Anda di halaman 1dari 15

PENGUJIAN SENSITIVITAS BAKTERI TERHADAP

ANTIBIOTIK : METODE KIRBY-BAUER DAN METODE MIC

Disusun oleh:
Nama : Maria Pricilia Gita Permana Putri
NIM : B1A015068
Kelompok :6
Rombongan :I
Asisten : Uho Baihaqi

LAPORAN PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Antibiotik adalah senyawa kimia organik yang dihasilkan oleh mikroba dan
memiliki berat molekul rendah. Senyawa tersebut akan menghambat pertumbuhan
bakteri dalam konsentrasi yang rendah. Antibiotik akan menghambat membran sel,
sintesis asam amoni, sintesis protein dan menghambat dinding sel (Soekardjo, 1995).
Contoh bakteri yang dapat menghasilkan antibiotik antara lain Bacillus brevis
(penghasil antibiotik Kerotrisin), B. polymyxa (penghasil antibiotik Polimiksin), B.
subtilis (penghasil antibiotik Basitrasin), Penicillium chrysogenum (penghasil
antibiotik Penisilin), Streptomyces aureofaciens dan S. rimosus (penghasil antibiotik
Tetrasiklin), S. griseus (penghasil antibiotik Streptomisin), S. venezuelae (penghasil
antibiotik Chloramphenicol), S. noursei (penghasil antibiotik Nistatin), S. nodosus
(penghasil antibiotik Amphotericin), S. natalensis (penghasil antibiotik Natamisin), S.
erythreus (penghasil antibiotik Eritromisin), S. fradiae (penghasil antibotik
Neomisin), S. orientalis (penghasil antibiotik Vankomisin), S. mediterranei (penghasil
antibiotik Rifampisin), S. alboniger (penghasil antibiotik Puromisin), serta S.
lincolnensis (penghasil antibiotik Linkomisin) (Madigan & Martinko, 2006).
Antibiotik dalam melakukan efeknya harus dapat mempengaruhi bagian-bagian
vital sel seperti membran sel, enzim-enzim, dan protein struktural. Menurut Usmiati
(2012), cara kerja senyawa antibiotik dalam melakukan efeknya terhadap
mikroorganisme adalah sebagai berikut :

1. Menghambat metabolisme sel

Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya. Mikroba


patogen harus mensintesis sendiri asam folat dari asam amino benzoat (PABA)
untuk hidupnya. Antibiotik seperti Sulfonamida secara struktur mirip dengan
PABA, asam folat dan akan berkompetisi dengan PABA untuk membentuk
asam folat. Jika senyawa antibiotik yang menang bersaing dengan PABA, maka
akan terbentuk asam folat non-fungsional yang akan mengganggu kehidupan
mikroorganisme. Contoh antibiotik yang bekerja dengan mekanisme ini adalah
Sulfonamida, Trimetoprim, dan asam p-aminosalisilat.

2. Menghambat sintesis dinding sel


Antibiotik golongan ini dapat menghambat biosintesis peptidoglikan, sintesis
mukopeptida atau menghambat sintesis peptida dinding sel, sehingga dinding sel
menjadi lemah dan karena tekanan turgor dari dalam, dinding sel akan pecah atau
lisis sehingga bakteri akan mati. Contoh antibiotik yang bekerja dengan
mekanisme ini adalah Penisilin, Sefalosporin, Sikloserin, Vankomisin,
Basitrasin, dan antifungi golongan Azol.

3. Menghambat sintesis protein

Sel mikroba memerlukan sintesis berbagai protein untuk kelangsungan


hidupnya. Sintesis protein berlangsung di ribosom dengan bantuan mRNA dan
tRNA. Ribosom bakteri terdiri atas dua subunit yang berdasarkan konstanta
sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S. Supaya berfungsi pada
sintesis protein, kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai mRNA
menjadi ribosom 70S. Antibiotik akan menghambat reaksi transfer antara donor
dengan aseptor atau menghambat translokasi t-RNA peptidil dari situs aseptor
ke situs donor yang menyebabkan sintesis protein terhenti. Contoh antibiotik yang
bekerja dengan mekanisme ini adalah Chloramphenicol, Tetrasiklin, Eritromisin,
Klindamisin, dan Pristinamisin.

4. Menghambat sintesis asam nukleat

Contoh antibiotik yang bekerja dengan mekanisme ini adalah kelompok


Rifampisin dan golongan Kuinolon. Salah satu derivat Rifampisin yaitu
Rifampisin berikatan dengan enzim polimerase-RNA (pada subunit), sehingga
menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tersebut.

