Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Gastroschisis merupakan kelainan konginental dimana terjadi herniasi
isi abdomen pada umbilicus. Pada gastroschisis organ visera yang biasanya
mengalami herniasi adalah usus. Usus yang mengalami herniasi atau keluar
dari rongga abdomen akan berisiko mengalami infeksi. Gastroschisis hampir
sama dengan omfalokel yang membedakan adalah gastroschisis sebagian
besar terletak disebelah kanan abdomen dan tidak ada hubungannya dengan
abnormalitas kromoson.
Menurut T. W. Sadler, 1997 kelainan gastroschicis terjadi pada
1:10.000 kelahiran , sedangkan omfalokel terjadi pada 2,5:10.000 kelahiran
disertai dengan angka kematian yang tinggi (25 %) dan malformasi berat.
Angka hidup pada pasien gastroschicis lebih tinggi dibanding dengan
omfalokel.
Kondisi kelainan konginental dimana terdapat defek pada abdomen
seperti pada gastroschisis dan omfalokel ini dapat dideteksi lebih dini melalui
pemeriksaan kehamilan.
Penatalaksanaan untuk gastroschis dan omfalokel adalah tindakan
pembedahaan untuk mengembalikan kembali organ visera yang berada pada
luar rongga abdomen ke dalam rongga abdomen. Pembedahan ini dilakukan
setelah persalilanan. Keberhasilan pembedahan bergantung pada ukuran
derajat herniasi yang terjadi dan kondisi jaringan karena terkadang terjadi
nekrosis usus.
Berdasarkan hal tersebut maka kelompok kami akan membahas tentang
asuhan keperawatan pada pasien gastroschisis. Dalam makalah ini
pembahasan meliputi anatomi fisiologi sistem pencernaan, definisi, etiologi,
patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan medis,
penatalaksanaan diet, pengkajian, diagnose dan intervensi untuk pasien
dengan gastroschisis.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan anatomi pencernaan?
2. Apa definisi dari penyakit Gastroschisis?

1.3 Tujuan penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep asuhan keperawatan dengan
Gastroschisis.
b. Tujuan Khusus
1) Memaparkan konsep penyakit Gastroschisis yang meliputi anatomi
fisiologi sistem pencernaan, definisi, etiologi dan faktor risiko,
patofisiologis, manifestasi klinis, komplikasi yang terjadi,
penatalaksanaan medis dan diet serta asuhan keperawatan dengan
Gastroschisis
2) Memahami asuhan keperawatan dengan Gastroschisis dengan
metodologi asuhan keperawatan yang benar.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi dan fisiologi


1. Antomi Pencernaan
a. Mulut
Mulut merupakan bagian pertama dari saluran percernaan. Dinding
kavum oris memiliki struktur untuk mastikasi di mana makanan akan
di potong, di hancurkan oleh gigi, dan di lembapkan oleh saliva.
Selanjutnya makanan tersebut akan membentuk bolus di mana massa
terlapisi salivasi. (Sodikin : 2011)
b. Lidah
Lidah tersusun atas otot yang pada bagian atas dan sampingnya di
lapisi dengan membran mukosa. Lidah menempati kavum oris dan
melekat secara langsung pada epiglotis dalam faring. Tiga ruang mirip
celah membentuk struktur dalam mulut, yang memungkinkan cairan
untuk melintas ke dalam faring. Pada permukaan atas dekat pangkal
lidah terdapat alur berbentuk V yaitu sulkus terminalis yang
memisahkan lidah bagian anterior dan posterior. Permukaan atas lidah
dipenuhi banyak tonjolan kecil yang di sebut sebagai papil lidah.
(Sodikin : 2011)
c. Gigi
Gigi mempunyai ukuran dan bentuk berbeda beda. Setiap gigi
memiliki tiga bagian, yaitu mahkota yang terlihat di atas gusi, leher
yang di tutupi oleh gusi dan akar yang di tahan dalam soket tulang.
Bagian dalam gigi adalah rongga pulpa yang mengandung saraf dan
pembuluh darah. (Sodikin : 2011)
d. Esofagus
Esofagus merupakan tuba otot dengan ukuran 8-10 cm dari kartilago
krikoid sampai bagian kardia lambung. Panjangnya bertambah selama
3 tahun setelah kelahiran, selanjutnya kecepatan pertumbuhan lebih
lambat mencapai panjang dewasa yaitu 23-30 cm. Esofagus turun dan

3
memasuki kavum abdomen melalui suatu apertura dalam diafragma.
Setelah berkisar 1,25 cm, membuka kedalam lambung melalui
orifisium kardiak. (Sodikin : 2011)
e. Lambung
Lambung berbentuk lebar dan merupakan bagian yang dapat
berdilatasi dari saluran cerna. Bentuk lambung bervariasi bergantung
dari jumlah makanan di dalamnya, adanya gelombang peristaltik,
tekanan dari organ lain, respirasi, dan postur tubuh. Posisi dan bentuk
lambung juga sangat bervariasi, biasanya memiliki bentuk J terletak di
kuadran kiri atas abdomen. (Sodikin : 2011)
f. Usus kecil
Usus kecil terbagi menjadi duodenum, jejunum, dan ileum. Usus kecil
memiliki panjang 300 – 350 cm saat lahir, mengalami peningkatan
sekitar 50 % selama tahun pertama kehidupan, dan berukuran ± 6 m
saat dewasa. Deudenum merupakan bagian terpendek dari usus kecil
yaitu sekitar 7,5 – 20 cm dengan diameter 1 – 1,5 cm. Dinding usus
terbagi menjadi empat lapisan, yaitu mukosa, submukosa, muskuler,
dan serosa ( peritonial). (Sodikin : 2011)
g. Usus besar
Usus besar berjalan dari katup ileosaekal ke anus. Usus besar dibagi
menjadi bagian sekum, kolon asedens, kolon transversun, kolon
desendens, dan kolon sigmoid. Panjang usus besar bervariasi, berkisar
sekitar ± 180 cm. (Sodikin : 2011)
h. Hepar ( hati )
Glandula paling besar dalam tubuh dan memiliki berat ± 1.300 –
1.550 gram. Hepar berwarna merah coklat, sangat vascular, dan lunak
berbentuk baji dengan dasar pada sisi kanan dan apeks pada sisi kiri.
Organ ini terletak pada kuadran kanan atas abdomen dan dilindungi
oleh kartilago koskalis. (Sodikin : 2011)
i. Pankreas
Pankreas terletak transversal di perut bagian atas, antara duodenum
dan limpa dalam retroperitonium. Kaput pankreas, yang bersandar

4
pada vena kava dan vena renalis, melekat pada lengkungan C
deudenum dan melingkari di sekat duktus koledokus. (Sodikin : 2011)
j. Peritonium
Merupakan membran serosa yang tipis, licin dan lembab yang
melapisi rongga peritonium dan banyak organ perut seperti cavum
abdomen dan pelvis. Peritonium menutupi visera, walaupun beberapa
hanya ditutupi pada permukaan abdominal dan pelvis. Peritoneum
seperti pleura tersusun dari dua lapisan yang berkotak yaitu lapisan
parietal dan viseral. (Sodikin : 2011)

