Anda di halaman 1dari 31

TUGAS MATA KULIAH

ARSITEKTUR DAN PERILAKU


“SETTING PERILAKU PADA AREA SANTAI DAN
CATUR MONUMEN PUPUTAN BADUNG”

Kelompok 1 :

Ni Kadek Ita Purnama Dewi 1304205007


Made Leony Nurindah Sari 1304205029
Ni Kadek Dwi Susilayanti 1304205046

UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dan lingkungan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Dalam
menjalani aspek kehidupan, manusia selalu berada pada sebuah lingkungan tertentu. Sehingga
apabila terjadi perubahan perilaku aktivitas tentu akan mempengaruhi lingkungan sebagai
wadah aktivitas tersebut.
Aktivitas manusia sebagai wujud dari perilaku yang ditujukan mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh tatanan (setting) fisik yang terdapat dalam ruang yang menjadi wadahnya
Ruang yang menjadi wadah dari aktivitas di upayakan untuk memenuhi kemungkinan
kebutuhan yang diperlukan manusia, yang artinya menyediakan ruang yang memberikan
kepuasan bagi pemakainya. Setting terkait langsung dengan aktivitas manusia sehingga dengan
mengidentifikasi sistem aktivitas yang terjadi dalam suatu ruang akan teridentifikasi pula
sistem settingnya yang terkait dengan keberadaan elemen dalam ruang. (Rapoport,1991)
Dari hal tersebut dapat dilihat setting berpengaruh besar terhadap pola perilaku
manusia, dari hasil pengamatan pada makalah ini diharapkan dapat memperluas wawasan
pengetahuan arsitek muda tentang bagaimana manusia dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor
disekitarnya, sehingga nantinya dapat menyusun program yang sesuai dengan perilaku yang
timbul akibat pengaruh setting tertentu

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa pengertian setting perilaku, sistem setting dan sistem aktivitas?
b. Bagaimana hubungan sistem setting dengan perilaku manusia?
c. Bagaimana sistem setting dan sistem aktivitas yang terjadi pada Area Santai dan Area
Catur di Lapangan Puputan Badung?
d. Bagaimana hubungan antara setting dan pelaku aktivitas yang terjadi pada Area Santai
dan Area Catur di Lapangan Puputan Badung?
e. Bagaimana hubungan antara setting ruang dan perilaku civitas dengan desain Area
Santai dan Area Catur di Lapangan Puputan Badung?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penugasan ini yaitu mengetahui bagaimana setting perilaku pada Area
Santai dan Area Catur di Lapangan Puputan Badung yang di dalamnya menyangkut sistem
setting baik secara makro maupun mikro, sistem aktivitas, serta pengaruh pemetaan elemen
pada desain ruang yang akan memengaruhi pola perilaku dari civitas di tempat tersebut.

1.4 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari tugas ini adalah mahasiswa memperoleh wawasan baru
mengenai setting perilaku pada Area Santai dan Area Catur di Lapangan Puputan Badung.
Sedangkan bagi tim pengajar penyelesaian tugas ini akan memberikan gambaran apakah
mahasiswa telah sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai.
BAB II
URAIAN TOPIK

2.1. Pengertian Setting Perilaku


Setting perilaku terdiri dari dua buah kata yaitu setting dan perilaku. Masing-masing
kata tersebut memiliki definisi tersendiri. Secara umum setting berarti sebuah latar atau tempat
dan ruang. Dikutip dari sebuah situs internet www.trigonalmedia.com yang ditulis oleh Fuji
dan Citra Restu, setting dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu setting yang bersifat psikologis
dan bersifat fisikal. Setting bersifat psikologis yaitu yang berhubungan dengan suasana, sikap,
serta jalan pikiran suatu individu maupun lingkungan masyarakat tertentu. Sedangkan setting
bersifat fisikal yaitu yang berhubungan dengan tempat.
Menurut Setiawan (1995) penggunaan istilah setting dipakai dalam kajian arsitektur
lingkungan (fisik) dan perilaku, yang menunjuk pada hubungan integrasi antara ruang
(lingkungan fisik secara spasial) dengan segala aktivitas individu/sekelompok individu dalam
kurun waktu tertentu. Dimana penggunaan istilah setting lebih menunjuk pada unsur kegiatan
manusia yang tidak nampak. Menurut Schoggen dalam Sarwono (2001), pengertian setting
diartikan sebagai tatanan suatu lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku manusia,
artinya di tempat yang sama, perilaku manusia dapat berbeda kalau tatanannya berbeda.
Kata perilaku sendiri menunjukkan manusia dalam aksinya, berkaitan dengan semua
aktivitas manusia secara fisik; berupa interaksi manusia dengan sesamanya maupun dengan
lingkungan fisiknya hal tersebut tertulis dalam Arsitektur dan Perilaku Manusia karya Laurens
(2004:1). Di dalam buku tersebut dijelaskan juga bahwa sebagai objek studi empiris, perilaku
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Perilaku itu sendiri kasat mata, tetapi penyebab terjadinya perilaku secara langsung
mungkin tidak dapat diamati.
b. Perilaku mengenal berbagai tingkatan, yaitu perilaku sederhana dan stereotip, seperti
perilaku binatang bersel satu; perilaku kompleks seperti perilaku sosial manusia; perilaku
sederhana seperti refleks, tetapi ada juga yang melibatkan proses mental biologis yang
lebih tinggi.
c. Perilaku bervariasi dengan klasifikasi: kognitif, afektif, dan psikomotorik yang menunjuk
pada sifat rasional, emosional, dan gerakan fisik dalam berperilaku.
d. Perilaku bisa disadari dan bisa juga tidak disadari.
Berdasarkan penjabaran di atas setting perilaku (behavior setting) dapat diartikan
secara sederhana sebagai suatu interaksi antara suatu kegiatan dengan tempat yang spesifik.
Behavior setting mengandung unsur-unsur sekelompok orang yang melakukan sesuatu
kegiatan, aktifitas, atau perilaku dari sekelompok orang tersebut dimana kegiatan tersebut
dilakukan, serta waktu spesifik saat kegiatan dilaksanakan (Haryadi B. Setiawan, 2010:27).
Menurut Barker (1968) dalam Laurens (2004:131), behaviour setting di sebut juga dengan
‘tatar perilaku’ yaitu pola perilaku manusia yang berkaitan dengan tatanan lingkungan fisiknya.
Sependapat dengan Haviland (1967) dalam Laurens (2004:131) bahwa tatar perilaku sama
dengan ‘ruang aktivitas’ untuk menggambarkan suatu unit hubungan antara perilaku dan
lingkungan bagi perancangan arsitektur.
Istilah behavior setting ini pertama kali diperkenalkan oleh Barker, seorang pelopor
kajian psikologi ekologi pada tahun 1950-an. Bersama rekannya Wright, dalam studi mereka
tentang perilaku anak-anak di berbagai lokasi berbeda. Mereka menemukan pola perilaku yang
unik dan spesifik terkait secara khusus dengan unsur-unsur fisik atau setting yang ada. Apa
yang menjadi penekanan dalam kajian ini adalah bagaimana seorang dapat
mengidentifikasikan perilaku-perilaku yang secara konstan atau berkala muncul pada satu
situasi tempat atau setting tertentu (Haryadi B. Setiawan, 2010:28).
Barker dan Wright (1968) dalam Laurens (2005:174) juga menyebutkan dan memakai
istilah behavior setting untuk menjelaskan tentang kombinasi perilaku dan mileniu tertentu.
Seperti unit dasar ilmu lain, misalnya sel untuk biologi, atau planet untuk astronomi, behavior
setting berdiri sendiri secara independen, tidak terkait dengan investigator. Akan tetapi untuk
tujuan ilmiah, diperlukan definisi yang lebih akurat, terukur, dan terutama mengetahui derajat
ketergantungan antarunit.
Barker dan Wright (1968) dalam Laurens (2005:175) mengungkapkan ada kelengkapan
kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah entitas, agar dapat dikatakan sebagai sebuah behavior
setting yang merupakan suatu kombinasi yang stabil antara aktivitas, tempat, dengan kriteria
sebagai berikut :
1. Terdapat suatu aktifitas berulang, berupa suatu pola prilaku (standing patern of
behavior). Dapat terdiri atas satu atau lebih pola perilaku ekstraindividual. Istilah
ekstraindividual menunjukkan fakta bahwa sebuah setting tidak tergantung hanya pada
seorang manusia atau objek. Yang terpenting adalah konfigurasi secara keseluruhan,
bagian demi bagian.
2. Dengan tata lingkungan tertentu (circumfacent milieu), mileu ini berkaitan dengan pola
perilaku. Istilah circumfacent milieu merujuk pada batas fisik dan tempolar dari sebuah
setting. Setiap behavior setting berbeda dari setting menurut waktu dan ruang.
3. Membentuk suatu hubungan yang sama antar keduanya, (synomorphy). Synomorphic
berarti struktur yang sama yang menunjukkan adanya hubungan antara mileu dan
perilaku. Batas-batas mileu dan bagian internal sebuah setiing tidak ditentukan secara
sembarangan, tetapi merupakan sesuatu yang harus selaras dengan pola perilaku
ekstraindividual dan setting.
4. Dilakukan pada priode waktu tertentu.
Menurut Laurens (2005:176) ketidakhadiran suatu bagian memang menimbulkan
perbedaan dalam hal fungsi suatu setting, namun tidak berarti bahwa menghalangi terjadinya
sebuah behavior setting. Dengan demikian, berarti suatu tatanan fisik tertentu bisa menjadi
bagian dari beberapa behavior setting apabila aktivitas yang terjadi berbeda-beda dan pada
waktu yang berbeda pula. Melalui definisi tersebut terlihat bahwa setiap kriteria menunjukan
atribut tertentu dari sebuah setting. Behavior setting dijabarkan dalam dua istilah yaitu system
of setting dan system of activity, dimana keterkaitan antara keduanya membentuk satu behavior
setting tertentu. Dipakainya istilah sistem di dalam dua istilah tersebut menegaskan bahwa di
antara beberapa unsur ruang atau di antara beberapa kegiatan tersebut, terdapat suatu struktur
atau rangkaian yang menjadikan suatu kegiatan atau perilakunya mempunyai makna, terlepas
apakah makna ini dapat dibaca atau diartikan oleh orang lain yang tidak mengikuti kegiatan
tersebut (Haryadi B. Setiawan, 2010:28).