5. Mengganggu keutuhan membran sel

Polimiksin dan golongan Polien serta berbagai kemoterapeutik lain, seperti


antiseptik surface active agents merupakan senyawa antimikroba yang dapat
mengganggu keutuhan membran sel mikroba. Polimiksin sebagai senyawa
amonium-kuartener dapat merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat
pada fosfolipid membran sel mikroba. Polimiksintidak efektif terhadap bakteri
Gram positif karena jumlah fosfor bakteri ini rendah. Bakteri Gram negatif
menjadi resisten terhadap Polimiksin ternyata jumlah fosfornya menurun.
Berdasarkan toksisitas selektifnya, senyawa antibiotik dapat bersifat
bakteriostatik dan bakteriosidal. Kelompok bakteriostatik menghambat pertumbuhan
atau perkembangan bakteri, sedangkan kelompok bakteriosidal bekerja mematikan
bakteri. Bakteriosidal merupakan antibiotik yang mempengaruhi pembentukan
dinding sel atau permeabilitas membran, sedang bakteriostatik adalah antibiotik yang
bekerja pada sintesis protein. Antibiotik yang termasuk bakteriostatik antara lain
Sulfonamida, Tetrasiklin, Chloramphenicol, Eritromisin, Trimetropim, Linkomisin,
Makrolida, Klindamisin, dan asam paraaminosalisilat. Sedangkan, antibiotik yang
termasuk bakteriosidal antara lain Penisilin, Sefalosporin, Aminoglikosida (dosis
besar), Kotrimoksazol, Polipeptida, Rifampisin, dan Isoniazid (Madigan & Martinko,
2006).
Antibiotik dapat dikategorikan berdasarkan spektrum atau kemampuannya
menghambat mikroba, yaitu spektrum luas dan spektrum sempit. Spektrum luas
artinya mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan negatif. Spektrum
sempit hanya efektif menghambat satu jenis Gram saja. Antibiotik yang termasuk
kedalam kategori spektrum luas adalah Tetrasiklin, Azithromisin, Moxiflosasin,
Klaritomisin, Sefuroxime asetil, Ciproflosasin, Oflosasin, Levoflosasin, Cefdinir,
Gatiflosasin, dan Cefpodosime prosetil. Antibiotik yang termasuk dalam kategori
spektrum sempit contohnya Amoksisilin, Sulfamethoxazole, Klindamisin,
Doksiklisin, Eritromisin, Sefaleksin, Minosiklin, dan Penisilin (Madigan & Martinko,
2006).
Penemuan antibiotik tidak hanya berpengaruh pada pengobatan penyakit menular
tetapi juga pada problematika sosial masyarakat dengan mengurangi morbiditas dan
mortalitas. Sejak diperkenalkannya senyawa antimikroba pada 1911 pada dunia,
beberapa jenis obat baru memiliki ditemukan, sehingga dunia kedokteran menawarkan
untuk pilihan terapi antibiotik yang merupakan pilihan untuk penyakit sebelumnya
mengancam jiwa. Namun, penggunaan macam obat antimikroba telah
memperkenalkan era baru di mana dunia kedokteran harus menghadapi munculnya
patogen yang resisten terhadap obat. Abad ke-19, infeksi seperti pneumonia, diare dan
difteri menjadi penyebab utama kematian. Selain itu, peristiwa besar seperti Revolusi
Industri dan urbanisasi yang menyebabkan pergeseran penduduk dari desa ke kota,
membuat kepadatan masyarakat tinggi. Akibatnya, kejadian penyakit seperti
tuberkulosis dan sifilis meningkat. Meskipun pengenalan antisepstik pada 1867 oleh
Semmelweis (1818-1865) dan Lister (1827-1912), infeksi rumah sakit (nosokomial)
dan pasca-bedah sudah mendunia, namum tetap saja Gram-positif menjadi penyebab
utama kematian. Pengenalan kemoterapi antimikroba membantu dalam mengurangi
infeksi pasca bedah (post surgical infection) dari 40% hingga 2% (Zaffiri et al., 2012).
Antibiotik merupakan kelompok yang sangat berguna untuk digunakan sebagai
obat farmasi untuk terapi manusia dan dokter hewan. Antibiotik terjadi secara alami
atau buatan manusia senyawa, yang banyak digunakan untuk mengobati manusia,
hewan dan kesehatan tanaman serta mencegah dan mengobati infeksi yang disebabkan
oleh bakteri patogen. Selain kegunaan tersebut dan terlepas dari kenyataan bahwa
antibiotik dilarang secara luas sebagai promotor pertumbuhan di peternakan (misalnya
di Eropa), antibiotik dapat digunakan sebagai aditif makanan ternak dan sebagai obat
coccidiostatic di industri perunggasan (Bouki et al., 2013).
Resistant adalah kemampuan dari bakteri atau mikroorganisme lain untuk
menahan efek antibiotik. Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri dapat merubah diri
sedemikian rupa hingga dapat mengurangi efektivitas dari suatu obat, bahan kimia
ataupun zat lain yang sebelumnya dimaksudkan untuk menyembuhkan atau mencegah
penyakit infeksi. Akibatnya bakteri tersebut tetap dapat bertahan hidup &
bereproduksi sehingga makin membahayakan. Menurut Soleha (2015), resistensi
bakteri dapat terjadi melalui mekanisme berikut ini :
1. Pengurangan akses antibiotik ke target porin pada membran luar.
2. Inaktivasi enzim β-lactamase.
3. Modifikasi atau proteksi target resistantsi terhadap β-lactamase.
4. Kegagalan aktivasi antibiotik.
5. Efluks aktif antibiotik.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa mampu melakukan uji sensitivitas
senyawa antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Alat yang digunakan yaitu cawan petri, tabung reaksi, kertas cakram, pembakar
bunsen, pipet ukur 1 ml, filler, cotton bud steril, pinset, wrapper, label, dan tissue.
Bahan yang digunakan yaitu isolat cair Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus,medium Nutrient Agar (NA), medium Nutrient Broth (NB), serta antibiotik
(Amoksisilin, Eritromisin, Klindamisin, Tetrasiklin dengan konsentrasi
masing-masing 4, 8, 16, 32, 64, dan 128 μg/ml).

