Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

— -Ilmu antropologi forensik termasuk ilmu yang relatif baru. Walaupun pada
awal abad ke-19 terdapat pemecahan kasus pembunuhan dengan menggunakan
data pemeriksaan tulang dan bagian – bagian tubuh, namun keterkaitan antara
antropologi dan penyelidikan polisi baru terjadi di tahun 1930-an. Pembunuhan
antar geng pada tahun 1930-an membuat FBI mulai menyelidiki berdasarkan
antropologi fisik.1
—-Perang dunia kedua dan Perang saudara di Korea membantu menyediakan data
dasar mengenai informasi yang akan menjadi dasar identifikasi yang digunakan
oleh antropologis saat ini. Dimulai dari penugasan identifikasi pada tentara yang
mati. Para tentara yang akan bertempur membuat data kesehatan (catatan medis)
sebelum diberangkatkan ke medan pertempuran, meliputi data usia, tinggi badan,
riwayat penyakit terdahulu dan catatan dental, sehingga para penyelidik mampu
untuk menentukan identitas para tentara dan membuat data statistik mengenai
tulang dan tengkorak.1
—-Beberapa tahun terakhir, pemeriksaan antropologi forensik makin berkembang
seiring dengan pemeriksaan kejahatan yang menjadi lebih kompleks. Identifikasi
dari rangka dan sisa tubuh yang membusuk lainnya penting untuk alasan hukum
maupun alasan kemanusiaan. 2
—-Antropologi forensik merupakan aplikasi dari ilmu fisik atau biologi
antropologi dalam proses hukum. Merupakan pemeriksaan pada sisa – sisa rangka
untuk membantu menentukan identitas dari jasad. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan sebagai langkah pertama untuk menentukan apakah sisa-sisa tersebut
berasal dari manusia dan selanjutnya dapat menentukan jenis kelamin, perkiraan
usia, bentuk tubuh, dan pertalian ras. Pemeriksaan dapat juga memperkirakan
waktu kematian, penyebab kematian dan riwayat penyakit dahulu atau luka yang
saat hidup menimbulkan jejas pada struktur tulang. 2,3

1
—-Sebagai contoh, jika rangka ditemukan di hutan, maka rangka akan dibawa ke
laboratorium untuk ditentukan apakah rangka yang tertinggal merupakan rangka
manusia, binatang atau material anorganik. Jika manusia, maka akan diperkirakan
umur saat kematian, ras, jenis kelamin dan tinggi dari jasad. Jika rangka
menunjukkan bukti bahwa telah dimakamkan dalam waktu lama atau dengan peti
mati, maka ini biasanya hanya menunjukkan riwayat pemakaman daripada waktu
kematian.2
—-Walaupun tugas utama dari antropologi adalah untuk menentukan identitas
dari jasad, namun pada pengembangannya dapat juga untuk menentukan pendapat
mengenai tipe dan ukuran senjata yang digunakan dan jumlah dari pukulan yang
terdapat pada korban kekerasan. Kebanyakan antropologis memiliki kemampuan
antropologi yang tinggi dan telah memeriksa banyak sisa-sisa dari rangka.
Beberapa di antaranya juga memiliki pengalaman di bidang kepolisian dan medis,
seperti halnya di bidang serologi, toksikologi, senjata api dan identifikasi jejas
akibat alat, investigasi kejadian kejahatan, penanganan bukti kejahatan dan
fotografi. Dan hanya sedikit antropologis yang menangani analisis jejak kaki dan
identifikasi spesies dalam kaitannya dengan perkiraan waktu kematian yang sudah
lewat. Antropologi forensik selalu berhubungan dengan patologi forensik,
odontologi dan investigasi pembunuhan, cara kematian dan atau interval
postmortem. 2
—-Perlu diingat, walaupun sebagian besar rangka manusia dewasa terdiri dari
jumlah tulang yang sama (206), namun tidak ada dua rangka yang sama. Karena
itu observasi dari pola atau rangka yang khas sering menunjukkan identifikasi
pasti. 2
—-