2.2. Sistem Setting


Sistem setting (system of setting) atau sistem tempat atau ruang diartikan sebagai
rangkaian unsur-unsur fisik atau spasial yang mempunyai hubungan tertentu dan terkait hingga
dapat dipakai untuk suatu kegiatan tertentu. Contoh sistem setting adalah ruang yang
dimanfaatkan sebagai ruang untuk pameran, ruang terbuka atau trotoar yang ditata untuk
pedagang kaki lima. Dalam konteks sistem setting tidak semua orang memiliki hak dan dapat
secara langsung terintregasikan dalam sistem kegiatan yang berlangsung dalam setting tertentu
(Haryadi B. Setiawan, 2010:28).
Selanjutnya untuk mengetahui sejauh mana interdepensi antara dua entitas yang
masing-masing mempunyai atribut untuk menjadi behavior setting menurut Laurens
(2004:136), dapat dilakukan pengujian yang ditinjau dari berbagai dimensi, meliputi :
1. Aktivitas
2. Penghuni
3. Kepemimpinan, untuk mengetahui posisi fungsional penghuni, untuk mengetahui peran
sosialnya yang ada didalam komunitas tersebut.
4. Populasi, sebuah setting dapat mempunyai banyak atau sedikit partisipan. Komunitas
dianggap lebih baik apabila memiliki banyak setting.
5. Ruang, ruang tempat terjadinya setting tertentu sangat beragam, bisa di ruang terbuka atau
ruang tertutup.
6. Waktu, kelangsungan sebuah setting dapat terjadi secara rutin atau sewaktu-waktu. Durasi
pada setting yang sama dapat berlangsung sesaat atau terus-menerus sepanjang tahun.
7. Objek
8. Mekanisme pelaku.
Berdasarkan elemen pembentuknya Rapoport (1997) dalam Haryadi dan B Setiawan,
setting dapat dibedakan yaitu:
1. Unsur fix (fixed element), yaitu elemen yang pada dasarnya tetap atau perubahannya jarang
dan lambat. Secara spasial elemen – elemen ini dapat diorganisasikan ke dalam ukuran,
lokasi, urutan, dan susunan. Tetapi dalam suatu kasus fenomena, elemen – elemen ini bisa
dilengkapi oleh elemen – elemen yang lain. Seperti lantai, dinding pembatas, dan langit –
langit.
2. Unsur semi fix (semi fixed element), yaitu elemen-elemen yang tidak tetap, dapat terjadi
perubahan cukup cepat dan mudah. Biasanya berkisar dari susunan dan tipe elemen,
contohnya seperti tempat tidur, almari, dan meja.
3. Unsur non fix, yaitu elemen-elemen yang berhubungan dengan tingkah laku atau perilaku
manusia yang ditujukan oleh manusia itu sendiri yang selalu tidak tetap, seperti posisi
tubuh dan postur tubuh serta gerak anggota tubuh dalam menggunakan ruang. Contoh,
pejalan kaki.
Setting terkait langsung dengan aktivitas manusia sehingga dengan mengidentifikasi
sistem aktivitas atau perilaku yang terjadi dalam suatu ruang akan teridentifikasi pula sistem
settingnya yang terkait dengan keberadaan elemen dalam ruang.