B. Cara Kerja

Metode Kirby-Bauer
Medium NA pada cawan petrik dibagi menjadi 4 zona. Cotton bud steril
dicelupkan ke dalam isolat cair S. aureus atau E. coli, lalu diulas (lawn) searah ke
medium NA pada cawan petri. Masing-masing kertas cakram yang sudah diberi
antibiotik (Amoksisilin, Eritromisin, Klindamisin, Tetrasiklin) diambil dengan pinset
dan diletakkan di tengah masing-masing zona pada medium NA yang sudah dibagi
sebelumnya. Setiap satu zona berisi satu kertas cakram dengan antibiotik yang
berbeda. Setelah itu, diinkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 37oC. Setelah masa
inkubasi, diukur zona penghambatan yang terbentuk pada masing-masing antibiotik
𝑑1+𝑑2
terhadap biakan bakteri S. aureus dan E. coli dengan rumus . Hasil pengukuran
2

dibandingkan dengan standar zona penghambatan dari masing-masing antibiotik dan


ditentukan pengaruh yang resistant, intermediate, dan susceptible dari bakteri uji
terhadap masing-masing antibiotik. Hasil perhitungan zona hambat dapat dicocokkan
dengan tabel berikut :

Antibiotik Resistant Intermediate Susceptible


Amoksisilin ≤ 13 mm 14-17 mm ≥ 18 mm
Tetrasiklin ≤ 14 mm 15-18 mm ≥ 19 mm
Klindamisin ≤ 14 mm 15-20 mm ≥ 21 mm
Eritromisin ≤ 13 mm 14-17 mm ≥ 18 mm
MIC (Minimum Inhibitory Concentration)
Secara aseptis sebanyak 0,5 ml isolat cair S. aureus dan E.coli disuspensikan
kedalam tabung yang berisi medium Nutrient Broth. Setelah itu, sebanyak 0,5 ml
antibiotik Amoksisilin dan Eritromisin disuspensikan kedalam medium tersebut sesuai
dengan konsentrasinya masing-masing. Tabung yang disiapkan mengandung
antibiotik dengan konsentrasi 4, 8, 16, 32, 64, dan 128 μg/ml. Dibuat menjadi 4 seri
untuk kelompok 6 rombongan I yang terdiri dari seri A (E. coli dan Amoksisilin), seri
B (S. aureus dan Eritromisin), seri C (E. coli dan Eritromisin), dan seri D (S. aureus
dan Amoksisilin). Kemudian, dinkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 37oC. Setelah
diinkubasi, dilihat interpretasinya dengan mengamati tingkat kekeruhan pada setiap
konsentrasi antibotik. Jika terdapat kekeruhan, maka antibiotik tersebut tidak mampu
menghambat bakteri yang disuspensikan.

