Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebijakan ekonomi suatu negara tidak bisa lepas dari keterlibatan
pemerintah karena pemerintah memegang kendali atas segala sesuatu, menyangkut
semua kebijakan yang bermuara kepada keberlangsungan negara itu sendiri. Setiap
pemerintahan yang sedang memimpin suatu negara tentu saja memiliki kebijakan
ekonomi andalan untuk menjamin perekonomian negara yang baik dan stabil demi
tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan, karena sudah menjadi kewajiban
pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi agar tercapainya kehidupan yang
makmur dan sejahtera bagi rakyatnya.
Fenomena ekonomi merupakan sesuatu hal yang biasa dan sering terjadi di
lingkungan suatu negara. Fenomena-fenomena tersebut kadang membawa dampak
positif mauapun dampak negatif. Salah satu fenomena dalam bidang ekonomi yang
sering muncul adalah terjadinya inflasi, yang merupakan bentuk fenomena dalam
hal kenaikan harga-harga barang yang berlangsung secara terus-menerus dan
berkelenjutan. Fenomena inflasi ini merupakan fenomena yang timbul akibat
banyaknya jumlah uang yang beredar, kenaikan biaya produksi, besarnya tarikan
permintaan dari konsumen, dan adanya inflasi tularan dari luar negeri.
Hadirnya inflasi tersebut tentu berdampak negatif pada ketidakseimbangan
perekonomian nasional seperti tidak stabilnya neraca pembayaran, dan pemenuhan
kebutuhan pokok masyarakat sangat sulit untuk dipenuhi. Upaya yang dilakukan
oleh pemerintah untuk menghadapi inflasi melalui kebijakan moneter dan kebijakan
fiskal. Namun dalam hal ini kami akan membahas kebijakan fiskal saja.
Kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah dalam bidang anggaran dan
belanja negara yang bertujuan untuk mempengaruhi jalannya perekonomian.
Kebijakan fiskal bukan semata-mata kebijakan dalam bidang perpajakan, akan
tetapi menyangkut bagaimana mengelola pemasukan dan pengeluaran negara untuk
mempengaruhi perekonomian. Kebijakan fiskal memiliki tujuan yang persis
dengan kebijakan moneter. Perbedaan tersebut terletak pada instrument kebijakan
yang diterapkannya, yaitu dalam kebijakan moneter pemerintah mengendalikan

Koreksi Fiskal 1
jumlah uang yang beredar, sedangkan dalam kebijakan fiskal pemerintah
mengendalikan penerimaan dan pengeluarannya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasar pada uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan rumusan
masalah sebagai berikut:
1) Apa itu kebijakan fiskal?
2) Bagaimana kebijakan fiskal di Indonesia?
3) Bagaimana kebijakan harga dan peran pemerintah?
4) Bagaimana pengaruh resiko kebijakan fiskal?
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memahami konsep dari
kebijakan fiskal itu sendiri, memahami gambaran kebijakan fiskal di Indonesia serta
peran pemerintah atas kebijakan tersebut, dan mengetahui resiko yang timbul dari
kebijakan fiskal.

Koreksi Fiskal 2
BAB II
DASAR TEORI

Menurut Tulus TH Tambunan, menyatakan jika kebijakan memiliki 2


prioritas, yang pertama adalah mengatasi defisit anggaran pendapatan dan belanja
negara (APBN) dan masalah-masalah APBN lainnya. Defisit APBN terjadi apabila
penerimaan pemerintah lebih kecil dari pengeluarannya. Kedua adalah mengatasi
stabilitas ekonomi makro, yang terkait dengan antara lain: pertumbuhan ekonomi,
tingkat inflasi, kesempatan kerja, dan neraca pembayaran.
Menurut Nopirin, Ph. D. 1987, menyatakan bahwa kebijakan fiskal terdiri
dari perubahan pengeluaran pemerintah atau perpajakan dengan tujuan untuk
mempengaruhi besar serta susunan permintaan agregat. Indikator yang biasa
dipakai adalah badget defisit yakni selisih antara pengeluaran pemerintah (dan juga
pembayaran transfer) dengan penerimaan terutama dari pajak. Sedangkan Menurut
Sadono Sukirno (2003) menyatakan jika kebijakan fiskal adalah langkah-langkah
pemerintah untuk membuat perbaha-perubahan dalam sistem pajak atau dalam
perbelanjaannya dengan maksud untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang
dihadapi.
Kebijakan fiskal dipengaruhi oleh dua variabel utama, yaitu pajak (tax) dan
pengeluaran pemerintah (goverment expenditure). sedangkan variabel utama dalam
kebijakan moneter, yaitu GDP, inflasi, kurs, dan suku bunga. Berbicara tentang
kebijakan fiskal dan moneter berkaitan erat dengan kegiatan perekonomian 4
sektor, dimana sektor-sektor tersebut diantaranya sektor rumah tangga, sektor
perusahaan, sektor pemerintah dan sektor dunia internasional/luar negeri, sebagai
berikut:
1) Sektor rumah tangga (RTK), dimana rumah tangga melakukan pembelian
barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaaan untuk komsumsi dan
mendapatkan pendapatan berupa gaji, upa sewa deviden, bunga dll.
Kegiatan ekonomi rumah tangga dengan pemerintah adalah menyetor
sejumlah uang sebagai pajak dan penerimaan berupa gaji, bunga,
penghasilan balas jasa, dll. Sedangkan dengan dunia internasional , rumah
tangga mengimpor barang dan jasa dari luar negri untuk memenuhi
kebutuhan hidup.