2
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Definisi

Antropologi forensik merupakan bidang ilmu untuk physical


anthropologists yang mengaplikasikan ilmunya dalam bidang biologi, sains dan
budaya dalam proses hukum. Menurut American Board of Forensic
Anthropology, antropologi forensik adalah aplikasi ilmu pengetahuan dari
antropologi fisik untuk proses hukum. Identifikasi dari kerangka atau sediaan lain
dari sisa-sisa jasad (dugaan manusia) yang tidak teridentifikasi penting untuk
alasan hukum maupun alasan kemanusiaan. Forensik antropologi
mengaplikasikan teknik sains sederhana yang berdasarkan antropologi fisik untuk
mengidentifikasi sisa-sisa jasad manusia dan mengungkap tindak
kejahatan.1,2,3,4,5,6

2.2 Sejarah Singkat Antropologi Forensik

Sejarah antropologi forensik bermula pada tahun 1890. Pada akhir abad 19
dan awal abad 20 memang banyak ilmu baru di bidang forensik yang
bermunculan, seperti balistik dan entamologi (ilmu tentang serangga) dan
termasuk pula antropologi forensik yang digunakan utnuk memecahkan kasus
Adolph Luetgert. Di dalam pabrik sosis Luetgert, ditemukan potongan tulang dan
kebetulan juga istri Luetgert sudah lama menghilang. Potongan tersebut dcurigai
sebagai tulang dari istri Luetgert dan akhirnya Luetgert ditahan oleh karena hal
tersebut. Kemudian, jaksa memanggil George Amos Dorsey, seorang Antropolog
yang senang bertualang dan juga merupakan seorang ahli tulang. Tugasnya adalah
untuk memastikan bahwa tulang yang ditemukan tersebut merupakantulang
manusia, bukan anjing atau babi yang memang memiliki bentuk tulang mirip
dengan tulang manusia. Pada masa itu belum ada peralatan yang canggih dan ilmu
yang cukup sehingga Dorsey harus menentukan jenis tulang itu secara manual.

3
Dan untuk pertama kalinya antropologi forensik digunakan untuk menyeret
seseorang ke penjara.1,2,3,

2.3 Manfaat Pemeriksaan Antropologi Forensik

Antropologi forensik bermanfaat untuk membantu penyidik dan penegak


hukum untuk mengidentifikasi temuan rangka tak dikenal. Temuan rangka
biasanya terdapat pada daerah terpencil, di atas permukaan tanah, dikubur pada
lubang yang dangkal karena pelaku kejahatan terburu – buru menguburkannya, di
sungai, di rawa atau di hutan. Korban yang tidak dikubur secara layak ini biasanya
menjadi salah satu indikasi adanya tindak pidana terhadap korban kejahatan. Pada
kasus forensik seperti ini, antropologi forensik berguna dalam menentukan
identifikasi temuaan.1,2,3

Upaya identifikasi pada kerangka (antropologi forensik) bertujuan untuk


membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis
kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila
memungkinkan dapat dilakukan rekonstruksi wajah.Pemeriksaan dapat juga
memperkirakan waktu kematian, penyebab kematian dan riwayat penyakit dahulu
atau luka yang saat hidup menimbulkan jejas pada struktur tulang.1,2,3,4

2.4 Ruang Lingkup Forensik


2.4.1. Osteologi
Osteologi, merupakan satu dari teknik yang paling bermakna pada
pemeriksaan antropologi forensik, karena antropologi forensik berhubungan
dengan pemeriksaan sisa – sisa tulang maupun tulang yang utuh. Pemeriksa dapat
menentukan perkiraan usia, jenis kelamin, pertalian ras, tampilan fisik saat hidup.
Tengkorak merupakan bagian dari rangka manusia yang paling informatif.
Namun, jarang sekali tengkorak ditemukan dalam keadaan utuh ataupun baik.
Oleh karena itu osteologis harus dapat memanfaatkan apapun tulang yang
tersedia.9

