Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini dalam bentuk makalah yang
berjudul Etika Berwirausaha.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Kariyoto, E.E, M.M, A.K selaku
dosen Mata Kuliah Kewirausahaan di kelas G Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu
Komputer, Universitas Bwawijaya yang telah memberikan tugas ini serta arahan dalam
penulisan makalah ini.
Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Kewirausahaan.
Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah
pengetahuan dan juga wawasan mengenai karya ilmiah agar dapat diimplementasikan dengan
tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penyajian makalah ini yang
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya kritik, saran, serta
masukan-masukan demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, Desember 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................1


DAFTAR ISI . .......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................................3
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 3
1.3 Tujuan.......................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................................4
2.1 Etika Berwirasuha ....................................................................................................... 4
2.1.1 Definisi Etika Dalam Berwirausha ....................................................................... 4
2.2 Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha .............................................................................. 5
2.2.1 Hak dan Kewajiban Konsumen ............................................................................ 5
2.2.2 Hak dan Kewajiban Produsen ............................................................................... 6
2.2.3 Hak dan Kewajiban Wirausaha ............................................................................. 7
2.2.4 Perbuatan yang dilarang oleh Pelaku Usaha ......................................................... 8
2.3 Fundamental Etika yang Berlaku Pada Semua Etnis .................................................. 8
2.4 Prinsip Etika dan Keuntungan Menjaga Etika ............................................................ 9
2.4.1 Prinsip Etika .......................................................................................................... 9
2.4.2 Keuntungan Menjaga Etika................................................................................. 10
2.5 Etika dan Tanggung Jawab Sosial ............................................................................. 10
2.5.1 Definisi Etika dan Tanggung Jawab Sosial ........................................................ 10
2.5.2 Gejala Perilaku yang Tidak Jujur di Masyarakat Indonesia ............................... 10
2.5.3 Oknum Penegak Hukum dan Anggota DPR Kurang Dapat Dipercaya .............. 11
2.5.4 Perilaku Etis VS Perilaku Tidak Etis .................................................................. 11
2.5.5 Penyebab Perilaku Tidak Etis ............................................................................. 12
2.5.6 Perilaku Saling Menipu Para Wirausahawan ...................................................... 13
2.5.7 Perbedaan Etika Berdasarkan Jenis Kelamin ...................................................... 13
2.5.8 Konsumerisme Versus Hedonisme ..................................................................... 14
BAB III PENUTUP .................................................................................................................16
3.1 Kesimpulan................................................................................................................ 16
3.2 Saran .......................................................................................................................... 16

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Etika wirausaha merupakan ilmu mengenai bagaimana tata cara seorang
pengusaha dalam berperilaku didalam suatu usahanya tersebut. Banyak seorang
wirausaha mengabikan betapa pentingnya etika didalam mendirikan sutu bisnis, karena
mereka berfikir dengan kemampuan yang mereka miliki serta modal yang sangat besar
suatu usaha dengan mudahnya didirikan. Padahal tanpa adanya etika yang dimiliki
seorang wirausaha suatu usaha tersebut akan tidak berjalan sesuai rencana. Karena etika
ialah suatu studi mengenai yang benar dan yang salah dan pilihan moral yang dilakukan
seseorang. Keputusan etika ialah suatu hal yang benar mengenai perilaku standar. Etika
wirausaha mencakup hubungan antara perusahaan dengan orang yang menginvestasi
uangnya dalam perusahaan, dengan konsumen, pegawai kreditur, saingan dan
sebagainya. Orang – orang wirausahawan diharapkan bertindak etis dalam berbagai
aktivitasnya di masayarakat.
Menjaga etika adalah suatu hal yang sangat penting untuk melindungi reputasi
perusahaan. Masalah etika ini selalu dihadapi oleh para manajer dalam keseharian
kegiatan wirausaha, namun harus selalu dijaga terus menerus, sebab reputasi sebagai
perusahaan yang etis tidak dibentuk dalam waktu pendek, tapi akan terbentuk dalam
jangka panjang.
Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat
membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good
conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam wirausaha sudah
tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok wirausaha serta
kelompok yang terkait lainnya.

