Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS HARGA JUAL BATUBARA PADA

PT. BARITO BARA ENERGI DI KALIMANTAN TIMUR

Oleh:
Rasni Alex
H. Eddy Soegiarto K
Rina Masithoh Haryadi

ABSTRAKSI

Tujuan penelitian adalah mengetahui dan menjelaskan harga jual batubara PT. Barito Bara Energi. Data
penelitian dibatasi pada ketersediaan data yang mencakup tahun 2013, yaitu sesuai dengan mulai beroperasinya
perusahaan oleh manajemen baru.

Sementara itu lingkup penelitian hanya menyangkut biaya produksi, biaya administasi dan biaya pemasaran yang
dikeluarkan perusahaan. metode analisis yang digunakan adalah: Analisis Break Even Point (BEP), Analisis
Contribution Margin, Margin of Safety, dan Perencanaan Laba.

Berdasarkan uraian dari pembahasan atas masalah yang telah dikemukakan dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut: 1) Hipotesis ditolak, berdasarkan data hasil penjulan batubara pada tahun 2013 menunjukkan adanya
penurunan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa BEP berada pada nilai Rp. 70.185.831.603 sedangkan hasil
penjualan diperoleh sebesar Rp. 71.144.312.500,. karena nilai volume pendapatan yang dicapai lebih besar dari
volume pendapatan pada tingkat break even maka perusahaan mendapatkan margin sebesar Rp. 958.480.897..
Apabila harga jual batubara sebesar US$ 25 per ton atau Rp. 237.500,00, maka volume produksi pada BEP
sebesar 295.518 metric ton. 2) Guna menghindari terjadinya kerugian maka tingkat pendapatan tidak boleh turun
lebih besar dari angka Margin of Safety. Hal ini berarti bahwa apabila penurunan pendapatan tidak lebih besar
dari angka Margin of Safety dari pendapatan yang direncanakan maka perusahaan masih dapat memperoleh
keuntungan. 3) Apabila perusahaan ingin mencapai target laba sebesar 30%, diharapkan tersebut perusahaan
harus mampu mencapai volume sebesar Rp. 220.706.175.583.

Kata Kunci: BEP, Analisis Harga Jual

PENDAHULUAN mencapai 123.256.163 ton, meningkat menjadi


1.1. Latar Belakang 140.753.374 ton pada tahun 2010, dan meningkat
menjadi 204.989.756 ton. Sektor pertambangan
Kalimantan Timur merupakan Provinsi di mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 124.416
Indonesia yang diberi anugerah oleh Yang Maha orang atau masuk dalam urutan ke-4 dalam
Kuasa atas Sumber Daya Alam yang berlimpah. penyerapan tenaga kerja
Salah satu sumber daya alam yang memberi Banyaknya investor yang menanamkan
kontribusi sangat besar terhadap struktur ekonomi modalnya pada usaha pertambangan batubara
daerah adalah sektor pertambangan. Sekitar 50,9% disebabkan permintaan pasar tingkat internasional
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tahun dalam jumlah besar. Beberapa negara tujuan ekspor,
2011 berasal dari sektor ini, yaitu Rp. 196,46 triliun. seperti: Cina, Amerika Serikat, Jepang, India, Korea
Sektor pertambangan, terurtama yang berasal dari dan sebagainya memberikan harga yang cukup tinggi
batubara merupakan sektor terbesar pertama yang dibanding bila dijual untuk memenuhi permintaan
memberikan kontribusi bagi PDRB Kaltim yang dalam negeri. Kontribusi sektor pertambangan
selalu mengalami peningkatan dalam tiga tahun mendorong terjadinya peningkatan pertumbuhan
terakhir. Produksi batubara Kaltim pada tahun 2009 ekonomi Kaltim secara positif. Pada tahun 2011 laju
pertumbuhan ekonomi kaltim sebesar 3,93%, lebih Sumber: Biochor, 2002
lambat dibanding tahun 2010 yang tumbuh sebesar
Permintaan selalu berhubungan dengan
5,04%.
pembeli, sedangkan penawaran berhubungan dengan
Pada awalmnya penurunan harga terjadi pada
penjual. Apabila antara penjual dan pembeli
batubara berkalori rendah, namun juga dikhawatirkan
berinteraksi, maka terjadilah kegiatan jual beli. Pada
akan juga menimpa batu bara berkalori tinggi, lebih
saat terjadi kegiatan jual beli di pasar, antara penjual
dari 6.000 kilokalori per kilogram atau kkal/kg. Batu
dan pembeli akan melakukan tawar-menawar untuk
bara kualitas tinggi itu, umumnya digunakan untuk
mencapai kesepakatan harga. Pembeli selalu
industri pembuat baja dan tembaga. Saat ini harga
menginginkan harga yang murah, agar dengan uang
batu bara berkalori tinggi masih berkisar US$ 90 per
yang dimilikinya dapat memperoleh barang yang
ton. Jika permintaan batu bara terus melemah, harga
banyak. Sebaliknya, penjual menginginkan harga
batu bara jenis ini bisa terus melandai hingga US$ 87
tinggi, dengan harapan ia dapat memperoleh
per ton.
keuntungan yang banyak. Perbedaan itulah yang
PT. Barito Bara Energy merupakan salah
dapat menimbulkan tawar-menawar harga. Harga
satu perusahaan kontraktor Batubara yang beroperasi
yang telah disepakati oleh kedua belah pihak disebut
di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
harga pasar. Pada harga tersebut jumlah barang yang
Menghadapi kenyataan bahwa dalam dua tahun
ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta.
terakhir terjadi penurunan harga jual batubara
Dengan demikian harga pasar disebut juga harga
membuat manajemen harus segera mengambil
keseimbangan (ekuilibrium).
tindakan strategis untuk menyelamatkan perusahaan.
Faktor terpenting dalam pembentukan harga
Manajemen harus mengambil keputusan menentukan
adalah kekuatan permintaan dan penawaran.
harga jual yang tepat, agar perusahaan tidak merugi
Permintaan dan penawaran akan berada dalam
dengan jatuhnya harga jual oleh negara tujuan ekspor.
keseimbangan pada harga pasar jika jumlah yang
diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan.