1
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 3.1. Pengamatan Uji Sensitivitas Senyawa Antibotik Metode


Kirby-Bauer Kelompok 6 Rombongan I

Jenis Antibiotik Diameter Zona


Isolat Uji Keterangan
Hambat

Amoksisilin S. aureus 18,5 mm Susceptible

Tetrasiklin S. aureus 36 mm Susceptible

Klindamisin S. aureus 34,5 mm Susceptible

Eritromisin S. aureus 21 mm Susceptible

Gambar 3.1. Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode Kirby-Bauer


‘ Kelompok 6 Rombongan I dengan Isolat S. aureus

Berdasarkan tabel dan gambar diatas, hasil menunjukkan bahwa semua antibiotik
yang digunakan dalam praktikum ini bersifat susceptible terhadap isolat S. aureus.
Diameter zona hambat terbesar adalah 36 mm pada antibiotik Tetrasiklin, sedangkan
diameter zona hambat terkecil yaitu 18,5 mm pada antibiotik Amoksisilin. Secara
keseluruhan, S. aureus sensitif terhadap antibiotik karena petumbuhannya mampu
dihambat oleh Amoksisilin, Tetrasikilin, Klindamisin, dan Eritromisin. Menurut
Madigan & Martinko (2006), keempat antibiotik tersebut bersifat bakteriostatik yang
mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Amoksisilin, Klindamisin, dan Eritromisin
juga merupakan antibiotik berspetrum sempit, kecuali Tetrasiklin yang berspektrum
luas. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Pelczar & Chan (2005), yang menyatakan
bahwa bakteri Gram positif (S. aureus) membentuk zona jernih lebih luas
dibandingkan dengan bakteri Gram negatif (E. coli). Hal tersebut juga diperkuat
dengan pernyataan Madigan & Martinko (2006), yang menjelaskan bahwa S. aureus
merupakan bakteri flora normal yang juga merupakan patogen oportunis, lemah
terhadap banyak jenis antibiotik, kecuali pada kasus MRSA (methicilin-resistant
Staphylococcus aureus) yaitu suatu strain dari S. aureus yang kebal terhadap Metisilin
akibat mutasi sehingga resisten terhadap daya kerja Metisilin.
Tingginya konsentrasi dari antimikroba ditentukan oleh difusi dari cakram dan
pertumbuhan organisme uji dihambat penyebarannya sepanjang difusi antimikroba
(terbentuk zona jernih di sekitar cakram), sehingga bakteri tersebut merupakan bakteri
yang sensitif terhadap mikroba. Ukuran zona jernih tergantung kepada kecepatan
difusi antimikroba, derajat sensitivitas mikrooganisme, dan kecepatam pertumbuhan
bakteri. Biasanya, zona hambat cakram antimikroba pada metode difusi berbanding
terbalik dengan MIC. Semakin luas zona hambat, maka semakin kecil konsentrasi
daya hambat minimum MIC (Soleha, 2015).

Gambar 3.2. Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode MIC


Kelompok 6 Rombongan I dengan Isolat E. coli
Terhadap Antibiotik Amoksisilin
Dasar penentuan antimikroba secara in vitro adalah MIC (Minimum Inhibitory
Concentration). MIC adalah konsetrasi terendah bakteri yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri dengan hasil yang dilihat dari pertumbuhan koloni pada agar atau
kekeruhan pada pembiakan cair (Soleha, 2015). Berdasarkan gambar diatas, tingkat
kekeruhan medium NB yang disuspensikan isolat E. coli semakin meningkat pada
antibiotik Amoksisilin konsentrasi 128 μg/ml. Hal ini menunjukkan, bahwa
Amoksisilin tidak mampu menghambat pertumbuhan E. coli. Hasil ini tidak sesuai
dengan pernyataan Pelczar & Chan (2005), yaitu bahwa Amoksisilin merupakan
antibiotik yang efektif untuk bakteri H. influenza, N. gonorrhea, E. coli, Pneumonia,
Streptococcus, dan beberapa Staphylococcus. Antibiotik golongan ini dapat
menghambat biosintesis peptidoglikan, sintesis mukopeptida atau menghambat
sintesis peptida dinding sel, sehingga dinding sel menjadi lemah dan karena tekanan
turgor dari dalam, dinding sel akan pecah atau lisis sehingga bakteri akan mati
(Usmiati, 2012).