1.2 Rumusan Masalah


1.1 Bagaimana Etika wirausaha?
1.2 Apa Tujuan dan manfaat etika wirausaha?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mampu menjelaskan bagaimana etika wirausaha
1.3.2 Mampu menjelaskan tujuan dan manfaat etika wirausaha

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Etika Berwirasuha
2.1.1 Definisi Etika Dalam Berwirausha
Etika bisa diartikan perbuatan standar yang memimpin individu dalam membuat
keputusan. Menurut pendapat lain, etika adalah suatu studi mengenai yang benar dan
yang salah serta pilihan moral yang dilakukan seseorang. Sedangkan keputusan etis
adalah suatu hal yang benar mengenai perilaku standar. Etika Bisnis menurut Frangky
Slamet adalah keseluruhan dari aturan-aturan etika, baik yang tertulis maupun tidak
tertulis yang mengatur hak-hak dan kewajiban produsan dan konsumen serta etika yang
harus dipraktikkan dalam bisnis.
Etika yang diberlakukan oleh pengusaha terhadap berbagai pihak memiliki
tujuan-tujuan tertentu. Tujuan etika tersebut harus sejalan dengan tujuan perusahaan.
Di samping memiliki tujuan, etika juga sangat bermanfaat bagi perusahaan apabila
dilakukan secara sungguh-sungguh. Berikut ini beberapa tujuan etika yang selalu ingin
dicapai oleh perusahaan :
1. Untuk persahabatan dan pergaulan
Etika dapat meningkatkan keakraban dengan karyawan, pelanggan atau pihak-
pihak lain yang berkepentingan. Suasana akrab akan berubah menjadi
persahabatan dan menambah luasnya pergaulan. Jika karyawan, pelanggan, dan
masyarakat menjadi akrab, segala urusan akan menjadi lebih mudah dan lancar.
2. Menyenangkan orang lain
Sikap menyenangkan orang lain merupakan sikap yang mulia. Jika kita ingin
dihormati, kita harus menghormati orang lain. Menyenangkan orang lain berarti
membuat orang menjadi suka dan puas terhadap pelayanan kita. Jika pelanggan
merasa senang dan puas atas pelayanan yang diberikan, diharapkan mereka
akan mengulangnya kembali suatu waktu.
3. Membujuk pelanggan
Setiap calon pelanggan memiliki karakter tersendiri. Kadang-kadang seorang
calon pelanggan perlu dibujuk agar mau menjadi pelanggan. Berbagai cara
dapat dilakukan perusahaan untuk membujuk calon pelanggan. Salah satu
caranya adalah melalui etika yang ditunjukkan seluruh karyawan perusahaan.

4
4. Mempertahankan pelanggan
Ada anggapan mempertahankan pelanggan jauh lebih sulit dari pada mencari
pelanggan. Anggapan ini tidak seluruhnya benar, justru mempertahankan
pelanggan lebih mudah karena mereka sudah merasakan produk atau layanan
yang kita berikan. Artinya, mereka sudah mengenal kita lebih dahulu. Melalui
pelayanan etika seluruh karyawan, pelanggan lama dapat dipertahankan karena
mereka sudah merasa puas atas layanan yang diberikan.
5. Membina dan menjaga hubungan
Hubungan yang sudah berjalan baik harus tetap dan terus dibina. Hindari adanya
perbedaan paham atau konflik. Ciptakan hubungan dalam suasana akrab.
Dengan etika hubungan yang lebih baik dan akrab pun dapat terwujud.

2.2 Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha


2.2.1 Hak dan Kewajiban Konsumen
Orang yang memakai atau memanfaatkan barang dan jasa hasil produksi untuk
memenuhi kebetuhan adalah konsumen.
Hak Konsumen
1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa.
2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau
jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
dijanjikan.
3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa.
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan.
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan konsumen, dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif.
8. Hak untuk mendapat kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian jika barang
dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian dan tidak
sebagaimana mestinya

5
Kewajiban Konsumen
1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan.
2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa.
3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara
patut .

2.2.2 Hak dan Kewajiban Produsen


Orang yang memakai atau memanfaatkan barang dan jasa hasil produksi untuk
memenuhi kebetuhan adalah konsumen.
Hak Konsumen
1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa.
2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau
jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
dijanjikan.
3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa.
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan.
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan konsumen, dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif.
8. Hak untuk mendapat kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian jika barang
dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian dan tidak
sebagaimana mestinya

Kewajiban Konsumen
1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan.
2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa.

