Anda di halaman 1dari 24

CSMS

CSMS atau Contractor Safety Management System merupakan pendokumentasian suatu mekanisme kontrol
dalam bentuk panduan untuk menjamin standar usaha dalam pengelolaan kinerja HSE dari para kontraktor.

Sistem ini dipakai oleh pemberi kerja/owner dalam menyeleksi kontraktor, pengawasan pelaksanaan proyek dan
mengevaluasi sistem K3 saat proyek telah selesai. Tidak hanya owner proyek, General Kontraktor juga
memakai CSMS untuk mengelola sub kontraktor, mengklasifikasikan mereka berdasarkan tingkatan risiko yang
mampu diterima oleh subkontraktor.

Tujuan diberlakukannya CSMS adalah:


1. Menyediakan proses kontrak kerja antara klien dan kontraktor dengan melihat aspek K3
sehingga kedua belah pihak dapat saling mendukung kegiatan K3 dalam proyek. Submision CSMS
umumnya sekali dan direview kesesuaiannya jika klien hendak bekerja sama kembali dengan
kontraktor, tanpa harus mengurus dokumen dari awal. Untuk Klien besar, mereka akan melakukan
grading (penilaian) dan memberikan sertifikat.
2. Memastikan kontraktor mempunyai Sistem Manajemen dan program-program kerja K3 sesuai
dengan risiko pekerjaan
3. Memfasilitasi aktivitas K3 kontraktor terhadap klien dan terhadap para subkontraktor lainnya

Evaluasi CSMS tidak hanya melalui penilaian dokumen yang diserahkan, tetapi owner juga akan melihat
implementasi di lapangan, apakah sesuai dengan yang disubmit. Jika terdapat
ketidakpatuhan/ketidaksesuaian/complaint, owner akan memberikan peringatan bahkan jika pelanggaran
tersebut berat, maka proyek akan dihentikan untuk ditinjau kembali komitmen perjanjian kontrak. Dapat
dikatakan, ada 2 fase dalam CSMS:
1. Fase administrasi
 Penilaian risiko
 Pre kualifikasi
 Seleksi
2. Fase implementasi
 Pre job acitivity
 Pra-mobilisasi
 Mobilisasi
 Work in progress
 Evaluasi akhir

FASE ADMINISTRASI
 untuk melakukan seleksi sehingga terpilih calon kontraktor dengan komitmen
HSE tinggi
PENILAIAN RISIKO
1. mengklasifikasikan jenis pekerjaan berdasarkan salah satu katagori risiko
yang ada: Rendah, Menengah, dan Tinggi
2. Penilaian mempertimbangkan:
 jenis pekerjaan
 lokasi pekerjaan
 pemilik daerah
 uraian kegiatan/kejadian/fasilitas
 potensi konsekuensi kejadian
 bahaya di tempat kerja
 katagori bahaya
 frekuensi/kemungkinan kejadian
 pengendalian yang ada saat ini dan penanggung jawab
 nilai risiko sebelum dan sesudah pengendalian
 pekerjaan yang dilakukan secara bersamaan oleh kontraktor berbeda
 dampak sosial terhadap masyarakat setempat
3. Keparahan suatu risiko dapat dilihat dari dampak potensial yang
ditimbulkan:
 Terhadap manusia, dampaknya:
 tidak ada gangguan kesehatan
 cidera/sakit ringan
 cidera dan membutuhkan penyembuhan (1 minggu)
 mengarah pada cacat permanen sebagian atau ketidakmampuan
bekerja untuk jangka waktu lama
 cacat parah dan/atau korban meninggal
 Terhadap aset//peralatan
 tidak ada kerusakan
 tidak ada gangguan operasional (biaya perbaikan kecil)
 gangguan ringan pada proses, menyebabkan iolasi peralatan untuk
perbaikan
 shut down plant sebagian
 kehilangan sebagian dari plant dan shut down dalam waktu lama
 kehilangan plant secara total
 Terhadap lingkungan
 tidak ada risiko lingkungan
 tidak ada keluhan
 risiko lingkungan setempat, kontaminasi, kerusakan cukup besar
untuk membahayakan lingkungan, tetapi tidak ada dampak permanen
 kerugian terbatas, berulang dan melampaui batas hukum, atau
nilai yang sudah ditentukan oleh komunitas sekitar
 kerusakan lingkungan parah, perlu pekerjaan besar untuk
memulihkan hingga kembali keadaan semula
 kerusakan lingkungan parah, terus menerus, meluas dan kerugian
ekonomi besar terhadap perusahaan
 Terhadap reputasi perusahaan
 tidak diketahui umum
 masyarakat tidak peduli
 sedikit perhatian dari media setempat dan/atau politisi
 mendapatkan perhatian masyarakat daerah, tanggapan negatif
meluas dan media setempat namun tanggapan ringan dari media nasional
 dampak terhadap pembaruan izin, tanggapan negatif yang luas
disertai media nasional, serta adanya mobilisasi dari kesatuanaksi
 tanggapan negatif yang luas dalam kebijakan
nasional/internasional dengan potensi dampak parah terhadap akses ke daerah
baru, pemberian lisensi, serta mendapat perhatian masyarakat internasional
PRA KUALIFIKASI
 untuk menyaring calon kontraktor yang potensial dan memastikan pengalaman
dan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan secara aman. Tools: kuesioner,
checklist atau form penilaian kontraktor
 Tim pra-kualifikasi korporasi harus mengeluarkan pemberitahuan secara formal
mengenai hasil dan dilampirkan saat kontraktor memasukkan formulir pendaftaran
(Bidder Registration Form)
SELEKSI
 bertujuan untuk menilai apakah rencana K3 dan kriteria evaluasi lelang telah
dipenuhi untuk memilih pemenang lelang
 tahapan pemilihan kontraktor yang sesuai dengan persyaratan tender. terdapat 2
fase:
 Pre contract (penyiapan dokumen lelang)
 Kriteria seleksi harus mempertimbangkan aspek penting: biaya,
kemampuan teknis, reputasi dan kemampuan melaksanakan pekerjaan sesuai ketepatan
waktu dan kualitas yang disyaratkan Klien
 penilaian HSE untuk kontrak, termasuk kapabilitas kontraktor
 General kontraktor menyiapkan program pemantauan HSE
 memastikan dan menyetujui HSE Plan
 menyiapkan program audit
 evaluasi HSE Plan
 Kontrak
 Rekomendasi penetapan pemenang lelang (award) diberikan kepada
Panitia Lelang (Bid Committee) untuk persetujuan sebelum memperoleh persetujuan
dari pejabat berwenang (Contract Authority). Setelah terpilih, klien harus melakukan:
 rapat penjelasan untuk finalisasi rencana K3 proyek dan
persetujuannya
 kontraktor mengimplementasi rencana K3
FASE IMPLEMENTASI
 memberikan jaminan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor bisa
dilakukan secara selamat
PRE JOB ACTIVITY
 tahapan yang menjembatani komunikasi antara owner/kontraktor utama dengan
kontraktor terpilih mengenai aspek yang revelan dengan K3 sebelum pelaksanaan
kontrak. Terdiri atas 2 tahap:
 Pra mobilisasi
 Rapat awal/Kick off meeting bersama owner dan general kontraktor (agar
kontraktor mengenali lokasi kerja, fasilitas, orang-orangnya dan informasi kerja lainnya)
 inspeksi dan audit
 menindaklanjuti hasil kick off meeting
 pelatihan K3
 Mobilisasi
 rapat awal (semua staff) - mengkomunikasikan rencana K3 kepada semua
personil
 mobilisasi staf (utama) dan perlengkapan (set up)
 finalisasi/penyelesaian rencana K3
 orientasi dan pelatihan spesifik
 audit mobilisasi (jika diperlukan)
WORK IN PROGRESS
 untuk melakukan inspeksi dan evaluasi (sementara) terhadap aktual pekerjaan
yang dilakukan oleh kontraktor apakah sesuai di dalam kontrak. audit diusahakan
dilakukan pada setiap tahapan proses, terutama pada pekerjaan dengan katagori risiko
tinggi.
 kompetensi personil
 pelaksanaan dan komitmen
 pelatihan
 pelaksanaan rencana program kerja dan perbaikan
 drill tanggap darurat untuk mempersiapkan reaksi
 inspeksi, audit
 komunikasi, konsultasi dan promosi K3 (rapat-rapat K3: safety talk, safety
meeting and toolbox meeting)
 pelaporan dan investigasi K3
 adanya kunjungan manajemen lini pada semua lokasi pekerjaan - pemantauan
kepatuhan persyaratan kontrak
EVALUASI AKHIR
 evaluasi untuk mengetahui apakah kontraktor dapat diikutsertakan dalam proyek
selanjutnya melalui penilaian:
 kinerja K3
 masalah-masalah selama berlangsungnya proyek dan tindakan perbaikan
 cidera, kerusakan, insiden dan catatan nearmiss (dari sistem pelaporan)
 pelatihan dan simulasi K3 yang dijalankan (peningkatan kompetensi dan
perubahan perilaku positif yang diperlihatkan pekerja)
 pentingnya kontraktor menunjukkan aspek positif selama bekerja dikarenakan
pada evaluasi akhir inilah kunci referensi kinerja

