Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang berada di bawah
bidang pelayanan, dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang ditujukan untuk
observasi, perawatan dan terapi pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit yang
mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa dengan prognosis buruk. ICU
menyediakan kemampuan dan sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang
fungsi vital dengan menggunakan ketrampilan staf medis, perawat dan staf lain yang
berpengalaman dalam pengelolaan keadaan tersebut.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Intensive Care Unit (ICU) merupakan ruang
perawatan dengan tingkat resiko kematian pasien yang tinggi. Tindakan keperawatan yang cepat
dan tepat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan pasien. Pengambilan keputusan yang cepat
ditunjang dengan data yang merupakan hasil observasi dan monitoring yang continue oleh
perawat. Tingkat kesibukan dan standart keperawatan yang tinggi membutuhkan managemen
ICU dan peralatan teknologi tinggi yang menunjang.
Secara umum managemen itu memiliki ciri-ciri: adanya tujuan yang ingin dicapai, adanya
sumber daya, upaya penggerakan sumber daya, adanya orang yang menggerakan sumber
daya(manager), adanya proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pelaksanaan,
pengarahan, dan pengendalian. Begitupun managemen yang ada di Rumah Sakit terutama di
ruang ICU. Kita sebagai seorang perawat juga harus betul-betul memahami seperti apa tugas
dan tanggung jawab masing-masing pelaksana kesehatan. Mengerti seperti apa layaknya ruang
ICU dan masih banyak lainnya.
Rumah sakit sebagai penyedia pelayanan kesehatan mempunyai fungsi rujukan harus
dapat memberikan pelayanan ICU yang professional dan berkualitas. Dengan mengedepankan
keselamatan pasien. Pada unit perawatan intensif, perawatan untuk pasien dilaksanakan dengan
melibatkan berbagai tenaga profesional yang terdiri dari multidisiplin ilmu yang bekerja sama
dalam tim. Pengembangan tim mulitidisiplin yang kuat sangat penting dalam meningkatkan
keselamatan pasien. Selain dukungan itu sarana, prasarana serta peralatan juga diperlukan
dalam rangka meningkatkan pelayanan ICU. Oleh karena itu, mengingat diperlukannya tenaga
khusus, terbatasnya sarana dan prasarana, serta mahalnya peralatan, maka demi efisiensi,
keberadaan ICU perlu difokuskan.

B. Tujuan Pedoman.
Tujuan Umum :
Meningkatkan Pelayanan yang mengutamakan mutu dan keselamatan pasien di ICU.
Tujuan Khusus :
1. Menyediakan, meningkatkan dan mengembangkan sumberdaya manusia.
2. Meningkatkan sarana prasarana serta peralatan di ICU
3. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan pelayanan ICU terutama bagi pasien
kritis stabil yang hanya membutuhkan pelayanan pengawasan saja.

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di Intensive Care Unit adalah sebagai berikut:
1. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat
menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari.

1
2. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan pelaksanaan
spesifik problema dasar.
3. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan
oleh penyakit.
4. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang kehidupannya sangat tergantung pada
alat / mesin dan orang lain.
5. Pelayanan Intensive Care Unit Rumah Sakit terdiri dari :
a. ICU
b. HCU
c. Recovery Room
d. PICU

D. Batasan Operasioanal
Intensive Care Unit adalah ruang rawat di rumah sakit yang dilengkapi dengan staf dan
peralatan khusus untuk merawat dan mengobati pasien yang terancam jiwa oleh kegagalan /
disfungsi satu organ atau ganda akibat penyakit, bencana atau komplikasi yang masih ada
harapan hidupnya (reversible).
Pelayanan Intensive Care Unit harus dilakukan oleh staf yang terlatih secara formal dan mampu
memberikan pelayanan yang optimal dan terbebas dari tugas-tugas lain yang membebani,
seperti kamar operasi, praktek dan tugas-tugas kantor.
Staff yang bekerja harus berpartisipasi dalam sistem yang menjamin kelangsungan pelayanan
intensive care 24 jam. Hubungan pelayanan Intensive Care Unit yang terorganisir dengan
bagian-bagian pelayanan lain di rumah sakit harus ada dalam organisasi rumah sakit.