6
3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara
patut .

2.2.3 Hak dan Kewajiban Wirausaha


Hak Wirausaha
1. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai
kondisi dan nilai tukar batang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
2. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang
beritikad tidak baik.
3. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya didalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen.
4. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/jasa yang diperdagangkan.
5. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Kewajiban Wirausaha
1. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.
2. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan
dan pemeliharaan.
3. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta
diskriminatif.
4. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku.
5. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba
barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi tas barang
yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan.
6. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan.
7. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau
jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

7
2.2.4 Perbuatan yang dilarang oleh Pelaku Usaha
a. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang di isyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang- undangan.
b. Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, jumlah dalam hitungan
sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut.
c. Tidak sesuai dengan ukuran,takaran timbangan dan jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang sebenarnya.
d. Tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran
sebagaimana dinyatakan dalam label,etiket atau keterangan barang dan/atau
jasa tersebut.
e. Tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya,
mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau
keterangan barang dan/atau jasa tersebut.
f. Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan
atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut.
g. Tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu penggunaan
/pemanfaatan yang baik atas barang tertentu.
h. Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan "
Halal" yang di cantumkan dalam label.
i. Tidak memasang label atau membuat pejelasan barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal
pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan
lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus di pasang/dibuat.
j. Tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

2.3 Fundamental Etika yang Berlaku Pada Semua Etnis


Fundamental etika yang berlaku pada semua etnis menurut Zimmerer (1996)
terdiri atas:
1. Sopan santun, yaitu selalu bicara benar, terus terang, tidak menipu dan tidak
mencuri.
2. Integritas, yaitu memiliki prinsip, hormat dan tidak bermuka dua.
3. Manjaga janji, yaitu dapat dipercaya bila berjanji, tidak mau menang sendiri

8
4. Kesetiaan, ketaatan, yaitu benar dan loyal pada keluarga dan teman, tidak
menyembunyikan informasi yang tidak perlu dirahasiakan
5. Kejujuran, kewajaran (fairness), yaitu berlaku fair dan terbuka, berkomitmen
pada kedamaian, jika bersalah cepat mengakui kesalahan, perlakuan yang sama
terhadap setiap orang dan memiliki toleransi yang tinggi
6. Menjaga satu sama lain (caring for others), yaitu penuh perhatian, baik budi,
ikut andil, menolong siapa saja yang memerlukan bantuan.
7. Saling menghargai satu sama lain (respect for others), yaitu menghormati hak-
hak orang lain, menghormati kebebasan dan rahasia pribadi (privasi),
mempertimbangkan orang lain yang dianggap bermanfaat dan tidak
berprasangka buruk.
8. Bertanggung jawab (responsible), yaitu patuh terhadap undang-undang dan
peraturan yang berlaku, jika menjadi seseorang pimpinan maka harus bersikap
terbuka dan menolong.
9. Pengejaran keunggulan (pursuit of excellence), yaitu berbuat yang terbaik di
segala kegiatan, bertanggung jawab, rajin, berkomitmen, bersedia untuk
meningkatkan kompetensi dalam segala bidang.
10. Dapat dipertanggungjawabkan (accountability), yaitu bertanggungjawab dalam
segala perbuatan terutama dalam mengambil keputusan

2.4 Prinsip Etika dan Keuntungan Menjaga Etika


2.4.1 Prinsip Etika
1. Usaha membangun kepercayaan antara anggota masyarakat dengan perusahaan
atau pengusaha.
2. Hal tersebut merupakan elemen penting buat suksesnya bisnis jangka panjang.
3. Menjaga etika adalah hal penting untuk melindungi reputasi perusahaan.
4. Kejujuran merupakan barang langka dan “mata uang” yang berlaku di mana-
mana.
5. Etika adalah standar perilaku dan nilai-nilai moral menyangkut tindakan yang
benar dan salah yang terjadi di dalam lingkungan kerja.
Sedangkan Etika bisnis adalah keseluruhan dari aturan-aturan etika, baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis yang mengatur hak-hak dan kewajiban produsen dan
konsumen serta etika yang harus dipraktekkan dalam bisnis.

