Anda di halaman 1dari 8

PEWARISAN MONOHIBRID

Oleh:
Nama : Maria Pricilia Gita Permana Putri
NIM : B1A015068
Rombongan : IV
Kelompok :4
Asisten : Rani Eva Dewi

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil pengamatan dan uji X2 persilangan monohibrid kelompok 4 rombongan IV

Kelas Fenotipe O (Hasil) E (Harapan) (O-E)2


E
Tipe liar 95 ¾ x 95 = 71,25 7,91
Mutan (Ebony) 0 ¼ x 95 = 23,75 23,75
Total 95 95 Xh2 = 31,66

Perhitungan :
X2 hitung lalat wild type = (O-E)2
E
= ( 95 – 71,25 )2
71,25
= 7,91

X2 hitung lalat ebony = (O-E)2


E
= ( 0 – 23,75 )2
23,75
= 23,75

Kesimpulan :
X2 tabel (3,841) < X2 h (31,66)
Maka hasil persilangan tidak memenuhi nisbah mendel 3 : 1

B. Pembahasan
Hukum Mendel I (hukum segregasi) menyatakan bahwa dua alel untuk suatu
karakter terwariskan bersegregasi (memisah) selama pembentukan gamet dan
akhirnya berada dalam gamet-gamet yang berbeda. Dengan demikian, sel telur atau
sperma hanya memperoleh salah satu dari kedua alel yang ada dalam sel-sel somatik
dari organisme pembuat gamet tersebut. Dilihat dari kromosom, segregasi ini sesuai
dengan pembagian kedua anggota pasangan kromosom homolog ke gamet-gamet
yang berbeda saat meiosis. Jika suatu organisme memiliki alel identik untuk karakter
tertentu, artinya organisme itu merupakan galur-galur murni untuk karakter tersebut.
Persilangan yang hanya memiliki satu karakter tunggal dan dari induk galur murni
disebut persilangan monohibrid, misalnya pada warna bunga. Nisbah fenotipe pada
persilangan ini adalah 3:1 dan nisbah genotipenya 1:2:1 (Campbell et al., 2010).
Cara kerja yang dilakukan adalah dengan menyilangkan 5 jantan wild type dan 5
ebony. Setelah 8 hari, dipindahkan atau dimatikan parentalnya. F1 diamati sifat
mutasinya, lalu lakukan persilangan antar sesama F1 dalam medium baru. Setelah 8
hari lagi. F2 dipindakan atau dimatikan. Hitung individu F2 yang diperoleh
(sekurang-kurangnya 300 ekor) dan lakukan perhitungan dengan chi-square.
Drosophila melanogaster merupakan organisme model yang ideal dan sering
digunakan dalam praktikum genetika. Hal tersebut disebabkan karena Drosophila
melanogaster mudah dikuturkan di laboratorium dan dapat hidup dengan baik pada
medium buatan, mudah dan murah mendapatkan makanannya (Jones & Rickards,
1991). Percobaan persilangan monohibrid pada praktikum kali ini menggunakan lalat
wild type dan lalat mutan (ebony). Lalat ebony digunakan karena hanya ada 1
perbedaan sifat denga lalat wild type. Percobaan hukum Mendel I dilakukan dengan
melakukan persilangan monohibrid (satu sifat beda), indukan (parental) disilangkan
dengan indukan lain yang memiliki 1 sifat beda. Praktikum kali ini menggunakan lalat
wild type dan lalat tipe mutan (ebony) untuk parentalnya. Hasil persilangan (F1)
menghasilkan lalat tipe liar dengan genotip heterozigot, selanjutnya F1 disilangkan
dengan sesamanya dan hasil persilangan akan menghasilkan F2 dengan genotip AA,
Aa, Aa,aa.
Pola persilangan monohibrid :
P = Wild type x Ebony
(AA) (aa)
F1 = Wild type (Aa)
F2 = F1 x F1
(Aa) (Aa)
F2 = AA, Aa, Aa, aa
Ada tiga peristiwa yang menyebabkan terjadinya modifikasi nisbah 3 : 1 yaitu:
1. Semi dominansi
Peristiwa semi dominansi terjadi apabila suatu gen dominan tidak menutupi
pengaruh alel resesifnya dengan sempurna, sehingga pada individu heterozigot
akan muncul sifat antara (intermedier). Dengan demikian, individu heterozigot
akan memiliki fenotipe yang berbeda dengan fenotipe individu homozigot
dominan. Akibatnya, pada generasi F2 tidak didapatkan nisbah fenotipe 3 : 1,
