Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT DAN PERKEMBANGAN SAINS

PERNYATAAN ILMIAH YANG DAHULU BERLAKU TETAPI


SEKARANG DITINGGALKAN

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. Widha Sunarno, M.Pd

Disusun Oleh:

Suryani Jati Rahayu (S831702011)

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN SAINS


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
Menurut kaum pragmatis, pernyataan ilmiah yaang sekarang dianggap benar pada
suatu waktu akan ditinggalkan jika sudah tidak fungsional atau sudah tidak memiliki kgunaan
lagi. Berikut ini adalah beberapa contoh mengenai pernyataan ilmiah yang dahulu berlaku
tetapi sekarang ditinggalkan:

1. Spektrum Radiasi Benda Hitam


Ada dua teori klasik yang mencoba menjelaskan spektrum radiasi benda hitam,
yaitu teori Wien dan teori Rayleigh-Jeans. Teori Wien menyatakan hubungan antara
intensitas radiasi dengan panjang gelombang menggunakan analogi antara radiasi
dalam ruangan dan distribusi kelajuan molekul gas.

Gambar 1. Kurva Radiasi Benda Hitam


Berdasarkan kurva di atas, terbaca bahwa dengan naiknya temperatur benda
hitam, puncak-puncak spektrum akan bergeser ke arah panjang gelombang yang
semakin kecil atau puncak-puncak spektrum akan bergeser ke arah frekuensi yang
semakin besar. Melalui persamaan yang dikembangkan Wien maupun menjelaskan
ditribusi intensitas untuk panjang gelombang pendek, namun gagal untuk menjelaskan
penjanggelombang panjang. Hal itu menunjukan bahwa radiasi elektromaknetik tidak
dapat dianggap sederhana seperti proses termodinamika.
Lord Rayleigh dan James Jeans mengusulkan suatu model sederhana untuk
menerangkan bentuk spektrum radiasi benda hitam. Mereka menganggap bahwa
molekul atau muatan di permukaan dinding benda berongga dihubungkan oleh
semacam pegas. Ketika suhu benda dinaikkan, muatan-muatan tersebut mendapatkan
energi kinetiknya untuk bergetar. Dengan bergetar berarti kecepatan muatan berubah-
ubah (positif - nol - negatif - nol - positif, dan seterusnya. Melalui model tersebut,
Rayleigh dan Jeans menurunkan rumus distribusi intensitas, yang jika digambarkan
grafiknya maka model yang diusulkan oleh Rayleigh dan Jeans berhasil menerangkan
spektrum radiasi benda hitam pada panjang gelombang yang besar, namun gagal
untuk panjang gelombang yang kecil. Hasil ini dinamakan bencana ultra violet.
Setelah mempelajari hasil pengamatan Wien dan Rayleigh-Jeans, fisikawan
Jerman bernama Max Planck mengemukakan teorinya pada tahun 1900. Ia mendapat
kesimpulan bahwa ketidak cocokan antara hasil pengamatan Wien dan Rayleigh-Jeans
itu disebabkan karena mereka memandang cahaya sebagai gelombang. Planck
mengemukakan teorinya yang menganggap bahwa cahaya selain bersifat sebagai
gelombang juga bersifat sebagai partikel. Apabila dalam peristiwa radiasi benda hitam
cahaya dipandang sebagai partikel, maka hasil pengamatan Wien dan Rayleigh –
Jeans tidak akan mengalami perbedaan, sebab partikel memiliki tingkat-tingkat
energy tertentu dalam meradiasikan kalor.
Max Planck mengumumkan bahwa dengan membuat suatu modifikasi khusus
dalam perhitungan klasik dia dapat menjabarkan fungsi P (λ,T) yang sesuai dengan
data percobaan pada seluruh panjang gelombang. Hukum radiasi Planck menunjukkan
distribusi (penyebaran) energi yang dipancarkan oleh sebuah benda hitam. Hukum ini
memperkenalkan gagasan baru dalam ilmu fisika, yaitu bahwa energi merupakan
suatu besaran yang dipancarkan oleh sebuah benda dalam bentuk paketpaket kecil
terputus-putus, bukan dalam bentuk pancaran molar. Paket-paket kecil ini disebut
kuanta dan hukum ini kemudian menjadi dasar teori kuantum.
Untuk mengatasi perbedaan hasil yang diperoleh Wien dan Rayleihg-Jean,
Max Planck melaporkan penemuannya tentang bentuk gafis radiasi benda hitam yang
berlaku untuk semua panjang gelombang sebagai berikut :
1. Getaran molekul-molekul yang memancarkan radiasi hanya dapat memiliki
satuan-satuan diskret dari energi En.
En = n h f
n = 1, 2, 3, 4, . . . = bilangan kuantum
h = 6,63 x 10-34 Js = tetapan Planck
f = frekuensi getaran molekul
2. Molekul-molekul menyerap atau memancarkan energi radiasi cahaya dalam paket-
paket diskret yang disebut kuantum atau foton, di mana energi sebuah foton
E= h f.
2. Teori Kekekalan Materi Einstein
Fisikawan termahsyur abad kedua puluh adalah Albert Einstein. Ia menyatakan
bahwa alam itu tidak terhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tak berubah
status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Einstein percaya akan
kekekalan materi. Hal ini berarti bahwa alam semesta itu bersifat kekal, atau dengan
kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam.
Namun pada tahun 1929 seorang fisikawan lain Hubble yang mempergunakan
teropong bintang terbesar di dunia untuk melihat galaksi-galaksi disekeliling
bimasakti, ternyata galaksi lain tampak menjauhi galaksi bimasakti dengan kelajuan
yang sebanding dengan jaraknya dari bumi. Observasi ini menunjukkan bahwa alam
semesta itu tidak statis, melainkan dinamis sehingga meruntuhkan pendapat Einstein
tentang teori kekekalan materi dan alam semesta yang statis. Jagad raya ternyata
berekspansi. Berdasarkan perhitungan mengenai perbandingan jarak dan kelajuan
gerak masing-masing galaksi yang teramati, para fisikawan kontemporer (Gamow,
Alpher, Herman) menarik kesimpulan bahwa semula galaksi di jagad raya ini semula
bersatu padu dengan galaksi Bimasakti kira-kira 15 milyar tahun lalu. Pada saat itu
terjadi ledakan yang maha dahsyat ( Big Bang) yang melemparkan materi ke seluruh
jagad raya ke semua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi.