Menurut International Association of Oil and Gas Producers, HSE management - guidelines for working
together in a contract environment, Report No.423, June 2010, proses pada CSMS terdiri:
Bagi subkontraktor kecil, keikutsertaan terhadap proses CSMS (sebagian) akan
merasakan keberatan dikarenakan persyaratan yang dibutuhkan akan memperkecil
margin keuntungan. Pasalnya untuk benar-benar taat pada peraturan, HSE masih
dipandang sebagai COST bukan INVESTASI / BENEFIT. Jika diambil sisi positifnya,
perusahaan justru dapat belajar lebih banyak untuk memperbaiki sistem. Sistem yang
settle dan kuat akan menguntungkan perusahaan untuk dapat maju dan memenangkan
tender proyek yang lebih besar karena mereka sudah mendapatkan kepercayaan dan
citra yang baik dimata klien.

Berikut merupakan informasi umum pada instruksi pengisian CSMS:

INFORMASI UMUM DAN INDIKATOR

1. HSE Performance Record


 Fatality / kematian
 Lost time injury / kehilangan hari kerja
 Medical treatment injury / pertolongan medis
 First aid injury / pertolongan pertama
 Near miss / kejadian nyaris celaka
 Work related illness / PAK
 Fire incident / kebakaran
 Property damage / kerusakan aset
 Environmental incident / kerusakan lingkungan
 Total manhour / jumlah jam kerja
 Days work without Lost Time Injury / hari kerja tanpa LTI
2. Leadership and Top Management Commitment
 Keterlibatan manager senior secara individu dalam pengelolaan HSE
 Bukti komitmen pada semua jenjang organisasi melalui:
 Target kinerja HSE perusahaan
 Organisasi memahami dan sepakat untuk memenuhi target HSE
3. Policy and Strategic Objectives
 Kebijakan HSE dan dokumen
 Dokumen tertulis kebijakan HSE
 Yang bertanggung jawab pada akhir dan menyeluruh untuk
bidang HSE dalam organisasi
 Cara memastikan kepatuhan terhadap kebijakan HSE dan
dikomunikasikan di tempat kerja
 Ketersediaan pernyataan kebijakan kepada pekerja
4. Organization, Responsibility, Resources, Standards and
Documentation
 Organisasi – komitmen dan komunikasi
 Keterlibatan managemen dalam kegiatan HSE, penetapan
sasaran dan pemantauan
 Ketentuan yang dilakukan untuk komunikasi dan pertemuan
HSE
 Kompetensi dan pelatihan: Manager/Supervisor/Sr.Site/HSE Advisor
 Apakah para manajer dan pengawas di semua tingkat sudah
menerima pelatihan HSE sesuai tanggung jawab mereka dalam kaitan dengan
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan persyaratan HSE
 Kompetensi dan pelatihan umum HSE
 Bagaimana perusahaan memberikan pengetahuan dasar HSE
terhadap karyawan dan menjaga agar pengetahuan tidak ketinggalan
 Pengaturan perusahaan agar karyawan baru / subkontraktor
memahami kebijakan dan praktek HSE di organisasi
 Pelatihan khusus
 Perusahaan memberikan pelatihan khusus untuk personil dalam
menghadapi potensi bahaya
 Kesesuaian penilaian terhadap subkontraktor
 Subkontraktor sesuai dengan jenis pekerjaan dan katagori risiko
proyek
 Penilaian terhadap subkontraktor agar sesuai dengan kebijakan
HSE dan standar perusahaan
 Standar
 Standar peraturan yang digunakan sesuai jenis pekerjaan
 Pemenuhan dan pemeriksaan terhadap kepatuhan standar baku
K3
5. Hazards and Effect Management
 Bahaya dan dampak terhadap managemen
 Prosedur HIRADC (beserta form: JSA, work permit)
 Pajanan terhadap pekerja
 Sistem pemantauan paparan terhadap pekerja dari bahan kimia
atau unsur fisik lainnya
 Penanganan potensi bahaya
 Komunikasi bahaya (kimia, bising, radiasi, dsb) terhadap
pekerja dalam pekerjaan mereka
 Alat Pelindung Diri
 Peraturan terkait pengadaan dan pembagian APD: standar atau
khusus
 Kesesuaian PPE dengan lingkup kerja pekerja (matrix APD)
 Materi pelatihan penggunaan APD
 Program untuk memastikan APD digunakan dan dijaga
 Managemen limbah
 Sistem identifikasi, klasifikasi, pengurangan dan penangan
limbah
 Jumlah kecelakaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan
 Prosedur pembungan limbah
 Prosedur pelaporan tumpahan minyak
 Ketersediaan peralatan terkait masalah lingkungan
 Orang yang berwenang untuk mengkoordinasikan masalah
lingkungan
 Industrial higiene
 Program kesehatan industri
 Obat-obatan terlarang dan alkohol
 Kebijakan terkait obat-obatan terlarang dan alkohol
6. Perencanaan dan Prosedur
 Manual operasional HSE
 HSE prosedur dan manual
 Cara untuk memastikan bahwa cara kerja dan prosedur
digunakan konsisten dengan tujuan dan pengaturan kebijakan HSE di
lapangan
 Pengendalian peralatan dan pemeliharaan
 Pendaftaran dan sertifikasi peralatan dan fasilitas agar sesuai
tuntutan peraturan; diinspeksi, diawasi dan dirawat dalam kondisi
kerja yang baik
 Managemen keselamatan transportasi dan pemeliharaan
 Managemen transportasi darat
 Managemen transportasi laut
 Pencegahan kecelakaan kendaraan
 Operational Pengangkatan (lifting)
 Prosedur operasional alat angkut
 Jadwal pemeliharaan peralatan operasional lifting
 Program inspeksi, pengetesan, pemeliharaan dan sertifikasi
untuk semua alat angkut
 Kompetensi operator lifting
 Kompetensi team lifting: operator, signalmen, rigger
7. Pembelian dan Pengendalian Produk
 Sistem verifikasi produk yang dibeli (bahan kimia, peralatan, sarana
produksi)
 Kemampuan menelusuri produk terkait potensi masalah K3
8. Implementasi dan Monitoring Kinerja
 Managemen HSE dan monitoring kinerja
 Pengaturan terkait pengawasan dan pemantauan kinerja HSE
 Pengaturan dalam penyampaian hasil temuan kepada
manajemen dan karyawan lapangan
 Perusahaan menerima penghargaan untuk prestasi kinerja HSE
 Pemberitahuan laporan kejadian/kejadian yang membahayakan oleh
badan nasional terkait
 Dokumentasi kinerja HSE
 Cara mendokumentasikan kinerja HSE
 Cara mendokumentasikan kinerja lingkungan
 Pelaporan dan investigasi kecelakaan: prosedur dan cara
mengkomunikasikan kepada karyawan
9. Audit dan Review
 Standar audit K3, perencanaan dan efektifitas pemeriksaan audit, serta
pelaporan dan penindaklanjutan hasil audit
10. Prosedur Tanggap Darurat
 Prosedur dan bukti pelatihan tanggap darurat
11. Manajemen HSE : Ciri Tambahan
 Sertifikat HSE dari badan sertifikasi
 Partisipasi perusahaan dalam organisasi yang relevan dengan industri,
perdagangan dan pemerintahan
 Ciri tambahan HSE lainnya (lokal, nasional atau global)

Semakin banyak data aktual yang disubmit, maka akan semakin tinggi grade / skor yang
didapat. Bukti yang kuat pada umumnya berupa foto dan daftar hadir (dan hasil
notulensi rapat) yang ditandatangani oleh peserta dan pemimpin rapat.

