Anda di halaman 1dari 55

122

3.2 Input
3.2.1 Data Umum Ruang Intensif (ICU/ICCU/PICU)
Ruang ICU/ICCU/PICU merupakan bagian dari ruang perawatan
intensif yang ada di RSUD Ulin Banjarmasin, yang digunakan
mahasiswa sebagai tempat pembelajaran praktik manajemen
keperawatan. Ruangan ini terletak di lantai tiga dan dibatasi oleh :
3.2.1.1 Sebelah Utara : Ruang Hemodialisa
3.2.1.2 Sebelah Timur : Ruang Aster
3.2.1.3 Sebelah Selatan : Koridor/Jendela
3.2.1.4 Sebelah Barat : Ruang tunggu keluarga Klien
3.2.1.5 Lantai Satu : Ruang IGD
3.2.1.6 Lantai Dua : Ruang Barsalin, ruang tunggu keluarga Klien
3.2.1.7 Lantai Empat : Ruang Kabit Keperawatan, ruang pertemuan
Antasari
3.2.1.8 Lantai Lima: Ruang IBS/OK

Ruang Intensive terdiri dari 1 ruang dokter, 1 ruang keperawatan, 1


ruang administrasi, 1 ruang kepala ruangan, 2 WC perawat, 1 ruang
untuk mahasiswa praktik manajemen keperawatan (ruang serbaguna), 1
ruang ganti perab sfwat dan mushola, 1 ruang sentralisasi obat, 1 ruang
gudang alat serta 1 ruangan untuk dapur dan ruang makan perawat.

3.2.2 Tenaga dan Pasien (Man)


3.2.2.1 Tenaga
Ketenagakerjaan yang berada di ruang Intensif berjumlah 52
orang (49 orang perawat, 1 orang administrasi, 1 orang
prakarya dan 1 orang loper) dan ada 27 orang merupakan
pegawai negeri sipil dan 25 orang merupakan BLUD,
meliputi :
a) Magister Keperawatan : 1 orang
b) Sarjana Keperawatan Ners : 17 orang
c) D III Keperawatan : 29 orang
d) S1 Ekonomi : 1 orang
e) SMA : 2 orang

Dari kuesioner perawat yang sudah di bagikan ternyata yang


mengikuti pelatihan BTCLS : 36 Orang, pelatihan ACLS
sebanyak 2 orang, pelatihan keperawatan dasar ICU sebanyak
14 orang, pelatihan keperawatan anak kritis 1 orang, pelatihan
ventilator in house training : 2 orang, pelatihan penanganan
kegawatdaruratan jantung 2 orang, pelatihan kardiovaskular
123

dasar 1 orang dan pelatihan perawatan pasien sepsis 1 orang,


pelatihan EKG dasar 1.

Tabel 3.1 Daftar Tenaga Perawat di Ruang Intensif Care Unit


RSUD Ulin Banjarmasin
No. Nama Pegawai Pendidikan Terakhir Status Kepegawaian
1. Hj. Ratu Bulkis S.kep.Ns KARU
2. H. Marhan S.kep.Ns S. VISOR ICCU
3. Lukmanul. H Ns.M.Kep S. VISOR PICU
4. H. Gazali R S.kep.Ns S. VISOR ICU
5. Mahrita Listyani S.E PNS/ ADMIN
6. Mansur SMA LOPER
7. Istiqomah SMA PEKARYA
8. M. Ichsan AMK KATIM ( PNS)
9. Hayani S. Kep PNS
10. Ainumi Rusda A S.kep.Ns BLUD
11. Lutfi Kamil AMK BLUD
12. Yuyun AMK PNS
13. Wahyudi S.kep.Ns BLUD
14. Yulistia D AMK PNS
15. Hayatun Nisa AMK BLUD
16. Ayu Shintya L S.kep.Ns KATIM ( PNS )
17. Maria Ulfah AMK PNS
18. M. Lutfi Arghubi S.kep.Ns BLUD
19. Rizky Fitriadi AMK BLUD
20. Ratna Nooridha AMK PNS
21. Ahmad Irwandi AMK PNS
22. Budi Rachman AMK BLUD
23. Novha Meldasari AMK BLUD
24. Ernita Yulianti AMK KATIM ( PNS)
25. Rahmadi AMK BLUD
26. Sri Rahayu S.kep.Ns BLUD
27. Fitriah AMK BLUD
28. Yendra Apriza AMK BLUD
29. M. Darkuni S.kep.Ns BLUD
30. M. Effendi AMK PNS
31. Nurliani Winati AMK PNS
32. Erwin S S.kep.Ns KATIM (BLLUD)
33. Minang Rusmiati S.kep.Ns PNS
34. Nor Elva Ariani AMK PNS
35. Eko Suryanto AMK BLUD
36. Gt. Serli S.kep. BLUD
37. Mursinah AMK PNS
38. Norlatifah AMK BLUD
39. Frita Mayandra AMK BLUD
40. Aufar Anthasari AMK PNS
41. Pramudityo. R S.kep.Ns KATIM (BLUD)
42. Dede Dwi Irianti AMK BLUD
43. Sessar Prima S.kep.Ns PNS
44. Farida Agustin S.kep.Ns BLUD
45. Agustina Heny AMK PNS
46. Maulana R.S S.kep.Ns PNS
47. Dimas Danu S.kep.Ns PNS
48. Meta Fitriani AMK BLUD
49 M. Suhrawardi AMK BLUD
50. M. Fahmi Rizal AMK PNS
51. Malikah AMK PNS
124

52. Rina Anggraini S.kep.Ns PNS

Keterangan :
PNS : 27 orang
Non PNS : 25 orang

3.2.2.2 Pasien
Penentuan BOR Ruang Intensif berdasarkan jumlah klien dan
hari rawat bulan Juli 2017, Agustus 2017 dan September 2017.

BOR Ruang Intensif ( ICU, ICCU, PICU)

Keterangan :
TT = Tempat Tidur (ICU/ICCU/PICU = 21 TT)
BOR = Bed Occupancy Rate

BOR selama 3 bulan Juli, Agustus, September 2017 :

a. BOR ruang ICU


BOR ICU selama 3 bulan Juli, Agustus, September 2017 :

b. BOR ruang ICCU


BOR ICCU selama 3 bulan Juli, Agustus, September 2017 :
125

c. BOR ruang PICU


BOR PICU selama 3 bulan Juli, Agustus, September 2017 :

3.2.2.3 Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan


Dari jumlah perawat yang terdapat diruang ICU masih belum
mencukupi atau memenuhi syarat sesuai dengan standar
pelayanan, berdasarkan jumlah perawat yang ada diruang ICU
RSUD Ulin Banjarmasin terdapat 49 orang.

Sedangkan setiap 1 pasien yang menggunakan alat ventilator


harus ditanggung jawabi oleh 1 orang perawat (1:1), dan
apabila 2 pasien yang tidak menggunakan alat ventilator harus
ditanggung jawabi oleh 1 orang perawat (2:1).

Ruang ICU harus memiliki jumlah perawat yang cukup dan


harus terlatih. Jumlah perawat pada ICU ditentukan
berdasarkan jumlah tempat tidur dan ketersedian ventilasi
mekanik. Perbandingan perawat : pasien yang menggunakan
ventilasi mekanik adalah 1: 1, sedangkan perbandingan
perawat : pasien yang tidak menggunakan ventilasi mekanik
adalah 1: 2 (Sumber ; Kemenkes RI,
No1778/Menkes/Sk/XII/2010).

Rasio perawatan pasien tergantung kompleksitas kondisi


pasien (1:1, 1:2, 1:3, atau 2:1) (Sumber ; Managemen Of
Intensive Care. Guidelines for Better Use of Resources. 2000).

Contoh kasus :
Seandainya dalam setiap shif juga terdapat 1 pasien
berventilator maka 7 perawat sisanya memegang 23 bed,
126

idealnya 7 perawat memegang 14 bed, jadi penambahan


perawat dalam setiap shif adalah 4 orang untuk memegang 9
bed yang tersisa.

3.2.2.4 Sepuluh penyakit terbanyak dengan 3 bulan terakhir di Ruang


Intensif pada bulan Juli - September 2017
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi 3
bulan terakhir di Ruang Intensif pada bulan Juli - September
2017 didapatkan penyakit terbanyak adalah Craniotomy 58
orang. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit Craniotomy
merupakan penyakit yang terbanyak di Ruang Intensif RSUD
Ulin Banjarmasin.

Tabel 3.2 Sepuluh Penyakit Terbanyak di Ruang Intensif 3


bulan terakhir pada bulan Juli - September 2017.
No. 10 Penyakit Terbanyak Jumlah
1. Craniatomi 58
2. Heart Failure 28
3. Stemi 27
4. PTCA 18
5. Tu removal 16
6. Ileus 14
7. Post SC 13
8. Post LE 10
9. IMA 9
10. CKB 9

3.2.3 Bangunan, sarana dan prasana (Material)


Fasilitas Pasien di Ruang Intensif RSUD Ulin Banjarmasin
Tabel 3.3 Daftar fasilitas pasien

No Fasilitas Pasien Jumlah Kondisi Ideal

1 Tempat tidur 24 Baik 1:1


2 Meja pasien 24 Baik 1:1
3 Kursi roda 2 Baik 2-3/Ruangan
4 Brankar 1 Baik 1/Ruangan
5 Jam dinding 2 Baik 2/Ruangan
6 Timbangan 1 Baik 1/Ruangan
7 Wastafel 8 Baik 2/Ruangan
8 Lemari es 1 Baik 1/Ruangan

3.2.3.1 Fasilitas bagi petugas kesehatan


a. Ruang kepala ruangan tidak menjadi 1 dengan ruang
pertemuan perawat
127

b. Kamar mandi perawat/WC sudah sesuai dengan standar


yaitu ada 1 buah
c. Ruang staff dokter berada di timur dekat dengan apotik
ruang intensif
d. Nurse station sudah sesuai berada ditengah ruangan pasien
e. Gudang berada di sebelah timur
f. Ruang ganti berada di sebelah barat

3.2.3.2 Alat tenun


Tabel 3.4 Daftar Barang atau Alat Tenun yang Terdapat Di
Ruang Intensif RSUD Ulin Banjarmasin bulan Oktober Tahun
2017
Ratio Keadaan
No Nama Barang Jumlah Rusak
Klien:Alat Baik Rusak
Berat
1 Sprei 1:06 866 866 - -
2 Baju 1:05 514 514 - -
3 Selimut tebal 1:05 87 87 - -
4 Selimut Lurik 1:05 67 67 - -
5 Perlak 1:05 19 19 - -
6 Sarung bantal 1:06 48 48 - -
7 Duk lubang 1:1/3 1 1 - -
8 Handuk kecil 1:03 50 50 - -
9 Duk kecil - 1 1 - -
10 Waslap 1:03 27 27 - -
11 Bantal 1:01 1 1 - -
12 Gurita - 11 11 - -
13 Sarung - 1 1 - -
14 Taplak meja - 2 2 - -
15 Sarung panjang - 1 1 - -
16 Taplak meja kuning - 1 1 - -
17 Sprei biru - 2 2 - -
18 Sprei kuning - 1 1 - -
19 Sarung guling - 1 1 - -
20 Taplak meja orange - 2 2 - -
2
21 Taplak meja ungu - 2 - -
22 Taplak meja hijau - 1 1 - -
23 Taplak meja biru - 1 1 - -

Sesuai dengan PMK No.24 Tentang persyaratan teknis bangunan


dan prasarana rumah sakit, pada dasarnya untuk fungsi ruangan
hanya rumah sakit tipe C saja yang dapat digabung antara
128

gudang alat medik dan gudang bersih. Untuk gudang kotor


sendiri harus memiliki ruangan tersendiri yang dilengkapi
dengan sloop sink dan service sink. Letak gudang kotor itupun
harus terhubung dengan koridor kotor dan memenuhi persyaratan
ventilasi yang sesuai. Hasil observasi di ruangan untuk gudang
alat medik, gudang bersih dan gudang kotor terdapat dalam satu
ruangan. Dan bahan tenun kotor tersebut diletakkan dalam
tempat yang terbuka pula.

Sedangkan untuk prasarana sepeti barang-barang bahan tenun


yang tersedia diruangan intensif disesuaikan dengan jenis dan
pelayanan serta ketersediaan SDM dirumah sakit.