Gambar 2.1. Tingkatan atau Skala Sistem Ruang (Sistem Setting)


Sumber : Heimstra dan Mc.Farling : 1978
2.3. Sistem Aktivitas
Sistem aktivitas (system of activity) atau sistem kegiatan diartikan sebagai suatu
rangkaian perilaku yang secara sengaja dilakukan oleh satu atau beberapa orang. Contoh sistem
aktivitas adalah rangkaian persiapan dan pelayanan dalam suatu restoran atau rangkaian
upacara perkawinan dengan adat Jawa (Haryadi B. Setiawan, 2010:28). Menurut Chapin dan
Brail (1969;Porteous,1977) dalam Laurens (2005:184) sistem aktivitas dalam sebuah
lingkungan terbentuk dari rangkaian sejumlah behavior setting. Sistem aktivitas seseorang
menggambarkan motivasi, sikap, dan pengetahuannya tentang dunia dengan batasan
penghasilan, kompetisi, dan nilai-nilai budaya yang bersangkutan.
Laurens (2005:184) menyebutkan dalam pengamatan behavior setting, dapat dilakukan
analisis melalui beberapa cara, sebagai berikut :
a. Menggunakan Time Budget
Time budget memungkinkan orang mengurai atau mendekomposisikan suatu aktivitas
sehari-hari, aktivitas mingguan atau musiman, kedalam seperangkat behavior setting yang
meliputi hari kerja mereka, atau gaya hidup mereka (Michelson dan Reed, 1975). Fungsi
dan time budget adalah memperlihatkan bagaimana seseorang individu mengonsumsi atau
menggunakan waktunya. Informasi ini meliputi hal-hal berikut :
 Jumlah waktu yang dialokasikan untuk kegiatan tertentu, dengan variasi waktu dalam
sehari, seminggu, atau semusim.
 Frekuensi dari aktivitas dan jenis aktivitas yang dilakukan.
 Pola tipikal dari aktivitas yang dilakukan.
b. Melakukan Sensus
Sensus adalah istilah yang dikemukakan oleh para ahli psikologi lingkungan untuk
menggambarkan proses pembelajaran semua aktivitas seorang individu dalam waktu
tertentu dengan metode pengamatan. Seperti yang dilakukan Barker dan Wright dengan
mengamati perilaku seseorang anak sepanjang hari. Cara ini dipakai dengan tujuan
mendapatkan pengertian mengenai, misalnya bagaimana para pekerja menggunakan
bangunan. Untuk mendapatkan data mengenai pola interaksi dalam lingkungan tersebut,
dilakukan sejumlah pengamatan yang membandingkan bagian demi bagian dalam sebuah
lingkungan, atau membandingkan lingkungan yang sama pada waktu yang berbeda, dan
memandingkan lingkungan yang berbeda sama sekali.
Hal yang dapat mewakili data pengamatan behavior setting meliputi :
 Manusia (siapa yang datang, ke mana dan mengapa, siapa yang mengendalikan
setting?);
 Karakteristik ukuran (berapa banyak orang per jam ada di dalam setting bagaimana
ukuran setting secara fisik, berapa sering dan berapa lama setting itu ada?);
 Objek (ada berapa banyak objek dan apa jenis objek yang dipakai dalam setting,
kemungkinan apa saja yang ada bagi stimulasi, respon, dan adaptasi?);
 Pola aksi (aktivitas apa saja yang terjadi di sana, seberapa sering terjadi pengulangan
yang dilakukan orang?).
Setiap setting diamati secara individual. Orang – orang yang memiliki informasi
dan pengetahuan dapat dimintai keterangannya mengenai setting yang bersangkutan.
Adanya sampel dari semua setting merupakan kekuatan metode ini karena dapat
menghindari terjadinya masalah sampling. Namun, sekaligus juga merupakan kelemahan
metode ini karena menjadi sangat sulit untuk mendekati semua lingkungan. Dari observasi
bisa diketahui kondisi lingkungan secara fisik, seperti jumlah dan jenis tatanan perabot
yang ada. Melalui pengukuran yang lebih rinci bisa diketahui keadaan ambiennya seperti
suhu ruangan, kelembaban, pencahayaan ruangan, atau tingkat kebisingan.
c. Studi Asal dan Tujuan
Studi asal dan tujuan adalah suatu studi yang mengamati, mengidentifikasi awal dan akhir
dari pola – pola pergerakan. Studi semacam ini menggambarkan pola perilaku yang
sesungguhnya terjadi, bukan hanya seperti yang dibayangkan oleh arsitek, melainkan yang
membentuk kehidupan seseorang atau sekelompok orang. Studi asal dan tujuan merupakan
pendekatan makro yang dapat diterapkan pada skala tahun atau skala bangunan.
Rancangan dibuat semata – mata berdasarkan imajinasi arsitek sering kali menjadi
rancangan yang ideal bagi arsitek, tetapi mungkin miskin akan affordances dan peluang –
peluang bagi seseorang pengguna untuk memenuhi kebutuhannya. Citra suatu tempat
dapat dipelajari dari komponen visual yang membentuk citra atau aura tempat atau
lingkungan tersebut. Bagaimana persepsi pengguna terhadap lingkungan dan memberi
respon terhadap affordances yang ada. Melalui studi asal dan tujuan ini, yang dapat
dilakukan dengan bantuan fotografi atau film, dapat dibuat rekaman untuk
mengungkapkan pengalaman visual dan spasial dan mempelajari sekuen ruang serta
perilaku pengguna dalam ruang secara runtut dan logis.
2.4. Hubungan Antara Setting dan Perilaku Manusia
Aktivitas manusia sebagai wujud dari perilaku yang ditujukan mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh tatanan (setting) fisik yang terdapat dalam ruang yang menjadi wadahnya,
sehingga untuk memenuhi hal tersebut di butuhkan adanya hal hal berikut (Widley dan scheid
dalam Weisman, 1987) :
1. Kenyamanan, menyangkut keadaan lingkungan yang memberikan rasa sesuai dengan
panca indera
2. Aksesibilitas, menyangkut kemudahan bergerak melalui dan menggunakan lingkungan
sehingga sirkulasi menjadi lancar dan tidak menyulitkan pemakai.
3. Legibilitas, menyangkut kemudahan bagi pemakai untuk dapat mengenal dan memahami
elemen-elemen kunci dan hubungannya dalam suatu lingkungan yang menyebabkan orang
tersebut menemukan arah atau jalan.
4. Kontrol, menyangkut kondisi suatu lingkungan untuk mewujudkan personalitas,
menciptakan teritori dan membatasi suatu ruang.
5. Teritorialitas, menyangkut suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan
kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas suatu tempat. Pola tingkah
laku ini mencakup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan dari luar
(Holahan,1982 dalam Hartanti 1997)
6. Keamanan, menyangkut rasa aman terhadap berbagai gangguan yang ada baik dari dalam
maupun dari luar.
Ruang yang menjadi wadah dari aktivitas diupayakan untuk memenuhi kemungkinan
kebutuhan yang diperlukan manusia, yang artinya menyediakan ruang yang memberikan
kepuasan bagi pemakainya. Setting terkait langsung dengan aktivitas manusia sehingga dengan
mengidentifikasi sistem aktivitas yang terjadi dalam suatu ruang akan teridentifikasi pula
sistem settingnya yang terkait dengan keberadaan elemen dalam ruang (Rapoport,1991).
Hubungan setting dengan perilaku manusia disini lebih mengacu pada setting fisik. Setting
fisik yang dinyatakan dan dibentuk dengan pembatas bukan merupakan sistem tertutup, batas
itu tidak tetap terhadap ruang dan waktu. Dalam suatu setting fisik, perilaku individu
mempunyai karakter perubahan yang menerus disamping berlaku umum dan stabil. Setting
fisik adalah subyek yang bersistem terbuka untuk ruang diluar dan dibatasi waktu. Ketika
perubahan dalam setting fisik tidak menjamin atau berlaku kondusif terhadap pola perilaku
yang menjadi karakteristik terhadap suatu setting, maka akan muncul perilaku tanggapan yang
bisa berupa menerima, menolak atau bahkan menghindar terhadap setting fisik tersebut.
(Materi kuliah ‘Pengantar Arsitektur dan Perilaku’ oleh Ir.Sri Amiranti.MS. 2000).
Pada setting perilaku, proses dan pola perilaku manusia di kelompokkan menjadi dua
bagian, yaitu :
1. Proses Individual
Dalam hal ini proses psikologis manusia tidak terlepas dari proses tersebut. Pada
proses individu meliputi beberapa hal :
a. Persepsi Lingkungan, yaitu proses bagaimana manusia menerima informasi mengenai
lingkungan sekitarnya dan bagaimana informasi mengenai ruang fisik tersebut di
organisasikan kedalam pikiran manusia.
b. Kognisi Spasial, yaitu keragaman proses berpikir selanjutnya, mengorganisasikan,
menyimpan dan mengingat kembali informasi mengenai lokasi, jarak dan tatanannya.
c. Perilaku Spasial, menunjukan hasil yang termanifestasikan dalam tindakan respon
seseorang, termasuk deskripsi dan preferensi personal, respon emosional, ataupun
evaluasi kecenderungan perilaku yang muncul dalam interaksi manusia dengan
lingkungan fisiknya.
Perilaku manusia akan mempengaruhi dan membentuk setting fisik lingkungannya
Rapoport, A, 1986, Pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku dapat dikelompokkan
menjadi 3 yaitu :
 Environmental determinism, menyatakan bahwa lingkungan menentukan tingkah laku
masyarakat di tempat tersebut.
 Enviromental posibilism, menyatakan bahwa lingkungan fisik dapat memberikan
kesempatan atau hambatan terhadap tingkah laku masyarakat.
 Enviromental probabilism, menyatakan bahwa lingkungan memberikan pilihan -
pilihan yang berbeda bagi tingkah laku masyarakat.
2. Proses Sosial
Manusia mempunyai kepribadian individual, tetapi manusia juga merupakan
makhluk sosial hidup dalam masyarakat dalam suatu kolektivitas. Pada proses sosial,
perilaku interpersonal manusia meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Ruang Personal (personal space) berupa domain kecil sejauh jangkauan manusia.
b. Teritorialitas yaitu kecenderungan untuk menguasai daerah yang lebih luas bagi
seseorang.
c. Kesesakan dan Kepadatan yaitu keadaan apabila ruang fisik yang tersedia terbatas.
d. Privasi sebagai usaha optimal pemenuhan kebutuhan sosial manusia.
Dalam proses sosial, perilaku interpersonal yang sangat berpengaruh pada perubahan
ruang publik adalah teritorialitas. Konsep teritori dalam studi arsitektur lingkungan dan
perilaku yaitu adanya tuntutan manusia atas suatu area untuk memenuhi kebutuhan fisik,
emosional dan kultural. Berkaitan dengan kebutuhan emosional ini maka konsep teritori
berkaitan dengan ruang privat dan ruang publik. Ruang privat (personal space) dapat
menimbulkan crowding (kesesakan) apabila seseorang atau kelompok sudah tidak mampu
mempertahankan personal space-nya.
Pendekatan perilaku menekankan keterkaitan antara ruang dengan manusia dan
masyarakat yang memanfaatkan atau menghuni ruang tersebut. Menurut Hariadi dalam buku
Arsitektur Lingkungan dan Perilaku, secara konseptual, pendekatan perilaku menekankan
manusia merupakan makhluk berpikir yang mempunyai persepsi dan keputusan dalam
interaksinya dengan lingkungan.
Stokols (1977) dalam Haryadi dan B. Setiawan (2010), terdapat tiga tingkatan yang
dapat dipakai untuk mengkaji atau menganalisis arsitektur lingkungan dan kegiatan yang
terjadi di dalamnya yakni pada tingkat mikro, menengah dan makro. Tingkatan mikro
digunakan apabila kita berhadapan dengan perilaku individu-individu dalam suatu setting
tertentu. Tingkatan menengah dipakai apabila kita akan menganalisis perilaku kelompok-
kelompok kecil dalam suatu setting tertentu. Tingkatan makro berkaitan dengan analisis
perilaku masyarakat banyak dalam setting luas. Perilaku manusia dalam hubungannya terhadap
suatu setting fisik berlangsung dan konsisten sesuai waktu dan situasi. Karenanya pola perilaku
yang khas untuk setting fisik tersebut dapat diidentifikasikan.
Suatu pola perilaku biasa terdiri dari atas beberapa perilaku secara bersamaan, antara
lain sebagai berikut:
 Perilaku emosional, merupakan sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan
dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika.
 Aktivitas motorik, gerakan yang dilakukan oleh tubuh manusia. Gerakan refleks, Gerakan
terprogram. Gerakan motorik halus : menulis, merangkai, melukis, berjinjit Gerakan
motorik kasar : berjalan, merangkak, memukul, mengayunkan tangan.
 Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antar
individu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.
 Kombinasi dari perilaku tersebut di atas membentuk suatu pola perilaku, terjadi pada
lingkungan fisik tertentu atau pada milieunya.
BAB III