2. DASAR TEORI
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
proses terbentuknya harga pasar jika terdapat hal-hal
A. Teori Harga berikut ini.
Dalam kondisi pasar persaingan sempurna, a. Antara penjual dan pembeli terjadi tawar-
harga suatu barang merupakan perpotongan antara menawar.
kirva permintaan dan kuva penawaran. Harga b. Adanya kesepakatan harga ketika jumlah
terbentuk dari kompetensi produk untuk memenuhi barang yang diminta sama dengan jumlah
tujuan dua pihak, yaitu produsen dan konsumen. barang yang ditawarkan.
Produsen memandang harga sebagai nilai barang Keseimbangan pasar (equilibrium) terbentuk
yang nanpu memberikan manfaat keuntungan di atas apabila jumlah barang yang ditawarkan sama dengan
biaya produksinya (untuk tujuan-tujuan yang lain, jumlah barang yang diminta oleh konsumen pada
misalnya keuntungan). Konsumen memandang harga suatu tingkat harga tertentu.
adalah sebagai nilai barang yang mampu memberikan Menurut Sukirno (2004: 158), permintaan
manfaat atas pemenuhan kebutuhannya dan suatu barang juga dipengaruhi oleh pendapatan.
keinguinannya (misalnya hemat, prestis, syarat Perubahan pada harga akan menyebabkan perubahan
pembayaran dan sebagainya. pada pendapatan yang dikenal dengan istilah efek
pendapatan.
Gambar 1.. Konsep Pembentukan Harga Efek pendapatan menjelaskan bahwa apabila
pendapatan tidak mengalami perubahan, kenaikan
Tujuan Kebutuhan
Produsen
Produsen
Manfaat Produk
Konsumen
Konsumen harga menyebabkan pendapatan riil menjadi
bertambah sedikit, yaitu kemampuan pendapatan
yang diterima untuk membeli barang-barang menjadi
Nilai Produk bertambah kecil dari sebelumnya. Maka kenaikan
harga menyebabkan konsumen mengurangi jumlah
berbagai barang yang dibelinya termasuk barang
Harga Produk yang mengalami kenaikan harga. Penurunan harga
dari suatu barang menyebabkan pendapatan riil
bertambah, dan kondisi ini akan mendorong
konsumen menambah jumlah barang yang akan persaingan (competition). Posisi atau tingkat harga
dibelinya. akan bergerak fluktuatif dalam ruang gerak
Menuurut Soediyono (2003: 114), persaingan mengikuti kekuatan pesaing yang lebih
elastisisitas pendapatan mengungkapkan intensitas besar. Akan perubahannya tetapi tidak akan sampai
hubungan antara jumlah suatu barang yang diminta melebihi batas harga tertinggi dari permintaan pasar
dengan pendapatan yang dimiliki perseorangan atau (batas atas) maupun tidak akan lebih rendah dari
unit usaha tertentu dan dalam waktu tertentu pula. biaya yang ditanggung produsen (batas bawah).
Sukirno (2004: 153) menjelaskan bahwa
permintaan dan penawaran secara simultan B. Harga Pokok Produksi
menentukan harga. Marshall percaya bahwa
Salah satu tujuan perusahaan adalah untuk
permintaan dan penawaran secara bersama-sama
memperoleh laba maka perusahaan harus menjual
menentukan harga (P) dan kuantitas keseimbangan
produknya diatas harga produk-produk itu sendiri.
suatu barang (Q).
Harga pokok merupakan dasar dalam menentukan
Sumbangan yang paling terkenal dari
harga jual produk. Setiap perusahaan perlu
pemikiran Marshall dalam teori nilai merupakan
mengetahui berapa biaya total dari produk yang
sitetis antara pemikiran pemula dari marjinalis dan
dihasilkan. Dan sebagian besar dari program
pemikiran Klasik. Menurutnya, bekerjanya kedua
anggaran (budget) perusahaan berisi taksiran
kekuatan, yakni permintaan dan penawaran, ibarat
penghasilan yang akan diperoleh dan akhirnya
bekerjanya dua mata gunting. Dengan demikian,
menunjukkan keuntungan yang dicapai. Oleh karena
analisis biaya produksi merupakan pendukung sisi
itu sebagai penetapan dasar penaksiran harga jual
penawaran dan teori kepuasan marjinal sebagai inti
bagi pihak proddusen (perusahaan) untuk setiap
pembahasan permintaan. Untuk memudahkan
barang yang di produksi, dan ditawarkan kepada
pembahasan keseimbangan parsial, maka
konsumen (pasar) adalah harga kuantatif.
digunakannya asumsi ceteris paribus, sedangkan
Menurut Muyadi (2005:35) “Merupakan
untuk memperhitungkan unsur waktu ke dalam
metode yang biaya-biaya produksinya dikumpulkan
analisisnya, maka pasar diklasifikasikan ke dalam
untuk pesanan tertentu dan harga pokok produksi per
jangka sangat pendek, jangka pendek, dan jangka
satuan dihitung dengan cara membagi total biaya
panjang. Dalam membahas kepuasan marjinal terselip
produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah
asumsi lain, yakni kepuasan marjinal uang yang tetap.
satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan.”
Menurut Brandis (2002: 101), .fungsi harga
Dari pendapat diatas, penentuan harga pokok
bagi produsen maupun konsumen adalah:
produk dari produk yang dihasilkan merupakan
1) Sumber pendapatan dan atau keuntungan jumlah pengorbanan (biaya produksi) yang
perusahaan untuk pencapaian tujuan produsen dikeluarkan selama periode tertentu. Dan untuk
(harga di atas biaya-biaya produk memberikan memudahkan penganggaran biaya produksi setiap
keuntungan bagi perusahaan) yang dikeluarkan, maka diperhitungkan dengan harga
2) Pengendali tingkat permintaan dan penawaran pokok masing-masing penjualan setiap unitnya.