Umumnya kebutuhan informasi pada CSMS sama halnya dengan indikator pada audit.
Namun, perbedaannya adalah pada tingkat penggunaan, kebutuhan dan pelaksanaan.
Pendokumentasian CSMS yang dituangkan dalam bentuk tulisan akan menghasilkan HSE
Plan. Jika CSMS merupakan aktualisasi/penerapan program kerja K3, maka HSE Plan
merupakan perencanaan program kerja K3.

Adapun daftar isi dari suatu HSE Plan terdiri dari:


1. Pengenalan
2. Lingkup proyek
3. Prinsip SMK3L
 Kebijaksanaan, sasaran dan target K3
 Perencanaan
 Implementasi (cakupan usaha)
 Pengukuran dan tindakan koreksi
 Pengkajian ulang dan perbaikan
4. Komitmen dan manajemen kepemimpinan
5. Kebijakan dan sasaran K3
 Kebijakan K3
 Sasaran K3
 Visi dan Misi
6. Tanggung jawab
 Manager proyek
 Manager lapangan/superintendent
 Koordinator K3
 Manager konstruksi
 Manager HRD
 Manager lapangan subkontraktor
 Foreman dan pekerja
7. Desain engineering
 Penelitian peraturan dan ketentuan
 Kontrol aktivitas desain
 Penanganan lingkungan dan polusi
 Penanganan kebisingan untuk perlindungan kesehatan
 Kaji ulang tehnik keselamatan
 Tindak lanjut dan managemen perubahan
8. Perencanaan dan pengaturan dari hasil pencapaian sasaran
 mobilisasi
 perencanaan jangka panjang
 perencanaan jangka pendek
 perencanaan harian
9. Pelatihan karyawan
10. Program penghargaan karyawan
 program insentif penghargaan keselamatan kerja
 promosi keselamatan kerja (safety campaign)
11. Standar dan peraturan
12. Komunikasi dan rapat
13. Metode evaluasi sumber-sumber berbahaya
 umum
 berdasarkan macam-macam sumber berbahaya
 identifikasi sumber bahaya
 pendataan risiko
14. Alat pelindung diri perorangan
 APD wajib digunakan
 mengendalikan sumber bahaya
 faktor dampak pemakaian
 pengeluaran, penggunaan, pemakaian dan perawatan APD
15. Ijin kerja
16. Prosedur kerja aman
 peralatan
 pembakaran, pengelasan dan pemotongan (pekerjaan panas)
 pekerjaan listrik dan perkakas
 pekerjaan pengangkatan
 pekerjaan perbaikan/maintenance
 penggalian
 alat memindahkan tanah
 cara mengemudi yang baik
 udara bertekanan
 sistem LOTO
 pagar penghalang dan lantai /dinding terbuka
 memasuki ruang terbatas
17. Perlindungan dan pencegahan terhadap bahaya kebakaran
18. Penyelidikan dan pelaporan kecelakaan kerja
 pertolongan pertama pada kecelakaan
 laporan kecelakaan dan ketidaksesuaian
19. Program perlindungan keselamatan kerja
 perlindungan keselamatan kerja
 tempat kerja aman
 perlindungan kesehatan kerja
20. Penanganan bahan berbahaya dan beracun
1. limbah berbahaya
2. radiasi
21. Managemen lingkungan hidup
 perlindungan lingkungan hidup
 kebersihan dan kerapihan
 isu lingkungan
22. Peraturan umum
 umum (petunjuk cara kerja aman)
 berkelahi, mabuk, teror
 kebijakan prosedur pendisiplinan
23. Narkotik dan obat terlarang
 narkotik dan obat terlarang
 minuman beralkohol dan memabukkan
 senjata api/tajam
24. Tanggap darurat
25. Program kerja keamanan
26. Lampiran
 diagram organisasi K3
 matrix APD
 matrix rencana pelatihan
Adapun ketentuan daftar isi pada HSE Plan disesuaikan dengan ruang lingkup dan
besarnya perusahaan.

Sumber Referensi:
1. International Association of Oil and Gas Producers (OGP), "HSE management -
guidelines for working together in a contract environment". Report No.423:June 2010
2. APRIL Contractor Safety Management System (CSMS) Audit Questionnaire Form
3. modul pelatihan CSMS

Mengenai audit dan Sistem Manajemen K3, saya merekomendasikan buku dari Bapak
Soehatman Ramli, "SMART SAFETY: Panduan Peneraan SMK3 yang efektif". Dian
Rakyat: 2013.

Program Kerja dan Aktivitas


HSE
Setiap perusahaan memiliki program kerja untuk mencapai Visi dan Misi serta sebagai
pemenuhan dari Kebijakan terkait. Hal ini juga disesuaikan dengan core business dari
perusahaan tersebut.
Namun, pada umumnya, program kerja dan atau aktivitas yang berlangsung di lapangan
meliputi:

1. Kebijakan HSE
 Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
 Kebijakan Lingkungan
 Kebijakan obat terlarang dan alkohol
 Kebijakan keselamatan berkendara
2. Pelatihan
 Induksi keselamatan (HSE Induction) dan Safe work practice
 Bekerja di ruang tertutup dan terbatas (Confined Space)
 P3K (First Aid) dan CPR
 Pemadam kebakaran (Fire Fighting)
 Keselamatan berkendara (Defensive Driving)
 LOTO (Log Out Tag Out)
 Bekerja di ketinggian (working at height and fall protection)
 Ijin kerja
 JSA (Job Safety Analisys) ; HIRADC
 Perancah (Scaffolding)
 Angkat angkut - Lifting and Rigging
 Keselamatan pemakaian bahan kimia
 Penanganan material berbahaya (B3) (terkait program PROPER)
 Keadaan darurat dan berbahaya (emergency)
 Investigasi dan pelaporan kecelakaan kerja
3. Perencanaan
 Pemeriksaan kesehatan (Awal-Berkelanjutan-Spesifik)
 Pemasangan spanduk dan poster keselamatan
 Penghargaan (reward)
4. Monitoring Kinerja (promosi dan komunikasi K3)
 Safety morning talk
 Toolbox meeting
 HSE Patrol
 HSE committee meeting
 STOP Card
 NCR (Non Conformance Report)
5. Inspeksi
 Inspeksi lingkungan (limbah, kebersihan)
 Inspeksi: APAR (fire management), P3K, Kendaraan
 Keamanan
 Peralatan dan perlengkapan keselamatan
 Hygiene industri: pencahayaan, kelembapan, suhu, ergonomi, kebisingan
6. Audit
 Audit Internal
 Audit Eksternal
Dari 6 pokok besar program tersebut, diperhatikan:
 Penjelasan dan tujuan dari masing-masing item program
 Frekuensi pelaksanaan: rutin, mingguan, bulanan atau tahunan
 PIC yang bertanggung jawab (apakah melibatkan Supervisor/Manager lintas
bidang)
 Perencanaan setiap bulannya
Program kerja tahunan ini dipresentasikan dalam rapat besar managemen sehingga
diketahui oleh Top Managemen untuk menunjukkan komitmen.