2. Fisiologi pencernaan
Fisiologi saluran pencernaan terdiri atas rangkaian proses memakan
(ingesti) dan sekresi getah pencernaan ke sistem pencernaan. Getah
pencernaan membantu pencernaan atau digesti pencernaan, hasil
pencernaan akan diserap (diabsorpsi) kedalam tubuh berupa zat gizi.
Proses sekresi, digesti, dan absorbsi terjadi secara berkesinambungan pada
saluran pencernaan, mulai dari atas yaitu mulut sampai ke rektum. Secara
bertahap, massa hasil campuran makanan dan getah pencernaan (bolus)
yang telah di cerna, di dorong (di gerakkan) ke arah anus (motilitas). Sisa
massa yang tidak di absorpsi di keluarkan melalui anus (defekasi) berupa
feses. (Sodikin : 2011)

2.2 Definisi
Menurut kamus keperawatan gastroschisis adalah kelainan
konginental tidak tertutupnya dinding abdomen secara lengkap disebelah
kanan tali pusat yang normal, dengan akibat terjadinya protrusion alat visceral
yang tidak tertutup oleh peritoneum. (Sue Hinchliff : 1999)
Gastroschisis adalah defek dinding abdomen ketebalan penuh yang
ukurannya bervariasi dab biasanya terjadi di sebelah kanan tali pusat. Isi
abdomen yang hernaisi (misalnya usus, lambung, kandung kemih, hepar)
terpajan penuh pada cairan amnion in utero yang menyebabkna tampak tebal
dan kesat. (Paulette S Haws : 2008)

5
Gastroschicis adalah keluarnya usus dari titik terlemah di kanan
umbilikus dimana usus akan berada di luar rongga perut tanpa dibungkus
peritoneum dan amnion. (R. Sjamsuhidayat : 1997)
Gastroschicis adalah penonjolan kulit melalui suatu defek dinding
abdomen (biasanya disebelah kanan tali pusat yang sehat). Usus tidak tertutup
sehingga berisiko infeksi dan trauma. Gastroschicis biasanya tidak
berhubungan dengan abnormalitas kromoson. (Vicky Chapman : 2006)
Gastroschicis adalah herniasi isi perut melalui dinding badan,
langsung ke dalam rongga amnion. Cacat ini terjadi disebelah lateral pusat,
biasanya disisi kanan, melaui suatu daerah yang lemah karena regresi vena
umbilicus kanan, yang normalnya menghilang. Visera tidak terbungkus oleh
peritoneum atau amnion, dan usus bias rusak karena terpajan pada cairan
amnion. (T. W. Sadler : 1997)
Gastroschicis adalah suatu kondisi yang mirip dengan omfalokel,
kecuali bahwa defek dinding abdomen jauh dari umbilicus dan organ
abdomen tidak dilapisi oleh lapisan peritoneum tetapi lebih tertumpah
abdomen secara bebas. (Sharon J. Reeder et all : 2011)
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
gastroschisis adalah kelainan konginental yang terjadi karena adanya defek
pada abdomen yang biasanya terletak disebelah kanan yang menyebabkan
organ visera terletak disebelah luar rongga abdomen tanpa dibungkus
peritoneum dan amnion.

2.3 Etiologi
Gastroschisis kemungkinan disebabkan oleh rupture dasar tali pusat
didaerah yang telah mengalami kelemahan akibat involusi vena umbilikalis
kanan sehingga memudahkan isi abdomen herniasi ke rongga amnion.
(Paulette S Haws : 2008)
Pada awalnya terdapat sepasang vena umbilikalis, yaitu vena
umbilikalis kanan dan kiri. Ruptur tersebut terjadi in-utero pada daerah lemah
yang sebelumnya terjadi herniasi fisiologis akibat involusi dari vena
umbilikalis kanan. Keadaan ini menerangkan mengapa gastroschisis hampir

6
selalu terjadi di lateral kanan dari umbiliks. Teori ini didukung oleh
pemeriksaan USG secara serial , dimana pada usia 27 minggu terjadi hernia
umbilikalis dan menjadi nyata gastroschisis pada usia 34,5 minggu. Setelah
dilahirkan pada usia 35 minggu, memang tampak gastroschisis yang nyata.
(Ishawati Nur Idris : 2011)
Faktor resiko tinggi yang berhubungan dengan omphalocel atau gastroschizis
adalah resiko tinggi kehamilan seperti:
1. Kehamilan berisiko tinggi seperti komplikasi dari infeksi
2. Hamil usia muda
3. Paritas tinggi (semakin banyak kelahiran pada satu ibu semakin tinggi
kemungkinan terkena gastroschisis).
4. Kekurangan asupan gizi pada ibu hamil
5. Merokok
6. Pengguna obat-obatan
7. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan anak BBLR dapat meningkatkan
risiko terjadinya gastroschisis, dan lebih sering pada bayi SGA. (Oden
Mahyudin : 2011)

2.4 Patofisiologi
Menurut Suriadi & Yuliani.R patofisiologi dari gastroschizis atau
omphalocele yaitu selama perkembangan embrio ada suatu kelemahan yang
terjadi didalam dinding abdomen semasa embrio yang mana menyebabkan
herniasi pada isi usus pada salah satu samping umbilicus (yang biasanya
pada samping kanan), ini menyebabkan organ visera abdomen keluar dari
kapasitas abdomen dan tidak tertutup oleh kantong. Terjadi malrotasi dan
menurunnya kapasitas abdomen yang dianggap sebagai anomaly. (Nn :
2011)
Gastroschicis pada janin usia 6 minggu isi abdomen terletak di luar
embrio di rongga selon. Pada usia 10 minggu akan terjadi pengembangan
lumen abdomen sehingga usus dari ekstra peritoneum akan masuk ke
rongga perut. Bila proses ini terhambat akan terbentuk kantong di pangkal
umbilikus yang berisi usus, lambung, dan kadang hati. Dindingnya tipis,

7
terdiri atas lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang keduanya bening
sehingga isi kantong tampak dari luar. Keadaan ini di sebut omfalokel. Bila
usus keluar dari titik lemah di lateral umbilikus baik sisi kanan atau kiri,
usus akan berada di luar rongga perut tanpa di bungkus peritoneum dan
amnion. Keadaan ini di sebut gastroschisis. ( R. Sjamsuhidajat. et al. : 2010)
Gastroschicis terbentuk akibat kegagalan fusi somite dalam
pembentukan dinding abdomen sehingga dinding abdomen sebagian
terbuka. Letak defek umumnya disebelah kanan umbilicus yang berbentuk
normal. Usus sebagian besar berkembang diluar rongga abdomen janin,
akibatnya usus menjadi tebal dan kaku karena pengendapan dan iritasi
cairan amnion dalam kehidupan intra uterin, usus juga tampak pendek,
rongga abdomen janin sempit. Usus – usus, visera, dan seluruh rongga
abdomen berhubungan dengan dunia luar menyebabkan penguapan dan
pancaran panas dari tubuh cepat berlangsung, sehingga terjadi dehidrasi dan
hipotermi, kontaminasi usus dengan kuman juga dapat terjadi dan
menyebabkan sepsis, aerologi menyebabkan usus – usus distensi sehingga
mempersulit koreksi pemasukan kerongga abdomen sewaktu pembedahan.
(Nn : 2011)