E. Landasan Hukum
Dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan pedoman ini adalah sebagai berikut:
1. Undang - undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
2. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Rl No 436 / Menkes / SK / VI / 1993 tentang
berlakunya Standar Pelayanan di Rumah Sakit
3. Undang - undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
4. Undang - undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
5. Keputusan Menteri Kesehatan Rl No 779 / Menkes / SK / VIII / 2008, tentang Standar
Pelayanan Anestesiologi dan Reanimasi di Rumah Sakit
6. Keputusan Menteri Kesehatan Rl No 834 / MENKES / SK / VII / 2010 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pelayanan High Care Unit (HCU)
7. Keputusan Menteri Kesehatan Rl No 1778 / MENKES/ SK/ XII / 2010 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit (ICU ) di Rumah Sakit
8. Peraturan Menteri Kesehatan Rl No 519 / Menkes / PER / III / 2011 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pelayanan Anesthesiologi dan Terapi Intensif di Rumah Sakit
9. Keputusan Direktur Jenderal Upaya Kesehatan No HK. 02.04/ / 1966 / 11, tentang Petunjuk
Tehnis Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit Di Rumah Sakit.

2
BAB II
STANDART KETENAGAAN

A. Kulifikasi Sumber Daya Manusia


NO NAMA JABATAN KUALIFIKASI FORMAL KETERANGAN
1 Kepala ICU Dokter spesialis Anesthesi
2 Tim Medis • Dokter spesialis sebagai DPJP • Dapat dihubungi setiap diperlukan
• Dokter jaga 24 jam • Mempunyai kemampuan resusitasi
jantung paru yang bersertifikat
bantuan hidup dasar dan bantuan
hidup lanjut
3 Kepala Urusan Minimal D III Keperawatan • Bersertifikat ICU/ICCU
pelayanan Perawatan • Berpengalaman: dibidangnya > 3
ICU tahun
4 Perawat Pelaksana Minimal D III Keperawatan • Pengalaman di ruang rawat inap 1
ICU tahun
• Bersertifikat ICU/ICCU/ BLS /
BCLS/PPGD

B. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan ICU dibagi dalam 3 (tiga) shift yang masing - masing shift terdiri dari:
JUMLAH PERBANDINGAN
NO SHIFT KETERANGAN
PERAWAT PERAWAT: TT
– 1 Orang KUPP ICU
– 1 orang perawat
1 Pagi 3 1 :3
Penanggungjawab shift
– 1 Orang perawat Pelaksana
– 1 orang perawat
2 Sore 2 1 :3 Penanggungjawab shift
– 1 Orang perawat Pelaksana
– 1 orang perawat
3 Malam 2 1 :3 Penanggungjawab shift
– 1 Orang perawat Pelaksana
4 Libur 2

C. Pengaturan Jaga / Dinas


1. Pengaturan Jaga Tim Medis
a. Dokter DPJP
• Pengaturan DPJP sesuai dengan disiplin ilmu masing - masing
• DPJP harus bisa dihubungi sewaktu - waktu jika diperlukan.
b. Dokter jaga
Pengaturan jadwal dokter jaga sesuai dengan jadwal jaga dokter IGD
2. Pengaturan Jaga Tenaga Keperawatan
a. Pengaturan jadwal dinas perawat ICU dibuat dan di pertanggung jawabkan oleh KUPP
ICU dan disetujui oleh Kepala Bidang Pelayanan.

3
b. Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi, sore, malam, libur dan cuti.
c. Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke perawat
pelaksana ICU setiap satu bulan.
d. Jika ada keperluan penting pada hari tertentu (direncanakan), maka perawat tersebut
dapat mengajukan permintaan Cuti.
e. Permintaan akan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada (apabila tenaga cukup
dan berimbang serta tidak mengganggu pelayanan, maka permintaan disetujui)
f. Setiap tugas jaga / shift harus ada perawat penanggung jawab shift.
g. Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga sesuai
jadwal yang telah ditetapkan (terencana), maka perawat yang bersangkutan harus
memberikan informasi kepada KUPP ICU minimal 1 hari sebelumnya, hal ini dimaksudkan
untuk memberikan waktu penanggung jawab mengatur personil yang jaga saat itu.
h. Apabila ada tenaga perawat tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah ditetapkan
(tidak terencana) karena sakit / anak sakit dan sebagainya maka perawat
tersebut harus memberikan informasi KUPP ICU minimal 4 jam sebelum jam dinas
dimulai, hal ini dimaksudkan untuk memberikan waktu untuk mencarikan perawat
pengganti saat itu.
i. Apabila ada tenaga perawat yang tiba - tiba tidak bisa jaga sesuai dengan jadwal
yang ditetapkan karena ada kejadian yang mendadak (± 1jam sebelum jam dinas
dimulai ) maka penanggung jawab wajib mencarikan perawat pengganti.