Koreksi Fiskal 3
2) Sektor perusahaaan, kegiatan ekonomi memiliki hubungan dengan rumah
tangga yaitu perusahaan menghasilkan produk produk berupa barang dan
jasa yang dikomsumsi oleh masyarakat dan memberikan penghasilan dan
keuntungan kepada rumah tangga berupa gaji, deviden, sewa, upah, bunga.
Sedangkan hubungan dengan pemerintah, perusahaan akan membayar pajak
kepada pemerintah dan menjual produk dan jasa kepada pemerintah.
Sedangkan hubungan dengan dunia internasional, perusahaan melakukan
impor atas produk barang maupun jasa dari luar negri.
3) Sektor pemerintah, kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan rumah
tangga dimana pemerintah menerima setoran pajak rumah tangga untuk
kebutuhan operasional, pembangunan, dan untuk hubungan dengan
perusahaan , pemerintah mendapatkan penerimaan pajak dari pengusaha
dan pemerintah membeli produk dari perusahaan berdasarkan dana
anggaran belanja yang ada.
4) Sektor dunia internasional/luar negri, dimana hubungan rumah tangga
adalah dunia internasional menyediakan barang dan jasa untuk kepentingan
rumah tangga. Dan untuk hubungan dengan perusahaan, dunia internasional
mengekspor produk nya kepada bisnis bisnis perusahaan.
Dari kegiatan 4 sektor perekonomian tersebut dapat disimpulkan jika semua
sektor saling berkaitan satu sama lain dan saling membutuhkan. Jika salah satu
sektor bermasalah maka dapat mempengaruhi sektor yang lainnya.

Koreksi Fiskal 4
BAB III
PEMBAHASAN

2.1 Kebiajakan Fiskal


2.1.1 Pengertian Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal yang sering juga disebut “politik fiskal” atau “fiscal
policy”, biasa diartikan sebagai tindakan yang diambil oleh pemerintah dalam
bidang anggaran belanja negara dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya
perekonomian. Oleh karena itu, anggaran belanja negara terdiri dari penerimaan
berupa hasil pengutan pajak dan pengeluaran yang dapat berupa “goverment
expenditure” dan “goverment transfer”, maka sering pula dikatakan bahwa
kebijakan fiskal meliputi semua tindakan pemerintah yang berupa tindakan
memperbesar atau memperkecil jumlah pungutan pajak. Memperbesar atau
memperkecil “goverment expenditure” dan atau memperkecil “goverment transfer”
yang bertujauan untuk mempengaruhi jalannya perekonomian.
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam
rangka mendapatkan dana-dana kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah untuk
membelanjakan dananya tersebut dalam rangka melaksanakan pembangunan.
Dengan kata lain, kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah yang berkaitan
dengan penerimaan atau pengeluaran negara.
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dibuat pemerintah untuk
mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan
pemerintah dalam bidang anggaran belanja negara. Kebijakan fiskal merujuk pada
kebijakan yang dibuat pemeritah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui
pegeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah.
2.1.2 Tujuan Kebijakan Fiskal
Tujuan kebijakn fiskal adalah untuk mempengaruhi jalan nya
perekonomian. Hal ini dilakukan dengan jalannya memperkecil pengeluaran
komsumsi pemerintah (G), jumlah transfer pemerintah (Tr), dan jumlah pajak (Tx)
yang diterima pemerintah sehingga dapat mempengaruhi tingkat pendapatan
nasional (Y) dan tingkat kesempatan kerja (N).
Tujuan kebijakan fiskal adalah untuk mencegah pengangguran dan
menstabilkan harga, implementasinya untuk menggerakan pos penerimaan dan

Koreksi Fiskal 5
pengeluaran dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Dengan
semakin kompleknya struktur ekonomi perdangangan dan keuangan. Maka
semakin rumit pula penanggulangan inflasi. Kombinasi beragam harus digunakan
secara tepat seperti kebijakan fiskal, kebijakan moneter, perdagangan harga.
Adapun kebijakan fiskal sebagai sarana menggalangkan pembangunan
ekonomi bermaksud mencapai tujuan sebagai berikut:
1) Untuk meningkatkan laju investasi.
Kebijakan fiskal bertujuan meningkatkan dan memacu laju investasi
disektor swasta dan negara. Selain itu, juga mendorong dan menghambat
bentuk investasi berencana disektor publik, namun pada kenyataannya
dibeberapa negara berkembang dan tertinggal terjadi suatu masalah yaitu
dimana langkanya tabungan sukarela, tingkat konsumsi yang tinggi dan
terjadi investasi dijalur yang tidak produktif dari masyarakat negara
tersebut. Oleh karena itu, kebijakan fiskal memberikan solusi yaitu
kebijakan fiskal dapat meningkatkan rasio tabungan inkremental yang dapat
digunakan untuk meningkatkan, memacu, mendorong dan menghambat laju
investasi.
2) Untuk mendorong investasi optimal secara sosial.
Kebijakan fiskal untuk tujuan ini, dikarenakan investasi jenis ini
memerlukan dana yang besar dan cepat yang menjadi tanggungan negara
secara serentak berupaya memacu laju pembentukan modal. Nantinya
investasi optimal secara sosial bermanfaat dalam pembentukan pasar yang
lebih luas, peningkatan produktivitas dan pengurangan biaya produksi.
3) Untuk meningkatkan kesempatan kerja.
Untuk merealisasikan tujuan ini, kebijakan fiskla berperan dalam hal
pengelolaan pengeluaran seperti dengan membentuk anggaran belanja
untuk mendirikan perusahaan negara dan mendorong perusahaan swasta
melalui pemberian subsidi, keringanan dan lain-lainnya sehingga dari
pengupayaan langkah ini tercipta tambahan lapangan pekerjaan. Namun,
langkah ini harus juga diiringi dengan pelaksanaan program pengendalian
jumlah penduduk.