2.5 Manifestasi Klinis


Gastroschisis merupakan suatu kelainan ketebalan dinding perut yang
lokasinya biasanya disebelaj umbilicus. Usus yang keluar dari lubang
abdomen memperlihatkan tanda-tanda peritonitis kimia sebagai akibat
pengeluaran cairan amnion. Usus menjadi tebal, pendek dan kaku dengan
edema yang jelas di dinding usus. Karena pengendapan dan iritasi cairan
amnion dalam kehidupan intrauterine. Peristaltic tidak ada, kadang-kadang
terjadi iskemik karena puntiran kelainan fascia. Usus tampak pendek, rongga
abdomen janin menjadi sempit.pada anak memperlihatkan gambaran udara
sebagai hasil dilatasi perut dan usus kecil bagian proksimal, isi intra abdomen
normal jelas terlihat dengan kelainan, yang mana herniasi terjadi pada periode
post natal. (Nn:2009)

8
2.6 Komplikasi
1. Komplikasi dini adalah infeksi yang mudah terjadi pada permukaan yang
telanjang.
2. Kekurangan nutrisi dapat terjadi sehingga perlu balance cairan dan
nutrisi yang adekuat misalnya: dengan nutrisi parenteral
3. Dapat terjadi sepsis terutama jika nutrisi kurang dan pemasangan
ventilator yang lama
4. Nekrosis
Kelainan congenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan
lain yang memperburuk prognosis.
5. Penguapan dan pancaran panas dari tubuh cepat berlangsung, sehingga
terjadi dehidrasi dan hipotermi.
6. Distress pernapasan (kesalahan peletakan isis abdomen akan
menyebabkan gangguan perkembangan paru)
7. Komplikasi dari operasi abdomen adalah peritonitis dan paralisis usus
sementara
8. Bentuk pusar dapat mengalami bentuk yang tidak normal walaupun
dengan bekas luka yang tipis
9. Bila kerusakan usus terlalu banyak, bayi mungkin akan mengalami short
bowel syndrome dan mengalami gangguan pencernaan dan penyerapan.
(Nn : 2011)

2.7 Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendeteksi
kelainan-kelainan pada janin menurut Dr. Greg Agung H. SpOG adalah
1. Pemeriksaan Dalam
Bersamaan dengan pemeriksaan in spekulo, dokter juga akan melakukan
pemeriksaan dalam atau colok vaginal. Dikatakan colok vaginal karena
dilakukan dengan cara perabaan memakai dua jari dokter yang
dimasukkan ke dalam vagina. Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat
besar rahim atau ukurannya, serta untuk mendeteksi adanya kelainan

9
bawaan rahim. “Selain itu, juga bisa teraba kalau ada benjolan tumor
ataupun polip.”
2. In Spekulo
Dilakukan pada ibu hamil muda atau ibu yang pertama kali datang untuk
memeriksakan diri ke dokter ahli kebidanan dan kandungan. Karena itu
in spekulo dikatakan sebagai pemeriksaan dasar. Pemeriksaan ini
menggunakan spekulum cocor bebek yang dimasukkan ke vagina.
Gunanya untuk melihat keadaan permukaan di leher rahim. Dari
pemeriksaan ini, dokter akan mengetahui apakah ibu yang datang sedang
hamil muda atau tidak. Sebab, kala hamil muda rahim akan berubah
warna agak keunguan. Dari pemeriksaan ini pula dokter akan mengetahui
apakah di permukaan leher rahim ada infeksi, jengger ayam/kandiloma,
varises, ataupun bila ada keganasan atau kanker leher rahim. Dengan
demikian, bila dari hasil pemeriksaan ditemukan hal-hal tersebut dokter
bisa segera menentukan langkah-langkah pengobatannya.
3. Pemeriksaan USG
USG juga bisa melihat jumlah bayinya, apakah bayinya terletak di dalam
atau di luar kandungan, serta lokalisasi plasenta. Bahkan USG serial
mampu menilai perkembangan siklus dari telur tiap harinya. Juga untuk
memantau masa subur si wanita. Tidak hanya di trimester I, USG juga
perlu dilakukan di usia kehamilan trimester II dan III. “USG yang
dilakukan pada trimester II gunanya untuk skrining bayi. Sedangkan di
trimester III dilakukan untuk memantau proses persalinan
4. Pemeriksaan Luar
Dilakukan dengan meraba rahim dari luar untuk melihat pembesaran
rahim, letak janin, gerakan janin, serta kontraksi rahim. Dari pemeriksaan
ini pula akan diketahui apabila pembesaran rahim tak sesuai usia
kehamilannya. Kalau rahimnya besar, tapi tak sesuai dengan usia
kehamilannya, maka dokter perlu mencari tahu, apakah janinnya besar
atau tidak. Di trimester III, pemeriksaan luar akan dibantu dengan
doppler atau CTG/Cardiotokografi untuk merekam denyut jantung
bayinya.

10
5. Pemeriksaan Pap Smear
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi dini kelainan-kelainan yang
ada di leher rahim atau untuk menilai sel-sel leher rahim. Mengapa
demikian? Karena sel-sel leher rahim selalu berubah sesuai siklus.
Bukankah pengaruh hormon estrogen dan progesteron menyebabkan
perubahan pada sel-sel selaput lendir vagina? Sehingga secara tak
langsung pemeriksaan ini juga berguna untuk mengetahui fungsi
hormonal. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil getah
serviks kemudian diperiksa di laboratorium.
6. Kolposkopi
Dilakukan bila ada kecurigaan di daerah leher rahim dengan cara
diteropong. Alat kolposkopi terdiri atas dua alat pembesaran optik yang
ditempatkan pada penyangga yang terbuat dari besi. “Dengan teropong
kolposkopi, kita bisa membesarkan hal-hal yang dicurigai didaerah leher
rahim hingga 20 kali lebih besar.” Bukan hanya peneropongan, alat ini
juga sekaligus bisa langsung memberikan tes. Artinya, dengan
disemprotkan obat tertentu, maka daerah yang dicurigai itu akan berubah
warna menjadi putih atau warna lain.
7. Biopsi
Adalah pengangkatan dan pemeriksaan jaringan dari leher rahim untuk
tujuan diagnosa. “Kalau pada pemeriksaan pap smear dilakukan dengan
cara mengambil hapusan cairan leher rahim. Kalau biopsi, jaringannya
yang diambil dengan semacam alat atau jepitan.” Selanjutnya, jaringan
yang telah diambil itu dikirim ke laboratorium. “Biasanya biopsi
dilakukan bila ada kecurigaan berupa benjolan asing atau ada perubahan
anatomi. Karena itu harus dilakukan pengambilan jaringan untuk melihat
apakah benjolan asing itu adalah polip, tumor, atau kanker.
8. Kuret D/C atau Diagnostik Kuretase
Diagnostik kuretase dilakukan untuk mengambil sel-sel dari jalan lahir.
“Biasanya dilakukan pada pasien yang mengalami perdarahan diluar
haid. Apalagi bagi yang sudah menopause.” Gunanya untuk mendeteksi
kelainan-kelainan di jalan lahir atau di dalam rahim atau bila ada

