Anda di halaman 1dari 9

PENGAMATAN KROMOSOM AKAR BAWANG (Allium sp.

)
MENGGUNAKAN MIKROSKOP CAHAYA

Oleh:
Nama : Maria Pricilia Gita Permana Putri
NIM : B1A015068
Rombongan : IV
Kelompok :4
Asisten : Rani Eva Dewi

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Pengamatan

Kel/Fase Profase Metafase Anafase Telofase Sitokinesis


1 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0
3 0 0 0 0 0
4 0 0 0 0 0
5 0 0 0 0 0

Dinding sel

Nukleus

Gambar Preparat Kontrol Gambar Irisan Akar Bawang


Perbesaran 400x Perbesaran 400x

B. Pembahasan

Kemampuan organisme untuk bereproduksi menghasilkan materi genetik


jenisnya sendiri adalah salah satu ciri paling baik untuk membedakan makhluk hidup
dari materi tak hidup. Rudolf Vichow, seorang dokter Jerman, pada tahun1855
menyebutkan sebuah konsep dalam aksioma Latin, ‘Omnis cellula e cellula’, yang
berarti ‘Setiap sel berasal dari sel’. Keberlanjutan kehidupan didasarkan pada
reproduksi sel atau pembelahan sel (cell division). Proses pembelahan sel merupakan
bagian integral dari siklus sel (cell cycle), kehidupan sel yang dimulai dari saat
pertama kali ia terbentuk dari sel induk yang membelah hingga pembelahannya
sendiri menjadi dua sel dan meneruskan materi genetik yang identik ke sel anakannya
(Campbell et. al.,, 2010).
Pembelahan sel menghasilkan sel-sel anakan yang identik secara genetik. Setiap
kromosom terduplikasi memiliki dua kromotid saudara (sister chromatid). Pada setiap
nukleus baru, menerima koleksi kromosom yang identik dengan sel induknya. Proses
pembelahan nukelus ini dinamakan mitosis. Berikut ini adalah skema dari siklus sel
(Campbell et. al., 2010) :

Fase mitotik (mitotic phase, M), yang mencakup mistosis sekaligus sitokinesis.
Sitokinesis adalah tahap pembelahan sitoplasma. Tahap mitotik merupakan bagian
terpendek dari siklus sel. Pembelahan mitotik sel silih-berganti dengan tahap yang
lebih panjang, disebut interfase, yang mencakup 90% siklus sel. Saat interfase, sel
bertumbuh dan membuat salinan kromosom-kromosomnya sebagai persiapan
pembelahan sel. Interfase dibagi menjadi fase G1 (first gap), fase S (sintesis), dan fase
G2 (second gap). Selama ketiga subfase tersebut, sel bertumbuh dengan cara
menghasilkan protein dan organel sitoplasma seperti seperti mitokondria dan
retikulum endoplasma. Kromosom diduplikasi pada hanya pada fase S. Sel bertumbuh
pada fase G1, terus bertubuh sambil menyallin kromosom-kromosomnya di fase S,
bertumbuh lagi sambil menyelesaikan persiapan untuk pembelahan sel di fase G 2,
dam membelah pada fase M (Campbell et. al., 2010).
Sel manusia ternetu mungkin mengalami satu pembelahan dalam 24 jam. Dari
periode itu, fase M menghabiskan kurang dari 1 jam, sedangkan fase S mungkin
berlangsung 10-12 jam, atau sekitar separuh siklus sel. Sisa waktu mungkin dibagi
rata antara fase G1 dan G2. Fase G2 biasanya berlangsung 4-6 jam dan fase G 1 sekitar
5-6 jam. G1 adalah fase dengan lama waktu yang paling bervariasi pada tipe sel yang
berbeda (Campbell et. al., 2010).
Peristiwa mitosis bergantung pada gelendong mitotik (mitotic spindle). Struktur
ini terdiri dari serat-serat yang terbuat dari mikrotubulus dan protein-protein terkait.
Ketika gelendong mitotik dirakit, mikrotubulus lain pada sitoskeleton dibongkar
sebagian, mugkin menyediakan materi yang digunakan untuk membentuk gelendong.
Mikrotubulus gelendong memanjang dengan cara menggabungkan lebih banyak
subunit protein tubulin dan memendek dengan melepaskan subunit. Pada sel hewan,
perakitan mikrotubulus gelendong dimulai dari sentrosom, wilayah subseluler yang
mengandung materi yang berfungsi selama siklus sel untuk mengorganisasi
mikrotubulus sel dan sepasang sentriol terletak di tengah sentrosom (Campbell et. al.,
2010).
DNA yang sudah terbentuk saat interfase, kemudian dikemas oleh protein histon
dalam kromatin. Histon akan meninggalkan DNA sejenak saat siklus sel. Setelah
dikemas dengan protein histon, terbentuk nukleosom yang terdiri dari DNA yang
melilit dua kali di sekeliling inti protein yang terdiri atas dua molekul. Tingkat
pengemasan selanjutnya adalah interaksi antara ekor-ekor histon salah satu nukleosom
dan DNA penaut serta nukleosom di sisi lain yang membentuk serat 30 nm, lalu
membentuk kelokan-kelokan sehingga disebut domain berkelok (serat 30 nm), dan
terakhir pemadatan kromatin membentuk kromosom yang siap untuk tahap metafase
(Campbell et. al., 2010).