KATA KUNCI SAFETY


(Oleh: Ashari Sapta Adhi)
Awalnya menerima tugas menyampaikan safety talk di internal Divisi HSE perusahaan yang rutin
dilakukan setiap selasa pagi. Terlintas dalam pikiran mengenai satu kata yaitu SAFETY (karena saya orang
Safety). Munculah ide ketika berada di suatu ruangan kecil untuk memformulasikan satu per satu dari kata
SAFETY seperti yang dijabarkan di bawah ini. Oleh karenanya tulisan ini diberi judul Kata Kunci
SAFETY.
STANDAR – Bekerja berdasarkan standar bukan opini
Ada sedikit perbincangan yang dilakukan oleh seorang pengawas terhadap pekerja yang sedang diawasi
ketika pekerjaan berlangsung. Pengawas berkata “Wah Pak ini nggak boleh dipake!”, “Kenapa Pak?”
dijawab oleh pekerja. “Yah pokoknya nggak boleh Pak” sambungnya oleh pengawas. “Lah Pak, kemaren-
kemaren juga pake ini dan nggak masalah sama pengawas yang lain” kata si pekerja. Lalu pengawas
bingung mau bilang apa lagi.
Berbicara safety (keselamatan) tidak terlepas dari sebuah standar atau acuan yang mengaturnya.
Keselamatan seorang karyawan ketika bekerja tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan yang
mempekerjakannya, akan tetapi pemerintah selaku pemilik regulasi juga sangat tegas dalam aturannya.
Salah satu tujuan dibuatkannya suatu standar tidak lain adalah untuk memproteksi seorang karyawan dari
bahaya dan risiko yang dapat mengancam keselamatannya ketika mereka bekerja. Suatu pekerjaan
dikatakan aman atau tidak aman harus berdasarkan standar, bukan opini dari siapapun seperti pada contoh
perbincangan di atas. Standar bagaikan sebuah senjata bagi seorang pengawas ataupun safety officer,
sehingga pada saat melakukan inspeksi, pemeriksaan dan pengujian suatu pekerjaan, standar dijadikan
sebagai acuan sesuai Kepmen 555K pasal 12 poin b (Kewajiban Pengawas Operasional).
Di bawah ini adalah contoh pembagian dari suatu standar:
1. Standar internasional seperti OHSAS, NOSA dlsb.
2. Standar nasional seperti SMK3, SMKP, SNI, Peraturan-perundangan seperti UU No. 1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja, Kepmen No. 555K tahun 1995 tentang Keselamatan Pertambangan dlsb.
3. Standar operasional perusahaan seperti Manual, SOP, WI dan Buku Panduan perusahaan.
Sudah seharusnya seorang pengawas dan safety officer menjadikan standar sebagai acuan dalam
melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pekerjaan di lapangan. Hindari standar ganda yang
berakibat dapat membingungkan operasional di lapangan.
AKTIF – Pro-Aktif bukan reaktif dalam tindakan
Adalah kesalahan besar apabila kita bertindak reaktif terhadap suatu masalah. Menunggu terjadinya
kecelakaan bukanlah prinsip dalam keilmuan safety. Promotif dan preventif adalah prinsip ilmu safety.
Sedia payung sebelum hujan dan mencegah lebih baik daripada mengobati merupakan slogan safety yang
mudah dipahami. Contoh pro-Aktif seperti program inspeksi keselamatan, pelatihan keselamatan, rapat
keselamatan dan lainnya. Nama lain dari pro-aktif adalah Leading Indicator yang umumnya istilah ini
sudah banyak digunakan pada perusahaan besar.
FLEKSIBEL – Fleksibel (tidak kaku) dalam menghadapi masalah
Safety tidaklah kaku tapi bersifat fleksibel. Sebagai contoh lihatlah pada matriks risiko yang ada, dimana
ada level risiko yang rendah sampai ekstrim (Low = Rendah; Medium = Sedang; High: Tinggi dan
Extreme = Ekstrim). Pada level risiko apapun pekerjaan tetap bisa dilakukan, namun dengan catatan. Ada
istilah ALARP (As Low as Reasonably Practicable) yaitu risiko minimum yang dapat diterima sedemikian
hingga pekerjaan tersebut bisa dipraktekan/dilakukan. Selain itu ada juga istilah tolerable/acceptable risk.
Kemampuan dan keahlian dari sesorang assessor sangat diperlukan dalam melakukan risk assessment,
karena hal ini menyangkut keselamatan dari semua orang yang bekerja.
Safety is not police. Safety lebih dekat dengan orang bijak, karena dengan kata-kata bijaknya mampu
merubah atau mempengaruhi seseorang untuk bertindak aman. Kata bijak yang dibarengi dengan standar
akan mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam merubah prilaku atau tindakan seseorang.
EFEKTIF – Sistem kendali yang sesuai dengan Hirarki
Kata efektif bisa diterapkan pada sistem hirarki pengendalian dari suatu bahaya dan risiko. Seorang
pengawas dan safety officer harus berfikir “cerdas”, kendali seperti apa yang efektif untuk mencegah
terjadinya kerugian. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa ada beberapa metode hirarki pengendalian.
Namun karena kita mengacu kepada standar internasional yaitu OHSAS 18001, hirarki pengendalian
terdapat 5 yaitu: Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Enjinering, Administrasi dan APD (Alat Pelindung Diri).
Keefektifan dari sebuah pengendalian yang ditetapkan dan diterapkan akan bergantung pada kemampuan
dari sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Sebagai contoh, untuk mengadakan sebuah alat baru yang
lebih aman atau memodifikasi suatu alat/mesin akan membutuhkan cost (biaya) yang tinggi tentunya.
Selain itu persiapan sumber daya manusianya seperti pelatihan untuk meningkatkan skill dan kompetensi
karyawan.
TERENCANA – Terencana dalam eksekusi program
Hal terpenting sebelum melaksanakan program safety adalah rencana. Organisasi yang dinamis di
dalamnya memiliki rencana yang matang sebelum melakukan aktifitas. Tanpa sebuah rencana akan
berakibat tidak jelas arah dan tujuan yang akan dicapai. Selain program safety yang terencana juga harus
efektif. Sedikit program lebih baik daripada banyak program namun tidak efektif.
YUKS BERDOA – Tidak lupa berdoa, karena segala sesuatu atas kehendak-Nya
Standar yang tinggi, program yang terencana dan sistem kendali yang efektif tidaklah cukup. Ketercapaian
atau keberhasilan dari itu semua tidaklah lepas dari peran doa yang kita lakukan. Kecelakaan yang terjadi
di tempat kerja merupakan takdir (ketetapan) dari Allah ta’ala. Kita hanya mampu berusaha sebaik dan
semaksimal mungkin. Segala usaha dan upaya kita lakukan tidak akan sia-sia, insya Allah. Sebelum
bekerja, selama bekerja dan setelah bekerja jangan lupa untuk selalu berdoa kepada-Nya. Jangan pernah
lupa untuk bedoa kepada-Nya, kita memohon keselamatan selama kita bekerja.
Kata kunci SAFETY (Standar, Aktif, Fleksibel, Efektif, Terencana dan Yuks berdoa) yang dijabarkan di
atas adalah salah satu upaya kita untuk mencapai kinerja HSE yang lebih baik. Peran dari semua unsur
dalam menjalankan SAFETY ini sangat penting, mulai dari Manajemen, Pengawas dan Pekerja. Oleh
karena itu, mari kita junjung tinggi SAFETY di tempat kerja kita masing-masing.

Prosedur HIRADC
1. Tujuan/Purpose

Prosedur ini dibuat untuk memberikan panduan dalam melakukan identifikasi bahaya dan
penilaian resiko terhadap kesehatan dan keselamatan kerja baik karyawan maupun pihak-
pihak luar yang terkait dalam kegiatan PT XXXX, serta menentukan pengendalian yang
sesuai.

The objective of the procedure is to give clear guidance to conduct hazard identification and
risk assessment relates occupational health and safety result from employees and external
parties activities in PT XXXx, also determining appropriate controls.

2. Ruang Lingkup/Scope

Identifikasi bahaya dan penilaian resiko serta pengontrolannya harus dilakukan di seluruh
aktifitas XXXX, termasuk aktifitas rutin dan non rutin, baik pekerjaan tersebut dilakukan
oleh karyawan langsung maupun karyawan kontrak, suplier dan kontraktor, serta aktifitas
fasilitas atau personal yang masuk ke dalam tempat kerja. Identifikasi bahaya dan penilaian
resiko harus dilakukan oleh karyawan yang mempunyai kompetensi sesuai dengan standar
kompetensi yang ditetapkan oleh XXXX.