11
keganasan. Waktu pemeriksaan bisa dilakukan kapan saja bila ada
perdarahan.
9. Pemeriksaan BV (Bakterial Vaginosis) atau SWAB vagina
Dilakukan pada pasien-pasien yang terkena infeksi berulang. Misalnya,
keputihan yang berulang atau radang panggul yang tak kunjung
sembuh.Bila ada gejala seperti di atas, maka dokter akan mengambil
cairan di vaginanya untuk dilihat di laboratorium. Kuman-kuman apakah
yang ada di dalamnya. “Dari situ kita bisa memberi obat sesuai kuman
yang didapat di daerah itu. Biasanya obatnya berupa antibiotik disertai
cairan pembersih vagina untuk memanipulasi pH vagina agar menjadi
asam
10. HSG/Histero Salvingografi
Seperti halnya hidrotubasi, HSG dilakukan untuk menilai saluran tuba
dan tumor-tumor yang ada di sekitarnya. “Saluran tuba ini bisa
terbelokkan oleh adanya tumor. Karena itu diperlukan pemeriksaan
HSG.” Pemeriksaan HSG juga dilakukan pada hari ke-7 hingga ke-11
siklus haid. “Karena saat itu dinding dalam rahim paling tipis, juga sel
telur tidak ada, sehingga paling pas untuk dilakukan pemeriksaan HSG
ataupun hidrotubasi.
11. Hycosy/Histero Salvingo Sonografi
Sama seperti halnya HSG, pemeriksaan ini digunakan untuk menilai
saluran tuba. “Jika HSG menggunakan zat radioaktif, maka hycosy
memakai bantuan USG vaginal.” Hycosy merupakan pencanggihan dari
hidrotubasi. Jadi, bisa dilakukan sekaligus dengan hidrotubasi.
12. Histeroskopi
Suatu alat yang masuk ke dalam rahim yang dilengkapi dengan kamera,
sehingga visualisasi yang dicapai lebih baik. “Sementara kalau HSG
tidak bisa melihat permukaan dalam rahim, seperti kalau ada polip, maka
dengan histeroskopi akan terlihat permukaan dalam rahim dan saluran
tuba.” Histeroskopi juga sekaligus bisa untuk diagnosis dan terapi. “Jadi,
kalau ditemukan polip di rahim, kita bisa langsung melasernya. Pun

12
kalau ada kelainan lainnya bisa langsung diambil. Bahkan kalau ada
sekat dalam rahim, bisa langsung dilakukan pemotongan sekat tersebut.
13. Laparoskopi
Pemeriksaan untuk melihat bagian dalam rahim secara keseluruhan. Jadi,
semuanya akan kelihatan. Dalam pemeriksaan ini akan dimasukkan suatu
alat teropong yang ditembuskan melalui perut. Itulah mengapa,
pemeriksaan laparoskopi termasuk dalam tindakan operatif.

2.8 Penatalaksanaan
Bila usus atau organ intra abdomen terletak diluar abdomen, maka akan
meningkatkan resiko kerusakan bila melewati kelahiran normal. Banyak ahli
menganjurkan diberlakukan seksio sesaria untuk semua kasus Gastroschisis.
Kondisi gastroschisis ini diperbaiki setelah persalinan melui pembedahan.
1. Penatalaksanaan medis
a. Perawatan prabedah
1) Terpeliharanya suhu tubuh, kehilangan panas dapat berlebihan
karena usus yang mengalami prolaps sangat meningkatkan area
permukaan
2) Pemasangan NGT dan pengisapan yang kontinu untuk mencegah
distensi usus – usus yang mempersulit pembedahan
3) Penggunaan bahan sintetik dengan lapisan tipis yang tidak
melengket seperti xeroform, kemudian dengan pembungkus untuk
menutup usus atau menutup dengan kasa lembab dengan cairan
NaCl steril untuk mencegah kontaminasi
4) Terapi intravena untuk dehidrasi
5) Antiseptic dengan spectrum luas secara intravena, besarnya
kantong serta luasnya cacat dinding perut dan ada tidaknya hepar
didalam kantong, akan menentukan cara pengelolaan.
6) Terapi oksigen untuk membantu pernafasan. (Nn : 2011)
b. Pembedahan
Dilakukan secara bertahap tergantung besar kecilnya lubang pada
dinding abdomen. Tujuan pembedahan adalah untuk mengembalikan

13
visera kedalam kavum abdomen dan menutup lubang abdomen.
Operasi ini harus dikerjakan secepat mungkin sebab tidak ada
perlindungan infeksi. Operasi dua tahap :
1) Tahap I
Permukaan luar kantong disiapkan bersama-sama dengan kulit
seluruh badan. Pangkal umbilikus direamputasi dan diikat dekat
batasnya dengan kantong. Kulit diiris melingkar 1 cm dari tepi
kantong yang tidak boleh dibuka. Kulit dan jaringan subkutan
dinding abdomen dan panggul secara ekstensif dilepaskan dari
lapisan aponeurosis untuk memungkinkan masa ekstra abdomen
ditutup dengan potongan kulit yang viabel. Diseksi toraks harus
dibatasi sesedikit mungkin sesuai dengan penutupan kulit yang
diberikan. Potongan kulit diangkat dengan forsep jaringan dan
penutupan dilakukan dengan memakai jahitan kasur simpul.
2) Tahap II
Tahap ini ditunda sampai ronga perut berkembang dan telah
dimungkinkan mereduksi hernia ventral jika anak berbaring dengan
tenang. Pada waktu operasi kulit dan kantong yang berlebihan
dieksisi dan peritoneum, lapisan-lapisan fasia serta kulit didekatkan
seperti pada reparasi tahap I. (Nn : 2009)
c. Pasca bedah
1) Perawatan pasca bedah neonates rutin
2) Terapi oksigen maupun ventilasi mekanik kemungkinan diperlukan
3) Dilakukan aspirasi setiap jam pada tuba nasogastrik
4) Pemberian antibiotika
5) Terapi intravena diperlukan untuk perbaikan cairan
Pada sekitar 7-12 hari pasca pembedahan anak akan kembali
mengalimi pembedahan untuk menjalani perbaikan cacat, namun ini
tergantung kondisi bayi (lemah atau tidak). (Nn : 2011)

14
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN

Pengkajian dilakukan pada tanggal 4 November 2013 pukul 14.30 WITA di


ruang Angsa No. 4 RSUD Wangaya. Pasien masuk rumah sakit pada tanggal
2 Desember 2013 pukul 15.30 WITA. Data diperoleh melalui pasien
langsung, keluarga pasien, dan catatan medik. No CM 667569 yang
dilakukan dengan metode anamnesa, observasi, dan pemeriksaan fisik.
A. Identitas Pasien Penanggung
Nama : “WS” “NY”
Umur : 48 tahun 38 tahun
Jenis kelamin :Perempuan Laki-laki
Agama : Hindu Hindu
Pekerjaan :Bertani Pegawai Swasta
Pendidikan : SMA SMA
Status : Belum menikah Sudah menikah
Alamat :Jalan Raya Kayu Tulang N0 25 Badung-Bali
Diagnosa Medis : Gastritis akut + obs. Febris susp DHF
Sumber biaya : Umum
Hubungan dengan pasien : - Adik Pasien

B. Riwayat Keperawatan
1. Keluhan Utama
 Saat masuk rumah sakit pasien mengeluh nyeri pada ulu
hati,terasa kembung,mual (+) muntah(+),demam (+)
 Saat pengkajian dilakukan pasien mengeluh masih merasa sedikit
nyeri pada ulu hati dan masih merasakan mual,sedikit pusing
2. Riwayat Penyakit Sekarang
 Pasien datang melalui IRD RSUD Wangaya pada tanggal 2
Desember 2013 pada pukul 15.30 WITA diantar oleh ambulance,

15
adik pasien mengeluh nyeri pada ulu hati sejak 3 hari yang
lalu,terasa kembung,mual(+),muntah(+) 3x sejak tadi
pagi,demam(+)
 Pasien kini dirawat di Ruang Angsa RSUD Wangaya No. 4
dengan diagnose Gastritis akut + obs. Febris susp DHF. Terapi
yang didapat saat ini :
 IVFD NaCl 0,9 % ( 20 tpm )
 pantoprasol 1x4 gram
 Invomit 3x1 tablet (8 mg)
 Sukralfat syrup 3 x1 sdt (500 mg/5l)
 Antacid syrup 3x1 sdt
 Cobazym 3000 2x1
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan sebelumnya belum pernah masuk rumah sakit
dan sebelumnya belum pernah menderita penyakit yang sekarang
dialami.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit keturunan
seperti Diabetes Mellitus dan Hipertensi serta penyakit menular
seperti Hepatitis dan TBC.