tetapi menjadi 1 : 2 : 1 seperti halnya nisbah genotipe.
Contoh peristiwa semi dominansi dapat dilihat pada pewarisan warna bunga pada
tanaman bunga pukul empat (Mirabilis jalapa). Gen yang mengatur warna bunga
pada tanaman ini adalah M, yang menyebabkan bunga berwarna merah, dan gen
m, yang menyebabkan bunga berwarna putih. Gen M tidak dominan sempurna
terhadap gen m, sehingga warna bunga pada individu Mm bukannya merah,
melainkan merah muda. Oleh karena itu, hasil persilangan sesama genotipe Mm
akan menghasilkan generasi F2 dengan nisbah fenotipe merah : merah muda :
putih = 1 : 2 : 1.
2. Kodominansi
Seperti halnya semi dominansi, peristiwa kodominansi akan menghasilkan nisbah
fenotipe 1 : 2 : 1 pada generasi F2. Bedanya, kodominansi tidak memunculkan
sifat antara pada individu heterozigot, tetapi menghasilkan sifat yang merupakan
hasil ekspresi masing-masing alel. Dengan perkataan lain, kedua alel akan
sama-sama diekspresikan dan tidak saling menutupi.
Peristiwa kodominansi dapat dilihat misalnya pada pewarisan golongan darah
sistem ABO pada manusia (lihat juga bagian pada bab ini tentang beberapa
contoh alel ganda). Gen IA dan IB masing-masing menyebabkan terbentuknya
antigen A dan antigen B di dalam eritrosit individu yang memilikinya. Pada
individu dengan golongan darah AB (bergenotipe IAIB) akan terdapat baik
antigen A maupun antigen B di dalam eritrositnya. Artinya, gen IA dan IB
sama-sama diekspresikan pada individu heterozigot tersebut.
Perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing memiliki
golongan darah AB dapat digambarkan seperti pada diagram berikut ini.
3. Gen letal
Gen letal ialah gen yang dapat mengakibatkan kematian pada individu
homozigot. Kematian ini dapat terjadi pada masa embrio atau beberapa saat setelah
kelahiran. Akan tetapi, adakalanya pula terdapat sifat subletal, yang menyebabkan
kematian pada waktu individu yang bersangkutan menjelang dewasa.
Ada dua macam gen letal, yaitu gen letal dominan dan gen letal resesif. Gen letal
dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal atau
kelainan fenotipe, sedang gen letal resesif cenderung menghasilkan fenotipe
normal pada individu heterozigot.
Peristiwa letal dominan antara lain dapat dilihat pada ayam redep (creeper), yaitu
ayam dengan kaki dan sayap yang pendek serta mempunyai genotipe heterozigot
(Cpcp). Ayam dengan genotipe CpCp mengalami kematian pada masa embrio.
Apabila sesama ayam redep dikawinkan, akan diperoleh keturunan dengan nisbah
fenotipe ayam redep (Cpcp) : ayam normal (cpcp) = 2 : 1. Hal ini karena
ayam dengan genotipe CpCp tidak pernah ada.
Sementara itu, gen letal resesif misalnya adalah gen penyebab albino pada
tanaman jagung. Tanaman jagung dengan genotipe gg akan mengalami kematian
setelah cadangan makanan di dalam biji habis, karena tanaman ini tidak mampu
melakukan fotosintesis sehubungan dengan tidak adanya khlorofil. Tanaman Gg
memiliki warna hijau kekuningan, sedang tanaman GG adalah hijau normal.
Persilangan antara sesama tanaman Gg akan menghasilkan keturunan dengan
nisbah fenotipe normal (GG) : kekuningan (Gg) = 1 : 2 (Susanto, 2011).
Chi-square (chi kuadrat) dalam genetika sering kali digunakan untuk menguji
apakah data yang diperoleh dari suatu percobaan itu sesuai dengan ratio yangkita
harapkan atau tidak. Di dalam suatu percobaan jarang sekali kita memperoleh data
yang sesuai dengan yang kita harapkan (secara teoritis). Hampir selalu menjadi
penyimpangan. Penyimpangan yang kecil relatif lebih dapat diterima pada
penyimpangan yang besar. Selain itu, apabila penyimpangan tersebut semakin sering