Hazard identification, risk assessment, and control include all activities in XXXX, routine
and non routine activities done by direct or temporary workers, suplier and contractors, also
activities by facilities or personal who come in workplace area. Hazard identification and risk
assessment must conduct by employee who have competency according to competency
standard established by XXXX.
3. Persyaratan/Requirement
3.1 ISO 9001:2000 Klausul/Clause :
ð 6.4. Lingkungan Kerja/Work Environment
3.2 OHSAS 18001:2007 Klausul/Clause :
ð 4.3.1. Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko dan Menetapkan Pengendalian/Hazard
Identification, Risk Assessment, and Determining Control
3.3 Persyaratan Perusahaan Induk/Affiliated Company Requirement
3.3.1 Environement Safety Standard
3.4 Manual Sistem Manajemen Terintegrasi/Integrated Management System Manual

4. Definisi & Singkatan/Definition & Abbreviation

4.1 Bahaya/Hazard
Sumber, situasi, atau tindakan yang berpotensi menimbulkan luka atau gangguan kesehatan,
atau kombinasi keduanya.
Source, situation,or act with a potential for harm in terms of human injury or ill health, or a
combination of these.
4.2 Gangguan kesehatan/Ill health
Kondisi fisik atau mental yang dapat diidentifikasi dan merugikan, timbul dari dan atau
diperburuk oleh aktivitas kerja dan atau situasi yang berhubungan dengan kerja.
Identifiable, adverse physical or mental condition arising from and/or made worse by a work
activity and/or work-related situation.
4.3 Identifikasi bahaya/Hazard identification
Proses mengenali bahaya dan menentukan karakteristiknya.
Process of recognizing that a hazard exists and defining its characteristics.
4.4 Aktivitas Rutin/Routine activities
Aktivitas yang dilakukan secara rutin (setiap hari) termasuk kegiatan administrasi, tata
rumah tangga (contoh: pemeliharaan taman, pembersihan kantor).
Aktivity which conducted in daily basis including administration, housekeeping (example:
gardening, office cleaning)
4.5 Aktivitas Non-Rutin/Non-routine activities
Aktivitas yang dilakukan secara periodik, kadang-kadang, dan atau dalam situasi darurat.
Contoh aktivitas non-rutin adalah :
– perawatan dan pemeliharaan sarana prasarana (contoh: pembersihan reservoar,
perawatan berkala kendaraan operasional, perawatan berkala pompa dan lain-lain)
– kunjungan lapangan / inspeksi
– situasi darurat (contoh: banjir, gempa bumi, kebocoran klorin)
Activities which conducted periodically, occasionally, and or in emergency situations.
Examples of non-routine activities are :
– facilities and equipment maintenance (example: reservoar cleaning, periodic maintenance
of operasional car, periodic maintenance of pump, etc.)
– field trips / inspection
– emergency situations (example: flood, earth quake, chlorine leak)
4.6 Resiko/Risk
Kombinasi dari kemungkinan kejadian dari suatu bahaya atau paparan dan keparahan yang
timbul dari luka atau gangguan kesehatan yang diakibatkan dari kejadian atau paparan.
Combination of the likelihood of an occurrence of a hazardous event or exposure(s) and the
severity of injury or ill health that can be caused by the event or exposure(s).
4.7 Penilaian resiko/Risk assessment
Proses evaluasi resiko yang ditimbulkan oleh bahaya, memastikan kecukupan pengendalian
yang ada, dan menetapkan apakah resiko dapat diterima atau tidak.
Process of evaluating the risk(s), arising from a hazard(s), taking into account the adequacy
of any existing controls, and deciding whether or not the risk(s) is acceptable.
4.8 Resiko yang dapat diterima/Acceptable risk
Resiko yang telah diturunkan ke level yang dapat ditoleransi berdasarkan kewajiban hukum
dan kebijakan K3 perusahaan.
Risk that has been reduced to a level that can be tolerated having regard to its legal
obligations and company’s OH&S policy
4.9 Insiden/Incidents
Kejadian berhubungan dengan kerja dimana luka atau gangguan kesehatan atau kejadian
fatal terjadi, atau bisa terjadi.
Work-related event(s) in which an injury or ill health or fatality occurred, or could have
occurred.
4.10 Kesehatan dan keselamatan kerja/Occupational health and safety
Kondisi dan faktor yang mempengaruhi, atau dapat mempengaruhi keselamatan dan
kesehatan karyawan atau pekerja lain (termasuk pekerja sementara dan kontraktor),
pengunjung, atau orang lain di tempat kerja.
Conditions and factors that affect, or could affect, the health and safety of employees or other
workers (including temporary workers and contractor personel), visitors, or any other
person in the workplace.
4.11 Tempat kerja/Workplace
Setiap lokasi dimana terdapat aktivitas yang berhubungan dengan kerja, dan dilakukan
dibawah kendali organisasi.
Any physical location in which work related activities are performed under the control of the
organization.
4.12 Orang yang kompeten/Competence personel
Orang yang berwenang atau ditunjuk manajemen untuk melakukan PeKriteriaan Resiko dan
telah lulus dari ujian pelatihan PeKriteriaan Resiko.
Authorized personel to conduct risk assessment and pass the risk assessment training
examination.
5. Kriteria Kinerja Proses/KPI
NA
6. Uraian Prosedur

6.1 Pelatihan dan Kompetensi/Training and Competency


Persyaratan pelatihan untuk Penilai Resiko yang kompeten, manajer senior atau manajer
bertanggung jawab untuk menjamin bahwa orang yang ditunjuk sebagai Penilai Risiko harus
:
Training requirements for competence Risk Assessor, manager or senior manager are
responsible to ensure that appointed person as Risk Assessor must :
6.1.1 Berhasil secara lengkap mengikuti pelatihan identifikasi bahaya dan penilaian resiko
dan pengendaliannya
Completely succeeded in hazard identification anf risk assessment and control training
6.1.2 Menguasai pekerjaan atau aktifitas, tempat kerja, sarana, material, dan prosedur kerja
Good knowledge about work or activities, workplace, equipments, materials, and work
procedure
6.1.3 Mendapat beberapa training mengenai bahaya yang spesifik dengan tempat kerja
masing-masing sebelum seseorang ditunjuk sebagai orang yang kompeten untuk melakukan
penilaian risiko. Training khusus yang diperlukan tersebut adalah :
Possess several training about specific hazard in each workplace before someone is
appointed as a competence personel to conduct risk assessment. Specific training needed are
:
6.1.3.1 Bahan berbahaya dan beracun/Hazardous and toxic material
6.1.3.2 Pekerjaan di ruang tertutup/Work in confine space
6.1.3.3 Alat pelindung diri/Personel protective equipment
6.1.3.4 Penanganan secara manual/Manual handling
6.1.3.5 Pekerjaan menggunakan sumber panas/Hot work
6.1.3.6 Standar kualitas lingkungan kerja/Work environment quality standard
6.1.3.7 Bahaya Bekerja di Jalan (termasuk Keselamatan Bekerja di Area Umum/Working on
the road hazard (include Work safety in public area)
6.2 Identifikasi bahaya dan analisa resiko/Hazard identification and risk analysis
6.2.1 Ketentuan umum/General certainty
Identifikasi bahaya dan penilaian resiko perlu dilakukan di semua jenis aktifitas termasuk
kegiatan administrasi dan perkantoran, termasuk perkejaan rutin dan tidak rutin, dan
dilakukan peninjauan ulang secara berkala paling sedikit 2 tahun sekali. Identifikasi bahaya
dan penilaian resiko harus dilakukan jika:
Hazard identification and risk assessment should be conducted in all activities include
administration and office, routine and non-routine, and to be reviewed at least once in two
years. Hazard identification and risk assessment are conduct if :