4
Gambar 1 : Alat – alat Ukur Pemeriksaan Osteologi.9
Osteologi harus mengerti mengenai kerangka manusia. Langkah pertama
pertama dari osteologi menentukan sisa rangka yang ditemukan apakah dari
manusia atau bukan. Walaupun banyak sekali variasi yang terdapat pada manusia
atau hewan, namun terdapat persamaan-persamaan umum pada setiap spesies. Jika
tengkorak tidak ditemukan, tulang manusia dapat dibedakan dari hewan
berdasarkan bentuk, ukuran dan perbedaan densitas tulang. Penentuan spesies
akan sangat sulit jika tulang yang ditemukan berupa pecahan – pecahan. Ada dua
tipe sifat yang dapat ditemukan dari sisa – sisa rangka yaitu metrik dan nonmetrik.
Tipe metrik adalah variasi ukuran tulang. Contohnya panjang dari humerus pada
seseorang dapat lebih panjang dari orang lain yang mempunyai tinggi badan yang
sama. Sifat nonmetrik adalah perbedaan antara tulang – tulang seseorang yang
tidak dapat diukur. Contohnya penyatuan pada tulang seseorang dapat berbeda
dengan orang lainnya.9

2.4.2. Dentisi
Dentisi merupakan ilmu yang mempelajari sisa – sisa gigi. Analisa dari
sisa – sisa gigi dapat digunakan untuk menentukan beberapa aspek pada
antropologi forensik. Digunakan bersama dengan osteologi untuk menentukan
usia, jenis kelamin dan diet. Pada orang dewasa terdapat 32 gigi yang pada
masing – masing sisinya, pada rahang atas dan bawah terdapat dua insisivus, satu
kaninus, dan dua atau tiga molar. Pada anak – anak terdapat dua puluh gigi

5
dengan dua insisivus dan satu kaninus serta dua molar pada masing – masing
kuadran. 9
2.4.3. Ethnobotani
Etnobotani merupakan ilmu yang mempelajari tentang serbuk sari dan
tanaman dari masa lalu. Ini berguna untuk menentukan waktu sejak kematian dan
menentukan diet dari sisi arkeologi. 9

2.5 Ruang Lingkup Pemeriksaan Antropologi Forensik

Gambar 2 : Ruang lingkup pemeriksaan Antropologi Forensik11


2.5.1. Penentuan Kerangka Manusia

Pemeriksaan anatomik dapat memastikan bahwa kerangka yang ditemukan


adalah kerangka manusia. Tulang manusia berbeda dengan tulang hewan dalam
hal struktur, ketebalan, ukuran dan umur penulangan (osifikasi). Setiap manusia
memiliki 190 tulang. Tulang ini dibedakan menjadi tulang panjang, pendek, pipih
dan tidak teratur. Tulang panjang didapati pada tangan dan kaki seperti humerus,
radius, ulna, femur, tibia dan fibula. Tulang pendek meliputi klavikula,
metacarpal dan metatarsal (jari tangan dan kaki). Tulang pipih terdapat pada
tulang-tulang atap tengkorak seperti frontal, parietal dan occipital. Tulang tidak
teratur adalah tulang vertebra dan basis cranii. Kesalahan penafsiran dapat timbul
bila hanya terdapat sepotong tulang saja. Dalam hal ini perlu dilakukan
pemeriksaan serologik dan pemeriksaan histologik.1,2,7

6
Gambar 3. Anatomi rangka manusia5

2.5.2. Penentuan Jenis Kelamin

Sebelum menentukan jenis kelamin berdasarkan pemeriksaan tulang,


pastikan dahulu apakah itu tulang manusia atau hewan, apakah tulang itu berasal
dari satu atau beberapa orang, setelah jelas bahwa tulang belulang tersebut adalah
tulang manusia dan berasal dari satu orang atau lebih, barulah ditentukan jenis
kelamin.7

Perbedaan tulang laki-laki dan perempuan baru terlihat sesudah pubertas.


Umumnya tulang perempuan lebih kecil, lebih ringan, lebih halus karena tonjolan
tempat perlengketan otot dan tendon kurang menonjol pada perempuan. Tulang-
tulang iga biasanya lebih tipis dan lebih melengkung pada perempuan.