SETTING PERILAKU PADA AREA SANTAI DAN AREA CATUR MONUMEN


PUPUTAN BADUNG I GUSTI NGURAH MADE AGUNG

3.1. Latar Belakang Pemilihan Lokasi Studi Kasus


Monumen Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung merupakan salah satu public
space yang terletak di jantung Kota Denpasar. Monumen ini terletak berdekatan dengan
Museum Bali dan Pura Agung Jagatnatha. Monumen ini dipilih sebagai objek studi kasus
karena lokasi ini merupakan lokasi yang sering dikunjungi banyak orang dengan jenis civitas
dan kegiatan yang dilakukan yang beragam. Pada objek studi kasus ini juga terdapat beberapa
titik lokasi yang dapat dijadikan titik pengamatan behaviour setting. Titik yang terpilih adalah
area santai dan area bermain catur yang terletak pada sisi timur Monumen Puputan Badung.
Dua titik ini merupakan area yang paling sering dikunjungi dibandingkan dengan titik-titik lain
yang terdapat pada objek studi kasus. Analisa yang akan dilakukan pada Monumen Puputan
Badung ini akan membahas mengenai setting perilaku civitas di area publik, dengan fokus
pengamatan pada area santai dan area catur.
3.2. Identitas Studi Kasus
 Setting : Area Santai dan Area Catur Monumen Puputan Badung I Gusti
Ngurah Made Agung
 Alamat : Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat, Denpasar, Bali.
 Peta Lokasi :