4
BAB III
STANDART FASILITAS

A. Denah Ruangan
Terdapat pada lampiran 1
B. Standart Fasilitas
Fasilitas Peralatan
No Jenis Kelengkapan Standart ICU Jumlah Yg
primer Dimiliki
1 Ventilasi mekanik sederhana 1
2 Alat hisap ada 1
3 Alat ventilasi manual dan penunjang jalan nafas ada 1
4 Peralatan monitor ada 5
1. Tekanan darah ada 5
2. EKG ada 5
3. Saturasi O2 ada 5
4. suhu ada 5
6 Defibrilator ada 1
7 Alat pengukur suhu pasien ada 2
8 Syringe pump ada 6
9 Infus Pump ada 2
10 Kasur dekubitus ada 2
11 Lampu untuk tindakan ada 1
12 Oksigen sentral ada 5
13 Emergency trolly (airway, ambubag, 02, ada 1
adrenalin. Dll)
14 Laryngoskop set ada 1
15 Jackson reevs ada 1
16 ETT No. 7,5 ada 1

5
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

Sebelum pasien masuk ke ICU, pasien dan atau keluarganya harus mendapatkan penjelasan
secara lengkap mengenai dasar pertimbangan mengapa pasien harus mendapatkan perawatan di
ICU. Serta tindakan kedokteran yang mungkin dilakukan selama pasien di rawat di ICU. Penjelasa
tersebut diberikan oleh kepala ICU atau dokter yang bertugas, atas pernjelasan tersebut pasien dan/
atau keluarganya dapat menerima/menyatakan persetujuan untuk dirawat di ICU. Persetujuan
dinyatakan dengan menandatangani formulir informed consent.
Pada keadaan sarana dan prasarana ICU yang terbatas pada suatu Rumah Sakit, diperlukan
mekanisme untuk membuat prioritas apabila kebutuhan atau permintaan akan pelayanan ICU lebih
tinggi dari kemampuan pelayanan yang dapat diberikan. Kepala ICU bertanggung jawab atas
kesesuaian indikasi perawatan pasien di ICU. Bila kebutuhan pasien masuk ICU melebihi tempat tidur
yang tersedia, kepala ICU menentukan kondisi berdasarkan prioritas kondisi medis, pasien mana
yang akan dirawat di ICU.
1. Kriteria masuk ICU :
Prioritas kondisi medis
1. Prioritas 1
Pasien sangat kritis, kondisi tidak stabil yang memerlukan terapi intensif dan monitoring yang
tidak bisa dilakukan diruang rawat inap yang lain, misalnya Pasien yang memerlukan bantuan
ventilator, obat vasoaktif continue, ARDS, Syok, dan Hemodinamik tidak stabil.
2. Prioritas 2
Pasien yang memerlukan monitoring ketat dan berpotensi memerlukan terapi intensif,
misalnya eksaserbasi akut yang berat secara medis.
3. Prioritas 3
Pasien kritis kronik yang cenderung masuk tahap recovery, menjalani terapi untuk kasus
akutnya tetapi tidak memerlukan intubasi atau resusitasi jantung paru, misalnya Keganasan
dengan metastase komplikasi dengan infeksi, tamponade jantung atau obstruksi jalan nafas
4. Prioritas 4
Pasien yang secara umum tidak perlu masuk ICU, misalnya Diabetes dan gagal jantung ringan
2. Kriteria keluar ICU
Prioritas pasien dipindahkan dari ICU berdasarkan pertimbangan medis oleh kepala Unit ICU dan
tim yang merawat.