7
Hal-hal lain yang berhubungan dengan penentuan jenis kelamin
berdasarkan tulang dapat dilihat pada tabel berikut ini.7

No. Tulang Laki-laki Perempuan


1 Sternum - Lebih panjang - Lebih pendek
- Panjang corpus sterni - Panjang corpus sterni
lebih dari 2 kali kurang dari 2 kali
panjang manubrium panjang manubrium
sterni sterni
- Pinggir atas sejajar - Pinggir atas sejajar
dengan pinggir atas dengan pinggir bawah
vertebra torakal II vertebra torakal III
2 Pelvis
- umum - Lebih ramping, kasar - Lebih dangkal, halus
dan tidak begitu lebar dan lebih lebar
- Lebih berat
- os illium - Lebih curam pada - Lebih ringan
- os sacrum posterior - Kurang curam pada
- Pinggir kurang bulat posterior
- symphysis pubis - Panjang dan sempit - Lebih bulat
- Lebih masuk ke dalam - Pendek dan lebar
- Sudut tulang - Menonjol keluar
kemaluan (sub pubic - Sudut tulang kemaluan
angle) kurang dari 90o (sub pubic angle) lebih
dari 90o
3 Sudut antara - Sudut tumpul - Sudut hampir 90o
collum dan corpus
femoris
4 Tulang-tulang - Lebih berat - Lebih ringan
kepala - Cavitas cranium 10% - Cavitas cranium 10%
lebih besar dari lebih kecil dari laki-

8
perempuan laki
5 Condylus - Lebih menonjol - Kurang menonjol
occipitalis
6 Orbita - Bentuk persegi - Bentuk mebundar
7 Dahi - Curam, kurang - Membundar
membundar
8 Tulang pipi - Berat, arkus lebih ke - Ringan, lebih memusat
lateral
9 Glabella, arcus - Lebih menonjol - Kurang menonjol
zygomaticus,
arcus super ciliaris
dan processus
mastoideus
10 Mandibula - Besar, simfisisnya - Kecil, dengan ukuran
tinggi, ramus corpus dan ramus lebih
asendingnya lebar kecil
11 Palatum - Besar dan lebar, - Kecil, cenderung
cenderung seperti seperti parabola
huruf U
Tabel 1. Perbedaan tulang laki-laki dan perempuan7

Gambar 4 : Perbedaan pelvis pria dan wanita9

9
Gambar 5 : Perbedaan tulang tengkorak pria dan wanita5

2.5.3. Penentuan Ras

Secara umum, manusia dibagi atas beberapa golongan ras, yaitu:10,12

a. Ras Kaukasoid
b. Ras Mongoloid
c. Ras Negroid

10
No. Tulang Kaukasoid Mongoloid Negroid
1 Cranium Bulat Persegi Oval
2 Kening Menonjol (raised) Miring (inclined) Kecil dan melekuk
3 Muka Relatif sempit / Lebar, datar, Maxilla / rahang
kecil tulang pipi atas menonjol
menonjol
4 Ekstremitas Normal Lebih kecil Ekstremitas
superior relatif
lebih panjang
disbanding ukuran
tubuh
Tabel 2. Perbedaan tulang-tulang pada berbagai ras10

11
Gambar 6 : Perbedaan tulang-tulang pada berbagai ras10

2.5.4. Penentuan Perkiraan Umur1

Perkiraan umur seseorang dapat ditentukan berdasarkan hal-hal berikut:

a. Penutupan sutura

Pemeriksaan terhadap penutupan sutura pada tulang-tulang atap tengkorak


berguna untuk memperkirakan umur sudah lama diteliti dan telah berkembang
berbagai metode. Namun, pada akhirnya hampir semua ahli menyatakan bahwa
cara ini tidak akurat dan hanya digunakan dalam lingkup dekade (umur 20-30-40
tahun) atau mid-dekade (umur 25-35-45 tahun) saja.

12
Gambar 7 : Perbedan sutura yang terbuka dan tertutup5

Gambar 8 : Perkiraan tengkorak menurut umur10

b. Pertumbuhan dan perkembangan badan

Proses pertumbuhan dimulai sejak terjadi konsepsi dan berlangsung terus


sampai umur dewasa, kemudian stabil dan pada umur tua relatif berkurang.
Sesudah dilahirkan, umur dapat diperkirakan sesuai golongan pertumbuhan dan
perkembangan badan, antara lain bayi, balita, anak-anak, dewasa muda.

c. Tinggi dan berat badan

Pada janin, bayi baru lahir dan anak-anak sampai masa pubertas, umur
dapat ditentukan berdasarkan tinggi (panjang) dan berat badan. Beberapa faktor
harus dipertimbangkan antara lain keturunan, bangsa, gizi dan lain-lain. Pada

13
orang dewasa, penentuan umur berdasarkan tinggi dan berat badan tidak dapat
dipergunakan lagi. Berikut ini adalah tabel yang memperlihatkan hubungan antara
umur, tinggi (panjang), berat badan dan pusat penulangan bayi.