3.2.3.3 Alat kesehatan/perawatan


Tabel 3.5 Alat-Alat Di Ruang Intensif
Keadaan
Ratio
No Nama Barang Jumlah Rusak
Baik Rusak
Berat
1 Resusitasi Set 1/Ruangan 1 1 - -
2 Laringoskope 1/ Ruangan 1 1 - -
3 Meja Instrumen 2/ Ruangan 2 2 - -
4 Oksigen Nasal 2/ Ruangan 10 10 - -
5 Oksigen Masker 2/Ruangan 10 10 - -
6 Ambubag 1/Ruangan 1 1 - -
7 Bengkok 2/Ruangan 5 5 - -
8 Tromol Besar 2/Ruangan 2 2 - -
9 Tromol Sedang 2/ruangan 2 2 - -
10 Tromol Kecil 3/ruangan 3 3 - -
11 Pinset Anatomis 2/ruangan 3 3 - -
12 Pinset Sirurgis 2/Ruangan 2 2 - -
13 Gunting Lancip Bengkok 1/Ruangan 1 1 - -
14 Gunting 2/Ruangan 2 2 - -
15 Korentang 2/Ruangan 1 1 - -
16 Urinal 1/Ruangan 1 1 - -
17 Pispot 1/Ruangan 1 1 - -
18 Gerusan Obat 1/Ruangan 1 1 - -
19 Kom besar 2/Ruangan 2 2 - -
20 Kom kecil 2/Ruangan 2 2 - -
21 Gunting Klem 1/Ruangan 1 1 - -
22 Bak instrument 2/Ruangan 2 2 - -
23 Alat dressing 1/Ruangan 1 1 - -
24 Stetoskop Dewasa 2-3/Ruangan 3 3 - -
25 Stetoskop Anak 3/Ruangan 4 4 - -
26 Ultrasonic Nebulizer 1/Ruangan 1 1 - -
27 Bed patient + tiang infus 2/3:1 31 31 - -
28 Lemari klien 1:1 24 24 - -
29 Meja observasi 1:1 24 24 - -
129

30 Tabung oksigen besar 2/Ruangan 11 11 - -


31 Tabung oksigen kecil 1/Ruangan 2 2 - -

Kemenkes RI Tahun 2011 tentang pedoman penyelengaraan


pelayanan HCU dan ICU di RS. Untuk alat-alat yang tertera
diatas sudah memenuhi standar pedoman intensif care unit
sedangkan dari segi jumlah yang tersedia dapat menyesuaikan
dengan kebutuhan dan kemampuan Rumah sakit sendiri yang
telah dikembangkan.

Tabel 3.6 Alat perawatan keluar masuk CSSD bulan Oktober


2017
Tanggal Alat Masuk Keluar
3 Oktober – 9 Kom 35 35
Oktober 2017 Pinset 32 32
Spatel 1 1
10 Oktober – Kom (besar &kecil) 41 41
17 Oktober Pinset 37 37
2017 Gunting 1 1
Bak Instrumen Kecil 1 1
tutup
Gunting Klem 1 1
18 Oktober Kom 29 29
-27 Oktober Pinset 26 26
2017 Bak instrument kecil 1 1
tutup
Alat dressing 1 set 1 1
28 Oktober – Kom 18 18
01 November Pinset 17 17
2017 Bak instrument tanpa 1 1
tutup
Total 1 bulan : 243 buah

Peraturan Menteri Kesehatan Republik indonesia Nomor 10


tahun 2017 Tentang Petunjuk operasional penggunaan dana
alokasi khusus fisik bidang kesehatan tahun anggaran 2017
bahwa jenis penyediaan peralatan CSSD sudah sesuai dengan
syarat yang termaktub di dalam Permenkes Nomor 56 Tahun
2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit seperti :
a. Terdapat sumber daya manusia yang mengoperasionalkan.
b. Terdapat teknisi pemeliharaan.
c. Terdapat ruangan yang memenuhi syarat.
d. Terdapat suplai listrik, uap yang dihasilkan dari boiler.
130

e. Menggunakan teknologi mutakhir (pertimbangan efisien,


sterilitas dan proses).
f. Terdapat program pengendalian mutu pada saat sebelum
dan sesudah proses sterilisasi

3.2.3.4 Alat rumah tangga


Tabel 3.7 Daftar Barang atau Alat Rumah Tangga yang
Terdapat Di Ruang Intensif RSUD Ulin Banjarmasin Tahun
2017
Keadaan
Ratio
No Nama Barang Jumlah Rusak
Baik Rusak
Berat
1. Jam Dinding 1/Ruangan 1 1 - -
2. Dispenser 1/Ruangan 1 1 - -
3. Lemari Besi 2/Ruangan 2 2 - -
4. Pesawat Telpon 2/Ruangan 2 2 - -
5. Komputer Set 1/Ruangan 1 1 - -
6. Televisi 1/Ruangan 1 1 - -
7. Kursi Roda 2/Ruangan 2 2 - -
8. Brankar 1/Ruangan 1 1 - -
9. Printer 1/Ruangan 1 1 - -
10. Meja makan 1/Ruangan 1 1 - -
11. Wastafel 3/Ruangan 1 1 - -
12 Kipas angina 1/Ruangan 1 1 - -

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tahun 2009


bahwa standar alat rumah tangga di RS ruangan Intensif sudah
sesuai dengan standar.

3.2.3.5 Daftar barang atau alat kesehatan yang terdapat di Ruang


Intensif RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2017
Tabel 3.8 Barang atau Alat Kesehatan yang Terdapat Di Ruang
Intensif RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2017

No Nama Merk/Model Jumlah Keadaan Barang Ket


Barang Barang Baik Kurang Rusak
baik berat
1 Bed pasien Supramak 6 6
Paramount 4 4
Max 7 7
Bantuan who 2 2
131

Paramount 27 27 Baru
2 Lemari Paramount 1 1
Max 5 5
Shima 7 7
3 Bed lipat 2 2
4 Tiang infus 34 34
5 Regulator 23 23
oksigen
6 Suction 12 12
dinding
7 Suction 2 2
portable
8 Bed side Philip mp 40 9 9 Kalibrasi
Philip mp 40 1 1 Kalibrasi
monitor
invasif
Philip mp 20 8 8 Kalibrasi
Space lab 2 2 Kalibrasi
Digicare 5 5 Kalibrasi
Philip mx 450 6 6 Baru
9 Sentral Digicare 1 1
monitor
10 Syringe Terumo 1 Kalibrasi
Perfusor- b brown 25 Kalibrasi
pump
Space- b brown 10 Kalibrasi
Injectomat-igelia 4 Kalibrasi
11 Infus pump Terumo 4 4 - Kalibrasi
Top 2 2 - Kalibrasi
Space- b brown 10 10 Kalibrasi
Infusomat- b brown 15 15 Kalibrasi
12 Ekg Philip 3 3 Baru
13 Defibri lator Cardio aid 1 - - 1 Kalibrasi
Philip 2 2 2 Kalibrasi
14 Ventila tor Drager savina 7 7 Baru
Drager evita 3 3 Baru
15 Kursi roda 2 V
16 Troli emer 1 V
gency
17 Lampu 1 1
tindakan
18 Ultrasonic 1 1 - Kalibrasi
nebuli zer
19 Thermacare 1 1 - - Kalibrasi

20 Pulse 1 1 - - Kalibrasi
oksimet ri
portable
21 Bed dekubi 1 1
tus
22 Alat pengu 1 1
kur balon ett

Kemenkes RI Tahun 2011 tentang pedoman penyelengaraan


pelayanan HCU dan ICU di RS bahwa alat tersebut belum
132

memenuhi sesuai standar jumlah bed pasien, karena peralatan


yang memadai dan sesuai klasifikasi pelayanan diruang
intensif baik kuantitas maupun kualitas dapat membantu
kelancaran pelayanan diruangaan intensif tersebut.

Material perawatan medis merupakan sarana dan prasarana


penunjang yang mendukung kelancaran dalam memberikan
asuhan keperawatan kepada klien. Secara kualitatif fasilitas
yang tersedia seharusnya sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Fasilitas dan alat-alat kedokteran maupun
keperawatan dipenuhi melalui standar resmi yang telah
ditetapkan oleh masing-masing Rumah Sakit yang disesuaikan
dengan jenis dan kapasitas unit pelayanan.

Kelengkapan di ruang intensif sudah tersedia lengkap dan


semua petugas kesehatan khususnya perawat sudah
mengoptimalkan semua peralatan yang ada. Hal ini terbukti
dengan sudah terpakainya semua barang yang didalam stok
persediaan. Namun ada beberapa seperti alat tenun 1 TT itu
seharusnya mendapatkan linen 1:6 tetapi yang terjadi
dilapangan yaitu 1:3.

3.2.3.6 Denah ruangan


Ruang ICU/ICCU/PICU merupakan bagian dari ruang
perawatan intensif yang ada di RSUD Ulin Banjarmasin, yang
digunakan mahasiswa sebagai tempat pembelajaran praktik
manajemen keperawatan. Ruangan ini terletak di lantai tiga
dan dibatasi oleh :
a. Sebelah Utara : Koridor/Jendela ke Halaman Utama RSUD
Ulin Banjarmasin
b. Sebelah Timur : Ruang Aster
c. Sebelah Selatan : Koridor/Jendela
d. Sebelah Barat : Ruang tunggu keluarga klien
e. Lantai Satu : Ruang IGD
f. Lantai Dua : Ruang Barsalin, ruang tunggu keluarga klien
g. Lantai Empat : Ruang Pemeriksaan Jantung
h. Lantai Lima : Ruang IBS/OK

Ruang Intensive terdiri dari 1 ruang dokter, 1 ruang


administrasi, 1 ruang kepala ruangan dan supervisi, 1 WC
133

perawat, 1 ruang untuk mahasiswa praktik manajemen


keperawatan (ruang serbaguna), 1 ruang ganti perawat dan
mushola, 1 ruang depo obat, 1 ruang farmasi, 1 ruang gudang
alat serta 1 ruangan untuk dapur dan ruang makan perawat, 2
WC tamu, dan 1 ruang perlengkapan.
134

Gambar 3.1 Denah ruangan

Selasar Luar ICU

wc
4
1 2 3 4 5 6 7 8
5
Ruang
wc Makan
3

ICU
6
Counter
perawat jaga
Kamar
ICC
wc
2 Gant
U
perawat dan
Mushola

1 1 1 1 1 1
Counter 1 0 9 Farmasi
4 3 2
perawat jaga Ruang
perlengkapan
Lif

Rg. Ruang Depo Rg.


4

Admin Pertemuan Obat Dokter


Lif Lif
Lif
3

1 2 wc wc

CORIDOR

wc
Counter
perawat Rg.
Ruang tunggu
keluarga PICCU Kepala Ruangan
Supervisi
pasien
136

3.2.4 Pembiayaan (Money)


Berdasarkan informasi yang didapatkan dari kepala ruangan Intensif
mengatakan anggaran dana untuk ruang intensif biasanya diberikan
anggaran pertahun oleh APBN dan APBD kepada rumah sakit. Pada
ruang intensif didapat pembayaran pasien sebagian besar menggunakan
BPJS sedangkan sisanya dari pasien umum (biaya sendiri) dan kerja
sama pihak ketiga, untuk pengadaan alat diruangan intensif ada 2 cara
yaitu yang pertama adalah dana taktis apabila keperluan barang dengan
harga < 3 juta yaitu dengan uang yang ada tersedia pada ruangan.
Rumah sakit memberikan kepercayaan untuk kebijakan operasional
kepada ruangan untuk mengelola dan mengatasi masalah pembiayaan
yang ada di ruangan. Untuk keperluan tidak terduga yang ada pada
ruangan seperti kerusakan alat atau kebutuhan yang segera dipenuhi.
Masalah tersebut dapat diatasi oleh ruangan dengan menggunakan uang
kas yang ada diruangan dan kemudian biaya tersebut tetap di usulkan ke
IPRS dengan menyerahkan bukti pembelian barang dalam bentuk
kwitansi untuk pengadaan/perbaikan fasilitas atau alat kesehatan
diusulkan ke bidang penunjang. Apabila harga barang > 3 juta dapat
langsung di ajukan proposal ke IPRS, dimana harus mengajukan surat
terlebih dahulu ke Direktur sehingga membutuhkan waktu yang lama
untuk pencairan dana. Staf atau pegawai ruang intensive membuat suatu
RBA (Rencana Bisnis Anggaran) kepada manejeman RSUD Ulin
Banjarmasin.