(terutama bila bersifat elastik, permintaan akan Muyadi (2005:18) menyebutkan Metode
meningkat jika harga turun, dan sebaliknya) Penentuan Harga Pokok Produksi sebagai berikut:
3) Mempengaruhi program pemasaran dan fungsi 1) Metode Full Costing
bisnis lainnya bagi perusahaan. Harga dapat Full Costing, merupakan metode penentuan
berperan sebagai pengaruh terhadap aspek harga pokok produksi yang memperhitungkan
produk (pergeseran orientasi, kualitas, atau citra semua unsur biaya produksi kedalam harga
produk), distribusi (mengendalikan intensitas pokok produksi. Harga pokok produksi yang
distribusi), atau promosi (diskon, obral, hadiah, dihitung melalui pendekatan Full Costing terdiri
dan sebagainya). dari unsur harga pokok produksi (biaya bahan
4) Mempengaruhi perilaku konsumsi dan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya
pendapatan masyarakat (harga rendah dapat overhead pabrik variabel dan biaya overhead
meningkatkan konsumsi masyarakat dan upah pabrik tetap) ditambah dengan biaya non-
yang tinggi bagi jasa masyarakat akan produksi (biaya pemasaran, biaya administrasi &
mempengaruhi perilaku konsumsinya). umum). Dalam metode Full Costing, biaya
Berapa Harga berubah atau diubah tidaklah overhead pabrik, baik yang berperilaku tetap
tanpa batas. Penentuan harga terbatasi oleh ataupun variabel, dibebankan kepada produk
permintaan (customer demand), biaya (cost), maupun yang diproduksi atas dasar tarif yang ditentukan
dimuka, pada kapasitas normal atau atas dasar C. Harga Pokok Penjualan
biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh
Kelangsungan hidup perusahaan dalam
karena itu, biaya overhead pabrik tetap akan
jangka waktu panjang tergantung kepada keputusan
melekat pada harga pokok persediaan produk
harga jual ini. Harga jual yang ditetapkan harus
dalam proses dan persediaan produk jadi yang
mampu menentukan semua biaya yang menghasilkan
belum laku dijual, dan baru dianggap sebagai
laba jangka panjang sehingga dapat menghasilkan
biaya (unsur harga pokok penjualan) apabila
return yang wajar bagi para pemilik perusahaan serta
produk jadi tersebut telah dijual Karena biaya
mempertahankan dan mengembangkan perusahaan.
overhead pabrik dibebankan kepada produk atas
Metode penetapan harga jual adalah faktor
dasar tarif yang ditentukan dimuka pada
yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk
kapasitas normal, maka jika dalam suatu periode
membeli suatu produk, konsumen akan membeli
biaya overhead pabrik sesungguhnya berbeda
suatu produk apabila ada keseimbangan antara alasan
dengan yang dibebankan tersebut, akan terjadi
dalam menetapkan harga jual. Keberhasilan
pembebanan overhead lebih (Overapplied
perusahaan dalam memasarkan produknya tidak
Factory Overhead) atau pembebanan biaya
terlepas dari metode penetapan harga jual yang
overhead kurang (Underapplied Factory
dilakukan perusahaan. Kegagalan yang ditimbulkan
Overhead). Jika semua produk yang diolah
perusahaan dalam hal memasarkan produknya
dalam periode tersebut belum laku dijual, maka
terkadang disebabkan ketidakmampuan perusahaan
pembebanan biaya overhead pabrik lebih atau
dalam mengendalikan harga.
kurang tersebut digunakan untuk mengurangi
Menurut Laksana (2008:116) mengemukakan
atau menambah harga pokok produk yang masih
bahwa ada beberapa metode penetapan harga jual
dalam persediaan tersebut (baik yang berupa
adalah sebagai berikut:
persediaan dalam proses ataupun barang jadi).
1) Cost Oriental pricing
Namun jika dalam suatu periode akuntansi tidak
2) Demand oriental pricing
terjadi pembebanan overhead lebih atau kurang,
3) Competetion Oriental pricing
maka biaya overhead pabrik tetap tidak
Menurut Swastha (2007:154) ada beberapa
mempunyai pengaruh terhadap perhitungan
metode penetapan harga jual antara lain:
laba/rugi sebelum produknya laku dijual
1) Cost-plus pricing method
2) Mark-up pricing method
2) Metode Variable Costing
Pada dasarnya metode penetapan harga jual
Variable Costing adalah metode penentuan
yang baik dilakukan oleh perusahaan adalah dengan
harga pokok produksi yang hanya membebankan
cara melihat biaya yang telah dikeluarkan untuk
biaya-biaya produksi variabel saja ke dalam
memproduksi suatu produk, kemudian dengan
harga pokok produk.” Dalam metode Variable
mengadakan riset pasar dan didapatkan tingkat
Costing, biaya overhead pabrik tetap
kemampuan konsumen untuk membeli produk yang
diperlakukan sebagai period cost dan bukan
telah diproduksi perusahaan, jika perusahaan telah
unsur harga pokok produk, sehingga biaya
melakukan metode ini kemungkinan perusahaan
overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya
untuk rugi akan dapat ditekan.
dalam periode terjadinya. Dengan demikian
biaya overhead pabrik tetap didalam metode
Variable Costing tidak melekat pada persediaan D. Teori Biaya
produk yang belum laku dijual, tetapi langsung Sebagaimana kehidupan manusia dalam
dianggap sebagai biaya dalam periode kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari
terjadinya. metode Variable Costing tidak pengorbanan-pengorbanan baik berupa tenaga,
menyetujui penundaan pembebanan biaya pikiran, maupun materi untuk mendapatkan barang
overhead pabrik tetap tersebut (atau dengan kata dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhannya.
lain, tidak menyetujui pembebanan biaya Demikian halnya dengan perusahaan selalu
overhead tetap kepada produk). Karena menurut memerlukan biaya dalam menjalankan aktivitasnya.
metode Variable Costing, penundaan Tanpa adanya biaya, perusahaan tidak dapat
pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika menjalankan aktivitasnya dengan baik sehingga dapat
dengan penundaan tersebut diharapkan dapat dikatakan bahwa biaya memiliki peranan yang
dihindari terjadinya biaya yang sama dalam penting bagi perusahaan.