Gambar 3.1. Peta Lokasi Monumen


Puputan Badung
Sumber : Google satelite
 Segmen Fasilitas Publik :
- Area Santai
Fokus pengamatan
- Area Catur
- Area refleksi
- Panggung pagelaran
- Area upacara
- Area tugu
- Area bermain anak
- Area gym umum
- Area olahraga
- Bale bengong
- Pos polisi

4 10
2
3

5
8
6
7

Gambar 3.2. Layout perletakan fasilitas pada Monumen Puputan Badung


BAB IV
ANALISA SETTING PERILAKU PADA AREA SANTAI DAN AREA CATUR
MONUMEN PUPUTAN BADUNG I GUSTI NGURAH MADE AGUNG

4.1. Analisa Berdasarkan Kriteria Definisi


Setting perilaku merupakan tatanan suatu lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku
manusia. Perilaku manusia yang dimaksud dapat berupa interaksi manusia dengan sesamanya
maupun interaksi manusia dengan lingkungannya. Setting perilaku sangat dipengaruhi oleh
penataan setting dan waktu.
Area santai dan area catur yang terdapat pada kawasan Monumen Puputan Badung I
Gusti Ngurah Made Agung atau yang lebih dikenal dengan Lapangan Puputan Badung
merupakan setting yang dipilih sebagai objek studi kasus kali ini. Pada setting yang dipilih ini
terdapat sistem yang stabil antara aktivitas, lingkungan serta kriteria setting perilaku seperti :
1. Adanya aktifitas yang berulang
Area santai dan area catur merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi oleh
masyarakat yang datang ke Lapangan Puputan Badung. Terdapat beberapa jenis aktivitas yang
biasanya terjadi pada setting ini, yaitu :
 Duduk-duduk bersantai
 Bermain catur
 Menonton orang bermain catur
 Mengobrol dengan teman
 Istirahat makan atau minum, dan
 Berjualan
Gambar 4.1. Kegiatan duduk bersantai yang terjadi
secara berulang pada setting
Sumber : Observasi lapangan, 17 Maret 2016

Aktifitas-aktifitas di atas merupakan aktifitas-aktifitas yang sehari-harinya terjadi pada


setting ini. Jadi, dapat dikatakan bahwa pada setting studi kasus ini terdapat aktifitas yang
berulang.
2. Dengan tata lingkungan yang mempengaruhi pola perilaku
Area santai dan area catur merupakan area yang dibuat memang khusus untuk orang-
orang bersantai dan bermain catur. Karena difungsikan sebagai kedua hal tersebut maka
penataan pada setting ini pun disesuaikan. Penyesuaiannya dilakukan dengan meletakkan
beberapa bangku taman yang dapat dijadikan tempat bersantai serta meletakkan beberapa
bangku taman lengkap dengan meja dengan permainan caturnya yang dibuat untuk orang-orang
yang ingin bermain catur. Lain halnya dengan area olahraga yang terdapat pada kawasan objek
studi kasus ini juga. Disana terdapat beberapa peralatan olahraga yang dapat digunakan bagi
orang-orang yang ingin berolahraga. Tidak mungkin pada area olahraga orang melakukan
kegiatan bermain catur, karena penataan settingnya tidak mendukung untuk melakukan
aktivitas tersebut. Jadi, terlihat jelas disini bahwa tata lingkungan atau penataan setting sangat
mempengaruhi aktivitas apa yang akan terjadi di dalamnya.

Gambar 4.2. Bangku taman yang disediakan untuk duduk bersantai (kiri) dan meja catur yang disediakan untuk
bermain catur (kanan) yang terdapat pada setting
Sumber : Observasi lapangan, 7 April 2016

3. Dilakukan pada periode waktu tertentu


Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas memiliki periode waktu tersendiri.
Misalnya orang-orang duduk- duduk bersantai dan bermain catur pada hari kerja cenderung
dilakukan pada siang hingga petang sekitar pukul 11 siang – 7 malam. Kegiatan berjualan yang
dilakukan dari pagi hingga malam. Area santai yang berada tepat disebelah area catur
mengalami kepadatan civitas pada sore hari dan minim civitas pada siang hari. Dikarenakan
area tersebut tidak memiliki peneduh sehingga bila berada di area tersebut pada siang hari akan
terasa kurang nyaman. Pada siang hari civitas yang berada disekitar area santai dan catur lebih
memilih berada di area catur karena area tersebut memiliki cukup banyak peneduh yang berupa
pohon-pohon rindang, sehingga meningkatkan kenyamanan termal di area tersebut. Hal
tersebut menunjukkan bahwa masing-masing kegiatan memiliki periode waktu yang
disesuaikan dengan kebiasaan civitas dan konteks kegiatannya.
Gambar 4.3. Kegiatan bermain catur pada siang hari hingga menjelang petang yang terjadi pada setting
Sumber : Observasi lapangan, 17 Maret 2016

Gambar 4.4. Area santai terlihat lebih padat civitas pada sore hari (kanan) dibandingkan dengan siang hari (kiri)
karena pengaruh kenyamanan termal pada setting tersebut
Sumber : Observasi lapangan, 17 Maret 2016

4.2. Analisa Berdasarkan Sistem Setting


Berdasarkan elemen pembentuk serta elemen pembatas yang mewadahi setting objek
studi kasus ini dapat dibedakan menjadi :
1. Fixed Element
Elemen fix atau elemen tetap yang terdapat pada setting ini berupa elemen bawah yaitu
lantai. Lantai disini menggunakan material batu paras berukuran 20 cm x 20 cm dan batu
sikat berwarna putih. Terdapat juga lantai yang disusun seperti papan catur dengan ukuran
60 cm x 60 cm. Selain itu, terdapat juga meja beton dengan counter kayu yang dapat
dikatakan sebagai elemen fix disini karena furniture tersebut tidak dapat dipindahkan, atau
bersifat tetap.
2. Semi Fixed Element
Elemen semi fix pada setting ini berupa 10 buah bangku taman pada area santai, 19 buah
bangku taman dan 10 meja pada area catur. Bangku taman dengan ukuran panjang 1,2 meter
yang berkapasitas 3 orang.
3. Non-fixed Element
Elemen non fix disini berupa perilaku civitas yang terjadi pada setting ini interaksi individu
satu dengan individu lainnya saat mengobrol, bermain catur, dan berjualan ataupun interaksi
individu dengan lingkungannya.