Dalam pengajuan proposal tersebut dicantumkan perincian dana yang


diperlukan baik itu dari dana untuk perbaikan fasilitas ruangan, fasilitas
alat, seminar, atau pelatihan staf atau yang berupa keperluan medis dan
non medis. Pelayanan medis yaitu berupa alat alat medis yang ada pada
ruangan intensif. Pelayanan non medis seperti keperluan umum,
keperluan rumah tangga dan keperluan khusus.

Uang kas yang ada pada ruangan di dapat dari jasa langsung dan tidak
langsung, seperti jasa medis diberikan oleh bagian keuangan kepada
ruangan untuk kesejahteraan ruangan. Untuk pembagian uang jasa
tersebut sebagian dibagikan sesuai beban kerja pada pegawai yang ada
dan sebagian uangnya disimpan sebagai uang kas di ruang Intensif.
137

Anggaran dana untuk pembayaran gajih yang di terima pegawai di ruang


intensif berdasarkan aturan dari pemerintah. Untuk tenaga PNS, gajih
yang diterimanya dari pemerintah dengan anggaran APBN, sedangkan
untuk pembayaran gajih non PNS yaitu tenaga kontrak / BLUD diatur
oleh pihak rumah sakit BLUD RSUD Ulin Banjarmasin.

Untuk pemeliharaan ruangan seperti sarana dan prasarana alat kesehatan


serta perbaikan pengadaan dana bagi ruangan (renovasi ruangan)
biasanya surat dimasukkan ke IPSRS dan dana diperoleh dari
penghasilan yang dikelola rumah sakit dan dana anggaran pertahun oleh
APBN dan APBD.

Pembiayaan pasien pada bulan September tahun 2017 sebagian besar


dari BPJS dengan jumlah 119 orang, umum 15 orang, Jamkesprov 7 dan
kerja sama pihak ketiga 3 orang.

3.2.5 Metode Pemberian Asuhan Keperawatan (Methode)


Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada kepala ruang
intensif pada tanggal 31 Oktober 2017, bahwa metode yang digunakan
adalah metode asuhan SP2KP (Sistem pemberian pelayanan
Keperawatan Profesional) dengan aspek proses ditetapkan penggunaan
metode modifikasi keperawatan primer (kombinasi metode tim dan
metode keperawatan primer). Hal ini berdasarkan surat keputusan
Direktur nomor 188.4/014/Kep-KUM/2010 ditetapkan sistem pemberian
pelayanan keperawatan profesionalnya menggunakan sistem moduler
(Tim-Primer). Adapun penjbaran dari pengembangannya SP2KP yng
tertuang dalam surat keputusan Direktur, meliputi : kepala ruangan
supervisor, ketua tim, staf pelaksana keperawatan (Sumber : Pedoman
Pelayanan Keperawatan RSUD Ulin Banjarmasin, 2015).

Model Asuhan Keperawatan yang digunakan di ruang intensif


(ICU/ICCU/PICU) adalah Model Asuhan Keperawatan Profesional
dengan Metode Nursing Tim. Metode ini menggunakan tim yang terdiri
dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan
terhadap sekelompok klien.

Berdasarkan hasil observasi pada tangga 31 Oktober 2017, didapatkan


bahwa asuhan keperawatan SP2KP modular yang diterapkan pada
Ruang Intensif dengan metode tim dan adanya supervisor dalam metode
138

ini. Terdiri dari 1 orang kepala ruangan, 3 orang supervisor, 5 orang


ketua tim yang memiliki 7 sampai 8 orang anggota perawat pelaksana
(PA).

Gambar 3.2 Struktur organisasi ruangan intensif

Adapun konsep untuk metode tim ini yaitu ketua tim sebagai perawat
profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan,
pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana
keperawatan terjamin. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan
ketua tim. Peran kepala ruangan penting dalam model tim. Model tim
akan berhasil baik bila didukung oleh kepala ruangan dan adanya
kerjasama dalam tugas yang diemban.

Model yang digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan sehari-


hari adalah dengan menggunakan metode tim pada pagi hari, sore dan
malam perawat yang bertugas menjalankan asuhan keperwatan secara
menyeluruh (memberikan pemenuhan kebutuhan dasar klien).

Hasil observasi pada tanggal 31 Oktober 2017 di dapatkan bahwa model


asuhan keperawatan di ruang intensif menggunakan SP2KP modular
dengan model tim sudah berjalan optimal, pada pelaksanaannya di
ruangan sesuai dengan uraian tugas masing-masing anggota tim, ada
kejelasan yang tegas terhadap tugas, peran dan wewenang yang jelas
pada setiap anggota tim, pada dasarnya ketua tim sebagai perawat
profesional mampu melakukan teknik kepemimpinan. Ketua tim
melakukan pembuatan perencanaan, penugasan, supervisi dan evaluasi.
Ketua tim juga mengenal dan mengetahui kondisi pasien dan dapat
menilai tingkat kebutuhan pasien.
3.2.5.1 Timbang terima (operan)
139

Petunjuk pelaksanaan timbang terima :


a. Perawat yang melaksanakan timbang terima mengkaji
secara penuh terhadap masalah, kebutuhan dan segenap
tindakan yang telah dilaksanakan serta hal-hal yang penting
lainnya selama masa perawatan (tanggung jawab).
b. Hal-hal yang sifatnya khusus, memerlukan perincian yang
sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserah
terimakan pada petugas berikutnya.
c. Hal-hal yang perlu disampaikan dalam timbang terima :
1) Identitas klien dan diagnosa medis.
2) Masalah keperawatan yang masih muncul.
3) Tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (secara
umum).
4) Intervensi kolaboratif yang telah dilaksanakan.
5) Rencana umum dan persiapan yang perlukan dilakukan
dalam kegiatan operatif, pemeriksaan
laboratorik/pemeriksaan penunjang lain, persiapan
untuk konsultasi atau terhadap prosedur yang tidak
rutin dijalankan.
6) Prosedur rutin yang biasa dilakukan tidak perlu
disampaikan.
d. Perawat yang melaksanakan timbang terima dapat
melakukan klarifikasi, tanya jawab dan melakukan validasi
terhadap hal-hal yang telah ditimbang terimakan atau
berhak bertanya terhadap keterangan-keterangan yang
kurang jelas.
e. Lama timbang terima untuk tiap klien tidak lebih dari 5
menit, kecuali dalam kondisi khusus dan memerlukan
keterangan yang rumit.

Ketentuan timbang terima :


a. Dilaksanakan pada setiap pergantian shift
b. Dipimpin oleh perawat primer sebagai penanggung jawab.
c. Diikuti perawat, mahasiswa dinas yang telah maupun yang
akan berdinas.
140

d. Terdapat unsur bimbingan dan pengarahan dari


penanggung jawab.
e. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat,
sistematis, menggambarkan keadaan Klien saat ini dan
tetap menjaga kerahasiaan klien.
f. Timbang terima yang dilakukan harus berorientasi pada
perma-salahan keperawatan, rencana, tindakan dan
perkembangan kesehatan Klien.

Prosedur timbang terima selama ini sudah dilakukan pada


setiap pergantian shift jaga, namun cara penyampaian isi
timbang terima belum banyak mengacu pada asuhan
keperawatan dan lebih banyak terfokus pada masalah
pengobatan/penanganan medis.

Isi timbang terima telah didokumentasikan secara simpel di


dalam buku laporan harian sehingga tindakan yang sudah atau
belum dilakukan dapat diketahui dari laporan tersebut. Pada
pelaksanaan timbang terima awalnya dilakukan di Nurse
Station. Timbang terima yang dilakukan di bed klien dilakukan
setelah selesai dilakukan di Nurse Station biasanya dilakukan
setiap pergantian shift baik pagi, siang dan malam

Beberapa kelebihan pelaksanaan timbang terima di ruang


intensif adalah timbang terima dilaksanakan oleh kepala
ruangan dan/kadang supervisor langsung di shift pagi dan
seluruh staf perawat yang berganti shift, perawat mampu
melaksanakan dengan baik, dan sebagai lahan pendidikan
mahasiswa praktek, dapat langsung menyaksikan metode
timbang terima. Timbang terima sudah terjadwal pasti,
dilakukan oleh shift malam ke shift pagi, shift pagi ke shif
siang, shift siang ke shift malam dan pada hari libur tetap
dilakukan. Namun, tidak selalu pelaksanaan timbang terima
dilakukan langsung keliling dengan melihat kondisi pasien,
hasil observasi yang dilakukan tanggl 30-31 Oktober 2017
pergantian shift pagi ke siang ataupun pergantian shift siang ke
141

malam kadang hanya dilakukan perawat ke perawat yang


bertanggung jawab dishift berikutnya, timbang terima kadang
di Nurse Station atau langusng keliling ke pasien.

3.2.5.2 Komunikasi SBAR


Komunikasi dengan menggunakan alat terstruktur SBAR untuk
mencapai keterampilan berfikir kritis serta menghemat waktu.
(Rina, 2012)
a. Konsep SBAR
Menurut Rina, 2012. Konsep SBAR yaitu sebagai berikut :
1) S (Situation) : Merupakan kondisi terkini yang sedang
terjadi pada pasien.
a) Mengidentifikasi diri, unit, pasien dan nomor kamar
b) Nyatakan masalah secara singkat: Apa, kapan
dimulai dan tingkat keparahan
2) B (Background)
Sediakan informasi latar belakang yang sesuai dengan
situasi, meliputi :
a) Daftar pasien
b) Nomor medical record
c) Membuat diagnosa dan tanggal pendiagnosaan
d) Daftar obat terkini, alergi dan hasil laboratorium
e) Hasil terbaru TTV pasien
f) Hasil laboratorium dengan tanggal dan waktu
pengambilan serta hasil dari tes laboratorium
sebagai pembanding
g) Informasi klinik lainnya
Jadi, background merupakan informasi penting tentang
apa yang berhubungan dengan kondisi pasien terkini.

3) A (Assessment/pengkajian)
Assessment merupakan hasil pengkajian dari kondisi
pasien yang terkini
4) R (Recommendation)
Recommendation merupakan apa saja hal yang perlu
dilakukan untuk mengatasi masalah pasien pada saat
ini.

b. Laporan kondisi pasien antar shift dinas dengan SBAR


Menurut Rina (2012), sebelum operan pasien :
1) Dapatkan pengkajian kondisi pasien terkini
142

2) Kumpulkan data – data yang diperlukan yang


berhubungan dengan kondisi pasien yang akan
dilaporkan
3) Pastikan diagnosa medis pasien dan prioritas masalah
keperawatan yang harus dilanjutkan
4) Baca & pahami catatan perkembangan terkini & hasil
pengkajian perawat shift sebelumnya
5) Siapkan medical record pasien termasuk rencana
perawat harian

Berdasarkan hasil observasi pada 30-31 Oktober 2017


didapatkan bahwa saat melakukan timbang terima, SBAR tidak
sepenuhnya dilaksanakan, catatan SBAR berada dibuku status
pasien, penyampaian hanya item-item tertentu saja yang
disampaikan, seperti advice dari dokter, cek laboratorium/hasil
dan tindakan yang selanjutnya yang akan dilaksanakan.

3.2.5.3 Ronde keperawatan


Ronde keperawatan adalah suatu bagian kegiatan asuhan
keperawatan dengan membahas kasus tertentu dengan harapan
adanya transfer pengetahuan dan aplikasi pengetahuan secara
teoritis kedalam praktek keperawatan secara langsung yang
dilakukan oleh perawat konselor, kepala ruangan, MA, kabid
keperawatan dengan melibatkan seluruh tim keperawatan.
Karakteristik :
a. Klien dilibatkan secara langsung.
b. Klien merupakan fokus kegiatan.
c. PP dan konselor melakukan diskusi.
d. Konselor memfasilitasi kreatifitas.
e. Konselor membantu mengembangkan kemampuan PP
dalam meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.

Peran dan tugas Ketua Tim (PP) :


a. Menjelaskan keadaan dan data demografi Klien.
b. Menjelaskan masalah keperawatan utama.
c. Menjelaskan intervensi yang dilakukan.
d. Menjelasakan hasil yang didapat.
e. Menentukan tindakan selanjutnya.
143

f. Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang diambil.