Berat Pusat Tanda


No. Umur Tinggi (panjang)
badan penulangan lain
1 4 6-9 inci (15-20 60-120 g Segmen -
bulan cm) terbawah
dari sacrum
2 5 10 inci (25 cm) 500-750 g Os -
bulan calcaneus
3 6 12 inci (30 cm) 1000 g Manubrium -
bulan sterni
4 7 14 inci (35 cm) 1500 g Os talus Testis
bulan pada
anulus
inguinalis
interna
5 8 16 inci (40 cm) 2500 g Sternum -
bulan bawah
6 9 19-20 inci (45-50 2500-3500 Distal Aterm
bulan cm) g femur, (cukup
proksimal bulan)
tibia dan os
cuboid
Tabel 3. Hubungan umur, tinggi, berat badan dan pusat penulangan1

14
Panjang bayi baru lahir berkisar antara 47.5 sampai 52.5 cm (rata-rata 50
cm). Pada umur 6-12 bulan, panjang bayi adalah 60 cm, pada umur 1 tahun adalah
67.5 cm dan pada umur 4 tahun panjang bayi ± 2 kali panjang waktu lahir (lebih
kurang 100 cm).

Umur bayi dalam kandungan bisa ditentukan dengan formula de Haas,


yaitu:

- Umur bayi 1-5 bulan sama dengan akar pangkat dua dari panjang badan
(dalam cm).
- Umur bayi 5-10 bulan sama dengan panjang badan (dalam cm) dibagi
dengan 5.

Sesudah bayi lahir, pada mulanya berat badannya akan turun, kemudian
berat badannya akan bertambah 120 gram setiap minggu atau 500 gram setiap
bulannya. Pada umur 6 bulan, berat badannya dua kali berat waktu lahir. Pada
umur 1 tahun, berat badannya tiga kali berat waktu lahir.

d. Gigi-geligi9

Ada 2 jenis gigi, yaitu gigi susu dan gigi permanen. Gigi susu (milk teeth)
disebut gigi sementara atau dens decidui, jumlahnya 20 buah, terdiri atas 4 buah
insisivus, 2 caninus dan 4 molar di setiap rahang. Bayi akan mengalami
pertumbuhan gigi susu pada umur 6 bulan dan selesai pertumbuhannya pada umur
24 bulan. Jika ada gigi susu insisivus tumbuh, maka umurnya diperkirakan sekitar
6-8 bulan.

Gigi permanen (permanent teeth) disebut gigi tetap, jumlahnya 32 buah,


terdiri atas 4 buah insisivus, 2 caninus, 4 premolar dan 6 molar di setiap rahang.

Penentuan umur berdasarkan jumlah dan jenis gigi hanya dapat ditentukan
secara umum sampai umur 17-25 tahun. Di atas umur ini yang diperhatikan
adalah keausan gigi (atrisi), warna dan lain-lain.

15
Gustafson menemukan formula penentuan umur di atas 18-20 tahun
berdasarkan adanya perubahan gigi karena penuaan dan pembusukan gigi (ageing
and decaying changes). Perubahan ini meliputi atrisi, peridontosis, dentin
sekunder, resorpsi akar, aposisi sementum dan transparensi akar gigi. Formula
Gustafson ini hanya dapat dipakai untuk penentuan umur pada orang yang telah
meninggal karena gigi harus dicabut dari soket gigi, kecuali pada orang hidup
pengamatan atrisi dan peridontosis dapat dilakukan tanpa pencabutan gigi.

Gambar 9 : Erupsi gigi susu dan permanen9

16
e. Pemeriksaan rahang bawah

Perubahan rahang bawah terjadi sejalan dengan pertambahan umur. Bisa


dibedakan rahang bayi, dewasa dan orang tua. Rahang bayi corpusnya dangkal
dan ramusnya sangat pendek serta membentuk sudut 140o terhadap corpus dari
rahang tersebut.