C. Data Bio- Psiko- Sosial – Spiritual


1. Bernafas
Pasien tidak mengalami gangguan dalam bernafas.Saat pengkajian
respiration rate(RR) 20x/menit.
2. Makan dan minum
 Makan : Keluarga pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit
pasien biasa makan 2-3 x sehari dan habis 1 porsi. Selama di rumah
sakit pasien hanya diberikan bubur dan hanya bisa menghabiskan 3
sendok saja.
 Minum : Sebelum masuk rumah sakit pasien biasa minum 8 gelas
sehari. Selama di rumah sakit pasien minum 4 gelas sehari.

16
3. Eliminasi
Sebelum masuk rumah sakit pasien biasa BAB 1 kali sehari, saat
pengkajian keluarga mengatakan bahwa pasien sulit untuk BAB,
Selama masuk RS pasien belum BAB. Sebelum masuk rumah sakit
dan saat dirumah sakit pasien mengatakan tidak mengalami masalah
BAK dan saat pengkajian pasien mengatakan sudah BAK 3 kali dari
pagi.
4. Gerak dan aktivitas
Sebelum MRS pasien dapat beraktivitas sendiri tanpa dibantu oleh
orang lain, namun setelah MRS pasien sulit untuk beraktivitas dan
biasanya dibantu oleh adiknya.
5. Istirahat dan tidur
Sebelum MRS pasien dapat tidur dengan nyenyak dirumah dan setelah
MRS keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak bisa tidur
nyenyak karena pasien merasa sedikit asing dengan kondisi rumah
sakit.
6. Kebersihan Diri
Sebelum masuk rumah sakit pasien biasa mandi 2 kali sehari, saat di
rumah sakit pasien tidak bisa mandi sendiri, pasien biasanya dilap oleh
keluarganya 1 kali sehari.
7. Pengaturan Suhu Tubuh
Saat pengkajian suhu tubuh pasien 37,5 0C.
8. Rasa Nyaman
Pada saat pengkajian pasien merasakan nyeri pada ulu hati
9. Rasa Aman
Pada saat pengkajian pasien merasa gelisah karena pusing dan nyeri
ulu hati yang dialaminya. Risiko jatuh sedang.
10. Sosialisasi dan Komunikasi
Pasien tidak memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan keluarga
maupun orang lain dan pasien merasa senang jika ada keluarganya
datang untuk menjenguk dirinya.

17
11. Prestasi
Pasien bekerja sebagai petani dan tidak memiliki prestasi.
12. Ibadah
Pasien beragama Hindu, selama dirumah sakit pasien diwakilkan oleh
keluraganya untuk bersembahyang di Rumah Sakit.
13. Rekreasi
Sebelum masuk rumah sakit pasien lebih banyak menghabiskan
waktunya di sawah atau ladangnya.
14. Pengetahuan/ belajar
Pasien ingin tau dan mau belajar mengenai cara untuk menyembuhkan
penyakitnya. Pasien selalu mengikuti terapi yang dianjurkan oleh
dokter.

D. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
Kesadaran : Compos Mentis
Postur tubuh : Kurus
Warna kulit : Sawo matang
Turgor kulit : Normal
Kebersihan diri : Kurang
2. Gejala Kardinal
Suhu : 37,5 0C
TD : 100/60 mmHg
RR : 20 x/ menit
Nadi : 88 x/ menit
BB : 60 kg
TB : 160 cm
3. Keadaaan Fisik
a. Kepala : Simetris, bentuk lonjong, terdapat uban, rambut
tersebar merata, rambut putih, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri
tekan dan tidak ada lesi.

18
b. Mata : Simetris, kornea normal, konjungtiva pucat, reflek pupil
+/+, sklera putih, pupil isokor
c. Telinga : Simetris, pendengaran baik.
d. Mulut : Mukosa bibir lembab, keadaan gigi dan mulut
bersih.
e. Leher : Simetris, tidah ada pembesaran vena jugularis
f. Thorax : Simetris, ada nyeri, gerakan tidak teratur,
tidak ada benjolan
g. Abdomen : Simetris. tidak ada lesi, kembung, nyeri pada ulu
hati.
h. Ekstremitas : - Atas : Terpasang infus di tangan kiri tidak
ada lesi.
- Bawah : Tidak terdapat varises, lesi (-).
i. Genetalia : Tidak terkaji.

E. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan Hematologi pada tanggal 4 Desember 2013 pukul
07.58
No Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai
Rujukan

1 Jumlah Leukosit H 8,24 10`3/ul 4,0-10,0

2 Jumlah eritrosit 4,39 10`6/ul 4,20-5,40

3 Hemoglobin 12,8 g/dl 12-16

4 Hematokrit L 34,5 % 37,0-47,0

5 MCV L 78,6 fL 81,0-96,0

6 MCH L 29,2 Pg 27,0-36,0

7 MCHC H 37,1 g/l 31-37

8 Neutrofil L 22,3 % 50-70

9 Limfosit H 46,0 % 20-40

19
10 Monosit H 18,2 % 2-8

11 PCT L 0,11 % 0,17-0,35

12 Jumlah trombosit L 95 10`3/ul 150-400

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

A. Analisa Data

No. Data Fokus Data Standar Masalah Keperawatan

1. DS : Pasien mengeluh nyeri - Pasien tidak Gangguan rasa


ulu hati,mual,sedikit merasakan nyeri,skala nyaman (nyeri akut)
pusing,skala nyeri 4(0-5) nyeri 0-1

- Pasien tidak mual

DO: Pasien tampak meringis -Pasien tidak meringis


kesakitan sambil memegang
perutnya,pasien tampak -Pasien tenang
gelisah

Suhu : 37,5 0C

TD : 100/60 mmHg

RR : 20 x/ menit

Nadi : 88 x/ menit

BB : 60 kg

TB : 160 cm

2. DS : Keluarga pasien - Pasien dapat Perubahan nutrisi


mengatakan pasien hanya menghabiskan 1 porsi kurang dari kebutuhan
dapat menghabiskan 3 sendok yang diberikan tubuh
bubur yang diberikan,mual
serta muntah setiap kali
diberikan makan