Menggali masalah Klien yang belum terkaji.

Peran Perawat Pelaksana (PA) :


a. Memberikan justifikasi.
b. Memberikan reinforcement.
c. Menilai kebenaran dari masalah dan intervensi
keperawatan serta rasional tindakan.
d. Mengarahkan dan koreksi.
e. Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah di pelajari.

Hasil wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal 31


Oktober 2017 bahwa pelaksanaan ronde keperawatan
dilakukan di hari Senin dan Kamis. Dari hasil observasi ronde
keperawatan belum optimal dilakukan di ruangan intensif dan
dipimpin oleh supervisor ruangan. Pelaksanaan ronde
keperawatan dilakukan pada shift pagi. Namun, diruangan
jarang melaksanakan ronde keperawatan. Ronde dihadiri oleh
kepala ruangan, supervisor, ketua tim dan perawat pelaksana.
Isi ronde keperawatan belum banyak berisi diskusi tentang
penanganan/tindakan keperawatan, namun lebih bersifat
validasi dan perintah dalam pemberian tindakan keperawatan
yang akan didapatkan oleh klien selanjutnya.

3.2.5.4 Supervisi
Supervisi Keperawatan adalah suatu proses pemberian sumber-
sumber yang dibutuhkan perawat untuk menyelesaikan tugas
dalam rangka pencapaian tujuan.

Dalam pelaksanaan supervisi keperawatan,kelompok dapat


melalui 3 tahap, yaitu :
a. Persiapan
Pada tahap persiapan, kelompok melakukan :
1) Penetapan hari dilakukan supervisi keperawatan.
2) Siapa yang menjadi kepala ruang yang akan
mensupervisi dan PP yang akan disupervisi.
3) Menetapkan hal-hal apa saja yang akan disupervisi.
144

4) Membuat proposal supervisi keperawatan dan membuat


format supervisi harian
b. Pelaksanaan
1) Supervisi dimulai dengan pembukaan oleh kepala ruang
dan penyampaian tujuan dan manfaat supervisi.
2) Kepala ruang memanggil ketua tim dan menyampaikan
hal apa yang akan disupervisi saat itu.
3) Kepala ruang meminta keterangan dan informasi
seputar sistem pendokumentasian yang dibuat ketua
tim.
4) Memberikan masukan bila didapati kekurangan dalam
sistem pendokumentasian dan memuji bila didapati hal-
hal yang baik dan khusus yang memberikan nilai lebih
kepada ketua tim.
c. Evaluasi
1) Mencatat/menuliskan semua masukan dan hasil
supervisi kedalam laporan supevisi.
2) Melakukan evaluasi ulang setelah supervisi setelah
waktu yang ditetapkan.

Supervisi keperawatan telah dilakukan, petunjuk pelaksanaan


supervisi dan program kerja supervisi sudah ada. Acuan yang
dipakai adalah protap yang sudah ditentukan oleh Direksi
Rumah Sakit.

3.2.5.5 Discharge Planning


Discharge Planning (Perencanaan Pulang) merupakan
komponen sistem perawatan berkelanjutan, pelayanan yang
diperlukan klien secara berkelanjutan dan bantuan untuk
perawatan berlanjut pada klien dan membantu keluarga
menemukan jalan pemecahan masalah dengan baik, pada saat
tepat dan sumber yang tepat dengan harga yang terjangkau
(Doenges & Moorhouse: 94-95).

Seseorang yang merencanakan pemulangan atau koordinator


asuhan berkelanjutan (coninuing care coordinator) adalah staf
145

rumah sakit yang berfungsi sebagai konsultan untuk proses


discharge planning bersamaan dengan fasilitas kesehatan,
menyediakan pendidikan kesehatan, dan memotivasi saf rumah
sakit untuk merencanakan perpindahan yang nyaman. Dengan
memastikan semua pelayanan kesehatan yang diperlukan telah
dipersiapkan untuk menerima Klien, mempromosikan tahap
kemandirian yang tertinggi kepada Klien, teman-teman dan
keluarga dengan menyediakan, memandirikan aktivitas
perawatan diri.
a. Tujuan
Discharge planning bertujuan untuk mengidentifikasi
kebutuhan spesifik untuk mempertahankan atau mencapai
fungsi maksimal setelah pulang (Carpenito, 1999). Juga
bertujuan memberikan pelayanan terbaik untuk menjamin
asuhan keperawatan yang berkualitas antara rumah sakit
dan komunitas dengan memfasilitasi komunikasi yang
efektif (Discharge Planning Association, 2008)

Rencana pulang yang dimulai pada saat Klien masuk


rumah sakit dan secara periodik diperbaiki mencapai tahap
akhir dan segera dilaksanakan, Periksa apakah Klien/orang
terdekat telah mendapat instruksi tertulis atau instruksi
verbal tentang penanganan, obat-obatan dan aktivitas yang
boleh dilakukan di rumah. Tanda dan gejala yang
menunjukkan perlunya kontak yang terus-menerus dengan
pelayanan kesehatan perlu ditinjau.
b. Manfaat
1) Menurunkan jumlah kekambuhan, penurunan kembali
di rumah sakit, dan kunjungan ke ruangan kedaruratan
yang tidak perlu kecuali untuk beberapa diagnosa.
2) Membantu klien untuk memahami kebutuhan setelah
perawatan dan biaya pengobatan.
3) Bahan pendokumentasian keperawatan.
c. Hal-hal yang perlu diperhatikan
Meskipun Klien telah dipulangkan, penting bagi Klien dan
keluarga mengetahui apa yang telah dilaksanakan dan
146

bagaimana mereka dapat meneruskan untuk meningkatkan


status kesehatan Klien. Selain itu, ringkasan pulang
tersebut dapat disampaikan oleh perawat praktisi/perawat
home care dan mungkin dikirim ke dokter primer/dokter
yang terlibat untuk dimasukkan dalam catatan institusi
untuk meningkatkan kesinambungan perawatan dengan
kerja yang kontinu ke arah tujuan dan pemantauan
kebutuhan yang berubah (Doenges & Moorhouse: 126).
1) Discharge Planning harus disesuaikan dengan:
a) Kebutuhan klien, tersedianya tim kesehatan
b) Dimulai sejak awal masuk rumah sakit.
c) Disusun oleh tim.
2) Tahap-tahap Discharge Planning
a) Pengkajian
Pengkajian mencakup pengumpulan dan
pengorganisasian data tentang klien. Ketika
melakukan pengkajian kepada klien, keluarga
merupakan bagian dari unit perawatan. Klien dan
keluarga harus aktif dilibatkan dalam proses
discharge agar transisi dari rumah sakit ke rumah
dapat efektif. Elemen penting dari pengkajian
discharge planning adalah:
 Data kesehatan
 Data pribadi
 Pemberi perawatan
 Lingkungan
 Keuangan dan pelayanan yang dapat
mendukung

b) Diagnosa
Diagnosa keperawatan didasarkan pada pengkajian
discharge planning, dikembangkan untuk
mengetahui kebutuhan klien dan keluarga. Keluarga
sebagai unit perawatan memberi dampak terhadap
anggota keluarga yang membutuhkan perawatan.
147

Adalah penting untuk menentukan apakah masalah


tersebut aktual atau potensial.

c) Perencanaaan: Hasil yang diharapkan


Menurut Luverne & Barbara, 1988, perencanaan
pemulangan Klien membutuhkan identifikasi
kebutuhan spesifik klien. Kelompok perawat
berfokus pada kebutuhan rencana pengajaran yang
baik untuk persiapan pulang klien, yang disingkat
dengan METHOD, yaitu :
- Medication (obat)
Klien sebaiknya mengetahui obat yang harus
dilanjutkan setelah pulang.
- Environment (Lingkungan)
Lingkungan tempat klien akan pulang dari
rumah sakit sebaiknya aman. Klien juga
sebaiknya memiliki fasilitas pelayanan yang
dibutuhkan untuk kontinuitas perawatannya.
- Treatrment (pengobatan)
Perawat harus memastikan bahwa pengobatan
dapat berlanjut setelah klien pulang, yang
dilakukan oleh klien atau anggota keluarga.
Jika hal ini tidak memungkinkan, perencanaan
harus dibuat sehingga seseorang dapat
berkunjung ke rumah untuk memberikan
keterampilan perawatan.
- Health Teaching (pengajaran kesehatan)
Klien yang akan pulang sebaiknya diberitahu
bagaimana mempertahankan kesehatan.
Termasuk tanda dan gejala yang
mengindikasikan kebutuhan pearwatan
kesehatan tambahan.
- Outpatient referral (Penyerahan Klien Luar/
Bukan Kelolaan)
148

Klien sebaiknya mengenal pelayanan dari


rumah sakit atau agen komunitas lain yang
dapat meningkatan perawatan yang kontinu.
- Diet
Klien sebaiknya diberitahu tentang pembatasan
pada dietnya. Ia sebaiknya mampu memilih
diet yang sesuai untuk dirinya.
d) Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan rencana
pengajaran dan referral. Seluruh pengajaran yang
diberikan harus didokumentasikan pada catatan
perawat dan ringkasan pulang (Discharge
summary). Instruksi tertulis diberikan kepada klien.
Demonstrasi ulang menjadi harus memuaskan.
Klien dan pemberi perawatan harus memiliki
keterbukaan dan melakukannya dengan alat yang
akan digunakan di rumah.

Penyerahan home care dibuat sebelum klien pulang.


Informasi tentang klien dan perawatannya diberikan
kepada agen tersebut. Seperti informasi tentang
jenis pembedahan, pengobatan (termasuk
kebutuhan terapi cairan IV di rumah), status fisik
dan mental klien, factor social yang penting
(misalnya kurangnya pemberi perawatan, atau tidak
ada pemberi perawatan) dan kebutuhan yang
diharapkan oleh klien. Transportasi harus tersedia
pada saat ini.

e) Evaluasi
Evaluasi terhadap discharge planning adalah
penting dalam membuat kerja proses discharge
planning. Perencanaan dan penyerahan harus diteliti
dengan cermat untuk menjamin kualitas dan
pelayanan yang sesuai. Evaluasi berjalan terus-
149

menerus dan membutuhkan revisi dan juga


perubahan.

Evaluasi lanjut dari proses pemulangan biasanya


dilakukan seminggu setelah klien berada di rumah.
Ini dapat dilakukan melalui telepon, kuisioner atau
kunjungan rumah (home visite).

Keberhasilan program rencana pemulangan


tergantung pada enam variabel :
- Derajat penyakit
- Hasil yang diharapkan dari perawatan
- Durasi perawatan yang dibutuhkan
- Jenis-jenis pelayanan yang diperlukan
- Komplikasi tambahan
- Ketersediaan sumber-sumber

Pada saat pengkajian tanggal 30-31 Oktober 2017, 1 orang


klien dilakukan discharge planning dari hasil observasi dan
wawancara yang dilakukan pada perawat jaga di ruangan
intensif tertanggal 31 Oktober 2017 didapatkan bahwa
discharge planning yang diberikan perawat hanya berupa
nasehat mengenai dosis penggunaan obat, dan sedikit
mengenai penyakit klien yang diinformasikan kepada keluarga.
Discharge planning dilakukan kepada klien yang akan
dipindahkan ke ruang perawatan. Dalam format baku yang
terdapat pada status klien biasanya berupa keadaan umum dan
tindakan yang akan dilanjutkan oleh ruangan.

3.2.5.6 Dokumentasi keperawatan


Sistem yang berlaku saat ini adalah SOR (Source Oriented
Record) yaitu sistem pendokumentasian yang berorientasi
kepada 5 komponen (lembar pengisian biodata klien, lembar
riwayat medis, lembar order dokter, laporan laboratorium,
catatan keperawatan). Selama ini catatan keperawatan berisi :
pengkajian klien awal masuk dan diagnosis keperawatan berisi
150

problem, catatan perkembangan setiap shift. Pengkajian pada


klien dilakukan hanya diawal klien masuk selanjutnya
disesuaikan dengan masalah yang muncul pada klien. Hal
lainnya meliputi :

a) Tersedianya sarana dan prasarana (administrasi penunjang)


b) Sudah ada sistem pendokumentasian terintegrasi
c) Dokumentasi keperawatan yang dilakukan meliputi
pengkajian menggunakan sistem Head to Toe serta
diagnosis keperawatan sampai dengan evaluasi dengan
menggunakan SOAP
d) Format pengkajian sudah ada dan dapat memudahkan
perawat dalam pengkajian dan pengisiannya
e) Kebanyakan/hampir semua perawat mengerti cara
pengisian format dokumentasi yang digunakan dengan
benar dan tepat
f) Perawat melakukan dokumentasi segera setelah melakukan
tindakan.