Gambar 3.3. Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode MIC


Kelompok 6 Rombongan I dengan Isolat S. aureus
Terhadap Antibiotik Eritromisin

Sama hal dengan hasil uji sebelumnya, gambar diatas menunjukkan bahwa pada
antibiotik Eritromisin konsetrasi 128 μg/ml, pertumbuhan S. aureus belum dapat
dihambat. Hasil tersebut terlihat dari gambar diatas, dimana tingkat kekeruhan
medium NB masih tinggi pada antibiotik Eritromisin konsetrasi 128 μg/ml.
Seharusnya, Eritromisin dapat menghambat pertumbuhan S. aureus. Hal ini seperti
yang dinyatakan oleh Katzung (2014), bahwa Eritromisin merupakan antibiotik yang
memiliki spektrum cukup luas terhadap bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus,
Streptococcus pyogenes dan Streptococcus pneumoniae) dan Gram negatif
(Haemophilus influenzae, Pasteurella multocida, Brucella, dan Rickettsia) maupun
mikoplasma (Chlamydia), namun tidak memiliki aktivitas terhadap virus, ragi ataupun
jamur. Antibiotik yang dikelompokkan ke dalam golongan Makrolida yang bersifat
bakteriostatik atau bakteriosidal, tergantung dari jenis bakteri dan kadarnya dalam
darah (Rahman, 2011).
Sintesis protein mikroba berlangsung di ribosom dengan bantuan mRNA dan
tRNA. Ribosom bakteri terdiri atas dua subunit yang berdasarkan konstanta
sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S. Supaya berfungsi pada sintesis
protein, kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi
ribosom 70S. Mekanisme antibiotik ini adalah dengan menghambat reaksi transfer
antara donor dengan aseptor atau menghambat translokasi t-RNA peptidil dari situs
aseptor ke situs donor yang menyebabkan sintesis protein terhenti (Usmiati, 2012).
Gambar 3.4. Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode MIC
Kelompok 6 Rombongan I dengan Isolat E. coli
Terhadap Antibiotik Eritromisin
Hasil uji ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan E.coli pada medium NB,
tidak dapat dihambat oleh antibiotik Eritromisin. Seperti yang terlihat pada gambar
diatas, tidak ada pengurangan tingkat kekeruhan medium pada antibiotik konsentrasi
128 μg/ml. E. coli merupakan salah satu bakteri yang cukup resisten terhadap
beberapa antibiotik. Hal tersebut ditunjukkan dengan sebuah penelitian, yaitu dari 31
sampel E. coli yang diambil dari berbagai sumber, hanya 5 sampel yang sensitif
terhadap antibiotik Metronidazole, sedangkan 26 sampel lainnya bersifat resisten.
Metronidazole termasuk antibiotik yang sering digunakan oleh masyarakat Dan
termasuk antibiotik golongan Nitroimidazole yang memiliki spektrum aktivitas yang
terbatas, meliputi berbagai protozoa, bakteri Gram positif, dan bakteri Gram negatif
anaerob (Iswara, 2015).