DO : mukosa bibir
kering,pasien tampak lemah

20
-mukosa bibir lembab

-Pasien tampak segar

3. DS: Pasien mengatakan nyeri - Pasien dapat Intoleransi aktivitas


ulu hati saat beraktivitas beraktivitas seperti
sehingga pasien hanya ingin biasanya
berbaring

DO: Pasien lemah,aktivitas


dibantu oleh keluarga -Pasien tampak segar

-Activity daily life


dilakukan secara
mandiri

4. DS: Keluarga pasien - Pasien dan keluarga Kurang pengetahuan


mengatakan tidak tau cara bisa mempertahankan
menangani penyakit pasien dan meningkatkan
terutama saat dirumah derajat kesehatan px
terutama di rumah
DO: Pasien dan keluarga
tampak pasrah menerima
pengobatan yang diberikan,
keluarga selalu bertanya saat
perawat dan dokter
memberikan pengobatan

B. Analisa Masalah

1. P : Gangguan rasa nyaman (nyeri).


E : spasme otot abdomen akibat dari muntah.
S : Pasien mengeluh nyeri ulu hati,mual,sedikit pusing,skala nyeri 4 (0-
5).
Proses terjadi:
Akibat bila tidak ditanggulangi : infeksi sistemik akut.

21
2. P : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
E : intake nutrisi yang kurang adekuat.
S : Keluarga pasien mengatakan pasien hanya dapat menghabiskan 3
sendok bubur yang diberikan,mual serta muntah setiap kali diberikan
makan, mukosa bibir kering,pasien tampak lemah.
Proses terjadi .
Akibat bila tidak ditanggulangi : malnutrisi
3. P : Intoleransi aktivitas.
E : Kelemahan.
S : Pasien mengatakan nyeri ulu hati saat beraktivitas sehingga pasien
hanya ingin berbaring.
Proses terjadi :
Akibat bila tidak ditanggulangi :
4. P : Kurang pengetahuan.
E : Dengan kurangnya informasi, tidak mengetahui sumber informasi
perawatan diri yang akan dilakukan di rumah.
S : Keluarga pasien mengatakan tidak tau cara menangani penyakit
pasien terutama saat dirumah, pasien dan keluarga tampak pasrah
menerima pengobatan yang diberikan, keluarga selalu bertanya saat
perawat dan dokter memberikan pengobatan.
 Proses terjadi: ketidaktahuan akan suatu penyakit menyebabkan
ketidak mampuan untuk mengatasi penyakit tersebut sehingga
menyebabkan tidak terjaganya kesehatan.
 Akibat bila tidak ditanggulangi : dapat menyebabkan penyakit yang
dialami semakin parah.

C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan spasme otot
abdomen akibat dari muntah ditandai dengan pasien mengeluh nyeri ulu
hati,mual,sedikit pusing,skala nyeri 4(0-5).
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi yang kurang adekuat ditandai dengan Keluarga pasien

22
mengatakan pasien hanya dapat menghabiskan 3 sendok bubur yang
diberikan,mual serta muntah setiap kali diberikan makan, mukosa bibir
kering,pasien tampak lemah.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan
pasien mengatakan nyeri ulu hati saat beraktivitas sehingga pasien
hanya ingin berbaring.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi, tidak
mengetahui sumber informasi perawatan diri yang akan dilakukan di
rumah.

23
3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional

1 Gangguan rasa Setelah diberikan a. Kaji keluhan nyeri termasuk lokasi, a. Membandingkan gejala nyeri
nyaman (nyeri) askep selama 2x lamanya dan intensitas ( 1-10) sebelumnya sehingga dapat
berhubungan 24 jam membantu mendiagnosa etiologi
dengan spasme diharapkan nyeri perdarahan dan terjadinya komplikasi.
otot abdomen pasien berkurang
akibat dari / hilang dengan
muntah ditandai kriteria b.Membantu membuat diagnosa dan
dengan pasien kebutuhan terapi.
mengeluh nyeri -Pasien
ulu menyatakan
hati,mual,sedikit nyeri hilang
pusing,skala nyeri b. Kaji ulang factor-faktor yang dapat
-Pasien nampak
4(0-5) menurunkan dan meningkatkan rasa c. Membantu mengurangi nyeri
rileks, muka
nyeri
tenang

- Pasien dapat
d. Mencegah distensi dan haluaran
tidur/
gastrin
istirahat
dengan
nyaman c. Ubah posisi sesuai indikasi untuk e.Nafas bau karena meningkatnya

24
memberikan rasa nyaman. sekret menimbulkan tak nafsu makan
dan dapat meningkatkan mual

d. Beri makanan sedikit tapi sering.


f. Makanan khusus ( mis : kafein )
dapat menyebabkan disstres dan
dispepsia

g.Menurunkan kekakuan sendi,


meminimalkan nyeri
e. Beri perawatan mulut sebelum dan
sesudah makan.
h.Tanda vital dapat menunjukkan
tingkat nyeri.

i.Pengaturan diet lambung dapat


f. Identifikasi dan batasi makanan mengurangi nyeri
yang menimbulkan rasa nyeri.
Analgesik untukmenghilagkan nyeri
dan menurunkan aktivitas peristaltik..

25
Antasida dapat menurunkan
keasaman gaster dengan absorpsi atau
dengan menetralisir kimia.
g. Bantu latihan rentang gerak aktif Antikolinergik diberian pada waktu
dan pasif. tidur untuk menurunkan motilitas
gaster, menekan produksi asam,
memperlambat pengosongan gaster,
dan menghilangkan nyeri nokturnal
sehubungan dengan ulkus gaster.

h. Observasi tanda- tanda vital tiap 8


jam

i. Kolaborasi dengan tim kesehatan


lain untuk :

- Pengaturan diet.

26
- Pemberian obat :

Analgesik, antasida, antikolinergik.

2 Perubahan nutrisi Setelah diberikan a. Pertahankan puasa selama a. Puasa bertujuan mengistirahatkan
kurang dari askep selama 2x gejala akut masih nampak lambung dan usus sehingga
kebutuhan tubuh 24 jam mengurangi produksi asam lambung.
berhubungan diharapkan
dengan intake Gangguan nutrisi
nutrisi yang dapat teratasi b. Menunjukkan gangguan nutrisi yang
kurang adekuat dengan kriteria : b. Observasi adanya berat sehuingga mempengaruhi SSP
ditandai dengan hipersalivasi, menggigil,
Keluarga pasien - kehilang gemetardan tanda-tanda
mengatakan an berat vital tidak normal
badan c. Membantu membedakan penyebab
pasien hanya
minimal disstres gaster.
dapat
menghabiskan 3 - intake
sendok bubur nutrisi
yang c. Observasi karakteristik d. Memberikan rasa nyaman kepada
adekuat
diberikan,mual muntahan pasien sehingga tidak memperberat
serta muntah - pasien mual dan tidak menurunkan nafsu
setiap kali dapat makan.
diberikan makan, menghab
mukosa bibir iskan

27
kering,pasien porsi d. Bersihkan muntahan
tampak lemah makan secepatnya, berikan
yang perawatan oral e. Mengurangi bau dari muntahan
disediaka sehingga dapat memberikan
n. kenyamanan dan meningkatkan nafsu
makan
- Mual
muntah
tidak ada f. Mencegah distensi dan haluaran
e. Pertahankan lingkungan gastrin
- TB dan yang nyaman dan
BB berventilasi baik
seimbang

- Iritasi
gastroint g. Dapat memacu sindrom dumping
estinal
berkuran
g f. Berikan makanan cair sesuai
kebutuhan nutrisi dalam
jumlah kecil sering
h. Dapat memberikan informasi tentang
keadekuatan masukan diet / penentuan
kebutuhan nutrisi.

g. Batasi makanan yang dapat

28
menyebabkan kram
abdoment ( mis : produk
susu ) i. Sedative untuk mengurangi nyeri
dan membantu pasien beristirahat.