periode yang akan datang. Pengorbanan nilai-nilai produksi dalam setiap
proses produksi dalam memberikan jasa harus
diketahui berapa besar jumlahnya. Oleh karena itu, 1) Penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok
sebelum proses produksi dimulai terlebih dahulu dari kegiatan atau aktivitas perusahaan, dapat
faktor produksi yang akan dikorbankan harus di dikelompokkan sebagai berikut:
analisis untuk mengetahui jumlahnya. Hal ini a) Biaya Produksi
dimaksudkan agar jumlah pengorbanan sebenarnya Biaya Produksi, yaitu biaya yang
tidak melebihi pengorbanan yang seharusnya demi terjadi untuk mengolah bahan baku
kuantitas perusahaan. Dengan kata lain bahwa suatu menjadi barang jadi yang siap jual.
perusahaan hanya akan berproduksi bila hasil sewa Biaya produksi ini meliputi biaya
yang akan diterima lebih besar dari biaya yang bahan baku, biaya tenaga kerja
dikeluarkan. langsung maupun tidak langsung yang
Menurut Harnanto (2003: 55) “Dalam arti berhubungan dengan proses produksi
luas biaya (cost) adalah jumlah yang dinyatakan dari (biaya utama, primer cost) dan biaya
sumber-sumber ekonomi yang dikorbankan (terjadi overhead pabrik (biaya konversi,
dan akan terjadi) untuk mendapatkan sesuatu atau convertion cost), merupakan biaya
mencapai tujuan tertentu. Dalam arti sempit biaya untuk mengubah bahan baku menjadi
adalah beban yang diperlukan yang terjadi dalam barang jadi.
rangka mereliasasikan pendapatan.” b) Biaya Pemasaran
Dari definisi yang telah diuraikan, maka Biaya Pemasaran, yaitu semua biaya
biaya merupakan nilai moneter barang dan jasa yang yang diperlukan untuk menangani
dikeluarkan dan menggunakan sumber daya ekonomi pesanan konsumen dan memperoleh
yang ada untuk mendapatkan manfaat atau mencapai produk dan jasa untuk disampaikan
tujuan tertentu sekarang atau di masa yang akan kepada konsumen. Biaya pemasaran
datang.” ini meliputi biaya pengiklanan,
Berdasarkan pengertian di atas terdapat 4 pengiriman, komisi penjualan.
(Empat) unsur pokok dalam biaya, yaitu: c) Biaya Administrasi
1) Biaya merupakan pengorbanan sumber daya Biaya Administrasi dan umum, yaitu
ekonomi semua biaya yang berhubungan
2) Biaya diukur dalam satuan mata uang dengan fungsi administrasi dan
3) Telah terjadi atau potensial untuk terjadi umum. Biaya ini terjadi dalam rangka
4) Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu penentuan kebijaksanaan, pengarahan
Dalam klasifikasi biaya penggolongannya dan pengawasan kegiatan perusahaan
disesuaikan dengan tujuan, sebab tujuan yang secara keseluruhan. Termasuk biaya
berbeda diperlukan klasifikasi biaya yang dapat gaji pimpinan, personalia, akuntansi,
dipakai untuk semua tujuan dalam menyajikan hubungan masyarakat dan keamanan.
informasi biaya. Klasifikasi biaya bertujuan agar 2) Penggolongan biaya sesuai dengan tingkat
manajemen dapat menggunakan informasi biaya yang perubahan terhadap aktivitas atau kegiatan atau
ada seefektif mungkin. Dengan kata lain, biaya harus volume, dapat dikelompokkan menjadi:
digolongkan sesuai tujuan dari informasi biaya yang a) Biaya tetap
akan disajikan dan informasi biaya tersebut hanya Biaya Tetap atau Biaya yang tidak berubah
berguna jika digunakan secara tepat. (Total Fixed Cost, TFC) adalah kelompok
Menurut Hamanto (2003: 56), biaya dapat biaya yang jumlah totalnya tetap (fixed),
digolongkan sebagai berikut: tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya
1) Penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok produksi atau output yang dihasilkan.
dari kegiatan atau aktivitas perusahaan. Misalnya, biaya penyusutan, biaya sewa,
2) Penggolongan biaya sesuai dengan tingkat gaji karyawan, bunga, sewa, pemeliharaan
perubahan terhadap aktivitas atau kegiatan atau dan perbaikan, serta asuransi. Pengertian
volume. biaya tetap ini hanya berlaku untuk analisis
3) Penggolongan biaya sesuai dengan objek atau dalam waktu yang relative pendek. Yaitu
pusat biaya yang dibiayai. sepanjang kapasitas produksi atau
4) Penggolongan biaya sesuai dengan pengambilan kemampuan produksi belum berubah.
keputusan. Dalam jangka panjang semua biaya akan
Adapun penjelasan dari masing-masing berubah (variable).
klasifikasi biaya tersebut di atas dapat diuraikan b) Biaya Variabel
sebagai berikut:
Biaya Variabel (Variable Cost) adalah biaya akan diperoleh dari alternatif lain yang
yang jumlahnya berubah (variable) sesuai tersedia. Biaya diferensial adalah perbedaan
dengan perubahan tingkat atau volume biaya antara dua alternatif. Perbedaan
produksi (output) yang dihasilkan. penghasilan antara dua alternatif disebut
Misalnya, biaya bahan baku, komisi penghasilan diferensial.
penjualan, perlengkapan, biaya komunikasi, b) Opportunity Cost
bahan bakar dan upah tenaga kerja langsung Opportunity Cost adalah manfaat potensial
yang berkaitan dengan kegiatan produksi. yang akan hilang bila salah satu alternatif
c) Biaya Semi Variabel telah dipilih dari sejumlah alternatif yang
Biaya Semi Variabel adalah biaya yang tersedia. Opportunity cost tidak selalu dicatat
merupakan gabungan biaya tetap dan biaya dalam catatan akuntansi organisasi, tetapi
variabel. Pada biaya semi variabel ini opportunity cost adalah biaya yang harus
perubahan biaya akan tidak proporsional selalu dipertimbangkan dalam pengambilan
dengan kenaikan atau perubahan tingkat keputusan.
kegiatan produksi. Misalnya, biaya listrik c) Sunk Cost
biasanya adalah biaya tetap karena cahaya Sunk Cost adalah biaya yang telah terjadi
tetap diperlukan tanpa mempedulikan dan tidak dapat diubah oleh keputusan
tingkat aktivitasnya, sementara listrik yang apapun yang dibuat saat ini ataupun masa
digunakan sebagai tenaga untuk yang akan datang.