terjadinya dapat dikatakan semakin normal dan cenderung lebih dapat diterima
daripada penyimpangan yang jarang terjadi. Sekarang yang menjadi pertanyaan
adalah seberapa besar penyimpangan itu dapat diterima dan seberapa sering terjadinya
atau berapa besar peluang terjadinya, dan jawabannya dapat dicari dengan uji X2
Semakin kecil nilai X2 menunjukan bahwa data yang diamati semakin tipis
perbedaannya dengan yang diharapkan. Sebaliknya semakin besar X2 menunjukan
semakin besar pula penyimpangannya. Batas penyimpangan yang diterima atau besar
peluang terjadinya nilai penyimpangan yang dapat diterima hanya satu kali dalam 20
percobaan (peluang 1/20 = 0,05) maka pada P = 0,05 adalah atau ditolaknya data
percobaan, selain itu data juga dapat dianalisis melalui distribusi tipe kelahiran, rataan
jumlah anak per kelahiran, bobot lahir, dan bobot sapih serta melalui analisis statistik
berupa rataan sifat, koefisien varians, analisis ragam dan keunggulan relatif
(Abinawanto et al., 2011).
Prinsip uji statistika chi-square adalah data yang dihasilkan pada setiap karakter
(dominan dan resesif) dibandingkan dengan angka yang diperoleh Mendel dengan
prinsip segregasinya (Abinawanto et al., 2011).
Rumus chi-square dinyatakan dengan :
X2 = Σ (O – E )2 / E
Keterangan :
X2= chi-square
Σ = jumlah
O = observed number (angka yang diperoleh dari percobaan)
E = expected number (angka yang diharapkan melalui prinsip segregasi Mendel)
Angka X2 yang telah diketahui kemudian dibandingkan dengan angka pada tabel chi-
square dengan degree of freedom (derajat kebebasan) yang sama. Degree of freedom
(df) ditentukan dengan cara mengurangkan dengan angka 1. Jumlah macam fenotip
yang dihasilkan melalui penyilangan (df = n-1) (Klug & Cummings, 1994) Untuk
menguji data hasil, digunakan 2 angka critical theorical yang berbeda yaitu 0,05 dan
0,01. Jika angka yang dihasilkan lebih kecil dari angka probabilitas 0,05 dan 0,01
maka dikatakan percobaan statistically significant (Abinawanto et al., 2011).
Pada percobaan diketahui hasil (O) persilangan didapat lalat wild type sebanyak 95
ekor dan lalat tipe ebony sebanyak 0 ekor. Frekuensi yang diharapkan (E) pada
percobaan adalah 95 ekor untuk lalat wild type dan 0 ekor untuk lalat tipe ebony. Chi
kuadrat didapatkan dengan rumus X2 = , hasil chi kuadrat untuk lalat wild type
didapat X2h = 7,91 dan untuk lalat tipe ebony X2 = 23,75. Hasil menunjukan X2 tabel
(3,841) < X2 h (31,66), maka hasil persilangan tidak memenuhi nisbah mendel 3 : 1
karena X2 nya semakin besar, sehingga terjadi penyimpangan. Salah satu faktor yang
mempengaruhi persilangan monohibrid adalah jumlah individu F1 yang tidak sesuai
dengan yang diharapkan, sehingga berpengaruh pada pertumbuhan individu F2
berikutnya.
KESIMPULAN

Hasil percobaan persilangana monohibrid ini tidak sesuai dengan nisbah 3:1 dari
hukum Mendel 1.
DAFTAR REFERENSI

Abinawanto, R. Lestari, A. Bowolaksono, M. Dian, D.P. Astuti & H.Yasmin. 2011.


Pedoman Praktikum Genetika Dasar. Jakarta: Pandu Aksara.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece, Lisa A. Urry, Michael L. Cain, Steven A.
Wasserman, Peter V. Minorsky & Robert B. Jackson. 2010. Biologi Edisi
Kedelapan Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Jones, R.N. & Rickards G.K. 1991. Practical Genetics. Open University Press:
Milton Keynes.

Klug, W.S. & M.R. Cummings. 1994. Concepts of genetics. 4th ed. New Jersey:
Prentice hall Inc., Englewoods Cliffs.

Susanto, Agus Hery. 2011. Genetika. Yogyakarta: Graha ilmu.