Fixed element

Non-fixed Semi fixed


element element

Gambar 4.5. Elemen-elemen yang terdapat pada area catur


Sumber : Observasi lapangan, 17 Maret 2016

Sebagai ruang terbuka publik, setting ini tidak memiliki batas pengguna. Dalam artian
siapapun yang berada pada setting ini bebas menggunakannya, memanfaatkan segala fasilitas
yang ada. Namun pada waktu tertentu, terbentuk ruang personal dari individu atau kelompok
orang yang berada pada setting tersebut. Misalnya saja saat dua orang sedang bermain catur,
maka mereka akan membentuk setting mereka sendiri dan tidak semua orang memiliki hak
untuk ikut dalam aktivitas yang dilakukannya. Sama halnya dengan saat dua orang atau
beberapa orang sedang berbincang-bincang di area santai pada setting, maka tidak semua orang
yang ada di sekitar setting tersebut dapat berada pada ruang personal yang telah terbentuk di
antara civitas yang sedang berbincang tersebut. Bahkan tak jarang ada civitas yang
memanfaatkan bangku-bangku taman pada area catur dan santai sebagai tempat untuk
beristirahat tidur, kegiatan tersebut sering terjadi pada saat siang hingga sore hari. Ruang
personal yang terbentuk ini tidak memiliki batas fisik yang jelas, namun selalu ada dan melekat
pada tiap individu. Jadi, dapat dikatakan bahwa tidak ada batas yang jelas pada setting
meskipun telah ada pembagian area pada area catur dan area santai ini. Karena pada dasarnya
civitas akan memanfaatkan segala fasilitas yang ada untuk melakukan kegiatan yang
diinginkannya selama setting dan penataannya mendukung.
Berdasarkan penataan setting yang terdapat pada area santai dan catur, terdapat beberapa
penyimpangan yang terjadi. Elemen semi fix yang berupa kursi dan meja untuk bermain catur
maupun duduk bersantai disini terkadang digunakan oleh pedagang untuk menjajakan makanan
ataupun minuman yang dijualnya. Hal tersebut terkadang dapat mengganggu pemandangan
civitas lain yang berada disana. Padahal pada dasarnya telah terdapat sebuah larangan yang
menyatakan tidak diperkenankan ada kegiatan berjualan di Lapangan Puputan Badung ini.
Bahkan bagi yang melakukannya dapat dikenakan denda ataupun hukuman penjara sebagai
sanksinya. Civitas yang menggunakan bangku taman yang berada pada area catur dan santai
untuk beristirahat tidur pun termasuk sebuah penyimpangan. Karena pada dasarnya bangku
tersebut digunakan untuk duduk dan dapat digunakan oleh beberapa orang dalam waktu yang
bersamaan. Namun bila ada civitas yang tidur diatas bangku tersebut maka dia secara tidak
langsung menandai suatu wilayah (berupa bangku) sebagai miliknya dan tidak ada orang lain
yang dapat menggunakannya.

Gambar 4.6. Bukti penyimpangan yang terjadi pada setting, bangku taman yang digunakan untuk berjualan
(kiri) dan untuk beristirahat tidur (kanan)
Sumber : Observasi lapangan, 17 Maret 2016

Pembagian setting pada objek studi kasus ini dapat digambar ke dalam sistem setting
makro dan sistem setting mikro. Sistem setting makro membahas mengenai keterkaitan antara
area santai dan area catur sedangkan sistem setting secara mikro membahas mengenai pola
perilaku yang terjadi di masing-masing area, area santai ataupun area catur.

AREA SANTAI AREA CATUR

Gambar 4.7. Sistem setting area santai dan area catur secara makro
AREA SANTAI

Gambar 4.8. Sistem setting area santai secara mikro

AREA CATUR

Gambar 4.9. Sistem setting area catur secara mikro

Dari ketiga gambar tersebut dapat dilihat bahwa area catur dan area santai merupakan
setting yang terletak berdekatan. Pada area catur terdapat lebih banyak bangku dan meja
dibandingkan dengan area santai. Selain itu juga area catur dibuat di area yang lebih rindang
sedangkan area santai dibuat di area yang lebih terbuka. Pada saat siang hari (waktu
pengamatan), civitas cenderung lebih memilih diam di area catur dibandingkan dengan area
santai karena tempatnya yang lebih nyaman dan sejuk pada siang hari maupun sore hari. Alasan
lain penempatan area catur diletakkan di area yang lebih rindang, karena civitas yang bermain
catur cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan permainan. Oleh karena
itu dibutuhkan desain setting yang mendukung aktivitas tersebut tanpa mengabaikan
kenyamanan bagi civitas.
4.3. Analisa Berdasarkan Sistem Aktivitas
Seperti yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya bahwa untuk melakukan pengamatan
behaviour setting dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu time budget, sensus, dan studi asal
dan tujuan. Pada studi kasus setting kali ini kami menggunakan metode time budget, sehingga
aktivitas yang terjadi pada area santai dan area catur di Lapangan Puputan Badung meliputi :
 Civitas
Civitas yang terdapat pada setting ini antara lain masyarakat umum dari kalangan anak-
anak hingga orang tua, pelajar, serta pedagang.
 Waktu penggunaan
Pada umumnya aktivitas yang dilakukan pada setting ini berlangsung dari pagi hingga
malam hari, tidak ada waktu spesifik untuk menjelaskannya. Namun dilihat dari kebiasaan
masyarakat, masyarakat yang bermain catur akan ramai pada pukul 11.00 – 18.00, pelajar
cenderung beraktivitas disini pada jam pulang sekolah yaitu berkisar pada pukul 13.00 –
15.00, sedangkan pedagang beraktivitas pada pukul 08.00 – 18.00 atau tergantung jenis
dagangan, situasi dan kondisi pada setting.
 Pola sirkulasi
Pola sirkulasi aktivitas yang terjadi pada area santai dan area catur ini adalah radial
(menyebar) sehingga sirkulasi yang terjadi pada setting lebih dinamis dan fleksibel.
Namun pada jam-jam padat pola sirkulasi seperti ini cenderung membuat setting terkesan
berantakan dan tidak teratur.

Gambar 4.10. Pola sirkulasi yang terkesan tidak teratur pada area santai dan catur pada saat jam padat
Sumber : Observasi lapangan, 17 Maret 2016
 Pola perilaku
Pola perilaku yang terjadi pada setting, yaitu :
a. Perilaku emosional, perilaku emosional disini mempengaruhi sikap individu dalam
menanggapi suasana yang terdapat pada area santai dan area catur tersebut tergantung
juga dengan aktivitas yang dilakukan oleh individu tersebut.
b. Perilaku motorik
Perilaku motorik yang terjadi, seperti duduk, makan, minum, bermain catur, dan lain
sebagainya.
c. Interaksi sosial
Interaksi sosial yang terjadi, seperti berbincang-bincang, berjualan, dan bermain catur.
 Jenis aktivitas berulang yang dilakukan
 Duduk-duduk bersantai
 Bermain catur
 Menonton orang bermain catur
 Mengobrol dengan teman
 Istirahat makan atau minum, dan
 Berjualan
 Fasilitas pendukung
 Bangku taman
 Meja catur
 Meja kayu
 Kursi beton