9
2.4.2 Keuntungan Menjaga Etika
Beberapa keuntungan apabila seseorang senantiasa menjaga etika dalam
perilaku hidupnya khususnya bagi para wirausahawan, antara lain adalah sebagai
berikut :
a. Jika jujur dalam berbisnis, maka bisnisnya akan maju. Karena dengan kejujuran,
konsumen secara tidak langsung telah diuntungkan.
b. Timbulnya kepercayaan. Bisnis adalah kepercayaan, jika sudah tidak ada
kepercayaan dalam berbisnis, maka produk akan ditinggalkan oleh para
konsumen.
c. Kemajuan terjaga. Jika perilaku etis (kesadaran etis, pertimbangan etis, tindakan
etis, dan kepemimpinan etis) terjaga, maka kemajuan di segala bidang akan
terjadi, sehingga bisnis pun akan mengalami kemajuan dengan sendirinya.
d. Perolehan laba akan meningkat. Jika kemajuan bisnis terjadi, maka laba yang
diperoleh juga akan meningkat dan pada akhirnya pendapatan Negara dari pajak
juga meningkat.
e. Terjadi kesinambungan. Bisnis akan terjaga eksistensi dan kesinambungannya.

2.5 Etika dan Tanggung Jawab Sosial


2.5.1 Definisi Etika dan Tanggung Jawab Sosial
❖ Etika adalah pandangan,keyakinan dan nilai akan sesuatuyang baik dan buruk,
benar dan salah
❖ Tanggung Jawab Sosial adalah bentuk kepedulian perusahaan terhadap
lingkungan eksternal perusahaan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan
dalam rangka penjagaan lingkungan , norma masyarakat,partisipasi
pembangunan , serta berbagai bentuk tanggung jawab sosial lainnya.

2.5.2 Gejala Perilaku yang Tidak Jujur di Masyarakat Indonesia


Jujur dalam berwirausaha artinya mau dan mampu mengatakan sesuatu
sebagaimana adanya, dan saat ini perilaku jujur, tidak dapat dengan mudah
diindentifikasi dalam masyarakat. Akibat yang di terima kalau orang tidak jujur di
dalam berwirausaha:
1. Tidak dipercaya masyarakat konsumen
2. Menjadi rendah diri dan rasa malu
3. Mudah tersinggung atau emosi

10
4. Cepat iri dan dengki
5. Suka dendam
6. Prasangka buruk dan dusta
7. Tidak punya teman
8. Kehancuran dalam usahanya

2.5.3 Oknum Penegak Hukum dan Anggota DPR Kurang Dapat Dipercaya
Saat ini dan bahkan dahulu sudah terjadi juga, para oknum penegak hokum serta
anggota DPR sudah banyak yang tidak dapat dipercaya, Akibat kepercayaan yang
hilang terhadap hukum. Rusaknya tatanan sistem hukum memiliki akibat yang sangat
besar bagi kehidupan bangsa kita. Bukan hanya memberikan kesempatan bagi orang
seperti Gayus untuk menggelapkan uang pembayar pajak atau menjadikan orang kecil.
Seperti Chairul sebagai korban, tetapi juga telah membuat teroris di Negara ini untuk
leluasa beraksi dengan memberikan kesempatan mereka untuk membuat identitas palsu
dan membeli senjata untuk digunakan dalam aksi terorisme.

2.5.4 Perilaku Etis VS Perilaku Tidak Etis


Menurut Ricky W. Griffin dan Ronald J. Ebert (2006:58) perilaku etis adalah
perilaku yang sesuai dengan norma-norma sosial yang diterima secara umum
sehubungan dengan tindakan yang benar dan baik. Perilaku etis ini dapat menentukan
kualitas individu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang diperoleh dari luar yang
kemudian menjadi prinsip yang dijalani dalam bentuk perilaku. Faktor-faktor tersebut
adalah:
1. Pengaruh budaya organisasi
Budaya organisasi merupakan sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-
anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi yang lain. Dengan
demikian budaya organisasi adalah nilai yang dirasakan bersama oleh anggota
organisasi yang diwujudkan dalam bentuk sikap perilaku pada organisasi.
2. Kondisi politik
Kondisi politik merupakan rangkaian asas atau prinsip, keadaan, jalan, cara atau
alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Pencapaian itu dipengaruhi
oleh perilaku insan/individu atau kelompok guna memenuhi hak dan
kewajibannya.