Gambar 2. Teori Ekspansi Jagat Raya


Kronologi alam semesta dalam skala yang tidak linier. Suhu rata-rata alam
semesta di bagian kanan gambar diperkirakan dengan menggunakan asumsi sederhana
dari persamaan Einstein yang menghasilkan persamaan berbanding terbalik terhadap
akar dari usia jagad raya.
3. Teori Geosentris
Teori geosentris adalah teori yang menyatakan bahwa yang menjadi pusat dari
tata surya adalah bumi, berdasarkan dari makna secara bahasapun demikian. Kata
geosentris berasal dari kata geo yang berarti bumi dan centre yang berarti pusat. Teori
ini menolak terhadap pendapat teori egosentries yang menyatakan bahwa manusialah
yang menjadi pusat tata surya.

Gambar 3. Model Teori Geosentris


Pemikiran tentang gerak benda langit sudah dilakukan ratusan tahun sebelum
masehi. Prosesnya dimulai sejak Anaximander (611-546 SM) membuat model
geosentris pertama dengan mengungkapkan bahwa Bumi datar, tidak bergerak, dan
dikelilingi oleh Matahari, Bulan, dan bintang-bintang yang terletak pada kulit-kulit
bola.
Tetapi kemudian Teori Geosentris ini dijatuhkan oleh Teori Heliosentris yang
tepatnya muncul pada abad ke-14 M, yang dikemukakan oleh seorang berkebangsaan
Polandia bernama Nicolas Copernicus. Heliosentrisme adalah teori yang berbunyi
bahwa Matahari menjadi pusat alam semesta. Kata tersebut berasal dari bahasa
yunani, yaitu (Helios = Matahari, dan Kentron = Pusat). Secara historis,
Heliosentrisme bertentangan dengan Geosentrisme, yang menyatakan bahwa bumi
sebagai pusat alam semesta. Pandangan mengenai kemungkinan Heliosentrisme ini
terjadi sejak zaman klasik kuno. Tapi abad ke-14 baru dapat ditemukan suatu model
matematis yang dapat meramalkan secara lengkap sistem Heliosentris. Hal tersebut
dikemukakan oleh Nicolas Copernicus.
Gambar 4. Model Teori Heliosentris
Jhohanes Kepler mendukung gagasan tersebut pada tahun 1609 melalui
teorinya bahwa Matahari adalah pusat tata surya, Kepler juga mengoreksi pendapat
Copernicus tentang orbit planet yang berbentuk lingkaran. Kepler menyatakan bahwa
bentuk orbit planet adalah ellips (ihlijy) yang dikenal dengan tiga hukum kepler. Pada
tahun yang sama, Galileo Galilei menciptakan Teleskop menumental di Dunia. Dari
pengamatan tersebut, Galileo berkesimpulan bahwa Bumi bukanlah pusat Alam
Semesta. Penemuan Teleskop tersebut, selain mendukung Teori Heliosentris
Copernicus, juga menjadi titik awal yang baru bagi perkembangan ilmu Astronomi.