6
BAB V
LOGISTIK

A. Pengadaan Operasional
1. Alat Tulis Kantor
No Nama Barang Jumlah Barang
1 Bolpoint 20
2 Buku Ekspedisi 10
3 Buku Folio 200 2
4 Spidol Permanent 3
5 Spidol Boardmarker 3
6 Staples Besar 1
7 Isi Staples Besar 1
8 Staples Kecil 1
9 Isi Staples Kecil 1
10 Cutter 1
11 Isi Cutter 2
12 Isolasi 3
13 Lem Povinal 1
14 Map Plastik 10
15 Penggaris 30cm 1
16 Penghapus Bolpoint (Stipo) 1
17 Pensil 2B 1
18 Penghapus Pensil 1
19 Spidol Kecil Merah 2
20 Spidol Kecil Biru 2
21 Stabilo 1

2. Barang Cetakan
No Nama Barang Jumlah Barang
1 Amplop Kop RSIG 2
2 Amplop Laborat 2
3 Jadwal Dinas 1
4 Kertas Lembur 1
5 Lembar Visite Dokter 1
6 Catatan Dokter 1
7 Catatan Tindakan Perawat 1
8 Catatan Perkembangan Perawat 1
9 Lembar Obat 1
10 Lembar Infus 1
11 Lembar Laborat 1
12 Lembar Radiologi 1
13 Lembar Konsul 1
14 Resep 3

7
15 Amplop EKG 10
16 Kertas EKG 3
17 Blanko Tindakan 2
18 Kwitansi GDS 3
19 Buku Rujukan 1
20 Lembar Pemeriksaan Radiologi 1
21 Lembar Pemeriksaan USG 1
22 Permintaan CT Scan 1
23 Persetujuan Tindakan Medis 1
24 Penolakan Tindakan Medis 1
25 Permintaan Pulang Paksa 1
26 Persetujuan Pembiusan 1
27 Blanko Unit Pemeliharaan Sarana 1
28 Blanko Permintaan Barang 1
29 Surat Keterangan Opname 1
30 Surat Keterangan Meninggal 1
Dunia
31 Surat Perintah Lembur 1
32 Lembar Observasi Pasien 1
33 Form Serah Terima Pasien 1

3. Barang Bengkel
No Nama Barang Jumlah Barang
1 Baterai ABC 3
2 BayFresh 3
3 Baygon Spray 3
4 Gayung 2
5 Gunting 2
6 Kresek Hitam (T) 3
7 Kresek Hitam (K) 3
8 Bayclin 3
9 Stella 3
10 Sunlight 3
11 Tissue Kotak Paseo Refil 4
12 Tissue Roll 4
13 Alat Cukur 5
14 Timbangan Berat Bedan 1
15 Kotak Tissue 1

8
4. Alat Kesehatan
No Nama Barang Jumlah Barang
1 BVM (Ambubag) 2
2 Kertas EKG Fukuda 3
3 Hypavix 3
4 Bed Side Monitor 6
5 Ventilator 1
6 Tensi Dewasa ABN 2
7 Tensi Digital 2
8 Defibrilator 1
9 Suction 1
10 Kursi Roda 1
11 Brancart 1
12 Tempat Tidur Pasien 6
13 Stetoskop Lithium 1
14 Stetoskop ABN 2
15 Urinal 3
16 Pispot 3
17 Win Gloves (100 pcs) 100
18 Tongue Spatel 5
19 Bengkok 1
20 Alat Rawat Luka 1 Set

5. Obat
No Nama Barang Jumlah Barang
1 Hand Rub 7
2 Oxygen Kecil 1

6. Investasi
No Nama Barang Jumlah Barang
1 Ventilator 1
2 Bed Side Monitor 5
3 Defibrilator 1
4 EKG 1
5 Suction 1
6 Sterilisator 1