11
3. Perekonomian global
Perekonomian global merupakan kajian tentang pengurusan sumber daya
materian individu, masyarakat, dan negara untuk meningkatkan kesejahteraan
hidup manusia.
Sebagian besar perusahaan memiliki kode etik untuk mendorong para karyawan
berperilaku secara etis. Namun, kode etik saja belum cukup sehingga pihak pemilik dan
manajer perusahaan harus menetapkan standar etika yang tinggi agar tercipta
lingkungan pengendalian yang efektif dan efisien. Menurut Ricky W. Griffin dan
Ronald J. Ebert (2006:65) dua pendekatan paling umum untuk membentuk komitmen
manajemen puncak terhadap praktek bisnis yang etis adalah:
❖ Menerapkan Kode Etik Tertulis
Banyak perusahaan menuliskan kode etik tertulis yang secara formal
menyatakan keinginan mereka melakukan bisnis dengan perilaku yang etis.
Jumlah perusahaan seperti itu meningkat secara pesat dalam kurun waktu tiga
dasawarsa terakhir ini, dan kini hampir semua korporasi besar telah memiliki
kode etik tertulis.
❖ Memberlakukan Program Etika
Banyak contoh mengemukakan bahwa tanggapan etis dapat dipelajari
berdasarkan pengalaman. Sebagian besar analis setuju bahwa walaupun
sekolah-sekolah bisnis harus tetap mengajarkan masalah-masalah etika di
lingkungan kerja, perusahaanlah yang bertanggung jawab penuh dalam
mendidik karyawannya.
Perilaku etis sangat penting bagi wirasuhaan (pengusaha) karena dapat memberikan
efek positif seperti berikut :
a. Staf akan meniru perilaku pemimpinnya
b. Standar etis akan membentuk kerangka kerja yang positif

2.5.5 Penyebab Perilaku Tidak Etis


Dalam kehidupan bermasyarakat, perilaku etis sangatlah penting. Hal ini disebabkan
karena, interaksi antar individu di dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai
etika. Pada dasarnya dapat dikatakan kesadaran semua anggota masyarakat untuk
berperilaku secara etis dapat membangun suatu ikatan dan keharmonisan
bermasyarakat. Namun demikian, kita tidak dapat mengharapkan semua orang dapat

12
berperilaku etis. Arens dan Loebbecke (1997:73) menyebutkan bahwa, terdapat dua
faktor utama yang mungkin menyebabkan orang
berperilaku tidak etis, yaitu:
1. Standar etika orang tersebut berbeda dengan masyarakat pada umumnya.
2. Orang tersebut secara sengaja bertindak tidak etis untuk keuntungan sendiri.
Perilaku tidak etis dalam berwirasuha akan menimbulkan hal-hal sebagai berikut :
a. Mengganggu pengambilan keputusan usaha.
b. Dapat dituntut dengan undang-undang mengenai perlindungan konsumen.
c. Bisnis tidak akan mampu untuk bertahan dalam jangka panjang.

2.5.6 Perilaku Saling Menipu Para Wirausahawan


1. Pelaku bisnis dengan pelaku bisnis
Mengirim barang dengan jumlah tidak sama (kurang) dari faktur atau mengirim
uang dengan cek kosong yang mempengaruhi pihak lain untuk saling
menjatuhkan, salah satu bisa bangkrut, bahkan bisa kedua-duanya
2. Pelaku bisnis dengan konsumen. Contoh kasusnya antara lain :
a. Pemakaian formalin untuk pengawetan makanan
b. Menutupi kualitas barang yang rusak
c. Ingkar janji, barang rusak masih tetap dikirim
3. Konsumen dengan pelaku bisnis
Contoh kasusnya dalah seperti membayar tagihan lewat rekening yang sudah
ditutup
4. Konsumen dengan konsumen. Contoh tindakan yang dilakukan antara lain :
a. Janji tidak ditepati
b. Kiriman yang jumlahnya kurang dari faktur

2.5.7 Perbedaan Etika Berdasarkan Jenis Kelamin


Meskipun perbedaan etika berdasarkan jenis kelamin ini tidak mutlak, namun
ada perbedaan yang harus dicatat atau setidaknya dapat dipisahkan secara prinsip
mengenai gender atau jenis kelamin antara pria dan wanita. Cara pria dalam
menyelesaikan masalah dilema etis sering kali berbeda dengan wanita. Hal ini dapat
dibedakan sebagai berikut :
❖ Pria
1. Lebih memperhatikan masalah hak