Gambar 3.5. Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik Metode MIC


Kelompok 6 Rombongan I dengan Isolat S. aureus
Terhadap Antibiotik Amoksisilin
Berdasarkan gambar diatas, antibiotik Amoksisilin juga tidak dapat menghambat
pertumbuhan S. aureus, karena kekeruhan medium NB pada antibiotik konsentrasi
128 μg/ml masih tinggi. Hasil ini tidak sesuai dengan pernyataan Pelczar & Chan
(2005), yaitu bahwa Amoksisilin merupakan antibiotik yang efektif untuk bakteri H.
influenza, N. gonorrhea, E. coli, Pneumonia, Streptococcus, dan beberapa
Staphylococcus. Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa dalam meta-analisis
Staphylococcus aureus bacteremia (SAB), tidak ada perbedaan signifikan secara
statistik dalam risiko kematian ketika membandingkan pasien dengan S. aureus yang
menunjukkan MIC Vankomisin tinggi (≥1.5mg/ L) vs dengan MIC Vankomisin
rendah (<1,5mg/L). Cara terbaik untuk menentukan apakah kadar MIC Vankomisin
tinggi dikaitkan dengan peningkatan angka kematian adalah dengan melakukan uji
coba klinis yang cukup kuat (Kalil et al., 2014). Penelitian lain menunjukkan, bahwa
pada kecepatan agitasi 150 RPM, aktivitas antibiotika tertinggi untuk bakteri Gram
negatif S. thypi dan E. coli terdeteksi pada jam ke-192 masing-masing dengan
diameter hambatan sebesar 25 dan 26 mm. Sedangkan untuk bakteri Gram positif B.
subtilis dan S. aureus aktivitas antibiotika terdeteksi lebih awal, yaitu pada jam ke-168
dengan diameter hambatan masing-masing sebesar 21 dan 25 mm (Rachman et al.,
2016).
Metode Kirby-Bauer atau kertas cakram memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dari metode ini adalah mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan
khusus dan relatif murah, sedangkan kelemahannya adalah ukuran zona bening yang
terbentuk tergantung oleh kondisi inkubasi, inokulum, predifusi dan preinkubasi serta
ketebalan medium. Apabila keempat faktor tersebut tidak sesuai maka hasil dari
metode kertas cakram relatif sulit untuk diintepretasikan. Selain itu, metode kertas
cakram ini tidak dapat diaplikasikan pada mikroorganisme yang pertumbuhannya
lambat dan mikroorganisme yang bersifat anaerob obligat (Hastowo, 1992).
Menurut Soleha (2015), metode dilusi seperti metode MIC memiliki kelebihan
dan kekurangan. Kelebihan dari metode ini adalah memungkinkan penentuan
sensitivitas antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif dilakukan bersama-sama. MIC
dapat membantu dalam penentuan tingkat resistensi dan dapat menjadi petunjuk
penggunaan antibiotik. Kekurangan metode ini adalah tidak efisien karena
pengerjaannya yang rumit, memerlukan banyak alat dan bahan serta dalam
pengerjaannya memerlukan konsentrasi antibiotik yang bervariasi.
Secara keseluruhan, hasil uji sensitivitas antibiotik metode MIC menunjukkan
hasil negatif karena baik antibiotik Amoksisilin maupun Eritromisin, pada konsentrasi
tertinggi yaitu 128 μg/ml, belum dapat menghambat pertumbuhan E. coli dan S.
aureus. Hal tersebut dilihat dari tingkat kekeruhan yang masih tinggi pada
konsentrasi 128 μg/ml. Menurut Dhanasekaran (2005), E. coli dan S. aureus lebih
sensitif terhadap antibiotik Streptomisin yang dihasilkan oleh bakteri Streptomyces
griseus. Menurut Pelczar & Chan (2005), beberapa faktor yang mempengaruhi kerja
antibiotik antara lain :
1. Konsentrasi atau intensitas antibiotik (semakin tinggi akan semakin efektif
membunuh bakteri, namun terkadang bisa menimbulkan resistensi).
2. Jumlah mikroorganisme (jumlah mikroba yang banyak akan membuat antibiotik
perlu waktu lama untuk membunuhnya).
3. Suhu (semakin tinggi suhu maka akan meningkatkan efektivitas kerja antibiotik
karena pada dasarnya kerja antibiotik merupakan reaksi kimia yang sangat
bergantung pada suhu optimum).
4. Spesies mikroorganisme (tiap spesies mikroorganisme menunjukkan sensitivitas
yang berbeda-beda terhadap senyawa antibitik tertentu).
5. Adanya bahan organik yang akan menghambat kerja antibiotik melalui tiga cara,
yaitu antibiotik akan bergabung dengan bahan organic membentuk senyawa
yang bersifat netral bagi mikroba, atau membentuk endapan yang tidak bisa
berikatan dengan komponen sel mikroba, atau bahan organik menjadi barrier
bagi antibiotik yang akan melakukan kontak dengan sel mikroba.
6. pH (beberapa antibiotik sangat dipengaruhi oleh pH, sebagian ada yang bekerja
pada pH asam dan beberapa yang lain ada yang bekerja pada pH basa, walaupun
banyak juga yang bekerja pada pH netral).
Menurut Erlindawati et al. (2015), antibiotik salah satu contoh produk
metabolit sekunder yang dihasilkan suatu organisme tertentu dalam jumlah sedikit
dan bersifat merusak atau menghambat mikroorganisme lain. Bagi bakteri, senyawa
metabolit sekunder tersebut digunakan untuk pertahanan diri dalam menghadapi
lingkungan yang kurang menguntungkan. Resistensi pada antibiotik terjadi karena
pemindahan plasmid dari kuman resisten kepada kuman sensitif, dan hal ini dapat
juga terjadi bila kuman yang semula sensitif terkena paparan obat. Pertukaran
genetik dari plasmid yang mengandung penyandi resisten terhadap antibiotik antar
bakteri diyakini memainkan peranan penting terhadap evolusi bakteri resisten
antibiotik. Bakteri dengan resistensi antibiotik yang multipel dapat menyebarkan gen
resisten antibiotik mereka kepada strain dari spesies yang sama maupun kepada
spesies atau genus lain. melalui mekanisme yang berbeda. Mekanisme yang terutama
digunakan adalah dengan konjugasi plasmid-R (Iswara, 2015).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil dan pembahasan, yaitu :