3.2.5.7 Sentralisasi obat


Hasil observasi pada 30-31 Oktober 2017, obat-obatan
sepenuhnya dikelola oleh farmasis khusus di ruang intensif,
sehingga obat-obatan selalu disiapkan oleh farmasis saat pagi
hari. Kemudian dimandatkan ke perawat untuk diletakkkan ke
ruang obat dan digunakan sesuai advice.

3.2.6 Mutu /Pemasaran (Marketing)


Rumah Sakit Umum Daerah Ulin adalah rumah sakit kelas A yang
berada di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan RSUD Ulin
Banjarmasin adalah rumah sakit terbesar di Kalimantan Selatan yang
memiliki akreditasi paripurna yang juga merupakan rumah sakit
pendidikan dan satu-satunya rumah sakit rujukan di Kalimantan Selatan.
Rumah Sakit Ulin Banjarmasin memiliki prestasi beberapa penghargaan
diantara lain :
1.1.5.1 Predikat sangat baik akuntabiltas kinerja pada tahun 2016
1.1.5.2 Lulus akreditasi paripurna pada tahun 2016
1.1.5.3 Terbaik 1 Expo pekan pelayanan publik tahun 2016
151

1.1.5.4 TOP 99 inovasi pelayanan publik tingkat nasional tahun 2016


1.1.5.5 Terbaik 2 pameran tingkat nasional inovasi pelayanan publik
tahun 2016
1.1.5.6 The Best Champion Of Banjarmasin Wow Service
ExellenceAward 2016
1.1.5.7 Batan pioneer of of the year 2016
1.1.5.8 Terbaik 2 kelompok BUMN BUMD SWASTA dan ORMAS
lainnya dalam pameran Expo Kalsel 2016
1.1.5.9 Terbaik 2 kelompok BUMN BUMD SWASTA dan ORMAS
lainnya dalam pameran Expo Kalsel 2014
1.1.5.10 Terbaik 2 kelompok BUMN BUMD SWASTA dan ORMAS
lainnya dalam pameran Expo Kalsel 2013
1.1.5.11 Piala citra pelayanan prima tahun 2012
1.1.5.12 Peningkatan kelas RSUD Ulin Banjarmasin menjadi kelas A
tahun 2012
1.1.5.13 Indonesian Hospital Manjemen Award 2012
1.1.5.14 Ponex pelayanan obsetri neonatal emergency conferhensif
2012
1.1.5.15 Poster terbaik 1 dalam conferensi kesehatan rumah sakit ke 1
tahun 2012
1.1.5.16 Terbaik 2 kelompok BUMN, BUMND, SWASTA,
PERBANKAN, dan ORMAS lainnya dalam pameran EXPO
Kalsel 2012
1.1.5.17 Terbaik 1 kelompok BUMN, BUMD, SWASTA,
PERBANKAN, dan ORMAS lainnya dalam pameran Expo
Kalsel 2011
1.1.5.18 Terbaik 1 kelompok Dinas atau Badan pemerintah Provinsi
pameran EXPO Kalsel 2009
1.1.5.19 Terbaik 1 kelompok BUMN, BUMD, SWASTA, dan ORMAS
lainnya dalam pameran EXPO Kalsel 2008
RSUD Ulin Banjarmasin memiliki Ruang Intensif dimana didalam
ruangan tersebut terdiri dari beberapa ruangan yaitu ICU, PICU, dan
ICCU. Dimana suatu keunggulan Ruangan Intensif yaitu mengurangi
angka kematian pasien kritis, didukung dengan dilakukan perawatan
oleh tim profesional. Ruang ICU RSUD Ulin Banjarmasin telah
152

melakukan perbaikan di berbagai aspek yaitu dari perbaikan bangunan,


fasilitas dan peningkatan mutu sumber daya manusia dan soft skill.

3.3 Proses
3.3.1 Fungsi Perencanaan (Planning)
3.3.1.1 Visi, misi dan tujuan rumah sakit
a. Visi
Terwujudnya pelayanan rumah sakit yang professional dan
mampu bersaing di Masyarakat Ekonomi ASEAN.
b. Misi
1) Menyelenggarakan pelayanan terakreditasi paripurna
yang berorientasi pada kebutuhan dan keselamatan
pasien, bermutu, serta terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat.
2) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, penelitian
dan pengembangan sub spesialis sesuai kebutuhan
pelayanan kesehatan, kemajuan ilmu pengetahuan dan
penapisan teknologi kedokteran.
3) Menyelenggarakan manajemen rumah sakit dengan
kaidahbisnis yamg sehat, terbuka, efisien, efektif,
153

akuntabel sesuai dengan perundang-undangan yang


berlaku.
4) Menyiapkan sumber daya manusia, sarana dan
prasarana dan peralatannya untuk mampu bersaing
dalam era pasar bebas ASEAN.
5) Mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia
sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan kemampuan
rumah sakit.
c. Motto
“Keselamatan pasien kami utamakan”
3.3.1.2 Visi, misi dan tujuan ruangan perawatan
a. Visi
Terwujudnya asuhan keperawatan yang prima untuk selaras
dengan pelayanan RSUD Ulin terbaik di Kalimantan.
b. Misi
1) Memfasilitasi dan meningkatkan profesonalisme
keperawatan
2) Meningkatkan mutu asuhan keperawatan dengan
pedoman ilmu, kode etik keperawatan serta UU
kesehatan yang berlaku.
3) Membentuk tenaga keperawatan yang memiliki
komitmen yang tinggi
4) Standarisasi alat sarana keperawatan.
c. Tujuan
Meningkatkan derajat kesehatan dengan tidak membedakan
suku, bangsa, agama dan statusnya disetiap pelayanan yang
dicapai melalui usaha bersama bagi semua anggota tim
kesehatan, pasien dan keluarga

Wawancara :
Berdasarkan wawancara tanggal 30 oktober 2017 dengan
kepala ruangan visi dan misi ruang intensif sudah ditetapkan
sebelumnya. Pembuatan visi dan misi ruangan menyesuaikan
dengan visi dan misi Rumah Sakit.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30 Oktober 2017,
diruang intensif visi dan misi ruangan belum ada terpampang
di dinding ruangan yang dapat terbaca dengan mudah oleh
semua orang yang melewatinya, dikarenakan ruangan intensif
baru saja selesai direnovasi.
Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner pada 36 orang perawat sebagai
sampel didapatkan bahwa perawat selalu (63,9%) dan sering
154

(27,8%) melaksanakan tugas menyesuaikan dengan visi dan


misi rumah sakit.
Masalah : belum adanya perumusan visi dan misi ruangan.

3.3.1.3 SOP dan SAK


Wawancara :
Berdasarkan hasil wawancara kepada Kepala Ruang intensif
pada tanggal 30 oktober 2017 ruang intensif sudah mempunyai
SOP dan SAK.

Observasi :
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 30-31
Oktober 2017, Ruang intensif mempunyai SOP dan SAK
sebagai berikut :
Standar Operasional Prosedur (SOP) di ruang Perawatan
Intensif (ICU) RSUD Ulin Banjarmasin :
a. SOP terapi oksigen
b. SOP menyiapkan pasien untuk tindakan intubasi
c. SOP tindakan intermitten positive pressure breathing
(IPPB)
d. SOP menghisap sekresi
e. SOP fisioterapi dada
f. SOP tindakan humidifikasi
g. SOP mengukur tidal volume
h. SOP memantau saturasi oksigen (SaO2) dalam darah
i. SOP memantau tekanan parsial karbondioksida dalam
darah (PaCO2)
j. SOP mengambil darah untuk pemeriksaan analisa gas darah
k. SOP melakukan resusitasi jantung paru (RJP)
l. SOP menyiapkan pasien dan alat untuk tindakan defribilasi
dan kardioversi dengan menggunakan DC shock
m. SOP melakukan pemantauan CVP
n. SOP memantau hemodinamik secara invasif
o. SOP menilai tingkat kesadaran menggunakan Glaslow
Coma Scale (GCS)

Standar Asuhan Keperawat (SAK) di ruang Perawatan Intensif


(ICU) RSUD Ulin Banjarmasin :
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif
b. Pola nafas tidak efektif
c. Gangguan pertukaran gas
d. Penurunan curah jantung
e. Volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan
f. Gangguan perfusi jaringan perifer
g. Gangguan perfusi jaringan otak
h. Nyeri dada
i. Gangguan suhu tubuh : hipertermi
j. SAK Gangguan suhu tubuh : Hipertermi
155

k. SAK Gangguan suhu tubuh : Hipotermi


Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan kepada 36 orang
perawat yang bekerja di ruang intensif sebagai sampel di
dapatkan bahwa selalu (61,1%) melaksanakan tindakan
keperawatan sesuai dengan SOP yang berlaku, sering sebesar
(33,3%), kadang sebesar (5,6%).

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan selalu (61,1%) dan


sering (36,1%) berpedoman pada Standart Asuhan
Keperawatan (SAK).
Masalah : -

3.3.1.4 Standar kinerja


Wawancara :
Menurut wawancara pada tanggal 30 Oktober 2017 kepada
Kepala Ruangan di ruang intensif memiliki kebijakan yang
ditentukan oleh rumah sakit dan ditentukan oleh kesepakatan
ruangan dalam pembentukannya. Semua individu yang terlibat
didalam harus mengikuti peraturan yang berlaku.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada 30-31
Oktober 2017 ruang intensif sendiri mempunyai kebijakan
seperti peraturan yang sudah di tetapkan oleh rumah sakit,
misalnya seperti pengaturan jam kerja, pengaturan penggunaan
pakaian dinas harian.
Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan kepada 36 orang
perawat sebagai sampel didapatkan bahwa mereka selalu
(55,6%) dan sering (38,9%) bekerja berdasarkan peraturan
yang ada dirumah sakit, selalu (50,0%) dan sering (47,2%)
berusaha konsisten dalam bekerja dengan mengikuti standart di
rumah sakit.
Masalah : -

3.3.2 Fungsi Pengorganisasian (Organizing)


3.3.2.1 Struktur organisasi
Wawancara :
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang intensif
pada tanggal 30 oktober, struktur organisasi ruangan sudah
ada. Penunjukan kepala Ruang dilakukan oleh pihak
Manajemen RSUD Ulin Banjarmasin.
156

Observasi :
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 30-31
Oktober 2017 didapatkan sudah ada Struktur Organisasi di
Ruang intensif secara tertulis.

Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner dari 36 orang perawat sebagai
sampel, sebagian besar perawat sebesar (41%) selalu
memahami struktur organiasi yang ada diruangan dan sering
sebesar (52,8%).
Masalah : -

3.3.2.2 Uraian tugas


Wawancara :
Berdasarkan wawancara kepada Kepala Ruang intensif tanggal
30 oktober 2017 dengan kepala ruangan metode pembagian
tugas perawat pelaksana di ruangan ini ialah dengan metode
penugasan tim dimana diruang perawatan ini dibagi menjadi
lima tim, namun pasien dibagi secara seimbang antara tim
lainnya menyesuaikan jumlah pasien yang di rawat.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30-31 Oktober 2017,
perawat ruangan dibagi menjadi 5 tim. Satu tim dipimpin oleh
ketua tim yang akan mengkordinir anggotanya dalam
memberikan asuhan keperawatan. Sudah terdapat tugas, peran
dan wewenang yang jelas pada setiap anggota tim. Ketua tim
sebagai perawat profesional sudah mampu menerapkan
kepemimpinannya seperti sudah melakukan pembuatan
157

perencanaan, penugasan, supervisi dan evaluasi. Ketua tim


juga sudah mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai
tingkat kebutuhan pasien. Begitu juga dengan anggota tim
sudah melakukan dan telah memberikan laporan dengan baik.
Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner yang didapat sebagian besar
perawat sebesar (44,4%) menyatakan selalu bekerja sesuai
dengan uraian tugas masing-masing. Namun juga didapatkan
bahwa sering (52,8%) para perawat yang bekerja di ruang
intensive melakukan tugas/pekerjaan yang seharusnya
dilakukan oleh unit lain.
Masalah : Belum adanya job desciption sebagai acuan batas
dan wewenang tugas masing-masing di ruangan

3.3.2.3 Pengaturan pengorganisasian pasien


Wawancara :
Berdasarkan wawancara tanggal 30 oktober 2017, pengaturan
pengorganisasian pasien berdasarkan jumlah pasien yang harus
seimbang antar tim, namun tetap mempertimbangkan keahlian
pelatihan perawat yang terdapat dalam tim tersebut.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30-31 Oktober 2017
bahwa pengaturan pengorganisasian perawatan pasien
dilakukan sudah baik, di bagi berdasarkan jumlah pasien
kelolaan antar Tim. Kamar-kamar bagi pasien sudah diatur
seperti pengklasifikasian kamar antara ICU, ICCI dan PICU
serta adanya kamar khusus untuk pasien dengan kasus kasus
atau diagnosa seperti penyakit menular, pasien dengan resiko
infeksi tinggi seperti luka bakar dan lain-lain.
Kuesioner :
Persepsi perawat ruang sudah cukup baik sebesar 50%
menyatakan sudah memakai sistem asuhan keperawatan
metode SP2KP moduler dalam bekerja.