Menurut Campbell et. al. (2010), secara konvensional mitosis dibagi menjadi
lima tahap, yaitu profase, prometafase, metafase, anafase, dan telofase :
G2 Interfase :
 Selaput nukleus membatasi nukleus.
 Nukleus mengandung satu atau lebih nukleolus.
 Dua sentrosom telah terbentuk melalui replikasi sentrosom tunggal.
 Pada sel hewan, setiap sentrosom memiliki dua sentriol.
 Kromosom yang diduplikasi selama fase S, tidak bisa dilihat secara individual
karena belum terkondensasi
Profase :
 Serat-serat kromatin menjadi terkumpar lebih rapat, terkondensasi menjadi
kromosom diskret yang dapat diamati dengan mikroskop cahaya.
 Nukleolus lenyap.
 Setiap kromosom terduplikasi tampak sebagai dua kromatid saudara identik yang
tersambung pada sentromernya dan sepanjang lengannya oleh kohesin.
 Gelendong mitotik mulai terbenntuk.
 Sentrosom-sentrosom bergerak saling menjauhi.

Prometafase :
 Selaput nukleus terfragmentasi.
 Mikrotubulus yang menjulur dari masing-masing sentrosom kini dapat memasuki
wilayah nukleus.
 Kromosom semakin terkondensasi.
 Masing-masing dari kedua kromatid pada setiap kromosom memiliki kinetokor.
 Beberapa mikrotubulus melekat pada kinetokor.
 Mikrotubulus nonkinetokor berinteraksi dengan sejenisnya.
Metafase :
 Fase ini merupakan fase paling lama dalam tahap mitosis yaitu berlangsung
sekitar 20 menit.
 Sentrosom berada pada kutub-kutub sel yang berseberangan.
 Kromosom berjejer pada lempeng metafase dan sentromer-sentromer berada di
lempeng metafase.
 Untuk setiap kromosom, kinetokor kromatid saudara melekat ke mikrotubulus
kinetokor yang berasal dari kutub yang berseberangan.
Anafase :
 Merupakan tahap mitosis yang paling pendek karena hanya memakan waktu
beberapa menit saja.
 Protein kohesin terbelah yang memungkinkan kedua kromatid saudara dari setiap
pasangan memisah secara tiba-tiba. Setiap kromatid pun menjadi satu pasangan
utuh.
 Kedua kromosom anakan yang terbebas mulai bergerak menuju ujung-ujung sel
yang berlawanan saat mikrotubulus kinetokor memendek.
 Sel memanjang saat mikrotubulus nonkinetokor memanjang.
 Pada akhir anafase, kedua ujung sel memiliki koleksi kinetokor yang sama dan
lengkap.
Telofase :
 Dua nukleus anakan terbentuk dalam sel.
 Selaput nukleus muncul dari fragmen-fragmen selaput nukleus sel induk dan
bagian-bagian lain dari sistem endomembran.
 Nukleolus muncul kembali.
 Kromosom menjadi kurang terkondensasi.
 Mitosis, pembelahan satu nukleus menjadi dua nukleus yang identik secara
genetik, sekarang sudah selesai.
Sitokinesis :
 Pembelahan sitoplasma biasanya sudah berlangsung cukup jauh pada akhir
telofase, sehingga kedua sel anakan muncul tak lama setelah mitosis berakhir.
 Pada sel hewan, sitokinesis melibatkan pembentukan lekukan penyibakan yang
membagi sel menjadi dua.
Akar bawang digunakan dalam praktikum ini karena memiliki kromosom yang
besar, jumlah kromosom yang tidak terlalu banyak (2n=16), mudah didapat, dan
mudah dilakukan untuk mempelajari analisis mitosis (Stack & Comings, 1979). Selain
akar bawang, bahan yang relevan untuk digunakan dalam praktikum ini adalah lalat
buah (Drosophila melanogaster). Menurut Kimball (1990), kromosom Drosophila
melanogaster ditemukan dalam sel kelenjar ludahnya. Selain itu, akar bawang banyak
terdapat jaringan meristem. Jaringan meristem mampu melakukan pertumbuhan
indeterminat yang bersifat embrionik (Campbell et. al., 2010). Proses mitosis pada
kromosom akar bawang umumnya terjadi selama 30 menit sampai beberapa jam dan
merupakan bagian dari proses yang terus menerus (Margono, 1973).
Pada praktikum pengamatan kromosom akar bawang (Allium sp.) menggunakan
mikroskop cahaya, akar bawang yang sudah dikecambakan dipotong 0,5-1 cm, lalu
dimasukkan ke efendop dan HCl 10% dituangkan ke dalamnya sampai kira-kira akar
bawang sudah terendam semuanya, dan diinkubasi selama 10 menit. Fungsi dari
pemberian HCl 10% sendiri untuk menginaktivasi sel, mengfiksasi sel, dan
melunakkan dinding sel. Setelah 10 menit, akar bawang dibilas dengan akuades 4-5
kali untuk membersihkan sisa-sisa HCl. Akar bawang dimasukkan ke dalam efendop
lagi dan aseto-orsein 2% dituangkan ke dalamnya, dan diinkubasi lagi selama 10
menit. Aseto-orsein sendiri merupakan campuran 45 mL asam asetat glasial 96% dan
bubuk orsein 2% yang berfungsi untuk pewarnaan kromosom agar morofologinya
dapat teramati. Akar bawang yang sudah diinkubasi selama 10 menit diambil dan
diletakkan di object glass, setelah itu difiksasi dengan pembakar bunsen untuk
mematikan sel tanpa merusak strukturnya selama 2-3 kali. Lalu, akar bawang ditutup
dengan cover glass dan di squash agar tidak terlalu tebal, dan diamati dengan
mikroskop cahaya.
Pada preparat kontrol, dapat diindikasikan bahwa sel sudah mengalami tahap
sitokinesis karena sudah terbentuk dinding sel dan nukleus tampak sangat jelas. Hasil
pengamatan menujukkan, bahwa semua kelompok dalam kloter IV ini tidak
mendapatkan hasil dari tahap mitosis dan sitokinesis akar bawang. Hal ini dapat
disebabkan karena kondisi akar bawang yang kurang baik, pengirisan dan pewarnaan
akar bawang yang terlalu tebal, dan pengambilan akar bawang di waktu yang kurang
tepat. Idealnya, pengambilan akar bawang dilakukan saat pagi hari karena saat pagi
hari jaringan meristematik akar bawang sedang aktif membelah, sehingga kita dapat
mengamati tahap mitosis dan sitokinesisnya. Praktikum yang kita lakukan siang hari
menjelang sore, sehingga kemungkinan jaringan meristem akar sudah tidak aktif
membelah.
Japanese Bunch Onion (JBO) (Allium fistulosum L) yang memiliki kromosom 8
pasang, merupakan spesies Allium terpenting di Asia Timur (Ariyanti et. al., 2015).
Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa penambahan Altrazin selama 20 jam pada
kromosom akar bawang akan memberikan efek genotoksik yang dapat menyebabkan
kerusakan dan karsinogenik (Morales, 2015). Penelitian lain menunjukkan, pemberian
insektisida imidakloprid diinduksi efek genotoksik dalam sel meristem Allium sp. dan
perubahan ini dapat dilihat dalam waktu 48 jam (Bianchi et. al., 2016).