mengoperasikan peralatan akan bervariasi
bergantung pada penggunaan peralatan. E. Break Even Point
Misalnya, biaya listrik, air dan limbah,
Break Even Point (BEP) adalah
generator, pajak penghasilan, jasa bahan
keseimbangan antara jumlah pendapatan yang
baku dan persediaan.
diperoleh dibandingkan dengan jumlah biaya-biaya
3) Penggolongan biaya sesuai dengan objek atau
yang telah dikeluarkan, dimana tidak terdapat laba
sesuatu yang dibiayai, dapat dikelompokkan
maupun rugi. Atau dengan kata lain suatu perusahaan
menjadi:
itu dikatakan dalam keadaan impas apabila
a) Biaya Langsung
perusahaan tersebut tidak mendapatkan keuntungan
Biaya Langsung adalah biaya yang terjadi
ataupun menderita kerugian.
disebabkan karena adanya sesuatu yang
Menurut Riyanto (2006): “Analisa Break
dibiayai atau berpengaruh langsung terhadap
Even Point adalah suatu teknik analisa untuk
sesuatu kegiatan. Biaya langsung mudah
mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya
diidentifikasi dengan sesuatu yang dibiayai.
variabel, keuntungan dan volume kegiatan.”
Biaya produksi langsung terdiri dari biaya
Selanjutnya Sigit (2002: 75), mengemukakan bahwa :
bahan baku dan upah langsung.
Analisa Break Even Point adalah suatu cara atau
b) Biaya Tidak langsung
teknik yang digunakan oleh sorang petugas atau
Biaya Tidak Langsung adalah biaya yang
manajer perusahaan untuk mengetahui pada volume
tidak mempengaruhi secara langsung
(jumlah) penjualan dan volume produksi berapakah
sesuatu kegiatan. Biaya tidak langsung
perusahaan ynag bersangkutan tidak menderita
dalam hubungannya dengan produk disebut
kerugian atau tidak pula memperoleh laba.
dengan istilah biaya produksi tidak langsung
Dari pendapat-pendapat di atas dapat
atau biaya overhead pabrik (factory
disimpulkan bahwa peluang pulang pokok atau Break
overhead cost). Biaya ini mudah
Even adalah suatu keadaan yang menunjukkan suatu
diidentifikasi dengan produk tertentu.
kondisi dimana perusahaan tidak mengalami kerugian
dan tidak memperoleh laba dan teknik yang dapat
4) Penggolongan biaya sesuai dengan pengambilan
digunakan oleh seorang manajemen untuk dapat
keputusan, dapat dikelompokkan menjadi :
mengetahui berapa tingkat penjualan atau produksi
a) Pendapatan dan Biaya Diferensial
sehingga dapat menutupi biaya tetap dan variabel
Pendapatan dan Biaya Diferensial, adalah
yang ditanggung. Analisis Break Even Point adalah
keputusan melibatkan proses pemilihan dari
suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan
berbagai alternative yang ada. Dalam
antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan
keputusan bisnis, setiap alternative memiliki
volume kegiatan. Oleh karena itu, analisa tersebut
konsekuensi biaya dan manfaat yang harus
mempelajari hubungan biaya, keuntungan dan
dibandingkan dengan biaya dan manfaat yang
volume kegiatan, yang biasa disebut dengan “Cost produknya, berapapun kuantitas unit yang
Profit Volume Analysis, CPV Analysis). diproduksikan. Jika kegiatan produksi berubah,
Suatu perusahaan dikatakan dalam keadaan biaya variable itu berubah proporsional dalam
impas yaitu apabila setelah disusun laporan jumlah seluruhnya, sehingga biaya per unitnya
perhitungan rugi laba untuk suatu periode tertentu tetap sama.
perusahaan tersebut tidak mendapatkan keuntungan 4) Bahwa harga jual per unit akan tetap saja, tidak
dan tidak mendapatkan kerugian. Dengan perkataan naik atau turun,berapapun banyaknya unit
lain, labanya sama dengan nol atau ruginya sama produk yang dijual.
dengan nol. 5) Bahwa perusahaan yang bersangkutan
Hasil penjualan (Sales revenue) yang menjual/memproduksi hanya satu jenis produk
diperoleh untuk periode tertentu sama besarnya dengan kombinasi yang selalu tetap.\
dengan keseluruhan biaya (total cost), yang telah 6) Bahwa ada sikronisasi di dalam perusahaan
dikorbankan sehingga perusahaan tidak memperoleh yang bersangkutan antara produksi dan
keuntungan atau menderita kerugian. Biaya yang penjualan, barang yang diproduksikan itu terjual
dikorbankan dipisahkan menjadi biaya tetap dan dalam periode yang bersangkutan. Jadi tidak ada
biaya variable. Pada titik impas keseluruhan hasil sisa produk atau persediaan akhir periode (atau
penjualan, hanya cukup untuk menutupi keseluruhan pun pada awal periode). Jika biasanya terdapat
biaya tetap saja, tidak terdapat sisa yang merupakan persediaan akhir, maka persediaan itu dianggap
keuntungan. Contribution Margin adalah hasil telah terjual. Jadi perhitungan Break Even Point
pengurangan biaya variable dari hasil penjualan. tidak mengakui adanya barang persediaan.