· Adanya rekayasa teknik, mendesign ulang fasilitas, atau menata ulang ruang, perubahan
peralatan, metode atau gedung.
Any technical engineering, facilities design review, changes (layout, equipment, method, or
building)
· Adanya proyek baru
Any new project
· Adanya penggantian material atau penggunaan material baru termasuk bahan kimia
Any material substitution or new material include chemical
· Adanya perubahan prosedur, instruksi kerja, atau standar baru
Changes in procedure, work instruction, or new standard
· Setelah tindakan perbaikan dilakukan
After corretive action implemented
· Adanya indikasi bahaya yang berpotensi menimbulkan gangguan kepada manusia.
Any indication about hazard potential in which harm to human
Identifikasi bahaya dan penilaian resiko resiko harus di dokumentasikan kedalam “form no
5.3.1-01 Identifikasi bahaya dan peKriteriaan resiko “
Hazard identification and risk assessment must documented in “form no 5.3.1-01 Hazard
identification and risk assessment “
6.2.2 Identifikasi bahaya dan analisa resiko/hazard identification and risk analysis
Langkah dalam identifikasi bahaya dan analisa resiko:
Steps in hazard identification and risk analysis :
6.2.2.1 Tentukan ruang lingkup identifikasi bahaya dan peKriteriaan resiko
Determine the scope of hazard identification and risk assessment
6.2.2.2 Identifikasi jenis bahaya yang mungkin ada dan berpotensi
membahayakan/menimbulkan kerugian. Jenis bahaya yang harus diidentifikasi termasuk :
Identify the type of hazard that probably exist and potential to harm or causing loss. Type of
hazard that must identified includes :
6.2.2.2.1 Bahaya fisik/Physical hazard
6.2.2.2.2 Bahaya kimia/Chemical hazard
6.2.2.2.3 Bahaya biologi/Biological hazard
6.2.2.2.4 Bahaya ergonomi/Ergonomy hazard
6.2.2.2.5 Bahaya psikologis/Phychological hazard
6.2.2.3 Menganalisa potensi konsekuensi/Potential consequence analysis
Analisa potensi konsekuensi dimaksud adalah menganalisa terhadap potensi dari tingkat
kerugian, analisa ini dilakukan dengan mempertimbangkan potensi keparahan dampak yang
terjadi dan potensi jumlah yang terkena dampak, dan jika diperlukan pada kasus tertentu
dapat pula dipertimbangkan tingkat gangguan terhadap kelangsungan bisnis.
Perkiraan konsekuensi dapat merujuk pada table berikut :
Potential consequence analysis is how to analyze potential from loss level, by consider the
potential severity occured and potential number affected. In certain case, could also consider
affect to business continuity. Consequence approximation assessed with the following table :

Kriteria (Criteria) Potensi Kerugian/Potential Loss


Cidera/gangguan kesehatan(injury/ill health)
1. Sangat berbahaya/Very dangerous (S3) Cacat permanent/kematian 1 orang atau lebih atau
menyebabkan penyakit akutPermanent disability or causing death (one od more person) or
causing acout disease.
2. Berbahaya/Dangerous (S2) Perlu perawatan medis lebih lanjut atau menyebabkan
penyakit kronis dan atau hari kerja hilang akibat cidera tanpa cacatNeed more medical
treatment or causing chronic disease and or work day lost cause by injury without disability