1. Uji sensitivitas senyawa antibiotik secara kualitatif menggunakan metode
Kirby-Bauer dan isolat yang digunakan adalah Staphylococcus aureus. Hasil
yang didapatkan susceptible dengan diameter zona hambat 18,5 mm
(Amoksisilin), 36 mm (Tetrasiklin), 34,5 mm (Klindamisin), dan 21 mm
(Eritromisin).
2. Uji sensitivitas senyawa antibiotik secara kuantitatif menggunakan metode
Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Hasil menunjukkan bahwa pada
konsentrasi antibiotik Eritromisin dan Amoksisilin tertinggi, yaitu 128 μg/ml,
belum dapat menghambat pertumbuhan E. coli maupun S. aureus.

B. Saran

Sebaiknya, antibiotik yang digunakan dalam praktikum, lebih disesuaikan lagi


dengan isolat uji yang akan diuji senstivitasnya terhadap antibiotik tersebut. Sehingga,
hasil yang didapat lebih terlihat nyata dan maksimal.
DAFTAR REFERENSI

Bouki, C., Venieri, D. & Diamadopoulos, E. 2013. Detection and fate of antibiotic
resistant bacteria in wastewater treatment plants : A review. ELSEVIER, 91(2):
pp.1-9

Dhanasekaran, D. 2005. Screening of Salt Pans Actinomycetes for Antibacterial


Agents. J Microbiol, 1(2): pp.1-6.

Erlindawati, Puji A. & Afghani, J. 2015. Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri dari
Tiga Isolat Tanah Gambut Kalimantan Barat. JKK, 4(1): pp.12-16.
Hastowo, S. 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali Press.
Iswara, A. 2015. Pola Sensitivitas Eschericia coli Terhadap Antibiotik Metronidazole.
The 2nd University Research Coloquium, 2: pp.273-277.
Kalil, A.C., Schooneveld, T.C.V., Fey, P.D., Rupp, M.E. 2014. Association Between
Vancomycin Minimum Inhibitory Concentration and Mortality Among Patients
With Staphylococcus aureus Bloodstream Infections A Systematic Review and
Meta-analysis. JAMA, 312(15): pp.1552-1564.
Katzung, B.G. 2014. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Penerbit EGC.
Madigan, M.T. & Martinko, J.M. 2006. Brock Biology of Microorganisms 11th
Edition. New Jersey: Pearson Education.

Pelczar, M.J. & Chan, E.C.S. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Rachman, S.D., Safari, A., Fazli, Kamara, D.S., Sidik, A., Udin, L.Z. & Ishmayana, S.
2016. Produksi Penisilin oleh Penicillium chrysogenum L112 dengan Variasi
Kecepatan Agitasi Pada Fermentor 1 L. Kartika J. Ilm. Far, 4(2): pp.1-6.
Rahman, I.R. 2011. Uji Stabilitas Fisik dan Daya Antibakteri Suspense Eritromisin
dengan Suspending Agen Gummi Arabici. Pharmacon, 12(2): pp.44-49.
Soleha, T.U. 2015. Uji Kepekaan terhadap Antibiotik. J Kedokteran UNILA, 5(9):
pp.118-123.
Usmiati, S. 2012. Daging Tahan Simpan dan Bakteriosin. Warta Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 34(2): pp.12-14.
Zaffiri, L., Jared, G. & Luis, H.T.P. 2012. History of Antibiotics From Salvarsan to
Cephalosporins. Journal of Investigative Surgery, 25: pp.67–77.