Contribution margin ini disediakan untuk menutup Dengan adanya asumsi-asumsi tersebut maka
biaya tetap. Impas terjadi bila sma dengan biaya dalam gambar titik impas, garis lurus penjualan,
tetap. Laba terjadi bila melebihi biaya tetapnya, dan garis biaya total (biaya variable ditambah biaya
rugi terjadi bila lebih kecil dari biaya tetap. tetap) akan berupa garis lurus karena semua
Dari uraian tersebut dapatlah dikatakan perubahan dianggap sebanding dengan volume
bahwa analisis titik impas merupakan suatu cara yang penjualan.
digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk
mengetahui atau merencanakan pada volume 3. METODE PENDEKATAN
produksi atau volume berapakah perusahaan tidak A. Jangkauan Penelitian
memperoleh keuntungan dan tidak mendapatkan Penelitian ini dilaksanakan di PT. Barito Bara
kerugian. Analisis Break Even Point dapat berguna Energi yang berlokasi di Samarinda. Data penelitian
secara optimal sebagai alat perencanaan laba dan dibatasi pada ketersediaan data yang mencakup tahun
pengendalian apabila dalam penggunannya didasari 2013, yaitu sesuai dengan mulai beroperasinya
beberapa asumsi yang kuat. Asumsi-asumsi yang perusahaan oleh manajemen baru. Sementara itu
dikemukakan oleh Sigit (2002: 80), adalah: lingkup penelitian hanya menyangkut biaya produksi,
1) Biaya-biaya yang terjadi di dalam perusahaan biaya administasi dan biaya pemasaran yang
yang dihitung Break Even Point-nya dapat dikeluarkan perusahaan.
diidentifikasikan atau ditetapkan sebagai biaya B. Teknik Pengumpulan Data
tetap atau biaya biaya variabel. Biaya-biaya Pengumpulan data dengan cara:
yang meragukan apakah sebagai biaya tetap Dokumentasi, Penelitian lapangan (field work
ataukah biaya variabel tetap harus tegas research), dan Penelitian kepustakaan (library
dimasukkan ke dalam salah satu biaya “tetap” research)
atau “variable”. Biaya semi variable dimasukkan C. Alat Analisis dan Pengujian Hipotesis
ke biaya variabel, biaya semi tetap dimasukkan 1) Alat Analisis
ke dalam biaya tetap. Hanya ada dua kelompok Untuk menguji sejauh mana kebenaran
biaya yaitu “Biaya Tetap” dan “Biaya Variabel” hipotesa yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
saja apabila kita menghitung dan membuat metode analisis yang digunakan adalah dengan
analisa Break Even Point. mempergunakan :
2) Bahwa yang ditetapkan sebagai biaya tetap itu a. Analisis Break Even Point (BEP)
akan tetap konstan, tidak mengalami perubahan untuk mendapatkan suatu keadaan dimana
meskipun volume produksi atau volume perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan tidak
kegiatan berubah. mengalami kerugian baik dalam jumlah barang
3) Bahwa yang ditetapkan sebagai biaya variable (kuantitas) maupun dalam rupiah, dimana dapat
itu akan tetap sama jika dihitung biaya per unit ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
oleh JORC ditunda penambangannya hingga batas
waktu yang tidak ditentukan.
Pada akhir 2013, H. Samsudin memberikan
kompensasi untuk melakukan persiapan
penambangan di salah satu wilayah kerja PT. Jhonlin
Baratama dan PT. Arutmin Indonesia yang berada di
daerah Kintap Kalimantan Selatan. Padas Februari
2013 PT. BBE resmi melakukan di wilayah tersebut.
Visi perusahaan adalah “menjadi salah satu
(Sigit, 2002: 12-13) perusahaan Kontraktor Batubara yang berskala
dimana : nasional dengan memenuhi standar Safety dan
BEP = Break Even Point lingkungan di wilayah operasionalnya. Misi: Bekerja
FC = Biaya Tetap (Fixed Cost ) dengan terencana, terintegrasi, dan disiplin untuk
VC = Biaya Variabel (Variable memenuhi target produksi Batubara (kualitas,
Cost) kuantitas dan ketepatan waktu) yang telah disepakati
dengan client.
Pada tahun 2013 PT. Barito bara Energi
4. HASIL PENELITIAN mencatat volume penjualan sebanyak 299.555 metric
A. Gambaran Umum Perusahaan ton, atau teralisasi sebesar 67% dari rencana
Pada Januari 2013 PT. Barito Bara Energy penjualan sebanyak 450.000 metric ton. Ketidak
(PT. BBE) didirikan oleh Daud Kala Bombang tercapaian volume penjualan terjadi karena adanya
Bersaman yang merupakan karyawan PT. Jhonlin kemerosotan penjualan yang terjadi pada bulan
Baratama. Pendirin perusahaan berdasarkan Akta Februari, Mei, Juni, Juli, Agustus, September,
Nomor AHU-11092.AH.01.01. Tahun 2013. Oktober, Nopember, dan Desember. Hanya penjulan
Berdirinya PT. BBE atas permintaan owner PT. pada bulan Januari dan Maret yang mencapai atau
Jhonlin Baratama, H. Samsudin yang menginginkan melampaui target.
semua aset PT. Jhonlin Baratama yang berada di Realisasi volume penjualan batubara sebagai
proyek Muara Teweh Kalimantan Tengah dialihkan berikut: Pada bulan Januari tercapai target realisasi
ke PT. BBE. Selanjutnya PT. BBE melakukan volume penjualan sebesat 102,94%. Bulan Februari
pembayaran (leasing) semua aset kepada PT. Jhonlin terealisasi sebesar 68,18%. Bulan Maret terealisasi
Baratama dengan maksud PT. BBE akan melakukan sebesar 120,49%. Bulan April terealisasi sebesar
kegiatan penambangan di wilayah kerja Jhonlin di 106,35%. Bulan Mei terealisasi sebesar 87,68%.
Kalimantan. Bulan Juni terealisasi sebesar 37,78%. Bulan Juli
Daud Kala Bombang sebelumnya merupakan terealisasi sebesar 36,29%. Bulan Agustus terealisasi
CEO PT. Jhonlin Baratama yang berpusat di sebesar 55,20%. Bulan September terealisasi sebesar
Kalimantan Selatan. Beliau diminta oleh H. 43,14%. Pada bulan Oktober terealisasi sebesar
Samsudin untuk mendirikan dan memimpin PT. BBE 57,46%. Pada bulan Nopember terealisasi sebesar
dengan syarat memberikan saham kepada beberapa 69,24%, dan pada bulan Desember terealisasi sebesar
orang karyawan lama di PT. Jhonlin Baratama yang 48,35%.
personilnya ditentukan sendiri.
