada efusi pleura,
abses sub phrenik dan abses hati amuba.
Pneumotoraks merupakan pengumpulan udara atau gas dalam rongga pleura, yang
berada antara paru-paru dan toraks. Terjadi akibat komplikasi dari penyakit paru yang
mendasarinya atau dapat pula sebagai akibat rupturnya bulla. Adanya penyakit paru
menyebabkan timbulnya defek atau kelemahan pada dinding alveoli atau pleura. Jika
suatu saat terjadi peningkatan tekanan di jalan napas seperti pada batuk atau penyakit
menahun maka alveolus atau pleura akan pecah sehingga timbul pneumothoraks. Jika
udara memasuki ruang pleura, tekanan pada pleura akan menjadi lebih besar dari pada
tekanan paru-paru, menyebabkan paru kolap sebagian atau seluruhnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisioterapi pada Ny. M, pasien Pneumothoraks
kanan spontan sekunder dan pyopneumothorax kiri didapat beberapa permasalahan,
yaitu:
o Nyeri tekan dan gerak bilateral area pemasangan WSD
o Gangguan pengembangan pengembangan paru kanan dan kiri
o Spasme otot m.sternocleidomastoideus, scalene dan upper trapezius
o Keterbatasan ROM shoulder
o Gangguan Postur
o Penurunan endurance kardiorespirasi
Dengan mengacu pada problematik yang disebutkan di atas, kami memberikan
intervensi untuk mengatasi problem tersebut dengan chest mobility, deep breathing
exercise, segmental breathing dan stretching.
Hasil dari intervensi tersebut disimpulkan bahwa segmental breathing dapat mengacu
pengembangan thorax kiri pasien. Deep breathing dapat meningkatan kapasitas
inspirasi pasien. Chest mobility dapat membantu perkembangan thorax dan
memperbaiki postur. Dan stretching dapat mengurangi spasme otot bantu pernapasan.

B. SARAN
Dalam menangani permasalahan pada pasien Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder
dan Pyopneumothorax Kiri, sangat diperlukan kerjasama dari berbgai pihak (Tim
medis, Pasien, dan Keluarga pasien) agar dapat tercapai hasil yang optimal dalam
proses penyembuhannya. Saran yang dapat penulis kemukakan disini adalah sebagai
berikut :

◦ Saran bagi pasien dengan kasus Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder dan
Pyopneumothorax Kiri agar melakuan latihan secara rutin seperti yang
diajarkan terapis
◦ Saran bagi masyarakat, agar segera memeriksakan diri ke dokter atau
puskesmas setempat apabila mengalami gangguan pernafasan
◦ Saran bagi fisioterapi, agar melakukan proses fisioterapi dengan tepat dan
cermat sehingga pasien dengan kasus Pneumothorax Kanan Spontan Sekunder
dan Pyopneumothorax Kiri agar dapat ditangani dengan baik dan tidak
menimbulkan komplikasi penyakit lain.