3.3.2.4 Pengorganisasian perawatan klien

3.3.3 Fungsi Pengaturan Staf (Staffing)


Rekapitulasi tenaga kerja di ruang perawatan ini :
Tabel 1.5 Berdasarkan jenis dan tingkat pendidikan
No Jenis Tenaga PNS TKK Jumlah %
1 Medis
158

2 Keperawatan
a. Magister Keperawatan (S2) 1 0 1
b. Perawat Profesional (Ners) 9 8 17
c. Perawat Profesional (S.Kep) 1 1 2
d. Perawat Mahir (DIII-SKM) 0 0 0
e. Perawat Mahir (DIII) 15 14 29
f. Perawat Kesehatan (SPK-SKM) 0 0 0
g. Perawat Kesehatan (SPK) 0 0 0
h. Bidan 0 0 0
i. Perawat Gigi 0 0 0
3 Administrasi 1 0 1
4 Prakarya 0 1 1
5 Loper 0 1 1
Total 27 25 52

Tabel 1.6 Berdasarkan pelatihan yang diikuti


No Jenis Pelatihan Jumlah
1 BTCLS 36
2 ICU dasar 14
3 Advanced mechanical ventilator 2
4 ACLS 2
5 In house training 1
6 Kardiovaskuler dasar 2
7 Perawatan pasien sepsis 1
8 Keperawatan anak kritis 1
9 Penanganan gawatdarurat jantung 1
10. Pelatihan EKG 1

3.3.3.1 Orientasi staf perawat yang baru


Wawancara :
Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 30
oktober 2017 oleh kepala ruangan di ruang intensif dalam
melakukan orientasi pada perawat baru yaitu dengan
membekalinya dengan teori serta keahlian dalam konteks
keperawatan intensif.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30-31 Oktober 2017,
orientasi untuk perawat baru di intensif dilakukan dengan
melibatkan langsung dalam proses asuhan keperawatan.
Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner di dapatkan bahwa sebagian besar
(75,0%) perawat, pada awal bekerja mengkitui proses orientasi
ruangan.
Masalah : -
159

3.3.3.2 Pengaturan jadwal dinas


Wawancara :
Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 30
Oktober 2017, dalam pengaturan jadwal dinas diruangan
dengan melihat jumlah tenaga kerja yang tersedia dalam
sebuah tim.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30-31 oktober 2017
pengaturan jadwal dinas sudah sesuai, dengan pembagian tim
dalam setiap jadwal dinas yang dilakukan dengan musyawarah
dan fleksibel.
Kuesioner :
Persepsi perawat tentang jadwal dinas di ruangan dilakukan
dengan musyawarah dan fleksibel yang menjawab sering
sebesar (13,9%) dan perhitungan kebutuhan tenaga yang
kadang digunakan sesuai standar (33,3%)
Masalah :
Penjadwalan belum menggunakan tingkat ketergantungan
pasien.

3.3.3.3 Perhitungan kebutuhan tenaga di ruangan


Dari jumlah perawat yang terdapat diruang ICU masih belum
mencukupi atau memenuhi syarat sesuai dengan standar
pelayanan, berdasarkan jumlah perawat yang ada diruang ICU
RSUD Ulin Banjarmasin terdapat 49 orang.

Sedangkan setiap 1 pasien yang menggunakan alat ventilator


harus ditanggung jawabi oleh 1 orang perawat (1:1), dan
apabila 2 pasien yang tidak menggunakan alat ventilator harus
ditanggung jawabi oleh 1 orang perawat (2:1).

Ruang ICU harus memiliki jumlah perawat yang cukup dan


harus terlatih. Jumlah perawat pada ICU ditentukan
berdasarkan jumlah tempat tidur dan ketersedian ventilasi
mekanik. Perbandingan perawat : pasien yang menggunakan
ventilasi mekanik adalah 1: 1, sedangkan perbandingan
perawat : pasien yang tidak menggunakan ventilasi mekanik
adalah 1: 2 (Sumber ; Kemenkes RI,
No1778/Menkes/Sk/XII/2010).
160

Rasio perawatan pasien tergantung kompleksitas kondisi


pasien (1:1, 1:2, 1:3, atau 2:1) (Sumber ; Managemen Of
Intensive Care. Guidelines for Better Use of Resources. 2000).

Contoh kasus :
Seandainya dalam setiap shif juga terdapat 1 pasien
berventilator maka 7 perawat sisanya memegang 23 bed,
idealnya 7 perawat memegang 14 bed, jadi penambahan
perawat dalam setiap shif adalah 4 orang untuk memegang 9
bed yang tersisa.

Jadi, untuk penambahan tenaga yang ideal untuk 1 tim adalah 4


orang tenaga perawat. Karena diruang intensif ada 5 tim maka
total tenaga perawat yang dibutuhkan adalah sebanyak 20
orang perawat.

3.3.4 Fungsi Pengarahan (Actuating)


3.3.4.1 Timbang terima (Hand Over)
Wawancara :
Berdasarkan hasil wawancara tanggal 30-31 Oktober 2017
timbang terima dilakukan pada pergantian shift dinas malam ke
dinas pagi yang dipimpin oleh kepala ruangan beserta
supervisor dengan metode SBAR, sedangkan pergantian shift
dari pagi ke sore dipimpin oleh ketua tim. Kemudian untuk
timbang terima pada pergantian dinas sore ke dinas malam
dilakukan oleh ketua tim yang berdinas.

Timbang terima pada shift dinas malam ke dinas pagi


dilakukan di Nurse station, kemudian dilakukan dengan
melihat langsung kondisi pasien, selanjutnya kembali ke Nurse
Station kembali ke nurse station untuk mendiskusikan hasil
validasi data atau terkait hal-hal yang hendak di klasrifiakasi
ulang secara langsung.

Pada timbang terima validasi data berupa perawat


menyebutkan identitas pasien, perawat menyebutkan diagnosa
medis, perawat menyebutkan data objektif, perawat
menyebutkan data penunjang lain, perawat menyebutkan
161

tindakan keperawatan yang dilaksanakan, perawat


menyebutkan intervensi kolaboratif dan juga menyebutkan
persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya
sebesar, perawat yang memimpin timbang terima menyebutkan
rencana kerja bagi shift berikutnya mendokumentasikan
pelaksanaan timbang terima di buku laporan oleh ketua tim.

Observasi :
Hasil observasi tanggal 30-31 Oktober 2017, timbang terima
diruang intensif sudah baik, dilakukan setiap pergantian shift
malam ke pagi (pukul jam 08.00 wita) yang di ikuti oleh dinas
malam dan dinas pagi serta mahasiswa yang bertugas diruang
intensif. Beberapa kelebihan pelaksanaan timbang terima di
ruang intensif adalah timbang terima dipimpin langsung oleh
kepala ruangan ataupun supervisor. Isi timbang terima sudah
meliputi S-BAR, meliputi nama dan ruang pasien, diagnose
medis dan kondisi pasien. Untuk masalah keperawatan,
intervensi yang telah dan belum dilakukan sudah dilaporkan
secara detail.
Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan kepada 36 orang
perawat Ruang Intensive sebagai sampel didapatkan sebagian
besar menjawab kadang (40%)
Masalah : Pelaksanaan timbang terima antar shift dinas masih
belum optimal

3.3.4.2 Pre conferen


Wawancara :
Berdasarakan wawancara pada tanggal 30-31 Oktober 2017
pre conference sudah dilakukan dengan baik, namun tidak
terlalu mendalam.
Observasi :
162

Berdasarkan hasil observasi, kepala ruangan dan perawat


melakukan pre conferen mengenai kondisi pasien yang ada di
ruang intensif, namun masih belum mendalam.
Kuesioner :
Hasil kuesioner yang menunjukkan sebagian besar perawat
(50%) menyatakan sering ada kegiatan pre konferen dilakukan
oleh ketua tim untuk menjelaskan pekerjaan yang akan
dilanjutkan.
Masalah : pre conference belum berjalan optimal

3.3.4.3 Postconferen
Wawancara :
Berdasarakan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal
30-31 oktober Post conference sudah dilakukan dengan baik,
namun belum dilakukan secara mendalam.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 30-31
Oktober 2017, didapatkan bahwa post conference sudah
dilakukan namun tidak secara mendalam.
Kuesioner : Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan bahwa
bahwa post konferen sering dilakukan (55,6%) dan kadang-
kadang dilakukan (25%)
Masalah : post konferen belum dilakukan secara optimal

3.3.4.4 Motivasi
Berdasarkan wawancara pada tanggal 30-31 oktober 2017
motivasi kepada perawat sudah dilakukan dalam bentuk lisan
dan pelatihan. Peningkatan motivasi sebenarnya sudah
dilakukan oleh rumah sakit baik secara langsung maupun tidak
langsung. Misalnya, diklat secara rutin mengadakan pelatihan
dan pembinaan.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30-31 Oktober 2017,
didapatkan bahwa motivasi selalu dilakukan oleh kepala
ruangan, supervisor dan ketua tim.
163

Kuesioner :
Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebesar (50,%) kinerja
perawat kadang-kadang dilakukan evaluasi oleh ketua tim dan
perawat pelaksana.
Masalah : -

3.3.4.5 Pendelegasian
Wawancara :
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal
31 Oktober 2017 pendelegasian dari kepala ruangan kepada
staf di ruang intensive hanya secara lisan dan tidak tertulis.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30 – 31 November
2017, format pendelegasian secara khusus belum ada.
Kuesioner : -
Masalah : -

3.3.4.6 Supervisi
Wawancara :
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang intensif
pada tanggal 30-31 Oktober 2017, di ruang intensif sudah ada
supervisor yang melakukan kegiatan supervisi yang dilakukan
langsung oleh Kepala Ruangan, supervisor ICU, supervisor
ICCU dan supervisor PICU.
Observasi :
Dari hasil obsevasi yang dilakukan mahasiswa didapatkan
bahwa supervisi ruangan dilakukan setiap hari oleh kepala
ruangan dan supervisor ICU, ICCU dan PICU yang dimana
supervise setiap dilakukan oleh kepala ruangan langsung ke
ketua tim atau pun perawat asosiatif yang berdinas dan telah
dilakukan pencatatannya.
Kuesioner :
Hasil kuesioner menunjkkan bahwa sebesar (66,7%) perawat
mengatakan kegiatan supervisi sering dilakukan
Masalah : -
164

3.3.4.7 Ronde keperawatan


Wawancara :
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan pada
tanggal 30-31 oktober 2017, pelaksanaan ronde keperawatan
sudah dilakukan namun belum bisa secara maksimal.