Pada rahang dewasa, corpus menjadi lebih tebal dan panjang serta sudut
antara ramus dan corpus menjadi 90o.

Pada orang tua, batas dari prosesus alveolaris mulai hilang dan corpus
akan mulai dangkal kembali serta sudut antara ramus dan corpus akan kembali
menjadi tumpul.

Gambar 10 : Perkembangan rahang bawah8

f. Pusat penulangan (ossification centre) dari tulang-tulang

Pemeriksaan terdahap pusat penulangan sering digunakan untuk perkiraan


umur pada tahun-tahun pertama kehidupan. Biasanya berkaitan dengan kasus
abortus dan infanticide. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan
foto radiologis atau dengan melakukan pemeriksaan langsung terhadap pusat
penulangan pada tulang.

g. Penutupan garis epifisis pada tulang panjang

Penentuan umur dengan menggunakan penutupan garis epifisis pada


tulang panjang ini terutama dipakai pada anak-anak yang sedang tumbuh.
Pemastian penutupan ini hanya dapat ditentukan secara radiologis. Garis epifisis
pada tulang humerus bagian distal menutup pada umur 13-15 tahun pada

17
perempuan dan 14-15 tahun pada laki-laki. Pada tulang radius bagian proksimal
menutup pada umur 13-14 tahun pada perempuan dan 14-15 tahun pada laki-laki.
Pada tulang ulna bagian distal menutup pada umur 17 tahun pada perempuan dan
18 tahun pada laki-laki. Pada tulang clavicula bagian medial menutup pada umur
20 tahun pada perempuan dan 22 tahun pada laki-laki. Penulangan tulang rawan
pada garis epifisis pada wanita terjadi lebih dahulu dari laki-laki.

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Antropologi forensik adalah aplikasi ilmu pengetahuan dari antropologi


fisik untuk proses hukum dimana pada tahun 1890 untuk pertamakalinya
antropologi forensik digunakan untuk menyeret seseorang ke penjara. Ilmu ini
sangat bermanfaat untuk membantu penyidik dan penegak hukum untuk
mengidentifikasi terutama pada temuan rangka tak dikenal. Sehingga dari
identifikasi pada kerangka (antropologi forensik) dapat dibuktikan bahwa
kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur,
tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila memungkinkan dapat dilakukan
rekonstruksi wajah. Selain itu juga memperkirakan waktu kematian, penyebab
kematian dan riwayat penyakit dahulu atau luka yang saat hidup menimbulkan
jejas pada struktur tulang. Dengan begini ilmu antropologi forensik memegang
peranan penting dan sangat membantu dalam proses hukum untuk mewujudkan
kebenaran dan keadilan.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Garrison DHJR. Crime Scene Protection. http://www.crimeandclues.com


[diakses 20 Oktober 2017]
2. Mann RW. The Forensic Anthropologist. http://www.crimeandclues.com
[diakses 20 Oktober 2017]
3. Forensic Anthropology. http://www.mnsu.edu.html [diakses 20 Oktober
2017]
4. American Board of Forensic Anthropology. http://www.abfahomepage.com
[diakses 20 Oktober 2017]
5. Brand H. What is Forensic Anthropology. http://www.csc.villanova.edu.html
[diakses 20 Oktober 2017]
6. Adamson Marci. Forensic Antrhopology and Human Osteology Resources.
http://www.forensicantrho.com [diakses 20 Oktober 2017]
7. Albert Midori. The Forensic Anthropology In Focus. http://www.all-
aboutforensic- science.com [diakses 20 Oktober 2017]
8. Forensic Anthropology. http://www.librarythinkguest.org [diakses 20
Oktober 2017]
9. Minnesota State University Mankato. http://www.mnsu.edu [diakses 20
Oktober 2017
10. Rhine Stan. Forensic Antrhopology. Human Biological Variation.
Http://www.library.med.utah.edu [diakses 20 Oktober 2017]
11. Forensic Anthropology. http://www.journals.uchicago.edu [ diakses 20
Oktober 2017]

20