PT. BBE mengambil alih kegiatan, sarana 5. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
dan prasarana serta sebagian besar karyawan PT. A. Analisis
Jhoinlin Baratama Site Muara Teweh dan menjadi Sebagaimana telah disebutkan bahwa selama
kontraktor pertambangan tunggal di wilayah kerja tahun 2013 telah terealisasi biaya produksi(Total
Jhonlin Group di Kalimantan Terngah, yaitu PT. Cost) sebesarRp. 70.704.865.989. Biaya tersebut
Yastra Energy, PT. Dhika Baskara Indonesia dan PT. terdiri dari biaya tetap (Fixed Cost) sebesar Rp.
Genta Coal Mining. Dalam perjalanannya penjualan 32.178.960.400 dan biaya variabel (Variable Cost)
batubara pada akhir 2012 mengalami fluktuasi dan sebesar Rp. 38.525.905.589. Selanjutnya diketahui
cenderung turun hingga pertengahan 2013 sehingga bahwa pada tahun 2013 nilai penjualan batubara
menyebabkan Jhonlin Baratama Group mengambil sebesar US$ 25 per metriks ton (kurs 1US$ = Rp.
kebijakan untuk menahan semua kegiatan di 9.500) sehingga menjadi sebesarRp. 71.144.312.500.
Kalimantan Tengah. Kegiatan PT. BBE juga
terhenti, sekalipun proyek tersebut khususnya PT. 1) AnalisisBreak Even Point (BEP)
Yastra Energy yang telah dieksplorasi secara detail
10-6

-1-- 2
-
299.555 metric ton diperoleh sebesar Rp.
BEP (rupiah) = = Rp. 70.185.831.603. Bila dibandingkan dengan nilai jual
sebesar Rp. 71.144.312.500. Hal ini menunjukkan
70.185.831.603
Selanjutnya apabila harga jual batubaras sebesar US$ bahwa perusahaan mengalami keuntungan yang
87 per metrik tonatauRp. 826.500,00. Biaya variabel relative kecil yaitu adanya penambahan harga pokok
sebesar Rp. 958.480.897. Selanjutnya apabila harga
per unit sebesarRp. 128.610 ( ). jual batubara di pasar sebesar US$ 87 per ton atau
BEP (unit) = = 46.109 Rp. 826.500,00, maka perusahaan akan mencapai
BEP (unit) sebesar 46.109 metric ton. Dengan
metric ton. demikian, produksi sebesar 299.555 metric ton pada
tingkat harga US$ 25 memberikan kerugian bagi
2) AnalisisContribution Margin perusahaan.
Contribution Margin = Penjualan (Pendapatan) – Contribution Margin diperoleh sebesa rRp.
BiayaVariabel 32.618.406.911 dimana nilai tersebut diperoleh dari
= Rp. 71.144.312.500 - selisih antara pendapatan (Rp. 71.144.312.500) dan
Rp. 38.525.905.589 Rp. 38.525.905.589 sebagai biaya variabel. Rasio
= Rp. 32.618.406.911 Contribution Margin-nya sebesar 45,85% berarti
Maksudnya perusahaan harus melakukan penjualan bahwa penghasilan pendapatan akan menyebabkan
sebesar Rp. 32.619.406.911 untuk menutupi biaya kontribusi untuk biaya tetap sebesar 45,85% atau
tetap (fixedcost) yang dikeluarkan perusahaan. bagian dari hasil pendapatan yang digunakan untuk
menutupi biaya tetap yakni 45,85%.
Selanjutnya Ratio Contribution margin sebesar: Margin of Safety sebesar 33,43%; berarti
CMR = \ bahwa apabila pendapatan riil menyimpang lebih
= 1 - 0,541518 besar dari 33,43% dari sales budget, maka
= 0,4585atau 45,85% perusahaan aka nmengalami kerugian dan apabila
3) Margin of Safety pendapatan riil kurang dar i33,43% dari pendapatan
Pada tahun 2013 perusahaan memasang target yang direncanakan, maka perusahaan tidak akan
penjulan sebesar 450.000 metric ton atau senilaiRp. mengalami kerugian sebab masih berada dalam batas
106.875.000.000 (450.000 metric ton x US$ 25 x Rp. aman. Berikutnya terkait dengan perencanaan
9.500). Sementara pendapatan pada tingkat BEP perolehan laba, maka untuk mencapai target laba
diperolehsebesarRp. 71.144.312.500. yang direncanaka nsebesar 30%, perusahaan harus
MOS = x mampu mencapai pendapatan sebesar Rp.
220.706.175.583.
100%
= x 100% 6. KESIMPULAN DAN SARAN
= 0,3343 x 100% A. Kesimpulan
= 33,43% Berdasarkan uraian dari pembahasan atas
Selisih antara jumlah penjualan yang ditargetkan masalah yang telah di kemukakan dapat ditarik
dengan jumlah penjualan dalam keadaan titik impas. kesimpulan sebagai berikut:
1) Hipotesis diterima, berdasarkan data hasil
4) PerencanaanLaba penjualan batubara pada tahun 2013
Apabilabiayatetap (Fixed Cost) menunjukkan adanya penurunan. Hasil
yangdikeluarkanperusahaansebesarRp. perhitungan menunjukkan bahwa BEP berada
32.178.960.400; kontribusi margin sebesar pada nilai Rp. 70.185.831.603 sedangkan hasil
45,85%;danlaba yang direncanakansebesar 30%, penjualan diperoleh sebesar Rp. 71.144.312.500,
makapenjualan yang direncanakanadalah: karena nilai volume pendapatan yang dicapai
lebih besar dari volume pendapatan pada tingkat
S = break even maka perusahaan mendapatkan
S = Rp. 220.706.175.583 margin sebesar
Rp. 958.480.897. Apabila harga jual batu bara
B. Pembahasan sebesar US$ 25 per ton atau Rp. 237.500, maka
Hasil analisis terhadap biaya produksi yang volume produksi pada BEP sebesar 295.518
dikeluarkan perusahaan menunjukkan bahwa BEP metrik ton.
harga jual batubara untuk volume penjualan sebanyak
2) Guna menghindari terjadinya kerugian maka Borensztein, Smith; Robert Stern; Donald Wilson.,
tingkat pendapatan tidak boleh turun lebih besar 2004. Price Theory and It’s User. Flin,
dari angka Margin of Safety. Hal ini berarti Boston.
bahwa apabila penurunan pendapatan tidak lebih BPS Kaltim dalam Kalimantan Timur Dalam Angka.,
besar dari angka Margin of Safety dari 2012. BPS Kaltim.
pendapatan yang direncanakan maka perusahaan Carter, William K., Milton F. Usry. 2006. Akuntansi
masih dapat memperoleh keuntungan. Biaya. Edisi Ketiga belas. Salemba Empat,
3) Apabila perusahaan ingin mencapai target laba Jakarta.
sebesar 30%, diharapkan tersebut perusahaan Danim, Sudarwan., 2000. Metode Penelitian untuk
harus mampu mencapai volume sebesar Ilmu-Ilmu Perilaku. Bumi Aksara, Jakarta.