4.4. Hubungan Setting dengan Aktivitas


Adapun pengamatan aktivitas yang terjadi pada setting berdasarkan kesesuain setting
dengan aktivitas yang terjadi di dalamnya, yaitu :
 Kenyamanan
Dari segi kenyamanan, sebagai ruang terbuka untuk publik area santai dan area catur ini
terbilang sudah cukup nyaman. Karena area ini terletak pada area yang ditanami oleh
pohon-pohon rindang, sehingga menambah kesejukan dan kenyamanan civitas saat
beraktivitas pada setting tersebut. Hal itu juga yang membuat banyak civitas betah untuk
berlama-lama tinggal di area tersebut. Namun sayangnya, terkadang masih terlihat
beberapa sampah yang bersebaran akibat pola perilaku masyarakat yang masih gemar
membuang sampah sembarangan.
 Aksesibilitas
Aksesibilitas disini terkait kebutuhan sirkulasi yang terdapat pada setting. Sirkulasi yang
terdapat pada setting sudah sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak terjadi kesesakan atau
kepadatan pada setting akibat kurangnya sirkulasi bagi civitas.
 Legibilitas
Bila dilihat dari segi jarak tempuh, maka dapat dikatakan bahwa area santai dan area catur
ini termasuk area yang sangat mudah dijangkau, karena dekat dengan area parkir pada sisi
utara dan timur Lapangan Puputan Badung. Selain itu pola penataan furniture yang
terdapat pada setting juga sudah cukup baik sehingga dapat mendukung segala aktivitas
yang terdapat di dalamnya.

Gambar 4.11. Area parkir utara yang terletak dekat dengan area santai dan catur
Sumber : Observasi lapangan, 17 Maret 2016

 Kontrol
Area santai dan area catur ini merupakan ruangan publik jadi tidak terdapat kontrol yang
jelas akan batasan setting perilaku yang terjadi. Karena civitas cenderung akan
memanfaatkan setting sesuai dengan persepsi yang mereka miliki. Misalnya saja, meja
catur yang seharusnya digunakan untuk bermain catur, terkadang dimanfaatkan oleh
pedagang untuk berjualan.
 Teritorialitas
Respon pola tingkah laku civitas terkait dengan hak seseorang atau kelompok akan suatu
tempat juga tidak terlihat jelas. Misalnya saja ketika ada dua orang yang bermain catur,
maka akan ada beberapa orang yang menonton kedua orang tersebut bermain catur dengan
mengitari meja catur yang digunakan. Hal ini juga tidak dapat dikatakan salah, karena pada
dasarnya setting ini merupakan sebuah ruang publik yang dimana siapa saja boleh datang
beraktivitas di dalamnya, termasuk sekedar untuk menonton orang bermain catur. Namun
hal ini akan berdampak pada tingkat kenyamanan orang yang sedang bermain catur.
Gambar 4.12. Sekerumunan orang yang terlihat sedang menonton orang bermain catur
Sumber : Observasi lapangan, 17 Maret 2016

 Keamanan
Menyangkut rasa aman terhadap berbagai gangguan baik dari dalam maupun luar, civitas
sebaiknya berhati-hati. Karena area ini merupakan area publik yang tidak memiliki batasan
setting civitas. Walaupun sudah dipasang beberapa CCTV pada area ini namun civitas
harus tetap waspada akan kemungkinan bahaya yang bisa terjadi.

4.5. Hubungan Setting Perilaku dengan Desain


Area santai dan area catur sebagai suatu sistem setting ruang memiliki variabel yang
memengaruhi kenyamanan civitas dalam mendukung segala aktivitas yang terjadi di dalamnya.
Variable ruang tersebut terdiri dari ukuran, bentuk, warna, serta unsur lingkungan.
a. Ukuran
Ukuran ruang pada area santai dan area catur telah disesuaikan dengan perkiraan jumlah
civitas pada waktu tertentu serta jumlah dan penempatan furniture termasuk dengan
sirkulasi yang dibutuhkan oleh civitas saat beraktivitas pada setting tersebut. Jadi, dapat
dikatakan bahwa ukuran atau modul ruang yang terdapat pada desain setting ini telah
dapat mendukung segala pola perilaku yang dilakukan oleh civitas dengan tingkat
kenyamanan yang baik.
b. Bentuk
Bentuk ruang pada area santai dan area catur ini adalah persegi panjang sehingga
memudahkan dalam penataan elemen non-fixed pada setting. Elemen-elemen non-fixed
disini juga mengikuti bentuk area santai dan area catur yang memanjang. Bentuk seperti
ini juga lebih mudah dimanfaatkan dan tidak akan ada ruang yang akan terbuang atau
tidak dapat dimanfaatkan.
c. Warna
Warna merupakan salah satu unsur estetika yang memberikan kesan atau rasa dari sebuah
ruang. Pada area santai dan area catur ini warna yang mendominasi adalah abu-abu,
coklat, dan hijau. Warna-warna tersebut adalah warna-warna yang menyejukkan
sehingga memberikan kesan tenang bagi civitas yang berada pada setting tersebut. Hal
inilah yang menjadi salah satu alasan civitas nyaman berlama-lama tinggal pada setting
tersebut.
d. Unsur lingkungan
Unsur lingkungan disini terkait dengan potensi lingkungan yang dapat dimanfaatkan
untuk menciptakan kenyamanan pada setting. Unsur lingkungan yang terdapat pada
setting ini yang dominan adalah pepohonan. Pepohonan disini difungsikan sebagai
penghalau sinar matahari, penyejuk atau perindang, serta sebagai barrier atau peredam
bising. Dengan adanya pepohonan ini kenyamanan dari segi pencahayaan, penghawaan,
serta kebisingan dapat tercipta pada area studi kasus.

4.6. Solusi Desain dari Permasalahan yang Ada


Dari penjabaran pada sub bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa
permasalahan yang terjadi pada setting studi kasus yang dipilih dalam hal ini Lapangan
Puputan Badung. Permasalahan disini terkait dengan behaviour setting, antara lain :
a. Tidak ada batasan yang jelas antara area catur dengan area santai. Sehingga orang pun
dapat menggunakan area catur sebagai area santai. Hal tersebut terkadang mengganggu
orang yang benar-benar ingin bermain catur pada area catur.
b. Area catur dan santai yang pada dasarnya bukan area yang diperbolehkan untuk
berjualan, namun pada setting ini masih terlihat beberapa pedagang yang menjajakan
dagangan mereka di area tersebut. Mereka memanfaatkan bangku-bangku taman yang
berada di area catur dan santai untuk berjualan, walaupun telah dipasang beberapa
spanduk yang menyatakan bahwa dilarang berjualan di area tersebut.
c. Civitas sering memanfaatkan bangku taman pada area catur dan santai sebagai tempat
beristirahat tidur pada siang hingga sore hari.
d. Pola sirkulasi radial pada setting yang memberikan kesan tidak teratur.
e. Pada siang hari orang cenderung lebih memilih berada di area catur untuk bersantai
dibandingkan dengan bersantai di area santai karena terkait kenyamanan termal pada area
tersebut.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka dibuat solusi desain yang diharapkan mampu
mengurangi terjadinya masalah-maslaah pada poin diatas. Solusi desain yang dapat disarankan
antara lain :
a. Membuat batasan fisik yang jelas antara area catur dengan area santai. Misalnya dengan
menambahkan tanaman sebagai pembatas ataupun dengan permainan level lantai.
Sehingga akan terlihat jelas mana area santai dan mana area catur.