Observasi :
Hasil observasi tanggal 30-31 Oktober 2017, dilakukan
timbang terima antara kepala ruangan, supervisor dengan
perawat jaga setiap pagi, namun belum tampak diskusi kasus
secara mendalam terkadang dilakukan bersamaan dengan
jadwal dokter visite. Selain itu, diruangan jarang melaksanakan
ronde keperawatan.
Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner sebesar (44,%) perawat
mengatakan kegiatan ronde keperawatan sering dilakukan di
Ruang Intensive
Masalah : Ronde keperawatan masih belum optimal dilakukan

3.3.5 Fungsi Pengendalian (Controlling)


3.3.5.1 Indikator mutu
Wawancara :
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal
30-31 oktober 2017, menurut kepala ruang intensif, sudah ada
tim pengendalian mutu dari rumah sakit. Menurut Kepala
ruang, indikator mutu seperti data pasien infeksi nosokomial,
kejadian dekubitus dan kejadian jatuh sudah ada pelaporannya
kepada tim pengendali mutu.
Obsevasi :
Berdasarkan hasil observasi, observer belum mendapatkan
sistem pelaporan dan pencacatan kegiatan pengendalian mutu,
format pengendalian diruangan serta struktur.
Kuesioner :
Berdasarkan hasil kuesioner yang di dapatkan dari 36 orang
perawat sebagai sampel di dapatkan bahwa pengendalian mutu
selalu dilakukan (8,3%).
Masalah : sistem pengendalian mutu masih belum optimal

3.3.5.2 Audit dokumentasi keperawatan


165

Wawancara :
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal
30 Oktober 2017, menurut kepala ruang intensif sudah ada tim
audit dokumentasi keperawatan.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30-31 Oktober 2017,
didapatkan bahwa dokumentasi keperawatan di ruang intensif
meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan,
intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan sudah
tercatat.
Kuesiner : -
Masalah : -

3.3.5.3 Survei kepuasan pasien


Wawancara :
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan pada
tanggal 31 Oktober 2017 menurut kepala ruang intensive
survey kepuasan pasien direkapitulasi setiap 1 tahun sekali
oleh bidang pelayanan.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 30 –
31 Oktober 2017, survei kepuasan pasien belum dilakukan di
ruang Intensive.
Kuesioner :
Survey kepuasaan berdasarkan tingkat kepuasan pasien dengan
pelaksanan evaluasi menggunakan kuesioner yang berisi 20
soal berbentuk pertanyaan pilihan. Pertanyaan pilihan
mencakup pemberian penjelasan setiap prosedur tindakan, dan
sikap perawat selama memberikan asuhan keperawatan.

Dari hasil kuesioner tentang kepuasan pasien terhadap


pelayanan perawat yang dibagikan kepada 17 responden secara
umum menyatakan bahwa kepuasan pasien berdasarkan 5
karakteristik (RATER) menurut Leonard L. Barry dan
pasuranan “Marketing Service Competin Through Quality”
yang digunakan oleh pelanggan dalam menggevalusi qualitas
jasa layanan antara lain, yaitu 1) reliability (keandalan),
kemampuan untuk memberikan jasa sesuai dengan yang
dijanjikan, terpercaya, akurat dan konsisten, 2) assurance
(jaminan), yaitu berupa kemampuan karyawan untuk
menimbulkan keyakinan dan kepercayaan terhadap janji yang
166

telah dikemukakan kepada konsumen, 3) Tangible (kenyataan),


yaitu berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan materi
komunikasi yang menarik, 4) empathi (empati), kesedihan
karyawan dan pengusaha untuk memberikan perhatian secara
pribadi kepada konsumen, 4) Responsivenes (tanggung jawab)
kemampuan dari karyawan dan pengusaha untuk membantu
pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat serta mendengar
dan mengatasi keluhan dari konsumen.

3.3.5.4 Rekapitulasi komplain pasien


Wawancara :
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan pada tanggal
31 Oktober 2017, rumah sakit sudah memiliki tim untuk
rekapitulasi tentang pelayanan di rumah sakit, pada ruang
intensive belum memiliki rekapitulasi komplain pasien,
menurut kepala ruangan, rekapitulasi komplain pasien
dilakukan 1 kali setahun sekali.
Observasi :
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 30 – 31 November
2017, didapatkan bahwa rekapitulasi komplain pasien belum
ada .
Kuesioner : -
Masalah : belum adanya rekapitulasi komplain pasien dan
format komplain pasien sebagai evaluasi pelayanan terhadap
pasien.

3.4 Output
3.4.1 Indikator pelayanan efisiensi ruangan
3.4.1.1 BOR Ruang Intensif ( ICU, ICCU, PICU)
167

BOR adalah presentasi pemakaian tempat tidur pada satuan


waktu tertentu. Nilai parameter BOR yang ideal adalah 60-85%
(DepKes, 2005).

Keterangan :
TT = Tempat Tidur (ICU/ICCU/PICU = 21 TT)
BOR = Bed Occupancy Rate

BOR selama 3 bulan Juli, Agustus, September 2017 :

a. BOR ruang ICU


BOR ICU selama 3 bulan Juli, Agustus, September 2017 :

b. BOR ruang ICCU


BOR ICCU selama 3 bulan Juli, Agustus, September 2017 :

c. BOR ruang PICU


BOR PICU selama 3 bulan Juli, Agustus, September 2017 :
168

3.4.1.2 AVLOS (rata-rata lama pasien dirawat)


AVLOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup
+ mati)
a. AVLOS ICU Juli, Agustus, September :
= 1061/(214) = 4.95 Hari
b. AVLOS ICCU Juli, Agustus, September :
= 271/(114) = 2.37 Hari
c. AVLOS PICU Juli, Agustus, September :
= 342/(68) = 5.2 Hari

3.4.1.3 TOI
TOI adalah rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari telah
diisi ke saat terisi berikutnya.

TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) /


Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

TOI bulan Juli, Agustus dan September 2017 di ruang intensif :


a. Ruang ICU :
= (11 x 63) – 1061/214
= 1,7 hari
b. Ruang ICCU
= (4 x 63) – 271/214
= 0,08 hari
c. Ruang PICU
= (6 x 63) – 342/214)
= 0,16 hari

3.4.1.4 BTO (Angka perputaran tempat tidur)


169

BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat


tidur

a. BTO ICU Juli, Agustus, September :


= 214/11 = 19.45 kali
b. BTO ICCU Juli, Agustus, September :
= 114/4 = 8.1 kali
c. BTO PICU Juli, Agustus, September :
= 68/6 = 11.3 kali

3.4.1.5 NDR ( Net Death Rate)


Menurut DepKes RI tahun 2005 angka kematian 48 jam
setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar.

NDR = (Jumlah pasien mati > 48 jam / Jumlah pasien keluar


(hidup + mati)) X 1000 permil

a. NDR ICU Juli, Agustus, September :


= ((17+15+9)/214) x 1000 permil
= 191
b. NDR ICCU Juli, Agustus, September :
= ((1+2+4)/214 x 1000 permil
= 33
c. NDR PICU Juli, Agustus, September :
= ((6+4+3)/214 x 1000 permil
= 61

3.4.1.6 GDR (Gross Death Rate )


Menurut DepKes RI tahun 2005 angka kematian umum untuk
setiap 1000 penderita keluar.

GDR = ( Jumlah pasien mati seluruhnya / Jumlah pasien keluar


(hidup + mati)) X 1000 permil

d. GDR ICU Juli, Agustus, September :


= (25+27+23)/214)x1000 permil
170

= 350
e. GDR ICCU Juli, Agustus, September :
= (3+8+10)/114)x1000 permil
= 184
f. GDR PICU Juli, Agustus, September :
= (11+8+10)/68)x1000 permil
= 426

3.4.2 Hasil Evaluasi penerapan SAK (Instrumen ABC)


3.4.2.1 Instrumen A
Tabel 3.9 Dokumentasi keperawatan di ruang ICU
Item Penilaian
Status Presentase
No. Diagnosa
Ruang ICU Pengkajian Perencanaan Implementasi Evaluasi (%)
Keperawatan
1. Ny.Rusnani √ √ √ √ √

2. Tn.Aliansyah √ √ √ √ √

3. Ny.Norsinah √ √ √ √ √

4. Ny.Kusrini √ √ √ √ √
5. Ny.Halimatus Sadiah √ √ √ √ √

6. Tn.Maidani √ √ √ √ √
7. Ny.Rusiah √ √ √ √ √
8. Tn.A.Muzakir √ √ √ √ √

9. Tn.Abu Bakar √ √ √ √ √

10. Ny.Hj.Karmani √ √ √ √ √

11. Tn.Muhammad √ √ √ √ √

12. Ny.Salabiah √ √ √ √ √

13. Tn.Abdullah √ √ √ √ √
Jumlah: 13 Pasien
Presentase (%)

Tabel 3.10 Dokumentasi keperawatan di ruang ICCU


No. Status Item Penilaian
171

Diagnosa Presentase
Ruang ICCU Pengkajian Perencanaan Implementasi Evaluasi
Keperawatan (%)
1. Tn.Salihin √ √ √ √ √

2. Tn.Mawardi √ √ √ √ √

3. Tn.Sarkani √ √ √ √ √

4. Tn.Kusrawa √ √ √ √ √

5. Ny.Aminah √ √ √ √ √
Jumlah: 5 Pasien

Presentase (%)

Tabel 3.11 Dokumentasi keperawatan di ruang ICU


Item Penilaian
Status Presentase
No. Diagnosa
Ruang PICU Pengkajian Perencanaan Implementasi Evaluasi (%)
Keperawatan
1. An.Irfani √ √ √ √ √
2. An.Syarifah Mutiara √ √ √ √ √
3. An.Faisal √ √ √ √ √
4. An.Notharia Reva √ √ √ √ √
5. An.Annas Mustaqim √ √ √ √ √
6. An.Risti Nurmahila √ √ √ √ √
Jumlah: 6 Pasien
Presentase (%)

3.2.4.2 Instrumen B
Tabel 3.12 Kepuasan keluarga pasien
No. Pertanyaan Jawaban
Ya % Tidak %
1 Apakah perawat selalu memperkenalkan diri 4 23.5 13 76.5
2 Aakah perawat melarang anda/pengunjung merokok di 12 70.6 5 29.4
ruangan
3 Apakah perawat selalu menanyakan bagaimana nafsu 5 29.4 12 70.6
makan anda
4 Apakah perwat pernah menanyakan pantangan dalam 8 47.1 9 52.9
hal makanan kepada anda
5 Apakah perawat menanyakan atau memperhatikan
berapa jumlah makanan yang di habiskan pasien 7 41.2 10 58.8
habiskan
6 Apabila anda/keluarga anda tidak mampu makan 11 64.7 6 35.3
sendiri apakah perawat membantu menyuapi
7 Pada saat and/keluarga anda dipasang infuse, apakah
perawat selalu memeriksa cairan infuse/tetesannya dan 15 88.2 2 11.8
area sekita pemasangan jarum infuse
8 Apabila anda/keluarga anda mengalammi kesulitan
buang air besar apakah perawat menganjurkan makan 6 35.3 11 64.7
buah-buahan, sayuran, minum yang cukup dan banyak
bergerak
172

9 Pada saat perawat membantu ada/keluaga anda buang


air besar/buang air kecil, apakah perawat memasang 12 70.6 5 29.4
sampiran/selimut, menutup pintu/jendela.
Mempersilahkan pengunjung keluar ruangan
10 Apakah ruangan tidur anda/keluarga anda selalu dijaga 16 94.1 1 5.9
kebersihannya dengan disapu/dipel setiap hari
11 Apakah lantai kamar mandi/wc selalu bersih, tidak 13 76.5 4 23.5
licin, tidak berbau dan cukup terang
12 Selama anda/keluarga anda belum mampu mandi 9 52.9 8 47.1
dalam keadaan istirahat total apakah dimandikan oleh
perawat
13 Apakah anda/keluarga anda dibantu oleh perawat jika
tidak mampu memgosok gigi, membersihkan mulut 5 29.4 12 70.6
atau mengganti pakaian atau menyisir rambut
14 Apakah alat tenun seperti seprei, selimut diganti setiap 15 88.2 2 11.8
kotor
15 Apakah perawat memberikan penjelasan akibat dari 10 58.8 7 41.2
kurang bergerak, atau berbaring terlalu lama
16 Pada saat anda/keluarga anda masuk rumah sakit,
apakah perawat memberikan penjelasan tetang fasilitas 12 70.6 4 23.5
yang tersedia dan cara penggunaanya. Peraturan/tat
tertib yang berlaku di rumah sakit
17 Selama anda/keluarga anda dalam perawatan apakah 14 82.4 3 17.6
perawat memanggil nama dengan benar
18 Selama anda/keluarga anda dalam perawatan apakah
perawat mengawasi keadaan anda secara teratur pada 15 88.2 2 11.8
pagi sore maupun malam hari
19 Selama anda/keluarga anda dalam perawatan apakah 16 94.1 1 5.9
perawat memberi bantuan bila diperlukan.
20 Apakah perawat bersikap sopan, ramah 17 100
21 Apakah anda/keluarga anda mengetahui perawat 4 23.5 13 76.5
yang bertanggung jawab setiap kali pergantian
dinas
22 Apakah perawat selalu member penjelasan sebelum 14 82.4 3 17.6
melakukan tindakan perawatan/pengobatan
23 Apakah perawat selalu bersedia mendengarkan dan 16 94.1 1 5.9
memperhatikan setiap keluhan anda/keluarga anda
24 Dalam hal memberikan obat apakah perawat 15 88.2 2 11.8
membantu menyiapkan/meminumkan obat
25 Selama anda/keluarga anda dirawat apakah diberikan
penjelasan tentang perawatan/pengobatan/pemeriksaan 15 88.2 2 11.8
lanjutan setelah andakeluarga anda diperbolehkan
pulang
( Putra C. S 2014., Buku Ajar Keperawatan )

No. Kepuasan Keluarga pasien Persentasi (%)


1 Ya 84,6
2 Tidak 15,4
173

Dari hasil kuesioner di dapatkan yang menjawab “YA”


sebannyak 17 orang (100%) mengatakan merasa puas akan
pelayanan perawat yaitu sikap sopan dan ramah terhadap
keluarga sedangkan yang menjawab “TIDAK” sebanyak 13
(76.5%) mengatakan keluarga tidak mengetahui perawat yang
bertanggung jawab setiap kali pergantian dinas.