Rp. 220.706.175.583 Garrison, Ray H., Noreen, Eric W., Brewer, Peter C.
2006. Akuntansi Manajerial (Alih Bahasa :
B. Saran Hinduan). (Buku I). Salemba Empat, Jakarta.
Berdasarkan hasil penelitianp penulis Husnan, Suad dan Enny, Pudjiastut, 2006. Dasar-
menyampaikan beberapa saran berikut: dasar Manajemen Keuangan. Edisi Kelima.
1) Manajemen harus berupaya keras menempatkan Cetakan Pertama. Yogyakarta: UPP STIM
harga jual di atas BEP, dengan cara menahan YKPN.
produksi batubara atau melakukan diversifikasi Handoko, Hani, 2004. Manajemen Personalia dan
usaha agar mampu mempertahankan usahanya, Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi 2.
misalnya dengan meningkatkan pembelian asset FE-UGM, Yogyakarta.
yang dapat diuangkan dalam jangka pendek dan Harnanto. 2002. Analisis Laporan Keuangan. UUP
jangka panjang. AMP YKPN, Yogyakarta.
2) Peningkatan pendapatan pada perusahaan Harnanto. 2003. Akuntansi Keuangan Menengah Jilid
diusahakan seoptimal mungkin, demikian pula II. BPFE, Yogyakarta.
dengan pengendalian biaya sehingga peningkatan Horngren, Charles T., Srikant M. Datar, George
laba yang diperoleh tidak hanya karena Foster. 2006. Akuntansi Biaya dengan
peningkatan harga sewa. Pendekatan Manajerial. Erlangga, Jakarta.
3) Penurunan pendapatan perusahaan sebaiknya Horne, James C, Van dan Jhon, Wachowicz, 2002.
tidak lebih besar dari angka Margin of Safety agar Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan. Buku
perusahaan tidak mengalami kerugian. 1. Edisi Kesembilan, Salemba Empat,
4) Perusahaan perlu mengambil keputusan Jakarta.
rasionalisasi atas penggunaan unit-unit leasing Husnan, Suad., 2000. Pembelanjaan Perusahaan.
dan rental guna mengurangi beban usaha. Edisi Kedua.Cetakan Kedua. Liberty.,
Yogyakarta :
Kelana Said., 2004. Ekonomi Mikro. Radjawali
DAFTAR PUSTAKA Persada, Jakarta.
A Supriyono. 2010. Akuntansi Biaya (Edisi 2). BPFE Kieso, Donald E. 2007. Accounting Principles
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pengantar Akuntansi. (Alih Bahasa: Ali
A. Welsh, Glenn, Ronald W, Hilton Paul. 1995. Akbar Yulianto, Wasilah, Rangga Handika).
Budgeting (Penyusunan Anggaran Salemba Empat, Jakarta
Perusahaan). Bumi Aksara, Jakarta. Mulyadi, 2005. Akuntansi Biaya (Edisi 5).: STIE
Agoes, Sukrisno dan Trisnawati, Estralita. YKPN, Yogyakarta
2009.Akuntansi Perpajakan (Edisi 2). Munandar, M. 2007. Budgeting: Perencanaan
Salemba Empat, Jakarta. Pengkoordinasian dan Pengawasan Kerja.
Aladin, Andi dan Mahfud., 2011. Sumber Daya Alam Edisi kedua. BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.
Batubara. Lubuk Agung, Bandung. Munawir, S., 2002. Analisis Laporan Keuangan.
Anthony . A. Atkinson, Robert S. Kaplan, Ella Mae Edisi Pertama. Cetakan Kelima.. Liberty,
Matsumura, S. Mark Young. 2009. Akuntansi Yogyakarta
Manajemen. PT Indeks, Jakarta. Noor, Henry Faizal 2009. Investasi : Pengelolaan
Atmaja, L. Setia., 2010. Manajemen Keuangan. Buku Keuangan Bisnis dan Pengembangan
1. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Andi Ekonomi Masyarakat. PT Indeks, Jakarta.
Offset, Yogyakarta. Nicholsan, Walter., 2002. Mikroekonomi
Brandis, Michail., 2002. Teori Ekonomi. Swakarsa Intermediate dan Aplikasinya. Universitas
Mandiri, bandung. Indonesia Press, Jakarta.
Prihadi, Toto., 2010. Cepat dan Praktis Analisis
Investasi. PPM, Jakarta Pusat.
Soediyono, 2003. Ekonomi Mikro; Perilaku Harga
Pasar dan Konsumen.
Liberty, Yogyakarta.
Sukirno, Sadono., 2004. Pengantar Teori
Mikroekonomi. Radjawali Persada, Jakarta.
Sugiyono., 2007. Statistika untuk Penelitian.
Alfabeta, Bandung.
Swastha, Basu. 2007. Manajemen Pemasaran (Edisi
8) Cetakan 8. Liberty, Jakarta.
Syamsuddin, Lukman., 2007. Manajemen Keuangan
Perusahaan : Konsep Aplikasi dalam
Perencanaan, Pengawasan, dan
Pengambilan Keputusan. PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Syamsuddin. 2011. Power Point : Akuntansi Biaya
dan Manajemen, Makassar.
Tomek, Bachtiar., 2000. Analisis Ekonomi. Alumni,
Bandung.
Weston, J Fred dan Eugene. F.Bringham, 2004.
Managerial Finance, Alih Bahasa Sumarso.
.Edisi Kelima. EGS, Jakarta.