Koreksi Fiskal 6
4) Untuk meningkatkan stabilitas ekonomi ditengah ketidakstabilan
internasional
Kebijakan fiskal memegang peranan kunci dalam mempertahankan
stabilitas ekonomi menghadapi kekuatan-kekuatan internal dan eksternal.
Dalam rangka mengurango dampak internasional fluktuasi siklis pada masa
boom, harus diterapkan pajak ekspor dan impor. Pajak ekspor dapat
menyedot rejeki nomplok yang timbul dari kenaikan harga pasar. sedangkan
bea impor yang tinggi pada impor barang konsumsi dan barang mewah juga
perlu untuk menghambat penggunaan daya beli tambahan.
5) Untuk meningkatkan dan mendistribusikan pendapatan nasional
Kebijakan fiskal yang bertujuan untuk mendistribusikan pendapatan
nasional terdiri dari upaya meningkatkan pendapatan nyata masyarakat dan
mengurangi tingkat pendapatan yang lebih tinggi, upaya ini dapat tercipta
apabila adanya investasi dari pemerintah seperti pelancaran program
pembangunan regional yan berimbang pada berbagai sektor perekonomian.
2.1.3 Fungsi Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal merupakan kebijakan dalam mengelola keungan negara
yaitu yang terdapat pada pos penerimaan dan pos pengeluaran negara dalam APBN
yang merujuk pada pasal 3 ayat (4) UU No. 17/2003 tentang keuangan negara,
kebijakan fiskal terkait anggaran (APBN) mempunyai fungsi, antara lain:
 Fungsi otoritas
Anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja
negara pada tahun yang bersangkutan.
 Fungsi perencanaan
Anggaran negara menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan
kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
 Fungsi pengawasan
Anggaran negara menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan
penyelenggaraan pemerintah negara sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
 Fungsi alokasi

Koreksi Fiskal 7
Anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan
pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efesiensi dan efekivitas
perekonomian
 Fungsi distribusi
Kebijakan anggaran negara harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
 Fungsi stabilisasi
Anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan
keseimbangan fundamental perekonomian.
2.1.4 Konsep-konsep Dasar Kebijakan Fiskal
Konsep-konsep dasar kebijakan fiscal dapat diuraikan di bawah ini:
1) Kebijakan Fiskal: perubahan-perubahan pada belanja atau penerimaan pajak
pemerintahan pusat yang dimaksudkan untuk mencapai penggunaan tenaga
kerja-penuh, stabilitas harga, dan laju pertumbuhan ekonomi yang pantas.
2) Kebijakan Fiskal Ekspansioner: peningkatan belanja pemerintah dan/atau
penurunan pajak yang dirancang untuk meningkatkan permintaan agregat
dalam perekonomian. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan
produk domestik bruto dan menurunkan angka pengangguran.
3) Kebijakan Fiskal Kontraksioner: pengurangan belanja pemerintah dan/atau
peningkatan pajak yang dirancang untuk menurunkan permintaan agregat
dalam perekonomian. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengontrol
inflasi.
4) Efek Pengganda: dalam ilmu ekonomi, peningkatan belanja oleh konsumen,
perusahaan atau pemerintah akan menjadi pendapatan bagi pihak-pihak lain.
Ketika orang ini membelanjakan pendapatannya, belanja tersebut menjadi
pendapatan bagi orang lain dan seterusnya, sehingga menyebabkan terjadinya
peningkatan produksi dalam suatu perekonomian. Efek pengganda dapat juga
berdampak sebaliknya ketika belanja mengalami penurunan.
5) Kebijakan Fiskal Sisi-Penawaran: kebijakan fiskal dapat secara langsung
mempengaruhi bukan saja permintaan agregat, namun juga penawaran agregat.
Sebagai contoh, pemotongan tarif pajak akan memberikan insentif bagi
perusahaan untuk melakukan ekspansi atau investasi barang modal, karena

Koreksi Fiskal 8
mereka memperoleh pendapatan setelah pajak yang lebih besar yang kemudian
dapat dibelanjakan.
2.1.5 Jenis Perbedaan Pengakuan antara Komersial dan Fiskal
Terdapat perbedaan dalam perlakuan penetapan pendapatan dan biaya
menurut Undang-Undang Perpajakan Nomor 17 Tahun 2000 dengan Standar
Akuntansi Keuangan (SAK) sebagai akibat dari adanya beda tetap dan beda
sementara, perlakuan akuntansi terhadap perbedaan tersebut perlu dilakukan
rekonsiliasi antara laporan keuangan komersil dengan laporan keuangan fiskal dan
pengaruh perbedaan tersebut terhadap laporan keuangan yaitu pada besarnya
jumlah pajak terutang dan jumlah laba usaha. Jenis koreksi fiskal di sini merupakan
jenis-jenis perbedaan antara akuntansi komersial dengan ketentuan fiskal, yaitu
terdiri dari:
1. Beda Tetap
Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan, sedangkan menurut
ketentuan PPh bukan penghasilan. Misalnya dividen yang diterima oleh Perseroan
Terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal sebesar 25%
atau lebih pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia.
Menurut akuntansi komersial merupakan penghasilan, sedangkan menurut
ketentuan PPh telah dikenakan PPh yang bersifat final. Penghasilan ini dikenakan
pajak tersendiri (final) sehingga dipisahkan (tidak perlu digabung) dengan
penghasilan lainnya dalam menghitung PPh yang terutang. Misalnya: penghasilan
atas bunga deposito atau tabungan lainnya yang telah dipotong PPh Final oleh
Bank sebesar 20%.
Menurut akuntansi komersial merupakan beban (biaya) sedangkan
menurut ketentuan PPh tidak dapat dibebankan (Pasal 9 Undang-Undang Nomor
17 Tahun 2000 ), misalnya:
 Biaya-biaya yang digunakan untuk memperoleh penghasilan yang bukan
obyek pajak atau pengenaan pajaknya bersifat final.
 Penggantian/imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura atau kenikmatan.
 Sanksi perpajakan berupa bunga, denda, dan kenaikan.