9
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. Definisi
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah
sakit membuat asuhan pasien lebih aman.
B. Tujuan
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunya kejadianya tidak diharapkan (KTD) di RS
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian
tidak diharapkan
C. Standar Keselamatan Pasien
Standart keselamatan pasien (patient safety) untuk pelayanan ICU adalah :
1. Ketepatan identitas.
a. Target 100% Label identitas tidak tepat apabila : tidak terpasang, salah pasang, salah
penulisan nama, salah penulisan gelar (Tn/Ny/An.) salah jenis kelamin, salah alamat
b. Target 100%. Terpasang gelang identitas pasien rawat inap : Pasien yang masuk rawat
inap terpasang gelang identitas pasien,
2. Komunikasi SBAR
a. Target 100% konsul ke dokter Via telpon menggunakan metode SBAR
3. Medikasi
a. Ketepatan pemberian obat
Target 100% yang dimaksut tidak tepat apabila : salah obat, salah dosis, salah jenis, salah
rute pemeberian , salah identitas pada etiket, salah pasien
b. Ketepatan transfusi
Target 100% yang dimaksut tidak tepat apabila : salah identitas, salah permintaan, salah
tulis jenis produk darah, salah pasien
4. Pasien jatuh
Target 100% tidak ada kejadian pasien jatuh di ICU

10
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. Pengertian
Keselamatan kerja merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat
kerja/aktifitas karyawan lebih aman. Sistem tersebut siharapkan dapat mencegah terjadinya
cidera yang disebabkan oleh kesalahan pribadi ataupun rumah sakit.

B. Tujuan
1. Terciptanya budaya keselamatan kerja di RSI Gondanglegi
2. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
3. Memproleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerja
4. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi

C. Tata Laksana Keselamatan Karyawan


Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan infeksi, yaitu:
1. Menganggap bahwa pasien maupun dirinya sendiri dapat menularkan infeksi
2. Menggunakan alat pelindung (sarung tangan,kacamata, sepatu boot/alas
kakitertutup,celemek,masker dll) terutama bila terdapat kontak dengan spesimen pasien
seperti darah, urin, muntahan, sekret dll
3. Melakukan prasat yang aman bagi petugas maupun pasien, sesuai prosedur yang ada, seperti
: pasang kateter, injeksi, memasang infus dll
4. Mencuci tangan dengan sabun antiseptik sebelum dan sesudah menangani pasien
5. Terdapat sampah infeksius dan non infeksius.
6. Mengelola alat dengan mengindahkan prinsip sterilitas
7. Menggunakan baju kerja yang bersih
8. Melakukan upaya medis yang tepat dalam menangani kasus (HIV , flu burung)

11
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. Standart Pelayanan Minimal


Judul Pemberian Pelayanan Intensif
Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektifitas
Tujuan Kesiapan rumah sakit dalam menyediakan pelayanan intensif
Definisi operasioanl Pemberian pelayanan intensif adalah dokter spesialis, dokter
umum dan perawat yang mempunyai kompetensi sesuai yang
dipersyaratkan dalam persyaratan kelas rumah sakit
Frekuensi Pengumpulan Tiga bulan sekali
Data
Periode Analisa Tiga bulan sekali
Numertor Jumlah tim yang tersedia
Denominator Tidak ada
Sumber data Unit Pelayanan Intensif
Standart Sesuai dengan ketentuan kelas rumah sakit
Penanggung Jawab Kepala ICU

B. Ketersediaan Fasilitas Dan Peralatan Ruang ICU


Judul Ketersediaan Fasilitas Dan Peralatan Ruang ICU

Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektifitas


Tujuan Kesiapan fasilitas dan peralatan rumah sakit untuk memberikan
pelayanan ICU
Definisi operasioanl Fasilitas dan peralatan pelayanan intensif adalah ruang, mesin,
dan peralatan yang harus tersedia untuk pelatanan intensif baik
sesuai dengan persyaratan kelas rumah sakit
Frekuensi Pengumpulan Tiga bulan sekali
Data
Periode Analisa Tiga bulan sekali
Numertor Jenis dan jumlah fasilitas dan peralatan pelayanan intensif
Denominator Tidak ada
Sumber data Inventaris ICU
Standart Sesuai dengan kelas rumah sakit
Penanggung Jawab Kepala ICU