3. Sedikit berbahaya/Not too dangerous (S1) Cidera ringan atau gangguan kesehatan hanya
perlu P3K, tidak menyebabkan hari kerja hilangSlightly injury or illhealth, only need first
aid, not causing day lost
Kriteria Keparahan/ Konsekuensi (S)
Severity/Consequences Criteria (S)
Kriteria S = Kriteria terbesar dari S1, S2, S3S Criteria = highest criteria from S1, S2, S3
6.2.2.4 Menganalisa kemungkinan/Likelihood analysis
Langkah berikutnya adalah menentukan tingkat kemungkinan terjadinya bahaya yang dapat
membahayakan. Ada tiga hal yang harus menjadi pertimbangan dalam menganalisa tingkat
kemungkinan potensi kerugian terjadi:
The next step is to determine the Likelihood of the occurence which can cause harm. There
are three things to consider in loss potential likelihood analysis :
1. Frekuensi kegiatan/Activities frequency
Yaitu interval pengulangan waktu dari suatu kegiatan yang di identifikasi bahaya dan dinilai
resikonya. Dalam hal ini ditentukan :
Is time reoccurence interval from activities which hazard are identified and risk are assessed.
In this term determined as :
a. Rutin / routine
Kegiatan atau pekerjaan dilakukan setiap hari, mingguan, atau bulanan
Activity or task conducted daily, weekly, or monthly
b. Jarang / seldom
Kegiatan/pekerjaan dilakukan per-tiga bulanan atau maksimum per tahun
Activity or task conducted every three month or maximum per year
c. Sangat jarang / rarely
Kegiatan atau pekerjaan dilakukan dengan interval waktu lebih dari setahun
Activity or task conducted with time interval more than one year
2. Frekuensi kejadian/Incident frequency
Yaitu potensi terjadinya konsekuensi/resiko dari suatu kegiatan. Dalam hal ini ditentukan :
Is potential occurence of consequences/risk result from each activities. In this term
determined as :
a. Mungkin terjadi /
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan konsekuensi/kerugian pernah terjadi dengan
interval waktu 1 bulan yang lalu sampai 1 tahun yang lalu
Base on experience and observation on consequence/loss which occured in time interval
from one month until one year ago.
b. Jarang terjadi /
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan konsekuensi/kerugian pernah terjadi dengan
interval waktu lebih dari 1 tahun yang lalu sampai 2 tahun yang lalu
Base on experience and observation on consequence/loss which occured in time interval
from one year until two years ago.
c. Tidak mungkin terjadi /
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan konsekuensi/kerugian pernah terjadi dalam
kurun waktu 5 tahun terakhir.
Base on experience and observation on consequence/loss which occured in time interval five
years.
3. Perilaku manusia/Human behavior
Faktor perilaku dimaksud dalam prosedur ini lebih fokus kepada tiga dasar pembentuk
perilaku manusia seperti pengalaman kerja, ketrampilan teknis yang diperlukan untuk
melakukan kegiatan dan pengetahuan tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja dari pelaku
kegiatan. Faktor perilaku manusia diklasifikasikan menjadi :
Behavior factors in this procedure are focused to three basic relates human behavior like
work experience, technical skill to do the activities, and knowledge about Occupational
Health and Safety from personel. Human behavior are classified as :
a. Tidak cukup terampil
Pelaku kegiatan dapat melakukan kegiatan, mempunyai pengalaman tetapi tidak terlatih dan
tidak memahami Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
The performer can do the activities, have experience but not trained, and not understand
about occupational health and safety.
b. Cukup terampil
Pelaku kegiatan dapat melakukan kegiatan, mempunyai pengalaman, mendapat pelatihan
mengenai teknis pekerjaannya dengan cukup tetapi tidak memahami Kesehatan dan
Keselamatan Kerja.
The performers can do the activities, have experience, and possess enough training about
his/her technical job, but not understand about occupational health and safety.
c. Terampil
Pelaku kegiatan dapat melakukan kegiatan, berpengalaman, mendapat pelatihan teknis
pekerjaannya dengan cukup dan memahami aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
The performer can do the activites, experienced. Possess enough training
about his.her technical job, and understand about occupational health and safety
Berdasarkan tiga hal tersebut diatas maka kriteria kemungkinan dari potensi
konsekuensi/kerugian terjadi adalah kriteria tertinggi yang teridentifikasi dari salah satu
faktor tersebut diatas, sehingga kriteria kemungkinan tersebut dapat merujuk pada tabel
berikut dibawah
According to three things above, the likelihood criteria from consequece or loss potential
occur the highest criteria which are identified from one of the factors. Likelihood criteria can
be seen as following tabel :
Kemungkinan/Likelihood
TinggiHigh P3 Mungkin terjadi – terjadi secara regular
SedangMedium P2 Tidak mungkin terjadi – terjadi kadang-kadang
RendahLow P1 Sangat tidak mungkin terjadi – jarang terjadi
6.2.3 Penilaian resiko/Risk assessment
Kriteria risiko adalah hasil perkalian dari kriteria kemungkinan dan kriteria konsekuensi.
Risk criteria is combination between Likelihood kriteria and consequence criteria.
Resiko (R) = Kemungkinan (P) X Konsekuensi (C)
Risk (R) = Likelihood (P) X Consequence (C)
Kriteria resiko bisa diketahui dengan melihat matriks dibawah.
Risk Criteria can be determined by the following matrix.
KEPARAHAN / KONSEKUENSISEVERIRY/ CONSEQUENCES
Tinggi/High Sedang/Medium Rendah/Low
S1 S2 S3
KEMUNGKINAN LIKELIHOOD TinggiHigh P3 3 6 9
SedangMedium P2 2 4 6
RendahLow P1 1 2 3
Tingkat resiko dan tindakan yang diperlukan
Risk rating and action needed
1. Tingkat Resiko/Risk Rating 1-2
Risiko dapat diterima, tidak dibutuhkan tindakan control tambahan, tindakan kontrol yang
ada diteruskan dan dimonitor
Acceptable risk, no need additional control, continue and monitor the existing control
2. Tingkat Resiko/Risk Rating 3-4 Risiko menengah – Tindakan kontrol yang ada harus
dimonitor dan jika diperlukan di tambah sistem pengontrol yang baru agar resiko
residualnya pada level resiko yang rendah
Medium risk – Monitoring the existing control, additional control to achieve lower level if
needed
3. Tingkat Resiko/Risk Rating 6-9 Resiko tinggi – Risiko yang tidak dapat diterima. Kontrol
tambahan diperlukan sebelum pekerjaan dilaksanakan
High risk – unacceptable risk. Need additional control before work commisioning
6.2.4 Pengendalian resiko/Risk control
Penentuan tindakan control untuk mengurangi resiko harus mengikuti hirarki tindakan
pengendalian sebagai berikut :
Controls determination to reduce risk must follow the controls hierarchy :
6.2.4.1 Pemusnahan/Elimination
Menghilangkan bahaya dengan cara mengerjakan pekerjaan dengan cara lain/ cara berbeda.
Eliminate hazard with different or other way when doing task
6.2.4.2 Substitusi/Substitution
Menurunkan resiko dari sumbernya atau menggunakan alternatif yang lebih aman
Reduce risk from its source or using safer alternatives
6.2.4.3 Rekayasa desain atau teknik/Engineering control
Tindakan kontrol ini biasa dilakukan sebagai tindakan pencegahan secara kolektif melalui
rekayasa teknik termasuk dalam tindakan ini adalah
1. Pengisolasian/Pemisahan
2. Pemasangan Ventilasi
3. Pemberian Alat Pengaman
This control usually taken as collective preventive action through enginnering control, these
are include :
1. Isolation/separation
2. Install ventilation
3. Safety guard
6.2.4.4 Pengendalian administrative/Administrative control
Tindakan yang bersifat administratif seperti misalnya tindakan yang berkaitan dengan
pembatasan waktu kerja, jumlah paparan, pemberian pelatihan, rotasi kerja, papan
informasi, pemasangan label, prosedur kerja dan intruksi kerja, serta pengawasan.
Administrative controls include time work or exposure limitation, training, job rotation,
information board, labelling, work procedure and work instruction, also monitoring.
6.2.4.5 Tindakan pengamanan perorangan/Individual protection
Tindakan kontrol yang bertujuan untuk mengurangi potensi terjadinya kerugian kepada
karyawan secara pribadi/perorangan, seperti penyediaan:
· Alat Pelindung Saluran Pernapasan
· Alat Pelindung Tangan
· Alat Pelindung Kepala
· Alat Perlindungan Jatuh
· Alat Pelindung Kaki
· Alat Pelindung Mata
The purpose of control is to reduce potential loss to employees individually, as providing :
· Respiratory protection
· Hand protection
· Head protection
· Fall protection
· Foot protection
· Eye protection
Saat tindakan kontrol telah diterapkan harus dilakukan evaluasi tingkat resiko untuk
memastikan bahwa resiko turun ke tingkat yang dapat diterima/rendah.
When controls have been implemented, risk rating evaluation must conducted to ensure that
the risk are reduced to lower or acceptable risk
6.3 Pengelolaan resiko/Risk management
6.3.1 Tindakan pengontrol resiko/Risk control
Tindakan pengontrol resiko harus dimuat kedalam penyusunan tujuan dan program sebagai
mana diatur dalam manual sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja pasal 5.3.
Tujuan dan Program dan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan aspek
pemenuhan peraturan perundangan sebagaimana diatur dalam manual sistem manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pasal 5.2. Peraturan dan Persyaratan lainnya serta dalam
prosedur SP-5.2-1,”Peraturan, Perundangan & Persyaratan lain.
Risk control action must included in establishing objective and program as arranged in
Occupational Health and Safety System Manual, section 5.3 Objective and Program with
considering legal compliance aspect as in section 5,2. Legal and other requirements, and
procedure SP-5.2-1,”Legal and other requirements”
Hal ini menjadi tanggung jawab mulai dari Direktur Perusahaan, Kepala Divisi, Kepala
Departemen, serta Kepala Seksi untuk membuat tujuan dan program Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di area yang menjadi tanggung jawabnya dan hal tersebut menjadi bagian
dari performance review bagi personel yang bersangkutan.
This is the responsibility form Corporate Director, Head of Division, Head of Department,
also Section Head to establish occupational health and safety objective and program in each
area responsible and it is part of preformance review to pertinent personel.
Dan dalam kasus adanya pekerjaan kontrak, dministrator kontrak mempunyai tanggung
jawab memastikan bahwa kontraktor/sub kontraktor sangat mengerti dengan bahaya dan
risiko yang mereka hadapi dan tindakan pengontrol yang diperlukan untuk menurunkan
resiko ke level resiko yang dapat diterima.
In contractor work case, contractor administrative are responsible to ensure that
contractors/subcontractors understand about hazard and risk they are deal with and control
action needed to reduce the risk to accepteble risk.
Untuk mengawasi status pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah dilakukan
menggunakan “Form no 5.3.1 – 02 Lembar Status tindakan perbaikan HIRA”.
To monitor the corrective action implementation status, using Form no. 5.3.1 – 02 Hazard
identification and risk assessment corrective action status sheet.
6.3.2 Komunikasi dan konsultasi/Communication and consultation
Risiko yang tidak dapat diterima dan tindakan pengontrolnya harus dikomunikasikan dan
dikonsultasikan kepada karyawan yang mempunyai kemungkinan terkena resiko. Tata cara
komunikasi dan konsultasi dilakukan sebagai mana diatur dalam manual sistem manajemen
K3 pasal 6.3 Komunikasi, Partisipasi dan Konsultasi serta dalam prosedur SP-6.3 –1.
Komunikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan prosedur SP 6.3 –2 Konsultasi dan
partisipasi dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja
The unacceptable risk and its controls must communicated and consulted to employees who
have probability affected by risk. The way how to communicate and consultation arranged in
Occupational Health and Safety Manual, section 6.3 Communication, Participation, and
Consultation, Procedure SP-6.3 –1. Occupational Health and Safety Communication, and
Procedure SP 6.3 – 2 Consultaion and Participation in occupational health and safety
implementation
7. Lampiran/Attachment
7.1 Lembar Catatan Penilaian Resiko
7.2 Matrikulasi Penilaian Resiko
7.3 Form Identifikasi Bahaya dan Evaluasi Resiko
7.4 Form Rencana Kerja Tindakan Perbaikan (Objective & Target) dan Progres Pencapaian

Prosedur Komunikasi, Konsultasi


dan Patisipasi
1. Tujuan/Purpose

Prosedur ini dibuat untuk menjelaskan tata cara mengkomunikasikan, berpartisipasi, serta
mengkonsultasikan tentang isu isu Keselamatan dan Kesehatan Kerja baik isu-isu secara
internal maupun eksternal.
The objective of this procedure is to explain how to communicate, participate, and consult
regarding Occupational Health and Safety issues, internally and externally.
2. Ruang Lingkup/Scope

Ruang lingkup komunikasi yang dimaksud disini adalah mengatur komunikasi, partisipasi,
dan konsultasi secara internal antara manajemen dan karyawan, serta antara xxxx dengan
pihak eksternal terkait.
The scope of communication includes communication, participation, and consultation,
internally between management and employees, also between xxxxxx and external parties.
3. Referensi Dokumen/Document Reference