Koreksi Fiskal 9
 Biaya-biaya yang menurut ketentuan PPh tidak dapat dibebankan karena
tidak memenuhi syarat-syarat tertentu (misalnya daftar nominatif biaya
entertainment, daftar nominatif atas peghapusan piutang).
Bagi perusahaan, semua pemasukan adalah pendapatan yang akan
menambah laba kena pajak dan semua pengeluaran adalah beban yang akan
mengurangi laba kena pajak. Bagi Dirjend Pajak, tidak semua pemasukan adalah
faktor penambah laba kena pajak, ada beberapa jenis pendapatan yang bukan
merupakan faktor penambah laba kena pajak karena pendapatan tersebut sudah
dikenakan pajak bersifat final, dan tidak semua pengeluaran adalah faktor
pengurang laba kena pajak karena ada beberapa jenis pengeluaran yang
sesungguhnya bukan merupakan bagian dari kegiatan perusahaan (sumbangan,
entertain tanpa daftar normatif). Di dalam Akuntansi Perpajakan perbedaan ini
disebut dengan Beda Tetap (permanent difference).
Koreksi atas beda tetap penghasilan akan menyebabkan koreksi negatif
artinya penghasilan yang diakuai oleh akuntansi komersial namun secara fiskal
harus dikoreksi baik itu karena bukan merupakan objek pajak maupun karena telah
dikenakan PPh final, akan menyebabkan laba kena pajak akan berkurang yang
akhirnya akan menyebabkan PPh terutang akan lebih kecil.
Koreksi atas beda tetap biaya akan menyebabkan koreksi positif artinya
biaya yang diakuai oleh akuntansi komersial namun secara fiskal harus dikoreksi,
akan menyebabkan laba kena pajak akan bertambah yang akhirnya akan
menyebabkan PPh terutang akan lebih besar.
2. Beda Waktu
Perbedaan lainnya adalah perbedaan yang diakibatkan karena bedanya saat
pengakuan (waktu pengakuan) baik itu terhadap pendapatan maupun beban
(pendapatan/beban tangguhan), juga akibat perbedaan beban penyusutan dimana
pihak Dirjend Pajak menggunakan metode penyusutan Garis Lurus, sementara
perusahaan mungkin menggunakan metode penyusutan yang lain, yang oleh
karenanya mengakibatkan adanya perbedaan alokasi beban penyusutan. Prakiraan
umur ekonomis atas aktiva tetap juga turut memberi kontribusi atas perbedaan
tersebut. Dengan kata lain perbedaan metode yang digunakan antara akuntansi

Koreksi Fiskal 10
komersial dengan ketentuan fiskal. Dalam Akuntansi Perpajakan ini disebut dengan
Beda Waktu (time difference).
Beda waktu merupakan perbedaan metode yang digunakan antara akuntansi
komersial dengan ketentuan fiskal, misalnya:
 Metode penyusutan
 Metode penilaian persediaan
 Penyisihan piutang tak tertagih
 Rugi-laba selisih kurs
Koreksi atas beda waktu penghasilan akan menyebabkan koreksi positif
pada saat penghasilan diterima dan akan menyebabkan koreksi negatif pada tahun-
tahun berikutnya. Koreksi positif ini akan menyebabkan laba kena pajak akan
bertambah, sedangkan koreksi negatif tahun-tahun berikutnya akan menyebabkan
laba kena pajak akan berkurang. Koreksi atas beda waktu biaya dapat menyebabkan
koreksi positif maupun koreksi negatif tergantung dari metode yang digunakan.
2.1.6 Jenis-jenis Koreksi Fiskal
Untuk keperluan perpajakan wajib pajak tidak perlu membuat pembukuan
ganda, melainkan cukup membuat satu pembukuan berdasarkan Standar Akuntansi
Keuangan (SAK), dan pada waktu mengisi SPT Tahunan PPh terlebih dahulu harus
dilakukan koreksi-koreksi fiskal. Koreksi fiskal meliputi pengakuan pendapatan
dan biaya yang dapat berupa koreksi positif dan koreksi negatif.
1. Koreksi Fiskal Positif
Koreksi Fiskal Positif Yaitu koreksi fiskal yang menyebabkan penambahan
penghasilan kena pajak dan PPh terutang. Jenis Koreksi Fiskal Positif antara lain :

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen,
termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang
polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu, atau anggota.
c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali:
1) Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan
pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang.

Koreksi Fiskal 11
2) Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
3) Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan.
4) Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan.
5) Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan.
6) Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah
industri untuk usaha pengolahan limbah industry.
d. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna,
dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali
jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan
bagi Wajib Pajak yang bersangkutan.
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan
dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam
bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan.
f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham
atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan.
g. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m
serta zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima
oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
h. Pajak Penghasilan.
i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib
Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya.