12
C. Ketersediaan Tempat tidur Dengan Monitor
Judul Ketersediaan Tempat tidur Dengan Monitor

Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektifitas


Tujuan Kesiapan fasilitas dan peralatan rumah sakit untuk memberikan
pelayanan ICU
Definisi operasioanl Tempat tidur ruang intensif adalah tempat tidur yang dapat
diubah posisi yang dilengkapi dengan monitor
Frekuensi Pengumpulan Tiga bulan sekali
Data
Periode Analisa Tiga bulan sekali
Numertor Jumlah tempat tiddur yang dilengkapi dengan peralatan
monitor
Denominator Tidak ada
Sumber data Inventaris ICU
Standart Sesuai dengan kelas rumah sakit
Penanggung Jawab Kepala ICU

D. Kepatuhan Terhadap Hand Hygiene


Judul Kepatuhan Terhadap Hand Hygiene

Dimensi Mutu Keselamatan


Tujuan Menjamin hygiene adalah dalam melayani pasien diruang
intensif
Definisi operasioanl Hand Hygiene adalah prosdur cuci tangan sesuai dengan
ketentuan 6 langkah cuci tangan
Frekuensi Pengumpulan Tiga bulan sekali
Data
Periode Analisa Tiga bulan sekali
Numertor Jumlah perawat yang diamati dan mematuhi prosedur hand
hygiene
Denominator Jumlah seluruh perawat yang diamati
Sumber data 100%
Standart Sesuai dengan kelas rumah sakit
Penanggung Jawab Kepala ICU

13
E. Kejadian Infeksi Nosokomial Diruang ICU
Judul Kejadian Infeksi Nosokomial

Dimensi Mutu Keselamatan pasien


Tujuan Mengetahui hasil pengendalian infeksi nosokomial diruang ICU
Definisi operasioanl Infeksi nosokomial adalah infeksi yang dialami oleh pasien yang
diperoleh selama dirawat di rumah sakit yang meliputi
dekubitus, plebitis, sepsis, dan infeksi luka operasi
Frekuensi Pengumpulan Tiap bulan
Data
Periode Analisa Tiga bulan sekali
Numertor Jumlah pasien rawat inap yang terkena infeksi nosokomial
dalam satu bulan
Denominator Jumlah pasien rawat inap dalam satu bulan
Sumber data Survei, laporan infeksi nosokomial
Standart ≤9%
Penanggung Jawab Kepala Ruang ICU

F. Rata-rata pasien yang kembali ke ICU dengan kasus yang sama < 72 Jam
Judul Rata-rata pasien yang kembali ke ICU dengan kasus yang
sama < 72 Jam
Dimensi Mutu Efektifitas
Tujuan Tergambarnya keberhasilan perawatan intensif
Definisi operasioanl Pasien kembali ke perawatan intensif dari ruang rawat inap
dengan kasus yang sama dalam waktu < 72 jam
Frekuensi Pengumpulan Tiap bulan
Data
Periode Analisa Tiga bulan sekali
Numertor Jumlah pasien yang kembali ke perawatan intensif dengan
kasus yang sama < 72 jam dalam 1 bulan
Denominator Jumlah seluruh pasien yang dirawat diruang intensif dalam 1
bulan
Sumber data Rekam Medis
Standart ≤3%
Penanggung Jawab Komite medik / mutu

14
BAB IX
PENUTUP

Pedoman pelayanan ICU di RSI Gondanglegi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi
seluruh petugas pemberi pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan pada pasien ICU.
Berdasarkan klasifikasi sumber daya, sarana, prasarana dan peralatan pelayanan ICU di Rumah Sakit
Islam Gondanglegi dapat dikategorikan sebagai ICU Primer.
Oleh karena itu, rumah sakit diharapkan akan terus mengembangkan pelayanan sesuai dengan
ketentuan pedoman standart ICU sesuai dengan situasi dan kondisi yang kondusif bagi setiap
program pengembangan layanan ICU di Rumah Sakit Islam Gondanglegi
Sedangkan untuk kelancaran setiap pelaksanaan pelayanan di ICU perlu adanya penjabaran
dan pedoman pelayanan dengan penyusunan prosedur tetap di unit layanan ICU sehingga hambatan
dalam menjalankan pelaksanaan pelayanan bisa diminimalkan.

15