3.1 ISO 9001:2000 Klausul/Clause


§ 6.4. Lingkungan Kerja/Work environment
3.2 OHSAS 18001:2007 Klausul/Clause
§ 4.4.3. Komunikasi, Partisipasi, dan Konsultasi/Communication, Participation, and
Consultation
3.3 Prosedur Risk Assessment (PLJ/EHS/SOP-005)

3.4 Prosedur Identifikasi dan Evaluasi Peraturan Perundangan K3 (PLJ/EHS/SOP-006)

4. Definisi & Singkatan/Definition & Abbreviation

4.1 Pihak terkait/Interested Party


Orang atau kelompok didalam atau diluar tempat kerja yang tertarik dengan atau
terpengaruh oleh kinerja K3 xxxxx. Sebagai contoh dari pihak terkait meliputi badan
pemerintah atau yang berwenang, kelompok masyarakat, organisasi lingkungan, pemasok,
kontraktor, surat kabar dan organisasi karyawan.
Person or group, inside or outside the workplace, concerned with or affected by xxxxx OHS
performance. Examples of interested parties include regulatory agencies or authorities,
community groups, environmental organizations, supplier, contractor, the press and
employee organizations.
4.2 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)/Occupational Health and Safety (OHS)
Kondisi dan faktor yang mempengaruhi, atau dapat berpengaruh terhadap kesehatan dan
keselamatan karyawan dan pekerja lainnya (termasuk pekerja sementara dan kontraktor),
pengunjung, atau orang lain di tempat kerja
Conditions and factors that affect, or could affect, the health and safety of employees or other
workers (including temporary workers and contractor personnel), visitors, or any other
person in the workplace.
5. Kriteria Kinerja Proses/KPI

Semua ketentuan yang telah ditetapkan dalam prosedur ini harus dilaksanakan secara
konsisten
All of requirement stated in the procedure to be applied consistently
6. Uraian Prosedur/Procedure Description

6.1 Komunikasi Internal/Internal Communication


6.1.1 Manajemen xxxxx berkewajiban untuk menyediakan sarana komunikasi, partisipasi,
dan konsultasi terhadap isu-isu K3 secara internal baik yang bersifat :
xxxxx management obliged to provide communication, participation, and consultation
regarding occupational health and safety internally, which have characteristic :
6.1.1.1 Aktif (pelatihan dan drill, rapat, briefing)
Active (training and drill, meeting, briefing)
6.1.1.2 Pasif (papan informasi, sekilas info K3, simbol dan label K3, dokumentasi dan catatan
K3)
Pasive (information board, OHS flash, OHS sign and label, documentation, and record)
6.1.2 Segala hal perubahan yang berkaitan erat dengan K3 harus dikomunikasikan kepada
karyawan dengan menggunakan media komunikasi sebagaimana disebut dalam point 6.1.1
diatas.
Any changes related to OHS must be communicated to employess with communication
media as mention in point 6.1.1 above.
6.1.3 Sekretaris P2K3 dan Kepala Divisi EHS berkoordinasi dengan HS Representative harus
menginformasikan secara aktif kepada karyawan isu-isu K3 seperti:
P2K3 Secretary and EHS Division Head coordination with HS Representative must actively
inform employess regarding OHS issues, such as :
6.1.3.1 Notulen Rapat P2K3
P2K3 Minutes of Meeting
6.1.3.2 Hasil identifikasi bahaya dan penilaian resiko
Hazard identification and risk assessment result
6.1.3.3 Ketidaksesuaian, insiden, status tindakan pengendalian resiko, dan tindakan
perbaikan dari hasil analisa insiden ataupun ketidaksesuaian
Nonconformity, incident, risk control action satus, and corrective action from incident or
nonconformity analysis result.
6.1.3.4 Kebijakan K3, tujuan dan program termasuk perubahan dari hasil peninjauan ulang
OHS policy, objective and programme includes changes from review
6.1.4 Jika diperlukan karyawan dapat secara aktif untuk mendapatkan informasi K3 dengan
meminta secara langsung kepada HS Representative, Sekretaris P2K3 ataupun kepada Divisi
EHS.
If needed, employess can actively to get OHS information by asking directly to Health and
Safety Representative, P2K3 Secretary, or EHS Division.
6.2 Konsultasi dan partisipasi internal/Internal consultation and participation

6.2.1 Konsultasi dan partisipasi karyawan dapat dilakukan baik melalui rapat P2K3 ataupun
keterlibatan secara langsung dalam unit kerja/tim dengan melakukan konsultasi dan
partisipasi aktif dalam pengkajian jika terjadi adanya perubahan terhadap:
Consultation and participation can be done through P2K3 meeting or direct involvement in
work unit/team by actively consult and participate in review if there are any changes in :
6.2.1.1 Proses kerja, metoda kerja, alat kerja, material, ataupun tata letak kerja yang
berpotensi terhadap timbulnya bahaya dan resiko dari pekerjaan tersebut.
Work process, work method, equipment, material, or layout which potential for hazard and
risk result from its activities.
6.2.1.2 Kebijakan, tujuan dan program K3
Policy, objective, and OHS programme
6.2.2 Jika karyawan memerlukan konsultasi isu-isu K3, dapat dilakukan baik melalui HS
Representative diareanya ataupun secara langsung mengkonsultasikannya kepada Kepala
Divisi EHS secara tertulis menggunakan Form Komunikasi dan Konsultasi K3
(xxxxx/EHS/007-Ehsp-010) ataupun dengan fasilitas elektronik mail yang telah disediakan
oleh perusahaan.
If employees need to consult regarding OHS issues, can be done through Health and Safety
Representative in their area or directly to EHS Division Head in written using OHS
Communication and Consultation Form (xxxx/EHS/007-ehsp-010) or by electronic mailing
facility provided by company.
6.2.3 Partisipasi aktif dapat disalurkan dalam kegiatan seperti lomba saran, lomba poster
dan lomba kinerja K3 di masing-masing bagian/areanya
Active participation can be accessed though activities such as suggestion contest, poster
contest, and OHS performance contest in each area.
6.3 Komunikasi, partisipasi dan konsultasi eksternal/Communication, participation, and
external consultation
6.3.1 xxxxx melalui sekretaris P2K3 dan Kepala Divisi EHS berkomunikasi, berpartisipasi,
dan berkonsultasi secara aktif dengan cara korespondensi kepada pihak terkait seperti
Departemen Tenaga Kerja atau institusi lainnya dalam hal:
xxxxx through P2K3 Secretary and EHS Division Head are communicating, participating,
and consulting actively by correspondency with interesred party like Man Poser Department
or other institution regarding :
6.3.1.1 Peraturan perundangan K3/OHS legal or regulation
6.3.1.2 Laporan kegiatan P2K3/P2K3 activities report
6.3.1.3 Ijin dan sertifikasi/Permit and certification
6.3.2 Jika pihak terkait memerlukan konsultasi isu-isu K3, dapat dilakukan baik melalui HS
Representative di unit kerja xxxxx ataupun secara langsung mengkonsultasikannya kepada
Kepala Divisi EHS secara tertulis menggunakan Form Komunikasi dan Konsultasi K3
(xxx/EHS/007-xxxx-010) ataupun dengan fasilitas elektronik mail yang telah disediakan
oleh perusahaan.
If external parties need to consult regarding OHS issues, can be done through Health and
Safety Representative in their area or directly to EHS Division Head in written using OHS
Communication and Consultation Form (xxxx/EHS/007-xxx-010) or by electronic mailing
facility provided by company.
6.3.3 Dalam kondisi tertentu yang dikategorikan kedalam situasi gawat darurat maka semua
komunikasi, partisipasi dan konsultasi di koordinir oleh Head of Coorperate Communication
xxxxx.
In certain condition categorized in emergency situation, all communication, participation,
and consultation are coordinated by xxxx Head of Cooperate Communication
7. Lampiran/Attachment

7.1 xxxx/EHS/007-xxx-001 OHS Communication, Participation and Consultation