Koreksi Fiskal 12
j. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham.
k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana
berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di
bidang perpajakan
l. Persediaan yang jumlahnya melebihi jumlah berdasarkan metode penghitungan
yang sudah ditetapkan dalam
m. Penyusutan yang jumlahnya melebihi jumlah berdasarkan metode
penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008
tentang PPh.
n. Biaya yang ditangguhkan pengakuannya.

(Referensi: Pasal 4, Pasal 6 dan Pasal 9 UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan (PPh))

2. Koreksi Fiskal Negatif


Yaitu koreksi yang menyebabkan pengurangan penghasilan kena pajak dan
PPh terutang. Jenis Koreksi Fiskal Negatif antara lain:

1) Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final antara lain:


a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi
dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi
kepada anggota koperasi orang pribadi.
b. Penghasilan berupa hadiah undian.
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif
yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau
pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima
oleh perusahaan modal ventura.
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau
bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah
dan/atau bangunan.
2) Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak antara lain:
a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil
zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah

Koreksi Fiskal 13
dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan
keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di
Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan
yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan.
b. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial
termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha
mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha,
pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang
bersangkutan.
c. Warisan.
d. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti
saham atau sebagai pengganti penyertaan modal.
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari
Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib
Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang
menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit).
f. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi bea siswa.
g. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau
badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
 Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan.
 Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha
milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada

Koreksi Fiskal 14
badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima
persen) dari jumlah modal yang disetor.
h. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun
pegawai.
i. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana
dimaksud pada huruf h, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Keuangan.
j. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan,
firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi
kolektif.
k. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa
bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan
usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha
tersebut:
 Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang
menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
 sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
l. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
m. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya,
yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan
pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu
paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan.

Koreksi Fiskal 15
n. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
o. Persediaan yang jumlahnya kurang jumlah berdasarkan metode
penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008
tentang PPh.
p. Penyusutan yang jumlahnya kurang jumlah berdasarkan metode
penghitungan yang sudah ditetapkan dalam Pasal 10 UU No.36 Tahun 2008
tentang PPh.

Dari penjelasan di atas, perbedaan koreksi positif dan koreksi negatif secara
ringkas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.1
Rincian jenis-jenis penyesuaian

2.2 Kebijakan Fiskal di Indonesia


Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam perekonomian yang
dilakukan oleh pemerintah melalui instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN). APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Negara

Koreksi Fiskal 16
Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar
sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran Negara
selama satu tahun anggaran (1 Januari-31 Desember). APBN merupakan
instrument untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan negara dalam rangka
membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai
pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabilitas
perekonomian, dan menentukan arah serta prioritas pembangunan secara umum.
Kebijakan fiskal berhubungan erat dengan kegiatan pemerintah sebagai
pelaku sektor publik. Kebijakan fiskal dalam penerimaan pemerintah dianggap
sebagai suatu cara untuk mengatur mobilisasi dana domestik, dengan instrument
utamanya perpajakan. Di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia,
kebijakan moneter dan kebijakan luar negeri belum berjalan seperti yang
diharapkan. Dengan demikian, peranan kebijakan fisikal dalam bidang
perekonomian menjadi semakin penting.
Dalam buku teori ekonomi makro, penerimaan pemerintah diasumsikan
berasal dari pajak. Besarnya pajak yang diterima pemerintah dipengaruhi oleh
tingkat pendapatan, sebaiknya pajak dapat dipengaruhi pola Prilaku produksi dan
konsumsi. Jadi, pajak adalah iuran wajib kepada pemerintah yang bersifat memaksa
dan legal (berdasarkan undang-undang), sehingga pemerintah mempunyai kekuatan
hukum. Misalnya: denda atau kurungan penjara untuk menindak wajib pajak yang
tidak memenuhi kewajibannya.
Secara ekonomi, pajak dapat didefinisikan sebagai pemindahan sumber
daya yang ada disektor rumah tangga dan perusahaan (dunia usaha) ke sektor
pemerintah melalui mekanisme pemungutan tanpa wajib memberi balas jasa
langsung. Jika, pungutan pemerintah sifatnya memberi balas jasa langsung, maka
pengutan tersebut disebut retribusi (Budiarto, 2008:18). Perubahan tingkat dan
komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat memengaruhi variabel-variabel
berikut:
1. Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi
2. Pola persebaran sumber daya
3. Distribusi pendapatan