DAFTAR REFERENSI

Ariyanti, Nur Aeni, Vu Quynh Hoa, Ludmila I. Khrustaleva, Sho Hirata, Mostafa
Abdelrahman, Shin-ichi Ito, Naoki Yamauchi, dan Masayoshi Shigyo. 2015.
Production and characterization of alien chromosome addition lines in Allium
fistulosum carrying extra chromosomes of Allium roylei using molecular and
cytogenetic analyses. Euphytica, 206(2), pp. 343-355.
Bianchi, Jaqueline, Thais Cristina Casimiro Fernandes, dan Maria Aparecida Marin-
Morales. 2016. Induction of mitotic and chromosomal abnormalities on Allium
cepa cells by pesticides imidacloprid and sulfentrazone and the mixture of them.
Chemospere, 144, pp. 475-483.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece, Lisa A. Urry, Michael L. Cain, Steven A.
Wasserman, Peter V. Minorsky, dan Robert B. Jackson. 2010. Biologi Edisi
Kedelapan Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece, Lisa A. Urry, Michael L. Cain, Steven A.
Wasserman, Peter V. Minorsky, dan Robert B. Jackson. 2010. Biologi Edisi
Kedelapan Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Kimball, John. W. 1990. Biologi Jilid I. Jakarta : Gramedia.

Margono, Hadi. 1973. Pengaruh Colchicine Terhadap Pertumbuhan Akar Bawang


Merah. Malang : IKIP Malang.

Morales, Maria Aparecida Marin. 2016. Micronuclei and chromosome aberrations


derived from the action of Atrazine herbicide in Allium cepa meristematic cells.
SDRP Journal of Earth Sciences & Environmental Studies, 1(1), pp. 1-5.

Stack, S.M. dan D.E. Comings. 1979. The Chromosomes and DNA of Allium cepa.
CHROMOSOMA, 70, pp. 161-181.