Menurut Putra (2014) tingginya tingkat kepuasan pasien


terhadap pelayanan kesehatan tercapai bila terpenuhinya
kebutuhan pasien atau keluarga terhadap pelayanan yang di
harapkan. Pelayanan keperawatan sebagai pemberi jasa
pelayanan kesehatan sehingga kepuasan merupakan tujuan
utama dalam memberikan pelayanan yang berkualitas.

Tabel 3.13 Kepuasan kerja perawat


ST
No Pertanyaan SP % P % CP % TP % %
P
1 Jumlah gaji yang diterima dibandingkan
pekerjaan yang saudara lakukan 4 11.1 8 22.2 13 36.1 8 22.2 3 8.3
2 Sistem pengkajiaan yang dilakukan
institusi tempat saudara bekerja 5 13.9 15 41.7 14 38.9 1 2.8 1 2.8
3 Jumlah gaji yang diterima dibandingkan
pendidikan saudara 3 8.3 12 33.3 13 36.1 5 13.9 3 8.3
4 Pemberian insentif tambahan atas suatu
prestasi atau kerja ekstra 0 0 10 27.8 14 38.9 8 22.2 4 11.1
5 Tersedianya peralatan dan perlengkapan
yang mendukung pekerjaan 5 13.9 9 25.0 17 47.2 3 8.3 2 5.6
6 Tersedianya fasilitas penunjang seperti
kamar mandi, kantin, parker 7 19.4 7 19.4 18 50.0 2 5.6 2 5.6
7 Kondisi ruangan kerja terutama berkaitan
dengan ventilasi udara, kebersihan dan 5 13.9 11 30.6 16 44.4 1 2.8 3 8.3
kebisingan
8 Adanya jaminan atas kesehatan atau
keselamatan kerja 6 16.7 12 33.3 14 38.9 0 0 4 11.1
9 Perhatian institusi rumah sakit terhadap
saudara 0 0 10 27.8 17 47.2 5 13.9 4 11.1
10 Hubungan antara karyawan dalam
kelompok kerja 8 22.2 22 61.1 6 16.7 0 0 0 0
11 Kemampuan dalam bekerja sama antar 8 22.2 21 58.3 3 8.3 0 0 0 0
karyawan

12 Sikap teman-teman sekerja terhadap 9 25.0 24 66.7 3 8.3 0 0 0 0


saudara
174

13 Kesesuaian antara pekerjaan dan latar 7 19.4 15 41.7 12 33.3 0 0 2 5.6


belakang pendidikan saudara
14 Kemampuan dalam menggunakan waktu 7 19.4 15 41.7 14 38.9 0 0 0 0
bekerja dengan penugasan yang diberikan
15 Kemampuan supervise/pengawas dalam 5 13.9 20 55.6 11 30.6 0 0 0 0
membuat keputusan
16 Perlakuan atasan selama bekerja di sini 4 11.1 18 50.0 14 38.9 0 0 0 0

17 Kebebasan dalam melakukan suatu metode 3 8.3 19 52.8 14 38.9 0 0 0 0


sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan
18 Kesempatan untuk meningkatkan 5 13.9 12 33.3 17 47.2 2 5.6 0 0
kemampuan kerja melalui pelatihan atau
pendidikan tambahan
19 Kesempatan untuk mendapatkan posisi 2 5.6 14 38.9 18 50.0 2 5.6 0 0
lebih tinggi
20 Kesempatan membuat suatu prestasi dan 2 5.6 15 41.7 18 50.0 1 2.8 0 0
mendapatkan kenaikan pangkat

Keterangan :
SP : Sangat Puas
P : Puas
CP : Cukup Puas
TP : Tidak Puas
STP : Sangat Tidak Puas

Dari hasil kuesioner kepuasan perawat di dapatkan yang


menjawab “Puas” sebanyak 24 orang (66,7%) sikap teman-
teman sekerja terhadap saudara, sedangkan yang menjawab
“Cukup puas” sebanyak 18 orang (50.0%) tersedianya
fasilitas penunjang seperti kamar mandi, kantin, parkir, dan
yang menjawab “ Tidak puas” sebanyak 4 orang (11.1%).
Pemberian intensif tambahan atas suatu prestasi atau kerja
ekstra.

Menurut Persefoni, et al (2010) kepuasaan kerja perawat


adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau positif
yang di hasilkan penilaian pekerjaan dari seseorang atau
pengalaman kerja. Kepuasan kerja perawat sangat di
butuhkan oleh perawat agar meningkatkan pelayanan
kesehatan.
175

Tabel 3.14 Fungsi-fungsi manajemen

No. Pernyataan SL % S % KK % J %

Fungsi Perencanaan
1 Dalam melaksanakan tugas, saya sesuaikan 23 63.9 10 27.8 3 8.3 0 0
dengan dengan visi dan misi Rumah Sakit
2 Dalam melaksanakan asuhan keperawatan
saya berpedoman pada standart asuhan 22 61.1 13 36.1 1 2.8 0 0
keperawatan (SAK)
3 Dalam melaksanakan prosedur keperawatan
saya berpedoman pada standart operasional 22 61.1 12 33.3 2 5.6 0 0
prosedur (SOP)
4 Dalam bekerja saya berdasarkan peraturan 20 55.6 14 38.9 2 5.6 0 0
yang ada di rumah sakit
5 Saya berusaha konsisten dalam bekerja 18 50.0 17 47.2 1 2.8 0 0
dengan mengikuti standart kinerja di rumah
sakit
Pengorganisasian
6 Sistem pemberian asuhan keperawatan yang 10 27.8 18 50.0 4 11.1 4 11.
digunakan di ruangan ini dengan SP2KP 1
7 Saya memahami struktur organisasi yang ada 15 41.7 19 52.8 2 5.6 0 0
di ruangan
8 Dalam bekerja saya melakukan tugas sesuai 16 44.4 19 52.8 1 2.8 0 0
dengan uraian tugas yang ditentukan oleh
ruangan
9 Jumlah tenaga keperawatan yang ada 1 2.8 6 16.7 13 36.1 16 44.
diruangan telah sesuai dengan beban 4
kerja
10 Pengaturan shif yang ada dalam ruangan 3 8.3 16 44.4 13 36.1 4 11.
saya berdasarkan dari tingkat 1
ketergantungan klien
Pengaturan Staf
11 Di ruangan ini dilaksanakan orientasi Staf
pada setiap perawat yang baru 27 75.0 7 19.4 2 5.6 0 0

12 Pengaturan jadwal dinas di ruangan ini


dilakukan dengan musyawarah dan fleksibel 5 13.9 18 50.0 6 16.7 7 19.
4
13 Perhitungan kebutuhan tenaga yang
digunakan oleh kepala ruangan ini sudah 5 13.9 11 30.6 12 33.3 8 22.
sesuai standar 2

Pengarahan
14 Didalam bekerja saya tenang karena 8 22.2 24 66.7 4 11.1 0 0
setiap saat ada kegiatan supervisi untuk
menunjukan yang baik kepada kami
15 Saya tahu betul pekerjaan saya karena setiap 18 50.0 18 50.0 0 0 0 0
dinas ada program operan antar ship yang
jelas
16 Saya tahu betul pekerjaan saya sebagai
perawat pelaksana karena sebelum dinas ada 10 27.8 18 50.0 8 22.2 0 0
pre konferen dari kepala tim untuk
menjelaskan pekerjaan yang akan kita
lakukan
17 Saya mengetahui pekerjaan dengan baik
karena setiap hari ada program post conferen 7 19.4 20 55.6 9 25.0 0 0
dari kepala tim untuk menjelaskan evaluasi
pekerjaan kita lakukan
18 Saya senang karena ada kegiatan ronde
keperawatan diruang untuk menyelesaikan 3 8.3 16 44.4 10 27.8 7 19.
kasus kompleks diruangan 4
176

Pengendalian
19 Tiap tiga bulan sekali diruangan saya
dilakukan evaluasi terhadap kinerja perawat 3 8.3 9 25.0 18 50.0 6 16.
diruangan masing-masing yang dilakukan 7
oleh ketua tim dan perawat pelaksana
20 Tiap bulan diruangan saya dilakukan audit 17 47.2 10 27.8 6 16.7 3 8.3
mutu dengan cara menghitung BOR
21 Tiap bulan diruangan saya dilakukan audit 12 33.3 14 38.9 8 22.2 2 5.6
mutu dengan cara menghitung ALOS
22 Tiap bulan diruangan saya dilakukan audit 14 38.9 10 27.8 9 25.0 3 8.3
mutu dengan cara menghitung TOI
23 Tiap bulan diruangan saya dilakukan audit
mutu dengan cara menghitung kejadian 14 38.9 16 44.4 6 16.7 0 0
infeksi nosokomial
24 Tiap bulan diruangan saya dilakukan
audit mutu dengan cara menghitung 13 36.1 15 41.7 6 16.7 2 5.6
kejadian jatuh

Keterangan :
SL : Selalu
S : Sering
KK : Kadang-kadang
J : Jarang

Dari hasil kuesioner perawat di dapatkan yang menjawab


“Selalu” sebanyak 27 orang (75.0%) di ruangan
dilaksanakan orientasi staf pada setiap perawat yang baru.
Sedangkan yang menjawan “sering” sebanyak 24 orang
( 66.7%) dengan pertanyaan di dalam bekerja saya tenang
karena setiap saat ad kegiatan supervise untuk menunjukan
yang baik kepada kami, sedangkan yang menjawab
“Kadang-kadang” sebanyak 13 orang ( 36.1%) pertanyaan
pengaturan shif yang ada dalam ruangan saya berdasarkan
dari tingkat ketergantungan klien dan yang menjawab
“Jarang” sebanyak 16 orang (44.4 %) dengan pertanyaan
jumlah tenaga keperawatan yang ada diruangan telah sesuai
dengan beban kerja.

3.2.4.3 Instrumen C
Tabel 3.15 Hasil Observasi Kepatuhan Perawat sesuai SOP
177

Judul SOP
Mengambil Menyiapkan Menghisap Terapi Tindakan
No. Perawat darah untuk pasein untuk sekresi oksigen humidifikasi/t
pemeriksaan tindakan erapi inhalasi
AGD intubasi
1 Perawat 1 √ √ √ √ √
2 Perawat 2 √ √ √ √ √
3 Perawat 3 √ √ √ √ √
4 Perawat 4 √ √ √ √ √
5 Perawat 5 √ √ √ √ √
6 Perawat 6 √ √ √ √ √
7 Perawat 7 √ √ √ √ √
8 Perawat 8 √ √ √ √ √
9 Perawat 9 √ √ √ √ √
10 Perawat 10 √ √ √ √ √
11 Perawat 11 √ √ √ √ √
12 Perawat 12 √ √ √ √ √
13 Perawat 13 √ √ √ √ √
14 Perawat 14 √ √ √ √ √
15 Perawat 15 √ √ √ √ √