Gambar 4.13 : Sketsa solusi tanaman dan permainan level lantai sebagai pembatas antara area catur dan
area santai

b. Seperti yang diketahui, sangat sedikit kesadaran orang untuk mematuhi peraturan yang
ada, termasuk larangan untuk berjualan di area Lapangan Puputan Badung. Maka dari itu
lebih baik bila larangan tersebut dihilangkan dan diganti dengan membuatkan pedagang
tersebut area berjualan, sehingga pedagang akan berjualan pada satu area dan hal tersebut
tidak akan membuat area Lapangan terkesan tidak teratur. Civitas yang berada pada area
Lapangan Puputan juga akan lebih mudah menemukan apa yang mereka ingin beli, tanpa
harus berkeliling terlebih dahulu. Namun area berjualan disini juga harus dilengkapi
dengan penambahan jumlah tempat sampah, agar kebersihan tetap terjaga.

Gambar 4.14 : Sketsa solusi area berjualan yang berada di sekitar area catur
Gambar 4.15 : Sketsa solusi area berjualan yang berada disekitar area catur
c. Menambah jumlah tanaman rindang pada area santai sehingga baik pada siang maupun
sore hari area tersebut tetap menjadi area yang nyaman untuk bersantai. Dengan begitu
civitas juga tidak akan memanfaatkan area catur untuk sekedar duduk, sehingga bagi
civitas yang benar-benar ingin bermain catur dapat bermain dengan tenang. Tanaman
rindang disini dapat ditambahkan dibagian pinggir area santai dan penataan bangkunya
mengikuti dari penataan tanaman. Sehingga pandangan civitas yang berada pada area
santai dapat bebas tanpa harus dihalangi oleh pohon atau benda lainnya.

AREA SANTAI

Gambar 4.16 : Solusi penambahan pohon, bangku dan meja pada area santai
d. Membuat jalur pedestrian yang melintas diantara area santai dengan area catur dengan
menggunakan material lantai yang berbeda dengan area tersebut. Sehingga pola sirkulasi
pada area tersebut pada jam-jam padat menjadi lebih teratur.
Gambar 4.17 : Peletakan jalur pedestrian yang melintas di antara area santai dengan area catur
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Setting perilaku (behavior setting) dapat diartikan secara sederhana sebagai suatu
interaksi antara suatu kegiatan dengan tempat yang spesifik. Behavior setting dijabarkan dalam
dua istilah yaitu system of setting dan system of activity, dimana keterkaitan antara keduanya
membentuk satu behavior setting tertentu. Sistem setting (system of setting) atau sistem tempat
atau ruang diartikan sebagai rangkaian unsur-unsur fisik atau spasial yang mempunyai
hubungan tertentu dan terkait hingga dapat dipakai untuk suatu kegiatan tertentu. Sedangkan
sistem aktivitas (system of activity) atau sistem kegiatan diartikan sebagai suatu rangkaian
perilaku yang secara sengaja dilakukan oleh satu atau beberapa orang. Setting dan perilaku
manusia memiliki hubungan yang erat karena aktivitas manusia sebagai wujud dari perilaku
yang ditujukan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tatanan (setting) fisik yang terdapat dalam
ruang yang menjadi wadahnya.
Berdasarkan studi kasus dengan menggunakan kegiatan area santai dan area catur yang
terdapat pada kawasan Monumen Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung dimana area
tersebut seharusnya sesuai dengan sistem setting yang telah direncanakan dari penataan elemen
pada setting tersebut. Area tersebut mewadahi sebuah kegiatan yang beragam seperti bersantai,
mengobrol, makan ,minum, dan bermain catur, namun masih terjadi penyimpangan perilaku
civitas terhadap penataan setting walaupun penyimpangan tersebuat sangatlah minim. Seperti
Elemen semi fix yang berupa kursi dan meja untuk bermain catur maupun bersantai disini
terkadang digunakan oleh pedagang untuk menjajakan makanan ataupun minuman yang
dijualnya. Sehingga hal tersebut terkadang dapat mengganggu pemandangan civitas lain yang
berada disana. Padahal pada area Lapangan Puputan Badung telah disediakan area berjualan
yang dapat dimanfaatkan oleh para pedagang.
Solusi desain pada area santai dan area catur yang terdapat pada kawasan Monumen
Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung ini misalnya dengan membuat batasan fisik yang
jelas antara area catur dengan area santai, membuatkan pedagang area berjualan, sehingga
pedagang akan berjualan pada satu area dan hal tersebut tidak akan membuat area tersebut
terkesan tidak teratur, menambah jumlah tanaman rindang pada area santai sehingga baik pada
siang maupun sore hari area tersebut tetap menjadi area yang nyaman untuk bersantai serta
membuat jalur pedestrian yang melintas diantara area santai dengan area catur.
5.2. Saran
Setting dan perilaku manusia memiliki hubungan yang erat karena aktivitas manusia
sebagai wujud dari perilaku yang ditujukan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tatanan
(setting) fisik yang terdapat dalam ruang yang menjadi wadahnya. Namun, seringkali hal ini
dilupakan oleh arsitek atau desainer sehingga hasil rancangan mereka menghasilkan suatu
lingkungan buatan sendiri yang tidak memiliki kaitan dengn sistem setting di sekitarnya.
Sebaiknya arsitek atau desainer perlu memahami sistem setting agar dapat menghasilkan karya
yang sesuai dengan hubungan antara setting dan perilkau manusia yang beraktivitas di
dalamnya.
DAFTAR PUSTAKA

Sumber buku :
Haryadi & Bakti Setiawan. 1995. Arsitektur Lingkungan dan Perilaku. Dirjen Dikti
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta
Laurens, Jonce Marchella. 2005. Arsitektur dan Perilaku Manusia. Grasindo: Jakarta
Rapoport, A. 1982. The Architecture of the City. MIT Press: Cambridge.
Rapoport, A. 1982. The Meaning of the Built Environment. Sage Publication: London.

Sumber internet :
Istiqamah. 2012. Pola Perilaku dan Lingkungan Behavioral.
http://istiqamahsyawal.blogspot.co.id/2012/04/pola-perilaku-dan-lingkungan-behavioral.html
Materi kuliah ‘Pengantar Arsitektur dan Perilaku’ oleh Ir.Sri Amiranti.MS. 2000
Maulizar, Affif. 2013. Pendekatan Prilaku dalam Arsitektur.
http://affifmaulizar.blogspot.co.id/2013/04/pendekatan-prilaku-dalam-arsitektur.html
Oumahku. 2013. Setting and Behaviour Setting
http://www.oumahku.com/2013/02/setting-and-behaviour-setting-brief-note.html
Yoga, Krisna. 2015. Seting Prilaku Behavior Setting.
http://archpopspot.blogspot.co.id/2015/10/seting-prilaku-behavior-setting.html