Antasida untuk mempertahankan pH


h. Catat intake dan output gaster pada 4,5 atau lebih serta
dalam perubahan menghambat absorpsi gaster terhadap
simtomatologi antagonis histamin

Simetidin adalah penghambat


histamin H2 untuk menurunkan
produksi asam gaster, meningkatkan
i. Kolaborasi dengan tim pH dan menurunkan iritasi pada
kesehatan lain dalam : mukosa gaster untuk penyembuhan dan
mencegah pembentukan lesi
- Pemberian sedative, antasida,
cemitidin, vit. B12 dan antibiotika Vit. B12 untuk mencegah anemia
kalau perlu pernisiosa

- Pemberian nutrisi parenteral total Antibiotika digunakan untuk


dan terapi intravenous sesuai infeksi oleh Campylobacter pylori atau
indikasi H. pylori

- Pengaturan diet ( konsul gizi ). Menjamin pemasukan nutrisi yang


adekuat

29
Mengatur diet yang sesuai dengan
keadaan dan kebutuhan pasien.

3 Intoleransi Setelah diberikan a. Bantu ADL pasien a. Mengetahui aktivitas yang bisa
aktivitas askep selama 2x dilakukan
berhubungan 24 jam b. Kaji respon individu thd aktivitas
dengan diharapkan px b. Mengetahui pengetahuan pasien
c. Monitor tanda-tanda vital terhadap kelemahan nya
kelemahan mampu
ditandai dengan beraktivitas d. Hentikan aktivitas bila px c. Agar kelemahan tidak
pasien dengan kriteria mengeluh nyeri atau pusing berkelanjutan
mengatakan nyeri hasil ADL
e. Anjurkan ADL secara bertahap d. Pasien dapat dengan segera
ulu hati saat mandiri,px
beraktivitas tampak mandiri
sehingga pasien segar,tidak nyeri
hanya ingin ulu hati dan
berbaring perut saat
aktivitass

4 Kurang Setelah diberikan 1. Bantu pasien mengerti tentang tujuan 1. Pasien harus mengetahui bahwa ada
pengetahuan askep selama 2x metode dan rencana dimana ia

30
berhubungan 24 jam jangka pendek dan jangka panjang memberikan peran yg besar. Pasien
dengan diharapkan harus mengetahui apa yg diperkirakan.
kurangnya kepatuhan Mengajarkan pasien akan kondisinya
informasi, tidak dengan program merupakan hal yg penting untuk
mengetahui terapeutik dan meningkatkan kondisinya.
sumber informasi perawatan di
perawatan diri rumah, dgn
yang akan outcome:
dilakukan di
rumah - Px dan
keluarga bisa
mempertahankan
& meningkatkan
derajat kesehatan

31
3.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

No Hari/tgl/jam No.Dx Tindakan Keperawatan Evaluasi Formatif Paraf

1 Rabu,4 1,2,3 - Mengobservasi KU - Pasien tampak


Desember pasien lemah,mengatakan
2013 Pukul nyeri ulu hati,skala
14.30 4 (0-5)
- Meninggikan tempat
tidur pasien

- Pasien
Kooperatif
- Mengukur tanda-
tanda vital

-S : 37,5 0C

TD : 100/60
mmHg

RR : 20 x/
menit

N : 88 x/
menit

BB : 60 kg

Pukul 15.00 1,2 - Kolaborasi pemberian - Pasien kooperatif


WITA
 Antacid syrup
1sdt

 Sucralfat syrup
1sdt

 PCT 1x500 mg
- Pasien kooperatif
- Anjurkan pasien
untuk minum air
hangat dan meghindari
minuman seperti susu
yang dapat

32
menyebabkan kram
abdomen

Pukul 15.10 3 - Berikan dorongan - Pasien dan


Wita untuk menyelingi keluarga
aktivitas dengan kooperatif
4 istirahat
- Pasien dan
2 - Memberikan HE pada keluarga
pasien dan keluarganya kooperatif dan
mengatakan mau
- Mencatat intake dan mengikuti saran
output cairan yang diberikan

-Jumlah cairan
masuk : ( RL
=1000 cc)+oral
(jenis air =1200) =
2200

Jumlah BAK
(1200) = Total
cairan
keluar(1200)

2 Kamis,5 1,2,3 - Kolaborasi pemberian - Pasien kooperatif


Desember obat
2013 Pukul
07.00  Antasid syrup
1sdt

 Sucralfat syrup
1sdt

 PCT 1x500 mg

 Pantoprazol 1x
40 mg
-Pasien
-Mengobservasi KU mengatakan masih
pasien mual,hanya dapat
menghabiskan ¼
porsi makanan
,pasien masih
tampak

33
lemah,ADL masih
dibantu,pasien
mengatakan nyeri
ulu hatinya sudah
berkurang skala 2
(0-5)

Pukul 08.00 4 - Memberikan HE - Pasien dan


Wita pada pasien dan keluarga
keluarganya kooperatif dan
mengatakan mau
mengikuti saran
yang diberikan

Pukul 11.00 1,2,3 -Mengobservasi TTV S : 360 C


WITA
TD : 120/40
mmHg

RR : 20 x/
menit

N : 88 x/
menit

BB : 60 kg

Pukul 12.00 2 - Mengobservasi - pasien


WITA ma/mi px mengatakan masih
mual,ma/mi ½
-Mengganti cairan porsi
infus px
- Diberikan RL
dengan 30 tpm
(500 cc)

Pukul 14.00 -Melakukan operan -Bersedia


WITA pasien dengan teman menerima operan

34
Pukul 16.00 1,2,3 - Mengobservasi TTV - Suhu: 370 C
Wita
- TD : 110/70

- RR: 20

- Kolaborasi Pemberian - Nadi: 84


obat

 Antasid syrup
- Pasien kooperatif
1sdt

 Sucralfat syrup
1sdt

 PCT 1x500 mg

Pukul 17.00 3 -Membantu mengelap -Pasien kooperatif


WITA pasien dan mengatur
posisi tidur pasien

Pukul 18.00 2 - Mengobservasi ma/mi - Pasien


WITA px mengatakan mual
sudah
berkurang,dan
tidak muntah saat
makan.keluarga
pasien mengatakan
pasien dapat
menghabiskan ¾
porsi yang
diberikan

Pukul 19.00 4 -Memberikan HE -Pasien serta


WITA kepada pasien dan keluarga pasien
keluarga pasien kooperatif
mendengarkan
informasi yang
diberikan dengan
seksama dan mau
mengikuti saran
yang diberikan

Pukul 20.00 Melakukaan operan Bersedia


WITA kepada teman menerima operan

35
Pukul 23.00 1,2,3 -Meninggikan tempat -Pasien Kooperatif
tidur pasien
- Pasien kooperatif
- Kolaborasi Pemberian
obat

 RL 30 tpm (500
cc)