13
2. Menanyakan siapa yang benar
3. Membuat keputusan berdasarkan nilai
4. Membuat keputusan yang bersifat tidak mendua
5. Mencari solusi yang objektif dan adil
6. Berpegang pada peraturan
7. Dituntun oleh logika
8. Menerima otoritas
❖ Wanita
1. Lebih memperhatikan perasaan
2. Menanyakan siapa yang akan terluka
3. Menghindari keputusan
4. Memilih untuk berkompromi
5. Mencari solusi untuk menimalkan yang terluka
6. Berpegang pada komunikasi
7. Dituntun oleh emosi
8. Menantang otoritas

2.5.8 Konsumerisme Versus Hedonisme


Konsumerisme adalah sebuah paham yang menjadikan seseorang
mengkonsumsi barang secara berlebihan. Dan biasanya perilaku ini tidak disadari oleh
setiap orang. Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor seperti membeli barang
karena sekedar keinginan, bukan kebutuhan. Membeli produk untuk terlihat keren dan
mengikuti zaman bahkan hanya karena kemasannya menarik. Perilaku seperti ini
mengarah pada gaya hidup yang hanya mementingkan penampilan yang berlebihan.
Contoh konsumerisme antara lain :
a. Membeli barang-barang merek terkenal padahal itu semua tidak diperlukan.
b. Pergi bahkan berbelanja di pusat perbelanjaan secara rutin.
c. Banyak masyarakat yang menggunakan handphone lebih dari satu
(menyebabkan tingginya pengeluaran).
d. Pada bulan puasa menjelang Idul Fitri, masyarakat Muslim
menggandakanpengeluarannya, antara lain untuk membeli barang-barang yang
akan dipakai pada saat silaturahmi nanti. Ini menjadi sebuah kebiasaan setiap
tahunnya.

14
e. Menculik anak dengan tujuan meminta tebusan (bukan membunuh) karena
ingin memperoleh uang.
f. Gengsi karena ingin terus memiliki barang-barang mahal.
Dampak konsumerisme :
a. Budaya konsumtif di masyarakat.
b. Uang akan cepat habis.
c. Menimbulkan keresahan/ketimpangan sosial.
d. Dampak rohani: tidak bisa bertanggungjawab kepada Tuhan.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan
kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Berfoya-foya serta menghambur-
hamburkan uang untuk membeli barang yang branded dan sedang nge-trend saat ini.
Hal ini terjadi karena keinginan akan hidup berwemah-mewahan dan tidak mau di sebut
ketinggalan zaman. Contoh dari hedonisme antara lain :
a. Suka membeli barang-barang yang mewah
b. Paham untuk mencari kesenangan semata-mata
Dampak hedonisme :
a. Individualisme
Orang yang sudah terkena penyakit hedonisme cenderung tidak memerlukan
bantuan orang lain. Mereka merasa sudah mampu hidup sendiri, tetapi
kenyataannya tidak begitu. Manusia merupakan mahluk sosial.
b. Matrealistis
Merupakan bagian dari hedonisme, yang dimana mereka merasa tidak puas
dengan apa yang sudah di milikinya. Dan selalu iri jika melihat orang lain.
c. Konsumtif
Hedonisme cendurung konsumtif ,karena menghabiskan uang untuk membeli
barang-barang hanya untuk kesenangan semata tanpa didasari kebutuhan.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai sesuatu kemampuan kreatif dan
inovatif (create new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan
perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan
keberanian untuk menghadapi risiko.
Etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai-nilai
moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam berusaha dan memecahkan persoalan-
persoalan yang dihadapi dalam suatu perusahaan.
Etika bisnis sangat penting untuk mempertahankan loyalitas stakeholder dalam
membuat keputusan-keputusan perusahaan dan dalam memecahkan persoalan
perusahaan. Hal ini disebabkan semua keputusan perusahaan sangat mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh stakeholder.
3.2 Saran
Kegiatan kewirausahaan merupakan kegiatan sehari-hari yang sering kita
lakukan, namun tidak tau dimana posisinya. Oleh sebab itu untuk menjadi
wirausahawan yang sukses, alangkah baiknya dipahami dan diaplikasikan etika dalam
berwirausaha, agar mudah dalam pencapaian tujuan perusahaan.

16