Koreksi Fiskal 17
Dengan kebijaksanaan fiskalnya pemerintah dapat mengusahakan terhindarnya
perekonomian dari keadaan-keadaan yang tidak diinginkan seperti keadaan dimana
banyak pengangguran, inflasi, neraca pembayaran internasional yang terus menerus
defisit dan sebagainya. Ada analisis yang dipakai dalam kebijakan fiskal, yaitu:
1. Analisis kebijaksanaan fiskal dalam sistem perpajakan yang sederhana.
Dengan adanya tindakan fiskal pemerintah, pengeluaran masyarakat untuk
konsumsi tidak lagi secara langsung ditentukan oleh tinggi rendahnya
pendapatan nasional, akan tetapi oleh tinggi rendahnya pendapatan yang
siap untuk di belanjakan atau disposable income.
2. Analisis kebijaksanaan fiskal dalam system perpajakan yangBuilt-in
Flexible.
Yang dimaksud dengan system perpajakan yang built-in flexibleadalah
system pemungutan pajak pendapatan, maksudnya adalah untuk meratakan
distribusi pendapatan agar tidak terjadi ketegangan – ketegangan social.
Dikatakan flexible karena mengikuti pendapatan, apabila pendapatan besar
maka jumlah pajak yang di bayar besar dan begitu sebaliknya.
Kebijakan fiskal pemerintah dapat bersifat ekspansif maupun kontraktif.
Kebijakan yang bersifat ekspansif maupun kontraktif. Kebijakan yang bersifat
ekspansif dilakukan pada saat perekonomian sedang menghadapi masalah
pengangguran yang tinggi. Tindakan yang dilakukan pemerintah adalah dengan
memperbesar pengeluaran pemerintah (misalnya menambah subsidi kepada rakyat
kecil) atau mengurangi tingkat pajak. Adapun kebijakan fiskal kontraktif adalah
bentuk kebijakan fiskal yang dilakukan pada saat perekonomian mencapai
kesempatan kerja penuh atau menghadapai inflasi. Tindakan yang dilakukan adalah
mengurangi pengeluaran pemerintah atau memperbesar tingkat pajak. Kebijakan
Anggaran atau Politik Anggaran:
1. Anggaran Defisit (defisit budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif.
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untu membuat pengeluaran
lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada
perekonomian. Umumnya sangat baik digunakan jika keadaan ekonomi
sedang resesif.
2. Anggaran Surplus (surplus budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif.

Koreksi Fiskal 18
Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat
pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Baiknya politik
anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang
ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan
permintaan.
3. Anggaran Berimbang (Balanced Budget)
Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran
sama besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni
terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin.

2.3 Kebijakan Harga dan Peranan Pemerintah


Pemerintah sebagai salah satu pelaku ekonomi (rumah tangga pemerintah),
memiliki fungsi penting dalam perekonomian yaitu berfungsi sebagai stabilitas,
alokasi, dan distribusi. Adapun penjelasan dari fungsi tersebut adalah:
1. Fungsi Stabilitas
Fungsi stabilitas adalah fungsi pemerintah dalam menciptakan kestabilitasa
ekonomi, sosial, politik, hukum, pertahanan dan keamanan.
2. Fungsi Alokasi
Fungsi alokasi dalah fungsi pemerintah sebagai penyedia barang dan jasa
publik seperti pembangunan jalan raya, gedung sekolah, penyediaan
fasilitas penerangan, dan telepon.
3. Fungsi Distribusi
Fungsi distribusi adalah fungsi pemerintah dalam pemerataan atau distribusi
pendapatan masyarakat.
Peran dan fungsi pemerintah dalam perekonomian di Indonesia, yaitu
sebagai berikut:
a. Pembangunan ekonomi dibanyak negara umumnya terjadi akibat intervensi
pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung. Intervensi
pemerintah diperlukan dalam perekonomian untuk mengurangi dari
kegagalan pasar (market failure) seperti kekakuan harga monopoli dan
dampak negatif kegiatan usaha swasta contoh pencemaran lingkungan.
b. Mekanisme pasar berfungsi tanpa keberadaan aturan yang dibuat
pemerintah. Aturan ini memberikan landasan bagi penerapan aturan main,

Koreksi Fiskal 19
termasuk pemberian sanksi bagi pelaku ekonomi yang melanggar. Peranan
pemerintah menjadi lebih penting karena mekasnisme pasar saja tidak dapat
menyelesaikan semua persoalan ekonomi. Untuk menjamin efisiensi,
pemerataan dan stabilitas ekonomi, peran dan fungsi pemerintah mutlak
diperlukan dalam perekonomian sebagai pengendalian mekanisme pasar.
Kegagalan pasar (market failure) adalah suatu istilah untuk menyebut
kegagalan pasar dalam mencapai alokasi atau pembagian sumber daya yang
optimum. Hal ini khususnya dapat terjadi jika pasar didominasi oleh para pemasok
monopoli produksi atau konsumsi dan sebuah produk mengakibatkan dampak
sampingan (eksternalitas), seperti rusaknya ekosistem lingkungan.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, negara atau pemerintah memiliki
fungsi yang penting dalam kehidupan ekonomi, terutama yang berkaitan dengan
penyediaan barang dan jasa. Barang dan jasa tersebut sangat diperlukan masyarakat
dan disebut sebagai kebutuhan publik. Kebutuhan publik meliputi dua macam
barang, yaitu barang dan jasa publik dan barang dan jasa privat.
1) Barang dan jasa publik adalah barang dan jasa yang pemanfaatannya dapat
dinikmati bersama. Contoh barang dan jasa publik yaitu jalan raya, fasilitas
kesehatan, pendidikan, tranportasi, air minum dan penerangan. Dengan
pertimbangan skala usaha dan efisiensi, negara melakukan kegiatan ekonomi
secara langsung sehingga masyarakat dapat lebih cepat dan lebih murah dalam
memanfaatkan barang dan jasa tersebut.
2) Barang dan jasa privat adalah barang dan jasa yang diproduksi dan
penggunaannya dapat dipisahkan dari penggunaan oleh orang lain. Contoh:
pembelian pakaian akan menyebabkan hak kepemilikan dan penggunaan
barang berpindah ke orang yang membelinya. Barang ini umumnya diupayakan
sendiri oleh masing-masing orang.
Selain itu, peran penting pemerintah baik secara langsung dan tidak
langsung didalam kehidupan ekonomi adalah untuk menghindari timbulnya
eksternalitas, khususnya dampak sampingan bagi lingkingan alam dan sosial. Pada
umumnya sektor pasar (sektor swasta) tidak mampu mengatasi dampak
eksternalitas yang merugikan seperti pencemaran lingkungan yang timbul karena
persaingan antar lembaga ekonomi. Misalnya, sebuah pabrik tekstil yang dalam