 Antasid syrup
1sdt

 Sucralfat syrup
1sdt

 PCT 1x500 mg -Jumlah cairan


masuk : ( RL
-Mencatat intake dan =1400 cc)+oral
output cairan (jenis air =1200) =
2600

Jumlah BAK
(1200) = Total
cairan
keluar(1200)

3 Jumat,6 1,2,3 -Mengobservasi KU -Pasien


Desember pasien mengatakan sudah
2013 Pukul tidak mual,nyeri
07.00 Wita ulu hati nya juga
semakin berkurang
skala 1(0-5),pasien
mengatakan sudah
bias menghabiskan
1 porsi makanan
-Kolaborasi pemberian yang diberikan,dan
sudah mampu
 RL 30 tpm (500 beraktivitas secara
cc) mandiri

 Antasid syrup
1sdt
-Pasien kooperatif
 Sucralfat syrup

36
1sdt

 PCT 1x 500 mg

 Pantoprazol
1x40 mg

Pukul 10.30 1,2,3 - Mengobservasi TTV - Suhu: 36,5 0C


WITA
- TD : 120/80
mmHg

- RR: 20 x/ menit

- Nadi: 80 x/ menit

Pukul 11.00 1,2,3,4 - Mengobservasi KU - Pasien


Wita Pasien mengatakan sudah
lebih enakan dari
yang sebelumnya
dan skala nyeri 0
(0-5) dan pasien
- Menanyakan sejauh mengtakan ketika
mana pemahaman ada visite dari
pasien dan keluarga dokter pasien
mengenai penyakit dan diperbolehkan
cara mengatasinya saat untuk pulang
berada di rumah
- Pasien dan
Keluarga dapat
menjelaskan
kembali apa yang
kemarin sudah
dijelaskan sama
perawat

3.5 EVALUASI

No Hari/tgl/jam No.Dx. Evaluasi Sumatif Paraf

1 Jumat,6 1 S : Pasien mengatakan sudah


Desember 2013 tidak merasakan nyeri ulu hati

37
Pukul 11.00 O: Pasien tampak segar,pasien
WITA tampak tenang

A : Masalah teratasi

P : Hentikan intervensi

Pasien diperbolehkan pulang

2 Jumat,6 2 S : Keluarga pasien mengatakan


Desember 2013 pasien sudah bisa menghabiskan
Pukul 11.00 1 porsi makanan dari makanan
WITA yang diberikan,pasien
mengatakan tidak merasa
mual,muntah(-)

O : Pasien tampak segar,pasien


tampak tenang,tidak ada
penurunan berat badan (BB=60
kg )

A : Masalah teratasi

P : Hentikan intervensi

Pasien diperbolehkan pulang

3 Jumat,6 3 S: Pasien mengatakan sudah


Desember 2013 mampu beraktivitas secara
Pukul 11.00 mandiri
WITA
O: Pasien tampak mandiri dalam
melakukan ADL

A : Masalah Teratasi

P : Hentikan intervensi

Pasien diperbolehkan pulang

4 Jumat,6 4 S: Keluarga pasien mengatakan


Desember 2013 sudah paham dan mengerti
Pukul 11.00 dengan apa yang dijelaskan
WITA
O: Pasien dan keluarga tampak
mengerti dengan apa yang sudah
dijelaskan, px dan keluarga bisa

38
mengulangi penjelasan yang
telah diberikan

A : Masalah sudah teratasi

P : Hentikan Intervensi

39
BAB IV
PENUTUP

4.1.Simpulan
Gastroschisis adalah kelainan konginental yang terjadi karena adanya
defek pada abdomen yang biasanya terletak disebelah kanan yang
menyebabkan organ visera terletak disebelah luar rongga abdomen tanpa
dibungkus peritoneum dan amnion. Gastroschisis kemungkinan disebabkan
oleh rupture dasar tali pusat didaerah yang telah mengalami kelemahan akibat
involusi vena umbilikalis kanan sehingga memudahkan isi abdomen herniasi
ke rongga amnion. Komplikasi dini dari gastroschicis adalah infeksi yang
mudah terjadi pada permukaan usus yang telanjang. Kondisi gastroschisis ini
diperbaiki setelah persalinan melui pembedahan. Pembedahan dilakukan 2
tahap dengan tujuan untuk mengembalikan visera kedalam kavum abdomen
dan menutup lubang abdomen. Diagnosa keperawatan untuk kasus
gastroschicis adalah
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan gastrointestinal berhubungan dengan
gangguan aliran darah
2. Risiko Infeksi berhubungan dengan isi abdomen yang keluar.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume
cairan aktif.
4. Ketidakefektifan Termoregulasi berhubungan dengan hipotermi
5. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera biologis, prosedur
pembedahan menutup abdomen.
6. Risiko Infeksi berhubungan dengan tindakan invasive

4.2.Saran
Dari penjelasan diatas penulis memiliki beberapa saran diantaranya:
a. Pada penderita gastroschicis dapat dilakukan pembedahan setelah
persalinan untuk mengembalikan organ visera ke dalam ronggan abdomen
b. Batasi penggunaan obat , rokok, hamil di usia muda dan jaga asupan
nutrisi saat hamil untuk mengurangi risiko janin lahir cacat

40
DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Herman. 2013. “Diagnosa Keperawatan NANDA”. (Online), (http://daftar-


diagnosa-keperawatan-nanda-noc.html, diakses pada 14 Februari)
Chapman, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan : persalinan dan kelahiran. Jakarta :
EGC.
Cunningham, F.G et all. 2005. Obstretri Williams. Jakarta : EGC.
H, Greg Agung.”Pemeriksaan Kehamilan”, (Online), (http://greg-spog. com/
pelayanan/pemeriksaan-kehamilan/ , diakses pada 14 Februari 2018 )
Haws, Paulette S. 2008. Asuhan Neonatus. Jakarta : EGC.
Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan. Jakarta : EGC.
Idris, Ishawati Nur.2011. ”Gastrochisis”, (Online), (http://iisidris.blogspot.com/
2011/01/gastroschisis.html, diakses pada 14 Februari 2018)
Mahyudin, Oden. 2011. “Gastroschisis”, (Online), (http://asromedika.blogspot.
com/2011/10/gastroschisis.html, diakses pada 14 Februari 2018)
Nn. 2009. “Gastroschicis”, (Online), (http://tentangkedokteran .wordpress, com/
2009/03/14/gastroschicis/, diakses pada 14 Februari 2018)
Nn. 2011. “Askep Anak dengan Gastroschizis”, (Online), (http://nayyara09
habib10.blogspot.com/2011/03/askep-anak-dengan-gastroschizis.html,
diakses pada 14 Februari 2018)
Sadler, T. W.1997. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta : EGC.
Septiawan, Bayu. 2013. “Askep Gastrochisis”, (online),
(https://www.scribd.com/document/191065191/ASKEP-gastritis, diakses
pada 14 Februari 2018 )
Sharon J. Reeder et all. 2011. Keperawatan Maternitas : Kesehatan Wanita, Bayi,
& Keluarga. Jakarta : EGC.
Sjamsuhidajat,R. et al. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong.
Jakarta: EGC.
Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan : Gangguan Sistem Gastrointestinal dan
Hepatobilier. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M dan Nancy R. Ahern. 201. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan. Jakarta : EGC.

41

Anda mungkin juga menyukai