Koreksi Fiskal 20
pasar persaingan sempurna. Menurut standar industri yang sehat, pabrik tersebut
seharusnya membangun fasilitas pembuangan limbah. Akan tetapi, mereka
membuangnnya kesungai. Jika pemerintah tidak mengambil tindakan tegas, dengan
memaksa pabrik tersebut membangun fasilitas pembuangan limbah pabrik akan
semakin banyak penduduk yang merasa dirugikan atas limbah atau polusi yang
diakibatkan adanya kegiatan dalam pabrik tersebut. Selain memberi peringatan
tesebut, pemerintah juga mengenakan pajak polusi untuk menandai kerugian-
kerugian yang lain.
Pada intinya, pemerintah ikut serta dalam kegiatan perekonomian supaya
menanggulangani kegagalan pasar sehingga tidak adanya eksternalitas yang
merugikan banyak pihak. Adapun bentuk dari peran pemerintah yakni dengan
melakukan intervensi baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk
mengatasi kegagalan pasar (market failure) seperti kekutan harga, monopoli dan
eksternalitas yang merugikan maka peran pemerintah sangat diperlukan dalam
perekonomian suatu negara. Perekonomian ini dapat dilakukan dalam bentuk
intervensi secara langsung maupun tidak langsung. Berikut adalah intervensi
pemerintah secara langsung dan tidak langsung dalam menentukan harga pasar
untuk melindungi konsumen atau produsen melalui kebijakan penetapan harga
minimum (floor price) dan kebijakan penetapan harga maksimum (ceiling price).
a) Intervansi Pemerintahan secara Langsung
1) Penetepan Harga Minimun (floor price)
Penetapan harga minimum atau harga dasar yang dilakukan oleh pemerintah
bertujuan untuk melindungi produsen, terutama untuk produk dasar
pertanian. Misalnya harga gabah kering terhadap harga pasar yang terlalu
rendah. Hal ini dilakukan supaya tidak ada tengkulak (orang/pihak yang
membeli dengan harga murah dan dijual kembali dengan harga mahal) yang
membeli produk tersebut diluar harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Jika pada harga tersebut tidak ada yang membeli, pemerintah akan
membelinya melalui BULOG (Badan Usaha Logistik) kemudian
didistribusikan ke pasar. Namun, mekanisme penetapan harga seperti ini
sering mendorong munculnya praktik pasar gela, yaitu pasar yang
pembentukan harganya di luar harga minimum.

Koreksi Fiskal 21
2) Penetapan Harga Maksimum (celing price)
Penetapan harga maksimum atau Harga Eceran Tertinggi (HET) yang
dilakukan pemerintah bertujuan untuk melindungi konsumen. Kebijakan
HET dilakukan oleh pemerintah jika harga pasar dianggap terlalu besar
diluar batasa daya beli masyarakat (konsumen). Penjual tidak diperbolehkan
menetapkan harga diatas harga maksimum tersebut. Contoh penetapan
harga maksimum di Indonesia antara lain harga obat-obatan di apotek, harag
BBM, dan tarif angkutan atau transportasi seperti tiket bus kota, tarif kereta
api, dan tarif taksi per kilometer. Seperti halnya penetapan harga minimum,
penetapan harga maksimum juga mendorong terjadinya pasar gelap.
b) Intervensi Pemerintah secara Tidak Langsung
Penetapan Pajak: Kebijakan penetapan pajak dilakukan oleh pemerintah dengan
cara mengenakan pajak yang berbeda-beda untuk berbagi komoditas. Misalnya
untuk melindungi produsen dalam negeri, pemerintah dapat meningkatkan tarif
pajak yang tinggi untuk barang impor. Hal tersebut menyebabkan konsumen
membeli produk dalam negeri yang harganya relatif sangat murah.

2.4 Pengaruh resiko kebijakan fiskal


Resiko fiskal didefinisikan sebagai potensi tambahan defisit APBN yang
disebabkan oleh sesuatu diluar kendali pemerintah. Pengungkapan resiko fiskal
sangat perlu untuk empat tujuan strategis, yaitu:
1) Peningkatan kesadaran seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dalam
pengelolaan kebijakan fiskal
2) Meningkatkan keterbukaan fiskal.
3) Meningkatkan tanggung jawab fiskal
4) Menciptakan kesinambungan fiskal
Resiko fiskal dikelompokkan dalam empat kategori utama, yaitu:
1) Resiko ekonomi makro
Penyusunan APBN indikator-indikator ekonomi makro yang digunakan sebagai
dasar penyusunan adalah pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, suku bunga
sertifikat Bank Indonesia, nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia
dan lifting minyak. Secara umum sumber resiko fiskal yang dihadapi oleh
APBN terutama berasal dari dua resiko utama, yakni:

Koreksi Fiskal 22
 Inflasi
Pemerintah memperoyeksikan angka inflasi tahun 2014 sebesar 5,3 % lebih
rendah dari tingkat inflasi pada tahun 2013, yang mencapai angka yang
cukup tinggi yaitu sebesar 8,3 %. Sementara pada tahun 2015, BI (bank
Indonesia) sudah menetapkan besaran inflasi sekitar 4,4 % atau berada pada
kisaran rentang sasaran inflasi yang telah ditetapkan sebesar 4,0 ± 1,0 %.
 Harga Minyak
Pemerintah memerintahkan harga minyak berkisar antara US$ 105 per barel
s/d US$ 95 per barel, angka tersebut sejalan dengan penurunan harga
minyak dipasaran dunia.
2) Resiko utang dinamika ekonomi makro.
Pengelolaan resiko utang diperlukan agar target pembiayaan utang dapat
diperoleh dengan biaya yang wajar dan tidak menimbulkan penumpukkan
beban utang yang tidak terkendali pada masa yang akan mendatang. Pada
dasarnya resiko utang terdiri dari empat, antara lain:
 Resiko pasar
Terdiri dari resiko nilai tukar, resiko tingkat bunga dan resiko likuiditas
yang timbul sebagai akibat dari ketikpastian kondisi pasar keuangan yang
dinamis. Resiko nilai tukar terutama berasal dari utang memlaui penjaman
luar negeri, sedangkan resiko tingkat bunga bersumber dari pinjaman luar
negeri berbasis LIBOR dan SBN berbasis SBI 3 bulan.
 Resiko operasional
Resiko operasional adalah resiko yang disebabkan oleh kegagalan pada
orang, proses bisnis dan sistem diunit terkait. Serta yang ditimbulkan oleh
aspek ilegal. Resiko ini antara lain dapat berupa gagal bayar akibat kelalaian
manusia untuk kegagalan sistem yang berdampak pada penurunan
sorvereign credit rating.
 Resiko reputasi
Resiko reputasi merupakan resiko penurunan kredibilitas pengelolaan utang
dari sudit pandang investor dan lender yang disebabkan oleh rendahnya
tingkat kepastian dan konsistensi penerapan strategi pengelolaan utang.
3) Kewajiban kontijensi pemerintah pusat

Koreksi Fiskal 23
Kewajiban kontijensi merupakan kewajiban potensial yang timbul dari
peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadinya suatu
peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam
kendali pemerintah. Kewajiban kontijensi pemerintah pusat yang menjadi
resiko fiskal bersumber dari pemberian dukungan dan/atau pinjaman
pemerintah atas proyek-proyek infrastruktur, kewajiban yang timbul akibat
program pensiun dan tabungan hari tua pegawai negeri.
4) Desentralisasi fiskal
Kebijakan desentralisasi fiskal dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat
terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan,
pemberdayaan dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah
dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan,
keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Republik
Kesatuan Indonesia. Dalam hal pelaksanaannya, penerapan kebijakan ini selain
menghasilkan hal-hal positif sebagaimana yang diharapkan ternyata juga
berpotensi menimbulkan resiko fiskal. Resiko fiskal dari desntralisasi fiskal
diantaranya bersumber dari kebijakan daerah, tunggakan pemerintah daerah
atas pengembalian penerusan pinjaman dari luar negari dari rekening pinjaman
daerah serta pengalihan pajak pusat menjadi pajak daerah.

Koreksi Fiskal 24
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kebijakan ekonomi memiliki peran yang sangat penting dalam suatu tatanan
negara sebagai penstabilan ekonomi. Pemerintah menjalankan kebijakan fiskal
adalah dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya perekonomian, atau dengan
kata lain, kebijakan fiskal pemerintah berusaha mengarahkan jalannya
perekonomian menuju keadaan yang diinginkannya. Sehingga, dengan adanya
kebijakan fiskal ini pemerintah berharap dapat mengendalikan dan mengawasi
keadaan ekonomi.

3.2 Saran
Dari makalah di atas, semoga dapat bermanfaat bagi mahasiswa khususnya
pembaca sebagai tambahan wawasan mengenai koreksi fiskal. Makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mohon kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca.

Koreksi Fiskal 25
DAFTAR PUSTAKA

Boediono. Kebijakan Fisikal: Pemikiran, Konsep, dan Implementasi, Jakarta:


Kompas, 2003.

Boediono. Keterangan Menteri Keuangan tentang Rencana Kerja Pemerintah,


Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal
RAPBN, 2005.

Ferry, Prasetyia. 2011. Rekonstruksi Sistem Fiskal Nasional Dalam Bingkai


Konstitusi. Journal of Indonesian Applied Economics. 5(2): 141-156.

Kementrian keuangan (kemenkeu). http://www.kemenkeu.go.id/wide/apbn2015

M.L Jhingan. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Jakarta: Rajawali Pers,


2003.

Prathama Rahardja, Pengantar Ilmu Ekonomi, Jakarta : Fakultas Ekonomi


Universitas Indonesia 2008.

Prof. Dr. Mardiasmo, M. A. (2011). Perpajakan Edisi Revisi 2011. Yogyakarta:


ANDI Yogyakarta.

Purjono. 2014. Widyaiswara Madya di Pusdiklat Bea dan Cukai.

Reksoprayitno, Soediyono. 2000. Pengantar Ekonomi Mikro Edisi 6. Hal 97-98.


Yogyakarta.

Resmi, Siti. 2014. Perpajakan Teori dan Kasus. Jakarta: Salemba Empat.

Samuelson, Paul A and William D. Nordhaus. 1992. Makroekonomi edisi keempat


belas. Hal 344-353. Jakarta. Erlangga.

Surjaningsih, Ndari, G. A Diah Utari, et al. 2012. Dampak Kebijakan Fiskal


Terhadap Output dan Inflasi. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Waluyo. 2011. “Perpajakan Indonesia”. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Koreksi Fiskal 26